Damai. Kata berita, dua koalisi yang berseteru di DPR sudah berdamai. Baguslah. Paling tidak, jika berdamai tidak membuat rakyat makin membenci mereka. Karena apa pun alasan perseteruan itu, rakyat hanya akan bertambah tidak suka pada mereka. Meskipun kedua koalisi itu mengatasnamakan rakyat, rakyat lebih tahu dan paham, siapa yang sungguh-sungguh membela kepentingan rakyat, dan siapa yang cuma mengatasnamakan rakyat.
Tampaknya para politisi kurang belajar dari hasil-hasil pemilu. Sebagian besar rakyat ternyata hanya memilih partai dan politisi yang terbukti bekerja untuk rakyat. Memang masih ada rakyat fanatik yang kurang menggunakan ketajaman otaknya untuk memilih. Mereka adalah orang yang memilih karena dimanipulasi dengan kekuatan uang, kekuasaan dan agama.
Orang-orang dengan tipe ini memang tidak peduli dengan realitas, dan bukti-bukti yang kurang elok dari partai politik dan politisi yang dipilihnya. Mereka mirip suporter sepak bola yang cuma mengandalkan fanatisme. Sebagian hanya melihat seberapa besar mereka dapatkan bayaran.
Namun, seiring dengan semakin meningkatnya pendidikan rakyat, maka jumlah rakyat yang cerdas, kritis dan hati-hati dalam memilih semakin banyak. Pastilah mereka ini tidak bisa lagi dibohongi dengan pencitraan yang selama ini dijadikan alat oleh politisi, partai politik dan penguasa untuk lakukan tipu-tipu.
Apa yang dialami oleh Partai Demokrat semestinya menjadi pelajaran sangat berharga bagi semua partai politik dan politisi. Pada pileg dan pilpres sebelumnya, Partai Demokrat menang gilang gemilang. Saat pilpres, mereka mendapat suara lebih dari 60 persen. Namun, dalam pemilu 2014 mereka kalah telak sampai tidak berani mengajukan calon presiden. Rakyat menghukum mereka dengan tidak lagi memilihnya sehebat dan sebanyak dulu.
Kita semua tahu apa penyebabnya. Banyak kader utama dan andalannya terjerat kasus korupsi, dan kinerja presiden yang berasal dari partainya tidak seperti yang dijanjikan dan diharapkan. Sudah seharusnya bila rakyat menghukumnya dengan tidak lagi memilih mereka sebagaimana pemilu 2009.
Itu artinya, semua pencitraan dan pengatasnamaan rakyat yang mereka tunjukgunakan selama lima tahun gagal menarik simpati rakyat.
Golkar dan PDIP serta Megawati juga pernah mengalaminya. Golkar malah berulang kali mengalaminya. PDIP dan Megawati mengalaminya justru saat berkuasa.
Oleh karena itu, koalisi oposisi dan pendukung pemerintah, juga pemerintahan Jokowi-JK tidak usah berlomba melakukan pencitraan untuk menarik simpati rakyat dengan bertingkah polah aneh-aneh seolah-olah paling peduli pada kepentingan rakyat. Tunjukkan keberpihakan pada rakyat dengan kerja nyata. Bukan dengan sekadar membuat pernyataan seolah-olah kritis dan paling bener sendiri.
Rakyak tidak menilai dari satu dua kejadian yang melibatkan para politisi. Namun melihat keseluruhannya dalam jangka panjang. Dengan cara itu akan terlihat siapa dan partai mana yang konsisten membela kepentingan rakyat, dan mana yang hanya mengatasnamakan rakyat.
Politisi yang sangat kritis jika kepentingannya terganggu, yang bisanya cuma menilai secara negatif, dan tidak konsisten, juga sangat transparan terlihat dalam perjalanan waktu. Politisi yang hanya membela partai dan pemimpinnya meski dengan menjungkirbalikkan nalar, pun sangat jelas terpapar di hadapan rakyat.
Oleh karena itu, bila sungguh-sungguh membela rakyat, jangan hanya berkompetisi membangun citra dan bersikap kritis secara membabi buta. Berkompetisilah secara cerdas, santun, dan bermakna.
Tidak asal kritis, asal jeplak dan cuma mengecam sana-sini. Terus menerus menyalahkan orang, padahal diri sendiri juga disesakpadati kesalahan dan kepentingan pribadi dan kelompok.
Rakyat sangat berharap, para pemimpin di pemerintahan dan di parlemen menunjukkan kematangan berpolitik, dan bisa menjadi teladan yang baik. Minimal bisa menjaga perkataan dan sikap. Tidak menunjukkan sikap preman jalanan sebagaimana yang sering kita tonton di televisi. Karena,
PARA PEMIMPIN ADALAH TELADAN BAGI RAKYAT.
Nama : Andayani
BalasHapusKelas : P.IPS B
No.reg : 5915144097
Dalam artikel tersebut memang benar, sering kali politisi tidak berfikir kembali ketika berbicara. Mereka bersikap kritis terhadap politisi lain atas tindakannya, padahal ia juga pernah melakukan hal yang sama. Memang jika pada dasarnya kritik tersebut ditunjukkan untuk membela rakyat tetapi kritik tersebut didasari rasa emosi dan malah membuat rakyat beralih pandangan bahwa politisi yang sedang membela rakyatlah yang harus dikritisi karena tindakannya yang berlebihan.
Seorang politisi harus sangat menjaga sikap dan kewibawaannya karena rakyat sangat mengharapkan pemimpin yang dapat dijadikan contoh teladan dan tidak cacat hukum . Memang tidak mungkin memiliki pemimpin yang sempurna, namun rakyat mengharapkan pemimpin yang normal. Normal dalam konteks ini yaitu bertindak wajar dan tidak berlebihan dalam mengkritisi pihak yang salah dan mengeluarkan kebijakan atas kesewenangan pemimpin itu sendiri , tetapi juga memalui proses persetujuan rakyat. Rakyat sangat rentan dilanda krisis kepercayaan , jika ada seorang pemimpin membuat kesalahan yang tidak disengaja maka rakyat tidak akan menaruh kepercayaan kepada pemimpin tersebut. Jikapun masih ada, tapi tingkat kepercayaannya berkurang. Kepercayaan rakyat itu seperti cermin yang jatuh , bisa dirangkai kembali pecahannya namun tidak akan bisa untuh seperti semula.
Nama Ade Nur Hasanah
BalasHapusJurusan P.IPS.B 2014
No Registrasi 4915142814
Saya setuju dengan tulisan bapak. Bahwa para pemimpin adalah teladan rakyatnya. Jadi sesuaikanlah sikap dan perkataan dalam menjalankan tugas. Kalian kami percaya sebagai para pemimpin yang benar-benar mengetahui tentang politik. Bertindaklah sesuai dengan politik kita. Sesuai dengan pemahaman kalian para pemimpin yang mengerti politik. Perbaiki lah yang memang kurang. Buat Indonesia ini maju. bukan memperkaya diri sendiri dengan dalil untuk rakyat.ALLOH SWT melihat apa yang kalian lakukan pada kami.
Terimakasih..
Saya setuju dengan artikel bapak,damai itu indah itulah slogan yang selalu saya lihat. Memang seharusnya politisi harus bersikap seperti itu,tunjukkan kalau mereka adalah contoh yang baik untuk rakyat. Mereka memiliki eksistensi yang menurut saya setiap saat menjadi sorotan publik,mereka juga berasal dari rakyat dan harusnya mereka tahu bagaimana rasanya menjadi rakyat. Mereka adalah harapan rakyat yang dapat membuat perubahan pada negeri ini,politisi adalah hal yang selalu diharapkan dan juga selalu disemogakan oleh rakyat. Semoga dengan damainya para politik,negeri ini juga dapat damai dan tidak ada masalah yang terjadi di negeri ini. Terima Kasih ( Mega Sukmawati P.IPS A 2014 4915141022 )
BalasHapusDPR adalah dewan perwakilan rakyat. DPR seharusnya bekerja sepenuh hati untuk mewakili suara rakyat, bukan kepentingan partai atau golongan tertentu.
BalasHapusAkhir-akhir ini ramai di bicarakan tentang perseteruan di DPR antara kubu kubu koalisi KMP dan KIH. Mereka seharusnya dapat bekerja sama dalam menjalankan tugasnya untuk kepentingan rakyat dan mengesampingkan ego masing-masing.