Selasa, 01 Januari 2013

BERMALAM DI BADUY LUAR



Bermalam di Baduy luar, mendampingi mahasiswa yang melakukan studi lapangan. Ada kesyahduan dalam sunyi. Zikir jangkrik bersahut-sahutan di bawah bulan temaram menegaskan alam selalu dan selalu tunduk dalam keihklasan. Pohon-pohon runduk, bertasbih bersama sepoi angin malam. Perlahan udara malam menusuk sumsum paling dalam. Dingin menulangsumsum. Sangat terasa, alam adalah kerabat dekat, saudara sekandung yang saling membutuhkan dan saling mendukung. Tubuh terasa sangat sensitif, menyambut sapaan alam yang lembut. Ada kenikmatan dalam malam yang makin dingin. Dingin yang turun dari langit dengan lembut. Sepoi angin mengusap tubuh bagai tangan-tangan bayi yang lembut. Malam ini indah karena menghadirkan kemanusiaan yang otentik dalam alam yang melindungi, mendekap erat tubuh dalam kesyahduan sunyi.

Ada nyanyian burung malam, solilokui cicak, lolonglengking anjing dan suara-suara malam yang mitis dibawa angin. Malam jadi misteri karena temaram berubah kelam. Nyembul kesadaran, betapa hiruk pikuk kota besar, gigitan dingin air conditioning, dan keriuhan acara televisi telah memberi sedikit hiburan dan kesenangan, tapi merenggut banyak sisi-sisi kemanusiaan kita.

 Kesibukan pekerjaan, keharusan mengejar dan mencapai target tahunan, serta kehadiran teknologi yang telah menjadi bagian dari metabolisme keseharian, bukan saja mengacaukan syaraf, juga memajaltumpulkan sensitivitas nurani kemanusiaan kita. Sering kali kita bergerak bagai robot yang telah diprogram, bergerak cepat dan mengikuti pola-pola yang telah dirancang tanpa penghayatan dan pelibatan emosi dan nurani. Kita sepenuhmya dikendalikan oleh kalkulasi kuantitaif dan kehilangan sentuhan jiwa kemanusiaan. Rutinitas yang kadang tak terelakkan, memetamorfosa kita jadi mesin, yang bergerak mengikuti pola yang sama dan seragam, dalam pengulangan dan monotoni,telah mereduksi kita menjadi sekedar sekrup dalam mesin besar masyarakat moderen.

 Modernitas memberi kelimpahan materi yang luar biasa, berupa berbagai piranti teknologi canggih yang mempermudah kehidupan, bermacam makanan artifisial yang membuat lidah menari jaipong, pengisisan waktu luang yang terjadwal dengan ketat dan sistematis. Membuat manusia sampai ke bulan, berpariwisata ke angkasa luar, berkomunikasi dengan siapa dan di mana pun. Modernitas tampaknya telah membuat manusia memenuhi hampir semua mimpi binalnya tentang hidup yang lebih canggih, spektakuler dan praktis.

Tetapi semakin hari tampak modernitas dengan segala penalaran, pola, modus dan seluruh karya ciptanya, ternyata memberi terlalu sedikit, dan mengambil terlalu banyak dari kemanusiaan kita. Waktu luang yang dijadwal dengan ketat hanya memindahkan kegiatan kantor di alam terbuka, memberi kegembiraan yang kehilangan spontanitas. Teknologi menghasilkan mesin perang, dan mengendalikan hidup kita dalam ketergantungan yang luar biasa. Masih mampukah kita membunuh telepon genggam selama 24 jam? Apa isi malam-malam panjang jika televisi dibiarkan mati.

Lihatlah sebagian anak-anak muda kita yang memenuhi malam dalam dentum musik keras di diskotik atau mengungkapkan kepedihan hati tersembunyi, menghindari sepi malam di karaoke. Apakah semua itu adalah kegembiraan atau sekedar pelarian dari hidup yang semakin menekan mengancam? Atau pengalihan keletihan berlebih karena disiksa pekerjaan?

Amati ruang-ruang perawatan di rumah sakit, berapa banyak yang terkapar dihantam gangguan jantung yang detaknya bergaya rock n roll, diabetes yang naik turun kadarnya seperti harga saham, kanker yang meyebar, stroke yang mengacaukan sistem syaraf, dan macam-macam gangguan jiwa karena gaya hidup modern. Salah satu penyebabnya adalah serangan dahsyat kolesterol dari beragam makanan artifisial, yang memberi sedikit kenikmatan di lidah, kemudian menghancurkan semua organ tubuh, satu persatu tanpa ampun.

Di sini, di Baduy orang-orang hidup sangat bersahaja. Tanpa listrik dan ikutannya seperti televisi, kulkas dan ac. Tanaman dibesarkan tanpa pestisida. Hari-hari dihayati dengan tenang mengalir. Alam adalah saudara tua yang harus dihormati dan dipelihara. Modernitas dihayati sebagai pamali yang harus dihindari.

ORANG BADUY MEMANG BERSAHAJA, TETAPI BISA JADI HIDUP MEREKA LEBIH BERMAKNA DAN BERKUALITAS DARIPADA KITA, SANDERA MODERNITAS.

1 komentar:

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd