Rabu, 27 April 2016

DIENG KEMBALI

Kembali ke Dieng. Entah untuk yang keberapa kali. Pertama sekali pada 1980 sebagai siswa SMA. Dengan susah payah sampai ke Dieng untuk saksikan upacara pemotongan rambut gimbal. Sebuah acara ritual yang sangat kental menunjukkan pengaruh Hindu. Setelah itu sering kembali ke Dieng sebagai bagian dari petualangan anak remaja yang mencari identitas diri.

Sejak 1988 sampai kali ini, kembali ke Dieng membawa mahasiswa melakukan Kuliah Kerja Lapangan, berkali-kali. Sebenarnya bukan hanya Dieng. Ada tempat lain seperti Baduy, Kampung Naga, Bromo, Trunyan, Lombok, dan banyak tempat lain. Dieng, tampaknya menjadi salah satu tempat yang banyak dipilih mahasiswa. Mengapa Dieng?

Dieng sangat menarik sebagai subjek kajian. Dieng dipenuhi beragam candi yang sampai kini masih digunakan untuk upacara agama Hindu. Candi-candi Dieng masuk dalam kategori yang tertua di Indonesia. Dibangun abad ketujuh. Beragam legenda dan mitos masih hidup di tengah masyarakat terkait dengan kawah dan beragam fenomena alam di Dieng. Cerita-cerita yang bersumber dari kitab-kitab kuno. Dieng adalah pentas besar Ramayana. Candi dan kawah diberi nama dan cerita sejajar dengan Ramayana. Tentu bukan Ramayana India, tetapi Ramayana Jawa. Cerita dibuat dengan cara yang sangat menarik, seakan kisah Ramayana itu sungguh berlangsung di Dieng.

Semua cerita dan mitos itu menegaskan bahwa Dieng memiliki akar Hindu, meski kini yang melakukan upacara Hindu berasal dari luar Dieng. Namun sejumlah upacara seperti cukur rambut Gimbal atau Gembel masih sangat kental rempah Hindunya.

Tidak mengherankan di kebanyakan desa, wajah Islam yang mengemuka adalah Islam Jawa yang lebih dikenal sebagai Kejawen, kecuali di Desa Pakisan yang oleh penduduk desa lain sering disebut sebagai desa kaum Salafi. Di desa Pakisan banyak wanita bercadar, dan anak-anak perempuan menggunakan jilbab panjang.

Siapa pun yang datang ke Dieng dan hanya mendatangi tempat-tempat wisata, pasti merasakan dan berpendapat Dieng adalah kawasan sejuta candi dan sangat kental Hindunya. Meskipun Kehinduan kini hanya ditandai  oleh candi, mitos, nama-nama kawah, Islam Jawa, dan sejumlah ritual atau upacara.

Bila dilihat dari banyaknya dan rapatnya jarak masjid-masjid besar dan megah serta mushola, di berbagai desa Dieng, rasanya masyarakat Dieng bukan saja berpunya, juga religius. Namun, bila ada kesempatan untuk tinggal lebih lama mengikuti kegiatan keseharian penduduk, segera terlihat bahwa kebanyakan penduduk memang berpunya berkat kentang, namun masjid-masjid besar dan megah itu adalah ruang kosong yang sungguh mahal.

Di beberapa tempat, sekitar pukul tiga dini hari terdengar suara azan, katanya untuk membangunkan penduduk untuk shalat tahajut, lama setelah azan ini, terdengar azan subuh. Jangan berharap akan ada banyak orang berjamaah subuh di masjid. Mungkin karena dingin yang menyerikan tulang, kebanyakan orang memilih shalat di rumah (?).

Bila semangat untuk membangun masjid menjadi ukuran, masyarakat Dieng luar biasa dalam hal ini. Mereka bahkan enggan menerima sumbangan dari orang luar meski dibutuhkan tiga miliar rupiah untuk membangun masjid besar dan megah. Jika yang menjadi ukuran adalah meramaikan masjid, terutama saat shalat wajib, masjid-masjid besar dan megah di Dieng adalah saksi bisu, betapa ruang-ruang utama masjid adalah ruang-ruang kosong yang sepi. Karena itu terasa menjadi lebih dingin, sepi, dan nyeri.

Suasananya nyaris sama dengan ruang kosong candi-candi di Dieng. Pada bagian tengah candi-candi itu selalu ada ruang kosong. Ukurannya tak pernah luas, bahkan ada yang hanya bisa dimasuki dengan posisi duduk, tingginya tak memungkinkan kita berdiri. Biasanya ada pintu kecil di bagian depan untuk masuk. Saat pertama kali masuk akan terasa sangat gelap, karena cahaya hanya masuk dari pintu kecil itu. Dibutuhkan waktu bagi mata beradaptasi untuk bisa melihat bagian-bagian ruang kosong ini.

Ruang kosong di bagian tengah candi itu bukan hanya temaram. Juga lembab dan sangat dingin. Terasa sepi dan nyeri. Bila berada di situ sendirian, sangat terasa betapa menggetarkan kesendirian, betapa mengerikan kesepian. Sunyi memperhadapkan kita pada diri sendiri. Tak ada yang bisa diajak berbincang kecuali nurani sendiri.

Sungguh, dalam kenyerian dingin, sendiri dan gelap, Cahaya Kasih Tuhan adalah keniscayaan. Dieng bermakna tempat yang suci. Suci bisa bermakna, pikiranmu tak berisi apa pun kecuali kerinduan pada yang Illahi. Dieng adalah dataran tinggi, di ketinggian, kita bisa melihat lebih luas. Berdiri di ketinggian, sangat terasa bahwa kita hanyalah sebutir embun di semesta tak bertepi.

Boleh jadi kesadaran itulah yang memicu dan memacu orang-orang Hindu membangun candi di ketinggian Dieng, tempat yang sangat sulit dicapai, pun saat ini. Mereka ingin rasakan kehadiran yang Illahi. Di ketinggian, saat nyeri menghujam tulang dan hati menggigil dalam rindu pada Kekuatan yang Mengatur Semesta. Inilah saat yang tepat untuk melantunkan Mantra Gayatri,

OM BHUR BUWAH SWAH
TAT SAWITUR WARENYAM
BHARGO DEWASYA DHIMAHI
DHIYO YO NAH PRACODAYAT

(Ya Tuhan, Engkau penguasa alam nyata, alam gaib, alam maha gaib)
(Engkaulah satu-satunya yang patut hamba sembah)
(Engkaulah tujuan hamba dalam semadhi)
(Terangilah jiwa hamba agar hamba berada di jalan yang lurus menuju Engkau)

Manusia sejati memang hanya berkehendak untuk menuju Illahi, Pencipta dan Penguasa Semesta. Tak ada tujuan yang lebih tinggi dari itu.

Bayangkanlah saat Muhammad sepi sendiri di ketinggian bukit, di dalam gua, saat dingin gurun melinukan semua ruas tulang dan serasa menghujam persendian. Ketika tubuhnya terasa bagai dihimpit bongkahan batu besar berat. Tiba-tiba dingin, nyeri, dan rasa sakit menyatu. Ia mendengar suara,

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al ‘Alaq: 1-5).

Tampaknya di ketinggian, dalam kesepian, dalam balutan dingin dan kenyerian, sangat terasa betapa rentan dan tak berdaya manusia. Itulah saat paling tepat bagi Yang Maha Hangat datang menjamah dan menjawil kesadaran, bahwa manusia, siapa pun dia, butuh kehadiran Yang Maha Hangat dan Mengarahkan.

Namun, tak banyak manusia yang cukup kuat berada dan bertahan di ketinggian saat dingin dan sepi berubah menjadi nyeri di tulang dan sendi. Mungkin kondisi itulah yang menyebabkan ruang utama masjid besar dan megah di Dieng lebih sering kosong. Orang-orang mencari kehangatan di ruang-ruang terbuka saat menanam kentang yang harganya mahal.

Dieng tidak statis. Berada dalam dinamika perubahan terus menerus. Dari spiritualitas ke komoditas. Dulu kompleks candi-candi yang tersebar di Dieng adalah pusat kegiatan yang utama. Karena itu candi-candi dibuat dengan sangat indah. Pada masa itu pasti merupakan bagunan yang termegah.

Bahwa candi-candi itu bertahan sampai sekarang, itu pertanda candi itu dibuat dengan bahan-bahan terbaik. Sebab candi adalah tempat Yang Maha Menguasai dipuji. Sebagaimana rumah-rumah ibadah berfungsi pada masa kini. Kemegahan candi adalah pertanda bahwa pada masa itu spiritualitas berada di atas. Penentu yang mengendalikan dan mengarahkan zaman. Bukankah selain candi dan tempat-tempat yang berkaitan dengan spiritualitas, tidak kita temukan bekasnya? Itu adalah bukti bahwa pada masa itu spiritualitas adalah yang utama.

Namun sebagimana kita temukan di tempat-tempat lain di dunia ini. Simbol-simbol yang menunjukkan kekuatan spiritualitas itu semakin lama, semakin terpinggirkan. Karena manusia memilih yang lain. Biasanya sesuatu yang lebih dunia, yang dapat dinikmati kini dan di sini, bukan nanti dan di sana seperti yang banyak dijanjikan dalam lembaran-lembaran kitab suci.

Tengoklah Eropa yang peninggalan-peninggalan masa lalunya masih terjaga hingga kini. Pada Abad Pertengahan kala spiritualitas meraja, rumah ibadah adalah bangunan yang paling besar, megah dan mewah serta menempati wilayah yang luas. Semua yang berkelas dan bercita rasa tinggi ada di dalam gereja. Dalam tata kota hanya ada dua simbol yang menjadi pusat, istana raja dan gereja. Gereja pasti menempati posisi terbaik di dalam kota. Alun-alunnya saja merupakan pusat berbagai kegiatan dan tempat orang-orang berkumpul, bahkan hanya untuk mengobrol di sore hari.

Memasuki Abad Pencerahan, gereja mulai mendapat saingan. Bertumbuhan gedung-gedung megah, mewah, dan sangat besar yaitu universitas. Zaman Pencerahan menunjukkan awal pergeseran zaman. Orang-orang mulai tertarik pada rasio atau akal dan pencarian yang bersifat bebas dan terbuka. Mulai muncul sikap kritis terhadap otoritas spiritualitas yang diwakili oleh para agamawan dan gereja. Tempat berkumpul yang ramai perlahan pindah dari gereja ke universitas. Zaman Pencerahan ternyata hanyalah transisi bagi mencuatnya Zaman Moderen saat pusat kegiatan pindah lagi, dan bangunan-bangunan serta kawasan yang berkembang juga berubah. Dari universitas ke pusat-pusat ekonomi seperti perbankan, pusat perbelanjaan dan pabrik-pabrik besar, tempat orang dalam jumlah besar berkumpul. Gereja menjadi bagian dari kota tua yang dilestarikan untuk menghormati masa lalu. Universitas ada di antara kota tua dan kota baru yang ditandai oleh makin pentingnya pusat-pusat ekonomi. Agamawan semakin kurang mendapat tempat, sedangkan penguasa ekonomi, terutama para pemodal adalah pemegang kuasa. Pergilah ke Eropa, ada barapa banyak gereja baru yang dibangun? Sebagian besar gereja adalah peninggalan masa lalu saat spiritualitas ada di atas. Inilah fakta sejarah yang juga terjadi di Amerika Latin dan tempat-tempat lain.

Tampaknya, Dieng mengalami dinamika yang beda-beda tipis. Meski Dieng berada di ketinggian dan masih mengandalkan pertanian. Dieng berubah dan terus berubah. Entah kemana arahnya.

Penjajah Belanda menjadikan Dieng sebagai salah satu pusat penanaman tembakau. Ketinggian, kesuburan tanah dan hawa dingin sangat cocok untuk pengembangan tembakau terbaik. Penduduk Dieng tentulah hanya menjafi buruh. Tak mungkin bisa memiliki. Karena begitulah tata kelola di zaman penjajahan.

Selepas penjajahan, Dieng masih asyik dengan tembakau. Namun tembakau hanya bisa dipanen paling cepat setahun sekali dan membutuhkan pemeliharaan yang hati-hati. Sejak tahun tujuh puluhan, mendapatkan bibit kentang dari para petani kentang dataran tinggi Jawa Barat, Dieng mulai "mengentang". Pada awalnya memang tidak gampang penduduk berubah dari tembakau yang harganya tidak murah ke kentang. Namun, saat sejumlah petani kentang berhasil, kentang menjadi primadona baru.

Dieng seakan hanya mengenal kentang. Kemana pun mata memandang yang terlihat hanya kentang. Tak peduli berapa kemiringan tanah, kentang pasti ditanam di situ. Bahkan halaman rumah dipenuhi kentang. Hanya ada sedikit tanah tersedia buat yang lain terutama kembang kol. Padahal ada carica, pepaya yang hanya tumbuh di Dieng. Namun, kentang adalah pilihan utama. Karena kentang Dieng merupakan kentang terbaik dengan harga tinggi. Pohon-pohon besar yang akarnya berfungsi mengikat tanah dan menyerap air semakin sedikit.

Sementara itu paralon yang berfungsi mengalirkan air menjalar di semua tempat. Bahkan ada yang disambung mengikuti pola kabel listrik yaitu menggunakan besi dan berada sama tinggi dengan kabel listrik. Air sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan kentang, terutama pada musim kemarau.

Kentang menjadi pemicu dinamika perubahan di Dieng. Pada mulanya adalah peningkatan penghasilan bagi pemilik tanah yang bertani kentang. Perubahan ekonomi sangat terlihat dari dibangunnya rumah-rumah besar. Sebagai rasa syukur, masjid-masjid besar dan megah juga dibangun.

Rupanya penghasilan besar dari kentang membuat keluarga-keluarga petani kentang yang berpunya, kurang mendorong peningkatan aspirasi dan ketertarikan pada pendidikan. Justru para buruh tani yang tampak lebih serius dan fokus menyekolahkan anak-anaknya.

Para pemilik tanah dan juragan kentang lebih banyak mendorong anak-anaknya ikut mengelola pertanian kentang. Karena bisa langsung mendapatkan uang, sedangkan sekolah hanya menghabiskan duit. Bukankah anak-anak itu akhirnya menjadi petani kentang yang harganya mahal?

Kentang sungguh telah menjadi kiblat nyaris semua orang Dieng. Bila melihat tanah-tanah yang kemiringannya sangat berbahaya bagi manusia ditanami kentang, maka bisa ditegaskan makna kentang bagi orang Dieng. Jangan-jangan mimpi dan igauan tidur mereka juga berisi tentang kentang.

Kentang telah membuat banyak orang sekitar Dieng datang dan membangun rumah pada tanah-tanah yang tidak cocok untuk pemukiman. Penduduk Dieng terus bertambah. Kebanyakan mereka yang datang adalah buruh tani yang mengadu nasib di Dieng. Sementara itu para petani kaya sibuk membangun rumah bagus yang berfungsi sebagai "home stay".

Para penduduk tidak mengizinkan pembangunan hotel di Dieng, sedangkan wisatawan terus bertambah. Terutama pada awal Agustus saat diadakan upcara ritual pemotongan rambut gimbal. Itulah sebabnya semakin banyak rumah bagus yang berfungsi sebagai "home stay".

Bukan sesuatu yang mengherankan bila terjadi kesenjangan di antara penduduk Dieng. Terutama antara petani pemilik tanah dan buruh tani. Perbedaan itu sangat tampak pada rumah yang ditempati dan kendaraan yang dimiliki. Di Dieng, rumah bagus dan megah, pertokoan, dan resto semakin bertambah. Bahkan ada "water park" yang megah dengan perosotan yang tinggi sebagaimana banyak terdapat di Jabodetabek. Menjadi menarik karena air kolamnya berasal dari gunung dan panas. Tetapi gedung sekolah tidak banyak berubah sejak beberapa tahun lalu. Tidak kumuh, tetapi juga tidak terlalu bagus.

Kesenjangan tampak semakin nyata lewat berbagai bangunan itu. Seorang buruh tani berusia lima puluh tahun bertutur tentang pendapatannya dan penghasilan juragannya.

Tanah ini luasnya satu hektar, disewa juragan saya dua juta setahun. Juragan harus punya modal lima juta untuk beli bibit dan pupuk. Bayar saya dua juta untuk mencangkul tanah dan menanam kentang. Saya kerjakan dua minggu. Nanti juragan yang merawat kentang. Saat panen juragan bayar orang untuk mengambil kentang. Satu hektar ini bayarannya lima ratus ribu. Kentangnya bisa tiga setengah ton, satu kilo harganya tujuh ribu. Juragan banyak untung. Saya paling besar dapat tiga juta setengah sebulan. Juragan memiliki banyak tanah. Dia juga banyak menyewa tanah.

Buruh tani yang memiliki tiga anak wanita dan dua cucu ini menambahkan. Anak-anaknya tamat SD, masuk pesantren dan menikah. Sekarang membantu suaminya yang juga buruh tani. Buruh tani semakin lama semakin ramai. Mereka datang dari dataran rendah. Jika panen lagi banyak, ada tukang pikul yang membawa kentang dari ladang ke truk. Upahnya tergantung jarak dan tingkat kesulitan. Ladang-ladang di bawah, di ketinggian dan kemiringan bayarannya lebih mahal.

Sebagai penduduk asli dataran tinggi Dieng, buruh tani ini merasa sangat khawatir. Ia ambil tanah dengan tangannya dan membauinya. Ia memintaku melakukan hal yang sama. Sangat terasa bau kimia pada tanah itu. Ia menjelaskan bahwa tanah Dieng sangat subur. Sebenarnya tidak perlu pupuk. Tetapi para petani ingin penghasilan yang terus berlebih. Akhirnya menggunakan bahan-bahan kimia secara berlebihan.

Tanah Dieng sudah sangat rusak, tegasnya. Ia memperlihatkan sudah hampir dua puluh meter ia mencangkul, hanya ada dua cacing tanah yang ia ketemukan. Cacing tanah yang bisa menyuburkan tanah dan tanaman sudah langka di Dieng, katanya. Ia bekerja seharian ditemani pemutar musik kecil, lagunya Dangdut Pantura.

Seorang buruh tani yang berusia lebih muda yaitu tiga puluhan tahun memberi penjelasan tambahan tentang kebiasaan petani kentang menggunakan bahan kimia. Sebelum kentang ditanam direndam dulu dengan bahan kimia tertentu. Tanah diberi pupuk secara berkala. Ada lagi pembasmi hama. Tanah Dieng benar-benar dijejali bahan kimia secara berlebihan.

Ia meyakini banyak sekali jenis dan merek bahan kimia yang digunakan petani. Saat ke tempat sampah, aku temukan puluhan merek bahan kimia yang biasa digunakan petani. Kala mengamati pembuangan air, sangat terasa bau bahan kimia. Buruh tani yang baru memiliki dua anak balita ini menjelaskan sudah sangat susah mencari belalang dan burung di Dieng. Belalang mati karena tidak kuat dengan penggunaan bahan-bahan kimia. Karena belalang dan banyak binatang kecil mati, maka burung pun tak bisa bertahan hidup di Dieng. Kicau burung hanya dapat didengarkan di Telaga Warna dan di rumah orang yang memelihara burung, urainya. Ia sangat prihatin dengan kondisi Dieng saat ini. Petani kentang tidak bisa diatur, tegasnya. Ucapan yang sama juga diungkapkan buruh tani yang berusia lima puluh tahun.

Seorang petani kentang yang memiliki tanah luas memberi penjelasan yang berbeda soal penggunaan pupuk yang berlebihan. Kentang Dieng adalah kentang terbaik. Itulah sebabnya harganya mahal. Kita harus menjaga kualitas kentang agar tetap bisa laku. Sekarang ini banyak kentang dari luar negeri terutama Cina masuk ke Indonesia. Harganya lebih murah. Pupuk menyelamatkan petani karena bisa membantu menghasilkan kentang terbaik. Persaingan dengan petani kentang dari tempat lain sekarang ini juga sangat ketat. Kentang tidak akan bisa bagus dan besar jika tidak pakai pupuk, tegasnya. Petani sering rugi bila kentang kena hama, kemarau atau hujan terlalu panjang. Pupuk kimia sangat berguna bagi petani untuk menjaga kualitas dan penghasilan yang tinggi. Dia enggan memakai pupuk kandang karena tidak praktis dan bau busuknya sangat mengganggu.

Dia percaya tanah memang berubah karena penggunaan bahan kimia yang berlebihan. Namun ia juga yakin bahwa tanah akan tetap subur dan tidak rusak jika menggunakan pupuk atau baham kimia. Karena hujan dan panas matahari membuat tanah tetap terjaga dan selalu kembali seperti semula. Petani ini tampaknya sama sekali tidak perduli akibat jangka panjang penggunaan bahan kimia bagi Dieng. Baginya yang penting adalah kentang bermutu dan laku. Jangan sampai kentang rusak dan tidak laku. Bila kentang tidak laku, bisa bangkrut.

Seorang kakek berusia lebih dari tujuh puluh tahun yang pernah merasakan menjadi petani tembakau dan kentang sangat prihatin dengan kondisi Dieng. Ia tidak akan pernah melupakan longsor yang terjadi tahun 1955. Lebih dari tiga ratus orang tewas di Dukuh Legetan karena longsor.

Kakek tua ini sangat yakin manusialah yang menjadi penyebab rusaknya alam. Ia juga percaya bencana datang karena manusia tidak bersyukur dan melakukan maksiat.

Ia menjelaskan bahwa penduduk dukuh yang terkena longsor itu hidup makmur karena pertanian. Mereka berlomba-lomba memamerkan kekayaan dan suka berjudi serta melakukan maksiat, mabuk sambil menikmati tari Lengger yang bisa saweran dan tidak jarang dilanjutkan dengan perzinahan. Kakek tua itu sangat yakin kerusakan alam karena perilaku buruk manusia dan sikap tidak bersyukur serta kemaksiatan merupakan penyebab terjadinya longsor yang mengerikan itu. Ia yakin, Dieng sekarang sudah kembali seperti Dukuh Legetan yang dihancurkan longsor.

Seorang pendudduk asli Dieng yang pernah kuliah di Jogja dan kini memiliki usaha wisata menjelaskan bahwa Dieng merupakan langganan lonsor. Seingatnya longsor yang tergolong besar sering terjadi. Longsor kecil lebih sering terjadi. Setiap musim hujan pasti terjadi longsor, tegasnya.

Ia menjelaskan pada 2011 Desa Tieng terkena longsor. Setiap tahun desa itu terkena longsor. Seingatnya ada tiga orang tewas karena tergerus banjir lumpur. Desa itu luasnya sekitar dua ratus hektar. Sangat sulit meminta penduduk pindah, karena sebagian besar tanah adalah ladang kentang. Meskipun desa itu rawan longsor, penduduk tetap bertahan.

Kemudian pada 2014 saat musim hujan, ada lebih dari seratus titik yang terkena longsor. Banyak desa mengalami longsor yang parah. Paling akhir bulan Maret lalu juga terjadi longsor. Jalan menuju Dieng terkena longsor. Keluar masuk Dieng menjadi sulit dan terpaksa buka tutup. Begitu seriusnya sampai Gubernur Jawa Tengah turun tangan langsung untuk memastikan jalan yang terkena longsor segera diperbaiki karena jalan itu merupakan urat nadi kehidupan masyarakat Dieng.

Setiap kali hujan deras, kita selalu was-was. Longsor pasti terjadi, paparnya. Apalagi bila hujan turun terus menerus. Banyak lokasi di Dieng rawan longsor. Sekarang semakin banyak pemukiman di bangun di tempat yang tidak cocok untuk pemukiman. Penduduk Dieng kini semakin banyak, ujarnya.

Seorang lelaki yang berusia empat puluh tahun yang prihatin dan khawatir bercerita. Dulu ia juga seperti petani yang lain, menggunakan pupuk kimia dan bahan-bahan kimia lain untuk mendapatkan kentang terbaik dalam jumlah banyak. Ia mengurangi bahan-bahan kimia itu karena merasa terganggu. Pada mulanya tangan dan tubuhnya gatal, kemudian ia mulai merasa pernafasannya terganggu. Untuk memastikan kentang yang ditanam bermutu baik, ia sendiri yang memelihara kentang-kentang itu. Seperti kebanyakan petani, tidak semua pekerjaan diupahkan pada buruh tani. Saat kentang sudah ditanam oleh buruh tani, ia sendiri yang mengurusi kentang dibantu istrinya.

Akhirnya ia memutuskan mengurangi menggunakan bahan-bahan kimia dan tidak hanya bergantung pada kentang. Ia belajar mengolah carica. Ia menanam lebih banyak carita di tanahnya. Kini ia mengelola industri rumahan. Komoditi utamanya adalah manisan carica. Ia juga mengolah kentang dan jamur. Di Dieng dia memiliki dua toko oleh-oleh dengan andalan carica dan kentang olahan. Dia memasok carica ke banyak tempat. Ia jelaskan kini semakin banyak penduduk Dieng terlibat pada industri perumaham mengolah carica, kentang, dan jamur.

Meski memiliki rumah di Dieng, namun sejak dua tahun lalu ia membeli rumah di Kota Wonosobo. Anak dan istrinya tinggal di rumah baru itu. Ia pergi-pulang setiap hari. Ia membeli rumah baru karena khawatir dengan longsor yang semakin sering terjadi, juga agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan terbaik. Di Dieng belum ada sekolah bagus, tuturnya.

Tampaknya kekhawatiran dan keprihatinan terhadap kondisi Dieng dirasakan oleh banyak penduduk dari berbagai tingkat usia. Ada kegembiraan karena penduduk Dieng semakin sejahtera. Baik karena pertanian kentang, maupun disebabkan oleh semakin banyaknya wisatawan berkunjung ke Dieng. Namun, kekhawatiran semakin meningkat karena pertanian kentang telah mengubah Dieng menjadi hamparan tanah terbuka dengan pohon-pohon besar yang semakin menghilang dan bahaya longsor yang terus mengancam.

Seorang putra asli Dieng yang baru saja jadi sarjana dan memiliki usaha jasa pariwisata memiliki pandangan yang agak ekstrim. Ia sangat kecewa dengan kondisi Dieng saat ini. Menurutnya kehancuran Dieng merupakan akibat langsung dari masuknya kapitalis kota yang berkolaborasi dengan petani-petani kaya di Dieng untuk mengeksploitasi Dieng hanya demi keuntungan. Ia percaya ada mafia kentang yang melibatkan petani kaya, kapitalis kota dan oknum pejabat. Mereka inilah yang mengatur distribusi pupuk dan menguasai hasil pertanian.

Ia menyebut sejumlah petani kaya yang menguasai tanah sangat luas di Dieng, dan menguasai bisnis kentang. Menariknya, semua petani kaya itu sibuk membangun rumah baru untuk " home stay" tetapi tidak mau lagi tinggal di Dieng. Agak ketus ia katakan bahwa petani-petani kaya itu takut tinggal di Dieng karena bisa terkena longsor yang setiap saat bisa terjadi. Mereka itu rampok, tegasnya. Mengeksploitasi Dieng dan tidak mau menerima akibat buruknya.

Ia sangat berharap pertanian milik petani-petani kaya itu terkena longsor habis. Ia percaya hanya bencana besar yang bisa menyadarkan masyarakat Dieng bahwa apa yang mereka kerjakan saat ini telah merusak dan menghancurkan Dieng. Longsor besar hanya menunggu waktu, pasti terjadi, tegasnya.

Dieng memang diambang bahaya. Eksploitasi besar-besaran yang telah berlangsung lama pastilah akan merusak dan menghancurkan tanah Dieng. Semakin berkurangnya pohon-pohon besar yang dihabisi untuk menyediakan lahan bagi kentang pasti membawa akibat yang buruk dimasa depan.

Mungkin anak muda itu benar. Sudah terbukti sejak dulu kala bagaimana bencana besar membangunkan kesadaran manusia tentang kesalahannya. Meski kesadaran itu biasanya datang terlambat dan membawa korban dalam jumlah besar.

Dieng adalah sebuah potret tentang kerakusan manusia untuk mendapatkan keuntungan besar, tetapi mengabaikan keselamatan. Kebanyakan manusia memang lebih memilih keuntungan dan kenikmatan langsung yang bisa dinikmati kini dan di sini. Siapa pun yang mengingatkan bahwa tindakan mereka itu salah, bukan saja diejek dan dikucilkan, bahkan dibunuh.

Dari kitab suci dan tulisan-tulisan kuno kita bisa membaca cerita yang sama. Bagaimana kerakusan manusia dan kecenderungannya pada kenikmatan duniawi jangka pendek membuatnya alpa akan keselamatan jangka panjang.

SUNGGUH,  MANUSIALAH  AKTOR UTAMA YANG MENYEBABKAN  KERUSAKAN DI BUMI INI.

Selasa, 26 April 2016

CANDI DIENG, PRAMBANAN, DAN GUA PINDUL

Candi-candi Dieng dibangun di dataran tinggi. Oleh sebab itu tidak perlu besar dan tinggi. Karena relatif kecil, maka ruang kosong di tengah candi juga kecil. Pintunya pun kecil. Seringkali kita harus menunduk jika hendak masuk ke dalam melalui satu-satunya pintu kecil itu. Akibatnya cahaya yang masuk pun seadanya.

Tak ada patung di tengah ruang kosong. Paling-paling ada tempat untuk menaruh sesaji. Pada umumnya ruang kosong itu betul-betul kosong. Karena candi dibangun sepenuhnya berbahan batu berukuran besar, ruang kosong itu sungguh lembab dan gelap di ketinggian Dieng yang sangat dingin. Jika tidak mengatur nafas dengan baik, berada di dalamnya bisa membuat ngap atau sesak nafas.

Candi-candi itu dibagun untuk tempat berdoa dan melakukan upacara keagaman. Ruang kosong di tengah candi umumnya digunakan untuk bersamadi. Saat manusia memilih untuk hanya sendiri. Menikmati dan menghayati sepi. Menarik jarak, bukan saja dari dunia luar, pun  dari diri sendiri. Saat yang tepat untuk bercermin pada hati sendiri.

Inilah hakikat tapa samadi. Saat ada keberanian untuk melakukan telaah diri, mengambil jarak bahkan dari diri sendiri untuk menggalitemukan kemurnian suara nurani. Secara teknis, biasanya dilakukan dengan mengatur nafas, dan secara perlahan mengosongkan fikiran.

Mengapa harus mengosongkan fikiran? Sebab sepanjang perjalan hidup dari detik ke detik, apa saja masuk ke dalam fikiran terutama melalui indra, dan imajinasi. Setiap saat, bahkan kala lelap tidur, mata terpejam dan nyaris seluruh tubuh istirah, otak tempat fikiran diolah dan berkembang, ternyata tak pernah istirah. Seringkali tidur dirasuki, diintervensi mimpi-mimpi yang penuh teka-teki dan misteri.

Itulah sebabnya fikiran mesti dikosongkan agar ada tempat untuk kebenaran yang seringkali ditenggelamkan oleh fikiran negatif, bias pribadi, prasangka buruk, kebencian dan kedengkian, harapan kosong,  keinginan-keinginan rendah kebertubuhan dan duniawi.

Dalam ruang kosong candi, manusia tapa samadi untuk kosongkan fikiran, menggalitemukan kebenaran hakiki, dalam relung sunyi penuh ketenteraman. Menanggalkan ego, menjadi bagian tak terpisahkan dari semesta raya. Om Santi, Santi, Santi, Om.

Candi-candi Prambanan tinggi dan besar. Ruang kosong di bagian tengah candi berisi patung seperti Brahma yang ukurannya sangat besar, lebih besar dari manusia. Pintu menuju ruang kosong sangat besar sehingga cahaya matahari atau bulan bisa menerobos dengan bebas menerangi ruang kosong itu.

Karena ruang kosong itu besar dan atapnya sangat tinggi dengan patung yang sangat besar, sangat terasa betapa kita menjadi kecil bila berdiri di dalamnya. Boleh jadi salah satu tujuan membuat candi itu tinggi besar dengan ruang kosong yang besar adalah untuk mengingatkan manusia, betapa kecil dirinya dihadapan Yang Maha Besar.

Kesadaran itu tentu tidak nongol begitu saja secara otomatis. Manusia harus bersedia untuk duduk berkonsentrasi hingga ia merasa bahwa dirinya hanyalah sebutir debu yang melayang dalam tiupan angin kehidupan. Ia pejamkan mata, mendisiplinkan fikiran dan merasakan Yang Maha Memberi Kehidupan, ada bersamanya. Apalah makna manusia tanpa merasakan bahwa Yang Maha Baik adalah Pemberi Arah bagi hidupnya. OM SWASTYASTU.

Gua Pindul terletak di Gunung Kidul Jogjakarta. Gua sepanjang lebih kurang tiga ratus meter yang dilintasi sungai di bawahnya. Gua indah karena pahatan alam abad demi abad. Di bagian atas gua bergantungan batu silaktit dengan aneka bentuk yang unik, sementara dari dalam sungai nyembul batu silaknit. Semuanya merupakan proses alamiah yang tak pernah dicampuri tangan-tangan manusia yang lemah.

Alam mampu memperindah diri sendiri melalui proses yang melibatkan suhu, cuaca, dan resapan air. Gua ini pastilah gulita buta. Cahaya hanya bisa masuk dari pintu keluar dan masuk, serta sedikit lubang pada bagian atas pintu keluar. Sungai yang mengalir di bawah gua ini tidak lurus, tetapi berkelak-kelok. Banyak batu aneka bentuk yang menggantung rendah. Bila tak ada pemandu dan senter pasti membentur kepala. Di bagian tengah, sungai menyempit, tersisa sekitar lima puluh senti. Ada batu-batu tajam di kedua tepiannya. Sungguh perjalanan yang penuh resiko.

Dulu gua yang indah dan mengerikan ini adalah tempat kum-kum yaitu tapa samadi dengan cara berendam di sungai. Pastilah sangat gelap, amat dingin, meletihkan, dan mengerikan. Bisa dibayangkan betapa menyiksa. Dalam gulita buta malam, tubuh harus bertahan dalam air yang terus mengalir dan semakin dingin. Tubuh menjadi kaku dan terus melemah. Kehilangan konsentrasi sekejap saja bisa sangat berbahaya dan berisiko.

Mengapa harus lakukan tapa samadi dengan berendam di kedalaman sungai, hanya tinggal kepala di atas air? Sejak zaman kuno, setidaknya sebelum Socrates diyakini bahwa tubuh dan kebertubuhan manusia adalah tanda kejatuhan. Ruh manusia yang suci, terkotori oleh keberadaan tubuh.

Tubuh yang berakar material keduniawian, darah, daging, otot dan syaraf, terus saja menjerumuskan manusia pada tarikan dan godaan syaraf dan syahwat. Karena itulah, tubuh harus ditundukkan melalui siksaan dan penderitaan agar bisa dikendalikan oleh ruh.

Kebertubuhan dilampaui dengan cara membuatnya tak berdaya dan tak menentukan, dihempaskan pada batas kelemahannya. Dengan demikian ruh memiliki kesempatan untuk menaik meninggi, mengalami pencerahan, terbuka bagi hadirnya cahaya terang kebenaran. Cahaya memang dibutuhkan dalam malam buta gulita.

Tak mengherankan bila dalam banyak tradisi spiritual, "menyiksa tubuh", membuat tubuh merasakan derita menjadi utama dan penting. Puasa dalam banyak agama juga bermaksud mengendalikan tubuh, menundukkannya pada ruh. Karena itu jalan spiritualitas yang sangat beragam cara dan metodenya melahirkan sejumlah tradisi dan menyediakan sejumlah wahana seperti candi dan gua.

Candi-candi Dieng, Prambanan, dan Gua Pindul pada mulanya adalah wahana bagi spiritualitas. Orang datang ke situ dengan niat untuk menjadi lebih akrab dengan Sumber Kehidupan, mendapatkan karuniaNya untuk jalani hidup penuh makna dalam ikatan kuat dengan Sang Maha Kasih. Menghayati manunggaling kawulo Gusti.

Kini semua tempat-tempat itu menjadi lebih ramai dan heboh. Tak ada lagi ketenangan dan kesepian yang mampu membantu jernihkan nurani. Setiap hari, terutama pada akhir pekan dan liburan, banyak orang datang dengan niat yang sama sekali berbeda.

Semua tempat itu adalah tujuan wisata. Tempat orang berlibur, habiskan waktu dan duit untuk mencari kesenangan dan pengalaman baru yang diramaikan oleh selfi dan groufi. Candi dan gua jadi sekadar objek. Para wisatawan yang datang tak lagi peduli pada spiritualitas. Mereka berlomba bergaya dan menyusuri segala sisi tempat itu sebagai ungkapan ingin tahu dan rasa penasaran.

Candi-candi Dieng, Prambanan, dan Gua Pindul tak lebih hanya menjadi latar belakang bagi untuk berfoto ria. Tempat-tempat itu berubah menjadi mesin uang bagi penduduk sekitar dan para pengusaha pariwisata. Menjadi sekadar tempat usaha, wahana bagi transaksi.

Kini bukanlah tindakan yang kurang sopan dan luar biasa menjadikan tempat ibadah, rumah suci menjadi objek parawisata. Gereja-gereja tua di Eropa tidak sedikit yang dikunjungi banyak turis pada akhir pekan. Bukan disambangi oleh para jamaah yang seharusnya beribadah. Di berbagai tempat di dunia ini, di semua benua dan banyak negara, rumah ibadah telah lama masuk dalam bagian dari program kunjungan wisata.

Sebagai contoh, Lombok kini semakin diarahkan menjadi tujuan pariwisata religius atau spiritual. Apa perujudannya? Para turis diarahkan untuk mengunjungi masjid, pesantren dan tempat-tempat yang dikategorikan sebagai wahana spiritual.

Tampaknya perubahan ini merupakan keniscayaan dalam sebuah dunia yang menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan yang harus dikejardapatkan. Bahkan wisata spiritual telah menjadi bisnis yang semakin menggairahkan dan melibatkan lebih banyak orang.

Bagi sebagian orang, kondisi ini mungkin dirasakan sebagai ketragisan yang melukai nurani. Namun, bagi sebagian orang yang lain dianggap sebagai kenormalan bahkan keharusan. Cermatilah kecenderungan yang semakin mengemuka kini. Di tengah banyak orang miskin tak mampu sekolahkan anaknya, bahkan tak bisa menyediakan makanan layak bagi dirinya sendiri, ribuan orang pergi berulang-ulang umroh ke Mekkah. Tidak sedikit rumah ibadah dibangun dengan kemewahmegahan yang sangat berlebih di tengah masyarakat yang merasakan kemiskinan akut. Apakah ini pantas? Apakah ini benar, baik, dan layak?

Apakah makna spiritualitas memang telah berubah bergeser? Apakah spiritualitas memang harus terus berubah merespon tuntutan dan tantangan zaman? Apakah spiritualitas sangat tergantung pada cara fikir individu dan masyarakat yang terus berubah dari waktu ke waktu?

Di Barat dan banyak tempat lain misalnya, sudah sejak lama muncul dan menguat kesadaran bahwa spiritualitas dihayati sebagai urusan dan pengalaman pribadi. Siapa pun, bahkan negara, tak boleh ikut campur menentukan. Sebab hakikinya spiritualitas adalah soal keyakinan yang hanya diketahui dan dirasakan oleh si individu. Spiritualitas dimaknai sebagai penghayatan akan keberadaan dan relasi serta interaksi si individu dengan Yang Maha Menentukan. Oleh sebab itu sama sekali tidak dapat dimasuki dan dicampuri oleh siapa pun.

Dalam cara fikir ini, semua wahana spiritual yaitu rumah ibadah, apapun bentuk dan namanya sudah dianggap menjadi tak lagi penting. Mengapa bisa berpendapat seperti itu? Karena diyakini bahwa Sang Maha Ada tak terikat dan tunduk pada ruang-waktu. Artinya, wahana spiritualitas dalam ujud rumah ibadah bukanlah satu-satunya tempat dan pertanda keberadaan Yang Maha Melihat dan Mendengar. Ia ada dimana saja, dan kapan saja. Juga di antara orang-orang miskin yang menderita, bersama dan menyaksikan perilaku para koruptor.

Sebagai akibatnya wahana spiritualitas bukanlah tanda dan ukuran satu-satunya untuk menentukan penghayatan spiritualitas manusia. Wahana spiritualitas lebih dihayati sebagai salah satu perujudan dimensi sosial manusia. Karena itu mengubah wahana spiritualitas sebagai objek wisata, sejatinya tidak menunjukkan bahwa nilai spiritualitas itu terdegradasi atau direndahkan.

Jangan dikira keyakinan seperti ini adalah pandangan yang baru muncul dalam zaman moderen. Jalaludin Rumi (1207-1273), salah seorang sufi penyair Islam yang terkenal, yang telah menulis jauh sebelum zaman moderen,  menuangkan pandangan ini dalam puisinya yang banyak dibaca orang sejak dulu,

DIA TIDAK DI TEMPAT LAIN

Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.
Dia tidak di Salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
dan ke Kandahar Aku memandang.
Dia tidak di dataran tinggi
maupun dataran rendah. Dengan tegas,
aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).
Di sana cuma ada tempat tinggal
(legenda) burung Anqa.
Aku pergi ke Ka’bah di Mekkah.
Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosuf
Dia ada di luar jangkauan Avicenna …
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.
Dia tidak di tempat lain.

Ungkapan Rumi di atas menegaskan bahwa spiritualitas memang tidak bisa dibatasi oleh tempat dan sistem ajaran. Spiritualitas sejatinya berpusat dan berkembang dalam hati.

SPIRITUALITAS ADALAH DENYUT HATI YANG MEWUJUD JADI TINDAKAN, BUKAN HANYA SOAL TEMPAT DAN KONDISI.

Senin, 18 April 2016

NEUROSAINS DAN PENDIDIKAN (3)

(Doa bagi Emak ku atas cintanya yang luar biasa)

Manusia adalah makhluk multidimensi. Hanya dengan memahami dan menghayati kemultidimensian itu manusia bisa ditumbuhmekarkan sebagai manusia utuh.

Bila keutuhan manusia dingkari, dapat dipastikan akan terjadi anomali, manusia akan kehilangan jati diri, merana dalam sepi dan frustrasi, bisa berujung pada bunuh diri.

Anomali itulah yang terjadi dalam dunia moderen. Modernitas dibangun atas dasar kepercayaan yang sangat berlebihan pada kekuatan akal atau rasio. Karena itu zaman moderen sering disebut abad rasio. Di Eropa, mengatasi abad Pertengahan yang biasa disebut sebagai abad Kegelapan, melewati abad Pencerahan, muncullah fajar Modernitas.

Modernitas menolak keberadaan semua otoritas di luar rasio sebagai cara untuk melawan pemikiran dan keyakinan abad Pertengahan yang membuat rasio sama sekali tak berdaya dan tunduk dihadapan otoritas agama. Karena itulah modernitas lebih memercayai sains atau ilmu ketimbang iman. Sebagai akibatnya tak ada tempat bagi spiritualitas dalam modernitas.

Kondisi itulah yang menjadi akar  penderitaan mendalam manusia dan masyarakat moderen yang kehilangan jati diri dan menjadi menusia yang kesepian di tengah kemewahan materi duniawi. Manusia moderen yang sangat percaya pada sains tak memiliki kemampuan merasakan indahnya spiritualitas, menjadi manusia yang kering kerontang jiwanya. Menjadi pengembara di padang gersang jiwa, penghuni hutan beton metropolis, dan budak teknologi.

Dalam kondisi seperti inilah menjadi sangat menarik tawaran Barbara K. Given dalam bukunya Brain-Based Teaching. Given menegaskan bahwa manusia unggul bukanlah manusia yang hanya memiliki  kecakapan berpikir. Manusia unggul adalah manusia yang memiliki
kebugaran fisik, kecakapan berpikir, kecakapan emosi, kedewasaan sosial, dan kematangan spiritual.

Given menekankan pentingnya pendidikan dan pembelajaran menumbuhmekarkan kelima dimensi itu sekaligus dalam praktik dan proses pembelajaran sesuai dengan perkembangan usia pembelajar. Apabila yang mendapat perhatian hanya dimensi tertentu seperti kemampuan berpikir seperti yang dikembangkan selama ini, jangan heran bila hasilnya adalah siswa doyan tawuran, terus bertambahnya pecandu narkoba, meningkatnya pelaku pelacuran di kalangan remaja, dan berbagai perlikau anomali lainnya.

Karena kemampuan berpikir yang tidak dilengkapi dengan kecakapan emosi, dan kematangan spiritual hanya akan menjadi kemampuan teknis yang bersifat instrumental. Sehingga hanya akan digunakan untuk mencari pembenaran atas berbagai tindakan yang tidak baik dan tidak benar. Sebab kondisi itu seperti pisau tajam yang dihunuskan oleh begal jalanan. Ketajaman yang tidak diarahkan dan dikontrol oleh nurani.

Sebenarnya pendidikan kita telah berisi semua dimensi itu. Namun dalam praktik pembelajaran bahkan pada pelajaran agama, fokusnya berisi penjelasan agama yang lebih banyak bersifat kognitif intelektual. Bukan pada pengamalan praktis, dan penghayatan agama dalam kehidupan nyata, serta bagaimana difungsikan sebagai pedoman kehidupan yang mencerahkan.

Untuk pembelajar Islam misalnya, pastilah baik dan berguna bila pembelajar tahu dah hafal nama-nama Nabi dan sejarah hidupnya. Tetapi apakah menghafal nama-nama Nabi dan tahu sejarah hidupnya saja sudah cukup?

Praktik pendidikan kita hingga kini masih cenederung seperti itu. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila para pembelajar yang nilai agamanya paling baik, boleh jadi merupakan pembelajar yang paling kurang ajar, tidak disiplin dan pembuat masalah. Sebab ia hafal banyak hal tentang agama. Namun, jangan tanyakan soal penghayatannya.

Ini ada kaitannya dengan fungsi-fungsi khusus bagian otak. Otak dan tubuh secara keseluruhan merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Otak bisa kendalikan tubuh, dan tubuh memberi masukan pada otak. Interaksi otak-tubuh yang menjadi kontroversi dalam jangka panjang pada masa lalu, kini semakin terjelaskan.

Dalam Biopsychology, John P. J. Pinel secara sangat rinci menjelaskan hubungan otak-tubuh bagian perbagian. Bagaimana mekanisme mata bekerja dan berfungsi, bagian mana saja dari otak yang aktif bila mata berfungsi. Terbukti, meskipun ada bagian yang sangat aktif, namun bukan hanya bagian itu yang membuat mata berfungsi normal. Otak sengguh bekerja secara holistik integratif.

Dengan bantuan alat pemindai otak yang canggih dapat dilihat sebuah aktivitas seperti melihat menjadikan bagian-bagian otak yang berkaitan langsung dengan melihat mengalami aktivitas tinggi yang bisa ditandai dengan warna merah dan kuning, dan yang ikut aktif namun dengan aktivitas sedang diberi warna hijau, bagian pendukung lain yang kurang aktif berwarna biru. 

Dengan cara ini jelas terlihat bahwa setiap aktivitas yang berbeda seperti berfikir, mendengar, mengingat, bergerak menunjukkan komposisi warna merah, kuning, hijau, dan biru yang berbeda-beda. Cara pembuktian seperti ini memberi kejelasan dan kepastian tentang cara kerja otak. Namun sekadar pemindaian belumlah menunjukkan kejelasan dan kelengkapan yang sangat rinci tentang cara kerja otak secara komprehensif.

Karena itulah cara kerja Sperry yang merumuskan secara lebih lengkap fungsi-fungsi khusus belahan otak dengan melakukan pemeriksaan terhadap otak banyak orang dan melakukan serangkaian eskperimen memberikan kepastian dan kejelasan sangat rinci. Apalagi diperkaya dengan pemindaian.

Semua cara kerja ini membuktikan bahwa interaksi otak-tubuh bersifat integral dan fundamental. Oleh karena itu dalam tumbuh kembang anak harus diusahakan kesempatan yang memungkinkan memekarkan semua dimensi kemanusiaannya.

Toshinori Kato dalam Otak Ideal: Makin Berumur, Makin Brilian (2016) menegaskan bahwa otak terdiri dari banyak zona. Ia menulis, secara garis besar, otak terbagi menjadi otak kiri dan kanan. Otak kiri dan kanan masing-masing memiliki 60 zona otak.

Selanjutnya Toshiro membagi 120 zona otak menjadi 8 jenis yaitu zona otak berpikir, emosi/perasaan, komunikasi, pemahaman, motorik, pendengaran, penglihatan, dan ingatan. Buku yang ditulis Toshiro berisi latihan untuk kedelapan zona tersebut.

Zona-zona itu memang harus dirangsang dan dilatih. Bahkan rangsangan harus diberikan sejak bayi dalam kandungan. Jika tidak anak akan menghadapi banyak masalah.

Sudah terbukti dari banyak kasus, anak-anak yang sedang tumbuh kembang jika tidak mendapat kesempatan yang cukup untuk belajar bicara atau berbincang secara normal, maka bagian otaknya yang terkait dengan kemampuan berbicara tidak tumbuh normal. Dibutuhkan upaya sangat keras untuk membuatnya memiliki kemampuan berbicara  normal. Begitu juga dengan kemampuan melihat, mendengar dan merasa.

Persoalan menjadi sangat rumit bila terkait dengan emosi. Anak-anak yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengelola emosinya, biasanya tumbuh menjadi manusia yang sangat tidak mampu kendalikan emosinya. Sebab sistem limbik yang merupakan otak emosi tidak terlatih untuk memilah, memilih dan mengolah emosi.

Tentu saja bila ada bagian otak yang tidak berkembang dengan baik, pastilah akan membawa pengaruh bagi bagian otak lain. Dibutuhkan usaha keras berjangka panjang untuk melatih bagian-bagian otak yang kurang sempurna perkembangannya untuk mencapai tingkat kenormalan. Bahkan bagian otak yang mengalami kerusakan permanen tidak dapat dikembalikan menjadi normal.

Namun karena sifat plastisitas otak, dengan latihan yang sistematis, terstruktur, dan intens, bagian otak yang lain bisa dilatih untuk menggantikan fungsi otak yang rusak tersebut.

Konsekuensinya melalui pengasuhan dalam keluarga, pendidikan dan kehidupan masyarakat, anak-anak kita harus mendapat kesempatan untuk sekaligus menumbuhmekarkan kebugaran fisik, kecakapan berpikir, kecakapan emosi, kedewasaan sosial, dan kematangan spiritual. Untuk itu menjadi kewajiban bagi keluarga, masyarakat, pemerintah dan negara untuk mengembangkan pola asuh dan pendidikan yang memastikan keseluruhan kecakapan itu berkembang dengan baik.

Problema pokok kita yang kini tampaknya semakin merumit adalah terjadinya perubahan-perubahan mendasar dalam tata kelola keluarga dan model-model komunikasi dan interaksi. Artinya aturan dan ikatan-ikatan keluarga tradisional telah sangat berubah. Perubahan-perubahan ini sangat memengaruhi pola asuh dalam keluarga. Antara lain, perubahan inilah yang membuat generasi muda menjadi sangat berbeda dengan kita. Seringkali kita sulit bahkan tidak memahami keputusan-keputusan dan tindakan mereka.

Bersamaan dengan itu masyarakat kita juga berubah dengan sangat cepat. Pengaruh penggunaan teknologi komunikasi dan semakin luasnya ruang kebebasan, serta semakin demokratisnya kehidupan melahirkan pola-pola baru interaksi, dan pergaulan. Akibatnya  melahirkan gaya hidup yang sangat berbeda dibandingkan saat kita remaja dulu. Sebagai konsekuensinya reproduksi kultural sebagai cara masyarakat ikut mengasuh anak-anak kita menjadi berbeda sama sekali.

Pertanyaannya adalah, di tengah perubahan-perubahan pola asuh dalam keluarga dan masyarakat, apa yang terjadi dengan lembaga pendidikan formal kita? Apakah juga berubah ke arah yang semakin baik, mampu merespon dan mengantisipasi atau menjadi semakin tertinggal?

Pertanyaan ini penting dikemukakan karena tumbuh kembang generasi muda tidak hanya ditentukan oleh lembaga formal pendidikan. Dalam masyarakat terbuka dan demokratis, masyarakatlah yang paling memberi corak pada tumbuh kembang generasi muda.

Bisa dibayangkan betapa sulitnya menumbuhmekarkan berbagai keterampilan manusia unggul jika terjadi kondisi yang sangat bertentangan antara apa yang disemai dalam lembaga pendidikan dengan kenyataan-kenyataan yang berkembang dalam masyarakat.

Dalam kondisi seperti inilah kecakapan emosi, kedewasaan sosial, dan kematangan spiritual lebih penting dan menentukan tinimbang kecerdasan berpikir. Maknanya keluarga dan lembaga pendidikan memiliki kewajiban utama untuk memekarkan semua kecakapan tersebut. Karena agak sulit mengharapkan masyarakat secara sadar mengembangkannya.

Pastilah tidak mudah bagi orang tua untuk menumbuhmekarkannya. Sebab tidak sedikit orang tua, bukan hanya di perkotaan, juga di desa yang kekurangan waktu untuk berkumpul dan berinteraksi dengan anak-anak. Penyebab utamanya adalah problema ekonomi. Dibutuhkan waktu lebih banyak untuk mendapatkan rezeki bagi kesejahteraan keluarga dibanding masa lalu.

Perekonomian negara kita belum juga menunjukkan tanda-tanda kestabilan yang memungkinkan meningkatnya kesejahteraan masyarakat secara umum. Biaya hidup semakin mahal. Konsekuensinya waktu bagi orang tua untuk mengumpulkan uang untuk keperlian hidup seluruh keluarga sangat panjang. Orang tua lebih lama berada di luar rumah. Dalam banyak keluarga, bahkan ayah dan ibu bekerja dan meninggalkan anak-anak dalam pengasuhan pembantu.

Ini situasi dilematis bagi banyak orang tua. Bila mengurangi waktu bekerja agar bisa berkumpul dengan anak-anak, penghasilan akan menurun dan mengancam kesejahteraan keluarga, terutama anak-anak. Sungguh pilihan yang tidak mudah.

Padahal menumbuhkan kecakapan emosi, kedewasaan sosial dan kematangan spiritual bukanlah pekerjaan gampang, dan tidak dapat dilakukan secara instan. Butuh perhatian, kasih sayang, kebersamaan dalam kehangatan keluarga, mengatasi persoalan keluarga bersama-sama, memberi kesempatan pada anak-anak untuk mengalami, menghadapi kenyataan hidup yang tidak selalu manis dan menyenangkan, merasakan kesedihan dan kepedihan yang disebabkan musibah, dan berbagai kejadian yang tidak terduga.

Bagaimana jadinya jika anak lebih banyak berinteraksi dengan pengasuh yang dibayar? Pastilah pengasuh itu bisa menjaga dan mengurusi anak, tetapi apakah pengasuh bisa menggantikan peran ibu yang sangat menentukan tumbuh kembang anak?

Di pedesaan keadaanya berbeda, namun boleh jadi bisa lebih parah. Anak-anak terpaksa ditinggalkan oleh ibu yang bekerja sebagai buruh tani atau pekerjaan lain. Anak-anak itu dititipkan pada tetangga atau diasuh oleh kakaknya yang masih di bawah umur. Persoalannya adalah jumlah keluarga seperti ini terus saja meningkat seiring dengan problem ekonomi yang kini sedang kita hadapi.

Sementara itu keluarga-keluarga yang semakin makmur ekonominya dalam jumlah yang tidak sedikit memberi banyak kemudahan pada anak-anak untuk menikmati teknologi mulai dari telepon genggam, gadget yang semakin canggih, dan akses yang semakin mudah untuk menikmati gaya hidup kelas menengah perkotaan, menjadi kaum urban yang serba wah.

Tentu saja dalam jumlah yang semakin meningkat banyak keluarga yang lebih memilihkan bagi anak-anaknya memasuki sekolah berbasis agama yang jumlahnya terus meningkat. Meskipun kita boleh bertanya dan mempertanyakan apakah sekolah-sekolah berbasis agama itu sungguh mengembangkan program yang memungkinkan mekarnya kedewasaan spiritual anak-anak atau hanya menggunakan agama sebagai label?

Setiap orang tua pastilah menghendaki pilihan terbaik bagi anak-anaknya. Namun sangat salah jika orang tua memilihkan sekolah yang terbaik tetapi abai mengembangkan pola asuh yang terbaik bagi anak-anaknya di rumah. Sebab anak-anak adalah amanah dari Tuhan bagi orang tua. Bukan sekolah yang diberi amanah oleh Tuhan. Merupakan kekeliruan jika para orang tua mengamanahkan anak-anak pada sekolah.

Maknanya, para orang tua harus merencanakan untuk mengembangkan sejumlah pembiasan perilaku positif agar anak-anak memiliki kebiasaan-kebiasaan positif. Mulai dari perilaku sederhana seperti membereskan tempat tidur. Mandi pagi dan sore pada waktu yang telah ditetapkan. Tidur dan bangun pada jam yang telah dirancang. Melakukan ibadah secara rutin tanpa disuruh. Mencuci piring sehabis makan. Ikut membersihkan rumah. Meski tampaknya remeh, pembiasaan ini akan membiasakan anak-anak hidup dalam kedisiplinan, dan belajar bertanggung jawab.

Membiasakan berbincang dan berdiskusi untuk mengambil keputusan seperti akan pergi kemana liburan kali ini. Orang tua harus menyediakan waktu untuk berbincang dengan anak-anak, sehingga anak-anak merasa sangat dekat. Dengan demikian bila ia menghadapi masalah apapun, orang tualah tempatnya curhat, mengadu, berbincang dan mencari solusi. Keakraban dan rasa saling percaya memang harus ditumbuhmekarkan antara orang tua dan anak. Jangan sampai anak-anak lebih percaya pada teman daripada orang tuanya.

Justru di sinilah masalah terbesarnya. Kebanyakan orang tua tidak memiliki waktu yang memadai untuk bersama anak karena berbagai kesibukan. Akhirnya anak-anak memiliki lebih banyak waktu berkumpul bersama teman-teman sebayanya. Bila anak mendapat teman sebaya yang baik tidak mengapa. Namun tidak sedikit yang akhirnya terbawa teman sebaya yang memiliki perilaku dan gaya hidup yang tidak baik.

Menggunakan pendekatan penelitian kualitatif saya melakukan penelusuran terhadap gaya hidup ABG yang masih SMP dan dituangkan dalam buku Penari Erotis dan Jablay ABG. Banyak ABG atau remaja yang masih SMP itu menjadi jablay atau cabe-cabean karena mengikuti gaya hidup teman sebaya yang lebih dulu melakukannya. Ini terjadi karena waktu berkumpul dengan teman sebaya lebih lama dibandingkan berkumpul dengan orang tua.

Meningkatnya pengguna narkoba di kalangan remaja mengikuti pola yang sama yaitu anak remaja lebih banyak waktunya berkumpul dengan teman sebaya daripada dengan orang tua, dan mendapatkan uang berlebih dari orang tua. ABG atau anak remaja memang merasa senang dan betah berkumpul bersama dengan teman sebaya. Karena itu orang tua harus tidak boleh abai untuk melakukan pengawasan.

Agar anak-anak bisa diarahkan untuk berperilaku dan bergaya hidup yang baik dan benar merupakan keniscayaan untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan. Tentu saja penanaman yang tidak sekadar verbal dan intelektual.

Agama adalah penghayatan bukan hafalan dan bahan analisis intelektual. Karena itu agama harus menjadi pedoman hidup nyata, dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya anak-anak harus menyadari apa makna melakukan ibadah rutin setiap hari berkali-kali seperti shalat. Ini bukan hanya soal pendisiplinan. Lebih dari itu. Shalat adalah konsistensi atau keteguhan menjaga hubungan, komunikasi, relasi, interaksi dengan Sumber Hidup yang Maha Melihat dan Mengatur.

Dengan menjalankan shalat semoga kita terus menerus menyadari bahwa manusia tidak pernah sendirian, Allah terus menerus bersama kita, bukan selalu bersama kita. Dengan demikian kita merasa aman dan tidak mau berbuat jahat. Nilai agama memang harus dihayati secara nyata, dirasakan dalam menjalani hidup keseharian.

Model penanaman nilai seperti ini sangat cocok dengan sifat alami otak. Edward de Bono dalam Mechanism of Mind (2015) menjelaskan bahwa otak merupakan sistem yang sangat kompleks. Keberfungsian dan kebermanfaatan otak tidak dapat ditumbuhkembangkan hanya dengan latihan-latihan intelektual yang besifat logis. Tetapi lebih ditentukan oleh penghadapan terhadap masalah-masalah nyata dalam kehidupan.

Nilai-nilai apapun terutama nilai agama tidak akan pernah melekat, berfungsi dan bermakna bila diajarkan secara verbal, intelektual-logis dan analitis. Harus melalui penerapan dan penghayatan. Dalam konteks inilah keteladanan dari orang dewasa yang menghidupkan nilai-nilai itu dalam keseharian menjadi sangat penting.

Aku memiliki pengalaman masa kecil yang bukan saja membekas sangat kuat sampai kini, juga mengarahkan tindakan dalam hidup sampai hari ini. Setiap kali selesai memasak sayur atau lauk seperti ikan, udang, dan daging, emak (ibu)ku memintaku mengambil mangkuk dan menaruh di mangkuk itu apa saja yang dimasak hari itu, biasanya dua mangkuk yaitu sayur dan lauk.

Aku kemudian diperintahkan mengantarkan makanan tersebut ke tetangga yang pantas untuk diberi. Padahal kami sekeluarga belum memakan sayur dan lauk itu karena baru saja matang. Setiap hari aku harus mengantarkan makanan itu ke tetangga yang berbeda. Itulah sebabnya emakku memasak lebih banyak dari yang kami butuhkan.

Kadang aku suka kesal karena makanan yang diantarkan itu adalah kesukaanku. Karena harus berbagi dengan tetangga, pastilah aku tidak bisa menikmatinya lebih banyak. Emakku seperti tidak peduli dengan kekesalanku itu. Tetap saja setiap hari aku harus antarkan makanan kepada para tetangga. Emakku juga tak pernah jelaskan mengapa harus memberi pada tetangga. Lebih mengesalkan sebab tetangga yang bersikap tidak baik pada keluargaku juga dapat jatah.

Bila hari raya kurban, emakku dengan sengaja mengajak tetangga yang mendapatkan daging kurban untuk ramai-ramai masak di rumahku. Emakku memang terkenal jago memasak. Aku heran mengapa pula harus masak ramai-ramai di rumahku. Aku dapat tugas untuk mengupas kentang dan bawan. Pastilah sampai menangis karena mengupas bawang itu membuat mata perih. Aku juga harus mempersiapkan kayu bakar beberapa hari sebelumnya. Aku pula yang harus membuang dan membakar sampah sisa masak bergotong royong itu.

Emakku sama sekali tidak pernah menjelaskan mengapa semua tindakan itu dilakukan. Emakku pernah mengurusi seorang tetangga yaitu ibu berusia tua yang sakit. Emakku bukan saja mengurusi makan dan mandinya, juga saat ibu itu buang air besar dan kecil. Suami ibu itu agak tertanggu karena stress. Aku sama sekali tidak mengerti mengapa emakku mau lakukan itu. Keluarga itu bukan saudara, hanya tetangga. Anak ibu yang sakit itu tinggal di luar kota yang jauh. Dulu anak ibu itu suka mengeluarkan ucapan-ucapan yang kurang pantas tentang keluargaku. Saat aku protes pada emak ku dan mengingatkannya tentang sikap tidak baik keluarga itu, emak ku cuma bilang, berbuat baik itu baik. Ini urusan kita dengan Tuhan. Sungguh aku sama sekali tak mengerti maksudnya. Saat itu aku masih SD.

Meski emakku tak pernah menjelaskan mengapa ia lakukan itu, akhirnya aku memahami dan menghayati apa arti keberadan kita sebagai manusia dan pentingnya peduli dan berbagi. Itulah sebanya sampai kini aku tak pernah takut menjadi tak berpunya jika rajin peduli dan berbagi. Kebaikan itu urusan kita dengan Tuhan, bukan dengan manusia. Peduli amat bersikap baik atau tidak. Berbuat baik harus tetap dilakukan.

Apa yang dipraktikkan emakku yang tidak pernah belajar psikologi pendidikan sungguh sangat melekat dalam sistem otakku sampai kini. Karena manusia, terutama anak-anak lebih memahami dan mampu mempraktikkan apa yang dia lihat dan jalani daripada apa yang dia dengarkan. Inilah sifat alami otak seperti yang dijelaskan de Bono dengan sangat canggih dalam bukunya.

Keteladanan yang diperkuat dengan pembiasaan pasti akan melahirkan kebiasaan yang sangat melekat dalam kehidupan. Oleh sebab itu sebaiknya anak-anak didorong menabung uang jajannya. Sejak awal harus diniatkan ada bagian tabungan itu, berapa pun jumlahnya, merupakan bagian dari orang lain yang pantas menerima bagian. Bukalah tabungan itu pada hari yang tepat, misalnya Hari Raya Kegamaan seperti Idul Fitri atau Natal. Si anak harus melaksanakan niatnya memberikan sebagian, jangan sebagian kecil, untuk orang lain yang sangat pantas menerimanya. Membahagiakan orang lain adalah kebahagian yang luar biasa. Lebih bermakna daripada hanya membahagiakan diri sendiri.

Itulah sekelumit cara untuk menfungsikan, menghidupkan dan memaknakan nilai-nilai keagamaan bagi anak-anak dan remaja. Sebab cara itu sangat melekat membekas dalam sistem otak mereka. Sehingga menjadi kebiasaan dan perilakunya seumur hidup.

Penanaman nilai bagi anak dan remaja dalam keluarga sangatlah penting. Ini terkait dengan fakta bahwa anak dan remaja mengalami masa tumbuh mekar yang sangat menentukan bagi hari depannya kelak.

Tentu saja lembaga pendidikan terutama persekolahan juga harus mengembangkan berbagai program, model, metode dan strategi yang beragam untuk menanamkan nilai-nilai yang bertujuan menumbuhkembangkan secara sekaligus kemampuan berpikir, kecakapan emosi, kedewasaan sosial dan kematangan spiritual. Lembaga pendidikan tidak boleh menghabiskan waktu, energi dan perhatiannya hanya untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan keterampilan-keterampilan teknis praktis sekadar untuk bertahan hidup di dalam masyarakat.

Untuk bisa bertahan hidup dan tumbuh sebagai manusia secara bermakna dalam hidup, tidak cukup hanya memiliki keterampilan-keterampilan teknis. Keberhasilan hidup lebih ditentukan oleh dimilikinya sejumlah sifat dan sikap yang melekat dalam diri setiap orang.

Beberapa pengalaman selama mengelola anak jalanan di Jabodetabek, Surabaya, dan Makasar menegaskan pentingnya membentuk sifat dan sikap yang bisa menentukan keberhasilan hidup. Kami tidak pernah menentukan secara sepihak menu pendidikan dan pelatihan yang akan dihidangkan untuk anak-anak jalanan. Merupakan prosedur tetap di Yayasan Nanda Dian Nusantara untuk melakukan dialog dengan orang tua dan anak-anak yang akan terlibat dalam program pendidikan dan pelatihan.

Biasanya diskusi sangat hangat dan heboh. Sebab setiap anak dan orang tua mengajukan beragam pilihan seperti menjahit, membuat kue kering, sablon, reparasi alat elektronik, reparasi motor, dan banyak lagi. Namun pada akhirnya, para orang tua dan nyaris semua anak perempuan pasti meminta lebih dulu diajari shalat dan membaca Al Qur'an. Mengapa ada permintaan seperti itu?

Semua mereka memiliki pengalaman yang nyaris sama. Suami dan anak-anak mereka bisa bertambah penghasilannya karena bermacam sebab. Setiap kali penghasilan bertambah, suami dan anak-anak mereka malah jadi "ngaco" atau bertambah "ngaco". Bentuk " ngaco" itu sangat beragam. Mulai dari lebih sering mabok sampai  "main perempuan", tidak sedikit yang segera berjudi.

Karena itulah para ibu itu mengharuskan akan mengizinkan anaknya mengikuti semua program keterampilan bila anak-anaknya lebih dahulu diajari shalat dan membaca Al Qur'an. Biasanya mereka meminta diajari shalat dan baca Al Qur'an juga.

Ketika kami menangani anak-anak pelacur di Bongkaran Tanah Abang, para ibu anak-anak itu yang seluruhnya pelacur, bersedia anak-anaknya dimasukkan ke pesantren atau dipulangkan ke kampung halaman agar tidak dikotori oleh lingkungan Bongkaran Tanah Abang yang kumuh secara fisik dan psikis. Secara sederhana para ibu itu menegaskan,  gak maulah anak-anak jadi kayak aku!

Rasanya kekhawatiran para ibu dari pemukiman kumuh yang anak-anaknya besar di jalanan juga meliputi kita semua. Rasa khawatir itu tampaknya bersifat universal atau berlaku umum. Tidak khusus dialami orang dari kalangan bawah yang tidak terpelajar. Karena hakikinya merupakan kekhawatiran atas tumbuh kembang manusia, siapa pun manusia itu dan apa pun kelas sosialnya.

Lihatlah dalam kenyataan hidup keseharian. Bukankah yang melakukan kejahatan korupsi adalah orang-orang terpelajar dan terhormat yang tinggal di perumahan mewah serta memiliki harta yang berlebih? Mengapa mereka bisa jadi koruptor padahal segalanya serba berlebih? Fakta ini menegaskan bahwa pendidikan yang tinggi dan keberpunyaan bukan jaminan orang menjadi baik dan berhasil dalam hidup. Dalam konteks inilah pentingnya membuat program yang memastikan bahwa nilai-nilai mulia menjadi penghayatan hidup semua orang, tanpa terkecuali. Lembaga pendidikan pastilah sangat bertanggung jawab bagi penanaman nilai-nilai mulia ini.

Bila lembaga pendidikan hanya dimaksudkan agar generasi muda bisa mengerjakan soal-soal matematika, fisika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan agama dengan ketepatan dan kecepatan yang tinggi dan akurat, sebaiknya bubarkan saja lembaga pendidikan dan diganti bimbingan tes. Pasti lebih murah dan efektif.

Lembaga pendidikan kita didirikan tidak sekadar berfungsi agar generasi muda sukses menempuh Ujian Nasional. Tetapi sukses menempuh hidup.

Semua dokumen resmi mulai dari Undang-undang Dasar 1945 dan semua amandemennya, Undang-undang dan Peraturan lain tentang pendidikan menegaskan bahwa tujuan pendidikan kita bukanlah mampu menjawab soal-soal Ujian Nasional. Karena itu menjadi sangat aneh dan menggelikan ketika sebagian besar energi dan perhatian kita sebagai bangsa tercurah pada Ujian Nasional. Seakan-akan muara proses pendidikan dan penentu keberhasilan negara bangsa ini ditentukan oleh Ujian Nasional. Sungguh negara bangsa yang aneh!

Pendidikan sebagaimana dihayati oleh Ki Hadjar Dewantara dan semua pendiri negara bangsa serta tokoh-tokoh pendidikan nasional sejak dulu hingga kini adalah wahana untuk membentuk manusia Indonesia yang berbudi luhur, bukan sekadar cerdas dan terampil. Bila kini kita menggunakan istilah pendidikan karakter ditambah Revolusi Mental, hakikinya sama dan sebangun dengan yang dihayati para pendiri negara bangsa ini. Sebab manusia terutama dinilai dari budi pekertinya, bukan hanya dari kecerdasan dan keterampilannya.

Para koruptor, bandar narkoba, teroris, dan mucikari pelacur terutama pelacur kelas atas pasti cerdas dan terampil. Kecerdasan dan keterampilan mereka tentulah di atas rata-rata. Jika tidak bagaimana mungkin mereka sangat sulit ditangkap. Bahkan sudah ditangkap dan dijebloskan ke penjara masih bisa mengendalikan teror dan narkoba dari dalam penjara. Maknanya, jika ukuran keberhasilan pendidikan kita adalah kecerdasan dan keterampilan, maka pendidikan formal kita kalah jauh dibandingkan pendidikan para teroris, gembong narkoba dan para agen atau mucikari pelacur.

Mengapa teroris, gembong narkoba, dan mucikari tidak dihormati bahkan dikategorikan sebagai penjahat? Karena mereka tidak memiliki budi pekerti, tidak memiliki nurani, meski mereka cerdas dan terampil.

Perumusan KKNI oleh Pemerintah merupakan pengakuan betapa pentingnya budi pekerti atau karakter. Sejumlah buku seperti Kecerdasan Emosi dari Goleman, Emotional Alchemy karya Tarra Bennett-Goleman, The Sipritual Brain dari Mario Beauregard dan Denyse O' Leary menegaskan itu. Oleh karena buku-buku itu berbasis penelitian, maka penegasan itu sangat sulit dibantah. Persoalannya adalah apakah KKNI sungguh diterapkan dengan benar? Sampai saat ini para praktisi pendidikan pada semua tingkat, berkutat dengan keterampilan teknis untuk merumuskan capaian pembelajaran dan capaian pembelajaran lulusan. Sementara terkait dengan budi pekerti dan karakter sebagai fokus utama, tampaknya kurang mendapat perhatian dan jarang sekali muncul dalam rencana pembelajaran yang dibuat.

Budi pekerti atau karakter tampaknya lebih baik  ditumbuhkembangkan dengan banyak cara, bukan dengan cara tunggal. Karena itu tidak usahlah membuang energi meributkan apakah dituangkan dalam mata pelajaran atau mata kuliah mandiri dan khusus, atau diintegrasikan dalam mata pelajaran atau mata kuliah yang ada mengikuti pola "mata ajar melintasi kurikulum".

Penting pula untuk mempertimbangkan jangan sampai para pembelajar diberi terlalu banyak beban karena semua hal penting seperti budi pekerti atau pendidikan karakter harus masuk kurikukum. Masuk kurikulum tidak selalu berarti sebagai mata pelajaran atau mata ajar baru yang khusus dan mandiri. Pola mata ajar melintasi kurikulum merupakan cara yang efektif dan bermakna.

Contoh materi ajar melintasi kurikulum adalah pembelajaran bahasa. Bahasa apa saja, Indonesia, Jawa,  Sunda, Madura, Inggris, Perancis, dan semua bahasa. Dalam pelajaran bahasa apa pun pembelajar tidak hanya diajarkan tata bahasa yang merupakan aturan normatif tentang bahasa.

Lebih penting dari itu adalah memampukan pembelajar menggunakan bahasa dalam komunikasi yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi pastilah bagian terpenting dalam pembelajaran bahasa apa pun. Untuk apa para pembelajar hafal dan paham tata bahasa, jika ia tidak dapat menggunakan bahasa tersebut untuk berkomunikasi?

Penggunaan bahasa untuk berkomunikasi mempersyaratkan banyak aspek atau dimensi. Sebagai contoh, seorang dosen bahasa asing yang menjadi pengajar di sebuah perguruan tinggi di Indonesia menerima telepon dari mahasiswa. Di tengan pembicaraan tiba-tiba ia mengatakan, mohon maaf ya, saya mau keluar sedikit.

Si mahasiswa bingung, apa yang terjadi? Mau keluar sedikit? Lagi ngapain tu dosen? Mencret? Sedang apa dia kiranya? Komunikasi pasti terganggu. Bisa karena tidak paham atau salah paham. Padahal yang dimaksud dosen orang asing itu adalah keluar sebentar. Dia belum bisa membedakan sedikit dan sebentar. Sederhana memang, tetapi bisa menimbulkan tafsir yang rumit. Ini baru aspek pemilihan kata atau diksi.
Seorang teman asal Australia pernah bertanya. Padang itu binatang apa? Ia bertanya begitu karena pernah makan sate ayam dan sate kambing. Jadi saat melihat ada bacaan Sata Padang, ia langsung berpikir bahwa Padang itu binatang sebagaimana kambing atau ayam. Kejadian ini menunjukkan bahasa tidak pernah terbatas hanya pada tata bahasa.

Dalam berkomunikasi konteks menjadi penting. Konteks tidak hanya mengurusi dengan siapa kita berkomunikasi, siapa dia, berapa umurnya, apa latar belakang sosial, ekonomi dan pendidikannya, untuk keperluan apa komunikasi ini dilakukan, dimana komunikasi itu berlangsung, kapan waktunya? Melampaui itu semua. Konteks mengharuskan kita mengenal budaya yang melahirkan bahasa itu, aturan-aturan sopan-santun dalam membangun hubungan dan interaksi dalam budaya tersebut, dan juga penghormatan dengan sesama yang menjadi aturan universal di seluruh dunia, tetapi yang perujudannya tidak sama dalam semua budaya. Keseluruhan konteks ini adalah bagian penting dari budi pekerti atau karakter.

Maknanya melalui mata ajar bahasa, bahasa apa pun, pendidik bisa dan harus menanamkan nilai-nilai positif dalam hidup yang merupakan bagian penting dari budi pekerti atau karakter. Sudah pasti cara yang sama berlaku dan bisa diterapkan untuk semua mata ajar lain seperti matematika, IPA, dan IPS. 

Untuk itu, para pendidik ditantang untuk mengembangkan kreativitasnya bagi pengembangan pembelajaran dengan pola mata ajar melintasi kurikulum. Pola ini membuat mata ajar tidak kering dan terbatas mengajari keterampilan teknis. Secara bertujuan dan sistematis juga memekarkan budi pekerti atau karakter.

Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, para pendidik harus memilih metode dan strategi yang berorientasi pada pembelajar dan memberikan kesempatan keterlibatan aktif para pembelajar. Dengan demikian metode ceramah harus sangat minimal digunakan. Karena ceramah hanya memberi pemahaman intelektual yang seringkali dangkal, seadanya, dan tidak analitis. Perhadapkan para pembelajar dengan sejumlah masalah agar dia terlibat dan menghayati. Cara ini lebih efektif dan bermakna untuk membangun pemahaman dan penanaman nilai melalui mengalami dan menghayati secara langsung.

Dalam buku Thinking: The New Science of Decision-Making, Problem-Solving and Prediction (2013) dengan editor John Brockman dijelaskan bahwa penghadapan pada masalah nyata melalui mengalami sungguh sangat berguna bagi penghayatan nilai dan membangun pemahaman yang komprehensif serta mendalam. Sebab penghadapan pada masalah nyata dan mengalami, mengaktifkan semua zona otak. Otak bekerja optimal untuk merespon, menganalisis dan merasakan. Bukan hanya menganalisis secara terjarak dan kering, yang hanya menghasilkan pemahaman terbatas dan minimal.

Tidak sedikit lembaga pendidikan pada berbagai tingkat mencoba melaksanakan sejumlah program yang melibatkan pembelajar secara aktif, mengalami dan menghayati. Namun, sangat disayangkan dalam pelaksanaannya masih meniru gaya lama yang kurang memberi makna mendalam bagi para pembelajar.

Banyak sekolah yang melaksanakan acara kunjungan ke panti asuhan. Pastilah tujuannya baik dan bermanfaat, agar para pembelajar belajar berbagi dan mengenal lebih dalam saudara-saudaranya yang tidak seberuntung dia. Namun, caranya tidak dirancang agar pembelajar sungguh-sungguh terlibat dan mengalami.

Biasanya para pembelajar menggunakan bus yang dipasangi spanduk besar menuju panti asuhan. Semua siswa sudah mengumpulkan apa saja yang berguna untuk berbagi. Bahkan mereka berlatih menari dan membaca puisi untuk dipertontonkan di panti asuhan. Sesampai di panti asuhan, para pembelajar duduk terpisah dari anak panti. Terdapat juga sekolah yang merancang agar para pembelajar duduk bersama anak panti. Kemudian ada acara seremonial, pidato-pidato dan sambutan-sambutan. Diikuti pemberian bantuan secara simbolis oleh beberapa siswa pada anak panti, kemudian disajikan hiburan berupa pembacaan puisi dan menari yang ditampilkan para pelajar. Setelah ramah tamah, makan bersama para pembelajar kembali ke bus dan pulang.

Sungguh sangat formal dan kurang memberi kesempatan bagi pembelajar untuk menghayati lebih dalam kebersamaannya dengan anak-anak panti. Pastilah selama acara berlangsung para pembelajar dan guru sibuk berfoto ria dan segera muncul di media sosial sebagai bukti betapa pedulinya para pembelajar pada anak yatim. Apakah cara seperti ini sungguh bermakna dan membekas dalam sistem otak para pembelajar?

Bandingkan dengan kegiatan yang bertujuan sama, tetapi berbeda cara seperti dijelaskan di bawah ini. Sekolah melibatkan orang tua pembelajar dan sejumlah tokoh masyarakat bersama-sama dengan pembelajar mengidentifikasi keluarga dan anak-anak miskin, yatim, piatu, dan yatim piatu di sekitar sekolah dan rumah para pembelajar. Setelah ditemukan disusunlah program satu semester untuk membantu keluarga miskin, terutama anak-anaknya agar tetap bisa belajar di sekolah. Ada bantuan modal untuk orang tuanya. Para pembelajar secara rutin dijadwalkan berkunjung ke tempat tinggal keluarga miskin itu, berinteraksi dengan anak-anak yang dibantu. Membantu mengajarkan pelajaran yang sulit dan mengerjakan pekerjaan rumah, melakukan ibadah shalat berjamaah dan makan bersama.

Memang tidak sebanyak anak di panti asuhan yang bisa dibantu. Tetapi fokus dan berjangka panjang. Tidak ada biaya untuk menyewa bus, membuat spanduk dan membeli nasi kotak serta cemilan. Semua uang itu bisa digunakan untuk membantu keluarga miskin. Interaksi jangka panjang antara anak-anak miskin dengan para pembelajar dapat mengasah empati para pelajar. Mereka bukan saja memahami apa itu kemiskinan. Lebih dari itu, mereka tahu betapa kemiskinan itu sangat menyengsarakan. Inilah contoh bagaimana program penanaman nilai yang mengaktifkan seluruh bagian otak dan seluruh kemanusiaan si pembelajar.

Kehadirannya ke tempat tinggal keluarga miskin bisa digunakan untuk memahami banyak mata pelajaran. Juga memberi kesempatan baginya untuk mengasah kemampuannya mengamati, berkomunikasi, memahami masalah dan memikirkan berbagai solusi sesuai dengan tingkat usianya. Dalam petatah petitih kita cara ini dikenal dengan ungkapan "sekali mendayung perahu, 17 pulau reklamasi bisa dikunjungi".

Proses pendidikan pastilah akan sangat baik bila pola asuh keluarga memiliki kesamaan atau kesejajaran dengan proses pendidikan di sekolah. Para pembelajar akan merasa nyaman karena keduanya saling memperkuat, tidak ada pertentangan. Pembelajar akan merasa betah dalam situasi ini dan akan lebih bersemangat untuk terus belajar di rumah dan di sekolah. Penciptaan rasa aman dan nyaman memang harus diusahakan oleh orang tua dan guru. Meski tidak mudah, namun harus terus diusahakan.

Mengapa rasa aman dan nyaman sangat dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang para pembelajar? Eric Jansen dalam Rahasia Otak Cemerlang menegaskan bahwa otak sangat dipengaruhi oleh musuh utama dalam belajar yaitu ancaman, tekanan yang berlebihan, kecemasan, dan perasaan tak berdaya.

Bila terjadi ketidaksesuaian antara apa yang didapat dan dirasakan oleh pembelajar di rumah dan di sekolah, boleh jadi dia merasa kurang nyaman. Terasa ada semacam ancaman dan tekanan yang membuatnya cemas dan tak berdaya. Pastilah dalam jangka panjang akan sangat mengganggunya. Ia susah berkonsentrasi dan kurang bergairah. Dalam kaitan inilah perlunya orang tua dan sekolah membangun komunikasi, relasi dan interaksi yang positif.

Tentu saja komunikasi, relasi dan interaksi positif tidak terbatas antara keluarga dalam hal ini orang tua dengan sekolah sebagai lembaga pendidikan. Juga harus terjadi dengan masyarakat. Tampaknya dalam konteks Indonesia masa kini, problem terbesar yang sangat mengganggu proses dan pencapaian tujuan sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah kondisi dan perkembangan masyarakat.

Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan hanyalah sebuah titik dalam jejaring yang luas dan rumit. Kondisi, perkembangan keluarga dan masyarakat sangat menentukan apa yang bisa dilakukan dan dicapai oleh sekolah. Karena keluarga dan masyarakat adalah penentu. Jangan pernah berpikir bahwa keberhasilan dan kegagalan sekolah sepenuhnya ditentukan secara mandiri oleh sekolah.

Sebagai contoh nyata, di dalam keluarga ditanamkan nilai-nilai positif yang membentuk budi pekerti atau karakter. Memperkuat penanaman nilai itu, sekolah juga mengembangkan berbagai program untuk terus menumbuhmekarkannya. Semuanya seakan dihancurkan oleh apa yang terpapar di dalam masyarakat baik melalui perilaku yang ditunjukkan sebagian anggota masyarakat di semua ruang publik yang mempertontonkan tindakan dan sikap negatif, juga dipertontonkan para tokoh dan pemimipin lewat perilaku koruptif dan penggunaan narkoba, maupun melalui media terutama televisi yang mendahulukan tontonan tidak bermutu dan tidak mendidik, lewat sinetron yang berisi kedengkian dan berita yang penuh fitnah. Pastilah kondisi penuh pertentangan ini akan sangat membingungkan anak-anak dan remaja kita yang sedang tumbuh kembang dan menjadi pembelajar di berbagai lembaga pendidikan.

Pertanyaannya adalah, apakah apa yang diberikan dan ditanamkan keluarga dan sekolah bisa bertahan, berkembang menghadapi kondisi masyarakat yang tidak positif ini. Apakah kemampuan memilah, memilih dan mengolah anak-anak dan remaja kita sudah memadai untuk menyikapi buruknya kondisi masyarakat itu?

Menyalahkan dan menyerang sekolah ketika terjadi tawuran pelajar dan kekerasan yang dilakukan pelajar adalah tindakan reaktif dan salah sasaran. Tentu saja sekolah ikut bertanggung jawab. Tetapi yang juga harus bertanggung jawab adalah keluarga, dan yang paling bertanggun jawab adalah masyarakat dan negara, terutama Pemerintah sebagai penyelenggara negara.

Dalam soal cepatnya pertumbuhan keterlibatan remaja mengonsumsi narkoba, berapa kekuatan sekolah untuk mengatasinya dibandingkan kekuatan keluarga, masyarakat dan negara? Apakah sekolah juga keluarga dapat berbuat banyak jika penegak hukum belum berhasil memberantas peredarannya? Apakah sekolah memiliki kewenagan dan kekuatan sangat besar untuk mencegah remaja kita menjadi cabe-cabean?

Ingatlah selalu, sekolah bukan pabrik. Pabrik dapat terus berjalan, berfungsi dan berproduksi tanpa memerhatikan budaya dimana pabrik itu berdiri. Pabrik cukup memerhatikan faktor-faktor ekonomi untuk kebertahanan dan keberlanjutannya. Sekolah itu sangat berbeda dari pabrik. Sekolah adalah lembaga kebudayaan, bukan lembaga ekonomi. Sekolah mengemban amanah untuk memekarkan manusia, memanusiakan manusia. Bukan sekadar memproduksi tenaga kerja untuk keperluan perkembangan industri.

Karena itu nilai-nilai budaya yang melekat dalam masyarakat, kondisi dan perkembangan masyarakat, kondisi dan sikap serta perhatian negara sangat menentukan kebertahanan, keberlangsungan, dan kemajuan sekolah sebagai lembaga pendidikan. Sudah pasti kondisi dan sikap keluarga juga sangat menentukan. Dalam konteks inilah gagasan Anis Bawedan tentang Ekosistem Pendidikan menjadi sangat penting dan bermakna. Bahwa hakikinya pendidikan adalah jejaring yang melibatkan seluruh komponen negara bangsa.

Oleh karena itu terasa aneh, menggelikan dan sangat absurd tatkala sejumlah orang yang mengaku tokoh pendidikan, ahli pendidikan, pengamat pendidikan dan praktisi pendidikan membandingkan pendidikan Indonesia dengan pendidikan Filandia, dan mengecam habis pendidikan Indonesia yang disebut buruk dan tak bermutu. Mengapa absurd? Karena membandingkan pendidikan Finlandia dengan Indonesia seperti membandingkan F.C. Barcelona dengan PS Bantul.

Aku beruntung karena pernah mukim di negara-negara Skandinavia termasuk Finlandia. Justru karena pernah belajar di sana, aku sangat bangga dengan Indonesia dan pendidikan Indonesia. Mengapa?

Finlandia adalah negara sangat kecil. Luas wilayahnya sekitar 338.424 km2, dengan penduduk sekitar 5.477.359 jiwa. Termasuk salah satu negara terkaya di dunia dengan indeks gini atau tingkat kesenjangan yang rendah (25,9). Masyarakatnya maju, moderen, dan sangat terpelajar. Pemerintahannya bersih, sangat peduli pada kesejahteraan rakyat. Kepedulian itu terlihat dalam berbagai kebijakan yang bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Jika kita membandingkan luas wilayah, jumlah penduduk dan kekayaan kedua negara akan sangat terlihat, betapa absurd, aneh dan menggelikan membandingkan Indonesia dan Finlandia, terutama dalam bidang pendidikan.

Mari kita bandingkan sejarah kemerdekaan kedua negara. Finlandia menjadi Kadipaten Agung Finlandia, daerah otonomi dalam Kekaisaran Rusia 29 Maret 1809. Melakukan Deklarasi Kemerdekaan dari RSFS Rusia 6 Desember 1917, dan diakui 4 Januari 1918. Kira-kira apa bentuk, posisi, dan keberadaan Indonesia pada tahun 1918? Kita baru merdeka 17.8.1945.

Perbedaan paling mendasar adalah nilai-nilai budaya yang melekat dan dikembangkan dalam kedua negara. Mengapa perbedaan budaya ini sangat penting dikedepankan, karena pendidikan berkutat, bekerja, hidup, bertahan dan berkembang dalam dan bagi kebudayaan. Itulah sebabnya sekolah sebagai lembaga pendidikan harus diperlakukan sebagai lembaga budaya, yang sangat menentukan strategi kebudayaan kita sebagai negara bangsa.

SEKOLAH ADALAH LEMBAGA KEBUDAYAAN YANG MEMANUSIAKAN MANUSIA, BUKAN PABRIK YANG MEMPRODUKSI TENAGA KERJA.

Minggu, 10 April 2016

MALAM SEMARANG

Nyaris setiap malam aku shalat Isya menjelang tidur, agar seluruh hari ditutup dengan shalat dan doa. Malam Jumat aku melakukan shalat Isya di ketinggian, lantai 12 sebuah hotel di Semarang. Malam sangat tenang dan aku larut dalam kekhusu'an. Besok malamnya aku ulangi ritual yang sama. Tetapi suasananya sama sekali berubah.

Baru saja mengangkat takbir, aku dikejutkan oleh raungan suara motor yang benar-benar memekakkan telinga. Sepanjang sholat, suara raungan motor makin meninggi dan membahana. Keluar dari knalpot  motor yang telah dimodifikasi.

Sudah pukul 23.10, aku putuskan untuk menunda tidur dan menuju lantai dasar, bertemu dengan petugas keamanan dan menanyakan mengapa ada suara raungan motor malam ini? Petugas itu menjelaskan bahwa setiap malam Sabtu anak-anak pada ngetrek atau balapan di jalan raya, tambah malam tambah rame.

Aku putuskan untuk berkeliling kota menggunakan becak dayung. Penarik becaknya berusia 56 tahun, memiliki 7 anak dan 4 cucu, beberapa bulan ke depan akan punya buyut, orang Semarang asli dan sudah 6 tahun jadi pembecak. Tadinya dia bandar judi rolet di berbagai tempat keramaian.

Ia bawa aku menyusuri jalan Pemuda. Di kiri kanan jalan terparkir puluhan mobil dan ratusan motor. Menjawab pertanyaanku penarik becak bercerita. Malam Sabtu, jalan-jalan utama di Semarang sangat ramai. Anak-anak muda berkumpul di pinggir jalan. Banyak mobil dan motor, yang paling banyak motor. Mereka tidak pernah ribut karena bukan genk tetapi klub. Genk itu cuma cari ribut, klub itu persaudaraan. Mereka pada nongkrong, ngobrol, dengar musik, dan nonton yang trek-trekkan. Anak-anak yang trek-trekkan tidak banyak. Nanti tambah malam yang trek-trekkan makin rame. Jalanan jadi ribut banget. Baru reda bila ada patroli polisi. Mereka yang trek-trekkan pada balapan sama pak polisi. Biasanya bubaran, tetapi nanti kembali lagi. Malam Minggu tidak seramai ini. Dari dulu ya malam Sabtu ramainya.

Aku perhatikan, pada tiap kelompok ada 7 sampai 12 mobil, macam-macam jenis dan merek mobil. Mereka berkumpul di sekitar mobil. Di bagian depan mobil terlihat botol minuman, tak ada bir atau sejenisnya, kebanyakan minuman berbotol plastik, teh dan berbagai jenis minuman lain. Ada suara musik tetapi tidak keras. Tidak seperti tongkrongan di Kamayoran Jakarta, sangat sedikit wanita. Pakaian wanita yang ikutan nongkrong rapih dan sopan.

Sementara klub motor lebih banyak. Tiap kelompok jumlah minimal motornya 15, di belakang motor yang diparkir mereka duduk di trotoar. Juga tak kutemukan minuman beralkohol. Mereka ngobrol dan merokok. Kebanyakan menggunakan pakaian seragam, yang paling banyak berupa kaos oblong dengan macam-macam simbol di bagian depan.

Saat kutanyakan pada penarik becak mengapa tidak ada minuman seperti bir, ia menjelaskan mereka berkumpul untuk santai-santai. Memang tidak ada yang mabuk-mabukan. Mereka kan mengendarai mobil atau motor, bisa berbahaya bila mabuk, paparnya.

Kami terus menyusuri jalan Pemuda, ada yang menarik di kaki lima toko di kanan-kiri jalan, banyak tukang pijat. Setiap mereka memasang spanduk menyebutkan layanan pijat apa saja yang tersedia. Aku hitung di sebelah kiri jalan ada sekitar tiga puluhan tukang pijat, dan di sebelah kanan ada sekitar dua puluhan. Hanya ada lima pemijat perempuan yang sudah umur. Mereka memijat di ruang terbuka beralaskan tikar. Banyak orang sedang pijatan.

Si pembecak tetap mengayuh dan membawaku ke Perempatan Johar, ia membelok ke kiri, ada suara keras musik dangdut. Kami memasuki Jalan Imam Bonjol. Di sebelah kiri ada enam warung kopi yang tertutup dengan terpal. Lampunya remang. Tujuh perempuan duduk di depan warung, hanya dua yang berusia muda. Mereka menawarkan kopi. Si pembecak bilang, mereka menawarkan kopi nanti diberi Cap Tiga Orang, jamu yang bisa bikin mabok. Mereka wanita gak benar, tegasnya.

Aku tajamkan mata di keremangan malam. Aku lihat dengan cermat, di kanan-kiri jalan ada wanita berdiri. Dalam keremangan tampak sudah berumur. Tangannya melambai pada semua lelaki yang lewat. Kuperhatikan dan kuhitung, terdapat lima di kanan jalan, dan tujuh di kiri. Tidak jauh dari para wanita itu ada wanita muda duduk di motor yang diparkir di pinggir jalan. Jumlah mereka lebih banyak, usianya masih muda dan gayanya seperti kebanyakan ABG, menggunakan celana sangat pendek dan baju kaos ketat. Pahanya sengaja dibuka. Ada beberapa lelaki muda menghentikan motor di dekat wanita motor itu, mereka berbincang. Terdengar tawa cekikikan.

Rupanya jalanan ini diramaikan oleh wanita-wanita malam. Hotel kelas melati atau motel berjejeran di kanan-kiri jalan. Aku tanyakan pada pembecak, apakah dia kenal dengan orang yang mengurusi hotel melati? Ia menjawab kenal semua orang yang ngurusi hotel melati di sepanjang jalan ini. Aku minta dibawakan ke salah satu saja. Ia mengayuh becaknya dan menyeberangi jalan. Kami tiba di depan Hotel A. Empat lelaki berusia sekitar tiga puluhan berbadan besar duduk di pintu gerbang hotel. Si pembecak turun meninggalkan aku menuju ke tempat para lelaki itu duduk. Ia berbincang sebentar dan memintaku turun bertemu mereka. Kami bersalaman, aku tawari mereka memesan minuman dan rokok. Dua pesan kopi dan dua lainnya pesan coklat panas. Aku duduk di sebelah lelaki yang paling besar. Mereka bertanya aku menginap dimana dan berasal dari mana. Kami terlibat perbincangan tentang Hotel A. Tarifnya delapan puluh ribu sehari, tetapi paling lama digunakan hanya dua jam. Jarang sekali tamu menginap di sini.

Selama berbincang aku perhatikan, yang keluar masuk hotel menggunakan motor adalah pasangan-pasangan ABG. Dari gaya berpakaian wanita yang dibawa tampaknya bukan wanita bayaran. Si pengurus hotel yang berbaju kaos biru menjelaskan bahwa memang lebih banyak pasangan ABG yang menggunakan kamar-kamar di hotel ini daripada lelaki membawa wanita bayaran. Bila siang atau sore, beberapa wanita yang dibawa menggunakan jaket, dan celana panjang. Namun dari tas yang dibawanya dan kemeja putih yang dikenakan di dalam jaket bisa dipastikan wanita itu masih siswa SMA.

Sementara itu lelaki lain yang menggunakan kemeja tangan panjang warna hijau menjelaskan bahwa tamu yang datang ke sini lebih suka memesan wanita dari mereka daripada yang berdiri di pinggir jalan atau yang nongkrong menggunakan motor. Tarifnya memang lebih mahal yaitu empat ratus ribu rupiah, sedangkan yang mejeng di pinggir jalan, terutama yang masih muda dan menggunkan motor tarifnya tiga ratus ribu rupiah. Tamu kurang suka pada wanita pinggir jalan sebab mereka tiap malam menjajakan diri. Sedangkan yang disediakan hotel adalah anak-anak ABG yang pada umumnya bekerja dan hanya melayani bila ada yang memanggil.

Aku permisi untuk menggunakan toilet yang ternyata ada di bagian belakang hotel. Kuhitung ada 15 motor di tempat parkiran. Sesaat meninggalkan toilet, ada padangan ABG yang baru saja keluar kamar. Dilihat dari tampang dan bentuk tubuhnya, rasanya wanitanya masih SMP. Saat berpapasan denganku keduanya menunduk, tak ingin bertatapan.

Wanita yang sediakan oleh pengurus hotel bisa dibawa ke hotel tempat tamu menginap, tarifnya lima ratus ribu rupiah. Jika menginap bisa sejuta rupiah.

Lelaki bertubuh besar yang menggunakan jaket kulit coklat menjelaskan bahwa lima tahun terakhir tamu hotel ini memang berubah. Dulu kebanyakan lelaki berumur tiga puluh tahun ke atas yang membawa wanita yang mejeng di jalan. Tetapi sekarang yang lebih banyak adalah pasangan ABG. Terutama pada siang dan sore hari. Bahkan ada beberapa pasangan ABG yang sangat sering datang ke sini, sudah jadi langganan, katanya. Setelah berbincang tentang banyak hal, aku pamit karena hendak melihat yang lain.

Kami melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan, kanan-kiri, wanita mejeng baik yang berdiri maupun yang duduk di motor semakin banyak. Mulai tidak terlihat dekat stasiun kereta api. Melewati stasiun kereta api, ada karaoke yang dihiasi lampu warna-warni dan tidak berhenti berkelip. Malam jadi kelihatan terang dan meriah. Banyak mobil terparkir di depan karaoke.

Setelah itu jalan remang dan sepi. Inilah suasana malam yang sesungguhnya, remang, teduh dan hening. Seorang lelaki mengayuh sepeda, ada dua keranjang besar di bagian belakang yang diikatkan pada kiri-kanan boncengan. Ia berhenti di tiap tempat sampah, menggunakan senter untuk mencari apapun yang masih bisa dijual. Pemulung malam bersepeda. Dari mulutnya terdengar lantunan lagu dangdut Rhoma Irama. Cara yang mudah dan murah menghibur diri, bernyanyi sepanjang jalan.

Kami sampai di Tugu Muda, sepertiga bundaran digunakan klub mobil BMW. BMW yang terparkir tergolong berusia tua. Di sebelahnya terparkir puluhan motor. Di seberang jalan ada kumpulan vespa yang telah dimodifikasi dengan tiga roda. Sungguh sangat banyak orang berkumpul. Aku turun dari becak dan jalan berkeliling mencermati semua yang berkumpul.

Banyak minuman ringan botol atau kaleng yang ditaruh dekat mereka yang berkumpul. Tak kutemukan minuman beralkohol. Apakah memang tidak ada atau minuman beralkohol disembunyikan? Banyak wanita cantik dan berpakaian rapih kumpul bersama para pemilik BMW.

Aku menyeberang jalan dan duduk dekat anak muda yang tampak kumuh yaitu mereka yang menggunakan vespa modifikasi. Aku ngobrol dengan mereka, berbincang tentang vespa yang unik. Mereka bersemangat menjelaskan. Saat kutanyakan tentang apa yang diminum, mengapa tidak ada minuman beralkohol, mereka menjelaskan ngumpul malam Sabtu mau senang-senang, ngobrol-ngobrol untuk persaudaraan, tidak ada alkohol. Kalau mau sedikit mabok bukan di sini tempatnya.

Kami melanjutkan lagi perjalanan, di Jalan Pandanaran suasananya sama saja. Banyak mobil dan motor berkumpul. Nyaris sepanjang jalan, kanan dan kiri jalan dipenuhi mobil dan motor. Rupanya ada yang berulang tahun di salah satu klub mobil. Lelaki yang berulang tahum dikerjain teman-temannya. Ia disiram tepung sampai seluruh tubuhnya memutih, setelah itu muncul tiga wanita berpakaian rapih membawakan kue ulang tahun. Lelaki yang memutih karena tepung itu meniup lilin, teman-temannya bernyanyi.

Kami jalan lagi dan sampai di Simpang Lima. Di sini suasana sangat berbeda. Di bundaran yang lebih luas dibandingkan Tugu Muda, ada lima sepeda yang dihias lampu warna-warni dan tiga becak yang dimodifikasi dan juga diberi lampu, berkeliling di bundaran.

Banyak pasangan duduk asyik di bangku yang disediakan dan di bawah pohon. Banyak mobil dan motor terparkir, tetapi bukan klub seperti di tempat lain. Para pemilik motor dan mobil sedang makan di warung makan yang jumlahnya sangat banyak. Tidak ada orang nongkrong di sekitar mobil dan motor seperti di tempat lain. Dari Simpang Lima kami menuju Jalan Pahlawan.

Rupanya yang paling heboh di Jalan Pahlawan. Di depan kantor gubernur terdapat lebih dari dua ratus motor diparkir. Banyak anak muda ngumpul dan asyik ngobrol. Mereka menonton sejumlah orang lagi ngetrek, suara raungan motor sungguh memekakkan telinga. Semakin lama yang ngetrek makin banyak. Tragis rasanya, karena diujung jalan ini ada MAPOLDA. Apakah memang sengaja dibiarkan, atau dianggap masih dalam batas toleransi sehingga anak-anak muda itu bebas memacu motornya sekencang mungkin?

Aku turun lagi dari becak dan berbincang dengan sejumlah anggota klub motor. Pada umumnya mereka siswa SMA, datang ke sini dengan jumlah 37 motor. Satu motor berdua dan beberapa bertiga. Setiap malam Sabtu mereka berkeliling kota Semarang dengan berkonvoi, menjelang tengah malam nongkrong istirahat dan melihat trek-trekkan. Ada dua orang anggota klub ini yang suka trek-trekkan, yang lain hanya menonton. Meski berasal dari klub yang berbeda, mereka saling kenal. Tidak pernah ada keributan karena tidak ada yang mabok. Setiap klub menjaga agar jangan sampai ada anggotanya yang menggunakan alkohol jika ingin berkumpul bersama seperti ini.

Salah seorang menjelaskan, mereka berkumpul bersama malam Sabtu, sebab malam Minggu yang punya pacar pada janjian dengan pacarnya. Malam Sabtu untuk teman, malam Minggu bersama pacar. Rata-rata mereka sudah dua tahun ikutan klub motor ini. Kegiatannya banyak, misalnya berwisata bersama, dan nonton bola bareng. Malam Sabtu memang diwajibkan berkumpul, jalan-jalan keliling kota dan nongkrong sampai pagi.

Karena sudah dini hari aku minta pada si pembecak pulang saja ke hotel. Di jalan ada kejutan kecil, dua wanita dengan dua motor mendekati becak. Menegur dengan logat Jawa yang kental menawarkan jasa untuk bersenang-senang. Usianya tampaknya sekitar dua puluhan. Aku dan tukang becak memanfaatkan kehadiran mereka untuk bertanya macam-macam. Becak terus meluncur, keduanya mungkin mengambil kesimpulan bahwa godaannya tidak berhasil kemudian ngacir. Si pembecak bercerita. Biasanya di tempat ini banyak wanita bermotor yang berani nyamperin lelaki yang lewat, terutama lelaki yang berjalan kaki, naik motor atau naik becak. Tumben malam ini sepi, tegasnya.

Malam adalah kesempatan bagi tubuh untuk jeda dan jiwa untuk istirah. Rehabilitasi fisik melalui pembaruan sel-sel terjadi saat kita menikmati lelap tidur pada malam hari. Juga ada kesempatan untuk membersihkan toksin pikiran melakui mimpi yang tak mudah dipahami. Malam mestinya teduh, hening dan temaram.

Entah kenapa, perkotaan selalu menghidupkan malam. Malam yang mestinya teduh dan hening dengan sengaja diubah menjadi gaduh dan bising. Ketemaraman diubah menjadi benderang lampu warna-warni yang tak berhenti berkerlap-kerlip.

Malam bukan saja dibuat genit, bahkan liar. Malam yang sejuk dicipta menjadi penuh keringat. Suara keras penuh hantakan di ruang-ruang diskotik, dan raungan mesin motor di jalanan. Trotoar jalanan disulap menjadi pusat kuliner yang dipenuhi orang yang makan apa saja, justru menjelang tidur.

Boleh jadi di perkotaan, dua belas jam siang dirasakan sangat kurang untuk aktivitas yang padat bertumpuk. Karena itu malam harus dihidupkan, dibuat menjadi menggairahkan. Hiburan, apapun bentuknya, menjadi keniscayaan. Mereka yang penat letih dibebani pekerjaan harus melemaskan otot, mengendorkan syaraf, dan memberikan kenikmatan bagi tubuh yang terasa nyeri oleh beban pekerjaan.

Kota tak pernah tidur, bagi mereka yang letih jiwanya. Wisata malam menjadi kebutuhan bagi mereka yang tak bisa memejamkan mata dan merasakan nikmat dan indahnya tidur. Insomnia atawa susah dan tak bisa tidur adalah anomali, penyakit yang menyerang banyak orang di dunia moderen. Bagi mereka wisata dan hiburan malam adalah keniscayaan. Itulah sebabnya mengapa diskotik, karaoke, klub, panti pijat, spa, dan wanita jalanan terus bertumbuh dan bertambah.

Di perkotaan, malam tak pernah hening dan teduh. Kegelisahan dan kesepian mereka yang dibebani pekerjaan dan disiksa insomnia sungguh dimanfaatkan untuk membuat malam penuh gairah. Di sinilah kapitalis mengambil kesempatan.

Mereka tak mau membiarkan malam menjadi "gelas kosong yang senyap", mereka dengan sengaja membuat layanan 24 jam, 7 hari, terus menerus tanpa henti. "Gelas-gelas harus diisi anggur merah kegairahan". Malam berubah menjadi "semangat yang membakar".

Mereka yang berpunya memenuhi karaoke, diskotik, spa dan klub mahal. Sementara yang pas-pasan boleh nikmati apapun di jalan dan pinggir jalan.

PERKOTAAN SUNGGUH ANOMALI NYATA BAGI KEMANUSIAAN.

Selasa, 05 April 2016

MOHAMMAD SANUSI DAN SYARIAT ISLAM

Jangan dengar apa katanya, cermati perilakunya!

Tak melepuh mulut katakan api, peganglah!

Mohammad Sanusi kader utama Partai Gerindra terkena operasi tangkap tangan (OTT) saat menerima suap dari pengusaha dalam kaitannya dengan proyek reklamasi Pantai Jakarta. Saat kecokot, Mohammad Sanusi sedang menerima suap kedua. Total suap yang Mohammad Sanusi terima adalah dua milyar rupiah. Bukan uang yang sedikit.

Bayangkan jika duit dua milyar itu dibagikan pada orang miskin di sekitar Luar Batang yang akan digusur, atau nelayan miskin di pantai-pantai Jakarta yang pasti tergusur karena proyek reklamasi itu, pasti sangat berguna. Karena itu, kita harus sangat curiga bila wakil rakyat bicara tentang rakyat. Kenyataannya diantara mereka tidak sedikit yang lebih mementingkan diri sendiri, mengumpulkan duit dalam jumlah besar bukan untuk rakyat, tetapi untuk diri sendiri.

Kita kini jadi semakin tahu mengapa para legislator di daerah dan di pusat bisa punya rumah berharga milyaran ditambah lagi mobil yang juga milyaran harganya. Mohammad Sanusi rasanya bukanlah satu-satunya yang mendapat milyaran dari suap. Kita belum lupa pada Sutan Bhatoegana kader Partai Demokrat dan banyak yang lainnya.
Kali ini Mohammad Sanusi yang terkena, mudah-mudahan yang lain, yang suka terima suap juga akan kecokot. Sehingga rakyat tahu siapa yang penjahat dan siapa yang baik.

Ada yang membuat penasaran berhubungan dengan Mohammad Sanusi, kader utama Partai Gerindra ini. Ia merupakan salah satu calon Gubernur DKI Jakarta bersama Mohammad Taufik, juga dari Partai Gerindra, yang pernah masuk penjara karena korupsi. Dua Mohammad ini kabarnya bersaudara. Sama-sama Mohammad dan sama-sama masuk penjara. Keduanya masuk penjara karena korupsi. Pendekatan apa ya yang terbaik untuk menjelaskannya? Biologi, tentang gen? Pendidikan, tentang pola asuh? Psikologi, tentang pengaruh orang terdekat? Ekonomi, tentang modal kecil dan untung besar? Sosiologi, tentang sistem kekerabatan? Entahlah.

Dalam kampanye untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta, Mohammad Sanusi menegaskan akan menerapkan Syariat Islam di Jakarta bila terpilih menjadi gubernur. Tampaknya bagus juga, sebelum diterapkan secara luas, Syariat Islam itu diuji coba pada diri Mohammad Sanusi saat ini.

Uji coba dimaksudkan untuk melihat keefektifan penerapannya. Rasanya tangan Mohammad Sanusi harus dipotong. Mungkin yang kanan, karena tidak sopan menerima uang banyak dengan tangan kiri.

Banyak pelajaran dari tertangkapnya Mohammad Sanusi dalam kaitannya dengan keinginannya menerapkan Syariat Islam di Jakarta. Sejumlah pelajaran itu adalah,

Pertama, apakah Mohammad Sanusi mengerti betul bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang berdasar Pancasila? Apakah Mohammad Sanusi tidak pernah belajar tentang sejarah Aceh secara rinci dan mendalam sehingga mengerti bagaimana akhirnya bisa menerapkan Syariat Islam? Apakah Mohammad Sanusi mengerti betul tentang Syariat Islam? Apa mungkin Mohammad Sanusi tidak mengetahui bagaimana Piagam Jakarta ditolak oleh para pendiri Republik Indonesia?

Jika Mohammad Sanusi mengerti Syariat Islam pastilah tidak bakal kena operasi tangkap tangan terkait suap. Bila Mohammad Sanusi paham tentang Konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sejarah perjuangan rakyat dan pemimpin Indonesia, pasti tidak gegabah menawarkan pemberlakuan Syariat Islam.

Kader-kader partai yang selalu dikaitkan dengan Islam yaitu PKB, PPP, PKS, dan PBB tidak berbicara tentang Syariat Islam dengan cara seperti itu. NU dan Muhammadiyah yang merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia juga tidak berbicara tentang Syariat Islam kayak begitu.

Semoga pada masa depan partai-partai politik lebih hati-hati memilih kadernya yang akan diajukan jadi pemimpin publik. Mereka harus memahami sejarah perjuangan rakyat Indonesia terutama terkait dengan ideologi negara. Apa mungkin kader partai yang katanya setia pada Indonesia tidak pernah menelaah sidang-sidang di Konstituante dan hasil-hasilnya serta akibat-akibatnya terkait ideologi negara? Sungguh! Terlaluuuuu!

Kedua, kita harus sangat hati-hati dan kritis bila ada orang, kelompok, partai politik, media massa berbicara tentang agama dalam konteks politik dan urusan publik lainnya. Apalagi jika mereka sebelumnya tidak pernah membuktikan perhatian dan kedekatannya pada agama. Jangan mudah percaya pada orang yang bicara agama, lihat perilakunya. Apakah sesuai dengan ajaran agama yang diomongkannya? Sebab agama itu bukan soal kepintaran omongan, tetapi pengamalan dalam hidup nyata sehari-hari.

Hati-hatilah, tidak sedikit orang dan kelompok orang, partai politik dan media massa menjadikan agama sebagai komoditi. Mereka "menjual agama dengan murah" untuk mencapai tujuan-tujuan jangka pendek demi mendapatkan kekuasaan dan keuntungan-keuntungan lainnya.

Mereka bahkan sama sekali tidak peduli bahwa menggunakan agama untuk mencapai tujuan-tujuan jangka pendek yang bersifat duniawi bisa berakibat fatal. Terutama di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat majemuk ini.

Alangkah tragis, Syariat Islam yang agung dan mulia ditawarkan oleh orang yang kemudian menjadi tersangka kasus korupsi hanya untuk jabatan remeh yaitu gubernur. Rasanya hanya para dajjal yang tega melakukan tindakan kayak begini. Memalukan, menjijikkan, dan sangat keterlaluan.

Ketiga, jika ada yang berpendapat jangan gunakan agama untuk dan dalam politik karena politik itu kotor dan agama itu suci, saya secara pribadi sama sekali tidak setuju. Jika memang praktik-praktik politik masih berlumur kotoran, maka kekuatan dan kesucian agama justru harus digunakan untuk membersihkannya.

Agama seharusnya dimanfaatkan untuk membuat politik itu bersih, lurus, bermanfaat, bermakna, mencerahkan dan mendorong kehidupan berbangsa dan bernegara semakin bermutu dan meninggikan kemanusiaan. Agama seyogianya menjaga agar politik adalah jalan untuk menegakkan keadilan, menciptakan kedamaian. Karena sejatinya agama adalah keteduhan yang penuh energi.

Dalam konteks ini, secara pribadi saya mengapresiasi PKS yang bertindak tegas dan proporsional terhadap kader utamanya Fahri Hamzah. Menggunakan semangat ajaran Islam, PKS tidak dapat menerima ketidaksantunan, ketidakpantasan ucapan dan perilaku Fahri Hamzah sebagai kader partai. Bukankah PKS adalah partai yang berusaha menjadikan Islam sebagai dasar perjuangannya.

Apa yang dilakukan PKS adalah keteladanan yang luar biasa. Ucapan dan perilaku tak santun dan tak pantas saja sudah cukup menjadi alasan kuat memecat seorang kader yang sedang menjulang dan berkedudukan tinggi. Apalagi sampai melakukan dugaan korupsi seperti yang dituduhkan pada Mohammad Sanusi, kader utama dan terpilih dari Partai Gerindra.

Namun, jika nanti terbukti PKS lakukan ini agar mendapat tempat dalam kekuasaan karena tindakan itu dilakukan tepat benar waktunya dengan akan dilakukannya perombakan kabinet, tentulah PKS tidak berbeda dari yang lainnya, yang suka "menjual agama". Hanya Allah yang tahu apa yang ada di hati manusia, dan apa yang terjadi pada masa depan. Manusia paling cuma bisa tebak-tebakan.

Dalam konteks ini, sangat tepat untuk mengingat apa yang dikatakan Muhammad Abduh, ulama besar dari Mesir yang pernah dipenjarakan rezim otoriter, pasti bukan karena korupsi seperti Mohammad Sanusi dan Mohammad Taufik. Abduh mengatakan bahwa Islam justru akan dilenyapkan oleh umat Islam sendiri.

Itu terjadi karena tidak sedikit umat Islam yang "menjual agama dengan murah" demi kepentingan-kepentingan duniawi yang bersifat jangka pendek. Bagi mereka, agama adalah komoditi yang dengan mudah dan murah digunakan sekadar untuk memperdaya orang.

SUNGGUH, HANYA PARA DAJJAL YANG SUKA MENJUAL AGAMA UNTUK KEPENTINGAN DUNIAWI.