Sewaktu aku masih kecil, Emakku selalu
mengatakan tidak ada kebetulan. Kebetulan itu merupakan kesimpulan manusia
karena kebodohannya. Di Mata Tuhan segala sesuatu sangat jelas, semua peristiwa
sudah ditentukan sejak zaman azali, jadi dari sononya sudah ditetapkan. Emakku
sangat marah bila aku menggunakan kata kebetulan. Beliau selalu tegaskan, bila
kita katakan kebetulan, itu seperti menghina Tuhan, seakan-akan sesuatu terjadi
tanpa sepengetahuan Tuhan. Aku pastilah percaya. Karena yang mengucapkannya
Emakku, orang yang telah melahirkan dan membesarkanku. Aku juga tak berani
membantah karena surga ada di bawah telapak kaki Emak. Tak peduli kaki Emak sudah
dicuci apa belum.
Ketika aku menjadi mahasiswa di Sekolah
Tinggi Filsafat Drijarkara, topik kebetulan kerap kali dibahas dan
diperbincangkan. Terutama dalam filasafat Abad Pertengahan dan Metafisika.
Pastilah, pembahasannya lebih canggih daripada penjelasan Emakku, sebab
menggunakan penalaran yang terstruktur dan argumentasi yang sangat ketat. Ada
banyak istilah yang digunakan seperti hukum-hukum adikodrati dan hukum-hukum
kodrati, transendensi dan aksidensi, dan sejubrek istilah lain yang kebanyakan aku
sudah lupa. Menariknya adalah kesimpulannya sama dengan pendapat Emakku yang
tidak kenal filsafat dan metafisika. Kesimpulannya adalah: Kebetulan itu tidak
ada. Bila manusia menciptakan istilah kebetulan, itu berakar pada keterbatasan
manusia.
Jujur kuakui, kuliah Filsafat Abad
Pertengahan dan Metafisika adalah mata kuliah paling menarik dan mempesonaku.
Luar biasa, sangat canggih dan kelas tinggi. Namun, harus juga kuakui, aku
lebih banyak tidak mengerti. Aku sangat tertarik, mungkin juga karena kurang mengerti.
Karena itu secara berkelakar aku selalu bilang pada teman-teman bahwa kuliah
Statistik dan Psikometri yang dikatakan paling sulit saat aku mengambil S3,
selalu kukatakan mudah. Sebab aku masih bisa memahaminya lebih banyak daripada
metafisika. Mungkin karena metafisika mau masuk ke dalam 'Pikiran-pikiran
Tuhan'. Dalam metafisika penjelasan yang rumit dan argumentasi yang sangat ajeg
selalu berakhir dengan simpulan jelas
dengan sendirinya. Aku merasa, sekarang saat yang tepat untuk memakai
ajaran Emakku dan para guruku tentang topik ini.
Beberapa waktu lalu putra ketua umum
PAN tabrakan yang menyebabkan adanya korban meninggal dunia. Baru-baru ini
anggota legislatif dan bakal calon anggota legislatif dari PAN dicokok BNN
dalam pesta narkoba. Aku yakin ini bukan kebetulan.
Dalam kasus pesta narkoba, BNN bekerja
sangat cepat, bahkan melaksanakan prosedur tetap atau protap secara ketat
sekali sampai ada pemeriksaan darah dan rambut, yang selama ini jarang kita
dengar, pastilah bukan kebetulan. Sementara itu dalam penanganan kasus anak
ketua umum PAN polisi kelihatan lebih sabar, sangat toleran, amat hati-hati,
tidak cepat-cepat membuat kesimpulan, juga bukan kebetulan. Pada kasus tabrakan
yang melibatkan seorang ibu yang putrinya meninggal, polisi dengan cepat
menetapkan ibu yang kehilangan putri, dan mungkin juga kehilangan kakinya
sebagai tersangka, pastilah juga bukan kebetulan. Aku merasa tidak perlu
melakukan analisis, mengapa bisa seperti ini? Karena sebagian masyarakat sudah
mahfum, semuanya sudah jelas dengan sendirinya.
Institusi yang mendapat amanah untuk
memberantas narkotika diberi nama Badan Narkotika Nasional (BNN), bukan Badan
Anti Narkotika Nasional, pastilah bukan kebetulan. Dalam konteks ini bagus juga
dilakukan penelitian, siapa yang lebih banyak mengungkap peredaran narkoba
dalam jumlah besar, BNN atau Imigrasi/Bea Cukai? Apapun kesimpulannya, pastilah
bukan kebetulan.
BNN selalu memberi keterangan bahwa
Indonesia merupakan tujuan akhir peredaran narkoba internasional, bukan tempat
transit. Juga sering dijelaskan bahwa bandar besar dengan jaringan
internasional merupakan pelaku utama peredaran narkoba di Indonesia. Untuk
membuktikannya, BNN melakukan penangkapan pada bandar narkoba yang berada di
penjara menunggu hukuman mati. BNN selalu berhasil membuktikan pernyataannya.
Kita sangat menghargai itu. Peristiwa ini pastilah bukan kebetulan. Menangkap
pengedar narkoba di penjara, juga bukan kebetulan.
Oleh karena Indonesia sudah menjadi
pasar narkoba internasional, mestinya BNN tidak menghabiskan waktu menangkapi
para pemakai. Apa pun motivasi dan alasannya, para pemakai itu adalah korban
dari mafia narkoba. Para mafia itu pastilah menciptakan bukan saja jaringan
peredaran dan pengedaran, juga menciptakan
gaya hidup yang menempatkan narkoba sebagai bagian penting dari gaya
hidup itu. Akibatnya, sebagaimana kerap diumumkan BNN, jumlah pemakai narkoba
terus meningkat dan merambah bukan saja di kalangan orang berduit, juga di
kalangan remaja dari golongan elit alias ekonomi sulit.
Peningkatan jumlah yang signifikan itu
pastilah hasil kerja jaringan mafia narkoba. Bukan karena kebetulan.
Peningkatan jumlah itu juga mengisyaratkan bahwa jejaring mafia narkoba itu
sangat luas dan melibatkan banyak orang. Mestinya BNN lebih tertarik dan fokus
pada perang melawan mafia narkoba, bukan asyik menangkapi para korban. Jika
sampai saat ini BNN tampaknya lebih memperhatikan para pemakai, pastilah bukan
kebetulan.
Mestinya para gembong narkoba yang
sudah dihukum mati segera dieksekusi, bukan ditunda-tunda sehingga bisa dapat
pengurangan hukuman dari Mahkamah Agung dan Presiden Republik Indonesia. Karena
sikap teramat toleran dan teramat baik terhadap gembong narkoba itu akan
membuat mafia narkoba merasa bahwa merekalah pemenang dan pengatur. Dan itu membuat
semakin banyak orang terlibat jejaring narkoba karena merasa gembongnya saja
bisa lolos dari hukuman, apalagi mereka yang cuma anak buah. Semua peristiwa
ini pastilah bukan kebetulan. Dan mengapa bisa seperti ini? Ya, sudah jelas dengan sendirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd