Nusa Putra
PEMBUKA
Alhamdullillah. Banyak teman
mengapresiasi tulisan yang berjudul MENULISLAH SEPERTI SHALAT. Tulisan itu
katanya memberi inspirasi. Tidak sedikit teman yang meminta agar aku
menjelaskan proses penulisan buku secara lebih rinci agar bisa dijadikan model untuk diteladani dan dikritisi. Ada
pula yang menanyakan motivasi yang mendasari penulisan buku-buku itu. Pertanyaan
lain adalah, apakah berbagai kegiatan yang kulakukan selama ini, baik di kampus
maupun di luar kampus ikut mempengaruhi penulisan buku-bukuku? Izinkan aku
bercerita merespon beragam permintaan itu.
MOTIVASI
Aku tidak menulis karena ingin naik
pangkat atau menjadi orang yang relatif lebih dikenal. Juga bukan untuk
mendapatkan tambahan penghasilan. Bila untuk keperluan naik pangkat rasanya
tidak perlu menulis buku sebanyak itu. Bukankah dalam konteks penilaian, satu
tahun buku yang diperhitungkan dan dinilai hanya satu? Aku sudah lebih dari 10
tahun tidak tertarik untuk mengurusi kenaikan pangkat, sebab belum dapat
hidayah untuk mengurusnya.
Motivasi penulisan buku-buku itu
sepenuhnya spiritual. Nabi Muhammad SAW
menegaskan bila anak cucu adam game over alias wafat, maka ada tiga hal yang
memungkinkan untuk terus mengisi flashdisk
kebaikannya yang sangat bermanfaat pada kehidupan di seberang kematian yaitu:
anak shaleh, amal jariah, dan ilmu yang bermanfaat.
Ilmuku memang tidak banyak, dan aku
bukanlah orang jenius. Tetapi keadaan ini kan tidak menghalangiku untuk membuat
ilmu yang sedikit itu bermanfaat. Karena itu kuputuskan untuk menulis buku, dan
mulai mengurangi pekerjaan yang memberikan penghasilan tambahan. Sebab, aku tak
pernah tahu, kapan sang maut itu datang dan mengajakku pergi bersamanya. Ku
segerakan menulis karena kesadaran betapa kematian itu melekat sangat kuaterat
dalam jantung kehidupan.
Chairil Anwar penyair besar bilang, Sekali berarti, setelah itu mati.
Sementara itu Putu Wijaya, sastrawan kita paling produktif menanggapinya dan
tegaskan, Sekali berarti, hidup baru dimulai. Aku beda betul dengan mereka,
bagiku ungkapan yang kupedomani adalah SETELAH MATI, TETAP BERARTI. Menulis
buku adalah salah satu modus yang bisa kukerjakan untuk memenuhinya.
MODAL PENULISAN BUKU
Aku mulai dari apa yang aku miliki
yaitu pengalaman dan refleksi terhadap pengalaman itu. Bertahun-tahun aku
mengurusi anak jalanan, anak pasar dan anak-anak daerah kumuh di Jakarta, baik
sendirian, bersama beberapa teman, maupun sebagai relawan pada Yayasan Nanda
Dian Nusantara (YNDN). Kami mengurusi dan memberdayakan anak-anak itu dan
keluraganya.
Pada akhir 1980, aku beberapa kali
melakukan penelitian kualitatif di bawah bimbingan Prof. Dr. Conny R. Semiawan.
Beliau memberikan sejumlah buku penelitian kualitatif yang utama, antara lain
karya Denzin, Guba dan sejumlah penulis lain. Kemudian bersama Dr. Moleong,
penulis buku Penelitian Kualitatif, aku melakukan penelitian kualitatif, masih
di bawah bimbingan Prof. Conny. Prof. Conny pula yang memperkenalkanku pada
sejumlah tokoh yang membuatku belajar banyak mengenai kebudayaan dan pandangan
filosofis tentang kehidupan. Beberapa di antara mereka adalah Soedjatmoko,
Prof. Dr. Umar Kayyam, Romo Mangunwijaya, dan Prof. Dr. Fuad Hassan.
Pada awal 1990, Prof. Dr. Ir Jujun S. Suriasumantri
selaku Ketua Lembaga Penelitian IKIP Jakarta memintaku melakukan penelitian
kualitatif sampai dua kali dalam tiga tahun berturut-turut sebagai upaya untuk
menunjukkan apresiasi terhadap metode penelitian kualitatif. Pekerjaan meneliti semakin sering kulakukan ketika Lembaga
Penelitian IKIP/Universitas Negeri Jakarta dipimpin oleh Prof. Dr. I Made
Putrawan dan Dr. Syarifudin. Aku juga membantu sejumlah LSM melakukan
penelitian kualitatif dan partisipatori. Kerjasama YNDN dan USAID menempatkanku
menjadi penangungjawab sosialisasi bahaya HIV/AIDS di kalangan anak jalanan,
bencong, dan WTS. Sebuah upaya sosialisasi yang dirempahi dengan pemberdayaan.
Pada pertengahan sampai akhir tahun
1990, Prof. Dr. H.A.R Tilaar M.Sc.Ed. dan Prof. Dr. Winarno Surachmad
melibatkanku dalam banyak penelitian berskala nasional pada lembaga yang mereka
pimpin yaitu Lembaga Penelitian dan Manajemen Pendidikan (LPMP). Aku selalu
diberi tugas untuk mengumpulkan data kualitatif terutama melalui wancara mendalam.
Penelitian-penelitian yang dikerjakan itu memberi aku kesempatan untuk bertatap
muka dengan banyak orang terutama dari pedesaan-pedesaan di NTT, Yogya, Maluku
Utara, Pesisir Pariaman dan banyak tempat lain. Sungguh ini mengasah
kemampuanku melakukan penelitian nonkuantitatif.
Awal tahun 2000an Dr. Hafid Abbas
selaku Dirjen HAM melibatkanku pada banyak kegiatan sosialisai dan
penyebarluasan HAM bagi banyak kalangan di berbagai daerah. Kesempatan ini juga
memberiku peluang untuk belajar semakin mendalam tetang manusia dan masyarakat
dengan sudut pandang kualitatif dan pemberdayaan. Kemudian aku mendapat
kesempatan belajar tentang HAM dan berbagai penelitian nonkuantitatif di Lund
Universitet Swedia, sebagai bagian dari program peningkatan kapasitas peneliti
dan penggiat HAM yang diusahakan oleh Dr. Hafid Abbas.
Selama 2000-2007 aku banyak membantu
kegiatan di DIKDASMEN DEPDIKBUD untuk penelitian, pelatihan guru dan kepala
sekolah, serta ujicoba model pembelajaran seperti guru kunjung yang
memungkinkanku menelusuri banyak daerah pedalam di Kalimantan, Irian, Sukawesi,
Maluku, dan Sumatera. Aku juga ikut mengembangkan dan menguji coba serta
mengevaluasi Majamen Berbasis Masyarakat dan Manajemen Berbasis Sekolah, dan
pelatihan kepala sekolah dan guru untuk pengembangan Penelitian Tindakan Kelas
(PTK). Aku juga melakukan hal yang sama di Departemen Agama. Aku juga terlibat
pada kegiatan pengembangan kurikulum, yang lagi-lagi mempertemukanku dengan
banyak guru dan murid dari banyak tempat di Indonesia. Aku biasanya memilih
tempat yang orang lain ogah pergi ke sana karena ribet dan beresiko.
Pada kisaran waktu yang sama 1999-2005
aku menjadi asessor dan visitor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN
PT). Tugas ini mengharuskan aku sekaligus memperhatikan dan mempraktikkan
akurasi dan keketatan kuantitatif serta pemahaman mendalam kualitatif.
Selanjutnya, aku menjadi staf ahli adhoc di BSNP (2007-2009) yang terlibat
dalam perumusan sejumlah standar pendidkan.
Ada sejumlah pengalaman sangat penting
dalam rentang waktu yang panjang itu. Bersama-sama dengan semua relawan Yayasan
Nanda Dian Nusantara di bawah komando Ibu Rustie Ilyas, kami terlibat melakukan
konseling trauma terutama pada anak-anak di lokasi-lokasi konflik seperti Poso,
Ambon, dan Sampit, dan di daerah-daerah bencana seperti Aceh, Padang,
Yogyakarta, dan Garut-Tasik. Aku selalu jadi koorfinator lapangan (korlap).
Kurasakan pengalaman ini sangat membekas dalam hati dan hidupku.
Itulah sejumlah pengalaman yang
kuyakini bisa dijadikan modal dan diolah jadi tulisan. Paling kurang ada tiga
hal penting yang kudapat dari pengalaman-pengalaman itu. Pertama, aku berada
terus-menerus dalam proses pencarian. Paling tidak upaya untuk menemukenali
banyak hal. Kedua, aku berada dalam pekerjaan ulang-alik yaitu pengalaman
lapangan yang bersifat empiris-deduktif, dan pemahaman konseptual teoritis yang
rasional-deduktif. Ketiga, aku selalu membangun interaksi, komunikasi dan
pemahaman dengan banyak orang dari beragam latar belakang. Ini memberi
kesempatan untuk mengasah dan menajamkan empati. Dengan semua itu aku mulai
menulis. Aku mulai dengan menyusun buku penelitian kualitatif, sebab merasa
cukup modal dan alasan untuk itu.
BUKU PENELITIAN KUALITATIF: PROSES DAN APLIKASI (INDEKS)
Oleh karena ingin memanfaatkan
pengalaman, terutama tentang anak jalanan dan daerah kumuh, aku kembali ke
beberapa daerah kumuh yang dulu merupakan tempatku meneliti dan bekerja sebagai
relawan. Aku juga kembali lagi mengajar anak jalanan. Selama ini aku lebih
banyak mengembangkan program dan jarang mengajar mereka. Kulakukan semua ini
agar mendapatkan ruh tulisan. Aku tidak mau tulisan itu hanya mengedepankan
pendekatan yang hanya akademik-intelektual. Sekadar berisi penjelasan teoritis
tentang penelitian kualitatif.
Penelitian kualitatif itu sangat
mementingkan keterlibatan dan empati. Jadi, aku harus beranjak dari situ dan
konsisten menjaganya. Aku menulis sebuah buku penelitian kualitatif yang
praktis-operasional dan mudah dimengerti. Contoh-contoh aplikasinya kuolah dari
pengalamanku berinteraksi dan hidup dengan anak jalanan dan tinggal lama di
daerah kumuh. Bila mengalami semacam hambatan, aku tidak membaca buku, tetapi
berkumpul dengan anak jalanan dan berdiskusi serta berbincang. Setelah itu aku
membaca buku untuk menambah gizi bagi penjelasanku.
Aku beruntung karena bisa tetap
berdiskusi dengan Prof. Conny. Beliau memberikan beberapa masukan. Beliau
sangat setuju agar aku membuat buku yang sangat berbeda dari yang sudah ada.
Beberapa guru besar yang sering kuajak diskusi, bersedia membaca naskah buku
ini. Walah, mereka menyatakan buku ini
aneh, gak umum, dan ditulis dengan semangat seorang yang nekad. Seorang guru
besar dengan sinis bilang, buku ini tidak bakal bisa digunakan untuk naik
pangkat jadi profesor. Gak masalah bagiku, karena aku menulis buku bukan untuk
menjadi prof., sebab sejak tahun 80an aku sudah mendapat gelar prov. alias
provokator di kampus.
Keberatan utama mereka adalah buku ini
ditulis dengan gaya cerita. Mereka menyarankan agar cerita-cerita itu dibuang saja.
Aku harus mengabaikan saran mereka karena tiga alasan. Pertama, pada umumnya
aku belum pernah membaca buku karya mereka. Jika pun mereka menulis buku,
biasanya diterbitkan terbatas karena dicetak sendiri, bukan oleh penerbit yang
dikenal. Berbeda dengan Prof. Conny yang sudah memiliki banyak buku yang
diterbitkan. Kedua, aku yakin cerita merupakan cara ungkap terbaik untuk
membangun pemahaman yang komprehensif dan bermakna.
Keyakinan ini berakar sangat dalam pada
diriku. Sebagai seorang muslim aku akrab dengan AlQuran. Saat masih kecil,
Emakku selalu menuturkan cerita-cerita yang berasal dari AlQuran. Cerita-cerita
itu kemudian kubaca sendiri sampai hari ini. Cerita-cerita itu sangat melekat
dalam ingatanku, maknanya terus berkembang seiring tumbuhkembangku, dan menjadi
pedoman hidupku.
Cerita setidaknya memiliki sejumlah
kekuatan yaitu, pertama, cerita tidak sekadar penjelasan logis, ada emosi di
dalamnya. Aspek emosi ini yang membuat kita terlibat di dalamnya. Kedua,
keterlibatan itu yang membuat kita mudah mengingat dan memahami maknanya, baik
yang tersurat, tersirat, maupun yang tersorot. Ketiga, cerita menyediakan
rentang makna. Maksudnya, cerita terbuka untuk diberi keragaman makna sesuai
dengan kapasitas pembacanya. Karena itu makna sebuah cerita berkembang sesuai
dengan perkembangan pembacanya. Itu sebabnya cerita Nabi Yunus dalam perut
ikan, maknanya sangat beda bagiku saat Emakku menuturkannya sewaktu aku belum
sekolah, setelah sekolah dan saat ini. Makna cerita berkembang sesuai
perkembangan diriku. Itu kehebatan cerita. Itulah alasan mengapa semua bukuku
selalu dimulai dengan cerita. Aku mengikuti paradigma AlQuran yang selalu
bercerita. Wajarkan bila aku mengabaikan saran profesor dan mengikuti AlQuran.
Agar cerita dan penjelasan dalam buku
ini lebih menyentuh, aku semakin intens ke lapangan. Bermalam lagi di daerah
kumuh, dan nongkrong lagi bersama anak jalanan. Beberapa anak yang kutulis di
buku kumintai pendapatnya. Mereka ketawa ngakak dan minta namanya dicantumkan.
Beberapa anak yang diceritakan di buku, cerita itu merupakan kisah hidupnya
waktu dia masih berumur tujuh atau delapan tahun, kini ia sudah berusia enam
belas tahun. Ia menambahkan beberapa pendalaman pada cerita itu.
Waktu paling lama yang kugunakan
bukanlah untuk menulis, namun melakukan eksplorasi lapangan. Aku lebih mudah
masuk dalam kehidupan mereka karena sudah sangat kenal, tetapi tak elok bila
ketemu hanya untuk mencari masukan bagi buku. Aku juga harus membantu mereka
yang lagi bermasalah. Proses penulisannya tidaklah lama, rasanya aku hanya
butuh waktu dua minggu. Beberapa bagian naskah kutulis di daerah kumuh, saat
bermalam di sana. Dibutuhkan waktu khusus yaitu dua hari untuk membaca saat
naskahnya kuanggap selesai. Inilah saat untuk penataan tulisan secara lengkap.
BUKU PENELITIAN PARTISIPATORI (KEMENAG)
Kembali berinteraksi secara intens
dengan anak jalanan dan bermalam di daerah kumuh membawa sejumlah konsekuensi.
Aku harus terlibat lagi secara langsung dengan masalah-masalah mereka seperti
dulu. Bersama sejumlah relawan pada Yayasan Nanda Dian Nusantara, kami membuat
pelatihan perbaikan komputer dan laptop. Tentu saja kegiatan ini membuatku
kembali bersama anak jalanan, tidak hanya menjadi perancang program.
Aku sudah lama diminta membantu
Direrktorat Pendidikan Tinggi Islam (DIKTIS) Kemenag untuk aktif mengembangkan
Participatory Action Research (PAR) di lingkungan dosen perguruan tinggi Islam.
Aku fikir ini saatnya untuk membuat buku tentang penelitian partisipatori
sebagai refleksi terhadap pengalaman memberdayakan anak jalanan selama ini.
Apalagi sekarang aku sedang bersama anak-anak jalanan itu dan sering ke
pemukiman kumuh.
Aku mulai menulis perumusan aksi
pemberdayaan yang kemudian menjadi bab 3 buku Penelitian Partisipatori,
selanjutnya berturut-turut bab 2, bab 4 dan 5, terakhir bab 1. Tidak ada
keharusan untuk memulainya dari bab satu dan secara berturutan bab-bab
selanjutnya.
Selama penulisan berlangsung, aku tidak
hanya melakukan pemberdayaan, tetapi berdiskusi dan berbincang dengan para
relawan, anak-anak jalanan, dan sejumlah orang di daerah kumuh. Kegiatan ini
dengan sangat intens kulakukan untuk memelihara dan mempertahankan ruh tulisan, dan membuat tulisan itu sungguh-sungguh
dikerjakan secara empiris-induktif yakni berdasar data lapangan.
Beberapa relawan yang bekerja bersamaku
pada pertengah 90an kudatangi dan berbincang dengan mereka. Ada juga beberapa
orang yang terlibat pemberdayaan, baik itu anak jalanan maupun beberapa orang
tua mereka kusambangi dan berbincang dengan mereka. Aku juga berdiskusi dengan
para relawan baru untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda dan lebih segar.
Setelah itu aku membaca ulang hampir semua buku yang berkaitan dan masih
kumiliki, mencari bacaan tambahan di internet dan buku-buku baru.
Aku membutuhkan waktu sebelas hari
untuk menulis buku ini. Tetapi pencarian data, keberadaan di lapangan
membutuhkan waktu yang cukup lama juga. Setelah naskahnya relatif selesai, aku
butuhkan satu hari untuk penataan. Bukan hanya aspek bahasa, terutama isinya.
Kemudian naskah itu kuberikan pada beberap rekan relawan untuk mendapatkan
masukan. Ada sejumlah usul yang kemudian ku olah untuk penyempurnaan buku. Kali
ini aku tidak meminta masukan dari kampus kecuali Prof. Conny. Mohon maaf, aku
gak yakin apa rekan-rekanku di kampus memiliki pengalaman pemberdayaan. Aku
sama sekali tidak butuh masukan yang bersifat akademik. Ini buku praktis yang
diharapkan membantu untuk melakukan pemberdayaan secara nyata dalam konteks
sosial. Teman-teman relawan dan anak jalanan tampaknya lebih cocok dan pas
untuk memberi masukan perbaikan.
BUKU RESEARCH & DEVELOPMENT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN:
SUATU PENGANTAR (RAJAGRAFINDO)
Aku menulis disertasi dengan judul
Pembentukan Perilaku HAM sebuah kajian di sekolah dasar. Promotornya adalah
Prof. Dr. Conny R. Semiawan dan Prof. Dr. I Made Putrawan. Sewaktu seminar
proposal aku dinyatakan lulus. Namun, diminta membuat tulisan yang rinci
tentang metodologi penelitian. Alasannya metode yang kupilih tidak lazim.
Metode yang kupilih adalah: payung
penelitiannya yaitu research & development karena akau mengembangkan
model, uji cobanya memanfaatkan penelitian tindakan yang mengikuti pola siklis,
dan datanya dikumpulkan serta dianalisis secara kualitatif. Memang tidak lazim.
Sampai ujian terbuka pilihan metode ini terus dipersoalkan. Aku gak peduli. Aku
ogah menulis disertasi seperti orang lain. Aku memang suka berbeda, bukan
sebagai gaya, tetapi sebagai sikap hidup. Karena itu anakku ku beri nama
Zendara Beda Azani dan Khalifa Lyan Bohemianda. Lyan itu bahasa Jawa yang
artinya Lain.
Aku juga beberapa kali membimbing
mahasiswa S1 mengembangkan inovasi pembelajaran sederhana dengan penalaran research & development. Di Dikdasmen aku ikut serta mengembangkan berbagai
inovasi. Jadi aku memiliki pengalaman dalam research
& development, modal untuk
menulis buku.
Aku mulai menulis buku. Kini aku
menulisnya berurutan. Aku mulai dari bab 5 bagian akhir buku itu. Bab 5 ini
kuolah dari disertasiku. Kemudian aku berhentu menulis. Aku berpetualang dan
terbang layang di internet mencari bahan. Ribuan lembar kertas kugunakan untuk
mencetak bahan dari internet sampai printerku rusak total.
Aku juga meminta mahasiswaku, Agung
Jogja, untuk mencarikan e-book terbaru
tentang R&D. Sembari mengumpulkan bahan, aku terus membaca. Ini saat untuk
memilah, memilih dan mengolah bahan-bahan yang sangat banyak jumlahnya. Aku
baca saja semua bahan yang ada. Tidak penting apakah aku faham, setengah faham,
atau sama sekali tak faham.
Aku yakin bila satu bahan dibaca, aku
kurang atau tak faham, membaca bahan lain dengan topik sama membuka peluang
untuk menambah pemahaman terhadap bacaan sebelumnya yang aku kurang atau tidak
faham, begitulah seterusnya. Jadi, aku lanjutkan membaca. Saat dan setelah
membaca, aku melakukan permainan mental, yaitu mencoba menyusun atau
mengkonstruksi apa yang kubaca dalam fikiran. Imajinasi menjadi penting di
sini. Aku membuat banyak gambaran mental. Bisa tentang struktur tulisan,
pemanfaatan gambar-gambar untuk menjelaskan konsep yang diuraikan, penggunaan
data pendukung, dan cerita-cerita yang menggugah emosi. Semuanya dilakukan
dalam fikiran, tidak dituliskan.
Ini saat aku sering melakukan
solilokui, berbincang dengan diri sendiri, kadang dengan suara lembut, jadi
tidak di dalam hati. Tampak seperti orgil (orang gila) atau ragil (rada gila).
Seringkali aku sampai mengedit struktur tulisan itu secara mental. Biasanya
gambaran mental itu tidak segera kutuliskan, tetapi kubiarkan berkembang
sendiri dalam fikiran. Ini semacam proses peragian. Aku kemudian melanjutkan
membaca sampai ada rasa ingin muntah secar mental, karena dengan sengaja aku
membaca secara acak bahan yang telah ada sebanyak yang aku bisa.
Bila rasa ingin muntah ini muncul, aku
segera berhenti membaca. Aku mulai melakukan aktivitas yang sama sekali tidak
berhubungan dengan penulisan buku ini. Apa sajalah, seperti main games,
jalan-jalan, nonton Sponge Bob, dan bercanda dengan nunun, sela, bila, opic,
dan kawan-kawan, anak-anak balita di sekitar rumahku. Bila membaca buku, buku
yang dibaca tidak berhubungan dengan topik R & D. Aku suka ke toko buku
melihat buku-buku yang sama sekali beda dengan topik yang kutulis, seperti buku
resep makanan, arsitektur, hukum pidana, komik manga, buku-buku agama Budha,
perdebatan mazhab dalam Islam, ya pokoknya buku yang tidak ada R & Dnya.
Setelah jeda dan mengerjakan yang lain,
aku mulai menulis. Biasanya tulisan itu mengalir keluar seperti lumpur Lapindo.
Aku sering kewalahan karena ada semacam tekanan dari dalam. Inilah saat nikmat
dan indahnya menulis, apalagi dilakukan setelah shalat malam, waktu emasku
untuk menulis.
Untuk kondisi ini aku pernah menulis,
para penulis tampaknya memiliki dunia tersendiri yang tak pernah bisa
disinggahi apalagi dimasuki orang lain. Saat mereka merajangcincang, memberi
rempah dan ragi bagi gagasan atau ide-ide mereka yang kerap kali iseng, aneh,
bahkan syarat kegilaan. Keasyikan dan kekhusukan bercengkerama dengan gagasan
itu seringkali memunculkan rasa sepi yang menggigit, sebab mereka untuk
sementara harus menafikan dunia luar dan orang lain. Rasanya suasana ini
meliputi semua orang yang sedang larut dalam aura penciptaan. Apakah mereka
pelukis, penyair, pembuat lagu, arsitek, bahkan perangkai bunga. Ada suasana
hati yang bergejolak sekaligus gairah yang melonjaklompat ingin muncrat dari
dalam kepala dan keluar sebagai sebongkah keberadaan, serangkaian kalimat yang
meluncur deras membentuk paragraf dan wacana dengan sendirinya. Tangan bergerak
cepat tanpa kendali seperti tak sabar dan ingin melampaui arus waktu.
Aku menyebut kondisi ini orgasme
mental. Meski agak meletihkan seperti berputar dalam labirin, namun sangat
nikmat dan menyegarkan ketika ide muncrat mewujud rangkaian kata, kalimat,
paragraf, dan wacana. Sungguh, menulis itu memperkaya, menenangkan, dan
membahagiakan jiwa. Proses kreatif yang menggemaskan dan mengasyikkan.
Dengan cara seperti itulah bab demi bab
mewujud. Setiap kali bab selesai ditulis dilakukan pemeriksaan dan penataan.
Bila semua bab sudah selesai ditulis, pemeriksaan dan penataan dilakukan lagi.
Saatnya memeriksa konsistensi intenal dan kelengkapan seluruh buku.
Untuk penulisan buku ini aku butuh
waktu sekitar 13 hari. Tetapi proses mencari, memilah, memilih, dan mengolah
bahan, butuh waktu sebulan lebih.
BUKU PENELITIAN KUALITATIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (ROSDA
KARYA)
Mentorku di SMA, M.S. Kaban yang sedang
menjabat Menteri Kehutanan memintaku untuk membantu mengajar di Universitas
Ibnu Khaldun Bogor (UIKA). Di UIKA ini ada dosen Jurusan Pendidikan Agama Islam
(PAI) yang merupakan mahasiswaku di pascasarjana UNJ yaitu Santi Lisnawati,
S.Ag.,M.Si., M. Pd. Ia beberapa kali ikut penelitianku, dan kuminta bersama
sejumlah mahasiswa S1 PAI untuk turut serta pada kegiatan pesantren Ramadhan
Anak Jalanan Jabodetabek yang diselenggarakan oleh Yayasan Nanda Dian
Nusantara. Setelah itu kami melakukan penelitian partisipatori selama dua tahun
pada anak jalanan yang bermukim di sekitar UIKA.
Aku kemudian mengajak Santi untuk
menulis buku Penelitian Kualitatif Pendidikan Agama Islam. Buku ini prosesnya
berbeda dengan tiga buku yang sebelumnya kutulis sendiri. Aku tetap menekankan
pentingnya pengalaman, terutama pengalaman melakukan penelitian dan
pemberdayaan sebagai modal untuk menulis buku. Aku yakin modal itu lebih
bernilai daripada studi pustaka.
Kami tidak membuat kerangka karangan.
Kami sepakat memulai saja menulis secara bebas apa pun tentang penelitian
kualitatif. Santi memilih melakukan penelitian kecil ke beberapa madrasah
sebagai basis tulisannya tentang proses penelitian kualitatif, terutama terkait
dengan pengamatan, wancara, dan penulisan catatan lapangan. Sementara aku
membuat tulisan tentang catatan lapangan dan ciri penelitian kualitatif.
Ada tantangan khusus buatku. Bukuku
Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi sudah terbit. Jadi aku harus membuat
pendekatan dan cara penjelasan yang berbeda. Aku lakukan sejumlah langkah.
Pertama, menuliskan topik yang berbeda, misalnya Etnografi Pendidikan. Kedua,
menulis dengan sudut pandang berbeda, misalnya Dasar-dasar Penelitian
Kualitatif yang merupakan karakteristik penelitian kualitatif. Isinya merupakan
rangkuman pengalaman meneliti yang disintesiskan dengan buku-buku standar
tentang penelitian kualitatif.
Terkait dengan topik pembuka yaitu
Pendidikan Agama Islam sebagai dasar bagi penulisan buku ini, Santi dan aku
membuat tulisan sendiri-sendiri, kemudian kedua tulisan itu disatukan. Setiap
kali selesai menulis satu topik kami saling bertukar tulisan untuk saling
koreksi dan memberi masukan. Kami membiarkan gaya menulis masing-masing
berkembang, tidak perlu saling menyesuaikan diri. Sebab pada dasarnya setiap
orang memiliki gaya dan cara ungkap yang berbeda. Kita menganut prinsip, Tidak
ada paksaan dalam agama, apalagi dalam gaya menulis.
Kami sama-sama mencari beragam sumber
terbaru melalui internet dan e-book. Khusus untuk e-book, Agung Yogya adalah
andalanku. Tentu bacaan-bacaan ini sangat membantu untuk mengembangkan
topik-topik yang sedang ditulis. Pemilihan sumber yang tepat sangat menentukan
kualitas tulisan. Karena itu, meski kami membaca banyak sumber, sumber-sumber
itu dipilih dengan sangat cermat. Mungkin ini salah satu keuntungan menulis
bersama. Ada cukup waktu untuk menelaah sumber dengan lebih cermat, dan kita
bisa saling belajar.
Setelah naskah terlihat lengkap, sesuai
dengan stantap atau standar tetap, seluruh naskah diperiksa secara rinci dan
hati-hati. Ada beberapa tambahan terkait dengan penjelasan tentang
karakteristik penelitian kualitatif, dan Pendidikan Agama Islam. Naskah
dinyatakan selesai.
Khusus untuk penulisan, tidak memperhitungkan
pencarian dan pengkajian bahan, dan waktu yang digunakan Santi untuk melakukan
penelitian lapangan, dibutuhkan waktu kurang dari 15 hari untuk selesaikan buku
ini.
BUKU PENELITIAN KUALITATIF PAUD (RAJAGRAFINDO)
Pada kisaran 1992-1993 bersama relawan
Yayasan Nanda Dian Nusantara, aku merintis pendirian taman bermain anak di
daerah kumuh Kampung Bandan di belakang Pusat Perbelanjaan Mangga Dua, dan
Pasar Ikan Kota yang dekat dengan Museum Bahari. Taman bermain anak itu
didirikan sebagai bagian dari upaya pemberdayaan anak di kedua daerah kumuh
itu.
Semasa pendirian dan pelaksanaan
pembelajaran, banyak mahasiswaku yang aktif membantu, salah satunya adalah
Ninin Dwilestari. Kami akhirnya menikah, dan pada 2005 mendirikan TK Anak
Sholeh yang memprioritaskan anak-anak dari keluarga kurang dan tidak mampu.
Kini TK Anak Shaleh telah berkembang menjadi dua dan ada tambahan lain yaitu
PAUD Anak Shaleh.
Pengalaman kami berdua mengelola taman
bermain di beberapa daerah kumuh di Jakarta, dan TK Anak Shaleh tampaknya
pantas diabadikan dalam sebuah buku. Maka kami putuskan untuk menulis.
Masing-masing kami menuliskan
pengalaman spesifik dalam mengelola PAUD tersebut terkait dengan bagaimana
mengatasi berbagai masalah anak, menyelesaikan masalah kekerasan dalam pengasuhan
anak-anak itu di rumah, dan pengalaman melakukan penelitian sebagai cara untuk
mendirikan taman bermain yang sesuai dengan konteks masyarakatnya. Di dalamnya
juga ada catatan pemberdayaan yang kami lakukan tehadap keluarga anak-anak itu.
Masing-masing tulisan yang telah jadi
dibaca bersama. Tentu saja terdapat uraian yang sangat panjang. Ini adalah
bahan dasar yang kemudian dikategorisasi dan ditetapkan menjadi topik tertentu
serta ditentukan jadi bab berapa di dalam buku setelah ditambah dan disempurnakan.
Kami menyediakan waktu untuk kembali
berkunjung pada keluarga-keluarga yang memiliki masalah terutama terkait dengan
kekerasan terhadap anak. Aku juga masih selalu datang ke daerah kumuh
melanjutkan beberapa pemberdayaan yang sedang dilaksanakan oleh Yayasan Nanda
Dian Nusantara.
Setelah tulisan relatif hampir jadi,
barulah aku membaca sejumlah bahan dan buku yang memang sudah dikumpulkan
sebelumnya. Pembacaan ini dimaksudkan untuk mengecek dan memperkaya tulisan.
Mengecek apa yang kita tulis dibandingkan apa yang dijelaskan oleh para ahli.
Ada dua catatan yang penting untuk
dikedepankan di sini. Pertama, bab pertama buku ini berisi konsep penting
tentang tumbuh kembang anak dan konsep dasar PAUD. Terdapat cerita tersendiri
untuk bab pertama ini. Aku sering diundang untuk berbicara tentang perkembangan
anak, khususnya terkait dengan sumbangan neurosains. Pengundangnya macam-macam
seperti para guru PAUD, pengelola PAUD komunitas, para istri bupati/walikota,
dan sekolah-sekolah dasar Islam Terpadu.
Untuk membuat pembicaraan itu menarik
dan gampang dimengerti, aku membuat power point yang lengkap dan terstruktur.
Pada mulanya hanya 15 tampilan. Tetapi setiap ceramah ada pertanyaan yang
selalu sama. Power point itu terus bertambah sesuai dengan perkembangan
pertanyaan. Aku terus membaca buku untuk membuat power point. Akhirnya power
point itu melampaui 100 tampilan. Ketika menulis bab satu, aku tinggal
"mendagingi" power point itu. Ini merupakan salah satu modus untuk
membuat tulisan. Bermula dari power point yang lengkap dan terstruktur dengan
baik.
Kedua, dalam buku ini terdapat
penjelasan tentang karakteristik penelitian kualitatif. Ini tak terelakkan.
Bacalah sejumlah buku Gardner tentang kecerdasan majemuk, atau Creswell tentang
penelitian, ada konsep kunci yang harus ditulis ulang. Tetapi jangan diulang
sama persis. Kata kuncinya tentulah sama, namun penjelasan dan contohnya harus
berbeda, disesuaikan dengan topik khusus bukunya. Dalam buku ini tentu saja
penjelasan dan contoh-contoh dikaitkan
dengan PAUD. Dengan demikian terdapat perbedaan yang bermakna dari buku
sebelumnya.
Buku ini banyak contoh-contoh nyata dan
konsep-konsep mutakhir tentang perkembangan anak. Contoh-contoh dapat diberikan
dan dijelaskan karena selama penulisan buku, Ninin tetap sambil mengajar dan
mengelola TK Anak Shaleh, jadi berbagai kejadian yang baru terjadi dapat diolah
jadi tulisan. Sementara itu konsep-konsep mutakhir diolah dari berbagai hasil
penelitian terbaru yang didapatkan dari internet.
Sintesis dari data lapangan yang
bersifat empiris-induktif, dan kosep teoritis yang dijabarkan secara
rasional-deduktif untuk menjelaskan berbagai fenomena, membuat buku ini berbeda
dengan beragam penjelasan yang selama ini terdapat dalam banyak buku.
Sebagaimana buku Research & Development, dan Penelitian Kualitatif PAI,
buku ini juga merupakan buku pertama dalam bidangnya yang ditulis dalam bahasa
Indonesia.
Seperti biasa, dibutuhkan waktu untuk
penataan. Waktu untuk menulis buku ini, di luar waktu pencarian data dan membaca
buku adalah 11 hari.
BUKU METODOLOGI PENELITIAN KEBIJAKAN (ROSDA KARYA)
Pada akhir 2009 aku kembali ikutan
membantu Balitbang, khususnya di Puslitjak yang dipimpin oleh Ir. Hendarman,
M.Sc., Ph.D. Aku ikut serta dalam berbagai penelitian, menjadi instruktur dan
pemateri pelatihan para peneliti, dan seminar serta lokakarya bertaraf
nasional. Semua kegiatan ini memungkinkan aku sering berdiskusi dengan Pak Hen.
Pak Hen mendapat gelar master di USA,
dan Doktor di Australia. Pendidikan dan pekerjaannya membuat ia akrab dengan
kebijakan publik baik sebagai peneliti, praktisi, maupun sebagai pengambil
kebijakan. Ia memiliki banyak penelitian dan tulisan tentang kebijakan publik
dalam bidang pendidikan. Penelitiannya tentang RSBI menemukan banyak anomali dalam
penyelenggaraannya. Ia juga mengajar Analisis Kebijakan pada beberapa program
pasca. Latar belakang ini dan power pointnya yang sangat lengkap dan
terstruktur tentang Analisis Kebijakan membuat penulisan buku ini menjadi lebih
mudah.
Kami sepakat menulis buku bersama.
Pembagian topiknya sangat adil 50:50 persen dengan rincian sebagai berikut: Pak
Hen menulis bagian teori, tetapi paling banyak adalah aplikasi praktis
penelitian kebijakan. Aku menulis sebagian besar teori, dan sedikit pada
aplikasi.
Karena sulit untuk bertemu, disepakati
kita berdiskusi dan saling memberi masukan serta koreksian melalui email.
Secara teratur kami berkomunikasi melaui email. Tulisan saling dipertukarkan
dan saling mengoreksi. Kami bersepakat untuk menghargai dan tidak merubah gaya
tulis masing-masing.
Apa yang kami lakukan menunjukkan, pada
masa kini kendala waktu dan jarak bisa diatasi memanfaatkan teknologi. Menulis
bersama bisa dilakukan memanfaatkan email.
Bagiku menulis buku yang satu ini
sungguh pengalaman yang sama sekali baru. Biasanya aku menulis apa yang sudah
aku miliki, lazimnya pengalaman yang direfleksikan dan diolah. Kini aku memulai
dengan mencari dan mempelajari bahan yang jumlah dan jenisnya banyak sekali.
Aku sampai melakukan kajian pustaka mendalam terhadap kebijakan Pembuatan Waduk
Kedung Ombo yang sangat menghebohkan di zaman orde baru. Aku juga melakukan
studi pustaka yang sangat hati-hati tentang proses pembuatan kebijakan pada
berbagai bidang di banyak negara. Mbah Google sungguh sangat membantu, juga
tentunya Agung Jogja yang terus mencarikan buku yang kubutuhkan.
Aku membaca dan menulis secara
simultan, atau saling bergantian. Mulai dengan membaca dan kemudian menulis.
Tetapi tetap tidak dari bab satu. Jadi menulis teori dan konsep saja dulu. Kemudian
dipadukan dengan tulisan Pak Hen, jadilah bab 3. Bab 4 dan 5 sepenuhnya ditulis
oleh Pak Hen. Kami berbagi pada Bab 1,2,3. Jadi akhirnya Pak Hen menulis lebih
banyak, tidak 50:50 sebagaimana yang direncanakan.
Tulisan ini relatif sangat cepat ditulis.
Proses penulisannya saja, tidak termasuk pencarian dan pengolahan bahan hanya
berlangsung 10 hari.
PENUTUP
Inilah cerita tentang enam buku yang
kutulis pada 2011. Tiga sendirian dan tiga berdua. Setiap buku ditulis dengan
modus yang tidak sama persis. Buku pertama dan kedua didominasi oleh
pengalaman, yang ketiga, keempat, dan kelima sintesis yang seimbang antara
pengalaman dan teori, dan yang keenam lebih banyak teori dan konsep. Artinya
sumber penulisan buku itu sangat banyak dan beragam.
saya deasy tiara p.ips reguler b tahun 2013
BalasHapussetelah membaca tulisan pak nusa menulis seperti shalat 1-6,dan sedikit tukisan terbaru bapak, sya terkesan oleh pendapat,alur cerita ,pengalaman,pemikiran,kerja keras motivasi yang bapak tuangkan daalam tulisan bapak
begitu mudahnaya buku demi buku bapak hasilkan,pemikiran yang bapak sharing.mata saya jadi terbuak oleh wawasan bapak,saya yang menganggap menulis itu susah dan moddI DLU (MOOD BARU JADI)JADI BERUBAH PIKIRAN
makasih pak tulisannay
saya akan mengikuti tulisan bapak yang lucu walo terkadang berat dikit hhehehe
deasy tiara p.ips regular b 2013
BalasHapuspak nusa makasih karya karyanya mengispirasi ,membuat saya terkesan
terus berkarya ya pa
:D
tulisan bapak sangat bermanfaat gat untuk dibaca, sampai bisa menginspirasi orangn lain. saya belum membaca semua chapter tulisan bapak karena kurangnya kemampuan saya dalam memahami setiap kalimat yang ada.
BalasHapusGustiana restika
pendidikan IPS B
saya Lucy Katarina dari P.IPS A 2013
BalasHapusmenurut saya karya bapak amatlah sangat menarik, kreatif, inovatif dan selalu mengikuti tren yg sedang terjadi di kalangan masyarakat
itu membuat karya bapak dapat dengan mudah dikenal di kalangan masyarakat secara meluas.
semoga menjadi sumber inspirasi saya ya pak amin o:)
BalasHapus