Kamis, 13 November 2014

WONDERFUL WORLD

Dunia ini indah. Sungguh indah.

Lihatlah pohon-pohon hijau dan bunga warna-warni. Padang hijau sejuk, kebun-kebun menghasilkan buah aneka warna dan rasa. Belantara liar menyembunyikan anggrek nan elok dengan warna-warna alami mempesona, diramaikan cerecau burung liar yang merdu.

Pohon dan bunga-bunga itu tetap indah, meski tanah-tanah merekah, berubah warna dan aroma karena penggunaan cairan kimia berlebihan. Tanah-tanah telah menurun tingkat kesuburannya karena semua penyubur alami hangus dibakar cairan kimia, penyubur buatan yang bekerja lebih cepat dan efektif tetapi membunuh menghancurkan.

Siklus alami tanah dan kesuburan telah dibalaukacaukan oleh produk-produk pabrikan atas nama dan demi keuntungan. Semuanya terpaksa dilakukan karena kita gagal mengelola pertumbuhan kelahiran.

Belantara rimba masih menyisakan sekelumit keindahan. Karena telah dirambah sampai jauh untuk membangun lebih banyak rumah bagi manusia yang terus bertambah, untuk memproduksi tisu guna membersihkan gincu, air mata karena debu kemarau, dan percebokan.

Dunia ini indah. Masih sangat indah.

Lihatlah langit biru, dihiasai awan putih berkejaran. Masih ada pelangi aneka warna menghiasai langit usia gerimis. Walau polusi asap dan asam telah menaburkan racun merata, mengotori udara dan memberi kita lebih banyak penyakit,  kesusahan, dan penderitaan.

Kita masih bisa nikmati bintang gemintang cerlang cemerlang atau purnama bulan penghias malam. Meski sampah teknologi, satelit yang kadaluarsa, dan piranti stasiun luar angkasa semakin banyak menyesaki ruang angkasa tak bertepi.

Akibatnya kita jadi terbiasa dengan ketakpastian cuaca, kekacauan musim, dan kehadiran bencana musim demi musim. Kita menyesuaikan diri dengan cara dan pola hidup baru, hidup bersama dengan kekacauan, bencana, dan penyakit. Kita mengganti keselarasan dan harmoni dengan chaosplesitas, kekacauan yang rumit dan terus merumit. Yang mampu menggamit sistem dan gelombang otak kita, membuat kita mau dan mampu berdamai dengan semua ketidakpastian dan kekacauan.

Dunia yang indah. Hidup yang indah.

Nikmati keindahan pantai. Pasir putih terhampar, ombak samodra menggulung, menerjang, menyebar. Nyiur melambai di tepian pantai. Nyanyian pantai yang mengasyikkan. Nyemplunglah ke laut, ke kedalamannya, saksiskan betapa mempesona dunia bawah laut. Ikan-ikan hias aneka rupa dan warna, menari bermain di antara batu-batu karang warna-warni, di tengah tumbuhan laut yang terus saja berjoget digerakkan air.

Biarpun sampah dan limbah pabrik, buangan reaktor nuklir dan beragam uji coba nuklir, ditambah tumpahan minyak dari tangker yang pecah dan tenggelam menebarkan racun yang merubah laut menjadi tempat buangan sampah terakhir dan menghancurkan biota laut. Kita masih bisa nikmati pantai yang indah dan laut  mempesona. Meski sampah plastik bekas kemasan makan pabrikan, dan kondom bekas pakai seringkali mengganggu.

Indahnya dunia. Indahnya hidup.

Mari mendaki, ke gunung tinggi. Nikmati tamasya alam asri yang hijau dan sejuk. Sembari menguji ketahanan diri, denyut nadi, dan nyali. Lihatlah pemandangan masih hijau, hijau rerumputan dan dedaunan. Bunga aneka warna masih menghiasi di sana sini.

Tetapi kemanakah pohon-pohon besar jangkung yang mampu menancapkan akar-akarnya untuk menjaga tanah dari terjangan deras  hujan? Mengapa yang ada hanya kentang, kembang kol, daun bawang, seledri, dan wortel?

Apakah hanya mesin perut manusia yang harus dilayani dan kelestarian alam boleh dianggap sepi? Apakah hanya produktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang penting dan kerusakan alam tidak dianggap genting?

Dunia ini masih indah. Hidup pun terasa indah.

Karena sudah sejak lama manusia dengan sengaja bermetamorfosa. Berubah dari manusia menjadi monster yang bisa menikmati udara penuh karbondioksida dan racun tembakau, melahap, mengunyah dan menelan makanan dan minuman pabrikan yang mengandung racun. Dan hidup dalam lingkungan artifisial yang disesaki hutan beton, pendingin ruangan, dan pemakaian listrik berlebihan, yang membawa dunia ini menjadi renta dan rentan.
Sudah sejak dulu kita lebih menyukai sayuran yang diawetkan, dibiarkan jadi racun dalam kemasan, daging yang diolah dengan campuran bahan kimia, dan buah yang disuntik dengan pengawet dan pencerah warna. Atas nama kemajuan, pertumbuhan, produktivitas, efektifitas, efisiensi, kepraktisan, dan kemudahan, kita mengorbankan diri dan alam ini, membiarkannya menjadi tempat sampah dan kita merasa damai di dalamnya.

MANUSIA MEMANG MAKHLUK PALING ADAFTIF, PUN TERHADAP KERUSAKAN SISTEMATIS.

12 komentar:

  1. Dunia ini memang indah,namun dari hari ke hari manusia semakin lupa diri dan tidak bersyukur. Alam ini hancur dan rusak perlahan - lahan karena keserakahan manusia. Khususnya di Indonesia,lahan pepohonan sekarang ini banyak di tebang dan diganti dengan bangunan - bangunan bertingkat. Bisa dirasakan akibatnya kota semakin gersang dan panas, polusi udara bertambah, kemacetan dimana - mana. Jika semua penghuni di bumi bersama - sama menghilangkan keserakahan dan menjaga serta merawat bumi, dunia pasti akan lebih indah dan tentram. Hal ini seharusnya dimulai dari diri kita masing - masing. Hilangkan keserakahan dan mulai peduli terhadap bumi ini yang semakin hancur akibat ulah kita sendiri. Pungki Kusdwi P.IPS A 2014

    BalasHapus
  2. Tidak bisa di pungkiri bahwa kemajuan teknologi membawa dampak besar bagi kehidupan kita,bukan hanya bertujan untuk kemajuan suatu negara tetapi berpengaruh terhadap lingkungan sekitar kita. Pertumbuhan penduduk juga menjadi salah satu faktor pendorong rusaknya lingkungan karena lahan yang seharusnya menjadi sumber oksigen/paru-paru dunia kini menjadi lahan pemukiman.Kita sebagai manusia jangan hanya mementingkan kepentingan diri sendiri dan mengesampingkan kehidupan alam sekitar.Kita semua bergantung pada alam jadi jagalah alam ini agar kita bisa manjadi khalifah penjaga bumi seperti dalam firman allah yang terkandung di alqur"an Nabila Chairina 4915141046 Pendidikan IPS A 2014

    BalasHapus
  3. Tidak bisa di pungkiri bahwa kemajuan teknologi membawa dampak besar bagi kehidupan kita,bukan hanya bertujan untuk kemajuan suatu negara tetapi berpengaruh terhadap lingkungan sekitar kita. Pertumbuhan penduduk juga menjadi salah satu faktor pendorong rusaknya lingkungan karena lahan yang seharusnya menjadi sumber oksigen/paru-paru dunia kini menjadi lahan pemukiman.Kita sebagai manusia jangan hanya mementingkan kepentingan diri sendiri dan mengesampingkan kehidupan alam sekitar.Kita semua bergantung pada alam jadi jagalah alam ini agar kita bisa manjadi khalifah penjaga bumi seperti dalam firman allah yang terkandung di alquran Nabila Chairina 4915141046 Pendidikan IPS A 2014

    BalasHapus
  4. Haryani
    4915141015
    Pendidikan IPS A 2014

    Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang selalu merasa tidak pernah cukup. Apa yang mereka masih bisa ambil dari alam akan terua mereka peras untuk memenuhi kebutuhan jasmani mereka tanpa memikirkan alam. Dari keserakahan mereka timbulah kerusakan yang beranak pinak,mereka seolah menutuo mata soal kerusakan ini.

    BalasHapus
  5. Nama : Joddy Hermawan
    Kelas : P.IPS B 2014
    No Reg: 4915142810

    Sungguh sedih membaca tulisan bapak diatas, dimana mana pasti ada kerusakan yang disebabkan oleh manusia entah itu tanah, air, maupun udara, semua telah tercemar akibat teknologi teknologi manusia yang lebih mengedepankan hasil dari pada proses. Tak heran jika melihat generasi muda sekarang yang badannya, organ organ vitalnya lebih cepat berkembang, mungkin saja itu efek dari penggunaan penyubur buatan. Jika manusia tetap seperti ini, dan tidak ada sedikit pun rasa peduli pada alam, bagaimana anak cucu kita nanti dapat menikmati alam nan indah ini ?

    BalasHapus
  6. Rijalul Fahmi (4915145529)
    P.IPS 2014
    Asslamualikum wr wb
    Betul dunia itu sangatlah indah, keindahan ciptaan tuhan tak ada duanya, mulai dari hutan berserta pepohonannya yang menghasilkan banyak buah-buahan, kayu dan berbagai macam manfaatnya, kemudian laut berserta terumbu karang, ikan-ikannya yang dan kekayaan yang takterduga di dasar lautnya.
    Tuhan berikan kita udara gratis, dan udara itu untuk semua mahkluk hidup, lalu mengapa kita mengotori udara yang gratis tadi dengan asap rokok, asap kendaraan, asap limbah pabrik dan berbagai macam perusak udara ini, atmosfir kita makin menipis, udara dibumi sudah semakin panas.
    Laut dieksploitasi, ikan-ikan diambil dengan cara dibom hasilnya, terumbu karang pun ikut rusak, kemudian hiu-hiu diambil siripnya untuk alasan kesehata, penyu-penyu diambil untuk obat dan pajangan saja, laut dijadikan pembuangan limbah perusahaan-perusahaan besar, yang ada diotak munusia sekarang adalah keuntungan saja, tanpa memikirkan kerugianya, ekosistem laut terganggu anak cucu kita tidak bisa melihat kembali keindahan laut dan berbagaimacam isinya, manusia menganggap banyak uang hidup akan indah.
    Hutan digunduli, dibakar hanya untuk kepentingan para pegusaha bermodal besar, yang mendirikan perkebunan sawit, cengkeh, teh, dan sayur-sayuran. Mereka hanya berfikir kentungan besar tanpa memikirkan kerugiannya, tidak ada daerah resapan dan apa hasilnnya? Banjir, tanah longsor, polusi hasil pembakaran hutan, tetap saja yang rugi masyarakat yang tak menerima keuntungannya.
    Betul yang bapa katakan manusia zaman sekarang lebih suka pada sayuran, buahan dan segala macam makanan yang diawetkan, seharusnya kita bisa mengubah gaya hidup kita mulai dari menurangi makanan yang mengandung pengawet, msg, dan makan-makan junk food, jangan membuah sampah kembali kesungai, tangkap para pengusaha yang membuang limbah pabriknya ke laut, mulai lah kita menggunkan sepeda, kurangi penggunaan kendaraan berlebihan, mulai lah menanam pohon di halaman rumah, mulai mengurangi pengunaan listrik dan pendingin ruangan, agar kita bisa mengurangi pemanasan global, agar kita bisa menyatu dengan alam dan agar dunia ini betul-betul indah.
    Wasalamualaikum wr wb

    BalasHapus
  7. Assalamualaikum wr, wb, Pak Nusa.

    Membaca artikel ini, seperti membaca sebuah cerita yang isinya membuat saya merenungkan segala sesuatu yang ada di sekeliling. Semua kata yang tersirat itu memang benar adanya, dan sebagai manusia masa kini saya sudah sedikit menyadari, keberadaan manusia yang seakan berada dalam kotak keterbatasan, dan artikel ini dapat lebih memperjelas itu.

    Sebagai manusia yang masih menghuni bumi yang indah ini, setelah menyadari akan semua keamburadulan yang ada dibumi, sudah selayaknya kita menjaga sesuatu yang yang masih asri, masih sehat untuk makhluk hidup didalamnya. Jangan sampai menambah parah kan dari segala yang sudah rusak dibumi.

    Wassalamualaikum wr,wb.

    Afda Fauziyah / P. IPS A 2014 / 4915142818

    BalasHapus
  8. Beryukur masih hidup diberi kehidupan oleh Tuhan. Masih diberi kesempatan untuk bernafas oleh-Nya. Masih diberi kesempatan untuk melihat gumpalan putih yang menghiasi langit biru . Bahagia sekali masih bisa merasakan hujan.
    Tuhan sangat baik kepada seluruh makhluk hidup di muka bumi. Namun manusia malah merusaknya. Membuat kerusakan di muka bumi serta mengeksploitasi sumber daya demi keuntungan.
    Manusia yang serakah hanya memikirkan keuntungan. Untung, untung, dan untung yang ada di otaknya.

    Triyani ambar sari P.IPS B 2014

    BalasHapus
  9. Viddyaningsih
    P.IPS A 2014

    Ass pak nusa.

    Wonderful Word sebuah ungkapan yang tepat untuk Indonesia, bagaimana tidak Indonesia merupakan sebuah dunia yang indah, amat memposana dengan berbagai macam keunikan serta keanekaragaman sumber daya alamnya, namun sayang keindahan dunia Indonesia yang seperti surga dunia hanya untaian semata, terbukti walaupun Indonesia indah akan alamnya akan tetapi lenyap begitu saja, tak terjaga, tak terpelihara, bahkan kata indah berubah menjadi terbengkalai.

    Fenomena dunia indah seharusnya menjadi fenomena yang menarik tak ada kritikan maupun argumen yang tak pantas untuk dipermasalahkan, akan tetapi pada saat ini dunia indah banyak dipermaslahkan, hal ini dikarenakan banyaknya pencemaran yang terjadi, pencemaran yang seharusnya bukan berada dalam pembahasan dunia indah.

    Ironisnya pencemaran di dunia indah dilakukan oleh makhluk yang mendiaminya yang mempunyai akal , dan perasaan, tapi sangat disayangkan akal dan perasaannya tak dapat digunakan dengan baik, sehingga manusia memang makhluk adaktif yang dapat bersikap acuh dan tak acuh terhadapat kerusakan dan pencemaran yang terjadi di dunia yang indah ini.

    BalasHapus
  10. Nama : Sandra Puspita Sari
    Kelas : P.IPS B 2014
    No.reg : 4915144094

    Assalamu’alaikum wr.wb,

    Tidak dapat kita pungkiri lagi bahwa alam ini makin lama makin kacau dan rusak akibat ulah manusia. Secara sadar maupun tidak sadar banyak ulah manusia yang membuat alam semakin kacau, diantaranya menebang pohon secara liar, membuang sampah sembarangan, dan lainnya. Sikap konsumtif manusia juga adalah salahsatu faktor dari rusaknya alam .

    Selain sikap konsumtif manusia, kemajuan teknologi juga merupakan penyebab rusaknya lingkungan. Teknologi yang semakin maju, banyak disalahgunakan oleh manusia. Contohnya, saat ini banyak orang yang memiliki kendaraan lebih dari satu. Dikarenakan setiap tahunnya kendaraan bar terus diproduksi, sehingga memicu banyak orang ingin selalu memiliki kendaraan yang lebih bagus dan tidak terkesan jadul. Dengan demikian, sekarang polusi udara terjadi dimana-mana.

    Manusia seharusnya sadar dengan apa yang telah dilakukan. Disatu sisi, jika manusia sadar dengan apa yang telah dilakukannya terhadap alam, maka aka nada keuntungan yang besar bagi manusia. Karena hidup manusia itu sebagian bergantung terhadap alam. Khususnya dari bahan makanannya sehari-hari. Jika alam rusak, maka tidak ada lagi yang menjadi produsen untuk manusia dalam memenuhi kebutuhan bahan makanannya.

    Selain sebagai produsen, alam juga merupakan pelindung bagi manusia atau dapat dikatakan sebagai tempat tinggal manusia. Karena jika bukan di alam, manusia tidak memiliki tempat tinggal lain. Jika manusia dapat menjaga dan merawat alam dengan baik, itu merupakan salahsatu keuntungan bagi manusia.

    Terimakasih
    Wassalamu'alaikum wr.wb.

    BalasHapus
  11. Nama : Sandra Puspita Sari
    Kelas : P.IPS B 2014
    No.reg : 4915144094

    Assalamu’alaikum wr.wb,

    Tidak dapat kita pungkiri lagi bahwa alam ini makin lama makin kacau dan rusak akibat ulah manusia. Secara sadar maupun tidak sadar banyak ulah manusia yang membuat alam semakin kacau, diantaranya menebang pohon secara liar, membuang sampah sembarangan, dan lainnya. Sikap konsumtif manusia juga adalah salahsatu faktor dari rusaknya alam .

    Selain sikap konsumtif manusia, kemajuan teknologi juga merupakan penyebab rusaknya lingkungan. Teknologi yang semakin maju, banyak disalahgunakan oleh manusia. Contohnya, saat ini banyak orang yang memiliki kendaraan lebih dari satu. Dikarenakan setiap tahunnya kendaraan bar terus diproduksi, sehingga memicu banyak orang ingin selalu memiliki kendaraan yang lebih bagus dan tidak terkesan jadul. Dengan demikian, sekarang polusi udara terjadi dimana-mana.

    Manusia seharusnya sadar dengan apa yang telah dilakukan. Disatu sisi, jika manusia sadar dengan apa yang telah dilakukannya terhadap alam, maka aka nada keuntungan yang besar bagi manusia. Karena hidup manusia itu sebagian bergantung terhadap alam. Khususnya dari bahan makanannya sehari-hari. Jika alam rusak, maka tidak ada lagi yang menjadi produsen untuk manusia dalam memenuhi kebutuhan bahan makanannya.

    Selain sebagai produsen, alam juga merupakan pelindung bagi manusia atau dapat dikatakan sebagai tempat tinggal manusia. Karena jika bukan di alam, manusia tidak memiliki tempat tinggal lain. Jika manusia dapat menjaga dan merawat alam dengan baik, itu merupakan salahsatu keuntungan bagi manusia.

    Wassalamu'alaikum wr.wb.

    BalasHapus
  12. Assalamu'alaikum wr.wb
    Nama : Yuni Shofarani
    Kelas : Pendidikan IPS B
    No registrasi : 4915142798

    Banyak orang yang kita temukan di berbagai kota maupun negara bersifat sama yaitu tidak puas akan suatu hal. Padahal semua yang ada di dunia diberikan oleh Allah secara gratis. Tetapi kebanyakan dari manusia hanya mengabaikan bahkan tidak menjaganya apa yang diamanatkan oleh Allah.

    Mengabaikan apa yang Allah berikan kepada kita sebagai hambaNya. Dimulai dari kelestarian alam, kebanyakan dari kita tidak menjaga alam paling, tetapi malah membuatnya rusak, bahkan tidak bisa dipergunakan lagi. Penebangan pohon-pohon yang membuat kota semakin gersang, yang seharusnya mereka melakukan reboisasi bukan penebangan liar. Paling hanya segelintir orang saja yang hanya peduli akan pentingnya menjaga apa yang ada di bumi ini.

    Manusia semakin lama semakin tidak mempunyai kesadaran akan pentingnya menjaga alam, padahal alam yang bersih juga untuk kita semua. Kita hanya ingin mengirup udara bersih, tetapi hal yang kita lakukan bukan membuat udara semain bersih, tetapi malah membuat udara yang ada semakin kotor. Padahal kalau bukan dari sekarang kita yang menjaga, siapa lagi? Orang lain? Kebanyakan dari kita hanya memikirkan kepuasan diri sendiri, tidak berpikir kedepan. Bagaimana generasi kita selanjutnya? Apakah masih bisa merasakan hal seperti kita? Tidak berpikir generasi kita selanjutnya dapat menikmati apa yang kita nikmati sekarang.

    Manusia seperti ini bersifat kufur. Kufur akan nikmat yang Allah berikan. Tidak ada rasa bersyukur atas semua kelimpahan yang Allah berikan. Padahal semua yang kita rasakan di dunia diberikan oleh Allah secara cuma-cuma, tetapi kebanyakan dari kita menyalah gunakan apa yang telah Allah berikan kepada kita.

    Wassalamu'alaikum wr.wb

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd