Rabu, 12 November 2014

BANJIR DAN POLITIK PENCITRAAN

Musim hujan telah datang. Apakah DKI Jakarta masih akan ditenggelamkan banjir seperti tahun-tahun sebelumnya?

Selama setahun ini tampak di banyak tempat dikerjakan proyek-proyek besar untuk tanggulangi banjir. Sampai hari ini di sepanjang Jalan Gunung Sahari para pekerja masih menanam beton untuk membuat pembatas kali yang kuat dan tinggi bersamaan dengan pengerukan kali.

Sementara sodetan ke arah banjir kanal timur juga terus dikejar penyelesaiannya. Bersamaan dengan itu sejumlah besar bangunan yang dengan sengaja di bangun di atas kali atau selokan sudah dibongkar. Banyak selokan yang  diperdalam dan diperlebar dengan pembatas yang lebih kuat.

Kelihatannya, kerja keras telah dilakukan Pemda DKI Jakarta untuk mengatasi banjir. Memang ada perlawanan segelintir masyarakat yang selama ini dibiarkan menyerobot tanah Negara dan daerah aliran sungai. Namun, banyak yang bisa diselesaikan dengan cara yang baik.

Tetapi jangan harap DKI Jakarta akan bebas banjir. Rasanya merupakan kemustahilan bisa selesaikan masalah banjir Jakarta dalam lima tahun. Karena persoalan banjir Jakarta sangat rumit dan melibatkan banyak pihak yaitu pemerintahan Provinsi Jawa Barat dan Banten.

Banjir Jakarta dan banyak persoalan besar lain menjadi sulit diselesaikan karena jadi komoditi politik dan bahan perdebatan di media. Karena menjadi komoditi politik pendekatannya adalah menggunakan janji politik yang susah ditagih dan diimplementasikan.

Setiap kali ada pemilihan kepala daerah dari tingkat dua sampai tingkat satu, dan pemilihan presiden, para kandidat merumuskan banyak janji politik yang sebenarnya lebih banyak bersifat janji tinggal janji. Bukan program nyata yang terukur.

Masyarakat kita juga senang diiming-imingi janji yang disadari bakal tidak dapat dipenuhi. Sementara lawan-lawan politik dari pemimpin yang terpilih akan menjadikan janji-janji itu sebagai sasaran tembak untuk menghabisi sang pemimpin. Pastilah yang diserang juga berusaha menunjukkan hasil kerjanya. Pada taraf inilah pencitraan menjadi solusi untuk tunjukkan bahwa janji-janji itu sudah mulai terpenuhi. Meskipun dalam kenyataannya masih belum terpenuhi.

Inilah akibat dari politik pencitraan yang telah berkembang sejak orde baru sampai kini. Suharto dulu menggunakan TVRI dan RRI untuk menunjukkan seluruh keberhasilannya dengan cara menampilkan angka-angka statistik, gambar-gambar pembangunan, peresmian banyak fasilitas umum, pengakuan dan penghargaan internasional, dan pengakuan banyak lembaga dunia seperti Bank Dunia dan IMF.

Namun, kita tahu betul bahwa semua yang ditampilkan itu hanya sebagian kecil dari realitas yang sesungguhnya. Bagian permukaan yang indah dari realitas yang sebenarnya menyimpan ketragisan.

Suharto mendapat penghargaan untuk program keluarga berencana yang berhasil mengendalikan pertumbuhan penduduk. Namun, pemaksaan, teror dan intimidasi yang mengerikan terhadap rakyat pedesaan agar mau mengikuti program itu ditutupi rapat-rapat. Sampai-sampai banyak orang Indonesia sendiri tidak mengetahuinya.

Mestinya kita semua, rakyat, partai politik dan calon serta para pemimpin, belajar dari ketragisan orde baru. Jangan jadikan penderitaan dan masalah-masalah dalam masyarakat sebagai komoditi politik yang dijual dengan nalar obral dalam janji-janji politik.

Kita tahu, janji-janji politik adalah bahasa bombastis yang tak terukur. Padahal masalah-masalah nyata dalam masyarakat membutuhkan penyelesaian yang terukur dan bertahap. Bisa dibayangkan jika kemudian janji-janji politik itu akhirnya menjadi pangkal dari tingkai pangkai para politisi yang hanya akan membuang waktu, dana dan tenaga.

Masyarakat harus memilih calom pemimpin yang mampu merumuskan solusi yang terukur dan realistis. Jangan pilih calon Gubernur DKI Jakarta yang menjanjikan akan menuntaskan banjir dan macet Jakarta dalam lima tahun. Dapat dipastikan janji seperti itu adalah omong kosong.

Lebih baik dengan seksama memperhatikan selama lima tahun program konkrit apa yang bisa dikerjakannya. Dan apakah program itu memang mungkin dilaksanakan dilihat dari segi waktu dan kemungkinan dana yang bisa didapatkan.

Mungkin bukan janji Jakarta bebas banjir yang dijual. Tetapi janji bahwa banjir di Jakarta akan berkurang tiga puluh sentimeter, masa air tergenang di lokasi M paling lama 3 jam, lokasi A hanya 2 jam, dan dilokasi A, B, F akan bebas banjir.

Jika dalam masa kepemimpinannya janji itu bisa direalisasikan atau dipenuhi, pemimpin itu layak dipilih lagi untuk melanjutkan programnya. Sehingga dalam masa kepemimpinannya selama sepuluh tahun bisa diusahakan sekian persen dari Jakarta tak akan terkena banjir, dan semua lokasi itu dapat dengan tegas disebutkan satu persatu.

Perubahan paradigma politik ini sangat penting agar setiap pemilihan pemimpin pada semua tingkat memberikan perubahan yang terukur. Ada kemajuan minimal yang harus dipenuhi. Sudah waktunya kita beralih dari politik pencitraan kepolitik kenyataan.

KENYATAANLAH YANG DENGAN TEPAT MENUNJUKKAN JATI DIRI KITA.

7 komentar:

  1. warga jakarta Kalau sudah banjir bisanya nuntut yg di atas tapi kesadaran dari diri sendiri belom ada.
    Jangan cuma bicara dan menyalahkan, tp mulai bertindak dan saling tegur klo ada yg buang sampah sembarangan.

    ricky kurnia ips b 2014

    BalasHapus
  2. Nama : Tiara Rida (4915142800)
    Kelas : P.IPS B 2014
    Saya setuju dengan apa yang Bapak sampaikan, yang intinya tidak perlu memilih calon pemimpin yang mengumbar janji besar, tetapi memilih pemimpin yang mengumbar janji dengan terukur, karena besar kemungkinan lebih bisa dibuktikan. Apabila terukur maka masyarakat akan dapat melihat dengan jelas kinerjanya, apakah baik atau tidak, apakah program kerjanya tercapai atau tidak, apakah janji-janjinya dipenuhi atau tidak.
    Masyarakat tidak mau hanya diberi harapan palsu atas janji-janji yang ditebar ketika kampanye, tetapi sebuah kerja dan aksi nyata yang mampu mensejahterakan dan memperbaiki kehidupan. Sebuah janji yang telah terbukti, akan menumbuhkan kepercayaan dan penilaian positif terhadap pemimpin tersebut. Masyarakatpun tidak merasa berat hati ketika memilih dia untuk pemilihan periode selanjutnya melanjutkan program kerjanya.
    Para pemimpin harus memiliki sikap tanggung jawab, terutama dalam mewujudkan program kerjanya, tidak hanya disampaikan dengan balutan kata-kata bijaksana, pemilihan kata yang indah yang menjanjikan dan menggetarkan jiwa. Namun, setiap kata yang keluar harus mampu dipertanggungjawabkan dengan cara mewujudkannya.

    BalasHapus
  3. assalamualaikum pa,,

    jika yang kita bahas adalah banjir maka yang harus diperbaiki bukan hanya jakarta saja, tetapi juga daerah disekitarnya terutama bagi daerah pengirim banjir.karena bukan hanya dari jakarta sendiri tetapi juga dari daerah puncak yang telah menubah dirinya dari daerah resapan air menjadi daerah resapan liburan. sehingga perlu adanya kerjasama agar ibu kota tidak malu selalu menghadapi banjir.
    sedangkan politik yang selalu menjanjikan jakarta ini-itu, seharusnya sadar bahwa mereka dipilih oleh rakyat bukan untk memakmurkan dirinya semata. mereka hanya mem-PHP kan rakyat. berulang-ulang mengecewakan rakyat. mereka mungkin tidak merasakan banjir, karna rumah mereka di kalangan elite, tetapi rakyat??
    seharusnya mereka berpikir, mereka tidak akan menjadi pemimpin atau pejabat lainnya jika tidak ada rakyat. maka rakyatlah yang embuat mereka ada, dan seharusnya mereka tahu terima kasih.
    jakarta sebagai ibu kota, seharusnya malu jika terus-menerus banjir dan ini mencerminkan tidak ada kerjasama yang baik antara pemerintah dengan masyarakat.

    zharotul zanah
    P'IPS B 2014
    4915142804

    BalasHapus
  4. Noviana Winarsih P.IPS B 2014
    Seperti amanat yang Bapak sampaikan dalam tulisan diatas, bahwa "Kenyataanlah yang dengan tepat menunjukkan jati diri kita ". Saat ini yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia khususnya warga DKI Jakarta adalah bukti nyata dari janji-janji perubahan yang dahulu disebar oleh calon pemimpin kota ini. Bukti nyata dari visi untuk memperbaiki Jakarta. Rakyat sudah bosan terus menerus diiming-imingi janji, yang dibutuhkan oleh rakyat adalah janji yang terealisasi bukan janji yang lama-lama basi.

    BalasHapus
  5. Benar saya setuju dengan tulisan bapak, karena menurut saya pemimpin sekarang ini banyak yang hanya janji-janji saja dan buktinya tidak ada. Pemimpin yang seperti itu tidak layak disebut pemimpin karena sama saja pemimpin tersebut menipu masyarakat yang telah memilihnya untuk menjadi pemimpin mereka. Padahal pemimpin yang sudah dipilih mempunyai tanggung jawab yang harusnya dijalankan sebaik-baiknya. Masyarakat butuh bukti bukan janji seperti yang sudah-sudah.

    Eka Yuliyanti
    P.IPS B
    4915142817

    BalasHapus
  6. Seolah menjadi fenomena di negeri ini bahwa para calon pemimpin selalu mengobral-obrol janji-janji manis yang terkadang bombastis dan mengibuli pada saat kampanye. Masyarakat dengan mudah tertipu pepesan janji kosong tidak bermutu yang dilontarkan. Masyarakat seharusnya dituntut untuk cerdas dalam memilih calon pemimpinnya. Pilihlah pemimpin yang sudah teruji kinerjanya, tidak tong kosong gedumbrang bunyinya alias sering ber-statement tapi tidak profesional dalam pekerjaannya. Bagi para pemimpin, hindarilah politik yang terlalu membesar-besarkan sehingga terkesan sebagai politik pencitraan. Yang paling penting adalah fokus untuk berusaha dan bekerja dalam mengemban amanah rakyat.

    Tri Arung Wirayudha
    4915141048
    P.IPS A 2014

    BalasHapus
  7. Chairul saleh
    P.IPS B 2014
    Banjir merupakan suatu masalah pokok yang terjadi di DKI Jakarta,dan harus segera di atasi oleh pemerintah.Namun berbagai macam proyek yang dilakukan pemerintah untuk penanggulangan banjir sampai saat ini terbengkalai,dan tidak sesuai dengan waktu yang sudah dijanjikan.Masyarakat DKI Jakarta telah di iming-imingi oleh janji manis pemerintah,namun tidak satupun janji itu yang terpenuhi.Padahal masyarakat DKI jakarta sangat berharap dengan adannya proyek-proyek yang dijalankan oleh pemerintah,dapat membuat Jakarta menjadi lebih baik.Namun dengan adanya proyek yang terbengkalai dan tidak tepat waktu membuat masalah baru yang terjadi di DKI Jakarta.Sebaiknya masyarakat DKI Jakarta memilih pemimimpin yang realistis,dan jangan memilih pemimimpin yang hanya bisa memberikan janji yang tidak pernah terpenuhi.Karena masyarakat Jakarta butuh sosok yang membuat program nyata dan terukur,bukan sosok yang bisanya cuma janji belaka,demi pencitraan politik.

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd