Selasa, 11 November 2014

HUJAN NOVEMBER

Hujan November datang lagi. Setelah kemarau panjang yang mengeringkan tenggorokan,sumur-sumur, dan waduk-waduk. Setelah gagal panen di mana-mana. Setelah harapan menguap jadi medung kemarahan. Setelah kesabaran berganti putus asa. Datang lagi hujan November.

Hujan yang datang lebih cepat di Aceh telah menimbulkan banjir yang sangat luas dan longsor di mana-mana. Beberapa daerah bersiap menghadapi datangnya bencana banjir. Di Jakarta, Ahok berani bilang Jakarta lebih siap menghadapi banjir tahun ini. Pemerintahan DKI Jakarta memang telah berusaha habis-habisan melakukan perbaikan kali sampai membongkar banyak bangunan liar yang membuat kali macet di berbagai tempat.

Tragis memang, setiap musim kini menjadi bencana. Kemarau panjang telah menghancurkan harapan para petani. Padi dan banyak tumbuhan produktif lain mati sebelum sempat dipanen. Kekeringan melanda banyak tempat sampai-sampai orang terpaksa meminun air yang hanya pantas dikonsumsi hewan.

Beragam penyakit muncul karena debu dan kotornya udara. Hutan dibakar dan asap jadi "monster" yang menteror manusia dalam kawasan yang sangat luas.

Kala musim hujan tiba, bencana yang lain menimpa. Banyak tempat yang tadinya aman, kini berantakan, luluh lantak diterjang banjir bandang yang mengerikan.

Setiap musim adalah bencana. Musim yang berbeda, membawa serta bencana yang tidak sama.

Mengapa jadi seperti ini? Padahal dulu tidak begini, atau tidak separah ini?

Barangkali, mungkin saja, karena kita mengembangkan budaya tisu. Kita sangat tergantung pada tisu. Untuk banyak sekali keperluan kita gunakan tisu. Penggunaannya sangat boros, sembarangan, sama sekali tidak hati-hati dan tidak hemat. Karena tisu memang mudah digunakan dan cepat habis.

Cermati jenis tisu. Sangat beragam. Tisu basah, tisu kering. Tisu halus, tisu kasar. Tisu wajah, tisu makan, tisu cebok. Entah tisu apalagi. Untuk memproduksi semuanya, hutan dirambah sampai jauh. Hutan jadi botak plontos.

Kala hutan botak, bumi retak. Lingkungan poranda porak, manusia luluh lantak.

Kita juga mempraktikkan "budaya tisu". Kita maunya gampang, praktis, dan instan. Mirip tisu. Kita sering seenaknya dan semena-mena.

"Budaya tisu" kita wujudkan dengan menggunakan plastik untuk segala keperluan. Mulai dari tas kresek plastik untuk belanja, sendal plastik, sampai plastik pembungkus mayat. Jadilah bumi kita sampah plastik. Sampai-sampai seniman suami istri Christo & Jeanne membuat karya seni spektakuler membungkus jembatan, gedung dan pulau dengan kain yang mengandung plastik, sebagai cara untuk mengingatkan manusia bahwa kita sudah dikepung oleh plastik.

Kita paham dampak buruk plastik bagi lingkungan. Meski sangat berguna dan praktis. Plastik menimbulkan sejumlah besar masalah lingkungan, termasuk pencemaran.

"Budaya tisu"  mendorong para petani menggunakan pupuk kimia secara berlebih-lebihan. Memang memberi hasil yang segera dan berlimpah. Tetapi sangat merusak lingkungan dalam jangka panjang. Kerusakan yang berantai. Tanah sungguh "diperkosa" dengan bahan kimia yang menghancurkan.

"Budaya tisu" membuat kita berlomba-lomba membangun pabrik untuk memenuhi berbagai keinginan  yang relatif tak terbatas. Keinginan yang pasti bukan merupakan kebutuhan kita.

Pabrik-pabrik itu melumpuri tanah, sungai, dan lautan dengan beragam racun kimia. Juga menebarkan berbagai virus ke udara terbuka. Mengubah awan menjadi kumpulan asam yang mencemari dedaunan dan tubuh mungil anak-anak kita yang bermain futsal di bawah hujan.

"Budaya tisu" memaksa kita membangun reaktor nuklir untuk memenuhi kebutuhan listrik yang juga banyak digunakan pada siang bolong untuk menyejukkan semua ruangan termasuk WC. Kita tak lagi betah dan tahan bekerja di ruang alami tanpa pendingin ruangan. Reaktor nuklir dan pendingin ruangan telah memberikan sumbangan sangat bermakna bagi pemanasan global yang membuat bumi tua kita jadi renta dan rentan.

"Budaya tisu" telah merangsang kita mengkreasi motor, mobil, jet canggih berkecepatan tinggi yang bukan saja menimbulkan bising yang mengacaukan gelombang otak. Juga menambah polusi dan derajat suhu yang terus meningkat pesat.

Bila es di kutub lebih cepat mencair, permukaan air laut terus meningkat, curah hujan tak lagi terkendali, topan badai lebih sering menyambangi. Cuaca jadi tak bisa diprediksi. Setiap musim adalah bencana. Salah siapa?

KEJAHATAN MANUSIA MENGHANCURKAN ALAM DAN MANUSIA.

18 komentar:

  1. Asyifa Laely
    P.IPS B 2014
    Manusia memang makhluk yang serakah, yang hanya mementingkan diri mereka sendiri tanpa memikirkan orang lain dan kehidupan yang akan datang. Memang tak semua manusia serakah tetapi pasti ada saja manusia-manusia yang memiliki sifat seperti ini.

    Salah satu keserakahan manusia yang sangat terlihat tentu pada alam. Yaitu dengan menebang pohon sembarangan, membuang sampah bukan pada tempatnya, dan menggunakan alat-alat yang dapat merusak alam seperti : AC, kulkas, dan lain sebagainya.

    Efek dari keserakahan yang mereka lakukan tentu tak langsung terasa. Tetapi akan ada masa dimana alam pun akan "memberontak". Bencana Alam seperti : Banjir, Tanah Longsor, dan kebakaran hutan yang semua ini awalnya karena ulah manusia sendiri pasti akan terjadi apabila manusia tidak mau menyadari dan tidak mau hidup berdampingan dengan alam.

    BalasHapus
  2. Miftahul Falah
    P.ips B

    Manusia diciptakan di muka bumi ini, tidak lain untuk menjadi kholifah. Artinya manusia sebagai pemimpin makhluk hidup yang ada di bumi ini, yaitu sebagai pemimpin dan pengelola di muka bumi ini. Jika manusia dapat memimpin dan mengelola bumi dengan baik, maka hasil bumi dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan begitu pula sebaliknya jika bumi ini dipimpin dan dikelola dengan sesuka hati, maka bumi yang tua ini akan semakin rapuh dan hancur sedikit demi sedikit. Semua itu tergantung pada kesadaran manusia itu sendiri.

    BalasHapus
  3. Annisaa Intan Safitri
    P.IPS A 2014
    4915141041
    Sungguh tragis memang entah apa yang dipikirkan orang jakarta jika hujan marah marah tidak hujan pun orang selalu mengeluh. Jika hujan orang kebanjiran jika panas orang jakarta kekeringan air bersih, setelah itu orang jakarta akan demo besar besaran menuntut kewajiban pemerintah jakarta pdahal itu semua juga salah individu masyarakat.

    Didaerah puncak juga jika terjadi hujan rawan sekali longsor. Itu juga salah manusia yang menebang asal pohon demi kebutuhan hidup yang tiada habisnya.

    Sebenarnya setiap manusia sadar bahwa bumi ini sudah renta tetapi kesadaran srtiap manusia tidak pernah disalurkan melalui tindakan. Mereka terlalu bergantung dengan alam bagai manusia primitif.

    BalasHapus
  4. Musim hujan datang, ada rasa senang saat musim hujan datang karena terasa dingin yang membuat tidur terasa lebih nyenyak. Ada rasa kesulitan juga saat musim hujan datang yaitu susah untuk berpergian apalagi untuk ke kampus. musim hujan datang masalah pun datang yaitu bencana banjir yang pasti terjadi setiap tahun. Tetapi, pemerintah selalu berusaha mencari solusi bagaimana cara untuk menangani banjir. Memang benar kita tidak bisa lepas dari "tisu" karena tisu sangat bayak fungsinya untuk segala kegiatan apapun. Memang lingkungan saat ini sudah tercemaran oleh bahan kimia atau polusi udara yang membuat kita terasa sudah tidak nyaman tinggal di negara sendiri.
    Sri Rahayu P.IPS A 2014

    BalasHapus
  5. Titis Pamulasari A.P
    P.IPS A 2014
    4915141035

    Karena manusia ingin serba instant,serba praktis,dan hemat waktu jadinya budaya tissu tersebut berkembang. Cuma karena manusia merasa “nyaman” dengan budaya tissue mereka tidak memikirkan kedepannya yang kita pikirkan ya sekarang bukan nanti,mungkin bila bencana itu terjadi tinggal salah-salahan antara satu dengan yang lain.Padahal kalau menurut saya,dari pada saling menyalahkan lebih baik sebelum terjadi hal buruk kita mulai intropeksi diri dari sekarang dan mulai berpikir untuk mencegah terjadinya bencana yang di timbulkan oleh manusia sendiri.

    BalasHapus
  6. Nama : Andayani
    Kelas : P.IPS B 2014
    No.reg : 4915144097

    Zaman semakin bertambah, perubahan semakin cepat sehingga membuat manusia semakin kreatif melakukan innovasi. Semua karya cipta yang dihasilkan manusia merupakan penemuan yang luar biasa dan sangat berguna bagi kehidupan di dunia. Namun perlu dilihat kembali bahan apa yang digunakan untuk membuat karya cipta tersebut. Daya kreatif manusia memaksa mereka untuk mengeskploitasi kekayaan alam lebih jauh . Seharusnya kekreatifan manusia membuat mereka dapat berfikir bagaimana menciptakan innovasi untuk memperbaiki dan menormalkan kembali keadaan alam, bukan sebaliknya.
    Alam kini mulai marah , mengerahkan semua kekuatannya untuk mendatangkan bencana atas semua yang dilakukan manusia. Banjir bandang karena penggundulan hutan, longsor akibat banjir dan penebangan daerah terjal yang seharusnya menjadi tempat presifitasi bagi air hujan . Lahan kritis dimanfaatkan untuk pendirian bangunan, bukan dimanfaatkan sebagai taman untuk mengurangi pencemaran udara atau penanaman pohon-pohon sebagai resapan air ketika hujan. Kreatif membuat manusia bertindak semaunya , bukan menyelesaikan masalah . Innovasi vertical garden hanya menyelesaikan sedikit dari sebagian besar masalah akibat pencemaran udara karena hanya segelintir orang yang menerapkannya. Manusia wajib berfikir kreatif dan melakukan innovasi tapi sebaiknya itu semua harus dilihat kembali sejauh mana alam mampu menyediakannya, dan yang terpenting dari sikap berfikir kreatif yang dimiliki manusia yaitu memikirkan kembali apa resiko yang akan terjadi terhadap innovasi yang mereka temukan.

    BalasHapus
  7. Tak ada henti-hentinya alam dirusak oleh penggunanya semdiri yaitu manusia. Manusia merupakan makhluk yang tak pernah ada puasnya. Padahal setiap hari manusia diberi kenikmatan yang tak henti oleh Tuhan seperti udara yang bisa kita hirup setiap waktunya. Kini, alam menjadi korban dari keserakahan manusia. Sedikit sekali kesadaran yang dimiliki manusia akan alam ini. Himbauan dari berbagai lembaga dan pemerintah untuk melestarikan lingkungan kini sudah tidak dihiraukan lagi oleh masyarakat. Zaman sekarang tak ada manusia yang ingin praktis, semua ingin dilakukan secara instan tanpa memikirkan akibatnya. Segala cara di halalkan oleh mereka tak peduli apa akibatnya di masa yang akan datang. Ketika alam telah rusak, manusia kini yang menjadi korban. Kemarau menimbulkan bencana begitupula musim hujan. Dunia ini bagaikan telah dikepung bencana akibat ulah manusia sendiri. Seharusnya kita lebih berfikir kedepan tentang barang-barang instan tersebut.
    Wafa Nurul Annisaa - Pendidikan IPS B 2014

    BalasHapus
  8. Fitri Rizka Maulia 4915141028
    P.IPS A 2014.
    Nampaknya sesuatu yang praktis memang terkadang memberi dampak yang kurang baik. Contoh saja mie instan, mie instan memberikan dampak yang kurang baik bagi tubuh bila di konsumsi secara terus menerus, karena banyak bahan-bahan yang kurang baik di dalamnya seperti pengawetnya. segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan memang tidak baik. Menebang pohon secara berlebihan untuk memproduksi tisu menyebabkan hutan menjadi gundul, menggunakan plastik secara berlebihan menimbulakan penimbunan sampah dan pencemaran, menggunakan listrik secara berlebihan juga meyumbangkan pemanasan global bagi bumi.Intinya perilaku manusia yang memanfaatkan potensi alam secara berlebih dapat merusak bumi, sehingga setiap musim yang datang memberikan efek negatif bagi kelangsungan hidup manusia.

    BalasHapus
  9. Achmad ramadhan 4915142806

    Saya setuju dengan tulisan bapak. Tulisan bapak sangat menarik karena menceritakan bagaimana keserakahan manusia dalam mengeksplor sumber daya secara berlebihan justru mengakibatkan bencana bagi manusia itu sendiri.

    Menurut pandangan saya, kita sebagai pewaris peradaban harus bisa menjaga kelestarian bumi Agar bumi juga dapat menjaga kita.

    BalasHapus
  10. Caroline Siagian
    4915142803

    Manusia masa kini sudah terlalu dimanja oleh teknologi. Kita sudah tidak mau melakukan proses yang rumit dalam hal apapun. Seakan-akan kita mau semua yang kita inginkan langsung muncul di depan mata kita, kita ingin semua yang serba cepat dan instan. Kita tidak pernah memikirkan hal apa yang terjadi jika kita terus-menerus berperilaku seperti ini?
    Manusia pada era saat ini sudah menjadi manusia yang rakus. Kita tidak pernah memikirkan nasib anak cucu kita nanti. Dengan adanya teknologi, kita semakin rakus untuk mengeruk sumber daya alam baik yang bisa diperbaharui maupun yang tidak. Jika kita terus-menerus berperilaku seperti ini, bagaimana nasib kita keesokan hari nanti?
    Pernahkah kita membayangkan bumi yang tua ini sudah tidak bisa melindungi kita dari panas matahari yang sangat membakar, dari hujan badai dan cuaca ekstrim lainnya? coba renungkan sebentar, bagaimana kita bisa hidup dengan lingungan yang sangat kacau tersebut?
    Jadi mulai saat ini berhentilah untuk terus-menerus "menyiksa" bumi kita dengan sikap dan perilaku instan kita. Terimakasih

    BalasHapus
  11. Anwar Nur Hidayat
    4915141050

    Memang perbuatan manusia sekarang sangat kacau, tidak dapat dikatakan lagi mungkin bahwa manusia adalah makhluk yang sempurn. karena pada kenyataannya manusia malah merusak alam lingkungan karena perbuatannya.
    segala perbuatan dilakukan demi kepuasan pribadinya tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi berikutnya. inilah mungkin yang dikatakan manusia menguasai IPTEK tanpa diimbangi IMTAK. kalau sudah begini memang tidak ada yang bisa disalahkan dan tidak ada yang akan mengaku salah. kita hanya tinggal menunggu dampak dari apa yang kita perbuat. berani berbuat berani pula bertanggung jawab.

    BalasHapus
  12. Kita memang mempunyai kekayaan alam yang sangat melimpah namun, kita juga harus menjaganya dengan baik. Dengan cara mengambil sesuai kebutuhan tidak berlebihan. Memang manusia memiliki sifat yang tidak pernah puas namun kita juga harus berfikir lebih realistis untuk kedepannya. Jika kekayaan alam kita ambil secara terus-menerus dampaknya akan sangat buruk terhadap lingkungannya. Kita juga harus bisa mencegah kerusakan lingkungan tersebut. Karena jika lingkungan rusak manusia juga yang akan terkena dampak kerugiannya.

    Eka Yuliyanti
    P.IPS B
    4915142817

    BalasHapus
  13. Nama : Dwi Putri Yulianti
    Kelas : P.IPS B 2014

    Setelah membaca tulisan bapak ini saya baru menyadari apa itu budaya tisu. Saya adalah salah satunya yang sering menggunakan tisu secara berlebihan. Tidak pernah tersadar bagaimana proses pembuatan dan dampaknya bagi lingkungan.
    Saya baru menyadari apa yang manusia lakukan saat ini. Kebutuhan manusia yang sering digunakan ternyata memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Manusia memang mau serba cepat, gampang dan praktis. manusia memang selalu sesuka hati dalam bertindak. Itulah yang saya dan mungkin orang-orang disekitar saya rasakan. Itulah manusia.
    Bencana semakin lama semakin tidak karuan. Inilah dampak yang tidak pernah disadari oleh manusia. Padahal merekalah yang membuat ketidak karuan itu. Seharusnya kita sebagai makhluk ciptaan tuhan harus bisa menjaga dan mencintai apa yang tuhan berikan kepada kita agar kita dapat bersyukur dengan adanya cobaan itu. HIDUP TIDAK AKAN INDAH BILA COBAAN BELUM MENGHAMPIRI

    BalasHapus
  14. Semuanya akan berbalik lagi kepada manusia. Manusia memang makhluk serakah, selalu diselimuti rasa ketidakpuasan. Mereka selalu berbuat apa yang menurut mereka itu akan memberikan keuntungan kepada dirinya sendiri tanpa memikirkan keadaan alam sekitarnya.

    Alam selalu memberikan apa yang manusia butuhkan tetapi manusia selalu mengambil diluar batas kebutuhannya. Apa yang mereka dapat adalah apa yang mereka perbuat kepada alam.

    Reza Priyantama
    P.IPS B 2014

    BalasHapus
  15. Assalamualaikum wr,wb, Pak Nusa

    Hidup ini seimbang, siapa yang menuai keuntungan pasti mendapatkan kerugiannya pula, sama hal nya dengan manusia dan alam. Kita mendapat banyak keuntungan dari alam, alam mengalami kerugian dan semua kerugian itu di timbal balikan kembali kepada manusia yang telah memberdayakannya semena - mena.

    Saya sependapat dengan semua kata dan penggalan pendapat bapak yang ada di dalam artkel ini. Semoga bisa menjadi bahan evaluasi untuk kita semua agar lebih peduli lingkungan, peduli alam.

    Wassalamualaikum wr,wb.

    Afda Fauziyah / P. IPS A 2014 / 4915142818

    BalasHapus
  16. Rovida Amalia Mazid
    P.IPS A 2014
    4915141032

    Dari tulisan bapa tersebut saya ingin mengkritik sedikit, dari judul dan isi tulisan bapa dari judulnya "hujan november" tetapi jika dilihat dari isinya kebanyakan menceritakan tentang kerusakan lingkungan dibumi, pencemaran lingkungan, juga globalisasi (global warming) jadi antara judul dan isinya mnurut saya tidak sinkron.

    BalasHapus
  17. Saat ini memang cuaca sedang tidak menentu, terkadang hujan, panas, bahkan hanya mendung-mendung saja namun hujan tidak turun. Dengan begitu, banyak wabah penyakit yang melanda terutama bagi anak-anak yang diakibatkan karena debu dan kotornya udara. Manusia memang senang sekali menggunakan bahan-bahan yang praktis dan instan seperti tisu dan plastik, seharusnya dari sampah-sampah itu bisa kita jadikan daur ulang, agar tidak terlalu menumpuk, dan bisa lebih dimanfaatkan oleh banyak orang. Kita terkadang tidak terlalu memikirkan dan peduli terhadap alam, dengan ketidak sadaran, kita sudah merusak alam yang seharusnya dijaga dan dilindungi.

    BalasHapus
  18. Segala sesuatu yang intsan memang lebih banyak dampak burukannya dibanding kebaikannya. Begitu pula dengan hidup manusia, yang instan pasti akan cepat punah. Liat saja realita disekeliling kita, artis yang muncul secara instan pasti akan lebih cepat lenyap dibanding dengan yang memulai karirnya dari nol. Mie instan pun cuma namanya saja yang instan, karena sebenarnya pun harus melalui proses masak tidak langsung matang begitu saja.
    Budaya tisu ini harusnya menjadi pelajaran bagi kita, apa gunanya teknologi zaman sekarang kalau manusianya masih bersikap seperti dizaman purba. Sungguh ironis memang kebutuhan manusia hingga harus mengeksplotasi alam yang sungguh kaya menjadi sangat miskin. Tidak salah bila setiap musim akan menjadi bencana bagi manusia itu sendiri.
    Hujan yang dulu membawa berkah kini malah membawa bencana banjir. Tidak ada yang bisa disalahkan karena sebenernya itu ulah manusia sendiri. Tidakkah manusia mau sedikit menginstropeksi diri dengan segala yang terjadi dimuka bumi merupakan dampak yang sebagian besar ulah manusia. Bisakah manusia meninggalkan egonya demi kepentingan dan kebaikkan bersama. Ya manusia memang sesukanya sendiri, dia yang merusak tapi dia juga tidak mau disalahkan

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd