Bermalam di Baduy luar, mendampingi
mahasiswa yang melakukan studi lapangan. Ada kesyahduan dalam sunyi. Zikir
jangkrik bersahut-sahutan di bawah bulan temaram menegaskan alam selalu dan
selalu tunduk dalam keihklasan. Pohon-pohon runduk, bertasbih bersama sepoi
angin malam. Perlahan udara malam menusuk sumsum paling dalam. Dingin
menulangsumsum. Sangat terasa, alam adalah kerabat dekat, saudara sekandung
yang saling membutuhkan dan saling mendukung. Tubuh terasa sangat sensitif,
menyambut sapaan alam yang lembut. Ada kenikmatan dalam malam yang makin
dingin. Dingin yang turun dari langit dengan lembut. Sepoi angin mengusap tubuh
bagai tangan-tangan bayi yang lembut. Malam ini indah karena menghadirkan
kemanusiaan yang otentik dalam alam yang melindungi, mendekap erat tubuh dalam
kesyahduan sunyi.
Ada nyanyian burung malam, solilokui
cicak, lolonglengking anjing dan suara-suara malam yang mitis dibawa angin.
Malam jadi misteri karena temaram berubah kelam. Nyembul kesadaran, betapa
hiruk pikuk kota besar, gigitan dingin air
conditioning, dan keriuhan acara televisi telah memberi sedikit hiburan dan
kesenangan, tapi merenggut banyak sisi-sisi kemanusiaan kita.
Kesibukan pekerjaan, keharusan mengejar dan
mencapai target tahunan, serta kehadiran teknologi yang telah menjadi bagian
dari metabolisme keseharian, bukan saja mengacaukan syaraf, juga
memajaltumpulkan sensitivitas nurani kemanusiaan kita. Sering kali kita bergerak
bagai robot yang telah diprogram, bergerak cepat dan mengikuti pola-pola yang
telah dirancang tanpa penghayatan dan pelibatan emosi dan nurani. Kita
sepenuhmya dikendalikan oleh kalkulasi kuantitaif dan kehilangan sentuhan jiwa
kemanusiaan. Rutinitas yang kadang tak terelakkan, memetamorfosa kita jadi
mesin, yang bergerak mengikuti pola yang sama dan seragam, dalam pengulangan
dan monotoni,telah mereduksi kita menjadi sekedar sekrup dalam mesin besar
masyarakat moderen.
Modernitas memberi kelimpahan materi yang luar
biasa, berupa berbagai piranti teknologi canggih yang mempermudah kehidupan,
bermacam makanan artifisial yang membuat lidah menari jaipong, pengisisan waktu
luang yang terjadwal dengan ketat dan sistematis. Membuat manusia sampai ke bulan,
berpariwisata ke angkasa luar, berkomunikasi dengan siapa dan di mana pun.
Modernitas tampaknya telah membuat manusia memenuhi hampir semua mimpi binalnya
tentang hidup yang lebih canggih, spektakuler dan praktis.
Tetapi semakin hari tampak modernitas dengan
segala penalaran, pola, modus dan seluruh karya ciptanya, ternyata memberi
terlalu sedikit, dan mengambil terlalu banyak dari kemanusiaan kita. Waktu
luang yang dijadwal dengan ketat hanya memindahkan kegiatan kantor di alam
terbuka, memberi kegembiraan yang kehilangan spontanitas. Teknologi
menghasilkan mesin perang, dan mengendalikan hidup kita dalam ketergantungan
yang luar biasa. Masih mampukah kita membunuh telepon genggam selama 24 jam?
Apa isi malam-malam panjang jika televisi dibiarkan mati.
Lihatlah sebagian anak-anak muda kita
yang memenuhi malam dalam dentum musik keras di diskotik atau mengungkapkan
kepedihan hati tersembunyi, menghindari sepi malam di karaoke. Apakah semua itu
adalah kegembiraan atau sekedar pelarian dari hidup yang semakin menekan
mengancam? Atau pengalihan keletihan berlebih karena disiksa pekerjaan?
Amati ruang-ruang perawatan di rumah
sakit, berapa banyak yang terkapar dihantam gangguan jantung yang detaknya
bergaya rock n roll, diabetes yang naik turun kadarnya seperti harga saham,
kanker yang meyebar, stroke yang mengacaukan sistem syaraf, dan macam-macam
gangguan jiwa karena gaya hidup modern. Salah satu penyebabnya adalah serangan
dahsyat kolesterol dari beragam makanan artifisial, yang memberi sedikit
kenikmatan di lidah, kemudian menghancurkan semua organ tubuh, satu persatu
tanpa ampun.
Di sini, di Baduy orang-orang hidup
sangat bersahaja. Tanpa listrik dan ikutannya seperti televisi, kulkas dan ac.
Tanaman dibesarkan tanpa pestisida. Hari-hari dihayati dengan tenang mengalir.
Alam adalah saudara tua yang harus dihormati dan dipelihara. Modernitas
dihayati sebagai pamali yang harus dihindari.
bener banget pak. :D
BalasHapus