Selasa, 01 Januari 2013

PERJALANAN KE BADUY DALAM DI BAWAH HUJAN DERAS



Alam adalah anugerah luar biasa. Pesonanya menggetarkan sukma. Di bawah hujan sangat deras, alam Baduy sangat indah dan menantang. Kehijauan rimbun sejauh mata memandang. Pohon-pohon besar terlihat perkasa diterpa lebat hujan, daun menghijau berkilauan, padi yang masih hijau menjadi hamparan menghiasi bukit yang naik turun sepanjang jalan. Sungguh hutan tropis yang indah mempesona.

Tidak seperti hutan tropis Avatar James Cameron yang spektakuler dan artifisial karena diciptakan dengan sentuhan teknologi digital. Bunga-bunga dalam Avatar memang canggih, seperti lampu hias di mall dan hotel-hotel bintang lima, penuh warna dan kilau, tapi rasanya tak pernah bisa menyentuh sensistivitas hati. Ya sekedar enak dipandang, namun tak memberi kesadaran eksistensial tentang persaudaraan alam dan manusia.

Alam Baduy adalah hutan hujan yang sangat subur. Di pinggir dan di tengah hutan yang mempesona dan menantang ini terdapat 59 desa Baduy. Tiga desa terjauh yang berjarak sekitar 25 km dari desa terluar disebut Baduy Dalam, pusat dunia dan spiritual semua orang Baduy. Dibutuhkan waktu 5-6 jam untuk sampai ke sana. Waktu lebih panjang harus ditempuh bila hujan deras seperti ini. Sebab jalan berlumpur dan sangat licin, sementara batu-batu besar yang ada di sepanjang jalan terasa tajam jika tersentuh telapak kaki.

Orang-orang Baduy melewatinya dengan alas kaki buatan Tuhan yaitu nyekerman alias telanjang kaki. Tampaknya, kebiasaan berjalan dengan telanjang kaki telah ikut menyehatkan orang-orang Baduy yang terkenal kuat, sehat dan segar. Karena telapak kaki mereka direfleksi oleh  tanah, lumpur, dan bebatuan.

Perjalanan harus dilakukan dengan hati-hati. Pada sebagian besar jalan, di sebelah kanan merupakan tebing yang tinggi, pohon-pohon besar, juga ada persawahan. Di sebelah kiri menganga jurang yang dalam. Meski agak mengerikan namun tetap mempesona dan mengundang decak kagum, sebab pada kemiringan 60-80 derajat, orang-orang Baduy menananaminya padi, dengan jarak tanam yang sangat teratur dan terukur. Luar biasa, mereka menanam padi di kemiringan itu tanpa alat bantu untuk berdiri.

Di jalanan sempit itu orang-orang Baduy, mulai dari kanak-kanak berusia empat tahun, sampai yang berusia sangat tua, perempuan dan lelaki bejalan setengah berlari dengan sangat cepat. Mereka tidak pernah berjalan dengan tangan kosong. Para lelaki memikul durian, yang berusia sekitar sepuluh tahun memikul 15-20 buah durian, yang lebih besar bisa melampaui 50 buah. Para perempuan membawa gula aren dan sayuran.

Orang Baduy percaya, mereka adalah keturunan langsung Nabi Adam, dan alam tempat mereka hidup adalah pusat dunia. Karena itu, alam adalah saudara tua dan guru mereka. Alam yang dihormati dan dipelihara adalah hamparan rezeki yang berlimpah, yang memberikan pengasuhan dan perlindungan. Alam menjadi petaka jika disakiti, dieksploitasi dan sekedar dijadikan komoditi dalam paradigma transaksi jual-beli. Alam bukanlah benda mati, tapi hidup dan menghidupi, anugerah Penguasa alam yang selalu memberkahi siapa pun yang merawat alam, mengambil daripadanya untuk mempertahankan dan memelihara hidup dan kehidupan. Bukan untuk memperkaya diri.

Alam mengajarkan pada mereka  bagaimana hidup harmonis dengannya. Itulah sebabnya orang Baduy, terutama Baduy Dalam, tidak menggunakan sandal, agar dapat merasakan sentuhannya setiap hari. Tidak menggunakan pupuk selain yang didapat langsung dari alam, melarang semua makanan yang tidak diambil langsung dari alam. Mereka sehat, segar dan berumur panjang. Tak ada orang Baduy terkena sakit jantung, stroke diabetes dan penyakit degeneratif lainnya.

Perjalanan menuju Baduy Dalam semakin jauh memasuki belantara. Jalanan mendaki dan menurun bergantian, sedikit sekali jalan yang mendatar. Tentu ada rasa kengerian, karena jalan semakin sempit, berlumpur dan licin. Tak ada tempat untuk berpegangan, rumput-rumput di dinding tebing, pendek-pendek dan licin. Beberapa mahasiswi terpeleset dan berteriak. Tidak mudah untuk menolongnya, sebab jalanan yang sempit  hanya memungkinkan dua orang yaitu yang di depan dan di belakangnya yang dapat menolong. Persoalannya adalah rombongan ini sebagian besar, sekitar 70 persen, perempuan.

Perjalanan sulit, menantang dan agak mengerikan di belantara Baduy ini pada hakikatnya adalah perjalan mendaki ke dalam diri, untuk menakar seberapa kuat otot , setegar apa hati, sebesar apa semangat, sekuat apa kesabaran, setebal apa rasa peduli dan empati kita. Di alam terbuka, dalam kesulitan yang seringkali tak terperikan biasanya muncul karakter asli setiap orang. Warna-warni pribadi terpapar sangat jelas, telanjang terbuka tanpa argumentasi. Karena semuanya muncul dalam sikap, sifat dan respon yang spontan. Ada yang membantu teman lain dengan ikhlas, ada pula yang melakukannya dengan pamrih. Bukankah ini kesempatan untuk melakukan pedekate alias pendekatan terhadap seseorang yang selama ini diincar tapi selalu menolak? Tak jarang kesempatan seperti ini jadi ajang pameran. Banyak hal bisa dipamerkan. Tapi, situasi ini dapat pula dimanfaatkan untuk mengolah semua karakter kebaikan, menumbuhkan rasa percaya diri dan empati, tanpa berharap keuntungan apapun.

Hujan tak juga mereda, jejak-jejak kaki semakin dalam di tanah basah yang licin. Jalan mendaki yang sangat menyulitkan dengan kemiringan hampir 70 derajat selepas kali kecil yang jernih dan sejuk, harus didaki. Seperti diduga, keaslian tiap orang terejawantahkan di sini. Ini gambaran kecil manusia. Betapa sulit mencari teman seiring disaat sulit. Sebagian besar orang ingin sampai ke puncak sendirian. Kalaupun melihat ke bawah bukan untuk membantu agar bisa menolong, tapi untuk memastikan bahwa aku tak akan terlapaui. Situasi seperti ini terjadi pada bayak orang di mana saja. Beberapa ada yang mengulurkan tangan, membantu teman yang tampak mengalami kesulitan, sayangnya dengan bonus perkataan tak sedap, " Kamu jalannya kayak nenek-nenek, sih!" Ya.... tidak pernah mudah untuk berbuat baik secara ikhlas.

Tidak demikian dengan orang Baduy, mereka berjalan beriringan, tidak pernah berjauhan. Mereka memang tidak berbicara atau bercanda seperti para pendatang. Sebab mereka tahu ini bukan saat bagus untuk berbincang. Ini saat untuk fokus dan saling menjaga. Bukankah banyak bicara sangat menghabiskan energi yang dibutuhkan untuk memikul barang berat di jalan mendaki-menurun dan licin? Sungguh mereka menjaga teman seiring dan saling membantu.

Mungkin salah satu yang membuat perbedaan itu adalah alam di mana kita tumbuh kembang. Orang Baduy tumbuh kembang di belantara yang meski tampak mengerikan, dan penuh misteri, tetapi sangat sehat dan mempesona yaitu hutan belantara yang sebagian besar berisi hidup dan kehidupan. Sedangkan kita tumbuh kembang di hutan belantara beton meteropolitan yang sangat artifisial. Belantara yang disesaki gedung-gedung tinggi yang kaku dan angkuh, suara bising kendaraan, langit hitam penuh racun polusi, orang-orang yang bergerak cepat dengan tujuan masing-masing, kekacauan jalanan yang dahsyat, kepadatan manusia dan kendaraan yang terus-menerus memuntahkan karbondioksida, oksigen yang makin menipis, makanan yang penuh racun, sumber-sumber kehidupan yang semakin sulit didapat, mungkin telah memetamorfosa kita menjadi sejenis 'binatang buas' yang kendali dirinya adalah kepentingan pribadi atau kelompok. Dalam semua kekacauan itu, jangan-jangan kita tak tahu persis siapa diri kita sebenarnya?

Apakah berlebihan atas dasar fakta yang terpapar di atas, dirumuskan hipotesis kecil bahwa:

HUTAN BELANTARA HIJAU DAN ASLI MENUMBUHKEMBANGKANKAN ORANG BADUY MENJADI MANUSIA BIJAK, DAN HUTAN BELANTARA ARTIFISIAL METRPOLITAN MENUMBUHKAN ORANG KOTA MENJADI MANUSIA BAJAK?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd