Rabu, 19 Maret 2014

POLISI MENEMBAK POLISI

Tragis. Polisi bertugas mengayomi masyarakat, memberikan rasa aman. Kehadiran polisi seharusnya memberi kita rasa nyaman dan aman. Kini, kita jadi bertanya-tanya. Apakah masih bisa seperti itu. Mengapa? Karena ada polisi menembak polisi. Ini bukan yang pertama. Dan tak ada yang bisa menjamin bahwa ini yang terakhir. Beberapa waktu lalu kita dikejutkan oleh oknum polisi yang menembak satpam hanya karena masalah sangat sepele.

Sebenarnya telah terjadi perubahan yang bermakna dalam tubuh polisi terkait dengan rekrutmen dan pendidikan pra dan di dalam jabatan. Bila dilihat yang melamar menjadi polisi, yang masuk ke pendidikan kepolisian, dan pendidikan anggota polisi sebagai syarat untuk masuk secapa melalui jalur sarjana, telah terjadi peningkatan kualitas yang luar biasa.

Kini yang mendaftar untuk masuk AKPOL berasal dari seokolah-sekolah terbaik dan siswa dengan peringkat kelulusan yang tinggi. Seleksi masuk melibatkan pengawas eksternal yang ikut mengontrol agar tidak terjadi KKN. Polri tampaknya berusaha keras agar rekrutmen ini sungguh-sungguh bersih dan berkualitas.

Sistem pendidikan di AKPOL juga sudah mengalami transformasi yang bermakna, kurikulumnya terus menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat, teknologi, dan tuntutan indikator global. Proses pendidikannya berkualitas, humanis, dengan disiplin yang tinggi. Fasilitas pendukung dan tenaga pengajar juga sudah di atas rata-rata. Itulah sebabnya AKPOL mendapatkan akreditasi dengan peringkat A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. AKPOL sangat berpotensi untuk terus mengembangkan diri dan menambah program studi memenuhi tuntutan masyarakat yang terus meningkat.

Rekrutmen Polisi melalui jalur sarjana, dari tahun ke tahun juga mengalami kemajuan yang sangat bermakna bila ditinjau dari asal perguruan tinggi para pelamar. Tahun ini di Polda Metro Jaya, ada 163 pelamar dan yang diterima hanya 4 orang. Lebih dari 50 persen pelamar berasal dari perguruan tinggi terbaik dengan akreditasi ptogram studi A, hanya sekitar 20 persen yang berasal dari program studi berakreditasi C, sisanya berakreditasi B. Program studi para pelamar juga sangat bervariasi.

Sistem rekrutmen bersifat terbuka, sistematis, profesional, humanis dan bebas KKN. Panitia meminta kepada peserta dan orang tuanya melaporkan bila ada yang mencoba meminta uang dalam proses lamaran ini. Siapa pun yang melakukan itu pasti ditindak tegas.Peserta, panitia dan orang tua peserta wajib menandatangi pakta integritas. Rekrumen melibatkan fihak pengawas internal yang merupakan badan yang memiliki kualifikasi sesuai bidang seperti BAN PT. Para pelamar mengikuti tes berlapis dan bertingkat sebagai upaya untuk memastikan bahwa yang lulus adalah peserta terbaik, bukan saja dari segi inteletual-kognitif, juga kepribadian dan sikap.

Para anggota polisi yang melamar mengikuti secapa melalui jalur sarjana juga menunjukkan peningkatan kualitas. Kini anggota polisi yang melamar memiliki ijazah sarjana dari perguruan tinggi yang terakreditasi, dan program studi yang diikuti terakreditasi A dan B, hanya dalam prosentase yang kecil terakreditasi C. Ini bermakna, anggota polisi yang mengikuti kuliah, kuliah dengan cara yang benar pada perguruan tinggi yang proses kuliahnya baik.

Sementara itu secapa juga sudah melakukan transformasi kurikulum dan proses pembelajaran yang semakin bermutu, profesional, humanis, dan terstandar. Pendekatan pendidikan sipil profesional sudah sangat mengemuka. Tampaknya bukan hanya secapa, semua institusi pendidkan Polri benar-benar telah melakukan transformasi menjadi lenbaga pendidikan sipil profesional. Ini bukan saja sesuai dengan tuntutan undang-undang. Melampaui itu, lembaga kepolisian sungguh menyadari bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat sipil yang moderen dan demokratis.

Rekrutmen polisi lainnya, termasuk Polwan dan proses pendidikannya benar-benar telah mengalami transformasi yang sangat bermakna. Dengan demikian kita bisa berharap Polisi akan semakin profesional, responsif dan berkualitas dalam memberikan layanan.

Namun, sejumlah kasus seperti polisi menembak polisi, oknum polisi menembak anggota masyarakat sipil tanpa alasan yang jelas, sungguh menghenyakkan kita semua. Termasuk polisi sendiri. Kita bertanya-tanya, apa yang salah?

Apakah sistem pendidikan yang semakin profesional dan lebih berparadigma sipil telah ikut menggerus hirarki, sehingga alur komando kurang diperhatikan? Apakah memang terjadi kesenjangan antar generasi, sehingga para komandan yang masih diliputi semangat dan kultur lama, diarasa kurang adaptif dan responsif terhadap kultur baru yang lebih berjiwa sipil? Apakah proses perubahan kultur ini memang bekum sepenuhnya selesai? Apakah beban pekerjaan yang terlalu berat karena belum proporsionalnya rasio polisi dengan populasi penduduk, telah memunculkan beban berat? Apakah karena generasi baru polisi sungguh merasa sebagai warga sipil yang lebih mengedepankan persepsi individu daripada semangat korsa?

Polisi tampaknya memang berada dalam persimpangan jalan perubahan. Sungguh ini beban berat yang harus segera mendapatkan solusi terbaik. Kita tak boleh membiarkan Polisi menghadapi ini sendiri. Atau hanya mampu melakukan kritik, tanpa peduli pada apa yang telah mereka kerjakan dengan kesungguhan. Saatnya menunjukkan perhatian dan kepedulian lebih besar pada Polisi kita, karena

KUALITAS DAN PROFESIONALITAS POLISI IKUT MENENTUKAN KEMAJUAN NEGARA BANGSA INI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd