Rabu, 19 Maret 2014

NIAT BAIK YANG SALAH

Sama sekali tidak salah bila seorang ibu menginginkan anak-anaknya masuk surga. Sungguh merupakan niat yang suci. Ibu yang satu ini sangat menginginkan anak-anaknya masuk surga. Maka, sebelum memasuki usia baligh ia dengan sengaja membunuh anaknya. Rencananya dua anak yang akan dibunuhnya yaitu yang berusia 10 dan 2,5 tahun. Namun hanya yang terakhir yang berhasil. Anak yang 10 tahun melawan dan gagal dibunuh.

Ibu ini sama sekali tidak menyesali perbuatannya. Malah ia menyatakan kebahagiaanya, bahwa anak yang telah tewas di tangannya pasti masuk surga. Setelah diperiksa psikiater, ibu ini dinyatakan sehat secara kejiwaan. Tadinya diduga ia mengalami gangguan jiwa.

Manusia dan hidup kadang sangat absurd, tak mudah, bahkan tak bisa difahami. Manusia bisa tak terduga, dapat lakukan apa saja yang menabrak akal sehat, dan mengoyak moyak nurani. Manusia memang mau dan mampu berbuat lebih rendah dari binatang. Rasanya, kita belum pernah dengar berita ada induk kambing membunuh anaknya.

Dengan mudah kita bisa bilang si ibu jagal ini pasti pendidikannya rendah, pemahaman agamanya payah, ia didera kemiskinan akut, dia stres, bahkan ada yang menuduhnya ikut aliran sesat. Hati-hati, jangan sembarang menuduh dan mengambil simpulan terlalu cepat tentang manusia.

Ada pejabat di lingkungan BPK, terpelajar , kaya dan berjabatan kini jadi tersangka pembunuhan berencana terhadap istri simpanannya. Presiden PKS yang sekarang mantan presiden PKS sangat faham agama, namun jadi terpidana kasus korupsi. Ada pejabat departemen agama yang kaya, terpelajar, berjabatan, dan faham agama dituntut 12 tahun penjara karena terlibat korupsi pencetakan Al Quran.

Inilah realitas manusia. Sponge Bob bilang, ada kegelapan dalam diri manusia. Seperti black hole dalam alam semesta. Dalam Al Quran disebut manusia itu adalah sintesis lumpur hitam dan Ruh Allah. Lumpur hitam itu melekat erat dalam tiap diri kita. Setiap kita, tanpa kecuali.

Lumpur hitam itu bisa mengeras, mengkristal atau mengalir deras dalam tubuh kita, menguasai otak sebagai sistem kendali. Akibatnya manusia bisa lebih rendah dari binatang.

Seyogianya pemahaman dan penghayatan agama, dan pendidikan memampukan kita untuk memilah, memilih, dan mengolah apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan. Namun, hidup yang kompleks terkadang, malah sering membuat semua kemampuan itu tidak berfungsi.

Si ibu jagal itu bisa jadi sedang dibekap oleh tekanan hidup yang terlalu. Dalam pemeriksaan kejiwaan ada pula catatan bahwa ia pernah trauma pada masa lalu, sehingga ia sering tidak mampu selesaikan masalah dengan baik, meski kecerdasannya di atas rata-rata. Manusia memang bisa dan biasa dikalahkan oleh kondisi yang terlalu menekan. Itulah sebabnya angka bunuh diri masih sangat tinggi.

Memang ada orang yang tahan bantingan, mampu hadapi krisis sedahsyat apapun, dan melewatinya dengan sukses gemilang. Orang seperti ini selalu percaya, apapun yang tak bisa kalahkan kita, membuat kita bertambah kuat. Dulu ada istilah otot kawat tulang besi untuk manusia seperti ini. Namun, tak semua orang kayak begini.

Tampaknya ini ada kaitannya dengan pola asuh saat masa pertumbuhan sejak bayi. Meski pandangan ini agak beraroma deterministik namun bukti-bukti empiris sangat mendukungnya.

Penelitian-penelitian mendalam di Eropa dan Amerika Serikat menegaskan, pada umumnya mereka yang sangat bermasalah selama masa pengasuhan, terutama yang mengalami kekerasan, juga yang dalam masa hamil sang ibu mengalami stres berat, memang menjadi orang dewasa yang sangat bermasalah. Ternyata bekas-bekas kekerasan itu ngendon dalam otak si anak. Ada semacam borok di dalam otaknya, yang meskipun dalam perjalanan waktu bisa sembuh, tetapi bekasnya tidak sepenuhnya hilang.

Beberapa penelitian yang bisa diperiksa untuk memperkuat pernyataan di atas bisa didapatkan dalam, Roosa MW, Reinholtz C, Angelini PJ (February 1999). "The relation of child sexual abuse and depression in young women: comparisons across four ethnic groups". Journal of Abnormal Child Psychology 27 (1): 65–76.Widom CS, DuMont K, Czaja SJ (January 2007). "A prospective investigation of major depressive disorder and comorbidity in abused and neglected children grown up". Archives of General Psychiatry 64 (1): 49–56. Arnow BA (2004). "Relationships between childhood maltreatment, adult health and psychiatric outcomes, and medical utilization". The Journal of Clinical Psychiatry.

Memang, tidak sedikit juga yang berhasil terbebas dari kecenderungan sangat kuat ini. Artinya, mereka bisa menata diri untuk menjadi orang dewasa yang sehat dan memiliki hidup penuh makna. Biasanya obat paling mujarab untuk keluar dari akibat buruk pengasuhan yang salah itu adalah cinta, kasih, dan perhatian yang empatis.

PENGASUHAN BISA SANGAT MENETUKAN AKAN JADI APA  ANAK BILA DEWASA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd