Aku mengenal Wanda Hamidah, karena
dalam tahun-tahun yang panjang ia selalu hadir dalam acara-acara anak jalanan,
anak daerah kumuh, dan anak pasar yang diselenggarakan oleh Yayasan Nanda Dian
Nusantara, tempat aku menjadi relawan. Ia rajin datang dalam banyak acara.
Aku memiliki beberapa catatan kecil
tentangnya yang rasanya pantas dibagi kebanyak orang sekarang. Sebagai seorang
kenalan aku merasa apa yang pernah kulihat, pantas untuk diketahui orang lain.
Setiap kali kami menyelenggarakan
pesantren Ramadhan anak jalanan, Wanda hadir. Tidak seperti banyak orang
terkenal lainnya, Wanda tidak pernah mau tampil untuk menyampaikan sesuatu
dalam acara seremonial di depan anak-anak itu. Ia lebih memilih duduk bersama
anak-anak, berbincang dengan mereka, mengambilkan makanan saat berbuka puasa,
dan makan bersama anak-anak itu. Ia tampak menghindar bila ada awak media
elektronik yang biasanya meliput acar itu.
Ia lebih memilih hadir di tengah
anak-anak itu sebagai seorang kakak yang menyambangi dan menyayangi. Dengan
pakaian yang sangat sederhana, ia tampak tidak banyak berbeda dengan anak-anak
itu yang memiliki beragam pekerjaan sebagai pengamen jalanan, serta pengutip
sayur dan buah di pasar induk. Ia tidak sungkan untuk menyuapi beberapa anak
yang memang masih terlalu kecil untuk
acara ini, tetapi diajak ibu atau kakaknya agar mendapakatkan kegembiraan
berkumpul.
Ketika sedang hamil besar, Wanda juga
tetap datang pada berbagai kegiatan anak-anak itu, termasuk dalam proses
belajar yang berlangsung beberapa hari dalam seminggu. Tentu ini pemandangan
yang menggemaskan. Seorang pesohor duduk
bareng dengan anak-anak di bawah pohon, anak-anak itu duduk di sekitarnya dan berbicara
dengannya dalam kegembiraan. Kelihatan, sepertinya ia sedang mengandung anak
terkecil dari kakak-kakaknya yang jumlahnya puluhan. Terdengar canda tawa yang
nyaring. Entah apa yang mereka bincangkan di tengah tawa yang renyah itu. Saat
hendak pulang, anak-anak itu mengiringinya, kedua tangganya menggandeng dua
anak yang baru melepaskannya saat ia naik ke mobil. Masih sempat berbincang dan
tertawa. Ketika mobil mulai bergerak, anak-anak berteriak mengucapkan salam.
Wanda membalas dengan seyum dan lambaian tangan. Anak-anak akan kembali ke
tempat belajar, bila mobil yang membawa Wanda hilang dari pandangan. Ini adalah
ekspresi kasih dalam kebersamaan.
Pada saat lain, Wanda terlihat sibuk
merayu seorang anak yang menagis. Wanda berusaha menenangkannya dengan memangku
dan mengusap rambutnya. Tak ada kecanggungan. Semuanya berlangsung secara
natural, wajar apa adanya. Keadaan seperti ini bisa tercipta karena Wanda
datang sebagai seorang kakak yang berempati. Bukan sebagai selebriti yang
sekadar mau menunjukkan rasa peduli di depan televisi. Wajah dan bahasa
tubuhnya menegaskan ia datang dengan rasa cinta dan keikhlasan. Ia lebih sering
datang dalam pembinaan rutin, daripada acara seremonial. Ini adalah bukti,
Wanda peduli.
Seperti kita, Wanda adalah manusia
biasa, yang terdiri dari darah, daging, tulang, syaraf dan hati, yang bisa
dilukai sepi, diremukkan tekanan pekerjaan, dan dipojokkan banyak masalah.
Normal saja bila ia butuh sedikit istirah, jeda dari kesibukan dan berkumpul
dengan teman-teman dalam kegembiraan pergaulan. Kita tidak tahu apa yang
sesungguhnya terjadi. Tetapi kami, para anak jalanan, anak pasar, anak daerah
kumuh, dan para relawan yang selalu bersamanya, tidak percaya dan tidak akan
pernah percaya Wanda bisa diperdaya narkotika.
Sebab, sejak dulu Wanda dengan sadar
dan konsisten telah memilih "narkotika"nya
sendiri yaitu kepedulian empatis pada
orang-orang yang dipinggirkan di
belantara beton Jakarta. Ia merasa bahagia dan hidupnya bermakna bersama
mereka.
PERCAYALAH, MANUSIA YANG MERASA
HIDUPNYA BERMAKNA TIDAK PERNAH BISA DIPERDAYA NARKOTIKA.
Hari-hari ini, orang-orang yang
dipinggirkan itu, yang telah merasakan sentuhan empatis Wanda terus berdoa
dalam dan dengan cinta bagi keselamatan, dan kesehatan Wanda, agar kebenaran
memihak padanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd