Tadinya tak seorang pun yang percaya
bahwa batuk biri-biri di peternakan-peternakan Australia dapat mempengaruhi
suhu dan musim. Orang banyak dan para
pengambil keputusan bersibuk dengan upaya-upaya mengatasi polusi yang berasal
dari pabrik-pabrik dan kendaraan bermotor yang terus bertambah. Ternyata,
polusi yang disebabkan batuk para biri-biri lebih dahsyat daripada polusi
pabrik dan kendaraan bermotor. Kiranya pantas untuk direnungkan pengaruh kentut
manusia yang diproduksi setiap hari terhadap keseimbangan dan keberlangsungan
alam semesta. Bagaimanapun meningkatnya keberagaman makanan yang dihasilkan
pabrik telah mempengaruhi pola dan kandungan isi kentut kita. Jangan pernah
remehkan dan abaikan kentut kita yang struktur kimiawinya pasti sangat berbeda
dengan kentut kakek dan nenek kita.
Tak banyak orang menyadari bahwa
kemunculan kupu-kupu yang bermetamorfosa dari ulat melewati masa kepompong dan
serangga lain yang bersifat massal di berbagai belahan dunia, terkait erat dan
saling mempengaruhi dengan suhu dan musim. Kita baru terkesima ketika yang
muncul menyerbu adalah tomcats yang bisa melukai.
Pergerakan dan perpindahan
burung-burung, ikan-ikan, dan beragam binatang darat bukanlah suatu kebetulan
tetapi berhubungan dan memiliki saling pengaruh dengan pola-pola cuaca, suhu,
dan musim. Hubungan ini dibangun selama jutaan tahun mengikuti pola-pola
perubahan alam yang relatif tetap dalam jangka panjang, dan adanya perubahan
alamiah yang dahsyat seperti jatuhnya meteor yang meluluhlantakkan dinosaurus
sehingga tak berbekas.
Disebut perubahan alamiah yang dahsyat
karena tak ada keikutsertaan dan andil manusia. Itu adalah mekanisme alamiah
bagi alam untuk memperbarui diri dan menjaga keseimbangan. Perubahan dahsyat
itu memang bencana besar, terutama bagi dinosaurus. Tetapi merupakan anugerah
bagi manusia. Mengapa? Bencana dahsyat yang memusnahkan dinosaurus itu telah
mencairkan es dalam jumlah besar dan membuat suhu di bumi siap untuk ditempati
manusia. Ini adalah hukum alam yang niscaya, setiap perubahan besar dalam
bentuk apa pun sekaligus bencana dan anugerah. Meskipun ini harus diucapkan
dengan rasa nyeri di ceruk hati. Kita telah saksikan itu di Aceh. Bencana
tsunami menenggelamkan sangat banyak manusia ke dasar samodra, sekaligus
menumbuhkan benih-benih perdamaian yang kini makin kokoh dan kuat.
Manusia memang bisa ikut andil bagi
kelestarian alam dan kehancuran alam. Manusia dalam budaya tradisional sebagaimana
yang masih terlihat di dalam karya patung dan lukisan goa memperlihatkan
persaudaraannya yang sangat erat dengan alam. Manusia, hewan dan tumbuhan
bersatu dalam harmoni. Manusia sangat hati-hati bila hendak mengambil apa pun
dari alam. Kalaupun harus mengambil, cukup sekadar untuk bertahan hidup, tak
lebih dari itu.
Sekarang, kebanyakan kita tertawa
bahkan mencibir saat melihat orang dari budaya tradisonal seperti orang Baduy
dan orang Dayak mengucapkan sesuatu, seperti berbicara dengan pohon sebelum
memotongnya. Bahkan mungkin ada di antara kita yang mengira mereka gila.
Sadarilah, apa yang mereka lakukan bersumber dari kesadaran dan penghayatan
tentang persaudaraan semesta, kesadaran lingkungan yang sangat intens antara
manusia dan alam sekitarnya. Mereka merasa melukai pohon seperti melukai diri
sendiri, karena manusia dan pohon memang saling melindungi. Ini empati yang
transenden, yang mengatasi empati dengan sesama manusia. Ini empati terhadap
alam, yang sudah hilang dalam sistem otak kebanyakan manusia moderen. Bagi
orang dan masyarakat tradisonal alam adalah saudara kandung yang harus dirawat
dan dieksplorasi seadanya demi mempertahankan hidup. Bagi kebanyakan orang
moderen, alam adalah komoditi yang harus dieksploitasi dalam transaksi jual-beli.
Pada senjakala abad pertengahan dan
fajar renaisans, saat spiritualitas dianggap tak lebih hanya bualan kosong para
agamawan, semua yang mitis dan misterius dirasakan sebagai hanya tahyul, dan
orang lebih tertarik membangun universitas mewah dan membiarkan rumah ibadah
kumuh. Muncul dan bekembang keyakinan bahwa alam semesta tak lebih dari sekedar
benda dan tunduk pada hukum-hukum yang tetap, objektif dan berulang-ulang.
Inilah yang kemudian dikenal senagai pandangan mekanis-determinis tentang alam.
Alam diyakini sama sekali tak berjiwa dan tak memiliki dimensi spiritual.
Karena itu tugas manusia adalah menemukenali hukum-hukum itu dan merumuskannya.
Keyakinan inilah yang melahirkan ilmu pengetahuan moderen sekaligus kesadaran
baru tentang hubungan manusia dan alam.
Bila masyarakat yang kemudian disebut
masyarakat tradisional menghayati bahwa dirinya bersatu dan bagian dari alam,
sebuah pandangan yang organis tentang alam, maka masyarakat moderen merasa
bahwa dirinya terjarak dan bukan bagian dari alam. Keterjarakan itulah yang
membuatnya mampu mengeksplorasi hukum-hukum alam yang dirumuskan secara
matematis sebagaimana ditunjukkan antara lain oleh Newton dan Keppler. Namun,
eksplorasi yang tampaknya membuat manusia lebih memahami alam menjurus ke
eksploitasi alam secara berlebih-lebihan. Ini adalah konsekuensi logis dari
keterjarakan itu. Melukai dan merusak alam tidak disadari sebagai melukai dan
merusak diri sendiri.
Alam kemudian mereaksi sikap manusia
yang eksploitatif ini. Kini, jika air memenuhi jalan-jalan protokol di ibukota
negara, ini terjadi karena jalan-jalan air telah kita rampas jadi mal dan
apartemen. Bila tebing-tebing dan tanah yang tinggi longsor menghancurkan rumah
dan mengubur manusia. Ini terjadi karena pohon-pohon di atas tanah itu sudah
kita rampok sampai ke akar-akarnya. Alam tak pernah jahat, apalagi balas
dendam. Alam adalah kepasrahan yang arif.
Saya sependapat dengan tulisan yang berjudul “Musim” karangan Bapak tersebut, karena dari tulisan tersebut Bapak menjelaskan betapa budaya tradisional sangat menganggap penting dan menyadari bahwa alam adalah saudara kandung yang harus dirawat dan dieksplorasai seadanya. Sangat berbeda sekali dengan pandangan orang-orang di masa modern seperti sekarang ini, mereka hanya menganggap bahwa alam adalah komoditi yang harus dieksploitasi dalam transaksi jual-beli. Dan pemikiran modern inilah yang akhirnya menyebabkan kondisi alam berubah. Buktinya sepeti yang terjadi saat ini, banjir serta musibah tanah longsor yang melanda hampir di beberapa daerah. Kita sebagai manusia seharusnya jangan pernah menyalahkan alam atas bencana yang terjadi, karena alam tak pernah bersalah. Alam hanya sekedar mengingatkan kepada kita atas kejahatan yang telah kita lakukan terhadapnya.
BalasHapusNama saya Rina Listiawati dari jurusan P.Ips 2013, saya sependapat dengan tulisan yang berjudul “Musim” karangan Bapak tersebut, karena dari tulisan tersebut Bapak menjelaskan betapa budaya tradisional sangat menganggap penting dan menyadari bahwa alam adalah saudara kandung yang harus dirawat dan dieksplorasai seadanya. Sangat berbeda sekali dengan pandangan orang-orang di masa modern seperti sekarang ini, mereka hanya menganggap bahwa alam adalah komoditi yang harus dieksploitasi dalam transaksi jual-beli. Dan pemikiran modern inilah yang akhirnya menyebabkan kondisi alam berubah. Buktinya sepeti yang terjadi saat ini, banjir serta musibah tanah longsor yang melanda hampir di beberapa daerah. Kita sebagai manusia seharusnya jangan pernah menyalahkan alam atas bencana yang terjadi, karena alam tak pernah bersalah. Alam hanya sekedar mengingatkan kepada kita atas kejahatan yang telah kita lakukan terhadapnya.
BalasHapusNama : Akhmad Rayhan Aditya
BalasHapusNonim : 4915131399
masyarakat modern terkesan sangat rakus dan haus akan hasil - hasil alam sehingga bahan - bahan mentah disediakan oleh alam dikuras habis tidak hanya hasil alam, tetapi lingkungan yang semestinya menjadi lahan resapan air hujan disulap menjadi pemukiman, jangan heran ketika hujan turun seperti di bulan januari kemarin terjadilah agenda air tahunan mengepung jakarta dan sekitarnya.
mengutip sebuah terjemahan dari ayat al - quran dengan apa yang terjadi hingga saat ini di ibukota, Allah berfirman : "sesungguhnya Aku tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang ada pada diri mereka"
Jika mereka tidak ingin terkena musibah setiap tahunnya mengapa merekatidak merubah nasibnya yang pada tahun kemarin terkena banjir apakah iya tahun ini ingin kebanjiran lagi?? mereka pula yang membuang sampah & mengeksploitasi lingkungan sehingga siapapun pemimpin negeri ini tidak sanggup mengatasi bencana tahunan ini (toh masyarakatnya tidak ada inisiatif untuk berubah menjadi lebihbaik) contohnya saja bantaran sungai yang seharusnya diameter sungai tersebut diperbesar disulap menjadi perumahan padat penduduk. apakah mereka tidak belajar dari musibah tahun kemarin? seaakan sudah bersahabat dengan bencana dan tidak ada sikap menunjukkan perubahan.
#MULAILAHPERUBAHANDARIHALTERKECIL