Tak pernah habis kata untuk
membincangkan dan mempersoalkan manusia. Sebab, manusia itu problematis dan
misterius, selalu tak terduga dan penuh kejutan. Orang-orang bilang, dalam
samudera bisa diukur, tapi siapa yang bisa mengukur dan menebak kedalaman
fikiran dan hati manusia?
Banyak pendekatan dan analisis yang
digunakan untuk memahami manusia, dari yang sangat fisik seperti biologi,
psikis dalam psikologi yang sampai menyelami alam bawah sadar manusia, sampai
yang reflektif dalam banyak aliran filsafat. Juga normatif dalam kajian agama.
Semua pendekatan itu memberi informasi
dan pemahaman yang semakin kaya dan mendalam tentang manusia. Tapi jangan
dikira manusia makin dimengerti. Seperti belut dalam genggaman, kata penyair
W.S Rendra.
Dalam beragam khasanah pemikiran klasik
ada satu pendekatan sederhana untuk memahami manusia, yaitu melihatnya sebagai
makhluk yang penuh lubang. Hitung ada berapa lubang dalam seluruh tubuh kita.
Ada dua lubang mata, dua lubang telinga, dua lubang hidung, satu lubang mulut, satu lubang kemaluan dan
satu lubang dubur. Perempuan memiliki lebih banyak lubang, ada tambahan dua
lubang pada puting susu.
Semua lubang itu memiliki fungsi yang
khas dan secara substansial menunjukkan hakikat manusia dan kemanusiaan kita.
Lubang mata tampaknya yang paling tinggi tempatnya, sedikit di atas lubang
telinga. Mata sangat penting karena kita melihat dan dapat memahami banyak hal
melalui lubang ini. Pertanyaan penting terkait mata pernah dikemukakan Budha.
Ia bertanya, "Kita melihat segalanya dengan mata, dapatkah kita melihat
mata kita sendiri?"
Ini semacam ironi dan paradoks
kemanusiaan kita. Seringkali mudah bagi kita menilai, mengeritik, dan menemukenali
kesalahan dan kelemahan orang lain. Tetapi mengapa sulit memahami, menilai, dan
menemukenali diri dan kesalahan sendiri? Keberadaan lubang mata, secara sangat
nyata menunjuktegaskan sisi kemanusiaan kita. Kita adalah makhluk yang
berorientasi ke depan, hanya melihat apa yang ada dipermukaan, ada keterbatasan
daya penglihatan, lebih mudah mengenali apa yang ada di luar diri, tapi sulit
memahami dan menyadari diri sendiri.
Mata lebih jujur menggambarkan rasa
hati kita yang terdalam. Mulut bisa dan biasa berbohong. Mata selalu jujur
mengungkapkan rasa hati, sebab mata adalah ventilasi jiwa. Lubang mata
menangkap apa pun yang ada di luar diri, juga mengungkap apa yang terjadi di
dalam diri. Tak usah takut untuk menangis, bila sedih atau bahagia, karena bisa
menyehatkan jantung.
Lubang telinga memberi kita kesempatan
untuk mendengar. Bayangkan jika menonton tarian dan musiknya tak terdengar,
pastilah terasa sangat aneh. Apa yang didengar pastilah mempengaruhi kita.
Berbeda dengan mata yang dapat menggambarkan jiwa dalam kita, telinga hanya
menerima suara dari luar, tak dapat menunjukkan apa pun dari diri kita.
Lubang mata dan telinga secara
bersama-sama menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang terbuka, terbuka
terhadap orang lain dan semesta raya. Keterbukaan itu sangat menentukan
keberadaan kita. Mengingkari fakta bahwa kita makhluk yang terbuka menunjukkan
telah terjadi anomali pada penghayatan hidup sebagai manusia.
Keterbukaan ini juga sekaligus
menegaskan, bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki ketergantungan dan
sangat rentan. Dunia luar sangat mempengaruhi, bahkan bisa mendominasi dirinya.
Perbuatan baik atau buruk yang dilakukan manusia bisa sangat dipangaruhi apa
yang dilihat dan didengarnya.
Turun sedikit, ada dua lubang hidung.
Meskipun bisa bernafas dengan mulut, hidunglah yang terutama berfungsi untuk
bernafas. Hidung bisa membaui dan juga
merupakan saluran pembuangan ingus. Kesempatan masuknya penyakit melalui hidung
sangat tinggi. Jadi, mesti sangat penting bagi hidup kita, hidung juga
merupakan jalan masuk berbagai bakteri dan virus yang bisa menghancurremukkan
kita.
Semakin terlihat, lubang-lubang
kemanusiaan menegaskan bahwa kita adalah
makhluk yang terbuka dan rentan. Alangkah ironisnya bila ada manusia menganggap
dirinya sangat luar biasa dan melebihi siapa pun. Lubang hidungnya sama saja
dengan lubang hidung siapa pun yang bisa kemasukan virus tanpa diketahui dan
disadarinya.
Berikutnya adalah lubang mulut, lubang
yang paling khas manusia. Meski punya mulut, hewan hanya bisa menggunakannya
untuk makan, menggigit dan mengeluarkan suara yang terbatas. Mulut manusia
merupakan tanda keunggulan. Makhluk berbicara ya hanya manusia. Berbicara
sangat khas dan membedakan manusia. Tidak ada lubang pada tubuh manusia yang
seaktif mulut.
Jika mata dan telinga lebih banyak
menangkap, mulut lebih banyak mengungkap. Mulut bisa dimasuki makanan dan
minuman, tetapi dapat mengeluarkan pujian dan makian. Mulut bisa mencelakakan
kita, bukan karena apa yang kita makan dan minum, tetapi juga karena apa yang
bisa kita ungkap dan katakan. Mulutmu adalah lasermu! Mulutmu adalah harimaumu!
Mulutmu adalah bumerangmu! Mulutmu adalah kuburanmu! Mulutmu adalah sahammu!
Banyak ungkapan yang bisa dibuat untuk menggambarkan fungsi dan kepentingan
mulut kita.
Mulut bukan saja dengan tegas
membedakan kita dari binatang, juga dari makhluk lain seperti malaikan, dan
iblis. Sebab mulut kita dapat digunakan secara positif dan negatif. Bisa
dipakai untuk memuji dan memaki, zikir dan satir, wiridan dan hujatan.
Dua lubang yang paling bawah yaitu
lubang kemaluan dan dubur merupakan tempat pembuangan dan pelepasan. Tanpa
lubang dubur, kita bukanlah manusia normal. Lubang kemaluan bahkan menjamin
kelangsungan keberadaan manusia. Kedua lubang ini juga menunjukkan bahwa
manusia adalah proses yang tak kenal henti. Kita mengetahuinya dari apa yang
dihasilkan oleh kedua lubang ini. Dalam konteks ini bisa dipahami mengapa tidak
ada manusia suci. Para nabi bukanlah manusia suci, tapi disucikan. Karena
selama masih hidup manusia terus berproses, dan ada kotoran yang terus disimpan
dalam tubuhnya sebagai akibat dari proses itu. Melalui lubang dubur kita lepas
dipagi hari. Biasanya orang disebut
sebagai manusia suci bila ia telah berpulang. Karena proses berhenti, dan
lubung dubur tak lagi diperlukan, juga lubang kemaluan. Yang diperlukan hanya
satu, lubang kubur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd