Bikini Bottom kacau, heboh, dan dicekam
ketakutan. Ada monster laut yang bertampang mengerikan, berbadan raksasa dan
suka menghancurkan apa saja, berkeliaran. Apa pun yang didekat atau yang
menghalanginya diporakporandakan. Yang tersisa hanya onggokan dan sampah rumah,
mobil dan apa saja yang hancur. Bikini Bottom sungguh-sungguh lebur hancur.
Para polisi tak dapat berbuat apa-apa.
Mereka kehabisan akal, tidak tahu bagaimana caranya mengatasi serangan monster
laut ini. Sementara itu si monster laut terus saja mengamuk dan menghancurkan
segalanya. Termasuk kantor dan mobil polisi. Para polisi kemudian memutuskan
akan menggunakan cara-cara kekerasan untuk menghentikan monster laut . Mereka
mempersiapkan diri untuk menyerang monster ganas itu.
Patrick memohon diberi sedikit waktu
untuk ikut menyelesaikan masalah ini. Pada mulanya para polisi ragu, sebab
mereka sangat mengenal Patrick yang sudah sangat sohor sebagai anak yang tidak
cerdas dan sangat konyol. Tetapi akhirnya mereka mempersilahkan Patrick bertemu
dengan monster itu. Entah kenapa si monster menunjukkan sikap sangat bersahabat
dengan Patrick.
Patrick mendekati monster, memintanya
menundukkan kepala. Anehnya si monster menurut saja. Patrick membisikkan
sesuatu sambil menyentuh si monster. Si monster nampak memahami ucapan Patrick.
Ia mengangguk, tak berapa lama kemudian melambaikan tangan, dan berlalu pergi
meninggalkan Bikini Bottom. Masalah selesai tanpa kekerasan.
Patrick dengan tepat dan cerdas
menggunakan kekuatan komunikasi. Memanfaatkan kata, bahasa, dan bahasa tubuh
berupa sentuhan. Sejak dahulu kala, manusia dalam berbagai kebudayaan percaya
bahwa kata memiliki kekuatan. Bukan saja kekuatan untuk menjelaskan,
menggambarkan, dan merayu, juga kekuatan menggoda, memprovokasi dan meyakinkan.
Dalam banyak masyrakat tradisional
sangat populer adanya kata-kata magis. Kata yang memiliki kekuatan untuk
mengusir roh jahat. Ada juga kata magis untuk memengaruhi para dewa. Sementara
itu dalam banyak agama, ada kata-kata terpilih yang diucapkan berulang-ulang
sebagai salah satu cara untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Melewati beragam
zaman dan tahapan budaya, kata tampaknya tetap diakui dan dirasakan kekuatannya,
meskipun cara menggunakan dan menafsirkan kekuatan itu tidak sama.
Kajian-kajian neurosains membuktikan
bahwa fikiran dan kehidupan bisa sangat dipengaruhi oleh penggunaan kata.
Kata-kata positif yang membangkitkan semangat akan mengarahkan fikiran untuk
fokus pada hal-hal yang positif, dan sebaliknya. Sudah terbukti secara empiris,
imajinasi yang positif ditambah dengan kata-kata positif dapat mengarahkan otak
sebagai pusat pengendali untuk bekerja ke arah yang positif. Karena itu
jauhilah kata-kata negatif, terutama dalam proses pengasuhan terhadap anak.
Kata memiliki kekuatan untuk memengaruhi fikiran. Dalam kaitan ini pantas untuk
mengulangi nasihat orang tua: berjalan pelihara kaki. Kita tambahkan, berbicara
dan menulis pelihara diksi (pilihan kata).
Kekuatan dan kepentingan kata semakin
tampak menonjol ketika Tuhan memilih kata dan bukan angka atau simbol lain
untuk menyampaikan wahyu. Angka memiliki keunggulan yaitu tingkat kepastian
tinggi dan cenderung tidak multi tafsir. Sedangkan kata justru cenderung kurang
pasti dan sangat multi tafsir, sangat tergantung kailmat dan konteks yang
melingkupinya. Ciri ini sekaligus merupakan kekuatan dan kelemahan kata. Dan
ciri ini lebih cocok untuk wahyu yang diperuntukkan bagi manusia yang sangat
beragam, serta digunakan dalam jangka panjang. Penggunaan kata memungkinkan
tumbuh kembangya tafsir atas wahyu agar tetap kontekstual.
Kekuatan kata semakin meningkat saat
kata menjadi rangkaian kata membentuk kalimat. Kalimat dapat mengejawantahkan
fikiran dan persaan secara lengkap. Berkalimat dengan tepat dan efektif sudah
terbukti bisa mempengaruhi dunia, apalagi pada zaman teknologi digital yang
memberi kesempatan kalimat yang diungkap bisa dengan cepat tersebar dan
memengaruhi opini publik.
Rasanya kita belum lupa ketika seorang
jenderal polisi melontarkan ungkapan merendahkan ketika terjadi seteru KPK vs
Polisi. Ia mengungkapkan perseteruan itu dengan istilah cicak versus buaya.
Kita sekarang semakin mahfum, bagaimana nasib si buaya menghadapi cicak yang dapat
bergerak cepat dan tidak pernah bisa mati jika ekornya dipotong, meskipun
dipotong berkali-kali. Ini terjadi karena ungkapan itu telah mendorong
masyarakat luas menunjukkan dukungan dan keberfihakannya pada sang cicak yang
direndahkan dan diremehkan. Lihat, betapa kuat pengaruh bahasa ketika bahasa
sebagai suatu keutuhan masuk ke wilayah komunikasi.
Komunikasi menggunakan bahasa telah
terbukti sebagai wahana yang paling
tepat dan efektif untuk mengungkapkan perasaan dan fikiran. Kekuatan itu telah
terlihat sejak manusia pertama kali diciptakan. Ketika Tuhan hendak ciptakan
Adam, terjadi dialog dengan Malaikat yang keberatan dengan rencana penciptaan
itu. Tuhan kemudian menunjukkan kesalahan hipotesis Malaikat dengan cara
meminta Adam menyebutkan nama-nama benda. Peneyebutan itu pastilah menggunakan
kata dan bahasa. Penyebutan menggunakan kata dan bahasa itu menunjuktegaskan
keunggulan manusia karena ia memiliki pengetahuan konseptual yang merupakan
akar bagi kecerdasan manusia. Tidak mengherankan bila banyak filsuf meyakini
bahwa yang paling membedakan manusia dari makhluk lainnya adalah kemampuan
manusia berbahasa dan berkomunikasi. Melalui dan dengan bahasa, manusia
membangun diri dan dunianya, menandai kesejarahan hidupnya. Dengan komunikasi,
manusia menumbuhkembangkan diri dalam jejaring sosialitanya, memahami orang
lain, dan mewahyukan atau menegaskan keberadaan dirinya pada sesama.
Komunikasi memungkinkan manusia untuk
saling memahami, memengaruhi,
berinteraksi, bertukar rasa dan fikir dengan sesama. Komunikasi dengan
demikian menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang terbuka. Terbuka untuk
menerima, meracik, meramu apapun yang datang menghampirinya. Dengan dan melalui
komunikasi manusia membentuk dan terus meningkatkan serta memutahirkan dirinya,
menyelesaikan berbagai masalah dengan sesama, dan menjadi manusia yang empatis.
Karena komunikasi memungkinkannya untuk memahami dan menghayati apa yang orang
lain fikirkan dan rasakan. Komunikasi merupakan tanda terpenting dan
penyempurna keberadaan kita sebagai manusia.
Komunikasi antarmanusia menjadi lebih
intens dan bermakna bila diperkaya dengan bahasa tubuh. Bahasa tubuh
menegaskan, menajamkan, dan memberi warna emosi pada ungkapan verbal kita.
Sebagai akibatnya, apa yang kita komunikasikan dapat menancap lebih tegas dalam
jejaring pemahaman orang yang menangkapnya. Bahasa tubuh selalu memberikan
reaksi dan respon langsung dari orang yang diajak berkomunikasi.
Bila Anda tidak percaya, cobalah naik
bajaj. Saat hendak berenti katakan pada abang bajaj dengan bahasa verbal,
" Bang, kiri, kiri, stop Bang!" Belum tentu si abang bajaj
menghentikan bajajnya. Coba sentuh pundak abang bajaj dengan tangan Anda, ia
langsung menghentikan bajajnya. Mengapa
bisa demikian? Karena rem bajaj ternyata ada di pundak tukang bajaj! Inilah
contoh konkret "kekuatan sentuhan".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd