When you're evil
..........................
And it's so easy when you're evil
This is the life, you see
The Devil tips his hat to me
I do it all because I'm evil
And I do it all for free
Your tears are all the pay I'll ever need
..........................................
It gets so lonely being evil
What I'd do to see a smile
Even for a little while
And no-one loves you when you're evil...
I'm lying through my teeth!
Your tears are all the company I need!
Waspadalah! Cermati kisah orang-orang yang menjadi terdakwa dan tersangka kasus korupsi yang ditangani KPK. Kita betul-betul dibuat kaget oleh uang dan harta yang mereka miliki, juga gaya hidupnya.
Pada umumnya hidupnya bergaya mewah, berlebih-lebihan. Punya rumah mewah setara istana di banyak tempat. Mobil mewah sampai puluhan. Tanah luas di mana-mana. Semua barang yang digunakan merek-merek terkenal dari luar negeri. Punya hubungan dengan banyak wanita muda, cantik dan muda. Malah ada aki-aki yang menikahi gadis di bawah umur. Ada pula yang berani memberi tips untuk kenalan pada ABG sepuluh juta perak. Hanya untuk kenalan, bo. Ada yang hobinya memberikan mobil dan barang mewah kepada para wanita cantik. Tak jelas apa alasan dan motifnya.
Bagi mereka hidup memang mudah dan menyenangkan. Apapun dimiliki. Mau apapun gampang didapatkan. Benar-benar seperti tukang sihir yang dengan menggoyangkan tongkat kecil di tangan bisa menghadirkan apa saja di depan mata.
Bagi para penjahat, hidup ini memang mudah. Mengapa? Tak ada aturan yang harus mereka patuhi. Mereka sering membuat aturan-aturan sendiri yang justru bertentangan dengan peraturan umum yang dibuat untuk melindungi kepentingan umum.
Penjahat atau orang jahat bisa berbuat sekehendak hatinya. Mereka memang tidak perduli dengan akibat perbuatan jahat mereka pada orang lain. Mereka hanya berkutat dengan kepentingan dan keuntungan sendiri.
Mereka mengembangkan nalar dan moral sendiri. Nalar dan moral yang membenarkan apapun yang mereka lakukan. Bila sang penjahat itu adalah pejabat, biasanya mereka selalu mengatasnamakan orang banyak atau publik. Mereka mengesankan diri, membangun citra sebagai pembela kepentingan orang banyak. Padahal praktik hidupnya bersebalikan dengan itu.
Yang juga membuat hidup mudah serta menyenangkan bagi mereka adalah sirnanya rasa malu dari nuraninya. Mereka bisa dengan bangga memamerkan hasil kejahatannya dan dengan asyik menikmatinya. Mereka sama sekali tak perduli apapun yang dikatakan orang tentang perilakunya yang tak bermoral. Bahkan pada aturan hukum pun mereka tak peduli. Agama tak lebih hanya topeng bagi mereka.
Karena mudah mendapatkan uang, mereka selalu mengukur orang lain dengan uang. Dan merasa bahwa uang bisa mengatur segalanya. Itulah sebabnya mereka hanya baik pada orang tertentu saja, yaitu orang-orang yang bisa mendatangkan keuntungan dan memenuhi kepentingannya.
Nilai-nilai mulia seperti kesetiaan, persaudaraan, silaturahmi, kebaikan, dan kepantasan sama sekali tak mereka hiraukan. Atau mereka memberi makna lain dengan semua nilai itu dengan ukuran keuntungan dan kepentingan sendiri. Orang lain dianggap saudara, sahabat, dan karib bila memberi keuntungan dan mendukung kepentingannya. Siapa pun yang dirasa tidak dapat memberi keuntungan, bukan saja dianggap musuh, malah kalau bisa dimusnahkan sampai tak berbekas sama sekali.
Karena sudah terbisa berbuat jahat, orang-orang jahat sudah tak merasa lagi bahwa kejahatan yang dilakukannya merupakan kejahatan. Tetapi merupakan tindakan sehari-hari yang normal-normal saja. Dalam Al Quran bahkan ditegaskan, para penjahat melihat dan merasakan kejahatan yang dilakukannya merupakan perbuatan yang indah. Kejahatan memang telah membutakan nurani mereka.
Bila dikaitkan dengan penelitian tentang otak bisa dijelaskan, mengapa para penjahat sudah tak merasa kejahatan yang dilakukannya merupakan kejahatan, bahkan dianggap normal bahkan indah. Mereka terlalu sering melakukan kejahatan, mungkin setiap hari. Biasanya dimulai dengan kejahatan-kejahatan kecil. Secara sadar mereka akan terus meningkatkan kualitas kejahatannya, sampai akhirnya kejahatan itu menjadi kebiasaan. Karena kejahatan terus menerus dilakukan dengan beragam modus, kejahatan dirasakan sebagai kebutuhan. Terus dilakukan dengan beragam strategi, ujungnya menjadi ketagihan. Pada tingkat inilah kejahatan itu dirasakan sebagai sesuatu yang niscaya. Pada tingkat inilah kejahatan dinikmati sebagai suatu seni kehidupan, terasalah betapa kejahatan itu indah. Mereka percaya, jahat itu indah.
Para penjahat yang sudah sampai ke taraf ini bahkan sangat bangga dengan kejahatannya. Ebeit G. Ade bilang, bangga dengan dosa-dosa. Kejahatan bagi mereka adalah cara terbaik untuk mengaktualisasikan diri.
Kondisi inilah yang membuat para pelacur, jablay, cabe-cabean suka menampilkan diri yang secara nyata menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang sangat bangga dengan kejahatannya. Semakin terbuka dan seksi bajunya, semakin banggalah ia.
Lihatlah apa yang ditemukan KPK sewaktu menggeledah rumah tersangka dan terdakwa kasus korupsi. Mereka memiliki rumah super mewah dalam jumlah yang luar biasa. Mobil super mewah dalam jumlah yang fantastis, dan para wanita dari kalangan selebritis atau ABG bau kunyit.
Bahkan salah seorang yang sedang disidang tanpa rasa risih tetap menampilkan pakaian mewah bermerek terkenal. Sama sekali masih bernafsu untuk tunjukkan kemewahan diri. Bagi mereka kejahatan itu memang indah dan membanggakan. Sungguh rasa malu sudah dikuburkan dalam pembuangan sampah.
Namun, bayangkan saat mereka harus sendiri di bilik-bilik penjara. Jauh dari semua kemewahan dan para pendukung setia. Nama dan wajahnya ditampilkan terus menerus di media cetak dan elektronik. Semua kejahatannya dibeberkan secara terbuka. Banyak orang yang menghujat. Apa yang masih tinggal kecuali rasa malu?
Sampai mereka mati, bahkan setelah lama mati. Nama mereka akan disebut sebagai penjahat. Keluarga dan anak cucunya, pasti dikaitkan juga dengan kejahatan yang telah dilakukan.
Kejahatan adalah kejahatan. Orang-orang jahat akan dicatat dalam sejarah sebagai penjahat. Inilah tragisnya. Mereka berbuat jahat dalam jangka pendek, tetapi cap kejahatan itu melekat terus, bahkan setelah mereka mati.
Lihatlah pemberitaan belakangan ini. Saat Menteri Agama ditetapkan jadi tersangka oleh KPK, media massa kemudian mengingatkan para pembaca atau penonton tentang Menteri Agama yang lebih dulu jadi terdakwa kasus korupsi pada masa lalu. Padahal banyak kita yang sudah mulai lupa.
KEJAHATAN MEMBERI KESENANGAN SEMENTARA, TETAPI KESENGSARAAN YANG LAMA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd