Alam adalah anugerah luar biasa.
Pesonanya menggetarkan sukma. Di bawah hujan sangat deras, alam Baduy sangat
indah dan menantang. Kehijauan rimbun sejauh mata memandang. Pohon-pohon besar
terlihat perkasa diterpa lebat hujan, daun menghijau berkilauan, padi yang
masih hijau menjadi hamparan menghiasi bukit yang naik turun sepanjang jalan.
Sungguh hutan tropis yang indah mempesona.
Tidak seperti hutan tropis Avatar James
Cameron yang spektakuler dan artifisial karena diciptakan dengan sentuhan
teknologi digital. Bunga-bunga dalam Avatar memang canggih, seperti lampu hias
di mall dan hotel-hotel bintang lima, penuh warna dan kilau, tapi rasanya tak
pernah bisa menyentuh sensistivitas hati. Ya sekedar enak dipandang, namun tak
memberi kesadaran eksistensial tentang persaudaraan alam dan manusia.
Alam Baduy adalah hutan hujan yang
sangat subur. Di pinggir dan di tengah hutan yang mempesona dan menantang ini
terdapat 59 desa Baduy. Tiga desa terjauh yang berjarak sekitar 25 km dari desa
terluar disebut Baduy Dalam, pusat dunia dan spiritual semua orang Baduy.
Dibutuhkan waktu 5-6 jam untuk sampai ke sana. Waktu lebih panjang harus
ditempuh bila hujan deras seperti ini. Sebab jalan berlumpur dan sangat licin,
sementara batu-batu besar yang ada di sepanjang jalan terasa tajam jika
tersentuh telapak kaki.
Orang-orang Baduy melewatinya dengan
alas kaki buatan Tuhan yaitu nyekerman alias telanjang kaki. Tampaknya,
kebiasaan berjalan dengan telanjang kaki telah ikut menyehatkan orang-orang
Baduy yang terkenal kuat, sehat dan segar. Karena telapak kaki mereka
direfleksi oleh tanah, lumpur, dan
bebatuan.
Perjalanan harus dilakukan dengan
hati-hati. Pada sebagian besar jalan, di sebelah kanan merupakan tebing yang
tinggi, pohon-pohon besar, juga ada persawahan. Di sebelah kiri menganga jurang
yang dalam. Meski agak mengerikan namun tetap mempesona dan mengundang decak
kagum, sebab pada kemiringan 60-80 derajat, orang-orang Baduy menananaminya
padi, dengan jarak tanam yang sangat teratur dan terukur. Luar biasa, mereka
menanam padi di kemiringan itu tanpa alat bantu untuk berdiri.
Di jalanan sempit itu orang-orang
Baduy, mulai dari kanak-kanak berusia empat tahun, sampai yang berusia sangat
tua, perempuan dan lelaki bejalan setengah berlari dengan sangat cepat. Mereka
tidak pernah berjalan dengan tangan kosong. Para lelaki memikul durian, yang
berusia sekitar sepuluh tahun memikul 15-20 buah durian, yang lebih besar bisa
melampaui 50 buah. Para perempuan membawa gula aren dan sayuran.
Orang Baduy percaya, mereka adalah
keturunan langsung Nabi Adam, dan alam tempat mereka hidup adalah pusat dunia.
Karena itu, alam adalah saudara tua dan guru mereka. Alam yang dihormati dan
dipelihara adalah hamparan rezeki yang berlimpah, yang memberikan pengasuhan
dan perlindungan. Alam menjadi petaka jika disakiti, dieksploitasi dan sekedar
dijadikan komoditi dalam paradigma transaksi jual-beli. Alam bukanlah benda
mati, tapi hidup dan menghidupi, anugerah Penguasa alam yang selalu memberkahi
siapa pun yang merawat alam, mengambil daripadanya untuk mempertahankan dan
memelihara hidup dan kehidupan. Bukan untuk memperkaya diri.
Alam mengajarkan pada mereka bagaimana hidup harmonis dengannya. Itulah
sebabnya orang Baduy, terutama Baduy Dalam, tidak menggunakan sandal, agar
dapat merasakan sentuhannya setiap hari. Tidak menggunakan pupuk selain yang
didapat langsung dari alam, melarang semua makanan yang tidak diambil langsung
dari alam. Mereka sehat, segar dan berumur panjang. Tak ada orang Baduy terkena
sakit jantung, stroke diabetes dan penyakit degeneratif lainnya.
Perjalanan menuju Baduy Dalam semakin
jauh memasuki belantara. Jalanan mendaki dan menurun bergantian, sedikit sekali
jalan yang mendatar. Tentu ada rasa kengerian, karena jalan semakin sempit,
berlumpur dan licin. Tak ada tempat untuk berpegangan, rumput-rumput di dinding
tebing, pendek-pendek dan licin. Beberapa mahasiswi terpeleset dan berteriak.
Tidak mudah untuk menolongnya, sebab jalanan yang sempit hanya memungkinkan dua orang yaitu yang di
depan dan di belakangnya yang dapat menolong. Persoalannya adalah rombongan ini
sebagian besar, sekitar 70 persen, perempuan.
Perjalanan sulit, menantang dan agak
mengerikan di belantara Baduy ini pada hakikatnya adalah perjalan mendaki ke
dalam diri, untuk menakar seberapa kuat otot , setegar apa hati, sebesar apa
semangat, sekuat apa kesabaran, setebal apa rasa peduli dan empati kita. Di
alam terbuka, dalam kesulitan yang seringkali tak terperikan biasanya muncul
karakter asli setiap orang. Warna-warni pribadi terpapar sangat jelas,
telanjang terbuka tanpa argumentasi. Karena semuanya muncul dalam sikap, sifat
dan respon yang spontan. Ada yang membantu teman lain dengan ikhlas, ada pula
yang melakukannya dengan pamrih. Bukankah ini kesempatan untuk melakukan
pedekate alias pendekatan terhadap seseorang yang selama ini diincar tapi
selalu menolak? Tak jarang kesempatan seperti ini jadi ajang pameran. Banyak
hal bisa dipamerkan. Tapi, situasi ini dapat pula dimanfaatkan untuk mengolah
semua karakter kebaikan, menumbuhkan rasa percaya diri dan empati, tanpa
berharap keuntungan apapun.
Hujan tak juga mereda, jejak-jejak kaki
semakin dalam di tanah basah yang licin. Jalan mendaki yang sangat menyulitkan
dengan kemiringan hampir 70 derajat selepas kali kecil yang jernih dan sejuk,
harus didaki. Seperti diduga, keaslian tiap orang terejawantahkan di sini. Ini
gambaran kecil manusia. Betapa sulit mencari teman seiring disaat sulit.
Sebagian besar orang ingin sampai ke puncak sendirian. Kalaupun melihat ke
bawah bukan untuk membantu agar bisa menolong, tapi untuk memastikan bahwa aku
tak akan terlapaui. Situasi seperti ini terjadi pada bayak orang di mana saja.
Beberapa ada yang mengulurkan tangan, membantu teman yang tampak mengalami
kesulitan, sayangnya dengan bonus perkataan tak sedap, " Kamu jalannya
kayak nenek-nenek, sih!" Ya.... tidak pernah mudah untuk berbuat baik
secara ikhlas.
Tidak demikian dengan orang Baduy,
mereka berjalan beriringan, tidak pernah berjauhan. Mereka memang tidak
berbicara atau bercanda seperti para pendatang. Sebab mereka tahu ini bukan
saat bagus untuk berbincang. Ini saat untuk fokus dan saling menjaga. Bukankah
banyak bicara sangat menghabiskan energi yang dibutuhkan untuk memikul barang
berat di jalan mendaki-menurun dan licin? Sungguh mereka menjaga teman seiring
dan saling membantu.
Mungkin salah satu yang membuat
perbedaan itu adalah alam di mana kita tumbuh kembang. Orang Baduy tumbuh
kembang di belantara yang meski tampak mengerikan, dan penuh misteri, tetapi
sangat sehat dan mempesona yaitu hutan belantara yang sebagian besar berisi
hidup dan kehidupan. Sedangkan kita tumbuh kembang di hutan belantara beton
meteropolitan yang sangat artifisial. Belantara yang disesaki gedung-gedung
tinggi yang kaku dan angkuh, suara bising kendaraan, langit hitam penuh racun
polusi, orang-orang yang bergerak cepat dengan tujuan masing-masing, kekacauan
jalanan yang dahsyat, kepadatan manusia dan kendaraan yang terus-menerus
memuntahkan karbondioksida, oksigen yang makin menipis, makanan yang penuh
racun, sumber-sumber kehidupan yang semakin sulit didapat, mungkin telah
memetamorfosa kita menjadi sejenis 'binatang buas' yang kendali dirinya adalah
kepentingan pribadi atau kelompok. Dalam semua kekacauan itu, jangan-jangan
kita tak tahu persis siapa diri kita sebenarnya?
Apakah berlebihan atas dasar fakta yang
terpapar di atas, dirumuskan hipotesis kecil bahwa:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd