Senin, 05 Mei 2014

HIDUP MANUSIA BAGAI NUNGGU ANGKOT

Hidup berisi banyak ketidakpastian. Ketika bangun tidur apakah kita tahu apa yang akan terjadi siang nanti? Biasanya kita sudah punya rencana mau kerjakan apa atau hendak pergi kemana. Tetapi sangat sering terjadi, rencana itu tidak dapat dilaksanakan karena berbagai kendala yang benar-benar di luar dugaan atau perhitungan kita. Hidup memang kayak gitu, selalu ada kejutan, penuh ketidakpastian.

Ketidakpastian hidup bagai nunggu angkot di halte. Kita sudah lama berdiri menunggu, berharap angkot yang kita nantikan akan segera muncul. Namun, yang nongol adalah angkot-angkot lain dengan tujuan yang tidak sama dengan tujuan kita. Kita tak tahu kapan angkot yang kita tunggu akan hadir. Namun kita yakin, angkot yang kita tunggu itu pasti datang, meski entah kapan. Karena itu kita terus saja menunggu.

Di Jakarta dan kota besar lain, ketidakpastian itu makin akut. Angkot bisa lama sekali tidak muncul karena kemacetan entah di mana. Apalagi ada ketidakdisiplinan pengemudi dan ketidakkonsistenan petugas menerapkan aturan yang kerap membuat sopir angkot brani berbalik arah, kembali ke arah semula dan tidak meneruskan perjalanan ke halte tempat kita menunggu.

Kita akan semakin was-was bahkan panik  bila sudah sangat lama menunggu dan harus sampai ke suatu tempat dengan tepat waktu, tetapi angkotnya belum juga muncul. Inilah saat untuk rasakan betapa ketidakpastian itu mengerikan dan menyakitkan.

Kita berada dalam situasi batas. Bila menunggu terus bisa terlambat. Namun, bila hendak naik kendaraan lain seperti ojek atau taksi, pertanyaannya adalah apakah uang kita cukup? Saat seperti ini acap kali kita menyesali mengapa tidak mengambil keputusan dari tadi? Naik ankot lain saja dulu sampai suatu tempat dan nyambung dengan angkot lain ke tujuan. Semuanya sudah telat. Beginilah hidup kita.

Sekarang ini bukan hanya kita yang biasa nunggu  angkot yang mengalami ketidakpastian. Mereka yang bisa dan biasa naik pesawat terbang juga mengalami ketidakpastian ini. Kecuali penerbangan pertama, sekarang pesawat kerap terlambat datang dan berangkat. Bahkan di bandara Soekarno-Hatta, bandara Adi Sucipto Yogyakarta, dan Ngurah Rai di Denpasar semakin sering terjadi penumpang harus menunggu lagi di dalam pesawat karena mengantri giliran untuk terbang. Ngantrinya juga lama. Pemerintah terus saja memberi izin penambahan pesawat dan maskapai baru. Tetapi terlambat menambah sarana dan prasaran. Akibatnya ketidakpastian jadwal keberangkatan dan kedatangan pesawat semakin meningkat. Tetapi karena tidak ada pilihan, kita terpaksa pasrah menerima keadaan tersebut.

Mengapa akhirnya kita belajar berdamai dan menerima semua ketidakpastian ini? Meski sering  kecewa, kesel, dan marah dibuatnya. Hidup tidak memberi banyak pilihan. Apakah mau terus menerus kesal atau marah, dan pasti sangat mengganggu hidup kita, atau belajar untuk memahami dan menerima bahwa memang beginilah hidup. Kita terima keadaan ini dengan legowo. Jalani hidup dengan tetap menyediakan celah dalam fikiran bahwa ketidakpastian merupakan keniscyaan, terima dengan ikhlas.

Meski sarat dengan ketidakpastian yang mengesalkan, hidup juga menyimpan harapan. Ya seperti angkot. Setelah ditunggu lama akhirnya datang juga, meski sudah penuh sesak dan menyisakan celah sempit bagi kaki dan tubuh kita. Dalam rasa kesel dan jepitan para penumpang yang bisa jadi adalah copet, kita tetap naik karena kita tetap ingin sampai ke tujuan.

Harapan bahwa angkot akan datang, dan kita akan sampai pada tujuan meski telat, rasanya lebih bagus daripada tak sampai sama sekali. Itulah sebabnya sebagian dari kita jadi terbiasa menerima dan  mengembangkan sikap daripada. Daripada tidak sampai, mendingan sampai meski terlambat. Daripada tidak dapat, mendingan dapat meski sedikit.

Kebahagiaan dan kesedihan dalam hidup tergantung juga dari bagaimana sikap kita menghadapi ketidakpastian dalam hidup ini. Ada orang yang tidak dapat menerima ketidakpastian ini dan terus menerus mempersoalkan penyebabnya sembari menunjukkan bahwa dia telah lakukan yang terbaik, dan merasa tidak dihargai bahkan dilecehkan oleh ketidakpastian ini. Orang-orang dengan tipe ini adalah pemuja kesempurnaan yang selalu menekankan pentingnya kepastian dan akurasi. Mereka lupa, hidup bukan kalkulasi matematika atau statistika yang memang terukur, akurat, dan pasti.

Sebagian manusia menghadapi ketidakpastian ini dengan tenang dan santai. Mereka belajar dari fisikawan Heisenberg yang bilang bahwa yang pasti dari ilmu pasti adalah ketidakpastiannya. Bila ilmu pasti saja tidak pasti, bagaimana pula dengan hidup yang lebih kompleks dan misterius dibandingkan ilmu pasti?

Mereka biasanya menjadi lebih hati-hati dan terbuka menghadapi ketidakpastian ini. Bila menunggu angkot di halte, mereka memang secara sengaja menyiapkan berbagai alternatif. Karena tahu bahwa kedatangan angkot sama sekali tidak pasti. Ketidakpastian dihadapi dengan menyediakan alternatif. Mereka berangkat lebih cepat dari rumah menuju ke halte. Bila ditunggu sepuluh sampai lima belas menit angkot tidak datang, akan disegerakan naik angkot mana saja yang semakin mendekatkan jarak pada tujuan. Karena itu disediakan uang receh agar selalu siap untuk naik turun angkot. Ngapain pula harus memaksakan naik angkot yang langsung ke tujuan bila telah lama ditunggu tidak datang-datang?

Dengan demikian orang dengan tipe seperti ini menjalani dan menghayati hidup dengan santai dan tenang. Ketidakpastian tidak pernah bisa membuatnya panik, marah, kesel, apalagi stres. Karena ketidakpastian adalah bagian yang niscaya melekat dalam hidup,

HADAPI KETIDAKPASTIAN ITU DENGAN SELALU MENCIPTAKAN BERAGAM ALTERNATIF.

2 komentar:

  1. GUSTIANA RESTIKA
    P.IPS 2013 B
    4915133413
    dalam tulisan ini sangat jelas digambarkan kita untuk menjadi seseorang yang kreatif. yang bisa mengakali semua keadaan yang terjadi. kita tidak boleh terbawa kondisi dan terus terpaku dengan kondisi tersebut. karena dalam hidup yang pasti hanya ketidakpastian, kita harus bisa berpikir cepat atas apa yang terjadi.dalam hal ini sangat terlihat jelas EQ sangat berperan dalam kehidupan, kita harus bisa mengendalikan emosi, karena emosi yang tidak terkendali akan menyebabkan segala sesuatu menjadi lebih rumit dan tak terkendali. hal tersebut akan memperparah kondisi yang kita alami. ita harus bisa mengendalikan keadaan, bukan keadaan yang mengendalikan kita. apakah semua orang bisa seperti itu? apa yang menyebabkan seseorang tidak bisa mengatur emosi? mengapa keadaan yang sejatinya adalah hal yang abstrak bisa mengendalikan makhluk paling cerdas di bumi?

    BalasHapus
  2. Yuli Nurfitria
    4915116865
    Pendidikan IPS 2011 B
    Saya sangat tertarik dengan tulisan Bapak mengenai Hidup Manusia Bagai Nunggu Angkot. Ini dikarenakan tidak ada seorang pun yang tahu akan masa depan. Dikarenakan adanya ketidakpastiaan maka kita dituntut untuk dapat berusaha dalam segala kondisi dan keadaan. Untuk itu sangat diperlukan IQ dan EQ yang tinggi untuk dapat mengatasi ketidakpastian yang ada agar tidak menjerumus kepada ketidakpastiaan yang membawa dampak buruk nantinya.
    Pertanyaan :
    1. Bagaimana cara yang tepat untuk mengatasi ketidakpastian ?
    2. Bagaimana meningkatkan motivasi diri ditengah-tengah keadaan ketidakpastian ?
    3. Bagaimana memanfaatkan keadaan ketidakpastian ke arah yang lebih positif ?

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd