Senin, 10 Maret 2014

SAYA NDAK TAHU SIAPA BAPAKNYA

Hidup memang penuh ironi. Dengan sejumlah relawan saya mencoba mendirikan semacam taman belajar di lokalisasi kelas bawah illegal yang dikenal dengan nama Bongkaran. Setelah berkiprah enam bulan, kami berhasil mengumpulkan puluhan anak usia sekolah yang sama sekali tidak sekolah. Keseluruhan anak ini, ibunya adalah para WTS yang beroperasi di lokalisasi ini.

Kami berprinsip, bila ibunya tak dapat lagi dididik dan diarahkan pada kehidupan yang lebih baik, mudah-mudahan anaknya dapat ditolong. Target kami adalah bagaimana caranya agar anak-anak ini tidak tumbuh kembang di lokalisasi ini.

Tumbuh kembang di lokasi yang secara fisik dan sosial sangat buruk pastilah tidak baik bagi anak-anak ini. Lokalisasi ini merupakan pemukiman yang sangat kumuh dan padat. Para WTS yang beroperasi di sini melakukan praktik siang malam atau tidak dibatasi waktu. Anak-anak itu sudah sangat terbiasa melihat ibunya 'ngamar' dengan macam-macam lelaki setiap hari.

Bukanlah hal mudah untuk masuk dan diterima dalam komunitas seperti ini. Sebab di lokasi seperti ini, penguasanya adalah para preman yang sangat tidak suka bila ada yang bermaksud mengarahkan penghuni lokasi ini ke arah yang baik, karena bisa mengganggu bisnis mereka.

Karena itu dibutuhkan waktu yang agak lama untuk meyakinkan semua fihak agar maksud baik ini dapat terlaksana. Akhirnya kami dapat melaksanakan upaya pemberdayaan bagi anak-anak mereka. Para orang tua meminta anak-anak itu diajari mengaji dan shalat. Rupanya para ibu itu tidak mau anak-anaknya menjadi seperti dirinya. Inilah nurani murni seorang ibu, meski hidupnya berlumur kesalahan dan dosa.

Kami menyelenggarakan pendidikan setelah selesai sholat ashar sampai sholat maghrib. Pada mulanya dua kali seminggu. Namun para ibu meminta lebih sering. Akhirnya menjadi empat kali seminggu. Beberapa ibu juga minta diajari ngaji dan sholat. Katanya persiapan untuk bertaubat.

Para ibu itu sangat marah bila anak-anaknya malas mengikuti proses pendidikan yang kami selenggarakan. Bila anaknya perempuan, inilah ucapan ibunya untuk anak yang malas. " Kamu mau jadi lonte kayak ibu? Kamu kira enak jadi lonte? Ayo belajar sono!"

Naluri asli keibuan yang inginkan anaknya jadi orang baik. Sikap para ibu ini sungguh sangat membantu proses pendidikan yang kami selenggarakan. Makin hari, anak-anak yang belajar bertambah terus. Kami juga menambah menu pembelajaran dengan memperkenalkan calistung yaitu membaca, menulis, berhitung. Juga mulai mengajarkan berbagai keterampilan.

Pada waktu Ramadhan, anak-anak itu di bawa tarawih keliling masjid seperti Masjid Istiqlal, dan berbagai masjid besar di Jakarta. Bagusnya, ada beberapa ibu yang ikutan. Kegiatan ini dilakukan untuk berbagai tujuan, selain beribadah tentu untuk memberi kesempatan mereka jalan-jalan atau berwisata. Anak-anak itu, bahkan ibunya memang tidak pernah jalan-jalan jauh dari pemukiman kumuh itu. Tentulah kami berikan pada mereka perlengkapan ibadah termasuk pakaian lengkap dengan mukena bagi anak perempuan, dan pakaian lengkap sampai kopiah bagi anak lelaki.

Kebersamaan dan kegembiraan telah meningkatkan kepercayaan mereka pada kami. Para ibu itu mulai berfikir lebih serius tentang masa depan anak-anaknya. Kami mulai merayu mereka agar mengijinkan anaknya dibawa ke kampung dan dipelihara oleh anggota keluarga yang lain atau masuk pesantren. Intinya tidak lagi mukim dilokalisasi ini. Sejumlah ibu mulai setuju.

Kami mulai melakukan kontak ke kampung halaman mereka dan ke beberapa pesantren untuk mewujudkan rencana ini. Pada mulanya para preman tidak setuju. Mereka khawatir, ibu anak-anak itu juga akan meninggalkan lokalisasi ini. Namun, beberapa ibu ngotot menginginkan anaknya dibawa keluar dari sini. Kami berunding dengan para preman dan membuat sejumlah perjanjian agar rencana ini tetap dapat dilaksanakan tanpa merugikan mereka.

Akhirnya satu persatu anak dapat dipindahkan seperti rencana semula. Kebanyakan memilih dipulangkan ke kampung dan dipelihara oleh neneknya dan anggota keluarga yang lain. Beberapa ke pesantren di daerah Bogor. Kami tetap selenggarakan pendidikan untuk anak yang lebih kecil.

Ada yang sangat menarik dari anak-anak itu. Anak-anak yang bersadudara kandung tidak ada satu pun yang mirip. Kakaknya hitam dengan rambut keriting, sedangkan adiknya putih dengan mata agak sipit. Ada yang kulitnya sama putih atau sama coklat, tetapi wajah dan rambutnya sama sekali berbeda, yang satu lurus yang lainnya keriting. Benar-benar Indonesia Raya. Pada mulanya kami juga mengalami kesulitan melakukan identifikasi. Malah seringkali yang mirip bukan yang bersaudara kandung. Jadi, kami benar-benar menyaksikan ada anak mirip anak tetangga, bukan mirip saudara kandungnya.

Juga sangat menarik bila melihat mereka sedang bermain-main. Mereka menirukan bagaimana melakukan pembicaraan sebagaimana ibunya bertransaksi dengan tamu. Mereka juga tidak punya rasa sungkan untuk meminta uang pada tamu ibunya. Beberapa anak sangat kenal dengan tamu atau langganan ibunya.

Jika para ibu ditanya, siapa ayah anak-anaknya, jawabannya adalah "Saya ndak tahu siapa bapaknya." Wajar bila mereka menjawab seperti itu. Sebab setiap hari mereka berhubungan dengan lelaki yang berbeda-beda.

KEMISKINAN MEMANG BISA MENDORONG MANUSIA BERBUAT YANG TAK TERDUGA.

38 komentar:

  1. NAMA : AGINDA NABILA PUTRI YYUDIA
    NO REG : 4915131408
    P.IPS A 2013
    Menurut saya anak-anak itu tidak pernah malu dengan hidup mereka, mereka tetap bisa gembira walaupun tinggal didaerah lokalisasi. Walaupun mereka tidak tahu siapa bapaknya, mereka tetap bisa berbaur dengan orang yang sedang menjadi tamu ibunya. Yang jelas mereka tidak pernah malu dengan hidupnya.
    Pertanyaan:
    1. Mengapa mereka tidak malu dengan tinggal didaerah lokalisasi?
    2. Bagaimana mereka bisa bertahan hidup di daerah lokalisasi?
    3. Mengapa pekerjaan sebagai WTS dianggap haram oleh MUI?

    BalasHapus
  2. Arlietha Nofeliza PIPS A 2013
    Setelah membaca tulisan bapak yang berjudul “Saya Ndak Tahu Siapa Bapaknya” sungguh sangat ironi karena faktor ekonomi yang kekurangan mengakibatkan kemiskinan dan mendorong untuk berbuat yang tak terduga. Benar sekali yang disampaikan pak nusa bahwa setiap perbuatan yang dilakukan pasti akan berisiko. Sangat luar biasa bisa diterima di lokasi seperti itu dan sampai bisa melakukan perubahan kearah yang lebih baik. Saya sangat setuju dengan prinsip yang terdapat di tulisan ini bahwa bila ibunya tak dapat lagi dididik dan diarahkan pada kehidupan yang lebih baik, mudah-mudahan anaknya dapat ditolong. Dengan seperti ini setidaknya dapat meminimalisir generasi seperti itu walaupun belum sepenuhnya menghentikan hal tersebut. Selain itu juga dukungan dari ibunya agar anaknya tidak bernasib sama seperti ibunya juga merupakan celah untuk memperkecil generasi seperti itu. Seorang ibu atau orang tua memang menginginkan agar anak-anaknya lebih baik dari orang tuanya. Selain itu juga dari tulisan ini kita bisa belajar untuk bersyukur karena setidaknya kita telah mengetahui siapa ayah kandung kita dan tidak bernasib seperti anak-anak tersebut. Pertanyaannya adalah Apakah keadaan seperti itu akan berlangsung terus menerus? Adakah peran pemerintah untuk mengatasi hal tersebut? Apakah setiap WTS disana selalu mempertahankan kandungannya sampai anaknya terlahir dari hubungan yang telah dilakukanme ? Lalu sebenarnya apa tujuan wts tersebut membiarkan anaknya lahir tetapi satu sisi ia tidak ingin anaknya sepertinya? Bagaimana solusinya? terimakasih

    BalasHapus
  3. Suci Ramadhaniyati (4915133404)
    P.IPS B 2013

    Tulisan ini menceritakan seorang anak yang hidup tanpa seorang ayah di lingkup lokalisasi. Seorang anak pada hakikatnya ingin memiliki kesempatan yang sama dengan anak-anak yang lain, mempunyai seorang ayah. Tetapi realitanya, anak-anak yang tinggal di lokalisasi tersebut tidak tahu siapa bapaknya, sebab ibunya pun tidak tahu ia pernah berhubungan dengan siapa. Ironis sekali, ketika mereka menanyakan 'siapa ayah saya?' tetapi ibunya tidak mampu menjelaskan.
    Dengan memberikan mereka pendidkan moral dan agama, diharapkan mereka mampu terlepas dari lingkup ibunya yang penuh dengan kekejian dan nista. Seorang Ibu pun sebenarnya tidak menginginkan anaknya terjerumus ke dalam lubang yang sama seperti diri mereka.
    Anak tidaklah berdosa. Mereka hanya sebagai korban dari kondisi lingkungan di mana ia dilahirkan
    1. Bagaimana cara memberantas daerah lokalisasi?
    2. Mengapa pemerintah tidak ikut serta untuk mengeluarkan anak-anak dari lingkungan yang seperti itu?
    3. Bagaimana peran anak untuk mengajak ibunya ke jalan yang benar?

    BalasHapus
  4. TRIA MAULIDA AGUSTIAR
    P.IPS A 2013

    saya setuju dengan pendapat bapak apabila ibunya tidak bisa di selamatan setidaknya anaknya bisa di selamatkan untuk memperbaiki kehidupannya menjadi lebih baik. kalau tidak ada tindakan yang seperti bapak lakukan mungkin tempat itu akan terus menerus melakukan kegiatan seperti itu sampai generasinya berikutnya dan akan bermunculan penyakit di daerah yang kumuh dan padat seperti itu.

    1. Bagaimana bapak dapat meyakini preman-preman disana??
    2. Kenapa ibunya berpikir bahwa pekerjaan salah tapi mereka tetap menjalankan pekerjaannya??
    3. Apakah setelah observasi bapak selesai tempat tersebut tetap menjalakan kegiatan yang bapak buat untuk anak-anak yang berada di sana??

    BalasHapus
  5. Siti Mastoah
    P.IPS A 2013
    Saya sangat setuju dengan blog nya pak nusa yang berjudul SAYA NDAK TAHU SIAPA BAPAKNYA. saya pikir sangat terpuji sekali atas apa yang telah dilakukan oleh bapak dan yang lainnya karena selain disamping observasi tapi juga bisa menyelamatkan generasi penerus yang ada dikalangan lokalisasi WTS tersebut.

    KEMISKINAN MEMANG BISA MENDORONG MANUSIA BERBUAT YANG TAK TERDUGA.
    nah, apakah semua orang miskin dapat menjadi seperti yang diceritakan seperti di blog diatas ???
    apakah para WTS itu juga bisa diselamatkan seperti anak-anaknya ??? kan para WTS ada yang pernah ikut ke kegiatan rohani seperti mesjid istiqlal.
    cara apa yang digunakan oleh bapak dan yang lainnya agar bisa diterima untuk observasi dikalangan lokalisasi WTS yang banyak preman-premannya ???

    BalasHapus
  6. Nama : Ayu Anggraeni
    Prodi : P.IPS A/ 2013
    Kemiskinan bisa membuat orang nekad berbuat apapun untuk mencukupi kebutuhan hidup, tak terkecuali berbuat nekad sekalipun, tak perduli pekerjaan itu halal atau haram. Tanpa iman yang kuat kemiskinan mampu menjerat siapapun ke lubang kenistaan.
    Saya setuju dengan pikiran dan tindakan bapak untuk menyelamatkan anak-anak di lokalisasi WTS karena setidaknya ibunya sudah rusak , anaknya tidak rusak atau tidak melakukan hal yang sama seperti ibunya dan dengan langkah yang diambil bapak bisa menyelamatkan anak-anak di lokalisasi tersebut, sehingga pekerjaan WTS tidak menjadi pekerjaan yang turun temurun dan kedepannya generasi yang akan datang tidak ada lagi yang menjadi Wts.
    1. Bagaimana upaya kita untuk memulihkan sikis dan metal dari anak- anak yang sudah terlajur tinggal di lokalisasi wts?
    2. Apakah setelah anak – anak itu keluar dari lokalisasi tersebut, bisa menjamin anak itu tidak berbuat seperti ibunya. Lalu pepatah kalau buah itu tidak jatuh jauh dari pohonnya, apakah sudah kadaluarsa?
    3. Apakah lokalisasi wts bisa di tiadakan?

    BalasHapus
  7. Muhamad Asharianto
    4915133408
    P.IPS R B 2013


    SAYA NDAK TAHU SIAPA BAPAKNYA?

    Kalimat tersebut yang selalu terucap saat mereka para WTS yang ditanya tentang ayah dari anaknya. Sungguh hal yang aneh bagi orang yang tidak mengetahui ataupun mengerti akan jawaban yang terucap oleh mereka. Masalah ini muncul dikarenakan mereka para wanita yang menjadi PSK dalam area yang di kuasai oleh para preman hanya mengenal mencari uang dengtan cara seperti itu. Desakan akan kebutuhan dalam memenuhi dan melangsungkan kehidupan, membuat mereka para WTS melakukan pekerjaan itu. Mereka yang datang dari kampung untuk mengadu nasibnya dengan kehidupan ini tanpa adanya pendidikan serta keahlian menjadikan kehidupannya tenggelam dalam lingkaran hitam.
    Apa yang telah dilakukan bapak dan rekan-rekan, dengan upaya menyelematkan kehidupan anak-anak area prostitusi itu sangat jarang terjadi. Keberanian, simpati, dan kepedulian akan kehidupan mereka.

    Keterpurukan dalam hal ekonomi yang menjadikan manusia hilang arah akan kaidahnya.

    Pertanyaan :
    1. mengapa mereka yang berkerja di sebagai WTS sangat bergantung dengan pekerjaan seperti itu, padahal mereka tahu akan konsekuensi dari pekerjaan itu?
    2. apa hanya karna desakan ekonomi mereka melakukan pekerjaa itu? atau ada faktor lain yang menyebabkannya selain faktor ekonomi?
    3. bagaiman bapakserta rekan-rekan melakukan pendekatan terhadap masyarakat disana serta preman setempat untuk mendirikan pendidikan dan perubahan bagi kehidupan anak-anak disana?

    BalasHapus
  8. SITI MARIA ULPAH/4915131401/P.IPS A 2013
    Ironis. “Saya Ndak Tahu Siapa Bapaknya”. Dari judulnya saya bisa menebak tentang seorang wanita yang bekerja sebagai PSK. Yang setiap hari melayani nafsu para lelaki. Dengan begitu banyak lelaki yang dating menghampiri ingin memuaskan nafsu mereka, berhubungan badan, tidak mementingkan kesehatan yang penting hanya untuk makan dan kehidupan sehari-hari.
    Setelah menyelami alur ceritanya, sungguh menyedihkan dan bahkan tidak percaya bagaimana Bapak bisa masuk dalam lingkungan seperti itu dan bisa mendirikan kegiatan belajar untuk anak-anak mereka. Lingkungan yang mengerikan, berhubungan dengan preman sekitar dan keadaan yang bisa saja membahayakan diri sendiri.
    Salut. Dengan anak-anak yang mau untuk belajar dan para ibu yang mengizinkan mereka karena tidak ingin anaknya seperti ibunya. Karena seburuk apapun seorang ibu, kalau untuk demi anak pasti akan lakukan yang terbaik dan menginginkan anak mereka jauh lebih baik dari dirinya sendiri. Ternyata mereka masih mempunyai hati untuk anak-anak mereka. Saya pikir tinggal di tempat seperti itu akan membuat seseorang terbawa dengan keadaan sekitar, tetapi ternyata dimanapun tempatnya, seorang ibu tetaplah ibu yang akan mengorbankan apapun demi anak.
    Mengenai siapa bapaknya itu unik karena dari 1 ibu bisa menghasilkan berbagai ras yang berbeda. Lucu karena membayangkan jika anak 1 malah lebih mirip dengan anak tetangga yang lain. Jangan dilihat dari sisi buruknya, tapi lihat hal positifnya karena kalau mencari keburukan itu mudah.
    Pertanyaan:
    1. Sampai kapan mereka akan hidup seperti itu? Apakah tidak ada niat untuk meninggalkan pekerjaan seperti itu?
    2. Bagaimana urusan mereka dengan kehidupan setelah ini? Pernahkan mereka memikirkan ada kehidupan lain?
    3. Sikap apa yang seharusnya kita lakukan untuk menyadarkan orang-orang di sekitar mereka bahwa masih ada sedikit kebaikan dihati mereka terutama seorang ibu?

    BalasHapus
  9. Nama : Maulida Nurul Atikah
    NIM : 4915137155
    PIPS REGULER B 2013

    Pelacuran atau yang biasa disebut dengan prostitusi adalah penjualan jasa seksual, seperti seks oral atau hubungan seks untuk mendapatlkan uang. seseorang yang menjualkan jasa seksual bisa juga disebut sebagai pelacur yang kerap di sebut juga sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Adapun beberapa faktor penyebabnya yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Tuntutan ekonomilah yang menyebabkan mereka bekerja seperti itu. kalau yang bisa dilihat dari kasus di ata, sangat ironi memang melihat anak-anak yang dari usia dini bahkan dari mereka yang notabene sejak lahir tinggal di lingkungan suram seperti itu. Pada dasarnya pun sang orang tua yang telah menjadi PSK ini tidak ingin kalau nantinya anaknya ikut terjun atau menjadi apa yang mereka tekuni saat ini. Dengan adanya sosok dan usaha keras dari Pak Nusa dan kawan-kawan yang walaupun perlahan untuk menyelamatkan peri-peri bocah yang masih sangat polos itu untuk ke arah yang lebih baik dan untunglah ada tanggapan yang positif dari mereka.

    Pertanyaan :
    1.Apakah para Pekerja Seks Komersial yang bertaubat akan diampuni dosanya oleh Tuhan?
    2.Menurut Bapak, mereka kakak adik yang tidak sama rupa mukanya dan tidak sama sekali mirip antar satu dengan yang lainnya karena berbeda Ayah atau bagaimana?
    3. Apakah bisa para PSK tersebut di terima kehadirannya oleh masyarakat awam ?

    BalasHapus
  10. Kusumaningdyah (4915133417) PIPS 2013 B

    Setelah membaca artikel bapak yang satu ini saya merasa bersyukur. Mensyukuri bahwa saya tidak ada dalam kehidupan tersebut. Karna kalau di film-film, untuk keluar dari lingkungan tersebut sangatlah susah. Tetapi hal ini sangat di sayangkan, mereka melakukan hal yang sudah jelas-jelas perbuatan dosa. Saya yakin agama manapun melarang pekerjaan menjadi WTS.

    Pertanyaan:
    Anak-anak yang tinggal di sana tumbuh besar tanpa mengenal sosok ayah mereka? Artinya mereka hidup tanpa kasih sayang dari seorang ayah? Apa mereka berusaha mencari siapa ayah mereka?
    Berapa persen WTS yang berniat tobat?
    Apakah sebelum menjadi WTS, mereka sudah memikirkan resiko jangka panjang yang akan mereka alami?

    BalasHapus
  11. Di zaman yang serba usah ini, orang-orang menggunakan berbagai cara untuk bertahan hidup. Beberapa diantaranya menggunakan cara yang diharamkan, termasuk yang terjadi pada tulisan di atas. Tulisan ini menggambarkan mengenai kehidupan di lingkungan WTS, terutama anak-anak mereka. Sebetulnya para wanita itu mengetahui jika pekerjaan mereka melanggar aturan norma dan agama. Namun itulah satu-satunya cara bagi mereka untuk bertahan hidup tanpa bergantung dengan orang lain. Padahal jika mereka ingin berusaha, pasti Tuhan akan membukakan berbagai jalan dan solusi untuknya.
    1. Bagaimana cara agar para ibu dan anak tersebut bisa keluar dari zona tidak aman tersebut?
    2. Apa solusi bagi pemerintah untuk mengurangi angka WTS di Indonesia?
    3. Apakah budaya dan kebiasaan ibu mereka telah banyak mempengaruhi pola pikr anak-anak mereka?

    BalasHapus
  12. Tarmuji
    PIPS B 2013
    4915133414

    Sangat disayang kan hal ini selalu terjadi masyarakat kelas bawah. Andai saja pemerintah lebih peduli terhadap rakyat kecil seperti di artikel mungkin saja tidak akan terjadi seperti ini. Pemerintah selalu saja disibukan dengan urusan politik yang tak berujung. Walaupun pemerintah tidak begitu peduli masih ada segilintir orang yang peduli. Dalam artikel tersebut hati nurani ibu sangat berpengaruh dalam membantu penulis untuk membantu anak - anak lepas dari lingkarang setan itu.

    pertanyaan :
    1. Apa kesulitan dalam mengahadapi preman yang dapat menghambat bapak ?
    2. Mengapa bapak berprinsip bahwa ibunya sudah tidak dapat di didik lagi ? tapi faktanya masih ada yang mau belajar untuk bekal bertaubat ?
    3. Metode apa yang bapak gunakan dalam penelitian kali ini ?

    BalasHapus
  13. Permasalahan:
    - Apa yang menjadi masalah pemerintah dalam membasmi tempat lokalisasi PSK?
    - Bagaimana pemerintah membuat lapangan pekerjaan untuk menekan jumlah PSK?
    - Adakah upaya pemerintah untuk menyelamatkan anak-anak PSK?
    - Apakah pemerintah sudah melakukan penelitian mengapa angka jumlah PSK terus bertambah?
    -Solusi apakah yang tepat untuk mengurangi jumlah PSK?
    -Adakah upaya pemerintah untuk memberdayakan PSK dengan memberikan ketrampilan?
    - Bagaimana psikologis anak-anak yang tinggal di tempat lokalisasi PSK?

    BalasHapus
  14. INDRIANIE DEWI (4915122544)
    PIPS A 2012

    Rumusan masalah
    Setelah membaca tulisan pak nusa, saya merumuskan 3 rumusan masalah, yaitu:
    1. Adakah peran pemerintah dalam meminimalisir perkembangan keberadaan WTS?
    2. Apakah pemerintah tidak mensosialisasikan dampak negatif dari perbuatan para WTS tersebut kepada anak-anaknya?
    3. Adakah perubahan sikap yang ditunjukkan dari anak-anak tersebut setelah mendapatkan pendidikan?

    BalasHapus
  15. nama : tresna nurfitri yanti
    kelas : pendidikan IPS A 2012
    nim : 4915120347

    Mencari pekerjaan di kota besar seperti jakarta ini memanglah sulit, namun bagi seorang ibu melakukan pekerjaan apapun ia jalani demi memberi sesuap nasi bagi anak-anaknya, walaupun pekerjaan yang harus ia geluti adalah mnejadi WTS. Namun, hati nurani seorang ibu tentu tak bisa dibohongi, jika anak-anaknya kelak tak boleh menjadi seperti ibunya, karena anak merupakan generasi penerus bangsa yang seharusnya dididik untuk menjadi manusia yang berguna. Latar belakang keluarga yang tidak jelas tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk tetap belajar, dan inilah yang memang seharusnya mereka lakukan.
    1. Apakah adanya kegiatan pemberdayaan tersebut berjalan efektif, sehingga anak-anak di lingkungan tersebut benar-benar dapat keluar dari zona lokalisasi tersebut?
    2. Bagaimana peran pemerintah dalam menanggulangi masalah lokalisasi tersebut?
    3. Apakah dampak jangka panjang yang akan dialami anak-anak tersebut karena terlahir dari keluarga yang latar belakangnya tidak jelas?
    4. Apakah ibu dari anak-anak tersebut memiliki seorang suami yang sah di mata hukum? Jika ada, apa peran suami dalam hal ini?

    BalasHapus
  16. Setelah saya membaca tulisan pak nusa yang berjudul “saya ndak tahu bapaknya”, saya merasa miris membayangkan bagaimana kehidupan di lokalisasi tersebut. Bagaimana para wanita ditempat tersebut mencari solusi dari kemiskinan yang menimpanya dengan cara menjadi WTS. Lalu yang lebih kasian adalah kehidupan anak-anak si lokalisasi tersebut, mereka kehilangan haknya untuk mengenyam pendidikan. Lingkungan yang tidak baik itu juga membentuk moral serta sikap anak-anak di lokalisasi tersebut menjadi tidak baik. Dan saya salut kepad pak nusa yang sangat peduli terhadap anak-anak tersebut dengan mendirikan taman belajar untuk anak-anak di lokalisasi itu, serta mau mengarahkan anak-anak tersebut kea rah yang lebih baik, agar kelak mereka mampu memiliki masa depan yang cerah.
    Lalu saya juga bangga kepada para ibu yang ada di lokalisasi tersebut, mereka sangat berantusias mendukung kegiatan yang dicanangkan oleh pak nusa yang memang notabene kegiatan yang mengarahkan anak-anak mereka untuk lebih baik.
    Pak nusa sebagai peneliti melakukan kegiatan yang dijabarkan ditulisan “saya ndak tahu bapaknya” sangat bagus sekali, ia selain meneliti, ia pula memberikan solusi terbaik untuk anak-anak yang ada di lokalisasi tersebut. pak nusa sebagai peneliti menunjukkan dalam tulisan “saya ndak tahu bapaknya” bagaimana seorang peneliti harus bersabar ketika ide baiknya belum mampu diterima untuk masyarakat lokalisasi tersebut, ia pula menunjukkan sebagai peneliti, tidak seharusnya mencari keuntungan untuk dirinya sendiri, tetapi ia pun mencarikan solusi terbaik untuk semua pihak di lokalisasi tersebut, sangat luar biasa !
    Berikut ini pertanyaan yang saya ajukan terkait tulisan diatas :
    1. Bagaimana proses peneliti bisa mengetahui seluk beluk mengenai permasalahan lokalisasi tersebut ?
    2. Bagaimana cara peneliti untuk mencari solusi terbaik ketika para preman belum bersahabat dengan peneliti ?
    3. Bagaimana kehidupan para WTS di lokalisasi itu setelah anak-anaknya di pindahkan di tempat yang lebih baik dari lokalisasi tersebut ?

    BalasHapus
  17. Nama : Silvia Radita
    NIM : 4915122560 / Pendidikan IPS A 2012

    Memang begitulah hidup. Jika kita tidak pintar – pintar maka hidup akan seperti yang dijalani oleh para ibu – ibu tersebut. Tetapi saya juga salut terhadap para ibu – ibu tersebut karena masih mementingkan pendidikan untuk anak – anaknya. Sehingga ke depannya kelak anak – anaknya tidak akan seperti ibunya. Walaupun pekerjaan ibunya adalah salah satu pekerjaan yang sangat berdosa tetapi para ibu masih memiliki hati yang bersih. Sebab ketika ada seorang peneliti yang akan melakukan pemberdayaan pendidikan terhadap anak mereka, para ibu menginginkan anaknya juga diajari mengaji dan shalat. Walaupun pekerjaannya kotor tetapi para ibu masih mengingat tuhan. Saya juga salut dengan para ibu tersebut karena mereka juga menginginkan agar si peneliti mengajarkan mengaji kepada ibu – ibu tersebut. Hal ini dilakukan kelak untuk dia bertaubat ke depannya. Mereka juga tidak menginginkan anaknya bekerja sepertinya sehingga ketika si peneliti memberikan solusi agar anak – anaknya meninggalkan lokasi tersebut maka para ibu tersebut sangat senang karena masa depan anaknya bisa lebih baik dari pekerjaan yang dilakukan oleh ibunya.
    Pertanyaan :
    1. Apa yang menjadi landasan anda untuk meneliti ke lokasi tersebut ?
    2. Mengapa para ibu baru sadar untuk mmbawa anaknya keluar dari lokasi tersebut setelah sanga peneliti dapat melakukan perjanjian kepada preman di lokasi tersebut ?
    3. Apakah karena kemiskinan para ibu rela untuk melakukan hal seperti itu ?

    BalasHapus
  18. NAMA : YOSI AFRIANI
    NO REG : 4915122518

    Menurut saya taman belajar yang didirikan di lingkungan lokalisasi tersebut baik untuk mendidik dan mengarahkan anak-anak pelacur tersebut, agar tidak mengikuti orang tuanya. sebagaimana yg kita ketahui bahwa lokalisasi bukan menghalalkan perzinaan, tapi membiarkan orang2 berzina dan memberikan fasilitas untuk melakukan dosa besar. Disana tampak solusi yang diberikan bersifat kuratif bukan preventif. Bukankah jauh lebih tepat menghentikan dan mencegah perzinaan ketimbang membiarkannya secara “terkelola” dan “terkontrol”? Dengan adanya lokalisasi ini menyiratkan bahwa umat manusia dipaksa harus mengalah pada kemaksiatan. Sudah banyak fakta bahwa meski pelacuran terlokalisir akan tetapi pengontrolannya tetap sulit. Penyebaran kondom di tengah para PSK juga tidak efektif karena banyak lelaki pezina langganan mereka yang menolak menggunakan kondom, akhirnya anak yg terlahir TIDAK TAHU SIAPA BAPAKNYA. Jangan menutup mata bahwa meskipun sudah dilokalisasi tetapi prostitusi di luar kawasan lokalisasi tetap berjamur. Karena para mucikari dan PSK juga beroperasi bukan hanya di kawasan lokalisasi, tapi juga ke hotel-hotel, tempat wisata, dll. Sudah merupakan pemahaman umum bagi muslim bahwa zina adalah perbuatan buruk dan wajib diketahui. Karena itu ia mesti dijauhkan dari masyarakat dan hal-hal yang menyebabkan adanya perzinahan meski diberantas atau dihindari. Termasuk di dalamnya lokalisasi, anak bangsa harus diselamatkan dari kemaksiatan.

    Permasalahan :
    -apa yg harus di lakukan orang tua agar anak-anak mereka tidak mengikuti jejak ibunya?
    -apa upaya yg harus dilakukan pemerintah agar lokalisasi tersebut ditutup dan di musnahkan?
    -apakah cukup dengan mendidik dan dibekali ilmu pengetahuan merubah prilaku anak-anak yang tinggal di wilayah lokalisasi tsb?
    -bagaimana keadaan psikologis anak-anak yang tinggal di lingkungan pelacur tsb.?
    -bagaimana jika seorang anak tidak sengaja melihat ibunya berhubungan badan dengan pelanggan?
    -bagaimana pola pikir anak-anak yang tinggal di lingkungan pelacur tsb.?
    -solusi apa yang tepat dilakukan untuk mengurangi jumlah PSK ?

    BalasHapus
  19. Nama : Suratno Ariangga
    Nim ; 4915122557
    Jurusan : Pendidikan IPS A 2012

    Banyak dari para pekerja seks terpaksa menjalani pekerjaannya sebagai PSK karena tekanan ekonomi. .Mereka terjeremus ke dalam pelacuran guna mendapat nafkah yang mencukupi untuk diri sendiri atau keluarganya.Tidak adanya dukungan sosial ini menyebabkan para PSK membentuk kelompok sendiri, yang selanjutnya makin menjauhkan diri mereka dari masyarakat umum seperti masuk ke dalam suatu lokalisasi . Di daerah lokalisasi inilah bagaimana PSK hidup dibawah tekanan dari lingkungan sekitarnya baik dari lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat seperti banyak para preman. Serta harus menerima berbagai macam persepsi negatif yang dialamatkan pada pelacur selama ini. PSK yang secara sadar maupun tidak sadar, langsung maupun tidak langsung ingin juga diakui sebagai layaknya manusia pada umumnya, sehingga dapat dikatakan mempunyai kebutuhan dasar serta keinginan mereka dengan manusia lain pada umumnya. Sebagaimana manusia pasti memiliki suatu keinginan untuk hidup bahagia. Meraih kebahagian merupakan tujuan hidup manusia yang tidak dapat dipungkiri lagi, sehingga segala apa yang dilakukan manusia pada akhirnya hanyalah untuk membuatnya hidup bahagia.Dari sinilah mereka tak mau anaknya terjemerus seperti mereka. Tentunya mereka menginginkan anaknya bekerja dengan jalur yang halal. Maka dari itu, meraka menyuruh anaknya sekolah dengan memanfaatkan sarana pendidikan yang dilakukan peneliti, tentunya agar memperoleh didikan nilai dan moral agama.

    Dari pernyataan diatas, maka saya dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
    1. Apa yang menyebabkan pekerja seks terpaksa menjalani pekerjaannya sebagai PSK ?
    2. Apa penyebab daerah lokalisasi PSK masih terus berkembang?
    3. Bagaimana pengaruh lokalisasi PSK terhadap psikologis anak-anak?
    4. Bagaimana kehidupan sosial dan sarana pendidikan di daerah lokalisasi PSK?
    5. Apa solusi yang tepat untuk mengurangi jumlah PSK di daerah lokalisasi?

    BalasHapus
  20. asssalamu'alaikum wr.wb

    Tri Wulandari
    4915120340
    Pendidikan IPS (A) 2012

    Fenomena yang terdapat di tulisan tersebut sebenarnya mewakili fenomena-fenomena yang terjadi di berbagai tempat. Tidak hanya di daerah lokalisasi saja, di kota metropolitan saja banyak yang terjadi seperti itu, namun bedanya kelasnya lebih tinggi. Hal yang jarang ditemui dari fenomena tersebut adalah seorang ibu yang masih memikirkan masa depan anaknya utnuk menjadi lebih baik dan masih mempertahankan anaknya walaupun dari laki-laki yang berbeda. Kebanyakan yang ditemui adalah seorang ibu tidak peduli terhadap masa depan anaknya bahkan mengajak untuk mengikuti jejak hidupnya menjadi seorang “penghibur” atau sampai ada yang menggugurkan anaknya hasil dari hubungan gelap karena tidak mau menanggung beban ke depannya. Dari tulisan “saya ndak tahu siapa bapaknya” dapat dirumuskan permasalahannya yaitu :
    1. Hal apa yang menjadi latar belakang sang ibu bekerja sebagai WTS?
    2. Mengapa sang ibu masih mempertahankan dan peduli terhadap masa depan anaknya?
    3. Apakah ada peran pemerintah dalam mengatasi WTS tersebut?

    BalasHapus
  21. NAMA:SANDIALFI FEBRIANTO
    KELAS:2012 REGULER
    NIM:4915122532

    dalam hal apapun orang tua pasti mendukung anak anaknya untuk mengenyam pendidikan,tetapi kondisilah yang menolak pendidikan itu untuk masuk di daerah mereka,tak ada orang tua yang ingin anaknya gagal seperti mereka naluriah orang tua sangat kental dalam hal yang seperti itu dimana mereka sudah menjadi wts begiitu menyentuh ketika seorang ibu berkata kepada anaknya hal yang seperti itu.
    inikah kehidupan yang dimana semua orang bermotivasi untuk ongon lebih maju di kehidupan,jangan sekali kali kita melihat seorang ibu itu bekerja seperti itu ia tidak punya hati.contohnya saja pada kasus ini diman ibu ibu di daerah itu sangat mendukung jika anak anak mereka ada yang menyekolahkan hal itu sama saja perbaikan moral untuk anaka anak mereka.

    pertanyaan:
    1.apakah dalam pelaksanaan perbaikan moral untuk anak anak di daerah tersebut ada campur tangan dari pemerintah
    2.apa yang membuat preman preman tersebut mengijinkan ada kegiatan yang bersifat perbaikan moral di daerah tersebut?
    3. metode apa yang di lakukan untuk membujuk preman tersebut sehingga di ijinkan di bukanya praktek belajar di sana?

    BalasHapus
  22. Maya Yulia Dwi Putri Maranatha
    Pendidikan IPS A 2012
    4915122540

    Demi mempertahankan hidup, sering kali manusia menghalalkan segala cara. Namun, dalam proses mendapatkan uang, manusia tentunya masih menggunakan akal pikirannya yang sehat. Terjepit keadaan ekonomi, tidak membuat sang ibu menjebloskan anaknya kepada lubang yang sama. saya sangat setuju oleh pemikira kebanyak ibu disana, memang benar mereka memerlukan uang, namun jangan biarkan anak menjadi budak uang seprti dirinya.

    dari bacaan diatas, maka saya mengajukan pertanyaan:
    1.Apa yang mendasari pemikiran sang ibu agar anaknya tidak terjerumus dalam hal yang sama?
    2. apa akibat yang di dapat sang anak bila tumbuh kembang dalam lingkungan lokalisasi?
    3. bagaimana para PSK tersebut bisa bergabung dalam lingkungan lokalisasi tersebut?
    4. adakah jalan keluar untuk para PSK yang ingin bertaubat?

    BalasHapus
  23. Laura Turena
    4915122549

    Menjadi seorang pelacur bukan dari keinginan hati mereka dari dalam hatinya mereka menolak tapi keadaan ekonomi dan lingkungan lah yang membuat seperti itu

    Mereka selalu mempunyai mimpi tapi sayang mereka sudah terlalu tua .Kepeduliaan dari orang orang dari kitalah yang menentukan bangaimana nasib anak mereka .karena Ibu selalu berkeinginan yang terbaik untuk anaknya .

    Kepedulian akan sesama akan memperbaiki bangsa ini

    Rumusan Masalah
    1.Bnagaimana Ibu itu dapat terjun ke dalam bisnis haram ini ?
    2.Bangaimana Pendekatan yang dilkukan relawan agar kegiatan ini tetap ada ?
    3.Bangaimana agar para masyarakat tidak apatis dalam masalah ini dan mau lebih peduli dan membimbing para ibu -ibu ini ke jalan yang benar ?

    BalasHapus
  24. Nama muhamad umar
    Nim 4915120348
    Dengan adanya fenomena tersebut saya mengambil dua kesimpulan bawasanya orang tua atau ibu tersebut tidak akan melakukan propesi menjadi lonte, dengan alasan ekonomi yang terbatas untuk menyambung kehidup dan dikarnakan juga ibu tidak mempuyai pemahaman spiritual yang mendalam. mengapa saya mengatakan dan menarik kesimpulan tersebut. Karna pertama dari keterbatasan ekonomi. Banyak seorang ibu yang melakukan propesi tersebut bukan dari orang kota asli tetapi mayoritas orang kampung atau orang-orang daerah, karna di kampung ekonominya yang terbatas atau kurang lalu ia hijrah ke kota untuk memperpanjang kehidupan. Kedua saya mengatakan bahwa ibu tersebut tidak memiliki pemahama spiritual yang dalam itu sangatlah jelas, karna apabila ia mempunyai pemahaman spiritual yang dalam dan yakin bahwa tuhan sudah mengatur rezeki seseorang ia tidak akan melakukan propesi tersebut. Tetapi dengan seperti itu ibu tidak ingin anak-anaknya menjadi sepertinya maka ibu tersebut menyetujui anaknya untuk tinggal dipesantren ataupun kerumah neneknya yang berada dikampung.

    Rumusan masalah
    1. Perjanjian apa saja yang peneliti buat dengan preman tersebut ?
    2. Apakah tidak ada langkah dari aparat dengan adanya propesi lonte tersebut ?
    3. Apakah ada efek dari anak-anak tersebut dengan diajarkanya mengaji, dengan propesi yang ibu lakukan ?

    BalasHapus
  25. Pertanyaan:

    1. Bagaimanakah peneliti bisa diterima di lingkungan tersebut? Pendekatan apa yang perlu dilakukan?
    2. Apakah kemiskinan telah merubah mainset pada ibu-ibu disana,bahwa prostitusi adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup?
    3. Tidak adakah perhatian pemerintah dalam menertibkan dan menangkap para preman tersebut?
    4. Apakah sebelum team peneliti datang, di tempat itu belum ada kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anak dan memberikan pendidikan agama?

    KAMILIA FAIRUZ HISANA
    PIPS A 2012

    BalasHapus
  26. NAMA : arimbi marsellia
    NIM : 4915120341
    PENDIDIKAN IPS 2012 A

    sikap para orangtua di lokalisasi ini setidaknya lebih baik ketimbang di tempat yang satunya lagi yaitu "pela pela".. mereka masih mau melihat anaknya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

    rumusan masalah :
    1. apakah tidak ada solusi untuk menangani para PSK ?
    2. tidak bisakah pemerintah merazia mereka tetapi juga memberikan mereka pekerjaan yang lebih layak?
    3. apakah banyak anak yang lahir tanpa diketahui siapa bapaknya ? tidak repotkah mereka dalam mengurus surat-surat seperti akte kelahiran ?

    BalasHapus
  27. Kartika Sari Berlian
    4915122550
    P.IPS Reg 2012

    1.) Mengapa para ibu tidak berusaha untuk melepaskan diri dari pekerjaan sebagai PSK dan lebih memilih pekerjaan yang halal ?
    2.) Bagaimana cara berpikir anak-anak yang tumbuh di daerah lokalisasi ?
    3.) Adakah upaya pemerintah dalam hal pemberantasan PSK ?
    4.) apa saja upaya pemerintah dalam proses pembentukan kepribadiaan anak yang tumbuh di daerah lokalisasi ?

    BalasHapus
  28. Nama : Subur
    NIM : 4915122559
    P.IPS A 2012

    Memang tidak semua orang tua menginginkan anaknya bernasib seperti mereka, jika keadaan mereka yang memang kurang baik. Terutama seorang ibu, seolah ada ikatan batin yang kuat kepada anaknya. Seburuk-buruknya seorang ibu, pasti ingin anaknya lebih baik darinya. Begitu pula yang di tuliskan dalam tulisan “ saya ndak tahu bapaknya”. Ada kesadaran orang tua yaitu ibu-ibu, yang memang pekerjaan sehari-hari mereka menjadi PSK, namun semua itu mereka tidak mau sampai terlibat kepada anak-anaknya. Mereka megizinkan bahkan ngotot memaksa agar anaknya mau mengikuti kegiatan yang diadakan peneliti, seperti mengaji, solat, menulis, membaca, dll. Disini yang di tekankan adalah soal pengetahuan agamanya, karna itu berpengaruh terhadap moral anak-anak tersebut agar lebih baik. Karena hal yang bersifat kerohanian itu dapat membantu psikologis anak untuk membentengi diri. Namun, tidak lupa juga bahwa hal-hal yang bersifat jasmaniyah juga penting sebagai kebutuhan fisik dalam menambah pengetahuan. Dari tulisan itu saya pun dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
    - Apakah tidak ada tindakan pemerintah untuk menghilangkan lokalisasi itu?
    - Mengapa para ibu-ibu di tempat itu, mau menjadi WTS?
    - Bagaimanakah pola pikir orang-orang yang ada di lokalisasi tersebut terhadap perkembangan anak-anak mereka?

    BalasHapus
  29. Jihan Safira
    4915122529

    Keadaan ekonomi yang menghimpit terkadang memang menjadi alasan utama ketika kita bertaya alasan mengapa seorang wanita memilih menjadi PSK. Terutama jika lingkungan sekitarnya mendukung, itu semakin memperkuat tekadnya untuk menjadi seorang PSK. Akan tetapi, naluri keibuan dalam diri mereka masih melekat. Mereka tidak ingin anaak-anaknya bernasib seperti dirinya. Mereka berharap anak-anaknya dapat menaikkan derajat keluarganya meskipun mereka sendiri tidak tahu siapa ayah dari anak-anaknya.
    Rumusan Masalah:
    1. Apakah memindahkan anak dari lokalisasi tersebut merupakan solusi yang tepat untuk merubah nasib anaknya agar tidak terjerumus?
    2. Mengapa para ibu-ibu PSK tersebut justru senang jika anaknya diajarkan pendidikan, solat dan mengaji?
    3. Bagaimana cara memotivasi anak-anak tersebut agar pola pikir mereka lebih maju dan dapat merubah nasib keluarganya?

    BalasHapus
  30. nama : Nurlaela mahardika
    NIM : 4915122526

    Dari tulisan di atas, saya dapat merumuskan masalah sebagai berikut :
    Apa yang mendorong para orang tua tersebut bertempat tinggal di lokalisasi tersebut?
    Faktor apa yang menyebabkan para orang tua tersebut menjadi WTS?
    Mengapa tidak ada upaya pemerintah untuk membrantas lokalisasi tersebut?
    Bagaimana pengaruh psikologis terhadap anak-anak yang ada di lokalisasi tersebut?
    jika tidak ada upaya yang di lakukan peneliti terhadap anak-anak tersebut, apakah yang akan terjadi?

    BalasHapus
  31. Azizah Maharani
    4915122561
    P. IPS Reg 2012

    Seburuk apapun perilaku seorang ibu, pasti ia ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Seperti penelitian diatas, seorang ibu yang menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi anaknya tidak seperti dirinya hanya seorang pekerja prostitusi, sehingga para ibu menyuruh anaknya untuk belajar dan mengaji, bahkan jika anak tidak mengaji sekali saja sang ibu tidak segan-segan memarahinya. Pada penelitian diatas semua ibu ingin anaknya memiliki nasib yang lebih baik dari dirinya.
    Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian dengan sangat baik sehingga dapat di terima di lingkungan yang tak mudah untuk sembarang orang masuk ke tempat lokalisasi tersebut.

    Rumusan Masalah:

    1. Bagaimana cara peneliti bisa diterima dengan baik di lingkungan dalam penelitian ‘Aku ndak tau siapa bapaknya’ diatas?
    2. Apakah ada penertiban dari pemerintah terhadap lingkungan prostitusi dalam penelitian diatas?
    3. Bagaimana keadaan psikis anak yang mengetahui bahwa ibunya seorang wanita penghibur dan tidak diketahui siapa ayah biologis dirinya pada penelitian diatas?

    BalasHapus
  32. M rio Malaha S 4915120342 P.IPS 2012 A

    Penyebab utamanya adalah kemiskinan, karena hal ini lah yang membuat para ibu melakukan pekerjaan area lokalisasi itu, tetapi pada dasarnya seorang ibu itu tidak ingin menjadi seperti itu, apalagi alau ana anak mereka mengikuti jejak ibunya, maka dari itu ibu didaerah lokalisasi sangat setuju dengan upaya pendidikan yang ditujukan oleh anak anaknya. anak anak itu pun cukup senang dengan apa yang diajarkan walaupun ada beberpa yang malas, mereka sangat kuat walaupun mereka tidak tau bapak kandung mereka siapa tapi mereka tetap bersemangat dalam menjalankan hidup mereka.

    rumusan masalah :
    1. bagaimana peran selanjutnya untuk mengarahkan ibu ibu itu untuk meninggalkan area lokalisasi tersebut ?
    2. bisakah peran pemerinah memberikan pekerjaan yang layak kepada ibu ibu itu ?
    3. apakah anak anak tersebut dapat terpisah dari ibunya apabila mengikuti pesantren ?

    BalasHapus
  33. Nama : Sartika Oktaviani
    Nim : 4915127073
    P.IPS 2012' B

    Dari tulisan yang tersebut dapt kita ketahui bahwa seorang wts juga mempunyai naluri seorang ibu, mereka tidak menginginkan anaknya seperti dinya yang berdosa dan hina.

    dari tulisan " saya tidak tahu bapaknya " saya ingin mengajukan 3 pertanyaan :
    1. Bagaimana cara bapak melakukan pendekatan kepada komunitas tersebut?
    2. Bagaimanakah proses mendirikan taman bacaan di tempat lokalisasi tersebut?
    3. Adakah hambatan dalam mendirikan taman belajar di daerah lokalisasi tersebut?

    BalasHapus
  34. Annahal Eleista
    4915120350
    P.IPS A 2012
    Metlit

    PENDAHULUAN
    Setelah membaca tulisan yang berjudul “Saya Ndak Tahu Siapa Bapaknya”, ternyata ada salah satu hal yang menjadi pokok sorotan dalam pembahasan yang ada di serangkaian kata-kata tulisan ini. Yang dimaksud dari kata “satu hal” di dalam rangkaian kata-kata tulisan itu adalah tentang perihal kemiskinan. Kata “kemiskinan” sudah bukan hal yang baru atau new topic dalam perbincangan seluruh masyarakat di Indonesia ini. Di dalam pembahasan yang ada pada tulisan ini menyatakan bahwa kemiskinan merupakan salah satu unit atau faktor utama permasalah yang akan bisa memunculkan atau menghasilkan cabang-cabang masalah yang lainnya.
    Dalam ranah profesi yang akan dimiliki.
    Bisa kita bayangkan, jika beberapa keluarga yang hidup di bawah garis perekomian rata-rata atau bisa dikatakan hidup didalam lingkaran kemiskinan akan mendapatkan kerja yang seperti apa?. Pastinya jawaban yang pas untuk pertanyaan tersebut adalah akan mendapatkan pekerjaan serabutan atau pekerjaan yang bersifat bebas. Bebas maksudnya adalah bebas dari persyaratan, bebas dari peraturan, bebas untuk ganti-ganti pekerjaan, dan bebas dalam hal yang lainnya. Nah begitu pula dengan makna dari pembahasan yang ada di dalam alur tulisan ini. Yang mana makna dari tulisan ini yaitu “dengan menduduki tingkat perekonomian yang rendah, maka orang-orang tersebut akan bebas mencari nafkah demi mencukupi biaya kehidupan sehari-hari” (pemaknaan dari penafsiran sendiri). Hal dari perkataan tersebut dapat dibuktikan dari jenis-jenis pekerjaan yang digeluti oleh orang-orang yang berada di dalam lingkaran kemiskinan. Pekerjaan atau profesi yang dijelaskan di dalam tulisan ini yaitu seperti : berprofesi sebagai lonte. Dapat ditarik kesimpulan dari pembahasan yang telah diutarakan panjang lebar di muka bahwa masalah dalam ranah profesi yang digeluti oleh masyarakat yang berada di dalam lingkaran kemiskinan merupakan salah satu masalah yang dapat muncul karena diakibatkan oleh adanya permasalah inti yaitu kemiskinan.
    Dalam ranah moral dan perilaku
    Tadi di dalam pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa ranah profesi merupakan masalah yang muncul karena akibat dari masalah kemiskinan. Begitu puladengan ranah moral dan perilaku. Biasanya orang yang berada di dalam lingkaran kemiskinan di dalam hidupnya, maka hidup mereka akan liar dan bebas dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. Perkataan tersebut memang terbukti dengan adanya makna dari tulisan tentang “Saya Ndak Tahu Siapa Bapaknya”. Di dalam tulisan tersebut mengatakan bahwa “Anak-anak itu sudah sangat terbiasa melihat ibunya 'ngamar' dengan macam-macam lelaki setiap hari”. Dari perkataan itulah, maka dapat dijadikan suatu bukti bahwa memang benar adanya jika moral dan perilaku yang dimiliki oleh orang-orang yang berada di lingkaran kemiskinan sangatlah liar dan bebas. Masalah ini dapat terjadi lantaran karena profesi yang dimiliki oleh orang tuanya, lalu mereka hidup di area yang tak lazim untuk dihuni, dan khususnya masalah ini dapat muncul karena adanya faktor kemiskinan yang menimpa keluarga tersebut.
    RUMUSAN MASALAH
    Di dalam karya tulis yang berjudul “Saya Ndak Tahu Siapa Bapaknya” dapat menghasilkan beberapa rumusan masalah. Ada beberapa rangkaian rumusan masalah yang terdapat di dalam karya tulis ini yaitu sebagai berikut :
    1. Seperti apa perkerjaan yang dilakoni oleh orang tuanya guna membiayai kehidupan anak-anaknya?
    2. Pendidikan seperti apa yang pantas untuk diberikan dan diajarkan oleh anak-anak yang bertempat tinggal di wilayah seperti ini?
    3. Seperti apa moral dan perilaku yang sangat patut untuk diberikan dan diajarkan kepada anak-anak yang bernaung nasib di wilayah tersebut?
    4. Apa saja dampak yang akan dihasilkan dari contoh-contoh perilaku yang diberikan oleh orang tuanya dan penanaman pendidikan yang diemban oleh sang anak dalam menjalankan kehidupan disetiap harinya?
    5. Bagaimanakah solusi menurut cara pandang secara umum yang tepat dan baik untuk memberantas atau meminimalisir permasalahan yang terjadi seperti pada tulisan ini?

    BalasHapus
  35. PIPS Reg 2012
    4915122520

    Kepribadian seseorang salah satunya dibentuk oleh lingkungannya. Lingkungan yang baik, dengan masyarakat yang memegang nilai-nilai spiritual dan norma yang tinggi, biasanya akan membentuk pribadi-pribadi yang baik pula dalam masyarakat tersebut. Sebaliknya lingkungan yang penuh dengan kekerasan, pergaulan bebas, dan penyimpangan sosial, akan membentuk seseorang dengan perilaku yang tidak jauh berbeda dengan masyarakat sekitarnya. Tetapi faktor pembentuk kepribadian seseorang tentunya tidak berasal dari lingkungan saja, namun peran pembimbing dan pendidik dalam hal ini orang tua juga dapat mempengaruhi kepribadian anak. Anak-anak yang hidup dalam lingkungan yang kurang mendukung dapat tetap tumbuh menjadi anak berkepribadian baik jika pemberian arah orang tuanya juga baik. Inilah yang dapat dilakukan para orang tua yang memiliki anak bertempat tinggal di lingkungan prostitusi. Menerima kesempatan untuk memberikan pendidikan layak untuk anak-anak mereka yang sebelumnya tidak diperhatikan para orang tua. Dengan pendidikan diharapkan anak-anak ini dapat meningkatkan perekonomian keluarga sehingga mereka tidak perlu lagi bekerja di lokalisasi.
    Rumusan masalah :
    1. Bagaimana menanamkan sikap-sikap spiritual dalam anak-anak yang tinggal di lingkungan lokalisasi agar mereka tidak ikut bekerja di tempat prostitusi tersebut?
    2. Upaya apa yang dapat dilakukan agar masyarakat lingkungan prostitusi memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan untuk anak-anak mereka di masa depan?
    3. Mengapa para orang tua yang bekerja pada tempat prostitusi tersebut membiarkan anak-anak mereka tumbuh di lingkungan yang kurang baik untuk perkembangan mental dan psikologis mereka?

    BalasHapus
  36. Ahmad Fauzan Lukman (4915122519) P.IPS A 2012

    sangat mengapresiasi sekali apa yang sudah dilakukan oleh bapak terhadap anak-anak bahkan penghuni lokalisasi tersebut. Mungkin ini tidak hanya terjadi kepada satu tempat saja, namun masih banyak yang sejenisnya di tempat lain. Sangat miris jika potret kemiskinan menjadi alasan untuk mendapatkan penghidupan yang layak dengan menghalalkan segala cara. Seolah yang bernama kemiskinan itu merupakan lingkaran setan yang mungkin agak sulit untuk keluar dari jeratannya. Termasuk dalam hal ini prostitusi. Dibutuhkan usaha ekstra jika ingin merubah kesadaran mereka bahwa ada jalan lain yang bisa dilakukan selain prostitusi.

    1. Bagaimana keadaan lingkungan di sekitar lokalisasi?
    2. Adakah yang sebelumnya menjalankan program yang seperti bapak lakukan?
    3. Bagaimana teknik yang bisa dilakukan untuk melancarkan program tersebut?
    4. Apakah lingkungan sekitar mempunyai peran dalam pemberdayaan anak-anak di lokalisasi?
    5. Bagaimana teknik yang bisa diterapkan jika ingin melakukan di tempat lain?

    BalasHapus
  37. Raka Rosadhi Putra
    P IPS B 2013
    4915133412

    Sungguh ironis, disaat orang-orang pemerintahan sedang "menggendutkan" rekening bank mereka, para anak-anak dari WTS ini tak mendapat pendidikan. Untunglah bapak dan rekan-rekan bersedia memberikan mereka sesuatu yang seharusnya menjadi kewajiban pemerintah, pendidikan. Melihat hal ini, banyak pertanyaan yang ada di fikiran saya, mengapa itu bisa terjadi? Apakah para WTS itu tau akan resiko yang akan mereka hadapi? Apakah para WTS itu serius akan masa depan anak-anak mereka? Mengapa para WTS itu tidak di rehabilitasi oleh pemerintah? Lalu saya ingat memang seperti itulah kehidupan, manusia yang dibesarkan dalam keadaan berkecukupan dan manusia yang dibesarkan dalam keadaan serba kekurangan memang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menilai hal baik dan hal buruk.

    1. Mengapa ini masih saja terjadi di Indonesia yang sudah berusia hampir 95 tahun?
    2. Apakah ini salah mereka? Yang mencoba mengadu nasib di Jakarta?
    3. Haruskah kita sebagai mahasiswa berdiam diri? Sedangkan kita juga merupakan hasil dari sistem yang berbeda tapi bisa dibilang sama "jahat"nya dengan sistem yang ada di daerah Bongkaran tersebut?

    BalasHapus
  38. ABDUL KHODIR GOSA
    4915122551
    P.IPS A 2012
    kasus semacam ini sangatlah klasik terjadi di negara berkembang seperti indonesia. karena faktor dari adanya fenomena ini adalah kaitannya dengan faktor ekonomi masyarakatnya.
    rumusan masalah:
    1. adakah usaha dari para ibu-ibu tersebut untuk menvari tahu siapakah ayah sebenarnya dari anak mereka?
    2. apakah pemberdayaan dari pemerintah selama ini belum maksimal terhadap para warga di daerah tersebut?
    3. bagaimana pola asuh ibu tersebut terhadap anaknya di daerah lokalisasi tersebut?

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd