Jumat, 30 Mei 2014

JUARA : DAYA JUANG DAN DAYA TAHAN

Dahsyat. Atletico Madrid tetap memimpin sampai menit ke 92, tiga menit lagi pertandingan akan berakhir. Tampaknya Atletico Madrid akan jadi juara Liga Champion. Tetapi pada menit 93, gawang mereka akhirnya jebol juga. Stadion bergemuruh, para pendukung Real Madrid berteriak sangat keras. Bersebalikan dengan itu, para pendukung Atletico terdiam, wajah mereka menunjukkan kekagetan, kekecewaan dan kesedihan.

Pertandingan berakhir. Pelatih Atletico menyemangati anak asuhnya. Namun tampak wajah para pemainnya masih menunjukkan kekagetan dan kesedihan yang terlalu. Berbeda dengan kubu Real yang tampak bersemangat dan gembira. Mereka saling berpelukan. Sang pelatih, Ancelloti berbicara dengan beberapa pemain. Meski wajahnya tampak masih tegang, tetapi ia berbicara dengan tenang. Sedangkan Simeone berbicara keras dengan sejumlah besar pemain.

Memang luar biasa. Setelah kebobolan pada menit 36, Real terus menggempur dari segala lini, habis-habisan. Namun, tembok pertahanan Atletico sungguh sulit ditembus. Apalagi kipernya bermain cemerlang. Rasanya hampir semua penonton di stadion dan di seluruh dunia yang menyaksikan melalui televisi mulai percaya bahwa Atletico akan juara.

Tetapi sepak bola memang harus menunggu pluit panjang ditiup wasit, sebagai tanda pertandingan berakhir. Sebelum pluit panjang berbunyi, apapun bisa terjadi, jangan pernah berhenti bila peluit panjang itu belum berbunyi.

Dulu pernah terjadi pada final Liga Champion, waktu tersisa tidak sampai empat menit, Liverpool kalah telak 3-0 dari AC Milan. Para pemain Liverpool seperti kesetanan, mereka berhasil menyamakan kedudukan, akhirnya menang dan juara.

Pertandingan dimulai lagi. Gol Real berhasil membangunkan mereka. Tampak pemain Atletico mulai tidak pasti. Merek mulai kembali kepola permainan mereka, cepat dan menyerang. Tetapi dalam pertandingan penting seperti ini memang dibutuhkan mental juara. Para pemain Atletico nampak agak ragu-ragu. Mereka tidak bermain lepas. Apalagi beberapa pemain kunci tidak bermain.

Sebaliknya dengan para pemain Real, mereka lebih terpacu. Kelihatannya, bagi mereka perpanjangan waktu ini seperti memulai pertandingan sejak menit pertama tanpa perpanjangan waktu. Benar-benar seperti pertandingan baru saja dimulai. Mereka bermain cepat, seakan tak ada rasa letih. Bola-bola dialirkan dengan akurat. Mulai tampak, para pemain Atletico kedodoran. Mereka mulai kalah cepat, banyak ruang kosong karena para pemain tidak lagi terkoordinasi. Dengan cepat, pemain yang dibeli dengan harga selangit, si Bale,mencetak gol dengan cara yang indah. Segera saja para pemain Atletico seperti daun luruh.

Drama yang menegangkan itu berakhir anti klimaks dan tragis. Atletico takluk 4-1. Real Madrid memenuhi ambisinya, juara Liga Champion 10 kali.

Apa yang membuat Real musim ini berbeda dari waktu sebelumnya? Mereka kini juara Piala Raja dan Liga Champion. Ancelloti telah melakukan perubahan fundamental terutama dalam daya tahan para pemain. Bukan daya tahan fisik. Tetapi psikis.

Dahulu, terutama di bawah Maurinho, pemain Real selalu kehilangan orientasi dan kesabaran bila kalah dalam pertandingan penting. Apalagi bila lawannya adalah Barcelona. Mereka mulai saling menyalahkan, sementara itu si Mou di pinggir lapangan mengumbar emosinya secara terbuka.

Pemain-pemain utama mereka gampang terpancing untuk melakukan kekerasan dan kekasaran yang membuahkan kartu kuning, bahkan kartu merah. Jika sudah begini, mereka sama sekali kehilangan daya juang. Pemain jadi kucar-kacir, dan Casillas akan terus berteriak-teriak. Bahasa tubuh para pemain sungguh menunjukkan mereka kehilangan kesabaran dan cenderung marah-marah. Bahkan dengan sesama teman. Benar-benar kehilangan kontrol diri. Keadaan semakin parah dan kacau bila serangan mereka tidak juga membawa hasil.

Kali ini keadaannya sama sekali berbeda.  Mereka terus menyerang, dan mencoba membongkar pertahanan Atletico dari segala penjuru. Para pemain saling memuji dan mendukung. Mereka yang sedang berdekatan berdiskusi bila ada bola mati, sambil menunjuk daerah pertahanan Atletico. Pemain tampaknya dilarang mengungkapkan kekesalan dan kemarahan bila serangan belum mencapai tujuan menciptakan gol. Sementara itu pelatih tetap tenang dan memberi semangat serta mengontrol pemain.

Kemampuan menjaga daya tahan emosi dan saling memuji tampaknya secara bermakna meningkatkan daya juang para pemain. Setiap pemain berusaha sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik. Pemain saling menutupi lini yang ditinggalkan dan menjaga kebersamaan dalam jarak terukur saat bertahan dan menyerang. Para pemain seperti tak merasakan keletihan. Inilah dampak positif dan langsung dari meningkatnya daya tahan dan daya juang. Semuanya berakar pada kesabaran dan saling pengertian.

Kala Casillas salah mengantipasi serangan Atletico, karena dia terlalu maju. Tak ada pemain yang menudingnya, malah ada yang memeluknya. Mereka saling memberi senyuman. Sisi manusiawi yang manis dan indah ini tampaknya telah membuat Real sama sekali berbeda dan pantas memenangkan pertandingan yang sangat ketat ini.

Apa yang kita lihat di lapangan selama pertandingan merupakan sebuah pelajaran penting apa makna kebersamaan, saling mendukung dan kesabaran. Tidak menyerah selagi masih ada kesempatan. Akhirnya yang menang adalah yang memiliki daya tahan dan daya juang lebih kuat.

Perjuangan untuk mencapai tujuan dalam segala bidang, tidak cukup ditopang hanya dengan kekuatan dan kebugaran fisik. Daya tahan dan daya juang yang lebih bersifat psikis, biasanya lebih menentukan. Dalam daya tahan dan daya juang itulah tersimpan potensi luar biasa manusia untuk mengatasi semua kelemahan dan keterbatasannya.

DAYA TAHAN DAN DAYA JUANG MEMBERI PELUANG BAGI MANUSIA UNTUK MELAMPAUI SEMUA KELEMAHAN DAN HAMBATAN.

1 komentar:

  1. Adinda
    4915132389
    P.IPS A 2013

    Kunci keberhasilan dalam sebuah tim adalah seorang pemimpin yg dpt mengorganisir rekan-rekan dengan baik tidak hanya melatih fisik dan strategi baik namun, dibutuhkan kerjasama yang baik dan dapat mengontrol emosi antar sesama. Agar terciptanya kondisi yang membuat para pemain nyaman dan memberikan efek semangat yang lebih untuk bermain bersama timnya. dapat dilihat dalam laga final liga champions walaupun real madrid kebobolan di babak pertama, ancelotti pelatih real madrid tetap tenang, tidak memberikan tekanan terhadap pemainnya serta para pemain pun saling mensuport satu sama yang lain ketika banyak bola-bola emas yg meleset mereka tetap saling memberi dukungan. benar yang bapak bilang kondisi itu akan membangkitkan semangat daya juang dan daya tahan. Gol yang dibuat sergio ramos seakan-akan memberikan udara segar untuk tim mereka. Meningkatkan percaya diri mereka berbalik dengan atletico kepercayaan diri mereka luntur dengan di bawah tekanan diego simone membuat emosi mereka tidak terkontrol dan membuat pertahanannya lemah hinggal kebobolan menjadi 4-1. pemain berkualitas memang dapat dibeli dan memberikan kekuatan pada sebuah tim namun, menciptakan keharmonisan terhadap rekan pemain itu harus sengaja diciptakan karena memberikan dampak positif terhadap cara bermain mereka.

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd