Senin, 31 Maret 2014

JELAS DAN BERBEDA

(Doa dan penghargaan bagi Lorens Bagus)

Ia akan terus dikenang karena karyanya Kamus Filsafat. Kamus Filsafat itu sungguh mencerminkan penulisnya. Ia sangat hati-hati, cermat, konsisten, rapih, bercakrawala luas, memiliki pemahaman mendalam, pekerja keras, dan sangat sabar.

Ia mengajar mata kuliah Metafisika. Salah satu mata kuliah yang sangat kompleks dan paling sulit. Ada sejumlah mata kuliah yang harus diikuti dan lulus sebagai persyaratan untuk bisa masuk ke kelas metafisika.  Karena metafisika merambah ke wilayah yang sangat abstrak, membincangkan sesuatu yang ada di balik atau melampaui fisika atau yang tampak.

Filsafat memberi landas tumpu bagi keyakinan pada Yang Ada melalui metafisika. Itu artinya metafisika mencoba memahami keberadaan Yang Ada dengan argumentasi yang bersifat rasional. Ini yang membedakannya dengan agama yang juga membahas topik ini, bisa jadi dengan nama yang lain yang langsung mengarah pada Tuhan.

Secara sederhana dapat dikatakan metafiska adalah usaha rasional yang bersifat sistematis, radikal, dan reflektif untuk membuktikan keberadaan Yang Ada. Tidak mengherankan bila topik ini merupakan topik yang kontroversial sejak zaman kuno sampai kini.

Filsuf moderen seperti B. Russel percaya pada Tuhan tetapi tidak melalui dan dengan agama. Metafisika yang menjadi dasar pendirian dan keyakinannya tersebut. Bagi orang beragama metafisika biasa digunakan untuk memperkuat kokoh argumentasi logis-rasional tentang keberadaan Tuhan.

Dosen yang satu ini sebenarnya bukan hanya menjelaskan hakikat metafisika. Ia berusaha keras agar para mahasiswa memiliki kemampuan berfikir tingkat tinggi melalui dan dengan metafisika. Ia kemudian dikenang karena selalu mengingatkan kami pada awal kuliah bahwa kelurusan dan kecanggihan penalran harus didasarkan pada dua konsep pokok yaitu jelas dan berbeda.

Maknanya apapun yang hendak kita fikirkan dan bincangkan, pertama-tama harus jelas, jelas bagi kita dan dapat kita jelaskan pada orang lain. Jika kita hendak mendiskusikan tentang bunga, misalnya, apa yang kita maksud dengan bunga. Kita tahu kata bunga digunakan dengan cara yang berbeda  dalam masyarakat. Kejelasan itu bisa kita dapatkan dengan lebih dulu membedakan atau mencari perbedaan yang sungguh terjadi dalam penggunaan kata itu dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja cara ini harus dimulai dengan pemeriksaan cermat persoalan bahasa seabagi cara ungkap. Memang rumit, dan terasa agak ngeselin, karena terlalu nyelimet.

Disinilah kehebatan dosen kami ini. Ia sangat sabar dalam menjelaskan, hati-hati, bahasanya sangat tertata dan cermat, penalarannya sangat sistematis, dijelaskan tahap-demi tahap, namun tidak pernah menjadi kaku dan membosankan. Sebab dia sangat pintar menyelipkan berbagai kelucuan tanpa mengganggu alur utama penalaran. Ia sangat cerdas memilih berbagai contoh dan cerita yang terkait dengan kehidupan dan perilaku mahasiswa. Meski kuliah ini sebenarnya sangat serius, tetapi tetap gergeran, penuh tawa canda dan seloroh yang hangat. Dosen pintar adalah yang mampu membuat semua yang sulit menjadi mudah melalui mulutnya. Dia memang memenuhi kriteria ini. Dengannya, semua yang susah menjadi mudah.

Namun, bukan kecanggihan nalar dan cara mengajarnya yang  sistematis dan menarik yang membuat kami kagum padanya. Melebihi  itu adalah sikap yang ditunjukkan dan dipraktikkannya. Ia benar-benar menyediakan waktu yang sangat memadai untuk berbincang, berkomunikasi, berdiskusi, dan berdebat dengan kami di laur kelas, di mana saja.

Ia selalu bilang, kuliah formal di kelas itu hanya permulaan, suatu titik awal untuk membincangkan segala hal . Perbincangan informal di luar kelas, di luar jam kuliah, jauh lebih penting dan bermakna. Interaksi informal ketika kami berbincang sebagai sesama dan secara bebas membincangkan apa saja adalah proses pendidikan yang sesungguhnya. Saat kami bisa ngobrol dengan sangat intens, bebas, dan saling memeriksa semua argumen secara kritis.

Dia dengan sengaja membangun percakapan itu di bawah pohon dan kami semua berdiri di sekitarnya. Lebih sering kami yang menentukan topik daripada dia. Dia dengan sabar mendengarkan uraian dan argumentasi kami. Ia biarkan kami beradu argumentasi sesama kami. Kemudian dengan sangat hati-hati, ia mulai memeriksa tiap argumen. Tak pernah ia secara terbuka menyatakan kami salah. Ia tunjukkan bagaimana memperbaiki sejumlah argumentasi kami yang kurang tepat. Kata kurang tepat lebih serang ia gunakan daripada kata salah. Ini bukan hanya soal penalaran yang mesti tepat. Melampaui itu, ini soal kesantunan komunikasi dengan sesama. Sungguh ia memperlakukan kami sebagai teman yang sama mencaritemukan kebenaran.  

Bahasa tubuhnya, bagaimana ia memegang pundak kami, sangat menunjukkan bahwa baginya, kami adalah karib bukan murid. Suasana inilah yang tidak bisa kami lupakan, dan yang membuat kami selalu merindukannya, saat ia memutuskan untuk mengajar di tempat lain dan kami jadi jarang bertemu dengannya. Kini bila membaca Kamus Filsafat, benar-benar berbincang dengannya, dengan gayanya yang sangak khas. Ia memang jempolan sebagai mana namanya, Lorens Bagus.

GURU SEJATI ADALAH MENELADANKAN DAN MENGINSPIRASI.

1 komentar:

  1. Nama : Pathurochmah
    Kelas : P.IPS Reguler B 2013
    Guru memang harus bisa mengarahkan para muridnya untuk menjadi lebih cerdas dan kritis, menuntunya dalam kesabaran dan penuhnkasih sayang. Dengan beitu apa yang disampaikan akan lebih mudah terserap dan dipahami
    Pertanyaan
    1. Apakah sikap bapak dalam mengajar dipengaruhi oleh dosen dan guru bapak sebelumnya?
    2. Bagaimana cara menginspirasi seseorang?

    BalasHapus

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd