Keledai tidak masuk lubang yang sama dua kali. Tahu mengapa? Karena saat masuk lubang pertama kali, keledai sudah mati, sebab tidak bisa keluar. Sebaliknya manusia sering masuk lubang yang sama berkali-kali sampai lubangnya bosan.
Ini tentang seorang teman yang beda dengan keledai, dalam soal masuk lubang. Kini ia seperti jatuh, tertimpa tangga, masuk selokan, kesiram cet, dan kejatuhan genteng. Dia sampai gak ngerti. Dia sedang dapat ujian, cobaan atau azab. Bisa jadi ketiganya sekaligus. Ia sungguh merasa menjadi orang yang sengsara, menderita, dan merana. Malah bisa-bisa jadi tersangka. Rasanya hidup jadi lebih nelangsa, mengalahkan film-film India.
Dia pernah menjadi orang yang sangat kaya. Punya banyak usaha, rumah, tanah, mobil, motor, sepeda, dan sepatu roda. Sungguh banyak karena tidak ada yang satu, minimal dua. Sekeluarga punya berat badan berlebih. Bisa diberi gelar keluarga tambunan karena pada tambun, dan tinggal di Tambun, Bekasi.
Karena punya duit banyak, keluarga ini punya kebiasaan yang sebenarnya kurang bagus untuk kesehatan, juga terbukti sangat merusak mata alias mata pencaharian. Meski punya dapur yang besar, keluarga dengan lima anak ini hampir tidak pernah menggunakannya untuk memasak. Makanan selalu beli. Setiap kali makan, menu berganti-ganti, makanan Padang, cepat saji, soto Betawi, dan segala macam makanan yang berasaal dari resto di mal-mal. Bisa dibayangkan berapa uang yang dihabiskan setiap hari hanya untuk makan.
Setiap akhir pekan berwisata ke tempat yang mahal dan ekslusif, benar-benar menghabiskan uang. Belum lagi kebisaan beli pakaian, sepatu, tas, dan beragam asesori, serta berbagai alat kecantikan wanita. Memang, jika banyak uang, sejumlah orang tidak bisa menahan diri untuk membeli apa saja. Termasuk yang kurang atau tidak berguna. Mungkin kebiasaan ini termasuk sejenis penyakit. Banyak orang yang mengalaminya. Jangan-jangan kita juga.
Rupanya gaya hidup keluarga ini menjadi bumerang liar saat usaha mereka mulai goyah. Mestinya goncangan ekonomi membuat mereka mengerem gaya hidup yang sangat boros. Rupanya gaya hidup ini sudah memenjarakan mereka. Sudah tak ada kekuatan untuk keluar darinya.
Gabungan goncangan ekonomi dan gaya hidup yang boros, bukan saja membuat keluarga ini limbung, bahkan jatuh terjerembab. Mulailah mereka memasuki saat-saat mengerikan, terjerat hutang dengan bank, bank perkreditan rakyat, rentenir atau lintah darat, dan sejumlah pribadi.
Usaha tak juga beranjak maju. Satu-satu retak, limbung dan hancur. Sementara gaya hidup boros tak juga berubah. Hutang pada jatuh tempo. Bank menyita mobil dan toko, tanah juga diambil alih. Akhirnya, teman saya itu terpaksa menghilang karena jadi buronan polisi dan debt colector. Benar-benar berantakan. Televisi, kulkas, AC, lemari, meja makan, sofa, tempat tidur diambil alih oleh para pemberi hutang. Akhirnya rumah pun melayang.
Untunglah para saudara mereka yang selama ini diabaikan mau membantu, sehingga bisa membeli rumah kecil, dengan sisa-sisa harta. Bahkan seterikaan listrik pun tak punya. Mirip kayak sinetron Indonesia atau film India. Lama menunggu akhirnya teman saya itu berani pulang ke rumah baru dengan sembunyi-sembunyi.
Kemiskinan membuatnya berubah. Ia sebenarnya sangat faham agama, karena kuliah di kampus berbasis agama. Namun baru sekarang ia punya perhatian pada agama. Dalam masa susah ini ia rajin mengikuti pengajian para habib di mana-mana. Bila ngobrol, ia lebih banyak ngomongin agama. Seakan tak ada topik lain.
Selain ibu yang berasal dari keluarga gemuk atau tambun, semua anggota keluarga ini menjadi kurus dan sangat kurus. Kemiskinan tampak sangat jelas. Penderitaan psikologis tak bisa disembunyikan terutama pada anak-anaknya.
Setelah lama hidup dalam serba kekurangan, keluarga ini pelan-pelan mulai bangkit. Pada kala mereka memulai lagi usaha, nasib berfihak. Teman saya itu mendapat warisan dari keluarga besarnya.
Tiba-tiba mereka mulai merasa lebih lagi. Kehidupan boros dimulai lagi. Serumah jadi pada tambun lagi. Teman saya itu rupanya kini menderita diabetes. Gaya hidup boros dan rakus membuat penyakitnya makin parah.
Mulailah pamer-pamer. Rumah dibagusin, sepeda motor bejejer ada tiga. Soal makanan dan jajan jangan ditanya. Hobi lama pesta-pesta diulangi lagi. Sewaktu menikahkan putri pertama dibuat besar-besaran.
Kini, teman saya yang semakin parah diabetesnya mulai menghilang. Di dinding depan rumahnya ada pengumuman, rumah ini dijual. Motor pada diambilin dealer, karena cicilan gak dibayar. Rupanya kini dia terjerat rentenir lagi. Tetangga mulai heboh berspekulasi akan seperti apa hidupnya.
Mengapa manusia bisa seperti itu. Seakan tidak belajar pada pengalaman yang telah menghancurkannya, sehingga kini terulang lagi. Padahal kita selalu diingatkan bahwa pengalaman adalah guru yang baik. Jangan lupa, pengalaman bisa juga menjadi penjara yang buruk. Yang memerangkap kita sehingga cenderung melakukan hal negatif.
Para ahli neurosains menjelaskan mengapa manusia susah berhenti dari suatu kebiasaan, meskipun kebiasaan itu buruk dan merusak. Apapun yang kita kerjakan dan makan akan meninggalkan pengaruh pada otak. Jika perbuatan itu terus menerus diulangi, akan meninggalkan bekas yang makin tegas pada otak. Biasanya mulai dari coba-coba, kemudian kita mulai jadi terbiasa, selanjutnya menjadi ketergantungan. Setelah itu mulailah kita diatur oleh kebiasaan itu.
Pada mulanya kita yang memutuskan untuk memulai kebiasaan itu, saat kebiasaan itu makin membekas di otak, dia ikut menentukan cara kerja otak, menjadi bagian dari jejaring dan sirkuit otak. Akhirnya kebiasaan itu yang mengatur kita. Inilah penjelasan mengapa para dokter pun yang sangat tahu bahaya rokok, jika ketagihan rokok sulit berhenti. Cara kerja seperti inilah yang memerangkap orang pada ketergantungan narkoba.
Semua kebiasaan memiliki pola yang sama dalam memengaruhi otak. Meski tahu akan resiko terburuk, bila kebiasaan itu sudah sangat kuat, lekat erat dalam otak, manusia cenderung mengikuti perintah kebiasaan yang sudah meyandera otak.
Itulah sebabnya mengapa semua agama mengharuskan kita mengikuti kebiasaan baik yang berulang-ulang, bahkan dengan paksaan. Jika dilihat dari sudut pandang neurosains maksudnya adalah agar otak kita lekat erat dengan kebiasaan baik. Semakin sering kebiasaan baik itu dilakukan maka diharapkan hidup kita akan dituntun perintah yang baik oleh otak. Nabi Muhammad SAW pernah katakan, ibadah yang baik adalah yang dilakukan secara konsisten, berulang-ulang. Lebih baik melakukan ibadah sedikit tetapi dilakukan secara konsisten dan berulang-ulang daripada melakukan banyak tetapi hanya sekali atau jarang. Pengulangan dan konsistensi itulah yang akan membekas dalam sistem otak dan bisa secara positif memengaruhi kita.
Saya punya pengalaman menarik yang semoga bisa berguna bagi para teman. Saya membiasakan menulis setiap hari meskipun hanya satu dua kalimat. Kemudian secara konsisnten melakukannya. Semakin hari saya semakin biasa menulis. Sampai akhirnya saya merasa memiliki ketergantungan. Pengalaman itu saya tuliskan dalam buku Menulislah seperti Shalat.
Saya terus meningkatkan frekuensi menulis. Artinya menambah waktu untuk menulis. Alhamdulliliah tahun 2014 ini dalam waktu 66 hari saya telah menyelesaikan 3 buku, tiap buku berisi 200 halaman. Satu hari saya bisa membuat 2 sampai 5 tulisan, 1 tulisan sebanyak 3 sampai 10 halaman. Sekarang saya bisa menulis topik yang lebih luas. Apa saja bisa memicu saya untuk menulis. Semua ini membuktikan
KEBIASAAN BISA IKUT MENENTUKAN JADI SIAPA KITA DAN BAGAIMANA HIDUP KITA NANTINYA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd