Sponge Bob sedang bermain petak umpet dengan Gary. Tiba-tiba muncul
Patrick. Sponge Bob mengajaknya ikutan. Gary peliharaan Sponge Bob terus
menempel pada Patrick selama mereka bermain. Karena terus menempel, Patrick meminta
izin pada Sponge Bob agar Gery dibiarkan bersamanya semalaman. Sponge Bob yang
baik hati mengizinkannya.
Paginya, Gary tidak mau kembali pada Sponge Bob. Semakin hari, Gary
makin lengket menempel pada Patrick. Sponge Bob mengingatkan Gary bagaimana ia
sangat menyayanginya, memeliharanya dari kecil, dan mereka selalu bersama dalam
ceria dan duka. Sponge Bob juga jujur mengakui ia tidak dapat hidup tanpa Gary
sambil mencucurkam air mata. Namun, Gary tetap memilih menempel dan bermain
dengan Patrick.
Patrick dengan angkuh membaganggakan dirinya karena dipilih oleh Gary.
Sponge Bob sangat sedih. Ia mencoba menghibur diri dengan memelihara hewan
lain, bahkan yang mirip Gary dan diberi nama Lary. Namun tidak terdapat
kecocokan. Sponge Bob makin merasa ia tidak dapat hidup bila tak ada Gary si
sisinya. Ia mencoba mengingkari ini, namun gagal. Gary ternyata adalah belahan
jiwanya.
Suatu pagi Patrick menyambangi Sponge Bob untuk numpang mencuci
pakaian. Sponge Bob sekali lagi menunjukkan rasa sayang pada Gary, ia juga
dengan jujur menunjukkan betapa hancur hidupnya tanpa Gary, air matanya bahkan
sampai membasahi lantai. Gary kelihatan tak peduli, dan Patrick sekali lagi
menunjukkan bahwa dirinya adalah pilihan Gary. Gary lebih menyayanginya. Patrick
meminta Sponge Bob mau menerima kenyataan ini walau sangat pahit. Patrick
menyarankan agar Sponge Bob melupakan masa lalu yang indah bersama Gary. Gary
kini adalah miliknya, teman baiknya.
Patrick kemudian mulai mencuci. Ia melepas celananya dan memasukkannya
ke dalam mesin cuci. Gary yang tadinya menempel di tubuh Patrick kemudian
bergerak cepat ke dalam mesin cuci mengejar celana Patrick. Gary kemudian mengambil
biskuit yang ada dalam kantong celana Patrick dan memakannya. Selesai makan,
Gary kemudian berjalan menuju Sponge Bob dan menempel padanya. Patrick tak
habis mengerti. Rupanya Gary lengket padanya karena sekedar menginginkan
biskuit yang ada di kantong celananya. Patrick sangat sedih dan kecewa.
Sedangkan Sponge Bob larut dalam kegembiraan bersama Gary.
Siapakah di antara kita yang tidak merasa, pernah menjadi seperti
Patrick, Sponge Bob, dan Gary?
Bukankah kita juga pernah, bahkan sering mendekati seseorang hanya
karena ada maunya? Hubungan kita bangun tidak lebih dari sekedar transaksi atau
jual beli. Ada kepentingan , pamrih atau tujuan yang bersifat sementara, jangka
pendek, dan sepenuhnya duniawi yang menjadi landasan hubungan itu. Kita bisa
menunjukkan sikap yang luar biasa baik, peduli dan penuh perhatian. Padahal itu
sekedar strategi mencapai tujuan, karena ada udang di balik udang di balik
batu. Sadarkah, ketika melakukan itu, kita bukan saja membohongi, bahkan menipu
dan merendahkan diri sendiri dan orang lain sekaligus. Karena tak ada ketulusan
yang seharusnya menjadi fondasi hubungan antarmanusia.
Banyak mantan pejabat dan orang terkenal, sedih dan sangat kecewa,
bahkan ada yang sampai sakit ketika harus menghadapi kenyataan pahit dan
mengerikan. Banyak orang yang pada masa lalu sangat dekat, menghormati dan
sering dibantu, sekarang seperti tenggelam dibawa tsunami ke dasar samodra. Hampir
semua orang yang dulu berkerumunan di sekitranya, seperti tikus mengerubuti
keju, sekarang tak pernah keliatan jidat atau dagunya. Mereka kini faham, dulu
ketika memiliki jabatan atau kepopuleran, orang-orang sebenarnya tidak pernah
menghargai dirinya. Orang-orang sekedar menghotmati jabatan atau
kepopulerannya. Menghormati dan mendekatinya diharapkan bisa dapatkan sesuatu,
apapun itu.
Sungguh bukanlah hal mudah membangun, merawat dan mempertahankan
hubungan manusia yang manusiawi, yang didasarkan pada saling kasih, percaya,
dan menghotmati dalam balutan kehangatan keikhlasan. Banyak orang yang bersedia
datang pada pesta ulang tahun atau resepsi pernikahan. Tapi, ke mana mereka
ketika kita terkapar di rumah sakit atau ketika ada anggota keluarga kita
berpulang? Saat kita sungguh membutuhkan dukungan moral?
Perhatikan dengan seksama, dalam masyarakat kita sekarang ini, siapa
yang paling dihormati, dipuji, dan diakui sebagai orang yang penting. Apakah
mereka yang memiliki komitmen moral, orang yang memilih hidup sederhana
meskipun berpunya, atau mereka yang memiliki rumah paling bagus, besar dan
mewah, serta garasi mobil seperti tempat penjualan mobil?
Apa yang paling menonjol dalam iklan-iklan produk di berbagai media?
Penghargaan diberikan pada mereka yang memiliki attibut-atribut benda dan
keduniawian. Bahkan menjelang idul fitri dan natal, iklan yang menonjol adalah
tawaran materi, mulai dari sepatu, pakaian sampai mobil. Bahkan ada iklan mobil
yang menegaskan, Anda adalah apa yang Anda kendarai. Walah, betapa sedih nasib
kita yang mengendarai becak dan bajaj.
Berkunjunhlah ke mal, apalagi mal yang tergolong kelas atas. Bila kita
menggunakan pakaian sederhana, bisa-bisa diikutin satpam. Namun, bila kita
membawa peralatan yang terhitung mahal seperti ipad, maka semua penjaga counter
minyak wangi berebutan menawarkan dan menyemprotkan produk minyak wangi yang
dijualnya. Mereka tidak pernah perduli semua kemewahan yang ditampakkan itu adalah
hasil korupsi atau bukan. Yang dihargai adalah mereka yang berpunya.
Pembendaan manusia seperti ini tampaknya sudah menjadi cara penghayatan
kehidupan moderen. Sudah tak bersisa celah sedikit pun bagi mereka yang
mempraktikkan moralitas, kehidupan sederhana, dan mengembangkan kebersamaan
dalam kesetaraan. Tidak sedikit orang yang dikenal sebagai agamawan menggunakan
apapun yang bermerek sebagai cara untuk diperhitungkan keberadaannya, dan
meningkatkan bayaran berdakwah. Sudah banyak pula di antara mereka menjadi
bintang iklan produk, agar disebut agamawan moderen dan gaul. Sedangkan menjadikan
diri mereka sebagai keteladanan kesholehan, dan kesederhanaan hidup semakin tak
terlihat. Gaya hidup mereka beti alias beda-beda tipis dengan selebritis,
pengusaha, dan pejabat yang suka pamer kekayaan.
Dalam konteks seperti ini, orang-orang kecil, rakyat biasa, seringkali
diperlakukan layaknya sandal jepit. Digunakan hanya bila ada perlunya.
Dimanfaatkan bila ke wc, dan tak pernah digunakan saat masuk mal. Kita sering
tergelincir dalam pragmatisme ekstrim. Menilai manusia hanya dari seberapa
besar manfaatnya bagi kepentingan kita. Akibatnya, banyak orang yang kita
cintai, sayangi dengan sepenuh hati, pergi begitu saja, ketika dia tak lagi
rasakan manfaat kita bagi dirinya.
Mungkin itulah yang membuat kita menangis dari dalam hati saat menonton
Ainun & Habibie, karena ada cinta sejati di situ. Bahwa hubungan manusia
haruslah dibangun atas saling cinta dan saling membermaknakan, dalam susah dan
senang.
Kita mesti meyakini, mesti sulit dan sedikit, masih ada orang yang
membangun hubungan antarmanusia atas perasaan cinta dan kasih. Karena,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd