Kamis, 20 Maret 2014

ANAK-ANAK DAN KAMPANYE

Lagi terbukti, orang tua bisa membahayakan anak sendiri. Beberapa hari ini ada keramaian di mana-mana. Musim kampanye pemilu calon legislatif. Rupanya gaya kampanye konvoy kendaraan terutama motor dan berkumpul mendengarkan orasi nyambi menikmati hiburan di lapangan terbuka masih menjadi pilihan utama semua partai politik peserta pemilu.

Ada pemandangan tak sedap dalam rombongan konvoy dan keramaian di lapangan yaitu ramainya anak-anak yang dibawa oleh orang tuanya. Sangat banyak yang masih bayi tiga tahun (batita) dan bayi lima tahun ( balita). Entah apa yang ada dalam fikiran orang tuanya sampai membawa anak-anak itu dalam keramaian ini. Apakah sama sekali tak terfikir bahwa keikutsertaan anak-anak sangat berpotensi membahayakan anak-anak itu?

Beberapa stasiun televisi berhasil mewawancarai mereka yang membawa anak-anak dalam kampanye itu. Sebagian mengakui bahwa mereka ikut kampanye karena mendapatkan bayaran, bisanya lima puluh ribu rupiah. Namun, tidak sedikit dari mereka yang ikut kampanye karena memang pendukung partai politik yang sedang berkampanye. Apapun alasannya, membawa anak-anak dalam kampanye tetaplah dapat membahayakan si anak.

Meski sejauh ini kampanye terbilang aman-aman saja. Namun bahaya bagi anak-anak tetap besar. Konvoy di jalanan biasanya berjarak jauh. Anak-anak yang dibawa pastilah sulit terhindar dari pengaruh cuaca dan angin kencang. Keadaan makin membahayakan bila cuaca sangat panas atau hujan. Berada terlalu lama di lapangan terbuka juga sama saja resikonya. Anak-anak terpaksa kena imbas berdesak-desakan, bisa jadi mereka akan mengalami kekurangan oksigen, meskipun sebentar. Situasi seperti ini sangat berbahaya bagi anak-anak. Belum lagi suara keras pengeras suara dan musik dari panggung kampanye, juga suara teriakan peserta kampanye.

Tragisnya partai politik peserta pemilu belum terlihat upayanya untuk mencegah kehadiran anak-anak dalam kampanye. Tampaknya partai membiarkan kehadiran anak-anak itu karena masih berprinsip yang penting kampanyenya dihadiri oleh banyak orang. Padahal belum tentu yang datang pada saat kampanye itu akan memilih partai yang saat itu berkampanye. Apalagi jika kehadiran mereka karena uang.

Kita jadi bertanya-tanya, apakah partai yang berjanji akan menyejahterakan rakyat, akan memenuhi janjinya, bila saat kampanye saja mereka sudah membuat susah rakyat, terutama anak-anak. Mestinya partai politik peserta pemilu sungguh-sungguh peduli dan mencegah kehadiran anak-anak dalam kampanye. Kita juga harus sungguh-sungguh memperhitungkan fakta ini sebagai dasar untuk memilih partai politik dan calon anggota legislatifnya, juga calon presidennya.

Dalam konteks ini penyelenggara pemilu diharapkan berani menegakkan aturan terkait dengan pelanggaran pelibatan anak-anak dalam kampanye. Penegakan aturan ini akan sangat bermakna untuk melindungi anak-anak tersebut. Jangan sampai jatuh korban dulu, baru aturan ini ditegakkan. KPU dan BAWASLU jangan hanya menghimbau. Sudah ada aturan yang jelas dalam soal ini. Tegakkan saja dengan setegak-tegaknya. Jangan lemah dalam menegakkan aturan.

Janganlah karena pesta demokrasi yang hanya beberapa hari ini, kesehatan dan keselamatan anak-anak dikorbankan. Anak-anak memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan yang baik. Melibatkan mereka dalam kampanye sungguh bisa membahayakan kesehatan dan kesematannya, secara tidak langsung juga bisa mempengaruhi masa depan anak-anak itu.

Siapa yang bisa menjamin kampanye akan bebas dari kekerasan, minimal kekerasan verbal? Siapa yang bisa memastikan bahwa konvoy kendaraan selalu aman? Siapa yang bertanggungjawab jika anak-anak itu cidera, sakit, atau mengalami gangguan lain?

Para orang tua juga harus dipersuasi, bila perlu diberi hukuman bila terus saja membawa anak-anak ikut kampanye. Mereka juga mungkin kurang menyadari, atau malah tidak peduli potensi bahaya mengikutsertakan anak-anak dalam perhelatan pemilu.

Anak-anak itu memang secara biologis bukan anak-anak kita, terapi secara sosiologis, dalam bingkai keindonesiaan, mereka adalah anak-anak kita juga. Karena itu kita harus tunjukkan kepedulian dan berbagai kemungkinan upaya untuk mencegah keikutsertaan anak-anak itu dalam kampenye pemilu. Kita harus mendukung penuh upaya-upaya KPAI untuk ikut menegakkan dan mengontrol pelaksaan aturan tentang keikutsertaan anak-anak dalam kampanye.

Anak-anak, siapa pun orang tuanya harus diupayakan dapat tumbuh kembang dalam kehangatan cinta, kasih sayang dan perhatian. Bukan dibiarkan terpanggang matahari , dan diterpa angin di jalanan yang ramai dan berada di lapangan terbuka yang berisik, panas dan berdesak-desakan.

ANAK-ANAK INDONESIA HARUS MENDAPATKAN YANG TERBAIK DAN JANGAN SAMPAI JADI KORBAN POLITISASI MASSA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd