Minggu, 18 Mei 2014

ANAK SD MEMBUNUH

Merdeka.com - Seorang siswa kelas I Sekolah Dasar (SD) Inpres Tamalanrea V, Makassar, Sulawesi Selatan, tewas dikeroyok tiga teman sekolahnya. AS yang baru berusia enam tahun sempat kritis selama lima hari di rumah sakit. (2 April 2014).

Merdeka.com - Seorang bocah kelas dua SD, Muhammad Abdul Muis (8) dibunuh oleh temannya yang sudah duduk di kelas enam SD yakni Rusli Widodo. Peristiwa ini hanya dipicu gara-gara saling olok. (2 April 2014).

Merdeka.com - Seorang siswa SD, A tega menusuk SM karena kepergok mencuri HP milik orangtua SM. SM sempat meminta agar HP dikembalikan, namun A malah menjualnya.(2 April 2014).

Merdeka.com - Gara-gara utang Rp 1.000, seorang bocah berusia tujuh tahun, YI tega membunuh teman sebayanya, Nur Afiz Kurniawan (6) di sebuah danau buatan perumahan Summarecon, Bekasi. (2 April 2014)

VIVAnews - Penyidik Polres Metro Jakarta Timur masih mendalami kasus penganiayaan yang menimpa Renggo Khadafi (11). Bocah kelas 5 SDN Makasar 09 Pagi, Jakarta Timur, itu meninggal karena dianiaya oleh kakak kelasnya, SY. (7 Mei 2014).

Masyarakat sekitar tak menduga, balita ini meninggal akibat tangan pelajar kelas 6 SD. Yang lebih tak diduga keluarga korban, "Perbuatan pelaku sangat kejam" tandas ibu korban. ( NOVA, 17 Mei 2014).

Sebenarnya apa yang sedang terjadi dalam masyarakat kita? Anak SD yang seharusnya bermain dalam kegembiraan bersama teman, malah membunuh. Pemicunya seringkali persoalan sepele yang biasa terjadi di antara anak-anak. Mengapa anak-anak jadi sekejam itu?

Sejak pertengahan tahun delapan puluhan, saya menjadi relawan anak-anak marjinal yaitu anak jalanan, anak pasar, anak di daerah kumuh dan anak yang tinggal di tempat pembuangan sampah. Semua mereka besar dalam pengasuhan yang dicoraki oleh kekerasan berlapis. Kekerasan yang lengkap berupa kekerasan verbal, fisik, dan psikis. Disebut kekerasan berlapis karena anak-anak itu mengalami kekerasan di rumah, di lingkungan tempat tinggal, dan di tempat mereka mencari nafkah, di jalanan, di pasar, atau selagi memulung. Kekerasan itu dilakukan oleh orang tua, anak yang lebih dewasa, dan petugas keamanan.
Sebagai akibatnya anak-anak itu tumbuh menjadi anak-anak yang tahan banting, tidak cengeng, berani, dan juga terbiasa dengan kekerasan. Jika bercanda dengan teman, mereka sangat terbiasa untuk saling memaki dan memukul. Tidak sedikit di antara mereka yang sering berkelahi dengan para pesaing, seperti sesama pengamen. Kebanyakan mereka putus sekolah saat SD. Itu artinya pendidikannya sangat rendah. Namun, rasanya belum ada di antara mereka yang jadi pembunuh, yang jadi korban pembunuhan sudah banyak. Mengapa justru anak-anak yang dibesarkan dengan kekerasan dan berpendidikan sangat rendah tidak menjadi pembunuh?

Mungkin karena sudah biasa diledekin, diolok-olok, diejek, bahkan dihina, dipukulin, dipalak atau uangnya diambil paksa oleh preman, mereka jadi sangat terbiasa dengan itu semua. Keterbiasaan itu bisa jadi membuat mereka tidak lagi begitu terganggu, sehingga menanggapinya dengan lebih santai. Artinya tidak perlu marah besar menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan itu.

Sejumlah anak di daerah kumuh Jakarta Pusat dan Jakarta Utara sangat terbiasa melihat kekerasan dan pembunuhan. Karena di lingkungan tempat tinggal mereka kekerasan yang berakibat adanya korban tewas biasa terjadi. Namun, tak satu pun anak-anak itu yang jadi pembunuh.

Di persimpangan Tomang, sejumlah anak tak lagi tinggal dengan orang tuanya. Mereka tinggal dan besar bersama dengan teman-teman di bawah jembatan Tomang. Hidup di alam bebas dengan keliaran dan kekerasan. Puluhan tahun berlalu, mereka kini menjadi orang dewasa yang normal, bahkan beberapa di antara mereka kini menjadi pembina anak jalanan yang menangani ratusan anak jalanan. Mereka berhasil membuat anak-anak itu meninggalkan jalanan karena diajari  berbagai keterampilan. Semua mereka, anak jalanan Simpang Susun Tomang, dan anak binaannya berpendidikan rendah. Tak seorang pun dari mereka yang jadi pembunuh, meski sewaktu anak-anak dan remaja sering dan senang berkelahi.

Anak-anak marginal itu hidup dalam kemiskinan, dengan pola asuh penuh kekerasan dan berpendidikan rendah. Memang ada di antara mereka yang terus di jalanan dan jadi preman. Namun, sangat banyak yang menjadi manusia dewasa normal, hidup berumah tangga secara baik, meski juga hidup dalam serba kekurangan. Beberapa bahkan ada yang berhasil menjadi pedagang, kerja kantoran, dan usaha jalanan seperti pengasong tetapi menjadi bos.

Sejumlah anak jalanan itu kini ada yang berhasil menjadi pembimbing dan pengelola anak jalanan. Membantu anak-anak jalanan meninggalkan jalanan berbekal sejumlah keterampilan.

Bila anak-anak marjinal tersebut, terutama anak jalanan yang diluluhlantakkan kemiskinan, dan diasuh dengan beragam kekerasan bisa berkembang menjadi manusia yang normal. Mengapa anak-anak SD yang tumbuh dalam keluarga yang relatif normal dan juga memiliki kemampuan untuk bersekolah bisa tumbuh jadi pembunuh temannya? Pastilah ada yang salah.

Apakah kita akan menyalahkan acara televisi yang semakin tidak bermutu dan tidak mendidik? Menyalahkan games yang semakin banyak menampilkan kekejaman? Atau ada yang sungguh sangat salah dalam pendidikan kita? Sebab anak-anak yang jadi pembunuh ini ada yang membunuh di sekolah, dan yang jadi korban adalah teman-teman sekolahnya. Atau ada yang salah dalam pola asuh pada banyak keluarga? Atau semuanya berakar pada perubahan dalam masyarakat kita? Pembunuhan yang dilakukan anak-anak SD bukan masalah remeh temeh. Ini sungguh masalah besar dan serius.

JANGAN PERNAH SEDERHANAKAN MASALAH BESAR DAN SERIUS.

1 komentar:

  1. P.IPS B 2013
    Kekerasaan yang dilakukan oleh anak-anak yang menyebabkan nyawa teman-temannya sendiri melayang merupakan suatu tindakan yang menurut saya adalah luar biasa. Anak-anak yang seharusnya masih memiliki sifat polos justru malah bersifat liar bagai hewan buas yang kelaparan.
    Ada sesuatu yang salah disini. Menurut saya pola asuh dalam keluargalah yang salah dalam hal ini. Karena pola asuh sangatlah merupakan faktor yang paling menentukan dalam membentuk watak, karakter dan psikologi bagi si anak. Sekarang banyak Orang tua yang terlalu memanjakan si anak dan memunuhi keinginan anak. Dengan memenuhi semua keinginan dan tuntutan mereka, anak tidak belajar mengendalikan impulse, menyeleksi dan menyusun skala prioritas kebutuhan, & bahkan tidak belajar mengelola emosi. Ini jadi bahaya karena anak merasa jadi raja dan bisa melakukan apa saja yang ia inginkan dan bahkan menuntut orang lain melakukan keinginannya. Jadi anak akan memaksa orang lain untuk memenuhi kebutuhannya, dengan cara apapun juga asalkan tujuannya tercapai. Mungkin hal inilah yang terjadi sehingga banyaknya berita-berita tentang anak bunuh anak.
    Bandingkan dengan anak-anak yang hidup dilingkungan yang keras. Mereka sudah belajar mandiri mulai dari anak-anak walau hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Sehingga mungkin mereka mempunyai kontrol emosi yang lebih baik, meskipun mereka sering melihat kekerasan tapi mereka mampu memahaminya.
    Tayangan-tayangan di televisi yang menunjukan adegan tidak bermutu menurut saya juga merupakan faktor yang sangat mempengaruhi tentang banaknya kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak. Anak-anak yang belum mampu memahami dengan baik tentang tayangan-tayangan yang ditelevisi biasanya meniru mentah-mentah adegan yang ditayangkan tanpa mengetahui apakah itu buruk atau baik. sehingga disini dibutuhkanny pola asuh yang baik.
    1. Bagaiman langkah awal kita untuk menghentikan kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak ?
    2. Bagaimana sikap kita apabila ada anak dilingkungan kita melakukan tindakan kekerasan sampai meninggal ?
    3. Apakah disini faktor yang paling disalahkan adalah orang tua ?

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd