Alhamdullillah. Tanggapan terhadap
MENULISLAH SEPERTI SHALAT (3) semakin ramai dan beragam. Pertanyaan semakin
banyak. Ada pula yang meminta tambahan penjelasan untuk topik yang dibahas pada
seri 1 dan 2. Beberapa pembaca membuat testimoni bahwa mereka telah mencoba
kiat-kiat yang dijelaskan dan sekarang sudah mulai bisa menulis. Pertanyaan
yang paling banyak muncul adalah bagaimana cara mengolah pengalaman dan hasil
bacaan menjadi tulisan? Beberapa teman menanyakan bagaimana kiat untuk
memberanikan diri mengumumkan tulisan kepada orang lain? Ada pula yang merasa
kesulitan untuk menjaga konsistensi tulisan dari awal sampai akhir. Sejumlah
pembaca lain meminta penjelasan tambahan bagaimana caranya memadukan kutipan
dengan pendapat penulis dan cara memperlakukan kutipan dengan tepat. Izinkan
aku untuk menjelaskan beberapa pertanyaan itu. Pertanyaan yang belum dijawab
pada kesempatan ini, Insya Allah dijawab pada seri berikutnya.
MENGOLAH PENGALAMAN DAN HASIL BACAAN
Pengalaman dan bacaan merupakan bahan
mentah atau bahan setengah jadi bagi tulisan. Karena itu harus diolah. Keduanya
tidak dapat begitu saja dijadikan tulisan. Terkait dengan pengalaman sebagai
bahan tulisan, inilah pengalamanku.
Aku bertahun-tahun menjadi relawan
untuk anak jalanan, anak pasar dan anak daerah kumuh. Bersama para relawan lain
baik sebagai pertemanan yang peduli, maupun yang tergabung dalam Yayasan Nanda
Dian Nusantara (YNDN), aku ikut serta memberdayakan anak-anak itu dan
keluarganya. Perhatian utama adalah pemberdayaan ekonomi dan pendidikan. Dalam
semua pekerjaan aku memanfaatkan pengetahuan dan pengalamanku sebagai peneliti
khususnya terkait dengan penelitian kualitatif dan partisipatori.
Pengalaman itu tentu sangat banyak dan
beragam. Sebab dilakukan selama bertahun-tahun dan di banyak tempat. Pengalaman
yang sangat banyak itu kemudian diolah menggunakan kiat tiga M yaitu memilah,
memilih, dan mengolah.
Pada tahap memilah dilakukan
kategorisasi pengalaman seperti:
1. Pengalaman mengelola anak jalanan
2. Pengalaman mengelola anak pasar
3. Pengalaman mengelola anak daerah
kumuh.
Setiap pengalaman itu masih memiliki
kategori bawahan atau kategori yang lebih kecil, seperti:
1. Pengalaman mengelola anak jalanan,
terdiri dari:
a. Pemberdayaan ekonomi
b. Pemberdayaan pendidikan
c. Pemberdayaan keluarga.
Pemberdayaan ekonomi meliputi kegiatan
sebagai berikut:
a). Pelatihan memperbaiki motor
b). Pelatihan daur ulang barang bekas
c). Pelatihan memperbaiki laptop
Setiap pengalaman mengelola mesti
dijabarkan seperti di atas. Dengan demikian didapatkan uraian yang lengkap dan
rinci. Setelah itu tahapan berlanjut. Saatnya untuk memilih. Memilih kegiatan
mana yang dibutuhkan untuk penulisan buku. Tentu saja pemilihan ini dikaitkan
dengan topik buku. Ada yang ditempatkan sebagai contoh, ada pula yang digunakan
untuk menjelaskan proses. Jadi, pada tahapan ini sudah dibuat pilihan. Contoh,
pelatihan daur ulang untuk menjelaskan upaya pemberdayaan, sementara itu proses
pelatihan memperbaiki motor digunakan sebagai contoh bagaimana peneliti
melakukan pengamatan terlibat dengan ikut serta dalam pelatihan.
Kemudian pengalaman yang telah
dituliskan dan dipilih sesuai topik tulisan dalam buku diolah. Diolah memiliki
arti menempatkan tulisan tentang pengalaman itu secara tepat di dalam buku,
agar menjadi bagian organik atau bagian yang menyatu dengan topik yang dibahas
dalam buku. Aku biasanya menempatkannya setelah melakukan penulisan yang bebas dan
mengalir. Jadi, penempatannya dilakukan pada saat penataan. Tentu saja saat
menulis bebas itu, aku sudah menempatkannya dalam bagian yang sedang ditulis
secara mental, sehingga saat penataan tulisan tinggal mengintegrasikannya.
Agar menjadi lebih jelas, aku tunjukkan
bagaimana pengalaman itu ditempatkan dalam dua buku yang lebih dominan berbasis
pengalaman. Dalam Penelitian Kualitatif:
Proses dan Aplikasi, (2012:44-45) pengalaman digunakan sebagai contoh.
Berikut kutipan lengkapnya,
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1. Pengamatan
Terkait pengamatan/observasi ini ada tingkat-tingkatnya mulai dari
pengamatan terjarak, pengamatan setengah terlibat sampai terlibat penuh. Inilah
yang akan diuraikan berikut ini.
Aplikasi 2.11
Si Item (1)
Ia berusia lebih kurang 13 tahun. Tingginya sekitar 112 cm
dan berat badan + 35 kg, kulitnya hitam,
rambutnya hitam pendek. Matanya terus bergerak, hidungnya pesek, dan bibirnya
terlalu besar dibanding hidungnya. Ia tidak pernah bisa duduk tenang walau
hanya dua menit. Ia terus bergerak, berlarian, mengerjakan apa saja. Memunguti
sampah, mengangkat kursi, mengumpulkan piring kotor, mencuci piring dan
mengangkati apa saja yang menurutnya mesti diangkat. Kadang benda yang sama
dipindahkan kemudian dipindahkan lagi ke tempat semula.
Jika tidak ada lagi yang dikerjakan, dia mulai mengganggu
teman-temannya. Mencolek, menjambak rambut, mendorong, berteriak di kuping
temannya, mengambil kopiah temannya, dan melemparkannya ke mana saja.
Saat teman-temannya shalat ia membersihkan ruangan untuk
tidur, dan ketika teman-temannya tidur, ia mulai berjalan keliling lapangan,
menyapu, memindahkan pot-pot bunga. Kemudian ke kamar mandi, membersihkan kamar
mandi dan wc dengan menyikat semua lantai, membersihkan bak mandi dan
ember-ember, lantas mengepel lantai ruang pertemuan dan mengelap kaca-kaca
jendela.
Menjelang azan subuh ia tidur tak sampai 30 menit dan
kemudian membantu orang memasak makanan di dapur, mengangkat air, membantu
membuat teh manis, mengantarkannya ke tempat anak-anak lain sarapan, sarapan
mie instan sambil jalan, mengumpulkan piring, mangkok serta gelas kotor, ikut
mencuci piring............
Teman-temannya memanggilnya si Item karena kulitnya hitam.
Jika betbicara kata-kata yang diucapkannya tidak jelas, sering ingus keluar
dari lubang hidungnya. Teman-temannya menyebut bau badannya bau matahari, meski
rajin membersihkan kamar mandi ia jarang sekali mandi. Begitu pun ganti baju.
Si Item adalah salah satu peserta
pesantren kilat anak jalanan di DKI Jakarta. Itu tadi hasil pengamatan sepintas
tentang si Item. Pengamat mengambil jarak dari si Item dan terus mengamatinya
dalam waktu panjang, tanpa menyapanya, atau berinteraksi dengannya. Catatan di
atas menimbulkan sejumlah pertanyaan seperti, mengapa si Item berperilaku
seperti itu? Apa dia tidak merasa letih? Mengapa ia sampai berperilaku seperti
itu? Siapa sebenarnya si Item itu? Dari keluarga seperti apa ia berasal? Apa
penyebabnya ia jadi seperti itu? Pertanyaan inilah yang mesti didalami baik
dengan pengamatan yang lebih mendalam dan penggalian dengan
ngobrol-ngobrol/wawancara.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Apa yang digambarkan di atas adalah
pengalamanku saat melakukan pemberdayaan terhadap salah satu anak jalanan/anak
pasar ketika menyelenggarakan pesantern anak jalanan pada bulan Ramadhan.
Pengalaman itu dimanfaatkan untuk menunjukkan proses pengamatan dalam
penelitian kualitatif yang biasanya dimulai dengan pengamatan terjarak, sebelum
melakukan pengamatan terlibat. Pengalaman itu setelah dipilah dan dipilih,
diolah sehingga menjadi bagian utuh dari tulisan.
Dari catatan tentang si Item di atas
terlihat, ia tidak ikut sahur, dan sarapan pagi dengan anak-anak yang karena
usianya masih terlalu kecil tidak ikut puasa. Jadi, catatan prngalaman yang
dibuat harus mencatat apa adanya.
Tentu saja cara penempatan cerita si
Item itu akan sangat berbeda bila yang ditulis bukan penelitian kualitatif.
Bila yang ditulis adalah riwayat hidup si Item, maka cerita ini merupakan
bagian cerita yang utuh, bukan menjadi contoh. Pengalaman memang harus dipilah,
dipilih dan diolah sebelum jadi tulisan.
Selama bertahun-tahun melakukan
pemberdayaan, kami selalu merasakan betapa upaya sulit yang dilakukan selama
bertahun-tahun, bisa dihancurkan oleh anggota keluarga si anak yang telah
merasakan dampak positif upaya pemberdayaan. Sudah pasti, kejadian ini
memberikan masukan bagi kami untuk terus menyempurnakan rencana aksi atau
tindakan, demi perbaikan dan peningkatan mutu layanan. Agar mendapat masukan
yang bermakna dan memahami masalahnya dengan baik, maka pengalaman itu harus
dituliskan. Setelah diolah pengalaman itu menjadi bagian dari buku Penelitian
Partisipatori (2012: 82-85),
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Penghadapan pada masalah nyata dan
secara langsung 'melihat wajah korban' seringkali menumbuhkembangkan empati
mendalam dan mengakartunjangkan komitmen di dalam hati para calon relawan itu.
Semua itu mengikat mereka dalam semangat untuk berbagi dengan mereka yang kalah
dan dipinggirkan. Inilah 'SOFT SKILL' yang mesti ada dalam diri, dalam
kesadaran relawan sosial.
Berikut ini ditampilkan dua peristiwa
yang terjadi sebelum ada Undang-undang Perlindungan Anak. Semua yang sedang
berlatih, yaitu relawan sosial anak jalanan, relawan konseling trauma anak,
anak jalanan yang sedang ikut pelatihan, dan sejumlah ibu yang tinggal di
tempat kejadian beserta relawan yang terlatih bersama-sama mencoba mencari
solusi bagi pemecahan masalahnya. Inilah ringkasan ceritanya:
Aku dijual Kakakku......
Nr (14 tahun) anak wanita, anak keempat dari lima
bersaudara. Kakaknya dua perempuan, satu lelaki, dan adiknya seorang perempuan.
Ibunya mengutip buah dan sayur, bapaknya meninggal ketika adiknya berusia dua
tahun.
Untuk ukuran anak pasar, Nr tergolong cantik dan cerdas.
Karena tidak pernah sekolah ia ikut paket A di YNDN. Ibunya kemudian diberi
modal untuk menjual sayur. Nr anak yang rajin, ia minta ingin belajar
'ngebordir' dan dibiayai. Hasil bordirnya rapih dan bagus. Nr sungguh anak yang
membanggakan.
Lulus ujian persamaan SD, Nr minta sekolah di SMP biasa.
Setelah mendapat izin ibunya, Nr disekolahkan di SMP swasta. Ibunya berjualan,
Nr sekolah. Ia sekarang sudah bisa membuat janur selain tetap 'ngebordir'.
Ibunya sakit, ada gangguan paru-paru, sesak nafas, dan minta
diantar ke kampung. Karena masih sekolah Nr dititipkan pada kakak perempuannya.
Bulan Ramadhan, Nr ikut Pesantren Ramadhan anak jalanan yang
diselenggarakan dekat stasiun kereta api Pasar Minggu.
Pada hari kedua pesantren, menjelang buka puasa kakak
perempuan Nr datang dengan berurai air mata. Ia minta izin mau membawa Nr
pulang kampung karena ibu mereka sakit keras. Panitia mengizinkan dan
menawarkan diri untuk mengantar. Kakak perempuan Nr menolak tawaran itu.
Dua hari kemudian ketika anak-anak sedang taraweh di
lapangan di depan tempat mereka menginap, ada suara tangisan, beberapa kakak
pembina bergegas ke arah tangisan itu. Di kepekatan malam gulita, di bawah
pohon Nr nangis sesegukan. Kakak pembina perempuan memeluknya. Nr tambah
kencang tangisnya. Kemudian Nr dibawa menjauhi tenda dan lapangan.
Sepanjang jalan Nr menangis dan memaki, ia
menyumpahnyerapahi kakaknya. Di antara sumpah serapah itu terucap 'Aku dijual
kakakku.'
Semalaman mereka tenangkan Nr. Ia bercerita, ia dipaksa
melayani lelaki yang sudah tua, kakaknya yang memaksa membuka bajunya. Ia
menolak dan menangis, tetapi kakaknya tetap memaksa. Nr memang kelihatan kacau,
wajahnya pucat, rambutnya berantakan dan seluruh tubuhnya terus saja gemetaran.
Beberapa relawan pria langsung menuju kontrakan kakak Nr
pada dini hari. Sesampai di sana didapati kontrakan itu kosong dan lampunya
padam. Tetangga bilang kakak Nr sudah beberapa hari tidak pulang, katanya
pulang kampung melihat ibunya sakit.
Setelah bertanya dengan kenalan Ibu Nr, kami mendapatkan
alamatnya di kampung. Subuh itu kami menuju kampung Ibu Nr. Karena sulit
mencarinya, baru menjelang buka puasa kami temukan tempat tinggal Ibu Nr. Ia
tidak sakit parah, bahkan sudah mulai sehat. Kakak Nr tidak pernah pulang
kampung, sudah tiga bulan ini.
Dengan berat hati kami ceritakan apa yang menimpa Nr dan
bagaimana keadaan Nr sekarang. Ibu Nr sama sekali tidak kaget, ia menanggapi
dengan datar saja. Kemudian ia berucap," Ya biarin aja. Nr begitu karena
belum biasa, masih sakit. Ntar lama-lama juga biasa. Gak apa-apa Nr begitu.
Dulu kakaknya Nr, saya yang jual ke jagoan pasar. Udah biarin aja."
Kami bengong, terkesima, kaget dan geram. Mau marah sama
siapa?
Setelah itu kami berkonsentrasi
memulihkan Nr dan mencari kakaknya yang hilang lenyap lenyap seperti dihisap
lumpur hidup di tengah hutan. Beberapa relawan mencoba mengusahakan persoalan
ini diselesaikan melalui jalur hukum. Kami bersepakat mencari kakak Nr sampai
ketemu dulu dan memulihkan Nr. Ternyata menggunakan jalur hukum persoalannya
akan sangat berbelit-belit dan panjang. Sementara kakak Nr tidak pernah bisa
diketemukan lagi. Pemulihan Nr kemudian menjadi prioritas.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pengalaman kami dengan Nr berlangsung
sangat lama, amat beragam, dan penuh emosi. Pengalaman itu harus ditata,
dipilah, dipilih, dan diolah agar sesuai dengan topik yang akan ditulis.
Pengalaman itu juga harus ditulis dengan cara tertentu agar dapat dimanfaatkan.
Bagian mana yang cocok untuk topik tertentu, dan bagian mana lagi untuk topik
lainnya. Semua pengalaman kita yang sangat beragam dan kompleks harus ditata
sebaik mungkin agar bisa menjadi bahan yang layak ditulis dan bermakna.
Cara yang sama harus dilakukan untuk
hasil bacaan. Mengapa kita harus membaca dan mengutip secara langsung atau
tidak langsung dari bacaan? Sebagai penulis, kita harus dengan jujur mengakui
bahwa pengalaman dan ilmu kita sangat terbatas. Oleh sebab itu kita membutuhkan
bantuan orang lain. Orang lain memiliki pengalaman yang lain dan pengetahuan
yang berbeda dari kita. Orang lain lebih pintar dan lebih ahli dari kita. Jadi,
tidak ada salahnya memanfaatkan apa yang kita baca, dan dengar dari orang lain
sebagai bahan untuk tulisan. Yang penting kita memanfaatkannya secara jujur
dengan mencantumkan sumber jika mengutip. Bila tidak mencantumkan sumber, kita
bukan mengutip, tapi mengutil alias mencuri.
Terdapat banyak manfaat bacaan bagi
tulisan. Menjelaskan topik yang sedang dibahas, memerkuatnya dengan data,
memberikan contoh dan perbandingan dengan pikiran atau pendapat kita. Dalam
penelitian kuantitatif, hasil bacaan berupa teori dan konsep mutlak diperlukan
untuk menjelaskan variabel, merumuskan hipotesis, dan menjadi landasan bagi
perumusan indikator sebagai dasar untuk membuat instrumen penelitian. Sementara
dalam pemelitian kualitatif teori dan konsep dimanfaatkan untuk menjelaskan
fokus penelitian dan hasil penelitian.
Bahan bacaan juga harus dipilah,
dipilih, dan diolah sebelum
diintegrasikan dalam tulisan kita. Memang banyak orang menjadikan kutipan dari
bacaan sebagai etalase atau pajangan dalam tulisannya. Seperti barang di
etalase supermarket. Hanya disusun, dan pembeli diminta menilai dan memilih
sendiri. Seringkali kutipan dalam tulisan seperti pulau asing yang tidak
terkait dengan kalimat sebelum dan sesudah kutipan.
Memperlakukan bacaan itu mirip mengolah
makanan. Pertama, kita pergi ke pasar membeli macam-macam sayur, lauk dan bumbu
sesuai dengan rencana kita hendak memasak apa. Kedua, semua sayur, lauk dan
bumbu itu harus dikupas, disiangi, dicuci, dirajangcincang, ada yang ditumbuk
atau digiling. Ketiga, semuanya kemudian dimasak. Biasanya tidak sekaligus, ada
yang lebih dulu, ada yang belakangan. Harus digarami dengan pas. Hasilnya
adalah masakan yang matang dan lezat.
Kutipan hasil bacaan jangan hanya
dijejer dalam tulisan, harus ada analisis. Kata-kata kuncinya dijelaskan
sehingga topik utama tulisan kita makin jelas karena kutipan itu. Kata-kata
kuncinya bisa dijelaskan oleh ahli lain, berarti kita menambah kutipan, bisa juga
kita jelaskan sendiri.
Aku biasanya menulis saja dengan lancar
dan apa adanya yang kuketahui. Kemudian pada bagian yang kurasa perlu bantuan
konsep atau teori kuberi tanda, misalnya menyebut ahli yang akan dikutip. Ini
kulakukan agar dapat terus menulis tanpa terganggu dengan kutipan. Sebab bila
tergantung kutipan, tulisannya sulit berkembang. Yang penting gagasanku tentang
topik itu dituliskan dulu, baru kemudian mencari kutipan dari bacaan.
Inilah contoh bagaimana aku
memperlakukan bahan bacaan dalam tulisannku Penelitian Kualitatif Paud
(2012:3-4)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Otak manusia diakui sebagai benda
paling kompleks dan misterius di alam semesta. Karena terdiri dari miliaran sel
dan triliunan jaringan syaraf, jumlah ini mengalahkan bintang gemintang pada
gugus galaksi Bima Sakti.
Secara spesifik biasanya disebut angka
100 miliar sel syaraf yang diberi nama neuron (Ruben & Daufur,2009:6;
Hayness, 2006:3). Setiap neuron dapat mengembangkan ribuan sampai ratusan ribu
sambungan/jaringan/koneksi/jalinan yang disebut sinapsis, sehingga secara
keseluruhan otak bisa memiliki 1.000 triliun sinapsis (McCrone, 2003:6).
Sekarang ini telah dapat dijelaskan
bahwa yang membedakan tingkat kecerdasan antara manusia bukanlah banyaknya
jumlah neuron. Tetapi banyak dan rumitnya jaringan neuron (sinapsis) yang
terhubung antar-neuron.
Ketika bayi berusia tiga tahun, jumlah
hubungan sinaps akan mencapai 1.000 triliun, lebih dari jumlah sinaps pada usia
dewasa. Jumlah sinaps yang sangat besar itu sangat penting untuk menunjang dan
mempertajam kemampuan otak melalui berbagai pengalaman yang didapat anak (Erny
& Suharso, 2006:3).
Ahli PAUD Jepang Ibuka (2009:3)
menulis, studi psikologi serebral pada satu sisi dan psikologi anak pada sisi
yang lain menunjukkan dengan gamblang bahwa kunci perkembangan inteligensia
tergantung pengalaman anak saat berusia tiga tahun, yakni selama masa-masa
perkembangan sel-sel otak. Tidak ada anak genius atau bodoh setelah lahir.
Semua tergantung pada rangsang sel-sel otak pada masa krusial.
Semua yang dijelaskan di atas
menunjukkan tumbuh kembang sinapsis ini tidak terjadi secara otomatis, tetapi
sangat ditentukan oleh rangsangan atau stimulus yang diberikan pada anak dan
aktivitas yang dilakukan oleh anak. Di sini berlaku aturan, "DIGUNAKAN
ATAU MATI".
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku membuat sebuah pernyataan yang
sangat umum tentang otak. Kemudian memanfaatkan kutipan untuk menjelaskannya.
Mengapa kutipan? Sebab aku bukan ahli tentang otak, jadi dibutuhkan pendapat
ahli otak yang telah menuliskan hasil penelitian atau penelusurannya dalam buku
yang khusus membahas tentang otak. Dengan demikian pernyataanku diperkuat oleh
ahlinya, sehingga dapat dipercaya. Selanjutnya atas dasar kutipan itu aku
mencoba membuat simpulan sementara yang dijelaskan lebih lanjut oleh ahli pada
kutipan selanjutnya. Aku kemudian membuat beberapa simpulan yang nanti akan
dijelaskan oleh kutipan berikutnya.
Cara di atas bukalah satu-satunya cara
memperlakukan bahan bacaan yang dijadikan kutipan dalam tulisan kita. Dalam
buku Metode Penelitian Kualitatif Pendidikan (2013:75-76) aku membuatnya
seperti ini,
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dalam perkembangannya kini, meskipun
penelitian kualitatif tidak bertujuan menjelaskan sebab akibat atau hubungan
kausal, namun dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan kausal. Maxwell dalam Causal Explanation Qualitative Research, and Scientific Inquiry in Education
(2004:3) menguraikan,
I argue that a realist understanding of causality is
compatible with the key characteristic of qualitative research, and supports a
view of qualitative research as legimately scientific approach to causal
explanation.
Maxwell berpendapat bahwa penelitian
kualitatif dapat menjelaskan kausalitas. Namun, tentu saja penjelasan
kausalitas yang diberikan oleh penelitian kualitatif tidak sama dengan
penelitian kuantitatif yang berbasis kuantifikasi data dan menggunakan
statistik. Penjelasan kausalitas dalam penelitian kulaitatif didasarkan pada
pengamatan berulang-ulang dalam jangka panjang, diperkaya dengan penggalian
lebih dalam memanfaatkan wawancara kualitatif. Hasilnya lebih berupa penjelasan
kecenderungan pengaruh satu peristiwa terhadap peristiwa lain.
Sebagai contoh adalah keberhasilan
Provinsi Bali menjadi peringkat satu Ujian Nasional selama beberapa tahun
berturut-turut. Peneliti kualitatif melakukan penelitian dengan fokus strategi
yang dilaksanakan oleh sekolah-sekolah di Bali menghadapi UN. Mulai dari proses
belajar di sekolah-sekolah, model pengayaan yang dikembangkan, strategi uji
coba yang dilaksanakan sampai kerja sama sekolah dan orang tua.
Untuk memastikan adanya prngaruh
keseluruhan strategi tersebut terhadap hasil UN paling tidak dapat dilakukan
dua cara. Pertama, melakukan penelitian kualitatif berjangka panjang dalam dua
periode UN, selam dua tahun. Peneliti mencari data lengkap apakah sekolah di
Bali konsisten menjalankan strategi itu, dan apakah hasilnya juga konsisten.
Jika konsisten, dapat diduga dan disimpulkan ada pengaruh strategi tersebut
terhadap hasil UN.
Kedua, membandingkan strategi
menghadapi UN antara Bali yang berhasil berada pada tingkat pertama secara
berturut-turut dengan daerah lain yang peringkatnya kurang bagus, juga secara
berturu-turut. Fokus penelitiannya sama yaitu strategi menghadapi UN, jika
strateginya berbeda dan hasilnya berbeda, maka patut diduga dan disimpulkan
bahwa strategi menghadapi UN berpengaruh terhadap hasil UN.
Oleh karena yang diteliti banyak aspek,
dan penelitian dilakukan secara mendalam, hasilnya bisa jadi lebih baik dari
penjelasan kausalitas menggunakan penelitian kuantitatif yang biasanya
membatasi penelitian pada beberapa variabel. Karena alasan seperti inilah
Maxwell menggunakan penjelasan a legitimately scientific approach to causal
explanation. Artinya, penjelasan kausalitas yang mendapat legitimasi
ilmiah.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bila pada contoh yang pertama aku
mencoba menjelaskan kata kunci menggunakan pendapat ahli yang kemudian
dijelaskan lebih rinci oleh ahli yang lain, sehingga akhirnya kata kunci itu
semakin terjelaskan lebih spesifik. Maka, pada contoh yang kedua ini, aku yang
mencoba menjelaskan kata kuncinya dengan membuat contoh. Pada kutipan yang
pertama aku berperan lebih banyak untuk menyintesiskan pendapat para ahli, yang
kedua justru aku yang memberi penjelasan. Tentu saja masih ada cara yang lain,
yang terdapat dalam bukuku yang lain.
mohon maaf pak sebelumnya .saya Gatot Prasetyo
BalasHapusMABA p.ips 2013
apakah seorang penulis harus rajin menulis , membaca melakukan penelitian ,pengkajian (memilah dan memilih) dan kecilnya tuh harus digenjot aktivitas yang menaikan tingkat kerja otak ?
apa itu wajib pak ?
Assalamu'alaikum Pak..
BalasHapusSaya Rina Listiawati dari P.IPS Reguler 2013.
Subhanallah Pak, saya suka karya-karya tulis Bapak karena begitu mengagumkan,baik dari segi bahasa dan penjabarannya.
Sehingga menginspirasi saya untuk membuat karya tulis yang indah dan menarik seperti Bapak :-)
Saya tercengang ketika membaca kisah orang tua NR, yang seharusnya sebagai orang tua menjaga dan mengasihi buah hatinya, ini malah sebaliknya.
Saya berdoa, semoga tidak akan ada lagi kisah-kisah seperti NR baik kini, nanti, dan seterusnya.
assalamualaikum pa, nama saya anzani mutiara p.ips reg 2013.. pa saya begitu terinspirasi oleh tuisan-tulisan bapak,tulisan-tulisan bapak sangat menarik orang untuk membacanya serta memberikan motivasi saya untuk menjadi seorang penulis juga, dengan menjadikan pengalaman sebagai tulisan yang mampu memeberikan pesan-pesan yang terkandung didalamnya
BalasHapusSaya SITI MARIA ULPAH FIS/P.IPS Reg A 2013 (4915131401). Saya sudah membaca tulisan Bapak. Jujur saya tidak mengerti, saya hanya menanggap beberapa tulisan seperti memilah, memilih dan mengolah. Tapi saya belum bisa memahami maksud sebenarnya. Apa yang harus saya lakukan pertama, bagaimana setelahnya saya tidak tahu. Saya butuh keterangan langsung cara-cara menulis. Yang saya ingat ketika cerita Bapak tentang "aku dijual kakakku" itu membuat saya emosi jika saya melihatnya langsung. Rasanya saya ingin memaki ibunya atau perlu kakaknya. Saya suka menulis, terutama menulis buku harian. Tapi kalau untuk menulis yang benar saya masih butuh bimbingan dan keterangan dari Bapak. Terima kasih:))))
BalasHapusAssalamualaikum..saya termasuk orang yang suka menulis tetapi banyak sekali yang harus saya pelajari dan saya benahi lebih dalam agar tulisan saya dapat dinikmati oleh banyak orang,akan tetapi setelah ditengah jalan saya menulis ada rasa khawatir dengan apa yang saya tulis,saya takut tulisan saya hanya saya saja yang dapat menikmatinya tapi bagi oranglain itu teramat sangat membosankan,saya takut hal itu terjadi..bagaimana menurut bapak?
BalasHapusDevy Novianti
P.IPS REG B 2013