Senin, 27 Oktober 2014

JAUH DARI MALIOBORO

Pagi cerah. Hangatnya nyelinap ke seluruh tubuh. Jalanan masih lengang. Kemana pun mata memandang,  anak-anak sekolah meramaikan jalanan. Mereka berjalan bergerombolan. Tampak wajahnya  cerah gembira. Pagi yang indah di Sleman, pinggiran Jogjakarta.

Berjalan-jalan pagi menyusuri jalanan yang masih sepi di pinggiran Jogja. Beda betul dengan di Malioboro yang sudah mulai ramai sepagi ini. Ramai orang berjualan sarapan dan para turis lokal yang biasanya asyik sarapan pagi lesehan di pinggiran jalan.

Jalan berbelok ke arah perkampungan. Suasana sepi makin terasa. Rumah-rumah masih tertutup pintunya. Belum kelihatan ada kegiatan. Suara kokok ayam dan cericau burung indah terdengar. Suasana dusun makin terasa.

Profesor yang berjalan bersamaku bilang, orang Jogja hidup selaras dengan alam. Mereka tidak seperti orang Bali yang telah ramai bekerja sejak pagi sekali, paparnya. Di Bali para perempuan telah bekerja saat matahari masih sembunyi. Di sini, jalanan sepi. Yang ramai kicau burung dan kokok ayam.

Kami lintasi sawah, padi sudah menguning. Di sekitar sawah yang terbentang luas ada sungai yang penuh airnya. Tampaknya kemarau panjang tak mampu kosongkan sungai. Di sungai lain di tempat lain, kemarau mengeringkan sungai sampai tuntas.

Di jalan  sempit, yang terlihat adalah sepeda motor hilir mudik  mengantarkan anak-anak ke sekolah. Ada satu dua mobil. Dan sejumlah anak sekolah berjalan kaki.

Di belokan jalan ada kandang sapi dengan ukuran cukup besar. Pada bagian depan tertulis di papan Paguyuban Peternak dengan keterangan yang agak panjang. Kandang hewan, sawah terbentang dan suasana sepi menegaskan bahwa wilayah ini adalah dusun.

Inilah Jogja, Jogja yang jauh dari Malioboro. Suasana tenang dan damai. Keramaian hanyalah kicau burung dan kokok ayam. Tak ada hiruk pikuk kendaraan. Tak ada juga orang-orang bergerombol dengan beragam tingkah seperti di Malioboro.

Malioboro hanyalah sebuah noktah. Malioboro adalah panggung yang mempesona orang luar Jogja. Keramaian, warna-warni, kehebohan, dan transaksi adalah kesejatian Malioboro. Malioboro adalah pasar, tempat bertemu orang dari beragam latar. Karena itu Malioboro ramai, dinamis, hiruk pikuk sepanjang hari.

Di sini, jauh dari Malioboro, kita merasakan harmoni, keselarasan dan keseharian yang bersahaja, hidup yang sesungguhnya. Orang-orang kelihatan santai, yang sedang bekerja di sawah juga terlihat sangat menikmati suasana dan irama alam yang lembut.

Dusun memang bukan panggung, bukan pasar. Tetapi keriungan yang bersahaja dan tenang. Dusun adalah huma, saung, pondok di tengah sawah kedamaian. Masih terdengar gemericik air, lenguh sapi dan tembang nan lembut dari rumah-rumah yang menyatu dengan alam.

Orang-orang duduk santai sambil ngopi, menikmati hidup yang dirasa bergerak lambat. Tak ada ketergesa-gesaan seperti yang sangat kentara di Malioboro. Sungguh bagai semilir angin di antara rimbun dedaunan.

Namun, rasanya suasana damai dusun ini tak lagi bertahan lama. Kapitalisme yang selalu jahat telah menancapkan traktor dan alat berat lain untuk mengubah sawah menjadi kemehan gedung. Ada Jogja City Mall, bangunan mewah bergaya sepenuhnya Eropa berdiri megah di antara rumah reot dan sawah. Sungguh terlihat angkuh dan asing. Bahkan ornamennya tidak bernuansa Jogja, meskipun slogannya adalah Spirit of Jogja. Sungguh, entah spirit Jogja yang mana.

Bila duduk di tangga depan yang luas, terasa bagai nongkrong di Madrid atau Paris. Tepat di depannya, di seberang jalan ada Boshe, diskotik dan club malam yang terhitung paling besar di Jogja. Satu kompleks dengan Jogja City Mall, bahkan berdempetan ada Hotel Rich Sahid yang Megah. Tak jauh dari situ ada Hotel Boutique yang juga bergaya 100% Eropa.

Dusun yang tenang dan asri ini tampaknya mulai dijajah kerakusan kapitalis kota yang biasanya sangat serakah. Agaknya para kapitalis ini mau membangun pusat transaksi baru yang jauh dari pusat Jogja  Malioboro.

Banyak kompleks rumah yang tergolong mewah mulai dibangun di dusun ini. Inilah modernisasi, ungkapan kemajuan dan gengsi. Sungguh kapitalis tak mau tanggung-tanggung. Ia merambah dusun. Menggusur sawah dan membangun pusat transaksi.

Selepas Maghrib, di depan mal, di atas panggung besar, mengalun lagu-lagu blues dan jazz yang dibawakan anak-anak muda kota. Tak ada lagi gending, entah dimana wedang ronde dan jahe. Ada excelso, starbuck cofee, j co yang modern dan mahal. Para cewek ABG dengan celana sangat pendek dan baju ketat menikmati malam ala kaum urban.

Jauh dari Malioboro, ada dusun yang dijajah kapitalis. Menghiasi malam dengan kebrisikan kota. Tak terdengar lagi nyayian jangkrik dan burung malam. Tragis

KAPITALISME MEMANG MERAMPAS APAPUN DEMI KEUNTUNGAN.

15 komentar:

  1. setidaknya masih ada beberapa daerah yang belum tersentuh kapitalisme. pertahankan daerah tsb agar kita masih bisa merasakan keasrian.

    rayi asyhada
    p.ips a
    4915144090

    BalasHapus
  2. Annisaa Intan S
    P.ips A 2014
    4915141041
    Saya agak tidak setuju dengan tulisan bapak yang traktor adalah dampak kapitalis, menurut saya adanya traktor disebuah desa itu dipengaruhi oleh modernisasi karena semakin majunya zaman semakin majunya teknologi.

    BalasHapus
  3. Nuraini eka putri
    P.IPS B 2014

    deskripsi yang bapak berikan benar-benar bagus, saya sendiri sampai merasa bahwa saya turut ada di tempat itu. Merasakan bagaimana tenangnya berada disana, menikmati semilir angin, mendengar suara ayam berkokok di pagi hari, sungguh suasana yang sangat saya rindukan. Sangat kontras dengan suasana di Jakarta ataupun pusat-pusat kota lainnya, tidak ada suara ayam berkokok di pagi hari ataupun suara jangkrik yang mengalun indah di malam hari yang ada hanyalah hingar bingar kepuasan dunia semata. Sungguh memprihatinkan keserakahan manusia telah merampas itu semua, menghilangkan keindahan lukisan tuhan dan mengantinya dengan besi-besi pencakar langit.

    BalasHapus
  4. Asyifa Laely
    P.IPS B 2014
    Memang, dusun merupakan surga dunia yang memikat. Keasrian, keindahan, dan ketenangannya membuat siapapun tak ingin beranjak dari tempat itu. Bahkan membuat lupa akan masalah yang ada.
    Keasrian, keindahan, dan ketenangan ini bisa didapatkan salah satunya di sleman, yogyakarta. Dusun ini berada jauh dari malioboro sehingga kehidupan disini pun masih belum terlalu tersentuh aspek modernisasinya. Namun tetap ada pengaruh-pengaruh tersebut yang berdampak negatif bagi dusun itu. Untuk itu kita harus menjaganya agar keasrian ini tetap terjaga karena dusun ini bagaikan harta karun di Raja Ampat, tersembunyi di dalam sebuah malioboro yang memikat.

    BalasHapus
  5. Memang ironis pak indahnya budaya jogjayang menawan! Saya sangat suja eloknya budaya jogja dan kebudayaan toleransi yang kuat disana. Saya sangat yakin bahwa jogja akan lebih baik di masa yg akan datang..

    BalasHapus
  6. Nama : Dwi Putri Yulianti
    Kelas : P.IPS B 2014


    Kapitalime memang tidak pernah ada habisnya. Kapitalisme memang telah menjajah Indonesia. Kota-kota yang menjadi pusat kebudayaan Indonesia telah dirubah menjadi modern dengan adanya kapitalisme. Jogja memang awalnya adalah kota yang damai. Tetapi kota itu sudah berubah menjadi kota yang penuh kebrisikan dan penuh hiruk pikuk. Sangat disayangkan sekali Kota Jogja yang menjadi salah satu aset yang memiliki banyak kebudayaan dijajah oleh bangsa-bangsa asing yang menitipkan usahanya di negara ini. Indonesia seharusnya harus bisa menunjukkan bahwa negara kita juga memiliki nilai jual yang lebih dari negara-negara lainnya.

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Fitri Rizka Maulia 4915141028 P.IPS A 2014.
    jika seperti itu terus lama kelamaan pedesaan-pedesaan akan tergerus habis oleh kapitalisme yang mementingkan keuntungan saja. seharusnya tempat-tempat asri seperti pedesaan atau dusun itu di lestarikan agar setidaknya masih ada tempat yang bisa dijadikan objek untuk menghayati alam, dan objek rehat dari segala aktivitas perkotaan yang penat. Tidak terbayangkan apa jadinya dunia ini jika semua bangunan yang tercipta seperti gedung-gedung pencakar langit semuanya.

    BalasHapus
  9. Mendengar Jogja saja orang sudah pasti ingin kesana sekedar naik becak, delman atau berbelanja di Jogja juga sudah menyenangkan. Apalagi di Malioboro kita bisa belanja barang-barang unik dan batik yang murah asal jago bahasa jawa dan kita juga bisa beli gudeg khas Jogja dan bakpia Pathuk yang enaknya bukan main.

    Namun, kini banyak sekali di Jogja di bangun gedung-gedung yang membuat kota terlihat ramai. Malam hari yang biasanya terlihat aman-aman saja kini dibangun club malam. Entah apa yang ada dipikiran para kapitalis sehingga mereka membangun bangunan semaunya dan juga pasti menguntungkan bagi mereka. Padahal membawa pengaruh buruk pada warga sekitar.

    Jogja yang dulu dan sekarang berbeda. Dulu Jogja menyenangkan dan tidak begitu ramai sekarang. Dulu, Jogja begitu menyenangkan padahal hanya jalan-jalan ke Malioboro sekedar duduk di lesehan sambil minum wedang jahe atau nongkrong di angkringan makan nasi kucing. Jogja sekarang lebih seperti kota urban Jakarta, kota yang selalu sibuk.

    Triyani Ambar Sari
    P.IPS B 2014

    BalasHapus
  10. seleksi alam merupakan hal yang pasti terjadi, terutama panggung bisnis yang menjadi sosok menakutkan. kapitalis telah tumbuh menjadi pemenang mengalahkan komunis. namun dibalik kemenangan kaum kapitalis ada yang tergusur.terutama sistem tradisional yang merupakan budaya asli satu daerah terutama indonesia yang menjadi korban, karena kapitalis ingin semuanya modern tanpa mengukur konsekuensi budaya yang akan terjadi hanya untuk kekayaan belaka. jika ini dibiarkan budaya asli Indonesia akan hilang dimakan ganasnya kaum kapitalis dengan prinsip "yang kaya makin kaya dan yang miskin jadi lebih miskin"

    Achmad Sunandar P.IPS 2014

    BalasHapus
  11. achamd Ramadhan PIPS B

    Menurut saya tulisan bapak sangat menarik. Tulisan bapak menggambarkan suasana kehidupan di salah satu dusun di Jojakarta. Dimana dusun tersebut sudah mulai tergusur oleh keserakahan kapitalisme .

    BalasHapus
  12. Kapitalisme, membuat berbagai kesenjangan di masyarakat. Membuat pudarnya kebudayaan asli yang ada didalam masyarakat itu. Kapitalisme juga membuat rakyat jadi terabaikan.
    arif akbar pips b '14

    BalasHapus
  13. adetya lestari
    p.ips A 2014

    assalamualailum pak nusa, malioboro tidak asing bagi wisatawan mancanegara atau negara , malioboro adalah suatu tempat oleh-oleh khas jogja , beraneka ragam penjualan dari dulu sampai sekarang malioboro tak luput dari kesepian setiap hari selalu ramai apa lagi ketika masa libur sekolah malioboro menjadi objek wisata namun disisi lain banyak seorang penjahat mereka berperilaku baik ketika didepan setelah dibelakang merampas semuanya tidak hanya dijakarta saja terdapat orang kapitalisme dijogjapun padahal provinsi jawa tengah. memang dunia ini sudah buta karena sepeser uang untuk memenuhi kebutuhan sehari - harinya

    BalasHapus
  14. Iya memang benar di malioboro terasa ramai dan indah. Beda dengan jogja yg masih sangat sepi walaupun demikian mereka di jogja sebenarnya sudah ada kegiatan di pagi hari seperti menyangkul dan panen padi.

    Memang tidak baik kalo malioboro di jadikan tempat kapitalis. Apakah yg akan terjadi nntinya ? Kapitalis adalah hidup yg bgtu megah dan mewah.

    Saya lebih tidak setuju kalo malioboro berubah keindahannya, waktu dulu saya kecil malioboro cuman sedikit turis asing , tpi skrng berubah dengan pesat. Ini gara-gara kapitalis. Mereka hanya mencari keuntungan saja. Seharusnya peran pemerintah juga harus hadir dalam masalah ini.

    Chun cun T.K
    P.IPS A
    4915141017

    BalasHapus
  15. Nama : Andayani
    Kelas : P.IPS B 2014
    No.reg : 491514409

    Desa dan kota adalah lapisan biosfer, fenomena yang ada di desa dan kota pun berbeda. Di desa kita bisa melihat gunung ,sawah , dan pemandangan alam lainnya. Sedangkan di kota kita dapat melihat gedung-gedung pencakar langit, dan ruas jalan yang penuh sesak dengan kendaraan. Tidak hanya fenomenanya saja yang berbeda, tetapi pola pikirnya pun berbeda. Di desa pola pikirnya tidak mengharapkan keuntungan tapi lebih mementingkan kesejahteraan bersama, tetapi di kota mereka berpaham kapitalisme. Kapitalisme adalah musuh dari nilai-nilai bangsa Indonesia, kini mulai menyebar dan menjadi pola pikir rakyat Indonesia.
    Korbannya saat ini adalah Yogyakarta, perkembangan zaman membiarkan pola pikir kapitalisme merambah hingga pelosok desa. Yogyakarta harus merelakan tanah serta kebudayaannya yang sangat kental di nodai oleh kebudayaan asing. Entah apa yang di pikirkan bangsa Indonesia saat ini , merelakan dan membiarkan begitu saja gaya-gaya Eropa masuk kedalam budaya kita. Sejujurnya saya sangat geram , sepertinya tidak ada tindak lanjut oleh pemerintah dan sepertinya pemerintah hanya mengambil keuntungan secara sepihak. Rakyat pun seolah pasrah , berharap unsur-unsur yang masuk kelapisan budaya yogyakarta dapat memberikan keuntungan juga kepada masyarakat.
    Memang baik jika ada unsur-unsur budaya lain yang masuk ke Indonesia, karena kita dapat membandingkan kebudayaan yang kita miliki dengan kebudayaan mereka. Serta membuat kita terdorong untuk lebih terikat kepada budaya sendiri, bukan tergerus oleh kebudayaan mereka yang akhirnya memunahkan kebudayaan kita sendiri.

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd