Senin, 17 November 2014

KELILING JOGJA DENGAN BECAK DAYUNG

Gerimis gugur dari langit. Dedaunan tampak segar berkilauam dibasahi hujan. Sore remang di bawah awan hitam. Jalan Adisucipto yang menuju kota Jogja macet. Para pemotor bergerombol di jalanan yang sangat padat. Kepadatan ini mungkin berkaitan dengan malam minggu.

Ini adalah wilayah perbatasan antara Sleman dan Kota Jogja. Kata Pak Satpam hotel, kemacetan seperti ini sudah sangat biasa. Orang Jogja dah pada sugih, banyak yang punya motor dan mobil, papar Pak Satpam.

Aku manfaatkan sore gerimis ini untuk keliling Jogja dengan becak dayung. Kepada si pebecak aku minta menghindari jalan utama yang macet. Ia kemudian memilih jalan pemukiman yang lengang. Jalanan bersih dan tertata. Di pinggiran jalan ditanami macam-macam pohon bunga, di tanah dan di pot berwarna hitam. Di beberapa tempat, yang dijadikan pot adalah bekas ban mobil dicat warna-warni. Menariknya pada setiap belokan ada tanda arah jalan dan tulisan hati-hati. Semua gang kecil diberi nama lengkap dengan Rt/Rw dan nama desa. Masyarakat Jogja memang terbiasa tertib dan sangat menjaga kebersihan.

Aku berbincang dengan pebecak menanyakan berbagai hal. Ia menjelaskan yang sedang dilewati desa apa, kecamatan apa dan apa saja yang khas di tempat itu. Saat kutanyakan soal kebersihan jalanan, ia menjelaskan bahwa di pemukiman masyarakat yang menjaga kebersihan, bukan petugas. Orang Jogja suka kebersihan, katanya.

Di sepangjang jalan, pot-pot bunga rapi tertata. Tempat sampah tertutup dan bersih. Menariknya tak ada polisi tidur. Sama sekali beda dengan Jakarta dan Bekasi yang memenuhi jalan pemukiman dengan polisi tidur yang tinggi dan berjarak sangat dekat. Jogja memang istimewa. Orang Jogja merasa tidak perlu ngebut melewati pemukiman, karena itu penduduk tidak perlu membuat polisi tidur. Sepanjang jalan sampai Malioboro, tak bertemu satu pun polisi tidur di jalanan pemukiman.

Kami memasuki wilayah yang dipenuhi rumah kuno dari zaman Belanda. Kabanyakan rumah masih ditempati dan tertata rapi, setiap rumah dihiasi oleh pohon besar dan pohon-pohon bunga. Di antara rumah kuno yang asri, terdapat sejumlah rumah modern yang besar, megah dan mewah. Saat ditanya si pembecak menjelaskan, daerah ini namanya Banciro, dulu wong londo tinggal di sini, sekarang wong sugih mukim di sini.

Ada yang sangat khas di sini. Aroma bunga kenanga dan bunga tanjung sangat menyebar. Mungkin karena sore ini hujan, wanginya sungguh melumuri hidung. Sangat terasa suasana kampung. Aku jadi ingat emak dan masa kecilku. Dulu di sekitar rumah kami ditanami pohon kenanga dan tanjung. Pagi dan malam wanginya memenuhi udara. Terasa sangat menyenangkan. Karena itu aku masi menanam bunga kenanga, sebagai kenangan masa kecil yang indah.

Kami terus berjalan di jalan-jalan kecil pemukiman dan sampai pada bagian belakang Puro Pakualaman. Dari belakang tampak bangunan yang sangat panjang. Mas becak bercerita bahwa bangunan itu sampai sekaranh masih berfungsi seperti dulu. Ia kemudian bercerita bahwa orang Jogja sangat menghormati keluarga Sultan.

Meski tidak membeli, kami melintasi Wijilan, pusat penjualan gudeg Jogja. Semua gudeg yang terkenal ada di sini. Sepanjang jalan yang terbanyak adalah penjual gudeg. Meski jalannya kecil, tetapi sangat ramai. Aroma gudeg sangat terasa di antara hujan menderas. Aku tidak akrab dengan gudeg karena telaku manis. Beda dengan istriku yang berasal dari Nganjuk. Ia penggemar berat gudeg.

Kami memasuki wilayah Kraton dari arah belakang. Muncul di Alun-alun Selatan. Berkeliling. Masih menghindari jalan besar yang ramai. Kami tetap bertahan di jalan pemukiman yaitu Jalan Nogosari, Jalan Sidomukti, samping Kraton, Jalan Rotowijayan yang ramai dengan toko-toko kecil di pinggiran jalan. Banyak rumah batik dan butik-butik kecil. Pot-pot bunga yang teratur juga banyak di pinggiran jalan. Meski banyak rumah yang tergolong sederhana dan tua, namun kebersihannya sangat terjaga. Jadi sama sekali tidak terkesan kumuh. Memasuki Jalan Kauman muncul di Jalan KH Ahmad Dahlan, kami menuju keramaian Malioboro. Gerimis belum juga berhenti.

Keteraturan, kebersihan dan suasana hijau merupakan pemandangan dominan sepanjang jalan pemukiman. Tak  terlihat sampah bertumpuk atau berserakan. Tak ada pula coretan-coretan di tembok. Gang-gang kecil dihiasi gapura di depan jalan masuk.

Di sekitar Kraton kebanyakan rumah tergolong biasa. Bahkan dalam jumlah yang tidak sedikit merupakan rumah tua yang tergolong sederhana. Namun karena dijaga kebersihan rumah dan lingkungan serta ditata dengan baik, sama sekali tidak ada kesan kumuh. Ini adalah bukti bahwa sebuah kota bisa tetap tampak asri, dan indah meski dipenuhi rumah-rumah sederhana. Penataan dan kebersihan adalah kata kuncinya.

Ketika kembali ke hotel, kami sangaja menempuh jalanan ramai yang merupakan jalan-jalan utama. Pastilah suasana sangat berbeda. Jalanan sangat padat dn cenderung padat merayap. Motor merupakan kendaraan terbanyak.

Berbeda dengan kebanyakan pemotor di Jakarta dan Bekasi. Pemotor di Jogja tampak lebih tertib dan sabar. Tak terlihat ada yang menyerobot tiba-tiba dari arah kiri. Semua pemotor menggunakan helm. Di lampu merah tak ada pemotor yang melewati garis putih pembatas. Rasanya secara keseluruhan pengguna jalan di sini lebih tertib dibandingkan Jakarta dan Bekasi.

Di sebuah pertigaan yang agak ramai, tiba-tiba ada mobil bernomor polisi F, artinya bukan mobil Jogja, menerabas lampu merah. Kala kutanyakan, Mas Becak bercerita memang ada pendatang yang bersikap seperti itu, tidak tertib dan seenaknya.

Sepanjang jalan, kami tidak mendapat kesulitan, terutama di jalanan  padat yang dipenuhi kendaraan bermotor. Tampakanya becak memang diberi kemudahan oleh pengendara lain. Jogja memang istimewa.

Di sepanjang jalan ramai warung lesehan. Ada yang menjual jagung bakar dan beraneka ragam makanan. Tidak semua lesehan itu diberi penutup di atasnya. Banyak yang hanya menyediakan plastik untuk tempat duduk. Karena malam minggu, yang paling banyak menikmati lesehan adalah pasangan anak muda remaja. Bagi mereka pastilah malam minggu ini terasa indah, justru karena menikmati jagung bakar di lesehan pinggir jalan.

Meski kini Jogja semakin disesaki bangunan mal-mal dan pertokoan modern yang besar, mewah dan megah, kehidupan sederhana seperti yang tercemin pada lesehan pinggir jalan tetap menjamur. Jogja tampaknya tak hendak kehilangan corak aslinya sebagai kota bagi orang kecil dan sederhana.

JOGJA ISTIMEWA KARENA MEMBERI TEMPAT BAGI RAKYAT KECIL DAN INISITAIF MASYARAKAT.

20 komentar:

  1. Asyifa Laely
    P.IPS B 2014
    4915142821
    Meskipun saya belum pernah ke Jogja, tetapi dengan membaca beberapa tulisan bapak mengenai Jogja membuat saya dapat menggambarkan bagaimana Jogja sebenarnya. Seakan saya dibawa berkeliling Jogja melalui beberapa tulisan tersebut, salah satunya tulisan bapak yang satu ini.

    Karena gambaran yang bapak bangun dalam tulisan mengenai beberapa perjalanan yang telah bapak lakukan, seperti sebuah cerita dalam novel yang dapat membuat pembacanya berkhayal dan seakan masuk dalam cerita. khayalan itu dibentuk dari kata-kata dalam tulisan bapak yang spesifik.

    Kata-kata yang secara spesifik bapak gambarkan tersebut seperti kerapihan dan kebersihan Jogja. bagaimana pot-pot bunga di tata dengan baik, para pengguna jalan yang tertib, dan lain sebagainya. hal-hal ini yang membuat saya benar-benar dapat menggambarkan bagaimana Jogja yang sesungguhnya.

    BalasHapus
  2. Nama : Sandra Puspita Sari
    Kelas : P.IPS B 2014
    No.reg : 4915144094

    Assalamu’alaikum wr.wb,

    Jika di Jogja lebih tercermin kehidupan yang nyaman dan tertib, itu merupakan hal yang wajar. Karena masyarakat di Jogja memiliki kebiasaan yang positif. Tidak seperti di Jakarta, masyarakatnya mayoritas perilakunya tidak menunjukkan manusia yang memelihara lingkungan. Ketidaktertiban masyarakat di Jakarta sudah menjadi habit.
    Kebiasaan buruk masyarakat Jakarta salahsatunya yaitu membuang sampah sembarangan. Sebagaimana yang telah kita ketahui faktanya, sungai di wilayah Jakarta sudah penuh dengan sampah. Itu adalah penyebab terjadinya banjir. Selain itu Jakarta juga merupakan wilayah yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Sehingga banyak pemukiman kumuh dipinggiran sungai.
    Seharusnya pemerintah provinsi DKI Jakarta mencari solusi untuk menekan laju kepadatan penduduk yang terjadi. Namun, hingga saat ini belum ada solusi yang tepat untuk mengatasi hal itu. Jika Jakarta dibiarkan berada dalam kondisi demikian, maka semakin lama Jakarta akan kacau. Bahkan bisa dijuluki kota terburuk.
    Selain solusi dari pemerintah, dibutuhkan juga kesadaran masyarakat Jakarta dalam menjaga lingkungan. Jika keduanya tidak dapat bersinergi dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Jakarta akan menjadi kota yang semakin padat dan sumpek. Hal yang demikian tidak seharusnya terjadi jika kita sebagai manusia memiliki pemikiran yang maju. Dan tentunya juga bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.

    Wassalamu’alaikum wr.wb

    BalasHapus
  3. Nama : Sandra Puspita Sari
    Kelas : P.IPS B 2014
    No.reg : 4915144094

    Assalamu’alaikum wr.wb,

    Jika di Jogja lebih tercermin kehidupan yang nyaman dan tertib, itu merupakan hal yang wajar. Karena masyarakat di Jogja memiliki kebiasaan yang positif. Tidak seperti di Jakarta, masyarakatnya mayoritas perilakunya tidak menunjukkan manusia yang memelihara lingkungan. Ketidaktertiban masyarakat di Jakarta sudah menjadi habit.
    Kebiasaan buruk masyarakat Jakarta salahsatunya yaitu membuang sampah sembarangan. Sebagaimana yang telah kita ketahui faktanya, sungai di wilayah Jakarta sudah penuh dengan sampah. Itu adalah penyebab terjadinya banjir. Selain itu Jakarta juga merupakan wilayah yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Sehingga banyak pemukiman kumuh dipinggiran sungai.
    Seharusnya pemerintah provinsi DKI Jakarta mencari solusi untuk menekan laju kepadatan penduduk yang terjadi. Namun, hingga saat ini belum ada solusi yang tepat untuk mengatasi hal itu. Jika Jakarta dibiarkan berada dalam kondisi demikian, maka semakin lama Jakarta akan kacau. Bahkan bisa dijuluki kota terburuk.
    Selain solusi dari pemerintah, dibutuhkan juga kesadaran masyarakat Jakarta dalam menjaga lingkungan. Jika keduanya tidak dapat bersinergi dengan baik, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Jakarta akan menjadi kota yang semakin padat dan sumpek. Hal yang demikian tidak seharusnya terjadi jika kita sebagai manusia memiliki pemikiran yang maju. Dan tentunya juga bersyukur terhadap nikmat yang telah diberikan oleh Sang Pencipta.

    Wassalamu’alaikum wr.wb

    BalasHapus
  4. Assalamu’alaikum wr.wb
    Nama : Yuni Shofarani
    Kelas : Pendidikan IPS B
    Nomor Registrasi : 4915142798

    Jogja, itulah sebuah nama kota besar yang terdapat di pulau Jawa. Dari gambaran yang saya dapati dari tulisan bapak mengenai Jogja, saya selaku pembaca merasa terbawa dan dapat merasakan bagaimana indahnya suasana kota besar itu. Dimulai dari jalan yang bersih dan tertata, pot-pot bunga yang tertata rapi, tempat sampah tertutup dan bersih. Selain itu banyak terdapat tempat-tempat bersejarah di kota ini. Hali ini menjadi ciri khas tersendri dari kota Jogja.

    Jogja sangat berbeda dengan Jakarta yang kedudukannya sebagai ibukota Indonesia. Jika ditunjukkan dalam persentase perbedaan dari segi kebersihan dan ketertiban pasti sangat melunjak jauh. Warga Jogja terbiasa tertib dan sangat menjaga kebersihan, bahkan jalanan yang terdapat di Jogja jarang ditemukan polisi tidur. Berbeda dengan Jakarta yang terkenal dengan kemacetan, banjir diberbagai tempat, serta padatnya perumahan-perumahan. Jika Jakarta disetiap jalan jarang ditemukan polisi tidur, tidak terbayang akan seperti apa.

    Jakarta sebenarnya bisa seperti Jogja jika rakyat mempunyai sikap serta kesadaran yang tinggi. Dimulai dari hal kecil saja seperti tidak membuang sampah sembarangan, saling toleransi dalam berkendaraan pasti kota Jakarta menjadi kota yang akan lebih baik dan indah lagi. Jogja bisa istimewa seperti sekarang ini karena rakyat mempunyai inisiatif yang tinggi untuk konsisten dalam menjaga kebersihan serta keindahan kota Jogja sehingga timbul ciri khas tersendiri. KOTA YANG INDAH, KOTA YANG BERSIH, KITA JUGA YANG MERASAKANNYA. MAKA JAGALAH KOTA INI DENGAN PENUH RASA TANGGUNG JAWAB.

    Wassalamu’alaikum wr.wb

    BalasHapus
  5. Nama : Andayani
    Kelas : P.IPS B 2014
    No.reg : 4915144097

    Membaca artikel tersebut, saya sangat iri dengan penduduk Jogya. Kota yang sangat asri dan kental budaya, sangat sempurna untuk dijadikan tempat tinggal. Jogya adalah kota idaman yang diharapkan pemerintah bahkan Negara. Jogya masih menyimpan semua wirisan nilai-nilai budaya yang telah ada sejak zaman kerajaan. Mereka tidak hanya keutuhannya masyarakatnya, tetapi lingkungan juga menjaga keasrian dan kebersihannya.
    Seharusnya kota-kota besar lainnya bisa seperti Jogya dan jika perlu koja Jogya dijadikan contoh kota idaman yang patut untuk dicontoh dalam pembangunan tata ruang kota yang baik dan benar. Kita tau bahwa setiap tahunnya Jogya mengalami pertambahan penduduk, namun itu semua tidak menjadikan kota Jogya menjadi kota yang sangat sesak dan padat seperti daerah kumuh di Jakarta. Mereka sangat bekerja sama menjaga kebersihana dan kenaturalan kotanya. Persepsi saat ini saya adalah , bisa jadi semua masyarakat jogya berasumsi semua yang berkembanga saat ini maka biarkanlah berkembang tetapi jangan sampai mengusik serta megganggu apa yang sudah dibangun dan dipertahankan dalam masyarakat Yogya.
    Kita sebagai warga Jakarta seharusnya malu kepada kota Jogya. Mungkin Jakarta memang merupakan pusat ekonomi di Indonesia tetapi sebagai ibu kota Negara, Jakarta belum mampu menjadi contoh bagi kota-kota lain dalam menjaga lingkungan yang asri dan damai. Padahal semua kebijakan yang ada sudah sangat mendukung dalam upaya menciptakan lingkungan tersebut, tetapi kurangnya partisipasi warga yang membuat impian tersebut tidak terwujud.

    BalasHapus
  6. Siapa yang tidak tahu Jakarta? Kota yang selalu padat merayap. Apalagi kalau pagi di Jakarta bagian timur seperti Cakung dan Pulo Gadung kalau pagi para pengendara bermotor nekat menerobos pembatas jalan yang ada di pinggiran. Mereka berani salip sana-sini demi sampai ke tujuan dengan cepat namun tidak tepat.

    Selain itu, Bekasi. Bekasi juga sama pagi-pagi sudah macet kendaraan. Padahal baru saja saya keluar perumahan di depan sudah macet. Selama beberapa tahun saya tinggal di Bekasi. Baru tiga tahun belakangan ini depan perumahan Alinda macet. Di buat macet lagi oleh angkutan umum yang ngetem sembarangan dan mengendarai mobilnya ugal-ugal serasa jalanan punya nenek moyangnya. Memang kota Jakarta dan Bekasi para pemakai kendaraan kedua kota tersebut sulit sekali di tertibkan.

    Bila di bandingkan dengan Jogja memang Jakarta dan Bekasi pasti kalah dalam segi ketertiban lalu lintas. Di Jogja, memang orang-orangnya mengerti tatakrama lalu lintas jadi aman-aman saja ketika berkendara. Di Jogja juga kalau macet tidak separah di Jakarta dan Bekasi. Tapi, kalau warga Jakarta dan Bekasi pada pindah ke Jogja bisa semrawut kota Jogja itu.

    Semoga warga Jakarta dan Bekasi bisa meniru tata krama lalu lintas orang Jogja. Biar aman dan nyaman jika berkendara. Di sini juga perlu kerja sama antara polisi lalu lintas dan para pengguna kendaraan biar sama-sama enak bila berkendara.

    BalasHapus
  7. nama : taufik hidayatulloh
    kelas : P.IPS
    NIM : 4915145638


    Jogja, atau Yogya, atau Yogyakarta, atau Daerah Istimewa Yogyakarta, atau Ngayogyakarta Hadiningrat, adalah sebuah kota yang saya yakin hampir semua orang Indonesia tahu tentang tentang kota ini. Kota dimana biasanya orang menyebutnya dengan “Indonesia kecil” karena penduduknya berasal hampir dari seluruh Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Juga disebut kota pendidikan karena banyaknya kampus-kampus yang berdiri megah di kota gudeg itu. Kota budaya karena inilah salah satu kota yang tetap menjaga tradisi dan budaya Jawa dimana keraton sebagai penopang utama kebudayaan itu. Dan juga julukan lainnya untuk kota yang istimewa itu

    Sepanjang pengetahuan saya, beberapa teman saya merasakan ada kebanggaan tersendiri ketika berkunjung ke kota Jogja. Saya tak tahu mengapa, tapi saya yakin semuanya akan sepakat jika saya mengatakan Jogja memang istimewa.

    Beberapa waktu lalu, kembali saya mengunjungi kota yang sampai saat ini masih nyantol di mimpi saya karena saya ingin sekali mencicipi bagaimana rasanya bermukin di kota itu barang satu tahun atau dua tahun. Tempat yang biasa saya tuju tentu indekos teman saya yang berada di jalan Kaliurang bagian atas. Tujuan saya mengunjungi Jogja kemarin tak begitu penting untuk dibagi di sini, tapi masya Allah, kemajuan Jogja begitu terasa. Bagaimana tidak, selain beberapa jalan layang yang baru saya jumpai, juga banyaknya apartemen-apartemen yang menjulang tinggi di beberapa ruas jalan.

    Entah mengapa, bukannya senang malah saya sedih melihat banyaknya apartemen yang mulai memadati sendi-sendi kota Jogja. Mungkin ini bagus untuk perekonomiannya, tapi saya lebih melihatnya dari sisi komposisi masyarakat yang ada. Kota Jogja sebagai kota budaya seakan terancam eksistensinya secara perlahan walaupun saya sadar analisis saya mungkin terlalu berlebihan.

    BalasHapus
  8. Annisaa Intan S
    P.Ips A 2014
    4915141041
    Jogja memang sangat asri dan tertata dengan baik. Orang jogja juga sangat ramah dengan turis lokal. Gudegnya sangat enak dan berbagai makanan khas jogja lainnya yang dominan manis. Kemacetan dijogja tidak separah dijakarta.

    Teringat saat saya kejogja, pebecak juga pernah bercerita bahwa dijogja tidak boleh ada bangunan yang melebihi tinggi monas. Bisa dilihat sampai saat ini bangunan dijogja maksimal hanya 5lantai. Selain itu jogja sangat bersih dari sampah, trotoar-trotoar dipinggir jalan juga bebas dari sampah.

    Selai itu yang unik dari jogja adalag nasi kucing. Saat saya kejogja saat itu nasi kucing hanya seharga 1500 per bungkus dengan lauk terpisah. Orang jogja bilang nasi kucing biasanya dimakang oleh tukang-tukang becak yang nongkrong dimalam hari.

    BalasHapus
  9. Khilva Aini Humaedi
    P.IPS B 2014
    4915142822
    Jika kita membahas tentang Daerah Istimewa Yogyakarta tentu kita pasti ingat tentang tempat-tempat wisata yang menjadi sasaran banyak orang. Selain itu Yogya juga dikenal dengan keunikan dan keragaman kerajinan nya. Para penduduknya pun dikenal ramah, tertib dan juga masih memegang teguh adat istiadatnya.
    Keramahan dan ketertiban para penduduknya membuat banyak orang ingin pergi kesana. Kepedulian kebersihan para penduduknya pun menjadikan Yogya menjadi tempat yang diminati. Berbeda dengan Jakarta yang penduduknya masih kurang memperdulikan kebersihan lingkungan. Penduduk Jakarta pun masih belum tertib dalam lalu lintas. Hal seperti ini merupakan perbedaan yang nyata antara Yogyakarta dan Jakarta.
    Seharusnya kita bisa mencontoh penduduk Yogya yang selalu perduli terhadap lingkungan. Kita harus sadar bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. Kita harus bisa menjaga lingkungan , karena menjaga dan menciptakan kebersihan itu merupakan kewajiban kita bersama.

    BalasHapus
  10. Jogja memang Kota Istimewa. Yang membuat Jogja istimewa yaitu masih mempertahan adat-adat, kebudayaan seperti yang bisa kita lihat sekarang. Di Jogja juga tempatnya asri, masih kental suasana tradisionalnya walaupun sekarang sudah mulai berkurang.

    Masyarakat Jogja sangat menghargai peraturan-peraturan yang ada sehingga Jogja terlihat rapih. Saya pernah menginap di Jogja beberapa hari, saat di Jogja pukul 18.00 sampai 19.30 adalah waktu para pelajar belajar. Jadi jalan masuk-keluar gang ditutup. Saat malam hari akan masuk gang juga tidak boleh menyalakan motor, jadi motor harus mati dan harus di dorong sampai rumah. Masyarakat Jogja sangat patuh terhadap peraturan. Hal itu salah satu yang membuat Jogja rapih.

    Malioboro seperti pusatnya Jogja. Banyak sekali warung-warung lesehan, saya biasanya memesan "sega angkring" dan "wedang jahe susu". Saat malam hari kumpul bareng teman-teman, ngobrol dan makan di warung lesehan merupakan kewajiban bagi masyarakatluarJogja yang sedang berada di Jogja. Masyarakat yang ramah juga membuat Jogja lebih hangat.
    Walaupun sekarang Jogja sudah dipenuhi mal-mal dan padat bangunan semoga kebudayan yang ada jangan sampai hilang. Karena kebudayaan sendiri adalah warisan yang harus dilestarikan.

    EKA PUJI HARYANI
    P. IPS B 2014
    4915142823

    BalasHapus
  11. Nabila Chairina
    4915141046
    Pendidikan IPS A 2014

    Jogjakarta...adalah salah satu kota yang menarik di Indonesia.Kota yang sering di sebut orang dengan sebutan“Kota Pelajar” .Ada juga yang orang yang mengenal kota ini dengan masakan “Gudeg” nya.Kota Jogja juga dikenal sebagai tempat berkumpulnya para seniman
    Jogjakarta juga memiliki keunggulan dengan kota-kota lain. Disaat kota-kota di Indonesia sudah mulai luntur dengan budaya tradisionalnya,tetapi di jogjakarta tidak !! unsur-unsur tradisional meraka masih mereka jaga sampai saat ini. Bisa kita lihat di sepanjang pinggiran jalan jogja masih bisa kita lihat rumah-rumah tradisional.Walaupu sudah rumah-rumah disana sudah tua tetapi kebersihannya masih tetap terjaga
    Penataan kota jogja seharusnya di tiru oleh kota-kota lain,seperti di Jakarta.Memang tidak semudah itu membuat kota jakarta semirip dengan kota jogja.Tetapi kita bisa melakukan dari hal yang terkecil seperti penanaman pohon di sekitar pinggir jalan,dengan adanya pohon-pohon tersebut bisa mengurangi pencemaran polusi udara dan juga tata kota jakarta sedikit demi sedikit berangsur membaik.

    BalasHapus
  12. Dian Halimatussa'diyah
    P.IPS B 2014
    4915144108
    Penduduk di Jogja memang sangat mematuhi peraturan yang berlaku, seperti membuang sampah pda tempatnya, memtuhi lampu lalu lintas dan sebagainya. Disini juga kita masih bisa menemukan rumah-rumah tua yang sederhana. Walaupun sudah tua namun tampak tetap asri, dan indah, disebabkan karena penduduk yaang sangat menjaga akan kebersihan.
    Penduduk Jogja sangat sabar, disaat jalanan itu padat, mereka tidak menyerobot tiba-tiba melainkan menunggu dan sabar. Selain itu penduduk Jogaja sangatlah sederana, seperti para remaja yang bermalam minggu tak perlu menghabiskan banyak uang. Mereka cukup bermalam minggu dengan menikmati jagung bakar dilesehan pinggir jalan.
    Jogja memang kota yang sangat indah, asri, teratur, bersih. Penduduk dikota ini sangat jauh berbeda dengan penduduk di Jakarta yang semauya mereka, yang menyebabkan jakarta macet, kotor, kumuh, sampah dimana-mana, dan sebagainya.

    BalasHapus
  13. Tulisan bapak mengingatkan saya pada kampung halaman saya. Jogja memang terkenal istimewa dari berbai aspek. Mulai dari adat istiadat, kebersihan, keteraturan dan penduduknya yang masih tradisional. Beda halnya di Jakarta, Jogja sangat mengedepankan kesopanan sebagai adat istiadatnya.

    Jogja juga sangat menjaga kebersihan di lingkungan. Di kampung saya Kabupaten Sleman, Godean pagi-pagi sekali ibu-ibu sudah membersihkan rumahnya masing-masing. Tak ada petugas kebersihan. Ini lah Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Mereka para pendatang kebanyakan kalangan pelajar dari wilayah Jabodetabek yang membawa kebiasaan buruk di kota Jogja. Banyak dari mereka yang kini meresahkan warga. Mulai dari cara berpakaian, cara berbicara, prilaku serta kedisiplinan yang rendah. Sebagai Daerah yang diakui istimewa ini, seharusnya para pendatang bisa lebih menyesuaikan diri untuk menjaga kebersihan, ketertiban dan adat istiadat mereka.

    Wafa Nurul Annisaa - P. IPS B 2014

    BalasHapus
  14. Nama : Atikah Bahirah
    Kelas : P.IPS B/2014

    Keliling Jogja dengan Becak Dayung
    Dapat saya lihat dari tulisan yang Bapak buat, betapa Jogja memang tepat dijadikan sebagai daerah istimewa. Dari teraturnya masyarakat di setiap desanya dan daerah sekitar Kraton yang memang sangat dijaga. Suatu kenyamanan tersendiri bila dapat berkeliling Jogja dengan sebuah becak karena selain diberi kemudahan sehingga terlepas dari kemacetan tetapi juga dapat disaksikan langsung kenyamanan yang ada di Jogja.
    Jauh sekali keadaan Jogja jika dibandingkan dengan Jakarta di mana Jakarta sudah menjadi daerah metropolitan dengan jumlah penduduk yang banyak dan kendaraan-kendaraan pribadi yang selalu memenuhi jalan raya kota Jakarta. Jika mengharapkan kota Jakarta suatu saat dapat seperti Jogja rasanya masih jauh sekali mengingat keadaan kota Jakarta yang sudah seperti ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ilham mahardhika Wibowo
      p.ips b 2014

      jogja, kota istimewa. kota penuh seni dan budaya-budaya yang di hormati oleh para penduduknya. disana memang banyak sekali tempat wisata-wisata yang penting dan harus kita kunjungi. yang pertama adalah malioboro. siapa yang tidak mengenal kata malioboro. tempat yang pasti dikunjungi orang lokal maupun luar negri. yang mendominasi disana rata-rata adalah para turis. ada yang berjualan baju,gelang,sendal unik, dan lain-lain.
      yang kedua adalah benteng vandebrogh. disana adalah benteng benkas belanda saat peperangan pada masa tahun silam. didalam benteng tersebut ada sebuah museum bekas tentara-tentara belanda, bukan hanya museum disana. ada sebuah cave yang indah disana. tetapi yang sangat tidak mengenakkan di cave ini masalah harga, yaa tau lah namnaya cave gak ada yang murah.
      ya mungkin masih bnyak sekali tempat-tempat yang penting dan harus dikunjungi di kota istimewa ini, dan kita sebagai warga lokal, warga indonesia. harus menjaga kelestarian kota jogaja ini.

      Hapus
  15. Benar Jogja sangat istimewa. Terlihat dari masyarakat yang ramah dan lingkungannya yang bersih nan indah. Seperti yang telah Bapak deskripsikan bahwa pengguna jalan sangat tertib kecuali pendatang yang sangat asing dengan ketertiban.
    Masyarakat Jogja selain tertib dan ramah, mereka juga sangat mementingkan pendidikan. Pada waktu saya berkunjung dengan teman saya ke malioboro ada seorang Bapak yang sudah cukup tua memikul dagangannya yang berisi cobek dengan ulekannya. Teman saya bertanya tentang keluarganya, apakah pendapatannya cukup untuk hidup di Jogja. Penjual cobek itu menjawab dengan tenang dan sambil tersenyum "Jangankan untuk makan sehari-hari, untuk memberi ongkos anakku kuliah saja bisa, asal adik tahu bahwa anak saya yang pertama smester 5 di UGM dan yang ke-2 smester 1 di UNY". Saya cukup terdiam dan tersenyum dalam hati mendengar jawaban dari seorang Bapak penjual cobek itu.
    Jogja memang pantas diberi predikat sebagai daerah istimewa. Budaya yang masih melekat pada masyarakatnya. Suasana di sana sangat aman, tenang, dan santai. Sampai-sampai aku hampir tidak mau kembali lagi ke Jakarta karena aku sudah merasa nyaman di sana. (Zikri S.R- P.IPS B 2014)

    BalasHapus
  16. Nama : Ade Nur Hasanah
    Jurusan : P.IPS B 2014
    No Registrasi : 4915142814
    Keliling Jogja dengan becak dayung
    Tulisan bapak sangat menggambarkan kota Yogyakarta secara detail dan terperinci dalam sebuah karangan deskripsi. Saya merasakan seolah ikut dan terlibat didalam tulisan ini secara tidak langsung saya bisa melihat keadaan di Yogyakarta tanpa perlu lansung ke sana. Yogyakarta seakan kota yang sempurna untuk ditinggali dan dalam tulisan ini kota tersebut seakan mengedepankan nilai-nilai leluhur Indonesia yang telah diturunkan secara turun temurun yang sudah mulai hilang dirasakan diberbagai daerah Indonesia.
    Namun menurut saya wajar jika Yogyakarta masih memiliki nilai-nilai santun yang mereka praktikan dalam kehidupan karena dilihat dari sikap kesukuannya mereka merupakan suku jawa yang halus tanpa saya membandingkan dengan suku lainnya. Dalam adat Jawa kesopanan, kepatuhan, dan semua yang berhubungan dengan perilaku dijunjung sangat tinggi dari sejak kecil sehingga tidak heran jika masyarakat Yogyakarta memiliki atau mengilhami sikap tersebut. Sehingga dengan demikian dalam berkendara tak perlu banyak polisi tidur untuk memperingatkan dalam berkendara juga mereka pasti patuh terhadap aturan yang ada karena sikap yang mereka dapati secara turun temurun. Yogyakarta juga lebih asri. Dengan banyak tanaman karena disana mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani dan berkebun sehingga mereka banyak menanam pohon dirumahnya yang mungkin dipengaruhi oleh pekerjaannya.
    Jika bapak bandingkan dengan Jakarta dan Bekasi pastilah sangat berbeda karena didaerah tersebut memiliki kehidupan yang sangat lebih multikultural dan lebih padat penduduknya jika dibandingkan dengan Yogyakarta sehingga kehidupannya pasti lebih tidak teratur. Selain itu dalam kehidupan di Jakarta dan Bekasi dituntut untuk hidup cepat karena mayoritas pekerjaannya dibidang bisnis dan industri yang berbeda pola kerja dengan petani jadi di Jakarta dan Bekasi pasti banyak pelanggaran dalam berlalu lintas dan wajar banyak polisi tidur untuk menghindari kecelakaan yang tidak di inginkan. Inilah yang menjadi perbedaan dalam pola hidup Yogyakarta, Jakarta dan Bekasi menurut saya.

    BalasHapus
  17. Iqbal zulma
    pips A 2014
    nim:4915141038

    ketika blog bapak menulis tema pergi ke jogja saya jadi ingin kesana lagi pak. Memang betul orang jogja itu baik baik pak cara bicaranya yang halus dan sopan.

    Berbeda dengan dijakarta dan bekasi orang sudah bercampur kebudayaan sehingga menjadi kasar,individualis,menang sendiri.
    Waktu saya ke jogja saya pernah diceritakan tukang becak orang jogja itu sopan santunnya sangat dijunjung tinggi bahasanya pelan,halus. Orang jogja yang kasar biasanya mereka menikah dengan orang luar jogja sehingga sifat -sifatnya terbawa.

    Berbeda dengan jakarta ketika saya melewati salah satu gang daerah jakarta ketika saya bilang "permisi" saya dicuekin sehingga saya jengkel.

    Menurut saya orang jogja itu sama kayak orang batak,padang sama - sama memegang teguh adatnya masing - masing kebudayaannya masih kental. Dan menurut saya mungkin di jogja tidak kenal dengan kata "cabe-cabean" yang sedang "ngetrend" di jakarta dan bekasi

    BalasHapus
  18. Salwa salsabila p.ips B no reg 4915144083
    Jogjakarta adalah daerah Istimewa, kenapa dibilang istimewa? Karena daerah jogja itu terkenal dengan yang namanya ketertiban, ketertiban apapun contohnya seperti lalulintas, buang sampah pada tempatnya dan masih banyak lagi.
    Jogjakarta juga banyak wisata-wisata sejarahnya seperti prambanan dan malioboro. Dari tempat wisata yang ada sejarahnya itu sangatlah bermanfaat banget bagi para pendatang. Karna dari adanya sejarah kita jalan-jalan sambil melihat sejarhnya jadi yang tadinya tidak tau sejarah itu maka jadi tau.
    Kebanyak orang lebih senang ke jogja karna dijogja adem sejuk dan istimewa bangetlah pokoknya. Dan juga banyak banget sejarah-sejarah yang ada di daerah jogjakarta istimewa. Trimakasih

    BalasHapus
  19. Rizky Marlina
    4915141034
    P.IPS A 2014
    Tulisannya sangat menarik sekali, menceritakan kota jogja yang sangat bagus dan menarik untuk dikunjungi. Walaupun saya bukan orang jogja, jadi saya tidak begitu paham tentang tempat-tempat tersebut dan itu membuat saya penasaran ingin mengunjungi dan melihat langsung kota jogja yang diceritakan tersebut.
    Memang kota jogja terkenal dengan gudegnya. Bukan hanya itu saja tetapi jogja terkenal dengan malioboro&candi. Itu sih menurut saya, entah menurut orang lain. Yang lebih menarik itu ialah tertibnya orang jogja dalam berkendara dan tertib lalu lintas. Jarang orang Jakarta seperti itu malah mungkin tidak ada. Di gang kecil saja orang Jakarta kebanyakan ngebut padahal itu gang kecil apalagi jalan yang besar. Lalu tidak tertib lalu lintasnya. Sering menerobos lampu merah. Berbeda dengan orang disana.
    Dikampung saya yaitu di Prembun juga seperti itu. Orang sana berhenti saat lampu merah tidak menerobosnya dan juga tidak melewati garis putih yang sudah ditentukan. Lalu mereka walaupun pergi dekat juga memakai helm. Pokoknya disana masyarakatnya lebih tertib dibandingkan di Jakarta yang merupakan kota metropolitan.

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd