Ngenes. Tragis. Dalam sebuah perbincangan dengan sejumlah besar dosen yang telah mencapai pendidikan tinggi yaitu S3, dan beberapa guru besar, diungkapkan keprihatinan bahwa banyak dosen tidak mengizinkan mahasiswa melakukan penelitian kualitatif untuk karya akhir mereka. Karena para dosen kurang memahami penelitian kualitatif. Sementara yang merasa memahami biasanya enggan mengizinkan karena sulit mencari teori pendukung topik penelitian kualitatif yang telah dirumuskan.
Pada kesempatan lain, saat pelatihan penelitian tindakan partisipatori yang melibatkan lima puluh orang dosen dari seluruh Indonesia, juga dikeluhkan sulitnya melakukan penelitian tindakan partisipatoris yang berbasis penelitian kualitatif karena keharusan berada di lapangan dalam waktu yang agak panjang. Pun dirasakan kesulitan bekerja bersama masyarakat, apalagi masyarakat kelas bawah yang menjadi sasaran pemberdayaan.
Beberapa guru besar dari berbagai perguruan tinggi sering berbincang secara pribadi melalui telepon. Mereka juga mengeluhkan kesulitan mencari dan mengelaborasi teori saat hendak melakukan penelitian kualitatif. Rupanya ketergantungan pada teori dan kebiasaan melakukan penelitian kuantitatif telah menjadi hambatan bagi banyak orang untuk melakukan penelitian kualitatif atau membimbing mahasiswa yang melakukan penelitian kualitatif.
Dulu, sewaktu bukuku yang berjudul Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi selesai ditulis, beberapa guru besar dimintai pendapatnya sebagai masukan dan kritik. Dalam jumlah yang sangat banyak, mereka mengecam buku itu karena tidak ada kutipan dari para ahli penelitian kualitatif. Rupanya kutipan dianggap lebih bernilai daripada hasil refleksi atas pengalaman melakukan penelitian kualitatif berkali-kali. Boleh jadi karena kurang atau tidak memiliki refleksi atau pendapat pribadi yang layak ditulis, para guru besar itu tidak pernah menulis buku. Bersebalikan dengan sikap mereka, Prof. Dr. Conny R. Semiawan dan Prof. Dr. H. A. R. Tilaar yang telah menulis banyak buku memotivasi agar buku itu segera diterbitkan, justru karena merupakan refleksi pengalaman meneliti. Ada keaslian dan keunikan, tegas Prof. Conny.
Rupanya memang banyak akademisi atau intelektual sebegitu tidak percaya diri dan hanya menjadi pengkonsumsi teori dan pendapat orang. Lantas, mana pendapat mereka sendiri? Mestinya jika sudah doktor, apalagi profesor doktor, mestinya sudah memiliki refleksi berkualitas tinggi yang layak ditulis dan disebarluaskan ke publik. Jangan hanya mengutip pendapat orang.
Ada pengalaman lucu saat ujian terbuka, promosi doktor. Aku terpaksa mengatakan, mohon maaf Prof., apakah ada pertanyaan lain? Ini terpaksa dilakukan, karena sang guru besar menggunakan pertanyaan penelitian kuantitatif, sedangkan penelitiannya adalah kualitatif. Salah satu pertanyaan terkait dengan penjelasan teoritis atas variabel. Padahal dalam penelitian kualitatif tidak berurusan dengan variabel.
Keseluruhan cerita panjang di atas hendak menunjukkan dua hal yaitu:
1). Kekurangpahaman terhadap penelitian kualitatif, dan menggunakan cara pandang penelitian kuantitatif untuk menilai penelitian kualitatif
2). Ketergantungan pada teori sebagai basis untuk memahami dan menjelaskan.
Ketergantungan pada teori ini sampai-sampai membuat sejumlah orang tidak berani untuk mencoba memahami realitas atau kondisi sosial sebagai subjek penelitian. Ambillah contoh kasus sodomi. Dari banyak kasus terungkap bahwa sebagian, bahkan hampir semua pelaku sodomi pernah menjadi korban.
Apa yang dilakukan oleh kebanyakan akademisi selama ini adalah menggunakan beragam teori untuk menjelaskan fakta itu. Dari sudut pandang psikologi banyak teori yang bisa dimanfaatkan. Dari psikologi analitis Sigmund Freud, bihaviorisme, sampai humanisme. Begitupun pandangan sosiologi, banyak teori yang digunakan.
Pertanyaanya adalah apakah teori-teori itu bisa menjelaskan masalah itu secara tepat, akurat, rinci dan mendalam? Untuk mereka yang sangat suka pada kutipan dari ahli yang sohor, dipersilahkan melakukan kajian terhadap apa yang dilakukan Glaser dan Strauss, sosiolog yang mempelopori dan mengembangkan Grounded Theory.
Kedua sosiolog itu secara tajam mengkritik bagaimana teori dibangunrumuskan dan digunakan selama ini. Terori-teori besar dibangunrumuskan bukan berdasarkan realitas atau fakta dan data. Tetapi didasarkan pada spekulasi filosofis yang bersifat deduktif-rasional. Teori-teori itu kemudian digunakan untuk menjelaskan berbagai kejadian, masalah, dan berbagai anomali seperti sodomi yang sebenarnya khas dan unik. Meski mungkin ada kesamaan universalnya, tetaplah ada keunikan dalam setiap kejadian, masalah, dan anomali. Karena itu dalam bidang sosial kemanusiaan sangat sulit merumuskan teori yang berlaku universal. Karena berkutat dengan manusia yang memiliki kebebasan yang seringkali tak terduga. Tidak seperti ilmu-ilmu alam yang berurusan dengan benda mati, atau makhluk hidup yang dikondisikan.
Kedua sosiolog itu kemudian menyarankan dan mempraktikkan Grounded Theory dalam penelitian yang berjudul Awareness of Dying. Grounded Theory adalah upaya sistematis membangunrumuskan teori dari bawah, dari fakta dan data secara induktif. Secara bertahap berkelanjutan, berdasarkan pada fakta dan data dirumuskan teori. Teori yang berakar pada realitas.
Dalam kasus sodomi, daripada menggunakan pandangan teoritis dari berbagai ahli yang sudah ada, lebih baik melakukan wawancara mendalam disertai dengan pengamatan cermat terhadap sejumlah pelaku, korban, dan orang-orang yang dekat dengan mereka.
Dengan demikian akan diperolehdapatkan pemahaman empatis. Apa itu pemahaman empatis? Pemahaman empatis adalah memahami dari sudut orang yang dipahami. Artinya kita menggunakan sudut pandang orang yang diteliti. Bagaimana penghayatan merek terhadap hidup yang dijalani.
Dalam kasus sodomi, bayangkan bahwa kita adalah korban. Jadi, kita menempatkan diri dalam posisi korban. Pemahaman dari dalam. Dari dalam diri orang yang mengalami.
Tidak mudah memang. Kita pertama-tama harus mampu berempati pada si korban. Melampaui simpati. Simpati itu kita memahami secara mendalam, tetapi pemahamannya masih beranjak dari dalam diri kita yang mengarah pada orang lain. Empati melampaui itu, memahami dari sudut orang yang dipahami.
Kaum fenomenologis tegaskan, untuk bisa membangun pemahaman empatis maka kita harus:
1) datanglah dengan kepala kosong
2) mulailah dengan diam
3) dengarkan apa yang tidak mereka katakan.
Mirip puisi, ada semacam misteri dalam pendekatan fenomenologis ini. Sebenarnya bukan itu maksudnya.
Datanglah dengan kepala kosong, maksudnya janganlah menilai sesuatu dengan terlebih dahulu menggunakan teori atau pandangan tertentu. Dalam kasus sodomi misalnya, jangan menilai berdasarkan sejumlah teori psikologi atau sosiologi yang memang bisa digunakan untuk menjelaskannya. Juga jangan mengedepankan pandangan pribadi yang didasarkan pada pengetahuan atau pengalaman yang berkaitan dengan kasus itu. Kosongkan pikiran dari semua anggapan, pandangan, penilaian awal, spekulasi, prakiraan, tuduhan, atau apa pun yang sifatnya datang dari kita sebagai orang yang tidak pernah mengalami. Tahan diri untuk membuat dan memberi pendapat dan penilaian.
Sambangi korban, amati dengan seksama bahasa tubuhnya karena ia biasanya enggan bicara. Mungkin juga takut ketemu kita. Dengarkan apa yang dia atau orang-orang dekatnya katakan. Jadilah pendengar yang empatis dan efektif. Mendengarkan dengan kesungguhan dan perhatian. Hindari pertanyaan yang bisa membunuh percakapan.
Orang Jawa bilang "ojo kesusu". Jangan buru-buru untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan penting dan mendalam. Coba rasakan bagaimana bila kita dalam posisi si korban. Dengan penghayatan ini kita mulai menggali emik, penghayatan dan pandangan si korban. Jangan kemukakan etik atau pandangan dan penghayatan kita.
Pemahaman empatis itu memang bertujuan menggali emik. Apa yang korban rasakan dan hayati. Agar bisa menggali emik, jangan kedepankan etik. Ini kuncinya.
Para pakar penelitian kualitatif seperti N.K. Denzin dan Y. S. Linclon dalam buku monumental mereka yang merupakan kumpulan tulisan para pakar kualitatif yaitu The Sage Handbook of Qualitative Research. Juga E. G. Guba dan Y. S. Lincoln dalam Naturalistic Inquiry, secara rinci menjelaskan cara kerja kualitatif yang berakar pada tradisi fenomenologis ini. Mereka menegaskan bahwa cara kerja ini sangat fundamental dalam penelitian kualitatif.
Maknanya, pemahaman empatis adalah cara yang paling tepat menggali emik yang menjadi landasan untuk membangunrumuskan teori yang berasal dari fakta dan data. Paling kurang, jika belum bisa membangunrumuskan teori, bisa menemurumuskan pola-pola.
Saat Oscar Lewis melakukan penelitian kualitatif denga fokus kemiskinan perkotaan yang kesudahannya melahirkan teori kebudayaan kemiskinan, ia lebih banyak hidup, tinggal bersama orang-orang miskin di daerah kumuh daripada membaca buku di perpustakaan dan berbincang dengan para ahli.
Hanya dengan tinggal bersama dengan orang miskin di pemukiman kumuh itulah Lewis bisa menangkap dan mengungkap emik atau penghayatan orang miskin tentang hidup mereka yang sesungguhnya. Teori yang dibagunrumuskannya berakar dan berasal dari situ.
Jadi, bukannya bersibuk mencari macam-macam teori untuk menjelaskan gejala, fakta, data, masalah, dan anomali. Tetapi justru melahirkan teori atau paling kurang pemikiran yang teruji.
Ke dalam pemahaman empatis inilah mestinya pelajar dan mahasiswa kita diarahkan. Bukan menghafal sebanyak mungkin teori sebagai modal dan dasar untuk menjelaskan berbagai masalah dan keunikan masyarakat kita.
Bukankan sangat banyak aspek kehidupan masyarakat yang sangat layak untuk digali dan dijelaskan sehingga kita mampu membangunrumuskan teori-teori tentang masyarakat kita sendiri. Teori yang berakar pada masyarakat kita sendiri.
Marilah kita dalami kehidupan mbok jamu gendong, padagang baso, siomay, dan pedagang keliling yang jumlahnya sangat banyak, pedagang warung Tegal, warung mie instan dan bubur kacang ijo, manusia gerobak, pemulung, tukanng ojek sepeda dan beragam kehidupan orang kecil lainnya. Orang-orang yang mampu bertahan meski negeri ini dileburhancurkan oleh krisis ekonomi yang parah.
Belajar tentang daya tahan, etos, semangat, model kewirausahaan, pola manajemen, proses-proses pengambilan keputusan, cara-cara penyelesaian konflik dan beragam tindakan serta upaya yang membuat Indonesia ini menjadi negara yang memiliki daya tahan luar biasa. Bukankah orang-orang kecil ini yang terbukti membuat kita bisa berjalan sampai sejauh ini?
Menggali pola-pola pendidikan dan pengasuhan orang-orang miskin dan marjinal yang mampu membiayai anak-anaknya jadi sarjana meski hanya tukang kembang kembang tahu keliling kampung. Tukang becak dan tukang gorengan pinggir jalan yang memiliki anak lulus kuliah dengan capaian prestasi tertinggi. Serta anak-anak miskin yang tidak memiliki kesempatan belajar di rumah karena harus membantu orang tuanya mencari nafkah, namun menjadi peringkat tertinggi UN. Mengalahkan anak-anak orang kaya yang menghabiskan uang puluhan juta untuk ikut bimbingan tes yang mahal.
Kita harus mengarahkan anak-anak muda untuk mengasahtajamkan pemahaman empatis. Karena pemahaman empatis akan menjadikan mereka manusia-manusia yang mampu merasakan penderitaan sesama, memahami secara mendalam, dan terlibat pada persoalan-persoalan nyata masyarakatnya. Manusia Indonesia seperti inilah yang mampu menjamin kebertahanan dan kelangsungan Indonesia yang maju dan bernartabat.
Untuk apa mengorbankan waktu, dana, dan kesempatan hanya untuk melahirkan kaum terpelajar yang rebutan rezeki bagi kebanggan pribadi. Mematut-matutkan diri sebagai bagian dari masyarakat global yang maju, modern, tetapi merasa asing dalam masyarakatnya sendiri?
Karena selama berada dalam rahim pendidikan sibuk berkutat dengan teori-teori, perspektif dan cita rasa para ahli-ahli tingkat dunia, yang melahirkan teori dari dan dalam masyarakat yang tak pernah kita kenali.
Tak ada salahnya untuk tahu, paham, dan ikut serta dalam wacana global, karena faktanya kita hidup dalam era global. Tetapi jangan penah lupa pada akar dan jati diri sebagai orang Indonesia yang bertanggung jawab untuk mempertahankan dan terus memajukan negara bangsa Indonesia.
Semangat ini hanya bisa ditumbuhkan dengan dan melalui pemahaman empatis terhadap masyarakat dan budaya sendiri, problema-problema dan keunikan negara bangsa ini. Pemahaman empatis memungkin kita untuk masuk dan terlibat ke dalam jantung masyarakat dan hidup serta menghidupkannya.
PEMAHAMAN EMPATIS MERUPAKAN JALAN BAGI LAHIRNYA TINDAKAN YANG MENCERAHKAN DAN MEMULIAKAN.
Nama: Natalia
BalasHapusNIM: 4915122536
Komentar saya,
setinggi-tingginya gelar atau jabatan yang kita punya, hendaknya kita memberikan suatu karya yang dapat bermanfaat bahkan dikenang oleh masyarakat luas seperti penulis, pelawak dan sebagainya. Hidup ini selalu berputar dan tidak hanya kesenangan/kesedihan yang larut terjadi. Untuk itu, dalam kehidupan ini penting adanya pemahaman empatis. Dimana kita tidak hanya memperhatikan khalayak banyak namun harus mengerti, memahami, dan merasakan apa yang khalayak tersebut rasakan. Jangan pandang buluh saat ingin membantu orang lain, jangan pandang ikatan kita dengan orang tersebut melainkan saling bertolong-tolonglah dalam segala hal. Pemahaman empatis dapat memberikan makna tersendiri dalam kehidupan pribadi lepas pribadi.
Sekian dan Terima Kasih
Abdul Khodir Gosa
Hapus4915122551
komentar:
saya setuju dengan pernyataan bapak di atas, bahwa masih banyak para akademisi yang belum memahami betul konsep dan pengaplikasian dari penelitian kualitatif. yang diman seorang peneliti memang harus terjun langsung kelapangan dan ikut masuk ke dalam kehidupan objek dari penelitian. akan tetapi, dalam melakukan hal tyersebut terutama kita sebagai peneliti adalah orang asing bagi mereka yang kita jadikan objek penelitian. tidak mudah juga untuk masuk membaur dengan mereka, maka dari itu hatus lah melakukan pendekatan secara persuasif. namun, setidaknya untuk ukuran akademisi sekelas S3 tadi yang bapak singgung harusnya mereka sudah memahami betul apa itu penelitian kualitatif dan bagaimana pengaplikasiannya.
semoga ke depannya kita bisa lebih terbuka lagi dengan banyak ilmu yang ada di sekitar kita.
Maya Yulia Dwi Putri Maranatha
BalasHapus4915122540
PIPS A 2012
Menurut saya, tidak ada dasr yang jelas seseorang bisa dengan seenaknya menyalahkan atau menghambat karya orang lain hanya karena karya tersebut tidak menyebutkan sebuah teori. bukankah kita sebagai manusia boleh berpendapat? bukankah setiap manusia juga berhak mengemukakan teorsinya senri? lantas mengama harus menggunakan teori orang laian jika nyatanya justru kita menemukan teori baru di tempat yang kita teliti.
pendapat yang mengatakan seperti itu menurut saya hanya akal-akalan saja untuk menghambat seseorang berkarya. bisa saja orang lain justru mengemukakan teori baru karena telah melakukan tpenelitian empatis. karena nyatanya penelitian empatis membawa si peneliti memiliki sudut pandang lain dalam melakukan suatu penelitian.
selain itu, bukakankah justru seseorang yang telah memiliki jabatan yang tinggi dan gelar yang tunggu jusru memunculkan suatu karya, dan mendukung karya rekan sejawatnya? bukan malah menjatuhkan rekan sejawat dengan alasa yang kurang masuk akal.menurut saya, hal itu bisa terjadi karena mereka-mereka ini kurang memiliki pemahaman empatis, yang menjadikan dirinya justru tidak memiliki empati pada hal hal seperti ini.
indah wardatussa'idah
BalasHapusp.ips reg 2012
4915122547
komentar saya , menurut pendapat saya tulisan Bapak di atas sangat bijak dan dalam sekali terutama untuk kami sebagai mahasiswi/a yang akan menyusun skripsi bagaimana memilih atau memilah antara kualitatif dan kuantitatif dan pada kenyataannya mahasiswi/a zaman sekarang lebih banyak memilih cara yang simple dengan hanya mengambil jalan penelitian melalui angka- angka saja tanpa mereka sadari bahwa ada makna dan manfaat tersembunyi dari sebuah penelitian kualitatif meskipun penelitian kualitatif lebih lama dan terkrsan ribet namun dari situlah titik kenikmatans ebagai sebuah peneliti yang sesungguhnya . seperti tulisan Bapak di atas mengenai sikap empatis dimana zaman sekarang sudah susah sekali ditemukan manusia yang masih memiliki sikap seperti itu dengan adanya penelitian kualitatif diharapkan kita sebagai penerus bangsa bukan hanya paham akan angka dan huruf saja tapi juga dengan keadaan lingkungan sekitar dengan segala carut mautnya . sekian terimakasih
Nama : Cendy Juliana Dewi
BalasHapusNIM : 4915122528
P.IPS A 2012
Saya setuju sekali dengan apa yang telah bapak tuliskan diatas, pemahaman empatis layaknya memang harus diterapkan dalam setiap hal terutama ketika melakukan penelitian. Yang saya bingungkan mengapa guru-guru besar justru sangat menentang mahasiswanya untuk terjun langsung dalam penelitian kualitatif, bukankah dengan terjun langsung membuat mahasiswanya tentu lebih bisa mendapatkan data yang akuran dan real karena mereka tentu saja selama mencari data tersebut dilapangan bukan hanya melibatkan teori-teori saja bahkan terkadang tidak membawa teori sama sekali dan datang dengan kepala kosong dan dari hal tersebutlah mereka secara tidak langsung akan mengasah kemampuan pemahaman empatisnya yang tentu saja hal tersebut lebih penting dalam penelitian kualitatif karena penelitian kualitatif menggunakan sudut pandang emik yang artinya data bersember dari informan . jujur saja setelah membaca tulisan bapak diatas semakin membuka pikiran saya dalam melakukan sebuah penelitian bukan hanya melibatkan teorinya saja namun prakteknya juga harus dilakukan dalam hal ini prakteknya adalah dengan terjun langsung kelapangan dan melakukan pemahaman empatis. Karena biasanya jika kita terpaku pada teori saja kita hanya berpaku pada hafalan-hafalan saja sedangkan dengan praktek dimana kita terjun langsung kelapangan dan melakukan pemahaman empatis hasilnya kita akan lebih mengerti apa yang kita sedang cari dan tentu akan lebih membekas pada ingatan kita juga kita dapat menjelaskannya sendiri karena kita mengalami hal tersebut secara langsung. Dan melakukan penelitian dengan praktek tentu saja sangat berguna bagi calon guru IPS karena ketika saatnya kita mengajar nanti kita dapat menceritakan pengalaman tersebut secara real kepada murid-murid kita dan bukan hanya sekedar wacana saja.
Terima kasih
Nama : Suratno Ariangga
BalasHapusNim : 4915122557
Jurusan: Pendidikan IPS A 2012
Seharusnya Dosen sebagai pembimbing mendukung penuh jika mahasiswanya melakukan penelitian kualitatif untuk karya akhir mereka. Bukan karena alasan sulit mencari teori yang mendukung dalam penelitian mahasiswanya, akan tetapi setidaknya mengarahkan mahasiswanya untuk melahirkan teori baru dalam penelitiannya, Dosen bukan memonotonkan mahasiswa untuk sibuk mencari macam-macam teori untuk menjelaskan gejala, fakta, data, dan masalah. Tetapi justru melahirkan teori atau paling kurang pemikiran yang teruji. Dan dalam pemahaman empatis inilah mestinya mahasiswa diarahkan. Bukan menghafal sebanyak mungkin teori sebagai modal dan dasar untuk menjelaskan berbagai masalah, Seorang Dosen pasti akan bangga jika melihat seorang mahasiswa yang mampu berkarya dengan melahirkan teori baru, apalagi karya tersebut tidak lepas dari bimbingannya.
Dari pernyataan di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apa kesulitan seseorang dalam melakukan penelitian kualitatif?
2. Apa keterkaitan antara pemahaman empatis terhadap penelitian kualitatif?
3. Bagaimana cara mendalami pemahaman empatis?
KAMILIA FH
BalasHapus4915122535
Dalam memahami gejala-gejala sosial pada masyarakat, pastilah menbutuhkan pemaparan fakta dari realitas yang ada. Oleh karena itu kita membutuhkan pemahaman yang mendalam untuk mengetahui, melihat dan menelaah suatu fenomena, yang biasa disebut grounded theory.
Untuk melakukan grouded theory kita membutuhkan pemahaman empati, untuk memahami dan dapat membawa dirikita seakan-akan turut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
Pemahaman empati tak hanya berguna bagi penelitian semata, pemahaman empati jua perlu kita biasakan dalam kehidupan sehari-hari agar kita dapat lebih bijaksana dalam memutuskan penilaian, pandangan dan tindakan yang akan kita ambil.
Nama: Mamay Gumelar
BalasHapusNIM: 4915122541
Pemahaman empatis bukanlah sekedar pencernaan logika semata yang dicerna oleh akal pikiran manusia. Namun pemahaman empatis pun juga merupakan hasil pencernaan hati nurani seorang manusia. Manusia sejatinya dikodrati oleh Tuhan berupa akal serta hati nurani. Yang masing-masing memiliki porsinya sendiri terhadap penggunaannya. Tak selalu manusia mengedepankan akal pikirannya dalam menghadapi bahtera kehidupan. Adakalanya hati nurani yang mengkontrol manusia untuk berperilaku terhadap kondisional kehidupannya.
Pertanyaan:
1. Apakah pengalaman empatis mampu dapat dilatih dan dipelajari dalam lingkup pendidikan formal?
2. Mengapa tidak sedari pendidikan menengah kita diajarkan untuk memahami sisi lain kehidupan secara empatis?
3. Bagaimana cara membangun kepekaan manusia terhadap masalah kehidupan secara empati?
Terima kasih
TRESNA NURFITRI YANTI
BalasHapusPENDIDIKAN IPS A 2012
Seperti yang kita ketahui, jika manusia diberikan dua pilihan dalam hidupnya maka hal termudahlah yang akan dipilih manusia, karena hal itu sudah menjadi budaya dalam menjalani hidup. Sama hal nya dengan tulisan di atas, manusia akan memberikan beribu alasan untuk sebuah ketidaksukaan terhadap sesuatu.
Penelitian kualitatif di anggap sulit untuk di lakoni karena sangat banyak aspek yang perlu di perhatikan di bandingkan dengan penelitian kuantitatif. Padahal untuk ke dua hal tersebut memiliki kelemahan dan kekuatan masing-masing, yang membuat ke dua hal tersebut menonjol dalam bidangnya.
kita pun tidak bisa pungkiri seseorang yang berpendidikan tinggi belum tentu mengetahui segala hal bahkan terkadang pandangannya atau segala ucapannya selalu menitik berat kan pada pendapat para ahli di bandingkan dengan segala pengalaman yang telah mereka lewati dalam mencapai titlle guru besar.
Dalam hal ini, pemahaman empatis sangat bermanfaat guna memperdalam sesuatu yang dititik beratkan pada pandangan orang yang mengalami, karena tentu jika mencampur adukan pandangan kita akan terjadi sebuah ketidaksingkronan dalam sesuatu.
Pada inti nya pengalaman akan selalu menjadi guru terbaik dalam kehidupan
Pemahaman empatis mengajarkan kepada kita bahwa pentingnya terjun langsung ke lapangan untuk mendapatkan data secara real. Dengan melakukan hal tersebut tentu akan mendapatkan data diluar dari dugaan, seperti halnya ketika melakukan study banding ke baduy. Banyak buku maupun teori yang menjelaskan kehidupan warga baduy namun tidak menjelaskan secara rinci kehidupan mereka dari pagi hingga malam yang dapat kita alami jika melakukan pemahaman empatis atau terjun langsung ke lapangan.
BalasHapusDengan melakukan pemahaman empatis tentu kita dapat menemukan banyak data yang tidak diutarakan oleh para ahli/tokoh. Maka dari itu, pemahaman empatis dapat memberikan solusi atas pertanyaan-pertanyaan yang ada dengan melihat dari sudut pandang yang diteliti. Dengan demikian, sehabat apapun orang tersebut jika tidak melakukan pemahaman empatis maka ia tidak bisa melihat suatu peristiwa secara objektif.
edward kurnadi
BalasHapus4915145637
yang saya fikirkan dari cerita diatas bahwa seharusnya para dosen dan guru besar itu lebih memahami dan mengerti bahwa tidak mengizinkan mahasiswa untuk melakukan penelitian kualitatif adalah hal yang kurang tepat.dan seharusnya sebagai dosen dan guru besar tidak terlalu berpatokan akan sebuah teori karna teori itu juga adalah sebuah pendapat seseorang yang kita juga belum tau itu benar atau salah.kenapa tidak dosen itu mengeluarkan pendapat sendiri?
dengan cara penelitian kualitatif kita dapat memperoleh pemahaman empatis.dengan pemahaman empatis kita dapat turun ke lapangan dan memperoleh data yang banyak dan tepat.
jadi dengan kita bisa memperoleh pemahaman empatis itu merupakan jalan bagi lahirnya tindakan yang mencerahkan dan memuliakan.
Luthfia nurrahmawati
BalasHapus4915127055
p.ips reg b 2012
Pada cerita di atas dijelaskan terkait pentingnya pemahaman empatis terhadap suatu penelitian. Diawali dengan penjelasan terkait penelitian kualitatif. Mayoritas dari dosen besar kurang memahami apa itu penelitian kualitatif, berakibat pada larangan mahasiswa untuk melakukan penelitian tugas akhir dengan menggunakan metode kualitatif. Mahasiswa lebih ditekankan pada berangkat lah dari teori yang telah ada ketimbang dengan merumuskan atau melahirkan teori baru.
Sudah saatnya pola pikir seperti ini diubah dengan memberlakukan pemahaman empatis didalam pelaksanaan penelitian. Apa itu pemahaman empatis? Pemahaman empatis adalah memahami dari sudut orang yang dipahami. Artinya kita menggunakan sudut pandang orang yang diteliti. Bagaimana penghayatan merek terhadap hidup yang dijalani.
Didalam pemahaman empatis diberlakukan bagaimana mengamati, menghayati , dan memberlakukan diri seperti merasakan kejadian atau peristiwa yang akan diteliti yang akhirnya mampu merumuskan teori dari kurang lebih tigal hal tersebut.
Berangkat dari teori bukanlah sesuatu yang tidak baik tetapi alangkah lebih baiknya dengan melakukan wawancara mendalam disertai dengan pengamatan cermat terhadap sejumlah pelaku, korban, dan orang-orang yang dekat dengan mereka. Sehingga data yang didapatkan akan jauh lebih sesuai dengan realitas yang ada dan lebih mendalam.
Didalam pemahaman empatis atau terkenal dengan fenomenologis ( dalam memulai penelitian) terdapat ungkapan :
1. Datanglah dengan kepala kosong, mulailah dengan diam
2. Dengarlah yang mereka tidak katakan
Dimana dalam hal yang pertama kita tidak diperkenankan untuk menggunakan segala persepsi baik dari individu maupun dari luar individu, sebab semua itu hanya akan berakibat tidak mendalamnya suatu data untuk didapatkan, oleh karena itu jauhkan lah diri kita dari hal-hal semacam itu agar hal yang didapat nantinya sesuai dengan realitas yang ada.
Selanjutnya dalam hal kedua, pada saat melakukan penelitian jangan hanya terfokus pada apa yang informan katakana saja tetapi terfokuslah juga pada apa yang informan tidak katakan seperti tatapan mata,bahasa tubuh, karena hal semacam itu akan memperkuat data yang diberikan oleh informan terkait kebenarannya.
Sekian dan terima kasih.
Nama: Oktaviana
BalasHapusNIM: 4915127065
PIPS B 2012
Komentar :
Yang di kemukakan oleh bapak nusaputra memang benar karena seharusnya profesor tidak hanya mengutip pendapat orang lain tetapi juga mengemukakan pendapat mereka mengenai penelitian mereka bahkan sebaiknya membuat teori sederhana dari penelitian mereka agar dapat bermanfaat oleh yang mempelejari penelitain mereka. Penelitian kuantitatif memang dibutuhkan tetapi terkadang penelitian kuantitatif hanya ingin mencari tahu saja tidak ingin tahu bagaimana fenomena itu terjadi. Sedangkan penelitian kualitatif ingin mengetahui secara mendalam bagaimana fenomenda sosial dimasayarakat itu terjadi dengan menggunakan pemahaman empatis. Pemahaman empatis inilah yang membuat kita jadi merasakan hal sama seperti narasumber. Banyak penyakit dan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat kenapa tidak diteliti menggunakan penelitian kualitatif agar kita tahu kenapa mereka melakukan itu dan mencari solusi serta dapat merasakan hal yang sama. Sekian dan terima kasih
Viddyaningsih
BalasHapusP ips A 2014
Ass pak nusa.
Empatis seharusnya dijadikan sebuah pembelajaran yang harus kita pahami, terlihat sulit memang bila mengaplikasikan sikap empatis dalam realita kehidupan, karena pada dasarnya rasa empatis ini bisa saja disingkirkan dengan adanya rasa egois.
Fenomena tentang tidak adanya rasa empatis pun terjadi di kalangan para dosen, yang memiliki nama dengan gelar dan jabtan yang harus kita akui mereka merupakan kalangan yang berkualitas dan berpendidikan, namun sayang entah karena alasan apa mereka yang sebagian mempunyai gelar dan jabatan yang berpendidikan hanya mampu membanggakan dirinya dengan gelar dan jabatannya, tanpa memberikan sebuah kemanfaatan untuk kalangan orang banyak yang terbungkus dalam sebuah kenangan hasil dari karya asli mereka.
Ironis memang fenomena seperti itu, buat apa negara memiliki orang yang berkualitas jika mereka tidak hebat untuk memberikan kemanfaatan untuk kita bersama dari hasil karya asli mereka. Karena sesunguhnya dalam sebuah hal kita harus perlu tahu, mengerti, dan memahami apa yang dirasakan oleh orang lain, agar lahirnya tindakan yang verah dan memuliakan.
Nama : Silvia Radita
BalasHapusNIM : 4915122560
P.IPS A 2012
Ternyata Penelitian Kualitatif itu sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena dengan adanya penelitian kualitatif kita sebagai manusia biasa dapat lebih memahami dan merasakan kehidupan sosial masyarakat kelas menengah dan ke bawah. Merasakan derita dan kehidupannya karena di dalam penelitian kualitatif terdapat sebuah kata yaitu pemahaman empatis. Pemahaman ini yang dapat mengajarkan kita untuk dapat merasakan kehidupan sosial orang lain.
Miris sekali dengan cerita di atas yang mengatakan seorang dosen melarang mahasiswanya untuk tidak melakukan penilitian kualitatif hanya karena dosennya tidak mengerti dengan penelitian tersebut. Setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda – beda, bisa saja mahasiswa tersebut lebih pintar dan lebih mengerti dari dosennya. Seharusnya dosen bisa memaklumi apa yang dikerjakan oleh mahasiswanya. Bukan karna pangkat atau jabatan dosen lebih tinggi dari mahasiswa sehingga bisa melarangnya. Bahkan jabatan yang lebih rendah dari dosen dan dari mahasiswa saja dapat lebih sukses karena mereka tidak berkutat dengan teori. Tetapi mereka lebih mendalami kenyataan – kenyataan yang ada yang membawanya hingga mereka lebih sukses dalam kejamnya kehidupan yang mereka jalanin.
NAMA : Arimbi Marsellia
BalasHapusNIM : 4915120341
pemahaman empatis tidak bisa kita dapatkan hanya dengan duduk sambil mendengarkan dosen berbicara atau hanya berkutat pada teori tanpa pernah kita mencoba untuk menggalinya sendiri melalui pengalaman terjun ke masyarakat. pemahaman empatis juga tidak bisa kita dapatkan jika kita terlalu sombong untuk mengosongkan isi kepala kita saat kita berbaur dengan masyarakat. kebanyakan dari kita, memandang sesuatu itu berdasarkan perspektif dari dirinya sendiri. mereka berkomentar sesukanya tanpa pernah paham apa yang oranglain rasakan dan alami. kita tak ubahnya menjadi manusia yang paing tahu segalanya. contohnya saja ketika ajang curhat-curhatan anak cewek. yang satu curhat begini-begini sementara yang lainnya menyalahkan atau berucap sesuatu yang sebenarnya belum pernah mereka rasakan dan alami betul tetapi komentar mereka seolah-olah mereka tahu banyak hal padahal kita sendiripun tidak tahu apakah bibir kita ini masih bisa berbicara seperti "apa yang kita bicarakan ke oranglain" apabila kita berada di posisi tersebut. pemahaman empatis bisa kita dapatkan melalui kerelaan kita untuk mendengarkan dengan telinga dan hati bukan dari banyaknya bicara.
Nurkhasanah
BalasHapus4915122553
Pendidikan IPS A 2012
Kebenaran yang akurat dalam kehidupan ini ialah kebenaran yang berasal dari fakta ataudari realias yang ada bukan dari teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli sekalipun, memang yang dikemukakan oleh paa ahli tersebut juga merupakan sebuah kebenaran tetapi beda konteks ketika kita menjawab permasalahan yang ada dengan teori yang mereka kemukakan ,walaupun mereka juga mengemukakan kebenaran tetapi berbeda objeknya atau subjeknya, beda lokasina,beda tempatnya, dll. Sebab seperti yang kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk yang dinamis dan juga kompleks, jadi setiap saat bisa berubah dan sulitnuntuk digeneralisasikan meskipun memiliki permasalahan yang sama,karena itu kita sebagai peneliti ketika ingin mengemukakan hal yang sebenar-benarnya maka harus mengedepankan emik yaitu sudut pandang dari posisi si korban, dan juga kita harus mengasah pemahaman empatis, agar kelak hasil yang kita dapat merupakan sebuah hasil penelitian yang benar-benar akurat dan dapat terpercaya sebab hasil yang didapatkan berdasarkan dari pemahaman empatis, dan terjun ke lapangan langsung.
Karena itu penting bagi kita semua untuk mengasah pemahaman empatis.
Terimakasih
Indrianie Dewi (4915122544) PIPS A 2012
BalasHapusDengan bersikap empatis manusia dapat memahami dari sudut orang yang dipahami. Memang alangkah baiknya jika kita meneliti dengan cara kualitatif kita dapat merasakan sudut pandang orang yang diteliti. Memulai penghayatan mereka terhadap hidup yang dijalani, turut merasakan penderitaannya, memahami secara mendalam, dan terlibat pada persoalan-persoalan nyata masyarakatnya yang nantinya akan muncul teori baru tanpa berpatokan dengan teori yang sudah ada. Karena pada dasarnya seperti yang bapak bilang bahwa manusia berubah dan tidak terduga, oleh karena itu walau banyak teori universal untuk menyelesaikan suatu permasalahan tetap saja ada yang menjadi ciri khas tersendiri dari suatu masalah yang juga harus diberikan perhatian khusus.
Yang ingin saya tanyakan:
Apakah penelititan kualitatif mempunyai kelemahan?
Bagaimana meminimalisir sifat keegoisan ketika sedang meneliti?
Apakah setiap orang mempunyai sikap empati?
Nama: Aditya Dovio Erlangga
BalasHapusNIM: 4915122531
Pendidikan IPS A 2012
Pemahaman empatis merupakan cara bagaimana kita sebagai manusia dalam lingkup umum ataupun seseorang yang melakukan kegiatan penelitian dalam tingkatan khususnya dapat memahami apa yang dirasa dan dilakukan oleh orang lain. pemahaman empatis memberikan ruang pada seseorang yang berada dihadapan kita tentang makna dalam kehidupan yang serba dinamis, dinamis dalam berfikir, bertindak dan berproses dalam kehidupan itu sendiri. pemahaman empatis bukan hanya dipandang sebagai suatu proses mengerti, memahami ataupun merasakan apa yang dirasa dan ditindaklanjuti oleh orang lain namun lebih jauh dari itu pemahaman empatis menuntut seseorang untuk terproses mengikuti alur kehidupan sebagai manusia. pemahaman empatis memberikan kebergunaan tersendiri bagi individu untuk dapat memahami apa yang orang lain rasa dan dapat berguna bagi orang lain untuk memberikan penghargaan terhadap orang yang dirasa. saling menghargai sesama, dan saling bertutur dalam kebaikan senantiasa menjaga pemahaman empatis lebih dalam.
sekian dan terima kasih
Nama : Windi Fauziah
BalasHapusNIM : 4915122521
Tidak semua teori bisa memecahkan masalah di kehidupan yang terjadi di masyarakat Indonesia pada umumnya. Karena kebanyakan pencetus teori itu adalah tokoh" asing yang tidak tahu bagaimana masalah yang terjadi di masyarakat Indonesia. Seharusnya para guru besar tidak terpaku dengan teori" tersebut. Karena kita tidak bisa memungkiri bahwa teori yang ada tidak bisa sepenuhnya menyelesaikan masalah yang ada di masyarakat. Karena itulah perlu dibangun pemahaman empatis terhadap mahasiswa sejak sekarang karena faktanya kejadian di lapangan tidak selalu sama dengan teori. Selain itu sebagai masyarakat Indonesia yang dengan semboyan bhineka tunggal ika kita seharusnya tidak saling membedakan satu sama lain. Bahwa kita ini sama dengan yang lainnya. Tidak seharusnya jika mau menolong orang lain dengan melihat statusnya. Karena manusia ini hidup saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Fani Nurdianti/4915122538
BalasHapusPIPS 2012 A
Sulit memang menumbuhkan pemahaman empatis di dalam diri kita. Terlebih di era global dimana budaya baru masyarakat yaitu indivisualistik terus berkembang. Manusia yang sibuk dengan diri mereka sendiri, kepentingan mereka dan kebutuhan mereka. Mengikuti perkembangan zaman yang tidak menentu. Masyarakat Indonesia yang dikenal ramah tamah dan saling tolong menolong, kini hanya melihat kepentingan mereka sebagai hal yang terpenting. Setidaknya itulah yang kini banyak terjadi di kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan untuk menumbuhkan simpati saja sulit, apalagi pemahaman empatis.
Tetapi benar bahwa pemahaman empatis begitu penting peranannya. Sebagai jalan lahirnya tindakan yang mencerahkan dan memuliakan seperti yang dipaparkan diatas. Karena pemahamannya yang lahir dari hati, pemahaman terdalam yang dimiliki manusia. Hingga memungkinkan manusia untuk merasakan apa yang orang lain rasakan dari sudut pandang orang tersebut. Membuat kita paham hal-hal yang sulit dipahami dari sudut pandang kita. Karena memang begitulah hakekat setiap manusia, selalu berbeda dan selalu berubah. Oleh karena itu kita tidak dapat menggeneralisasikan setiap permasalahan sosial kemanusiaan. Yang dimana ini berlaku dalam penelitian kualitatif dan pemahaman empatis dibutuhkan didalamnya.
Nama : Azizah Maharani
BalasHapusNIM : 4915122561
Tidak semua peristiwa bisa kita kaitkan dengan teori. Seperti penelitian kualitatif diperuntukkan agar kita mendapatkan sesuatu yang baru dan mendalam, berawal tidak menggunakan teori terlebih dahulu.
Dalam tulisan diatas ditulis bahwa mahasiswa tidak melulu belajar menggunakan teori. Namun, bagaimana dengan adanya anggapan bahwa mahasiswa adalah orang yang berbicara menggunakan teori, jika tidak menggunakan teori bukan mahasiswa namanya? Maka dari itu tugas mahasiswa adalah meneliti dengan melihat dari sudut pandang orang yang diteliti seperti tulisan diatas, dan kegunaan teori digunakan untuk memperkuat hasil penelitian, karena teori tanpa praktek bagaikan pemikiran yang masih diawang-awang dalam pembuktiannya. Berbeda dengan penelitian yang telah kita lakukan, setelah hasil penelitian kita dapatkan, kita dapat menghasilkan sesuatu yang baru, dalam konteks ini hasil penelitian dapat kita kaitkan dengan teori yang sudah ada ataupun menghasilkan teori baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya, terlebih jika penelitian yang dilakukan adalah ilmu sosial yang bersifat dinamis. Jadi, intinya pengalaman lebih berharga daripada hanya sekedar teori.