Sabtu, 08 November 2014

GIGOLO JALANAN

Bundaran HI sangat ramai Minggu sore ini. Berbeda dengan Minggu pagi yang dipenuhi orang yang berolah raga. Sore ini kebanyakan orang nongkrong dan berfoto. Semakin asyik karena banyak pengasong kopi instan yang membawa dagangannya dengan sepeda. Senja menjelang, yang nongkrong makin ramai. Kebanyakan merupakan kelompok yang terdiri dua sampai lima orang. Warna-warni lampu dari tugu Selamat Datang dan dari gedung-gedung jangkung menambah indah malam. Apalagi lampu tugu Selamat Datang berubah-ubah dari ungu ke pink, sungguh mempesona.

Di depan Grand Hyatt atau Plaza Indonesia merupakan tempat yang paling disesaki orang nongkrong. Duduk santai menikmati kopi dan ngobrol. Ada sekelompok anak muda, perempuan dan lelaki berjumlah enam orang bergaya trendy bernyanyi bersama diiringi gitar. Mereka sangat menikmati tamasya di pusat kota dengan biaya murah meriah.

Berbaur dengan mereka adalah tukang ojek dan pengasong kopi instan yang jumlahnya tidak kalah banyak. Pengasong kopi instan juga menyediakan cemilan yang beragam. Sungguh tongkrongan yang mengasyikkan.

Ikutan nongkrong dengan mereka dan bernyanyi bersama rupanya membuat cepat akrab. Dengan cepat kita sudah ngobrol tentang orang-orang yang berseliweran, siapa saja yang sering nongkrong di sini dan apa saja yang mereka kerjakan selama nongkrong.

Semakin malam obrolan bertambah asyik. Mulai memasuki wilayah yang agak pribadi. Apa yang dicari perlahan mulai ditemukan. Dua lelaki muda yang sedang asyik bercengkerama sekitar dua meter dari tempatku nongkrong adalah gigolo. Informasi ini didapat dari tukan kopi. Gigolo khusus melayani lelaki. Mereka memang kelihatan seperti orang pacaran. Tampak mesra.

Aku merapat dan menawarkan kopi. Dengan cepat mereka mengiyakan. Kami kemudian ngobrol. Lelaki yang lebaih cakep tampak bergaya kemayu mirip cewek. Tangannya lentur dan setiap berbicara sengaja memainkan lidahnya.

Lelaki kemayu itu mahasiswa sebuah PTS program studi sistem informasi semester kelima, temennya pernah kuliah hanya sampai semester tiga, sekarang bekerja di sebuah resto di sekitar Blok M.

Mereka berdua selalu pindah-pindah tempat nongkrong. Kadang  mencari mangsa ke dalam Plaza Indonesia. Malam Jumat biasanya ke Jalan Sabang. Ada waktunya nongkrong di Melawai Blok M. Jika malam Minggu pada awal bulan, sering nongkrong di kafe-kafe Tomang.

Mereka biasanya berempat. Keempatnya kos di belakang Plaza Indonesia. Kedua temannya sedang ke diskotik di Kota Tua. Mereka memang senang berkunjung ke diskotik. Tidak pernah menetap pada satu diskotik, pindah-pindah. Semua diskotik di Jakarta sudah pernah dikunjungi.

Saat mereka mulai pertama kali menjadi gigolo, kala itu masih SMA, pelanggannya adalah lelaki bule. Kini sudah banyak lelaki pribumi yang ikutan jadi pelanggan. Mereka berempat hanya bersedia melayani lelaki.

Keduanya mengaku telah memiliki pelanggan  tetap. Nongkrong seperti ini hanya cari-cari variasi. Di tempat ini banyak bule yang nginap di hotel jalan-jalan ke mari. Sering juga diajak lelaki bule kencan di hotel.

Mereka mengaku, Selasa sore sering berkumpul sesama gay di F Ex Sudirman atau Plaza Senayan. Biasanya ngobrol-ngobrol dan tukaran informasi. Kini yang ngumpul makin banyak. Tidak sedikit anak SMA yang ikutan jadi gay.

Si lelaki kemayu bilang, di sekitar Sarinah Thamrin dan Jalan Sabang, banyak teman mereka mencari pasangan. Di Jalan Sabang, kebanyakan pelanggan adalah bule yang menginap hotel-hotel kecil di Jalan Jaksa.

Teman si kemayu, sebut saja Ed, menawarkan nomor hp teman-temannya yang sering nongkrong di Jalan Sabang dan Sarinah Thamrin. Aku mencatatnya. Dia mengontak beberapa dan bilang ada yang mau ketemu.

Ed bercerita bahwa sekarang ini banyak sekali remaja pria, anak SMA yang ikutan menjadi gay. Tidak sedikit yang mulai beroperasi menjual diri kepada pria dewasa. Mereka beroperasi di banyak mal pada sore hari.

Ed juga bercerita tentang maraknya gigolo yang menawarkan diri secara online. Ia memiliki lima orang teman yang menggunakan online untuk menawarkan diri. Ia tidak berani melakukannya karena sangat berisiko. Beberapa temannya pernah ditangkap polisi karena usaha onlinenya kebongkar.

Sekarang persaingan di kalang gigolo kayak kami keras banget, kata Ed. Jumlahnya makin banyak dan beroperasi di mana saja. Mereka muncul di mal, hotel, resto, cafe, gym atau pusat kebugaran, sampai pinggiran jalan. Banyakanya gigolo dan gay pertanda dunia udah mau kiamat, tegas Ed.

Si kemayu tidak setuju pada Ed. Dia bilang, sekarang orang makin berani menikmati kebebasan. Berani terang-terangan. Menurutnya sejak zaman dulu banyak orang jadi gay dan gigolo, tetapi tidak berani terang-terangan. Kita aja berani cari mangsa di jalanan begini, kata si kemayu.

Tampak si kemayu lebih argumentatif daripada Ed. Bisa jadi karena dia masih aktif kuliah. Si kemayu kemudian menjelaskan bahwa banyak anak SMA jadi gay cuma coba-coba atau ikut-ikutan. Karena tampil beda sekarang ini menjadi trendy.

Si kemayu menjelaskan, jika mereka ke mal biasanya suka dapet om-om iseng. Lelaki sungguhan ada di pusat kebugaran. Banyak lelaki sudah bosen ama cewek, kita jadi alternatif deh, papar si kemayu.

Dari para tukang kopi instan dan tokang ojek yang banyak nongkrong di sekitar tempat ini diakui bahwa kini semakin banyak cowok nongkrong untuk mencari mangsa. Mangsanya adalah para lelaki, terutama lelaki bule yang banyak lewat di tempat ini. Biasanya mereka menawarkan jasa pemijatan.

Para tukang kopi dan tukang ojek itu pada mulanya juga kaget melihat polah tingkah para gigolo ini. Koq lelaki doyan ama lelaki, tanya seorang tukang ojek. Udah pada sableng semua, jawab tukang ojek yang lain.

Seorang tukan kopi instan yang berusia sembilan belas tahun menjelaskan, ia sering berkomunikasi dengan para gigolo itu. Menurutnya ada gigolo yang memang mencari tamu untuk dapatkan  uang, juga ada yang hanya bersenang-senang.

Si kemayu berterus terang bahwa ia mencari keduanya, uang dan kesenangan. Karena itu ia rajin mengunjungi pusat kebugaran. Di tempat itu ia selalu menemukan lelaki yang bisa memberikan kesenangan, juga uang. Ia mengaku pernah melakukan hubungan badan di kamar mandi pusat kebugaran. Seru banget, katanya.
Di Sarinah Thamrin, sebagian gigolo itu beroperasi di pinggir jalan di depan Sarinah. Mereka menyapa para lelaki yang lewat dengan sopan. Menawarkan jasa pijet dan pulsa elektrik.

Di Jalan Sabang, pada malam Minggu jumlah mereka lebih banyak daripada malam biasa. Mereka duduk di beberapa tempat di depan pertokoan di antara warung makanan yang berjejer.

Meningkatnya jumlah tempat para gigolo itu beroperasi, menunjukkan bahwa pelaku dan pelanggannya sangat banyak. Gaya hidup yang mereka praktikkan sudah menjadi gaya hidup banyak orang. Kita tidak tahu dengan pasti, pertanda apakah ini?

MANUSIA MEMANG PENUH KEJUTAN, DAPAT LAKUKAN APA PUN.

22 komentar:

  1. Eka Puji Haryani
    4915142823
    P. IPS B 2014

    Manusia merupan makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Manusia diberi akal, pikiran, dan nafsu tidak seperti makhluk-makhluk Allah lainnya.
    Manusia yang baik adalah manusia yang bisa menggunakan akal dan pikirannya serta bisa mengontrol hawa nafsunya.
    Gigolo menurut saya makhluk Allah yang tidak bisa mengontrol nafsu dan mereka kurang menggunakan akal dan fikirannya. Yang mereka inginnkan hanyalah kesenangan, kesenangan sesaat. Padahal kita hidup didunia ini untuk mencari kesenangan yang abadi yaitu didunia maupun diakhirat. Bisa dibilang sekarang ini adalah zaman yang acak-acakan dari segi masyarakatnya dan pemerintahannya.

    BalasHapus
  2. Noviana Winarsih P.IPS B 2014
    Saat ini, rasa malu sudah tidak ada lagi pada jiwa manusia yang kalap akan uang dan kesenangan. Kesenangan yang ditawarkan sangat menggiurkan sehingga banyak yang tertarik akan bujuk rayunya. Padahal yang dikejar hanya sebatas kesenangan semata, merusak hati dan pikiran manusia. Jika hati dan pikiran telah rusak, maka segala perbuatan dilakukan tanpa memikirkan akibat.

    BalasHapus
  3. Siti Aisyah
    P.IPS B 2014
    4915144110

    Setelah saya membaca tulisan bapak ini saya semakin miris melihat perilaku para generasi bangsa kita. Mereka seperti itu awalnya hanya ingin coba - coba tapi lama kelamaan mereka menjadi terbiasa dengan hal yang mereka lakukan. Mereka melakukan itu untuk mendapatkan uang bahkan tak jarang hanya untuk mencari kesenangan diri mereka. Dari tulisan bapak, mengambarkan bahwa moral yang dimiliki para penerus bangsa ini sudah menurun atau sudah jauh dari nilai- nilai pancasila.

    BalasHapus
  4. Rovida Amalia Mazid
    P.IPS.A.2014
    4915141032

    sungguh miris kehidupan ini, apakah pada saat ini zaman sudah dibilang zaman edan, tentu pasti, banyak kejadian-kejadian aneh dimuka bumi ini, bahwa dari cuplikan tulisan bapa seorang laki-laki yang kodratnya sebagai pasangan seorang wanita, ia malah menyimpang dari kodratnya, sungguh miris kehidupan di kota metropolitan ini, saya sebagai orang rantauan merasa kehidupan dikota sangatlah keras, bahkan berbagai macam kehidupan yang aneh yang terjadi dikehidupan ini.

    BalasHapus
  5. khilva aini humaedi
    p.ips b 2014
    4915142822
    manusia memang penuh kejutan dan bisa melakukan apapun. menjadi gigolo dan hanya ingin melayani laki-laki hanya untuk uang dan kesenangan semata sungguh disayangkan. tidak habis fikir ternyata yang seperti itu masih ada dan sudah menjadi trend di sekarang ini. jika alasan hanya untuk mencari kesenangan memang tidak ada hal-hal lain yang bisa dilakukan? jika untuk mencari uang memang tidak bisa mencari uang secara halal?

    BalasHapus
  6. Fasubkhanali
    P. IPS B 2014
    4915142808

    Hidup memang penuh kejutan. Manusia mampu melakukan apa saja. Kehendak bebas yang diberikan Tuhan membuat manusia dapat melakukan apa yang dia inginkan. Namun sebagai manusia, baiknya kita menjaga baik-baik kehendak bebas ini dan menggunakannya hanya untuk kepentingan yang baik.

    BalasHapus
  7. Setahu saya gigolo adalah lelaki yang melayani tante-tante, tetapi dalam tulisan bapak ini, gigolo yang bapak ceritakan adalah lelaki yang melayani sesama lelaki. Ini sungguh menjijikan. Jaman sekarang yang tidak mungkin bisa saja menjadi sebuah kemungkinan.

    Mereka adalah korban dari bebasnya pergaulan. Cara mereka dalam menikmati kehidupan dan masa muda mereka adalah salah. Apalagi bapak memaparkan, yang menjadi Gigolo Jalanan itu ada yang masih SMA dan ada yang masih kuliah. Masa depan mereka semua masih panjang, mereka adalah pemuda penentu majunya bangsa ini, tetapi mereka melakukan hal yang salah yang hanya mementingkan kesenangan semata.

    Reza Priyantama
    P.IPS B 2014

    BalasHapus
  8. Nama: Fakhri Rizqi Ekaputera
    Kelas: P.IPS 2014 B
    NIM: 4915144088

    Saya terkejut setelah membaca tulisan anda karena gigolo yang diceritakan sudah memiliki cara untuk mencari uang sekaligus kesenangan dengan melakukan pendekatan sesama jenis. Kemudian meningkatnya jumlah tempat para gigolo itu beraksi, menunjukkan bahwa pelaku dan pelanggannya sangat banyak. Hal tersebut memperjelas bahwa itu sebuah menjadi gaya hidup.

    Kita sebagai manusia yang punya akal sehat seharusnya tidak seperti para gigolo. Akal sehat yang kita punya harus digunakan sebaik-baiknya, tidak seperti para gigolo yang mengincar lelaki muda demi uang dan kesenangan, atau para pengguna jim yang bosan dengan wanita.

    BalasHapus
  9. ternyata perkembangan teknologi tidak membuat segelintir orang lebih berkembang pola fikirnya ya, menyedihkan sekali jika smartphone kita lebih pintar dibandingkan cara berfikir orang-orang yang seperti bapak paparkan. pemerintah harus tegas karna lama kelamaan ini menjadi budaya baru yg makin merusak moral bangsa.

    rayi asyhada
    p.ips 2014
    4915144090

    BalasHapus
  10. Ghaffar Radithio Putra
    4915142801
    P.ips b 2014
    Di era globalisasi yang menghilangkan sekat sekat atau batas antara dunia telah berdampak negatif bagi para kalangan remaja, komunikasi dan pergaulan bebas pun merajalela akhirnya banyak remaja pria yang mengikuti budaya barat yaitu gay. Gay adalah penyuka sesama jenis pria dan pria, lunturnya nilai agama dan pelajaran agama sejak dini menjadi pengaruh besar dalam pertumbuhan remaja akhirnya, mereka pun terjebak di dunia yant fana demi uang semata.

    BalasHapus
  11. Saya setuju dengan artikel bapak,artikel ini berceritakn tentang gigolo atau gay. Saya bisa lihat bahwa mereka melakukan hal sekeji itu demi mendapatkan uang dan kesenangan semata. Sebenarnya mereka salah jika melakukan suatu hal hanya karna uang atau kesenangan,hidup ini bukan untuk mendapatkan uang tapi mencari kebenaran menuju ilahi. Di zaman seperti ini memang kita membutuhkan uang,tapi tak selamanya uang itu dapat berbicara. Ada beberapa yang tidak bisa di beli dengan uang yaitu kebahagian,kebahagian itu datang dari hati manusia sendiri. Walaupun seperti itu,mereka tetap salah dan suatu saat nanti mereka akan mempertanggung jawabkan semuanya kepada Allah SWT. Semoga mereka bisa bertobat dan mencari sesuatu yang lebih baik dari hal yang buruk itu. Terima Kasih (Mega Sukmawati P.IPS A 2014 )

    BalasHapus
  12. Saya setuju dengan artikel bapak,artikel ini berceritakn tentang gigolo atau gay. Saya bisa lihat bahwa mereka melakukan hal sekeji itu demi mendapatkan uang dan kesenangan semata. Sebenarnya mereka salah jika melakukan suatu hal hanya karna uang atau kesenangan,hidup ini bukan untuk mendapatkan uang tapi mencari kebenaran menuju ilahi. Di zaman seperti ini memang kita membutuhkan uang,tapi tak selamanya uang itu dapat berbicara. Ada beberapa yang tidak bisa di beli dengan uang yaitu kebahagian,kebahagian itu datang dari hati manusia sendiri. Walaupun seperti itu,mereka tetap salah dan suatu saat nanti mereka akan mempertanggung jawabkan semuanya kepada Allah SWT. Semoga mereka bisa bertobat dan mencari sesuatu yang lebih baik dari hal yang buruk itu. Terima Kasih (Mega Sukmawati P.IPS A 2014 )

    BalasHapus
  13. Nama: Kun Khaerina Hapsari
    Kelas : P.IPS A 2014
    NIM: 4916141047

    Kaum Gay saat ini sudah tdk malu malu menunjukkan penyimpangannya di khalayak umum. Betul sekali kata bapak, kita sendiri pun bs dengan mudah menemukan seorang lelaki besikap mesra dgn lelaki lainnya. Zaman Nabi Luth a.s saat ini bs kita saksikan sendiri. Penyimpangan ini adalah sesuatu yg menjijikan. Selain menyimpang dr kodrat, rakyat Indonesiapun akan tercemar. Bagaimana tidak, para gigolo tsb dengan santainya menawarkan diri kepada pendatang asing. Apa harus, Allah menurunkan laknatnya seperti yg terjadi pada kaum Nabi Luth a.s ? Tentunya kita tidak menginginkan hal tersebut. Seharusnya, para gigolo tsb diberi ruang utk mempelajari agama. Karena setiap agama tdk ada yg menghalalkan hubungan sesama jenis. Kita tdk perlu memakinya, tetapi kita harus 'merangkulnya' dan mengingatkan jika tindakan itu sangat bertentangan dengan agama apapun. Setiap orang telah diciptakan dan di sudah ditetukan jodohnya. Dan pastinya berjodoh dengan lawan jenis.

    BalasHapus
  14. nur'aini Eka Putri
    P.IPS B 2014

    saya setuju dengan tulisan bapak, zaman memang sudah semakin edan. lelaki suka sesama lelaki dan perempuan suka sesama perempuan. Lelaki berubah menjadi perempuan dan begitu juga sebaliknya. Terkadang ekonomilah yang memiliki andil besar dalam suatu perubahan gaya hidup manusia. Demi untuk mendapatkan uang seorang lelaki rela menjadi gigolo, perempuan rela menjadi jablay,

    KARENA UANG SEMUANYA DAPAT DILAKUKAN

    BalasHapus
  15. Assalamualaikum pak
    Saya Ma'mun Raka Arief
    P.IPS A'14 (4915141016)

    Astagfirullah, Jakarta emang kota 1000 profesi. Dari kerjaan yang halal sampai ke kerjaan yang lebih rendah lagi dari kata biadab. Intinya hanya dua, yang satu nyari uang yang satunya lagi nyari kepuasaan, bahkan ada yang mencari keduanya. Mereka bahkan tak ingat bahwa rejeki itu datangnya dari mana, dari pencipta mereka. Bukan dari para om-om iseng apalagi bule-bule gila yang sering menginap di hotel. Uang dan kepuasaan membukakan pintu kebiadaban mereka. Naudzubillahimindzalik.
    Terimakasih pak.

    BalasHapus
  16. Wafa Nurul Annisaa (P. IPS B 2014)

    Memang jaman sekarang sudah jaman edan. Banyak hal yang tidak mungkin, sekarang menjadi marak apalagi dipusat kota. Maraknya para gay dikalangan remaja menandakan sudah semakin dekat kiamat datang. Mereka yang hanya mencari uang, akan menghalalkan segala cara untuk memenuhi hidupnya salah satunya melanggar aturan Tuhan. Mereka yang bersenang-senang hanya menikmati dunia saja tidak memikirkan kehidupan setelah dunia. Kebanyakan dari mereka tidak tahu betul ajaran-ajaran agama.

    BalasHapus
  17. memang hal ini sudah lumrah kita dengar. banyak sesama jenis yang suka dan bahkan berniat atau memang hidup menjadi pasangan. kisah ini juga pernah terjadi si zaman nabi Allah lutd. kaum pria saling mencintai hingga akhirnya Allah SWT membinasakannya dan menggantikannya dengan kaum yang lebih baik. jadi jika mereka merasa nyaman ada baiknya mereka membaca kisa nabi Allah lutd dan mengkajinya atau mereka justru siap untuk mendapat murka Allah?

    BalasHapus
  18. Assalamualaikuw wr wb, Pak Nusa.

    Menurut saya pada zaman ini kemunculan gigolo sudah tak asing saya dengar. saat ini sudah banyak lelaki yang menjadi seorang gigolo. kebanyakan alasan mereka menjadi gigolo biasanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan seks mereka. gigolo dan pelacur sebelas duabelas, yang satu nya lelaki melayani lelaki juga dan satunya wanita yang melayani lelaki. keduanya memiliki perilaku menyimpang. sungguh, apalagi di kota metropolitan ini sudah banyak dan tak ada yang mengherankan.

    Wassalamualaikum wr wb.
    Yetty Imayanti. PIPS A. 4915141036

    BalasHapus
  19. Selamat siang pak, memang Indonesia sekarang berbeda dengan indonesia yang dulu. Terima tidak terima ini adalah salah satu contoh pengaruh budaya. Tapi karena ini pengaruh budaya luar lalu dengan mudah kita menyalahkan budaya luar? tidak.Bukan salah budaya lain masuk, salah kita mau menerima. Inilah dunia akibat modernisasi, jaman sekarang manusia dituntut hidup menyesuaikan jaman, mengambil yang baik, membuang yang buruk, mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya. Selamat datang di kehidupan baru.

    BalasHapus
  20. Kebebasan telah membuat segala yang aneh kini menjadi biasa, begitu pula sebaliknya. Fenomena gigolo ini sangat ditolak keberadaannya oleh kebanyakan masyarakat, hanya sedikit yang tidak peduli, namun ada beberapa yang sangat membutuhkan kehadiran gigolo ini. Aneh memang.
    Inilah salahsatu dari dampak negatif yang ditimbulkan globalisasi. Memang benar bila ada yang mengatakan 'dimana ada putih pasti akan ada sang hitam'. Kita sebagai manusia hanya bisa meningkatkan iman untuk memfilter hal mana yang baik atau tidak untuk kita.
    Wandahani (4195142819)

    BalasHapus
  21. Nama : Andayani
    Kelas : P.IPS B 2014
    No.reg : 4915144097

    Sejujurnya saya tidak begitu paham dengan makna gigolo lebih spesifik, tetapi setelah membaca artikel ini saya sangat tercengang. Gigolo adalah contoh pergeseran nilai yang terjadi akibat perkembangan zaman. Sifat manusia yang hendonisme membuat manusia tidak pernah merasa puas dengan apa yang mereka miliki, yang mereka pikirkan hanya bersenang-senang dan hidup dengan kemewahan. Namun itu semua tidak dasari dengan kemampuan keuangan. Sehingga akibatnya mereka mengambil jalan pintas untuk mendapatkannya, yaitu dengan menjadi gigolo.
    Ironinya adalah kini banyak anak SMA yang mulai tertarik menjadi gigolo, sangat disayangkan jika penerus bangsa seperti ini. Seharusnya para pemuda mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin dimasa depan kelak. Apa kita tidak malu dengan para pejuang dimasa kemerdekaan ? Ir. Soekarno, Moh. Hatta, BJ. Habiebie, dan Soeharto dapat memimpin Indonesia diusia muda, tetapi kenapa para pemuda dizaman sekarang tidak memiliki semangat yang tinggi untuk memimpin Indonesia ? . Sepertinya pergeseran nilai yang terjadi dikalangan pemuda sudah sangat parah dan kini terlihat mereka lebih membebankan kemajuan bangsa ditangan pemimpin yang sudah mulai tua renta.

    BalasHapus
  22. Khairun Nikmal Baiti
    4915144082
    P.IPS B 2014

    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Sungguh miris membaca realita ini. Kini mereka para golongan gigolo atau gay sudah tak mempunyai muka lagi. Sudah tak malu lagi. Berani terang-terangan membeberkan keberadaan mereka sebagai gigolo. Mereka juga nampaknya tak merasa bersalah. Saya juga pernah mendengar para golongan gay di stasiun, mereka berkata “sebenarnya kita adalah wanita yang terjebak di dalam tubuh lelaki”. Sungguh memprihatinkan.
    Mungkin banyak faktor juga yang membuat mereka ikut terjerumus ke dalam golongan gay tersebut. Misalnya, kurang kasih sayang orang tua, tuntutan ekonomi, atau pun ingin mencari jati diri mereka dengan bergaya berbeda dari yang lainnya. Tentu peran orang tua dan orang terdekat sangat berpengaruh.
    Namun kita tidak boleh hanya memandang mereka sebelah mata. Jiwa mereka sakit, ada kemungkinan untuk sembuh dan kembali ke kodrat mereka yang sebenarnya. Seharusnya pemerintah juga memperhatikan golongan gay. Mereka perlu direhabilitasi agar bisa menyadari kembali bahwa mereka adalah laki-laki. Kita sebagai orang yang sehat juga sebaiknya mengingatkan mereka, dan mendoakan semoga mereka sadar. Amin.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd