(Doa dan penghargaan bagi Lorens Bagus)
Ia akan terus
dikenang karena karyanya Kamus Filsafat. Kamus Filsafat itu sungguh
mencerminkan penulisnya. Ia sangat hati-hati, cermat, konsisten, rapih,
bercakrawala luas, memiliki pemahaman mendalam, pekerja keras, dan sangat
sabar.
Ia mengajar mata
kuliah Metafisika. Salah satu mata kuliah yang sangat kompleks dan paling
sulit. Ada sejumlah mata kuliah yang harus diikuti dan lulus sebagai
persyaratan untuk bisa masuk ke kelas metafisika. Karena metafisika merambah ke wilayah yang
sangat abstrak, membincangkan sesuatu yang ada di balik atau melampaui fisika
atau yang tampak.
Filsafat memberi
landas tumpu bagi keyakinan pada Yang Ada melalui metafisika. Itu artinya
metafisika mencoba memahami keberadaan Yang Ada dengan argumentasi yang
bersifat rasional. Ini yang membedakannya dengan agama yang juga membahas topik
ini, bisa jadi dengan nama yang lain yang langsung mengarah pada Tuhan.
Secara sederhana
dapat dikatakan metafiska adalah usaha rasional yang bersifat sistematis,
radikal, dan reflektif untuk membuktikan keberadaan Yang Ada. Tidak
mengherankan bila topik ini merupakan topik yang kontroversial sejak zaman kuno
sampai kini.
Filsuf moderen
seperti B. Russel percaya pada Tuhan tetapi tidak melalui dan dengan agama.
Metafisika yang menjadi dasar pendirian dan keyakinannya tersebut. Bagi orang
beragama metafisika biasa digunakan untuk memperkuat kokoh argumentasi
logis-rasional tentang keberadaan Tuhan.
Dosen yang satu
ini sebenarnya bukan hanya menjelaskan hakikat metafisika. Ia berusaha keras
agar para mahasiswa memiliki kemampuan berfikir tingkat tinggi melalui dan
dengan metafisika. Ia kemudian dikenang karena selalu mengingatkan kami pada
awal kuliah bahwa kelurusan dan kecanggihan penalran harus didasarkan pada dua
konsep pokok yaitu jelas dan berbeda.
Maknanya apapun
yang hendak kita fikirkan dan bincangkan, pertama-tama harus jelas, jelas bagi
kita dan dapat kita jelaskan pada orang lain. Jika kita hendak mendiskusikan
tentang bunga, misalnya, apa yang kita maksud dengan bunga. Kita tahu kata
bunga digunakan dengan cara yang berbeda
dalam masyarakat. Kejelasan itu bisa kita dapatkan dengan lebih dulu
membedakan atau mencari perbedaan yang sungguh terjadi dalam penggunaan kata
itu dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja cara ini harus dimulai dengan
pemeriksaan cermat persoalan bahasa seabagi cara ungkap. Memang rumit, dan
terasa agak ngeselin, karena terlalu nyelimet.
Disinilah kehebatan
dosen kami ini. Ia sangat sabar dalam menjelaskan, hati-hati, bahasanya sangat
tertata dan cermat, penalarannya sangat sistematis, dijelaskan tahap-demi tahap,
namun tidak pernah menjadi kaku dan membosankan. Sebab dia sangat pintar
menyelipkan berbagai kelucuan tanpa mengganggu alur utama penalaran. Ia sangat
cerdas memilih berbagai contoh dan cerita yang terkait dengan kehidupan dan
perilaku mahasiswa. Meski kuliah ini sebenarnya sangat serius, tetapi tetap gergeran,
penuh tawa canda dan seloroh yang hangat. Dosen pintar adalah yang mampu
membuat semua yang sulit menjadi mudah melalui mulutnya. Dia memang memenuhi
kriteria ini. Dengannya, semua yang susah menjadi mudah.
Namun, bukan
kecanggihan nalar dan cara mengajarnya yang
sistematis dan menarik yang membuat kami kagum padanya. Melebihi itu adalah sikap yang ditunjukkan dan
dipraktikkannya. Ia benar-benar menyediakan waktu yang sangat memadai untuk
berbincang, berkomunikasi, berdiskusi, dan berdebat dengan kami di laur kelas,
di mana saja.
Ia selalu bilang,
kuliah formal di kelas itu hanya permulaan, suatu titik awal untuk
membincangkan segala hal . Perbincangan informal di luar kelas, di luar jam
kuliah, jauh lebih penting dan bermakna. Interaksi informal ketika kami
berbincang sebagai sesama dan secara bebas membincangkan apa saja adalah proses
pendidikan yang sesungguhnya. Saat kami bisa ngobrol dengan sangat intens,
bebas, dan saling memeriksa semua argumen secara kritis.
Dia dengan sengaja
membangun percakapan itu di bawah pohon dan kami semua berdiri di sekitarnya.
Lebih sering kami yang menentukan topik daripada dia. Dia dengan sabar mendengarkan
uraian dan argumentasi kami. Ia biarkan kami beradu argumentasi sesama kami.
Kemudian dengan sangat hati-hati, ia mulai memeriksa tiap argumen. Tak pernah
ia secara terbuka menyatakan kami salah. Ia tunjukkan bagaimana memperbaiki
sejumlah argumentasi kami yang kurang tepat. Kata kurang tepat lebih serang ia
gunakan daripada kata salah. Ini bukan hanya soal penalaran yang mesti tepat.
Melampaui itu, ini soal kesantunan komunikasi dengan sesama. Sungguh ia
memperlakukan kami sebagai teman yang sama mencaritemukan kebenaran.
Bahasa tubuhnya,
bagaimana ia memegang pundak kami, sangat menunjukkan bahwa baginya, kami
adalah karib bukan murid. Suasana inilah yang tidak bisa kami lupakan, dan yang
membuat kami selalu merindukannya, saat ia memutuskan untuk mengajar di tempat
lain dan kami jadi jarang bertemu dengannya. Kini bila membaca Kamus Filsafat,
benar-benar berbincang dengannya, dengan gayanya yang sangak khas. Ia memang
jempolan sebagai mana namanya, Lorens Bagus.
Nama : Pathurochmah
BalasHapusKelas : P.IPS Reguler B 2013
Guru memang harus bisa mengarahkan para muridnya untuk menjadi lebih cerdas dan kritis, menuntunya dalam kesabaran dan penuhnkasih sayang. Dengan beitu apa yang disampaikan akan lebih mudah terserap dan dipahami
Pertanyaan
1. Apakah sikap bapak dalam mengajar dipengaruhi oleh dosen dan guru bapak sebelumnya?
2. Bagaimana cara menginspirasi seseorang?