Minggu, 09 November 2014

DUNIA KITA

Inilah dunia kita. Dunia manusia. Mungkin dunia yang paling menarik bagi Tuhan. Karena Tuhan telah berkali-kali mengutus nabi dan rasul, serta beberapa kali menurunkan wahyu sebagai petunjuk bagi manusia, penghuni utama dunia ini.

Boleh jadi, manusia adalah makhluk yang paling bandel, ngeyel, dan benar-benar pembangkang. Sangat mudah baginya berpaling, menerabas, melawan arus, mengingkari apapun yang diyakininya. Manusia lebih sering menampilkan sisi kotornya, sisi hitamnya. Barangkali ini ada kaitannya dengan bahan dasar untuk menciptakannya yaitu tanah.

Tanah memang lebih lekat dengan kekotoran, lumpur, dan tempat paling rendah, tempat manusia berpijak, menyimpan kotoran, bahkan bangkai manusia. Namun, tanah juga lambang kesuburan dan kehidupan.

Di dalam tanah yang kotor dan seringkali berbau busuk itu bisa tumbuh mekar hampir semua yang dibutuhkan manusia. Karena itu, tanah selalu dikaitkan dengan ibu, yang dengan sabar mengandung, melahirkan dan mengasuh.

Tetapi "ketanahan " manusia tampaknya adalah akar dari hampir semua sisi gelap manusia. Artinya, meskipun  bisa berusaha sekuat kemampuan dan tenaga menjadi manusia yang baik, yang lurus lempang. Namun, manusia tetaplah manusia, ia seringkali gampang tergelincir.

Karena itulah dunia kita, dunia manusia bukanlah kapita selekta kebaikan, kemulian, dan kehormatan. Dunia kita adalah lingkaran yinyang. Di dalam sisi putih ada kegelapan, dalam lingkaran hitam terdapat titik putih. Dalam realitas hidup keseharian, demarkasi atau batas-batasnya tidak selalu jelas dan pasti. Dalam kitab suci, semuanya jelas dan pasti. Tetapi hidup manusia bukanlah jabaran kitab suci.

Apakah kita sungguh yakin bahwa manusia yang disebut dan dipercaya sebagai orang suci, tidak memiliki khilaf, salah, dan dosa? Apakah manusia paling jahat dan bejat sama sekali tidak memiliki kebaikan?

Realitas kehidupan manusia menunjukkan bahwa tidak demikian keadaannya. Manusia memang bisa berubah dari tanah yang lembek menjadi keramik yang keras melalui proses "pembakaran", yaitu perjuangan hidup yang luar biasa, melampaui tantangan dan rintangan yang menghadangnya. Namun, merupakan fakta yang tak terbantahkan bahwa keramik yang sangat keras dan kuat itu bisa retak bahkan pecah berantakan.

Aslinya tanah itu lembek dan gampang tercerai berai berantakan. Tetapi dalam kelembeklembutannya itu ia justru lebih mudah dibentuk, jadi apa saja. Inilah realitas terdalam manusia. Ia berada dalam rentang antara tanah lembek sampai keramik super keras. Upaya kerasnya yang akan menentukan di titik mana ia berada dalam rentang itu.

Dunia kita menjadi indah bila setiap orang menyadari posisinya dalam rentang itu. Hakikinya tidak ada manusia yang bisa stabil dalam jangka panjang berada dalam satu titik. Ia terus bergerak. Bisa makin melembek atau mengeras. Keras-lembek memang sangat tergantung dari usaha setiap manusia.

Dunia kita menjadi tidak indah dan sama sekali tidak asyik saat ada individu atau kelompok individu yang merasa diri sebagai duta besar, kondulat jenderal atau polisi Tuhan.  Mungkin karena terkalu banyak membaca dan menghafal kitab suci, ia kurang mampu mencernanya, dan mengira bahwa dunia manusia, hidup manusia bisa disulap secara instan menjadi sama dan sebangun dengan kitab suci.

Karena kitab suci itu berasal dari Tuhan, orang-orang ini mengira bahwa kitab suci adalah Tuhan itu sendiri. Akibatnya mereka suka sotoy dan seenaknya menempatkan manusia dalam beragam titik dalam rentang kemanusiaan. Ia dengan mudah menuduh dan menyerang manusia sebagai orang tak beriman, pendosa, sesat, kafir, dan beragam penilaian lain. Bahkan lebih dari itu, ia brani menyebut manusia ini penghuni neraka paling bawah, dan manusia itu neraka yang paling panas.

Mereka sama sekali lupa, bahwa kita suci adalah petunjuk, pembeda, dan indikator yang diberikan Tuhan. Tetapi bukan penentu yang bisa secara langsung menetapkan manusia ini mukim di neraka, dan manusia itu tinggal di surga.

Manalah bisa kita menilai manusia hanya dari tindakannya. Apakah kita tahu saat seseorang sholat ia sungguh khusu'? Apakah kita bisa pastikan ketika seseoarang berbuat baik, ia sungguh-sungguh ikhlas?

Dalam kaitan inilah kita harus memahami benar bahwa Tuhan adalah Kebenaran dan Sumber Kebenaran. Kitab suci hanyalah sebagian saja dari Kebenaran Tuhan, dan manusia pastilah tak pernah bisa secara mutlak menangkap kebenaran kitab suci. Apalagi sampai bisa menentukan tempat manusia di dunia dan akhirat.

Orang yang sungguh-sungguh memahami kebenaran dan rendah hati bisa menjelaskan kebenaran yang dikandung kitab suci. Namun, justru karena ia memahami kebenaran, pada akhir penjelasan, ia harus mengatakan, hanya Tuhanlah yang tahu.

Beranjak dari cara berfikir seperti ini, mestinya kita brani menegaskan, bahwa apa yang dapat dilakukan manusia terhadap manusia lain hanyalah mendeskripsikan dan menjelaskan. Bila kita menilai orang lain, apalagi terkait dengan keyakinan iman, ibadah dan amal shalehnya, paling tinggi kita hanya boleh memprakirakan, sifatnya hanya kemungkinan. Bukan penilaian yang pasti dan pasti benar.

Ambillah contoh ketika kita melihat makin maraknya gejala transjender, homoseksualitas baik gay maupun lesbian, bisalah menahan diri untuk tidak menghujat dan menghakimi. Apalagi sampai menghina dan memastikan tempat mereka dalam rentang kemanusiaan dan posisinya di akhirat.

Semakin mengerikan bila  kita menghancurkan kemanusiaan mereka karena perilakunya itu. Jika memang tak punya waktu untuk memahami mereka, tak usahlah menghina dan menghujat. Bila punya perhatian sebaiknya berbincang dengan cara yang baik.

Rasanya kita bisa belajar dari Al Qur'an khususnya surat Abasa (bermuka masam atau cemberut). Bahwa kita bisa  salah menilai orang. Dalam konteks inilah mesti difahami mengapa Nabi Muhammad SAW diberi tugas sebagai pemberi peringatan, bukan pemberi keputusan.

Lucu rasanya, dalam dunia kita yang makin tak mudah dipahami ini ada individu atau kelompok orang yang mengambil peran melebihi Nabi Muhammad. Padahal siapalah dia dibandingkan manusia pilihan Allah itu.

DALAM DUNIA MANUSIA YANG MAKIN RUMIT INI, SIKAP BIJAK DAN HATI-HATI ADALAH KUNCI BAGI SALING PENGERTIAN DAN PERDAMAIAN

5 komentar:

  1. Assalamual'aikum Pak Nusa
    Saya Atikah Bahirah
    P.IPS B/2014
    Menurut saya,baiknya pemahaman seseorang tentang pemahaman Al-qur’an terkadang membuat mereka lupa akan fungsi Al-qur’an yang sesungguhnya.Bukan ini tidak baik tetapi jika hal itu membuat orang tersebut malah menghujat orang lain ini menjadi salah karena sesungguhnya bagaimana seseorang masuk surga atau neraka,dosa atau tidak dosa, adalah rahasia Ilahi dan manusia tidak berhak sama sekali menghujat.Fungsi Al-qur’an sebagai petunjuk, petunjuk bagi para pembacanya.Pembeda antara hal yang baik atau buruk yang seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan.Jika suatu perbuatan diyakini memang salah sebaiknya dibicarakan agar perbuatan tersebut bisa diperbaiki dan tidak dilakukan lagi.

    BalasHapus
  2. Nama : Andayani
    Kelas : P.IPS B 2014
    No.reg : 4915144097

    Manusia pertama adalah Nabi Adam as, ia diciptakan dari sari pati tanah dan kita diciptakan dari setetes air yang hina, kemudian menjadi segumpal darah , lalu menjadi tulang benulang yang dibungkus dengan daging hingga tercipta manusia. Manusia adalah makhluk tuhan paling sempurna. Banyak orang-orang yang masih ragu mengapa manusia dikatakan makhluk yang sempurna, padahal manusia sering berbuat dosa dan jika ditanya siapa makhluk yang paling sempurna bisa jadi banyak diantara mereka akan menjawab malaikat . Alasannya adalah malaikat selalu menjalankan perintah tuhan dan tidak pernah berbuat dosa. Menurut saya manusia adalah makhluk yang paling sempurna, karena dari semua makhluk yang diciptakan oleh Allah swt hanya manusialah yang diberikan akal pikiran. Lalu apa yang membuat manusia lebih sempurna dari malaikat ? yang membuat manusia lebih sempurna dari malaikat adalah manusia diberikan nafsu, tentunya nafsu membuat tugas manusia menjadi lebih berat. Mereka diberikan kewajiban untuk menjalankan segala perintah Allah swt namun digoda oleh nafsu dan itulah tantangan terberat manusia. Nafsu ada untuk menguji seberapa besar iman manusia. Malaikat diciptakan tapi tidak diberikan nafsu, namun itu tidak bisa dijadikan alasan untuk kita berhenti mengimani malaikat-malaikat Allah swt.
    Manusia bisa lebih mulia dari malaikat dan bisa lebih hina dari iblis, itu artinya apa yang dilakukan manusia tergantung apa yang mereka gunakan dalam bertindak. Apakah dengan akal atau dengan nafsu ? ketika manusia melakukan sesuatu dengan akal, hasilnya dapat bermanfaat bagi orang lain dan Allah swt meridhainya maka disitulah manusia dikatakan lebih mulia dari malaikat. Ketika manusia melakukan sesuatu dengan nafsu dan merupakan hal yang dilarang maka itulah posisi dimana manusia lebih hina dari iblis

    BalasHapus
  3. Nama: hesti mardiana
    Kelas: p.ips A 2014
    No registrasi: 4915141039
    Dalam dunia manusia yang makin rumit ini, sikap bijak dan hati-hati adalah kunci bagi saling pengertian dan perdamaian, saya menangkap pemahaman dari kalimat bapak tersebut bahwa kita tidak boleh menilai seseorang dari penampilan luarnya saja atau penampilan fisiknya karena belum tentu orang yang memiliki atau berpenampilan rapi ia adalah orang yang baik yang mau menghormati dan bijaksana kepada orang lain, sebaliknya orang yang memiliki penampilan seadanya justru terkadang dialah orang yang baik dan bijakasana kepada orang lain.

    BalasHapus
  4. Khilva Aini Humaedi
    P.IPS B 2014
    4915142822
    sesama manusia harusnya bisa saling menghargai. tapi, bagaimana kita bisa menghargai jika kita belum bisa memahami? coba pikirkan kembali. apa salahnya kita memahami orang-orang yang menurut pikiran kita mereka itu "berbeda". tidak bisakah kita memberi toleransi kepada mereka? dan bisakah kita berhenti menjudge kepada orang-orang seperti yang disebutkan diatas? sebenarnya kita harusnya kembali berfikir bahwa kita juga belum menjadi orang yang baik.

    BalasHapus
  5. Yumna Adzillah
    P.IPS B 2014
    4915144089

    "Boleh jadi, manusia adalah makhluk yang paling bandel, ngeyel, dan benar-benar pembangkang. Sangat mudah baginya berpaling, menerabas, melawan arus, mengingkari apapun yang diyakininya."
    Betul seperti yang bapak katakan bahwa manusia adalah makhluk yang bandel, ngeyel dan lain-lain. Manusia adalah makhluk yang diberi akal, juga hawa nafsu. Manusia tahu mana yang benar dan mana yang salah, tetapi manusia juga yang melanggar apa yang ia ketahui. Namun disaat manusia mampu menggunakan otaknya dan mengalahkan hawa nafsu, disaat itulah kita tahu bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna. Berebda dari malaikat yang tidak diberi akal yang sempurna dan setan yang hanya menggunakan hawa nafsu.
    Namun manusia banyak yang salah menggunakan keistimewaannya, yaitu akal yang sempurna untk hal-hal yang tidak berguna bahkan melenceng. Misalnya merasa dirinya sangat hebat dan memiliki derajat yang sangat tinggi. Ada juga manusia yang tidak menyadari untuk apa ia diberi akal, sehingga dalam hidup tidak digunakan dengan maksimal atau 'malas'. Ia sungguh tidak menyadari bahwa dirinya mampu menjadi lebih dari apa yang sekarang ia miliki.
    Jangan sia-siakan hak yang Allah beri pada manusia, yaitu kemampuan berpikir yaitu akal. Bahkan hewanpun menggunakan akalnya walau hanya terbatas dengan sebaik mungkin. Jika manusia tidak maksimal dalam menggunakan akalnya dan malas, tidak heran jika ia disamakan dengan hewan. Bahkan hewan pun lebih baik.
    Gunakanlah akal untuk berpiki, agar mampu berubah dari tanah lembek menjadi keramik yang keras. Agar ilmu tidak hanya digunakan sebagai topeng, namun menjadi keunggulan manusia tersebut. Dan agar manusia dapat lebih bijak dalam mengambil keputusan dan menilai orang.

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd