Alhamdullillah. Setelah MENULISLAH
SEPERTI SHALAT (2) beredar, makin banyak pertanyaan yang diajukan. Tampaknya
semakin banyak orang yang ingin menulis dan meningkatkan kemampuan menulis.
Sejumlah pertanyaan muncul seperti: bagaimana memulai? Apakah perlu membuat
kerangka karangan? Apakah aspek kebahasaan itu penting? Bagaimana mengakhiri
tulisan? Apakah yang dimaksud belajar menulis dengan model? Tentu masih banyak
pertanyaan yang bersifat lebih teknis. Juga ada pertanyaan yang lebih umum
seperti apakah menulis dapat meningkatkan kepercayaan diri? Aku akan coba
menjawab sejumlah pertanyaan ini.
MEMULAI TULISAN
Biasanya terdapat dua keadaan yang
membuat kebanyakan orang sulit untuk mulai menulis. Dua keadaan yang sangat
bertentangan. Pertama, merasa tidak ada yang bisa ditulis. Seringkali ada
perasaan, apa yang ingin ditulis kurang berguna atau kurang penting. Kedua,
merasa terlalu banyak yang akan dituliskan, akibatnya merasa bingung memilih
mana yang akan ditulis. Kedua keadaan ini dampaknya sama yaitu membuat si calon
penulis akhirnya tidak menulis apa-apa.
Jika ingin menulis, langsung saja
menulis. Jangan pikirkan apa pun kecuali menulislah. Abaikan apa pun, mulailah
menulis! Apa pun yang terpikir, atau apa pun yang ingin ditulis, tulislah.
Jangan pikirkan salah atau benar, berguna atau tidak berguna, tulis saja apa
yang mau ditulis. Apa pun itu tulislah!
Kata-kata yang terangkai justru akan
memicu Anda untuk melanjutkan tulisan itu. Mengalir saja seperti kali Ciliwung
yang mendapat kiriman air dari Bendung Katulampa. Biarkan kata-kata Anda meluap
ke mana-mana, bagai banjir yang bahkan menggenangi Istana Negara. Ini memang
saat Anda untuk menumpahkan kata-kata, seperti banjir yang menenggelamkan
Jakarta, tumpahkan kata-kata itu. Dalam musim banjir, tak ada larangan bagi air
mau pergi ke mana saja. Apalagi memang tak ada yang bisa melarang dan
menghalangi air bah itu. Menulislah dengan cara itu.
Aku sudah buktikan dengan ribuan
mahasiswa, karena aku mendapat SK mengajar 1988, cara ini membuat mereka bisa
menulis. Selalu ada yang memulai begini, Saya
tidak bisa menulis. Sejak SD pelajaran mengarang saya paling tudak suka. Saya
tidak tahu harus mulai dari mana. Saya bingung harus mulai dari mana. Sekarang
pun saya sedang bingung mau menulis apa. Sama sekali tidak tahu mau menulis
apa......... Mahasiswa ini ternyata bisa menulis sampai tujuh halaman. Di
dalam tulisannya terdapat banyak gagasan yang bisa dikembangkan menjadi tulisan
mandiri. Jadi, mulailah menulis. Di sini berlaku pepatah lama, bisa karena
biasa. Karena itu biasakanlah menulis.
Percayalah, kita bisa memanfaatkan apa
pun untuk dituliskan. Banyak pengalaman hidup yang kita pikir tidak berguna,
tetapi bila dituliskan dan disebarkan berguna dan bisa membantu orang lain. Apa
yang kita lihat, rasakan, baui dan pikirkan, bahkan mimpi-mimpi kita bisa
dijadikan bahan tulisan. Harry Potter itu kan cuma khayalan, tetapi penulisnya
jadi triliuner.
AYO MULAI MENULIS!
Bila sudah terbiasa menulis, jangan
tidak menulis. Menulis saja terus. Menulis catatan harian bisa dijadikan wahana
untuk terus menulis setiap hari. Apa pun perasaan Anda pada hari itu, atau
kejadian tertentu seperti yang lucu atau mengesalkan bisa dijadikan bahan
tulisan. Yakinlah, kita tak pernah kehabisan bahan untuk ditulis, sebab apa pun
bisa dijadikan bahan tulisan.
Kebiasaan menulis yang dibangun, secara
perlahan atau sering juga secara mendadak akan membimbing kita untuk
menemukenali atau mencaritemukan gaya dan corak tulisan kita. Semakin lama
menulis akan semakin mudah, dan kalau tidak menulis tangan terasa gatal. Bila
sudah begini, menulis menjadi kebiasaan atau habitus yang mengasyikkan.
Ini saat untuk fokus. Artinya bila
menulis, mulailah menentukan fokus. Misalnya Anda tertarik untuk menulis topik
banjir. Sebaiknya jangan fokus pada topik banjir. Topik ini terlalu luas, bisa
memunculkan kesulitan. Sebagai penulis
harus jujur mengakui, pengetahuan dan pengalaman kita terbatas. Karena
itu batasi topiknya menjadi Banjir 2013. Bila ini dirasa masih terlalu luas,
topiknya bisa dibuat lebih spesifik menjadi Banjir 2013: Tenggelamnya Bundaran
HI.
Topik tersebut sangat layak ditulis
karena banjir hebat yang melanda Jakarta 2002 dan 2007 tidak sampai
menenggelamkan Bundaran HI. Anda bisa menarik perhatian pembaca dengan kalimat
pembuka seperti ini. Banjir semata kaki di Bundaran HI akan menenggelamkan
seluruh Jakarta. Apa bisa? Pasti bisa, bila banjir itu menyentuh mata kaki
patung Selamat Datang.
Sekarang kita sudah memiliki topik yang
lebih spesifik yaitu: Banjir 2013: Tenggelamnya Bundaran HI. Sebelum
mengembangkan tulisan, ajukan pertanyaan apa pun tentang topik itu, seperti:
. Mengapa banjir 2013 sampai
menenggelamkan Bundaran HI?
. Apa sebab banjir 2013 sampai
menenggalamkan wilayah sekitar Bundaran HI, bahkan merendam Istana Negara?
. Apakah curah hujan 2013 lebih tinggi
daripada 2007?
. Apakah banjir 2013 akibat kegagalan
pemimpin DKI Jakarta periode sebelumnya yang tidak memiliki program
komprehensif mengatasi banjir Jakarta?
. Apakah banjir 2013 juga diakibatkan
oleh jumlah sampah yang semakin meningkat di kali Ciliwung?
. Apakah buruknya sistem pembuangan air
di Jakarta memberi pengaruh yang signifikan terhadap banjir besar ini?
. Mungkinkah ketidakjelasan pembagian
tugas antara Pemerintah Pusat dan Daerah menjadi pemicu dan pemacu banjir 2013
dan banjir-banjir sebelumnya?
. Mengapa keberadaan banjir kanal timur
kurang membantu mengurangi dampak banjir ini?
. Bagaimana mengoptimalkan fungsi
banjir kanal timur untuk mengatasi banjir Jakarta?
. Apakah banjir kali ini berbarengan
dengan tingginya banjir rob?
. Rendahnya disiplin penduduk menjaga
kebersihan lingkungan ikut memperparah banjir Jakarta?
. Langkah-langkah apa yang dapat
dilakukan dalam jangka pendek untuk mengurangi dampak banjir Jakarta?
. Berapa kerugian akibat tenggelamnya
Bundaran HI?
. Apakah tenggelamnya Bundaran Hi dapat
mempengaruhi investasi asing di Indonesia?
. Apakah tenggelamnya Bundaran HI
diakibatkan oleh jebolnya tanggul air di Jl. Latuharhari?
. Apakah curah hujan yang tinggi di
Jabodetabek dipengaruhi suhu sangat panas di Australia?
. Apakah topan yang meluluhlantakkan
Filipina mempengaruhi curah hujan di Jabodetabek?
. Siapa yang paling bertanggungjawab
atas terjadinya peristiwa ini?
. Apa yang dapat dilakukan dan
disumbangkan masyarakat untuk ikut serta menanggulangi banjir Jakarta?
. Apakah pembuatan waduk untuk
menampung air kiriman dari Katulampa dapat mencegah banjir Jakarta?
. Apakah Jakarta masih layak menjadi
ibu kota Indonesia?
. Apakah banjir besar ini ada kaitannya
dengan banyaknya maksiat di Jakarta?
. Apakah banjir besar ini merupakan
bentuk peringatan Tuhan?
. Apakah banjir besar ini merupakan
dampak dari kejahatan lingkungan yang dilakukan manusia?
Metode yang digunakan untuk mengajukan
pertanyaan ini adalah badai pikiran (brainstorming)?
Karena itu prinsip-prinsip berikut harus dilaksanakan, yaitu;
1. Ajukan pertanyaan dengan bebas,
semua pertanyaan baik yang nyambung dan tidak nyambung dengan topik boleh
ditanyakan. Jadi, tidak boleh ada pembatasan terhadap pertanyaan, semua
pertanyaan yang Jaka Sembung bawa golok, dan Jaka Sembung bawa ojek,
boleh-boleh saja.
2. Semua pertanyaan harus dicatat.
3. Ajukan pertanyaan sebanyak mungkin,
lebih banyak lebih bagus.
KERANGKA KARANGAN
Bila semua pertanyaan telah diajukan
dan dicatat, maka selanjutnya lakukan seleksi dan penataan. Diseleksi mana di
antara pertanyaan itu yang terkait atau nyambung dengan topik. Yang kurang atau
tidak nyambung disimpan, karena bisa digunakan untuk menulis topik lain. Jangan
dibuang, sebab bagaimanapun itu hasil olah pikiran yang tetap dapat
dikembangkan.
Setelah proses seleksi, pertanyaan itu
diurutkan secara logis dan diberi angka mulai dari satu sesuai urutan logis.
Penulis bebas memilih berapa pertanyaan yang akan digunakannya sebagai kerangka
karangan. Pilihan itu didasarkan sejumlah pertimbangan seperti:
1. Pengetahuan latar belakang, artinya
apa yang sudah diketahui penulis tentang topik banjir ini.
2. Waktu yang tersedia baginya untuk
mencari berbagai sumber guna menjawab pertanyaan yang telah dipilihnya. Sumber
yang dapat digunakan sangat banyak yaitu berita pada media massa, cetak dan
elektronik, bacaan berupa buku-buku, informasi dari internet,dan sumber-sumber
tangan pertama seperti orang-otang yang terkena banjir atau pejabat terkait.
Informasi dari sumber tangan pertama biasanya didapat melalui wawancara.
3. Akses pada semua sumber informasi
yang disebutkan di atas.
Bila penulis memiliki waktu dan akses
terbatas, gunakan sumber yang mudah dijangkau yaitu internet dan buku-buku
serta pemberitaan. Kedalaman dan kelengkapan jawaban sangat tergantung dari
ketersediaan sumber-sumber informasi yang memang dibutuhkan.
Apabila penulis memutuskan hanya
mengandalkan pengetahuan latar belakang dan informasi dari media massa, dia
bisa tetap memilih urutan pertanyaan yang telah dibuatnya, tetapi tulisannya
mungkin kurang lengkap dan mendalam. Ia juga bisa hanya memilih pertanyaan yang
bisa dijawab dengan sumber yang dimilikinya itu. Inilah gunanya membuat
pertanyaan sebanyak mungkin agar penulis memiliki kebebasan yang lebih besar
untuk memilih pertanyaaan yang akan dijawabnya.
Ambillah contoh, penulis memilih
pertanyaan-pertanyaan seperti ini:
1. Apa sebab banjir 2013 sampai
menenggelamkan wilayah sekitar Bundaran HI, bahkan sampai merendam Istana
Negara?
2. Apakah tenggelamnya Bundaran HI
diakibatkan jebolnya tanggul air di Jalan Latuharhari?
3. Apakah buruknya sistem pembuangan
air di Jakarta memberi pengaruh yang signifikan terhadap banjir besar ini?
4. Apakah banjir 2013 juga diakibatkan
oleh jumlah sampah yang semakin meningkat di kali Ciliwung?
Untuk menjawab pertanyaan ini dan
menghasilkan tulisan yang baik, tampaknya penulis tidak dapat hanya
mengandalkan pengetahuan latar belakang dan refleksi pemikiran rasional. Perlu
melakukan kajian empiris untuk mendapatkan informasi dan data yang akurat.
Karena kita tidak dapat berspekulasi tentang buruknya sistem pembuangan air dan
jumlah sampah. Untuk kedua hal ini dibutuhkan data yang akurat.
Berbeda sekali jika yang hendak dijawab
adalah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
1. Mengapa banjir 2013 sampai
menenggelamkan Bundaran HI?
2. Apakah tenggelamnya Bundaran HI
mempengaruhi investasi asing di Indonesia?
3. Rendahnya disiplin penduduk menjaga
lingkunagn ikut mempengaruhi banjir Jakarta?
4. Apa yang dapat disumbangkan
masyarakat untuk ikut serta menanggulangi banjir Jakarta?
5. Siapa yang paling bertanggung jawab
atas terjadinya peristiwa ini?
6. Apakah Jakarta masih layak menjadi
ibu kota Indonesia?
Rangkaian pertanyaan ini memberi lebih
banyak kebebasan kepada penulis untuk melakukan eksplorasi memanfaatkan
refleksi pemikiran rasional dan imajinasinya. Ia boleh ngarang dan
ngarang-ngarang. Kekuatan argumentasi rasional yang memperhatikan koherensi
internal tulisan, bisa lebih menonjol di sini. Tidak ada salahnya bila
memanfaatkan data empiris. Tetapi data empiris untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan ini, tidaklah sepenting seperti menjawab rangkaian empat
pertanyaan yang lebih dulu ditampilkan di atas.
Terlihat dengan jelas, bagaimana dari
sebuah topik yang terbatas, menggunakan metode badai pikiran, didapatkan
sejumlah besar pertanyaan dan bisa menghasilkan fokus dan gaya penulisan yang
berbeda. Yang pertama lebih bergaya induktif empiris yang sangat mengandalkan
dan tergantung data, sedangkan yang kedua lebih bergaya deduktif rasional yang
memberi kebebadan untuk berefleksi, berimajinasi, bahkan bespekulasi. Penulis
tentu saja dapat menggabungkan keduanya. Dengan demikian dapat dihasilkan
tulisan yang lebih lengkap, mendalam, dan rinci.
Contoh-contoh di atas menunjukkan
bagaimana membuat kerangka karangan. Urut-urutannya mulai dari pemfokusan
tulisan dengan cara membatasi topik tulisan, mengajukan pertanyaan menggunakan
metode badai pikiran, menyeleksi dan mengurutkan pertanyaan yang mewujud
menjadi kerangaka karangan. Kita juga bisa menggunakan peta pikiran yang
dikembangkan Tony Buzan untuk membatasi topik tulisan dan membuat kerangka
karangan, dan semua cara lain yang permah ditawarkan para ahli. Tetapi cara
yang kutawarkan tampaknya lebih mudah, dan lebih melibatkan penulis dengan
tulisannya.
Kerangka karangan memang dapat
mempermudah mengembangkan tulisan. Bukan saja bagi penulis pemula, juga bagi
penulis yang sudah ahli. Kerangka karangan memberi acuan sekaligus arah untuk
mengembangkan tulisan. Aku juga membuat kerangka karangan, tetapi tidak
tertulis. Namun, membiarkannya berada di dalam fikiran agar mudah dikembangkan
dan diubah. Bagi yang memiliki profesi sebagai pengajar dan instruktur, yang
terbiasa membuat power poin, buatlah power point dengan
lengkap dan terstruktur, karena dapat digunakan sebagai kerangka karangan yang
tinggal diberi daging, otot, syaraf dan kulit agar menjadi tulisan yang utuh.
ASPEK-ASPEK KEBAHASAAN
Pada hakikatnya menulis adalah kegiatan
dan keterampilan berbahasa. Kita mengungkapkan ide, perasaan, dan imajinasi
melalui dan dengan bahasa. Menulis itu merupakan kegiatan berkalimat,
menghasilkan atau memproduksi kalimat-kalimat sebagai wahana pengejawantahan
pikiran dan perasaan. Kalimat terdiri dari kata-kata, tetapi bukan kumpulan
atau tumpukan kata, melainkan rangkaian kata.
Seperti rangkaian bunga yang merupakan
upaya menyusun bunga dengan teknik tertentu, dan setiap teknik memiliki cara
kerja yang berbeda. Begitu pula halnya dengan rangkaian kata-kata untuk
membentuk atau membangun kalimat. Kata memiliki makna dan fungsi. Makna kata
tidak sepasti angka. Ada makna denotasi atau makna seperti tertera di dalam
kamus, juga makna konotasi yaitu makna tambahan. Kepala berita sebuah surat
kabar tertulis: Jakara Tenggelam. Ini konotatif. Memang ada beberapa tempat
yang sungguh tenggelam, tetapi sebagian besar hanya tergenang.
Ada lagi makna kontekstual, baik dalam
arti konteks kalimat yang dimasuki kata, maupun konteks sosial yang dapat
mempengaruhi makna kata. Kata kembali memiliki makna yang berbeda dalam
dua kalimat ini,
1. Ia terpaksa mengirim kembali
surat itu.
2. Gus Dur telah kembali ke
haribaan Illahi.
Pada kalimat pertama kata kembali
bermakna perbuatan mengulangi, sedangkan pada kalimat kedua bermakna pulang,
dalam kaitan ini wafat. Konteks sosial bisa lebih rumit dari contoh di atas.
Kata amis bermakna bau yang tidak menyenangkan dalam bahasa Indonesia, tetapi
bermakna manis dalam bahasa Sunda. Secara berkelakar bisa dikatakan yang
dibuang dan dihindari orang Indonesia, disukai oleh kebanyakan orang Sunda.
Sebaliknya terjadi dengan kata goreng. Kebanyakan orang Indonesia suka nasi
goreng, mie goreng, tempe,tahu, dan pisang goreng. Orang Sunda menghindari
bahkan membuangnya, karena kata goreng bermakna jelek dalam bahasa Sunda.
Oleh karena makna kata itu tidak pasti
dan selalu berubah, para ahli bahasa menyarankan bila kita berbicara dan
menulis, perhatikanlah diksi atau pilihan kata. Artinya kita harus memilah,
memilih, dan mengolah kata. Tidak menggunakan kata secara sembarangan. Terutama
dalam menulis. Bila bebicara makna kata
bisa didukung dengan bahasa tubuh dan cara mengucapkan kata. Dalam menulis,
bantuan seperti itu tidak ada. Jadi, penulis harus sangat hati-hati dan
mengoptimalkan penggunaan kata untuk merangkai kailmat, dan membangun makna.
Para ahli bahasa menetapkan cara untuk
memilih kata. Cara itu adalah perhatikan ketepatan dan kesesuaian kata.
Ketepatan kata berhubungan dengan makna kata terkait makna yang terdapat dalam
kamus, logika bahasa, dan aturan ketatabahasaan, sedangkan kesesuaian kata
berkutat pada makna kata dalam kaitannya dengan konteks sosial seperti untuk
siapa tulisan ditujukan, dan rasa kata yang berkembang dalam masyarakat. Rasa
kata ini berhubungan dengan pantas-tak pantas, dan halus-kasar.
Contoh penggunaan ketepatan kata adalah
sinonim atau padanan kata. Kata besar memiliki sinonim akbar, agung, makro,
gala, dan raya. Kita tidak dapat menggunakan sesuka kita. Orang pasti
menertawakan kita, jika menggunakan mahkamah makro, jaksa akbar, ekonomi agung.
Yang berterima adalah mahkamah agung, jaksa agung, dan ekonomi makro. Ini
terjadi karena pada hakikatnya sinonim bukanlah kesamaan makna, tapi kesetaraan
makna. Jadi, kita tidak dapat saling mempertukarkannya. Menggunakan ketepatan
kata memang membutuhkan kehati-hatian. Dengan demikian kalimat yang kita
rangkai menjadi benar dan nalar.
Aturan tentang ketepatan dan kesesuaian
kata ini sangat banyak dan kompleks. Begitu pula aturan tentang kalimat dan
paragraf. Aku menyarankan pelajarilah aturan ini dengan sebaik-baiknya. Tetapi
jangan sampai karena banyak dan ketatnya aturan-aturan kebahasaan itu membuat
kita tidak menulis. Saranku sederhana saja, menulislah. Saat menulis semua
aturan itu abaikan saja. Selama ini aku begitu. Aku sama sekali tak
memperhatikannya. Aku menulis dan menulis. Bila tulisanku telah selesai barulah
kusediakan waktu untuk menatanya, memperhatikan semua aturan yang ada. Sebab
aku berprinsip, lebih mudah menata tulisan yang sudah ada wujudnya, daripada
tidak menghasilkan tulisan karena terkungkung oleh macam-macam aturan.
Aku mengenal banyak teman yang mengajar
Bahasa Indonesia di perguruan tinggi, bahkan mereka mengajar mata kuliah Menulis.
Mereka tahu dan hafal semua aturan bahasa dan kiat-kiat menulis, tetapi aku tak
pernah membaca tulisan mereka, apalagi buku yang diterbitkan. Sekali lagi
kusarankan, menulislah dan lihat hasilnya yang luar biasa.
Mengapa aku memberi saran seperti itu?
Menulis itu adalah salah satu bentuk tindak komunikasi. Bukankah kita bisa
berkomunikasi dengan lancar tanpa menjadi ahli bahasa? Para ahli bahasa
pastilah berusaha meyakinkan bahwa tanpa pemahaman yang baik dan benar terhadap
bahasa, kita tidak akan bisa berkomunikasi dengan baik dan benar. Mari kita
hargai pendapat mereka, karena kasihan juga bila tidak dihargai. Mereka sudah
lama belajar dan bahasa telah menjadi sumber mata pencariannya. Tetapi tidak
ada hukum yang mengharuskan kita mengikuti pendapat mereka. Penulis-penulis
terkenal dalam berbagai bidang, termasuk penulis sastra, sebagaian besar bukan
ahli bahasa, apalagi ahli tatabahasa. Tetapi mereka adalah para penulis hebat.
Sementara para pengajar bahasa Indonesia itu, para ahli bahasa, mana karya
tulis mereka? Bila ada, pastilah tidak sebanyak para penulis yang bukan ahli
bahasa. Jadi, menulislah terus.
Kita menulis apa yang kita alami,
ketahui, fikirkan, rasakan, dan khayalkan. Persoalan kecanggihan bahasa itu
menyusul. Malah sering terjadi, para ahli bahasa itu belajar dari para penulis
yang tidak ahli bahasa. Para penulis itu bahkan menciptakan banyak konstruksi
kata dan kalimat, serta ungkapan yang justru memberi ahli bahasa itu
pengetahuan dan pekerjaan.
Lihatlah, anak-anak kita belajar bahasa
Indonesia dari sekolah dasar, apakah keterampilan berbahasa Indonesia mereka
bagus? Hasil ujian nasional bahasa Indonesia juga tidak bagus. Ayo menulislah
dengan bahasa yang kita kuasai, yang kita dapat dari kehidupan sehari-hari.
Dengan bahasa sehari-hari itu kita bisa membangun dunia makna, dan
berkomunikasi dengan orang lain, serta hidup normal.
Menulislah terus, semakin lama rasa
bahasa itu akan tumbuh kembang, kita akan belajar dari kesalahan-kesalahan yang
kita buat. Setiap kita pastilah menginginkan peningkatan kualitas tulisan, dan
tidak lagi mendapatkan hambatan kebahasaan saat menulis. Hal-hal inilah yang
mendorong kita untuk secara terus menerus meningkatkan pemahaman dan
keterampilan berbahasa dan belajar bahasa. Jadi, menulislah lebih dahulu,
mempercanggih bahasa kemudian. Jangan dibalik!
MENGAKHIRI TULISAN
Bagi siapa pun yang tidak memiliki atau
kurang pengalaman dengan tulis-menulis mungkin menganggap pertanyaan begaimana
mengakhiri tulisan sebagai pertanyaan yang aneh dan lucu. Apa benar tidak mudah
mengakhiri tulisan? Jawabannya, tergantung. Tergantung pengalaman dan
kebiasaan, topik tulisan, sumber-sumber yang tersedia, tujuan dan manfaat
tulisan.
Inilah pengalamanku. Aku biasanya
mengakhiri tulisan bila merasa tulisan harus diakhiri. Aku kurang memperdulikan
apakah semua yang harus dan perlu dijelaskan sudah dijelaskan. Setelah
membiarkannya beberapa lama, paling tidak setengah jam, barulah aku baca ulang.
Pada saat inilah kuputuskan, apakah perlu penambahan, penajaman, dan membuat catatan
penutup. Catatan penutup itu bisa berupa simpulan, atau simpulan dan pengantar
untuk bab selanjutnya. Aku selalu begitu, sebab bagiku menulis adalah kegiatan
yang bersifat bertahap dan berkelanjutan, yang dikerjakan berulang-ulang, tidak
sekali jadi.
Aku tidak pernah memaksakan diri untuk
sampai pada satu titik tertentu, misalnya harus mencapai simpulan dalam sekali
menulis. Aku menulis saja semampuku. Ini kulakukan karena bila dipaksakan
hasilnya pasti tidak bagus. Sebagai suatu contoh nyata. Pada 2012 aku
mendapatkan kesempatan dari Balitbang Kemdikbud untuk menulis dalam kerangka Outlook pendidikan. Aku diminta menulis
Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar. Sistematika tulisan telah ditentukan,
tulisan harus berakhir dengan simpulan dan rekomendasi. Meskipun topiknya
serius-formal, dan agak sulit karena harus berbasis konsep teoritis dan fakta
empiris, serta sebuah pandangan visionet untuk memecahakan masalah masa kini,
bagi peningkatan mutu pada masa depan. Namun, tidak sulit menentukan akhir
tulisan karena sudah ada format dan target yang harus diberikan yaitu
rekomendasi.
Itulah sebabnya mengapa semua tulisan
formal selalu memiliki sistematika agar memudahkan bagi siapa pun untuk
mewujudkannya menjadi tulisan. Tetapi terkadang sistematika itu juga tidak
terlalu membantu, karena mengakhiri tulisan bukan persoalan sistematika, lebih
merupakan isi tulisan.
Aku mengembangkan sebuah kiat untuk
melakukan pengecekan tulisan formal. Sebuah kiat untuk memastikan bahwa tulisan
itu sudah layak diakhiri. Berbeda dengan tulisan yang tidak formal yang
memiliki rentang kebebasan lebih besar, tulisan formal harus mengikuti sejumlah
aturan yang harus diperhatikan. Tulisan formal biasanya mengedepankan sejumlah
konsep utama yang merupakan konsep kunci dari topik yang ditulis. Periksalah
apakah konsep-konsep kunci itu sudah dijelaskan? Bagaimana cara memeriksanya?
Perhatikan apakah kata-kata kunci yang terkandung dalam konsep kunci itu sudah
disebut dan dijelaskan? Bila sudah, pertanyaan berikutnya adalah, apakah kata-kata
kunci itu sudah dijelaskan kaitannya satu sama lain sehingga seluruh konsep
kuncinya terurai dengan baik? Apakah perlu menambahkan contoh untuk semakin
memperjelas?
Pemeriksaan inilah yang antara lain
kukerjakan dalam tahapan penataan tulisan. Konsekuensinya, tahap penataan
tulisan bagiku merupakan tahap yang sangat penting setelah tahap menulis bebas
terlampaui. Pada tahap penstaan inilah diputuskan apakah tulisan perlu
diperbaiki, ditambah, dikurangi, dipertajam, atau diubah. Setelah semuanya dikerjakan,
saatnya untuk mengakhiri tulisan.
Ambillah contoh ketika aku menulis
disertasi. Salah satu variabel yang harus kujelaskan adalah Hak Asasi Manusia
(HAM). Aku melakukan eksplorasi teoritik-konseptual. Konsep kunci apa saja yang
membangun konsep HAM. Ternyata HAM dibangun atas dasar tiga konsep utama yaitu
1). Menghormati martabat manusia, 2). Menghormati dan mempraktikkan kebebasan,
dan 3). Menghormati dan mempraktikkan kesetaraan manusia. Jadi ketiga konsep
utama ini dijelaskan satu persatu. Setelah itu kaitan ketiga konsep ini juga
dijelaskan. Dengan demikian terjelaskanlah apa itu HAM.
Ketika menjelaskan konsep utama
menghormati martabat manusia, muncul sejumlah kata-kata kunci. Dalam bidang
pendidikan kata-kunci untuk menghormati martabat manusia adalah:
a. Mengenali diri sendiri
b. Menghormati orang lain
c. Mengembangkan potensi diri sendiri
secara positif
d. Membantu orang lain mengembangkan
diri.
Kata-kata kunci yang ada dalam kata
kunci mengenali diri sendiri adalah:
a). Bersikap positif terhadap kelebihan
diri sendiri
b). Berani mengakui kesalahan diri
sendiri
Kata-kata kunci yang terkandung dalam
kata kunci menghormati orang lain yaitu:
a). Mengakui kelebihan orang lain
secara positif
b). Menerima kekurangan orang lain
secara positif.
Keseluruhan kata-kata kunci beserta
contoh dan kaitan atau konstelasi kata-kata kunci itu harus dijelaskan. Bila
semuanya telah dijelaskan secara lengkap, rinci, dan mendalam, tulisan boleh
diakhiri.
Tulisan yang tidak formal tentulah
tidak serumit ini. Tulisan formal yang hendak digunakan untuk tujuan yang lebih
sederhana seperti makalah yang hendak disampaikan dalam seminar juga tidak
perlu sekompleks itu. Begitu juga tulisan formal yang digunakan sebagai
proposal penelitian tidak perlu selengkap dan serinci itu. Jadi, mengakhiri
tulisan sangat tergantung banyak faktor. Aku biasanya berhenti saat aku merasa
harus berhenti.
MENULIS DENGAN MODEL
Menulis dengan model merupakan salah
satu cara untuk belajar menulis. Ada banyak kemudahan menulis menggunakan model.
Aku memiliki sejumlah pengalaman menulis dengan model. Aku mengajar mata kuliah
Menulis Jurnal. Mahasiswa aku minta mencari jurnal-jurnal terakriditasi. Harus
yang sudah terakriditasi, karena yang dijadikan model harus tulisan terbaik.
Ini syarat mutlak menulis dengan model.
Kemudian artikel dalam jurnal itu
dianalisis. Unsur yang dianalisis adalah:
1. Sistematika atau struktur tulisan
2. Isi tulisan
3. Aspek kebahasaan, termasuk tata
tulis.
Analisis dilakukan untuk menemukenali
bukan saja apa yang tersurat, juga yang tersirat seperti:
1. Mengapa sistematika atau strukturnya
seperti ini?
2. Apa saja yang harus muncul dalam
latar belakang, mengapa tidak semua teori dimasukkan dalam artikel, apa saja
hasil penelitian yang ditulis dalam artikel, bagaimana rumusan simpulannya?
3. Bagaimana pilihan kata, dan bentuk
serta pola kalimat dan paragrafnya?
Setelah analisis dilakukan, barulah
mahasiswa membuat artikel berdasarkan artikel yang telah dianalisis. Selama
membuat tulisan mahasiswa boleh melihat artikel yang dijadikan model.
Selanjutnya mahasiswa diminta saling menukarkan hasil pekerjaannya, dan saling
koreksi. Hasil koreksian diperbaiki. Kemudian mereka membuat artikel baru dan
tidak lagi melihat modelnya. Biasanya hasilnya bagus. Karena ada model yang
dijadikan contoh.
Agar terampil dalam beragam jenis
tulisan, pilihlah tulisan terbaik dari bermacam-macam jenis tulisan. Mulai dari
tulisan ringan seperti kisah perjalanan, artikel bebas, artikel ilmiah, dan
tulisan-tulisan lain. Lakukan berulang-ulang, sampai Anda menemukan gaya
menulis sendiri. Menulis dengan model hanyalah strategi untuk latihan menulis.
Anda harus menemukan gaya sendiri yang berbeda dari model-model itu.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus