Nusa Putra
Aku percaya, sebagai sebuah
keterampilan, menulis lebih ditentukan oleh latihan dan pembelajaran daripada
bakat atau talenta. Aku merasa tidak memiliki bakat menulis, tetapi aku
belajar, berlatih dan melakukan pembiasaan sampai terbentuk kebiasaan menulis.
Sekarang aku merasa aditif atau memiliki ketergantungan pada menulis. Ini
ketergantungan yang baik. Bisa jadi sudah menjadi writingcholic penyakit untuk terus menulis. Penyakit yang semoga
tidak pernah sembuh. Hasilnya lumayan, 2011 aku menulis enam buku yang semuanya
telah diterbitkan, dan 2012 menulis enam tiga perempat atau hampir tujuh buku, yang sudah dan segera
akan terbit.
Pada 2011 aku menulis buku:
1. Penelitian Kualitatif: Proses dan
Aplikasi (INDEKS, 2011 & 2012)
2. Riset Partisipatori (KEMENAG, 2012)
3. Research & Development:
Penelitian Pengembangan Suatu Pengantar (RajaGrafindo, 2011,2012)
4. Penelitian Kualitatif PAUD, bersama
istri: Ninin Dwilestari (RajaGrafindo,2012)
5. Penelitian Kualitatif PAI, bersama
mahasiswa: Santi Lisnawati (Rosda Karya, 2012)
6. Metodologi Penelitian Kebijakan,
bersama teman: Hendarman ( Rosda Karya, 2012).
Sementara itu tulisanku juga termuat
dalam kumpulan tulisan pada buku yang berjudul:
1. Filsafat Ilmu Lanjutan (Kencana
Prenada, 2011)
2. Bunga Rampai Problematika Bahasa
Indonesia (Trikarsa Media, 2010).
Pada 2012 aku melanjutkan kebiasaan
menulis buku dan lahirlah buku-buku:
1. Penelitian Kualitatif Prndidikan
(RajaGrafindo,2012)
2. Metode Penenelitian Campur Sari,
bersama teman: Hendarman (INDEKS, 2013)
3. Penelitian Kualitatif Ilmu Sosial
(Sinar Harapan, 2013)
4. Penelitian Kualitatif Manajemen
(RajaGrafindo, 2013)
5. Peningkatan Kualitas Pendidikan
Dasar (Balitbang, KEMDIKBUD, 2013)
6. Einstein Galau dan Sponge Bob
Kesepian
7. Penelitian Tindakan Partisipatori,
Pendidikan dan Organisasi (hampir selesai).
Pada 1994 bersama teman-teman aku
menulis Buku Pelajaran Bahasa Indonesia
untuk SMP sebanyak 6 jilid (Aries Lima). Kemudian skripsi S1 ku berjudul Pemikiran Soedjatmoka tentang Kebebasan
diterbitkan Gramedia yang bekerjasama dengan Yayasan Soedjatmoko. Pada masa ini
sejumlah tulisanki dimuat di KOMPAS dan MEDIA INDONESIA, serta sejumlah
penerbitan berbagai kampus, dan jurnal-jurnal.
Pada 1996, pengalaman memberdayakan
anak jalanan aku tuliskan dan menjadi bagian dari buku Dehumanisasi Anak Marjinal: Pengalaman Pemberdayaan (Akatiga). Pada
2000 sebagai bahan kuliah aku menulis Penelitian
Kualitatif dan Action Research dalam Pembelajaran Bahasa (Manasco).
Sebagai penulis berbobot (ini berkaitan
dengan berat badan 83 kg saat membuat tulisan ini), rasanya pantas aku berbagi
dengan siapa pun yang ingin menulis dan menjadi penulis. Berbagi pengalamanku
menulis dari waktu ke waktu, dari buku ke buku. Pengalaman menulis tiap buku
tidak sama persis, ada kekhususan terkait dengan topik buku yang ditulis,
waktu, dan kesibukan dalam pekerjaan.
Paling tidak ada tiga hal yang ku rasa
sangat berguna untuk dibagikan yaitu:
1. Pengelolaan waktu dan kondisi
2. Proses penulisan
3. Sumber-sumber tulisan.
1. Pengelolaan waktu dan kondisi
Aku agak sibuk karena banyak kewajiban
dan pekerjaan. Pada semester pertama 2012, aku mengajar Dasar-Dasar Filsafat 4
SKS dan 4 kelas di Jurusan Sastra Inggris, Filsafat Ilmu 2 SKS dan 2 kelas di
Program Studi Pendidikan IPS semuanya di UNJ, serta Metodologi Pembelajaran 3
SKS di Pasca UIKA Bogor. Ikut serta dalam kegiatan penelitian dan menjadi
narasumber, instruktur, penyaji, pembahas, perumus dalam berbagai kegiatan
penelitian, seminar, pelatihan dan lokakarya nasional yang diselenggarakan oleh
Balitbang Kemdikbud. Kegitan ini mengharuskanku melakukan perjalanan keliling
ke berbagai tempat di Indonesia. Aku juga diundang menjadi pembicara oleh
banyak perguruan tinggi, dinas pendidikan, sekolah dari PAUD sampai dengan SMU
di Jabodetabek dan Jabar. Tambahnnya adalah membantu Direktorat PAUDNI Kemdikbud
untuk pengembangan Model Pembelajaran PAUD, monitoring dan evaluasi program
bantuan. Sebagai relawan sosial mesti juga menyediakan waktu untuk mengurusi
anak jalanan. Pada semester kedua keadaannya lebih parah, sebab kegiatan makin
menumpuk, dan yang diajar kelas seeta SKSnya makin banyak. Dari semester ke
semester selalu begitu.
Oleh karena setiap waktu keadaannya
seperti itu, aku menyusun strategi pengelolaan waktu berdasarkan paradigma
shalat. Setidaknya ada dua hal yang aku jadikan pedoman dari shalat. Pertama,
shalat dilakukan setiap hari dan berkali-kali. Kedua, shalat melatih kita
berdisiplin, khusuk atau fokus, dan mengembangkan daya tahan serta konsistensi
jangka panjang.
Atas dasar paradigma shalat itu, aku
menulis setiap hari dan berkali-kali, kapan dan di manapun. Shalat
membiasakanku untuk disiplin dan konsisten. Aku memang sangat disiplin dan
konsisten, setiap hari menulis berkali-kali, apapun keadaannya.
Siapa pun tidak dapat menulis bila
tidak khusuk atau fokus. Dalam kaitan inilah aku selalu bilang, Anda bisa
menulis kalau punya pantat, menulis itu lebih membutuhkan pantat daripada otak.
Maksudnya adalah, Anda harus menyediakan waktu untuk duduk dan khusuk. Jika
sudah duduk dan khusuk, percayalah otak kita bisa bekerja dengan optimal. Secerdas
apapun otak kita, bila tak ada waktu untuk duduk dan khusuk, jangankan buku,
satu kata pun tak akan bisa ditulis.
Memang, pada mulanya aku pun agak sulit
menulis kapan dan di mana pun. Ada saja gangguan. Mulai dari keributan yang
muncul dari mana saja seperti orang berbincang dan suara kendaraan, sampai ada
orang iseng yang nanya macem-macem ketika melihat kita menulis. Percayalah, itu
semua bisa diatasi, katakan pada diri kita, AKU MAU FOKUS MENULIS. Otak kita
bisa diarahkan. Kitalah yang harus mengarahkannya. Makanya, kepada teman-teman
dekat aku selalu mengirim sms: SEMANGAT DAN FOKUS. Ini modal untuk menghadapi
apa saja, juga untuk menulis.
Aku sepenuhnya percaya karena
mengalami, bahwa keberhasilan dalam hidup dan menulis hanya bisa dicapai jika DISIPLIN DAN FOKUS.
Ada sejumlah orang yang hanya bisa
menulis bila ada mood. Mohon maaf,
aku sama sekali tidak percaya pada pandangan itu. Aku suka bilang kalau gak mood ya ngemut atau di emut-emut aja.
Terrserah mau ngemut apa dan apanya yang diemut. Aku percaya kita bisa
mengkondisikan diri. Menciptakan mood. Karena
itu aku menciptakan WAKTU EMAS untuk menulis.
Aku mengikuti waktu tidur anakku
Khalifa Lyan Bohemianda yang kini kelas satu di SMP ALMUSLIM Bekasi yaitu pukul
21.00 atau 21.30. Aku biasakan untuk bangun pukul 02.an. Aku shalat dan
berzikir. Aku juga berdoa, tetapi jarang dengan kata-kata, karena air mata
biasanya sudah luruh dan mengalir, saat doa baru saja akan dimulai. Aku yakin
berdoa dengan air mata itu lebih baik, karena Allah menangkap denyut
kemanusiaan kita yang utuh. Ya kita semua bukan orang suci, pastilah pernah
berbuat salah dan dosa. Memohon pada Allah adalah keniscayaan.
Setelah itu, aku mulai menulis sampai
menjelang shalat subuh. Inilah waktu emasku. Aki sendiri acap kali kaget,
karena hasil tulisan biasanya sangat banyak, semuanya seperti lahar dingin yang
meluncur dari puncak gunung ke sungai. Mengalir dengan sangat cepat.
Ungkapan-ungkapan indah dalam tulisanku biasanya muncul pada waktu ini. Waktu
emas ini memberiku inspirasi dan kekuatan luar biasa.
Untuk menciptakan waktu emas ini tentu
aku harus mengorbankan yang lain. Aku harus rela mengurangi jatah tidur, dan
mengganti kebiasaan menonton Barcelona menjadi kebiasaan menulis. Pada mulanya
memang terasa sangat berat. Sekarang sudah jadi kebiasaan yang enteng. Malah
ada rasa gak enak, bila tidak melaksanakannya, seperti ada yang hilang di dalam
diri, entah apa itu yang hilang. Tapi ya gak enak aja.
Jika Anda ingin menjadi penulis
ciptakanlah waktu emas itu. Anda yang paling tahu saat yang terbaik untuk
dijadikan waktu emas Anda. Saat Anda bisa dengan enjoy dan larut dalam tulisan.
2. Proses penulisan
Aku sangat intuitif. Bila menggunakan
pendekatan belahan dan quadran otak, mungkin bagian bawah dan atas belahan otak
kananku lebih dominan. Jadi, aku lebih suka mengalir, berpetualang, dan
memasuki ketidakpastian, tantangan yang tak terukur, dan dalam beberapa hal
menentang arus. Komitmen, disiplin, konsistensi dan fokus merupakan tali
kendali bagi keliaran kecenderungan ngananku. Namun, untuk keperluan
kreativitas menulis, aku izinkan diriku untuk menikmati keliaran itu
Itulah sebabnya dalam menulis aku
mendahulukan menulis langsung, menulis mengikuti hati dan mengalir, hanyut dan
tenggelam dalam prosesnya. Aku tidak pernah membuat kerangka karangan.
Satu-satunya buku yang ditulis agak teratur adalah Penelitian Kualitatif:
Proses dan Aplikasi. Sebab aku memulainya dari bab satu dan dua, kemudian
membuat bab terakhir, baru kembali lagi ke depan. Jadi, bolak-balik, ngacak.
Buku yang lain lebih ngacak dan ngaco.
Aku biasa memulai dari mana saja. Aku hanya menulis dan menulis sesuka hati.
Membiarkan fikiran berkembang dan berpetualang ke mana saja. Aku tidak peduli
apakah yang ku tulis tepat atau tidak, benar apa salah.
Saya ikuti saja ke mana pikiran
bergerak. Kadang layaknya air bah, kadang bagai lahar dingin kena hujan deras.
Acapkali seperti gelombang laut ditiup angin sepoi. Aku sungguh tak
memperhatikan diksi atau pilihan kata, efektivitas kalimat, dan kelengkapan paragraf.
Menulis bagiku ya menulis apa pun yang muncul dalam pikiran untuk ditulis. Aku
tidak mau jadi polisi, jaksa atau hakim bagi diri sendiri. Aku hanya mau jadi
diri sendiri yang larut dalam tulisan.
Bila tulisan itu sudah selesai ditulis,
berapa pun banyaknya, ya sudah aku simpan. Aki mengerjakan yang lain. Apa
sajalah seperti jalan-jalan pagi, menonton siarang lansung liga Inggris, atau
berbincang dengan istri dan anakku. Setelah itu, barulah tulisan itu ku longok
kembali. Membaca ulang dan menatanya.
Mengapa aku berbuat seperti itu. Bila
tulisan yang baru saja ku tulis dan langsung dibaca ulang, biasanya aku sulit
menemukan kesalahan dan sulit juga menambahkannya jika perlu tambahan. Sebab,
bila selesai ditulis dan langsung dibaca, yang kita baca bukanlah tulisan yang
tertera di layar laptop atau di atas kertas, tetapi kita masih membaca apa yang
ada dalam fikiran kita saat menulis. Kita bukan melihat tulisan yang baru jadi
itu. Namun, mempersepsinya yaitu melihatnya dengan mata fikiran. Itu gunanya menjaga jarak dengan tulisan.
Bukankah gunung indah dilihat justru dari kejauhan. Bukankah rasa kangen baru
muncul bila jauh dari orang yang dicintai? Begitupun dengan tulisan.
Pada tahap penataan inilah aku perbaiki
apa yang salah. Aku tentukan bagian mana yang perlu dicarikan teori, data atau
gambar pendukung. Bila sejak mula disibuki oleh teori, data atau pendukung yang
lain, pasti tulisanku tak pernah selesai. Jadi, segeralah menulis bila memang
ingin menulis. Atau tulis saja apa pun yang ingin ditulis, mengalirlah,
tenggelamlah, nikmati aja. Setelah itu, sediakan waktu untuk membaca ulang,
menatanya agar jadi tulisan bagus. Aku tidak
pernah berfikir tulisan bagus bisa dihasilkan secara instan. Ada proses
yang perlu dinikmati, dihayati dan dilalui.
Aku selalu menjaga silaturahmi dengan
tulisan. Apa maksudnya? Bila aku perhitungkan acara akan sangat padat, maka di
pagi hari aku melanjutkan tulisan yang sedang dikerjakan sedapatnya. Satu
kalimat pun tak apa. Nanti malam, saat hendak tidur dan sangat letih, aku buka
tulisan yang telah jadi secara acak. Aku baca yang mana saja dan aku ganti satu
kata, misalnya bisa menjadi dapat. Kemudian tulisan itu ku simpan.
Ini ku lakukan untuk mengikuti sifat
alamiah otak semua manusia. Bila tulisan lama tidak dilongok, dibaca ulang dan
ditambahkan, kita seperti membuat tulisan baru. Semua kita menyadari, memulai
itu selalu sulit, pun ketika sewaktu malam pengantin baru. Apalagi sewaktu
menulis. Menjaga silaturahmi dengan tulisan itu, bagiku sangat penting.
Pada dasarnya saya aku menulis di mana
saja dalam suasana apapun. Meski ada keributan atau bau tidak sedap. Namun,
jika memungkinkan, menulis sambil mendengarkan lagu atau musik membua aku lebih
enjoy, tak penting lagu apa, aku
menyukai hampir semua lagu dan musik. Terkadang aku menulis sambil mendengarkan
gandrung Banyuwangi, saluang Padang, Stanley Jordan, Earl Klugh, atau doa Budha
Tibet. Ada saatnya aku asyik mendengarkan lagu-lagu yang diproduksi oleh
Putumayo. Tapi, aku tetap bisa enjoy
menulis dikeributan dan bau amis di pelelangan ikan Muara Angke. Sebagian
naskah Penelitian Tindakan, aku tulis di Muara Angke ketika menunggu mahasiswa
yang hendak melakukan studi di Pulau Pramuka.
Sewaktu mendampingi mahasiswa studi ke
Baduy, aku menginap di kampung Baduy Luar. Di tengah malam, aku bangun dan
menulis dikesyahduan gulita malam memanfaatkan ipad yang bisa digunakan dalam
kegelapan. Besok malamnya, saat kaki keram dan nyeri karena berjalan ke Baduy
Dalam, aku tetap bangun tengah malam untuk menulis. Dalam kondisi, keadaan, dan
suasana apa saja, aku usahakan untuk tetap bisa menulis, ya seperti shalat.
Aku kadang mencari suasana-suasana baru
untuk menulis. Duduk santai menulis di sebuah sudut Grand Indonesia yang mewah,
tapi gratis. Pernah juga aku pergi ke kuburan yang dekat dengan perempatan
Slipi. Aku suka suasananya, tenang, luas, dan membuat aku lebih menghargai
hidup. Ketika berceramah di Makasar, aku menulis dekat kolam renang yang ada di
bagian belakang hotel, segar sekali suasanya. Gak tahu apa yang bikin segar,
mungkin air kolamnya yang bening dan isinya yang tak kalah bening. Aku memang
kerap membuat eksperimen, mencari tempat, suasana, dan waktu yang beragam untuk
menulis.
Dalam konteks ekperimen ini aku mencoba
merubah beberapa kebiasaan. Biasanya dalam perjalanan ke tempat kerja atau
terkena macet di Jakarta yang padet meredet, aku membaca atau mengoreksi
tulisan. Aku coba untuk mulai menulis. Setiap kali tulisan selesai, dibaca
ulang dan diperbaiki, langsung tulisan itu ku email ke teman-teman. Alhamdullillah,
kini sudah selesai lebih dari 30 tulisan, melampaui 100 halaman, belum sampai
satu bulan. Sementara naskah itu aku beri judul Einsten Galau, Sponge Bob Kesepian. Beberapa penerbit berhasrat
menerbitkannya. Ada dua mahasiswaku yang membuat blog untuk mengumpulkan
tulisan-tulisan itu. Pertama, Juangtualang's blog yang juga berisi contoh
proposal penelitian tindakan partisipatori dan kualitatif. Kedua,
paknusa.blogspot.com. Bila Anda tertarik membacanya silahkan kunjungi blog
tersebut.
3. Sumber-sumber tulisan
Aku sepenuhnya percaya siapa pun bisa
menulis. Sebab sumber tulisan itu banyak sekali. Bagiku apapun bisa menjadi
sumber tulisan. Apa yang kita khayalkan, rasakan, fikirkan, lihat,dengar, baui,
baca, bicarakan dan diskusikan bisa menjadi sumber tulisan. Bukuku Riset
Partisipatori dan Peneliian Kualitatif: Proses dan Aplikasi, 90 persen berisi
pengalaman mendampingi, dan memberdayakan anak jalanan, dan beberapa penelitian
kualitatif di Kepulauan Seribu, serta sejumlah daerah kumuh di Jakarta. Karena
itu aku bisa menyelesaikannya dalam hitungan hari.
Bila ingin menulis buku tentang
sesuatu, misalkan Penelitian Kualitatif Manajemen, aku menuliskan saja dulu apa
yang sudah dimiliki yaitu apa yang aku alami, fikirkan, dan khayalkan. Kemudian
aku mencari buku-buku terbaru tentang topik itu. Lantas aku membaca semua buku
itu. Aku tidak pernah hanya mencari kutipan atau yang dibutuhkan saja. Aku
harus menangkap secara holistik-komprehensif gagasan-gahasan pokok, contoh dan
aplikasinya. Aku hanya memberi tanda berupa lipatan kecil pada halaman yang ku
rasa penting. Sengaja tidak membuat catatan, atau menggunakan stabilo. Sebab,
mencari ulang sekali lagi dengan membaca ulang ketika bahan itu dibutuhkan,
sangat efektif untuk membantuku merekonstruksinya dalam tulisanku. Terlihat
tidak efektif, tetapi bagiku itu sangat bermakna.
Menulis memanfaatkan bacaan bagiku sama
persis seperti makan. Bila kita makan, kita sangat menikmatinya. Setelah itu
kita tidak lagi memikirkan makanan itu. Biarkan makanan itu berproses dalam
pencernaan, kemudian besok pagi siap dilepaskan ketika buang hajat. Begitulah
aku membaca. Saat membaca, aku benar-benar menikmati dan serius, setelah itu
aku mengerjakan apa saja dan tidak memikirkan bacaan itu. Biarkan semua bacaan
itu mengalami peragian di alam otak. Nanti, pada waktunya ia muncul menjadi
fikiran yang siap ditulis. Aku tidak menunggu ia muncul, biasanya aku usahakan
untuk muncul, namun harus ada waktu untuk membiarkan bahan-bahan itu mengalami
peragian lebih dahulu. Kadang lama, kadang sebentar. Aku yakin banyak membaca
sangat membantu untuk menulis. Tetapi bukan hanya membaca, berkahayal,
berbincang, dan berdiskusi juga sangat membantu.
Aku meyakini, orang-orang yang
berprofesi sebagai pengajar seharusnya lebih mudah menulis. Saat mereka
mengolah bahan dan menjelaskannya kepada siswa, seringkali ada gagasan atau
ide-ide tak terduga yang merupakan campuran atau sintesis dari bacaan, fikiran,
pengalaman, dan tantangan untuk memberi penjelasan yang mudah difahami. Aku sering mengalami itu, dan sesegera
mungkin menuliskannya, sebelum ide itu tenggelam dalam rutinitas pekerjaan.
terimakasih atas inspirasinya, membuat saya ingin mencoba dan berlatih untuk menulis :)
BalasHapusnama : anggi ratna furi
jurusan p.ips 2013 reg b
Titin watini
BalasHapusP.IPS non reguler 2013
tulisannya keren pak, membuat saya terinspirasi dalam menulis. "perhitungkan acara akan sangat padat, maka di pagi hari aku melanjutkan tulisan yang sedang dikerjakan sedapatnya. Satu kalimat pun tak apa. Nanti malam, saat hendak tidur dan sangat letih, aku buka tulisan yang telah jadi secara acak. Aku baca yang mana saja dan aku ganti satu kata" dari kutipan tersebut saya ingin tanyakan, apakah bapak pernah mengalami tidak adanya inspirasi atau bahasan topik ?? sedangkan dari kutipan tersebut bapak slalu menggunakan waktu senggang walaupun sebentar.
Assalamualaikum Bapak Nusa. Saya Suci Ramadhaniyati p. ips non reguler. Tulisan Bapak sangat menggugah saya untuk menjadi seorang penulis seperti Bapak. Tulisan Bapak sangat bermanfaat untuk memotivasi mahasiswa supaya membudayakan menulis dimanapun dan kapan pun. Saya juga setuju dengan Bapak kalau menulis itu dilakukan seperti sholat, harus dilakukan secara rutin. Saya juga dapat merasakan kenikmatan menulis kala saya berimajinasi dengan kata-kata. Saya suka berimajinasi maka saya tuangkan imajinasi saya dalam tulisan. Mungkin saya bisa belajar banyak dari Bapak tentang tata cara penulisan yang efisien dan rapi. Saya sangat terinspirasi untuk menulis buku seperti Bapak. Akhir kata sayaemgucapkan terima kasih, Wassalamualaikum. Wr. Wb
BalasHapusAssalamualaikum Bapak Nusa. Saya Suci Ramadhaniyati p. ips non reguler. Tulisan Bapak sangat menggugah saya untuk menjadi seorang penulis seperti Bapak. Tulisan Bapak sangat bermanfaat untuk memotivasi mahasiswa supaya membudayakan menulis dimanapun dan kapan pun. Saya juga setuju dengan Bapak kalau menulis itu dilakukan seperti sholat, harus dilakukan secara rutin. Saya juga dapat merasakan kenikmatan menulis kala saya berimajinasi dengan kata-kata. Saya suka berimajinasi maka saya tuangkan imajinasi saya dalam tulisan. Mungkin saya bisa belajar banyak dari Bapak tentang tata cara penulisan yang efisien dan rapi. Saya sangat terinspirasi untuk menulis buku seperti Bapak. Akhir kata saya mengucapkan terima kasih, Wassalamualaikum. Wr. Wb
BalasHapusassalamualaikum wr.wb. pak saya Ilmiawan dwi yulianto P.IPS kelas reguler A. menurut pendapat saya posting bapak sangat menarik untuk di jalanin. sangat bagus dan terinspirasi. terimakasih wassalamualiakum wr.wb
BalasHapusassalamualaikum Wr.Wb.
BalasHapusBapak, saya Annisa Ekafenty Ramadhania dari kelas reguler a PIPS 2013. setelah membaca postingan blog Bapak, membuat saya terinspirasi untuk menulis lebih berkarya seperti Bapak. karya yang Bapak buat sangat menginspirasi untuk saya. terimakasih Bapak Wassalamualikum Wr.Wb
Nama saya, Yuny Artha Kelas B Jrusan Ips
BalasHapusSetelah selesai membaca "Menulislah Sperti Shalat" saya sangat merasa terinspirasi untuk menulis seperti shalat walaupun agama saya non muslim. Karena saya termaksud orang yang susah untuk membuat sebuah tulisan atau karangan. dan juga saya bukan orang yang percaya diri dalam membuat tulisan. Saya sangat setuju dengan pendapat Bapak bahwa menulis harus dilakukan berkali kali, disiplin, fokus dan menghasilkan tulisan bagus harus mempunyai proses tidak bisa secara instan.
Didalam tulisan "menulislah seperti shalat" banyak pesan-pesan yang Bapak sampaikan untuk orang pemula seperti saya. Tulisan ini bapak kemas dengan sangat santai dan mudah dipahami. Bapak menulis menurut pengalaman Bapak sehingga apa Bapak paparkan sesuai dengan keluhan kami saat menulis. Saya akan mencoba untuk menulis seperti yang sudah Bapak paparkan diatas. terima kasih ya Pak..
Assalamu'alaikum wr. wb.
BalasHapusPerkenalkan, saya
Nama: Siti Amellia Rachmah
Kelas: Reguler B 2013
Prodi: Pendidikan IPS
Setelah saya membaca artikel bapak, saya terinspirasi untuk menulis. Ternyata menulis itu mudah, hanya menuruti kata hati kita maka menulislah luapkan apa yang ada di hati dan pikiran kita, tumpahkan saja seperti banjir dan mengalir seperti air yang mengalir ke segala arah, begitulah kata pak nusa. Saya sangat termotivasi setelah membaca artikel "menulislah seperti shalat" ini, saya ingin menulis dan meluapkan apapun yang ingin saya tulis. Namun ada kendala pada diri saya ketika ingin menulis, yaitu mood. Terkadang saya tidak mood untuk menulis, bagaimana cara agar membangun mood itu pak dan bagaimana saya menyikapinya?
Terimakasih pak atas inspirasinya
wassalamu'alaikum Wr. Wb.
NAMA : TEGUH AJI PUTRA
BalasHapusJURUSAN : PENDIDIKAN IPS B 2013
Saya sangat kagum dengan apa yang anda tulis pak terutama pas dibagian "menulis itu lebih membutuhkan pantat daripada otak. Maksudnya adalah, Anda harus menyediakan waktu untuk duduk dan khusuk. Jika sudah duduk dan khusuk, percayalah otak kita bisa bekerja dengan optimal. Secerdas apapun otak kita, bila tak ada waktu untuk duduk dan khusuk, jangankan buku, satu kata pun tak akan bisa ditulis". Dan ada satu lagi bapak mengatakan "kebanyakan orang mau menulis/membaca kalau kita baru mood" jujur itu memang benar pak saya sendiri merasakannya ketika mood saya lagi drop saya malah merasa malas untuk melakukan sesuatu jangankan membaca untuk bangun saja malas.
intinya tulisan bapak bagi saya SUPER SEKALI....
assalamualaikum pak nusa. saya rizky rachmawati dari p.ips reg A pj mata kuliah bapak.
BalasHapussetelah membaca tulisan bapak jujur saya tertarik untuk menulis tapi ketika saya ingin menulis ada saja gangguan dan halangannya dan juga kadang kalau mood lagi tidak kepengin tidak ada satupun kata-kata di otak saya. sikap disiplin, konsisten dan waktu emas bapak akan saya tiru pak. trimakasih. wassalamualaikum pak
saya suka dengan kata-kata ini "Aku percaya, sebagai sebuah keterampilan, menulis lebih ditentukan oleh latihan dan pembelajaran daripada bakat atau talenta" kata-kata tersebut membuat saya termotivasi untuk menulis :)
BalasHapusSiti Chadijah
BalasHapusP.IPS B
setelah membaca tulisan bapak, saya jadi termotivasi untuk terus belajar menulis dengan metode-metode yang telah bapak berikan.
Setelah saya membaca Menulislah Seperti Shalat menurut saya artikel ini sangat menginspirasi saya sebagai orang awam dalam dunia menulis, dan ilmu saya mengenai menulis jadi bertambah . Terima kasih pak .
BalasHapusSiti Chadijah
BalasHapusP.IPS B
setelah membaca tulisan bapak, saya jadi termotivasi untuk terus belajar menulis dengan metode-metode yang telah bapak berikan.
Menulislah seperti shalat ini sangat memberikan inspirasi untuk menulis. Selain itu juga memberikan pengetahuan cara menulis yang baik dan menyenangkan. Menulislah seperti shalat ini mengajarkan kita untuk fokus terhadap sesuatu dan disiplin, baik disiplin waktu maupun disiplin dalam hal apapun. Bacaan ini sangat menarik untuk dibaca dan membuat para pembaca ingin membaca ulang bacaan ini.
BalasHapusArlietha Noveliza
NIM : 4915131392
jurusan : Pend.IPS A
Assalamualaikum, pak nusa. Saya awalnya bingung kenapa dapet tugas disuruh komentar. Bukannya kalo sesuatu yang dikomentarin itu berarti sesuatunya itu ada yang kurang atau ada yang salah ya pak? Tapi ketika saya baca artikel bapak ternyata menurut saya ini tips. Dan menurut saya tips itu kan ga ada yang salah, tergantung yg dapet tips aja mau ngejalanin apa ngga. Makasih ya pak, artikelnya sangat menginspirasi. Saya jadi pengen ngerasain nulis di tempat yang kira-kira bisa ngasih pencerahan buat bikin tulisan bagus. Kapan-kapan mau nyoba deh!
BalasHapusNama: kusumaningdyah
Kelas: P.ips reg B 2013
Nim: 4915133417
Nama:Adesari siagian
BalasHapusJurusan;p.ips
pak,saya kurang mempunyai hobby menulis,menurut bapk apa yg harus saya lakukan untuk membangkitkan semangat saya dalam menulis?
tulisannya sangat menginspirasi bagi yang membaca terkhusus untuk saya sendiri semoga saya bisa lebih giat dan mencintai tulis menulis
BalasHapusnazia maulia amini
4915131373
p.ips reguler 2013
SITI MARIA ULPAH 4915131401 P.IPS Reg A 2013. Saya baru membaca blog ini setelah sebelumnya salah memberi komentar di menulislah seperti sholat 4, pantas saja saya tidak mengerti maksudnya. Tulisan bapak sangat membuat saya ingin tertawa karena diselipkan kalimat-kalimat lucu. Saya membaca tulisan ini sambil mendengarkan lagu Bruno Mars, dan ya! Kalimat bahwa rasa kangen baru muncul bila jauh dari orang yang dicintai. Haha membuat saya ingin melanjutkan tulisan saya. Ternyata Bapak lebih sibuk dibanding apa yang saya pikirkan, bahkan bapak rela bangun jam 2 hanya untuk menulis, itu suatu pengorbanan yang luar biasa, memang kalau tidak diawali semua yang kita inginkan tidak akan pernah terwujud kalau hanya memikirkan 'akan seperti apa'. dan untuk menciptakan mood, saya rasa harus membangun itu mulai sekarang. menulis harus dibiasakan, namanya tulisan sendiri, suka-suka kita mau seperti apa. saya jadi tidak ragu untuk menulis apapun, terutama yang menyangkut pribadi. ucapan dapat hilang, tetapi tulisan akan tetap dikenang. Salam:'")))))
BalasHapus