Dini hari, sisa hujan lebat masih terasa pada jalan yang sangat berlumpur. Masih gerimis. Ada truk baru datang. Dentum suaranya mengeras karena jalan yang dilalui berlumpur dan licin. Sejumlah anak, perempuan dan laki-laki, berusia lima sampai dengan lima belas tahun, berlari berkejaran ke arah truk. Mereka berlari dengan cepat. Ada dua anak perempuan terpeleset, tergelincir di jalan berlumpur dan jatuh. Tak ada suara tangisan. Semua anak tambah bersemangat, karena truk itu mulai pelan dan akan segera berhenti.
Truk berhenti. Kernet truk berteriak-teriak agar anak-anak itu jangan terlalu dekat dengan truk, karena pintu belakang truk yang terbuat dari besi akan dibuka. Anak-anak itu malah semakin mendekat. Rupanya truk membawa cabe merah yang harganya lagi mahal. Anak-anak itu berebutan untuk mendapatkan cabe-cabe yang berjatuhan dari truk tersebut.
Para kuli angkut, sebagaian adalah bapak atau abang anak-anak itu, mulai mengangkati cabe yang menggunakan wadah peti dan karung. Anak-anak itu mengikuti para kuli mengangkat cabe ke arah kios-kios yang berjejer sejauh 30-50 m dari truk. Ada kesengajaan dari kuli itu menjatuhkan sebagian cabe agar dikutip anak-anak itu. Dalam keremangan dini hari tentulah perbuatan ini lepas dari pengawasan para pemilik cabe. Mendekat ke tempat tujuan cabe, anak-anak itu menjauh, berbelok ke tempat gelap, menyerahkan bungkusan plastik hitam berisi cabe pada ibu atau kakanya yang sudah menunggu. Membawa tas kresek hitam kosong yang diberikan ibu atau kakaknya, berlari lagi ke arah truk. Mulai berebutan lagi. Begitulah sampai
Sepanjang malam, selepas maghrib sampai subuh, inilah yang dikerjakan puluhan anak itu. Mengejar truk dan berkejaran denga para kuli angkut. Mereka akan bermain-main dengan sesama bila truk belum datang atau menunggu truk berikutnya. Ada yang makan mie ayam sambil main bola bekel. Ada pula yang bernyanyi menggunakan gitar kecil dan gendang.
Mereka bekerja sangat keras, berlarian mengejar dan memanjat truk yang masih berjalan. Selalu ada resiko. Beberapa anak ada yang retak atau patah tangan dan kakinya karena terjatuh dari truk. Ada pula yang kepalanya cedera tertimpa pintu bagian belakang truk yang terbuat dari besi. Itulah sebabnya para kernet berteriak kencang mengingatkan anak-anak itu. Para keamanan pasar tidak berani melarang, karena takut pada para kuli angkut yang jumlahnya besar. Anak-anak itu memang memiliki hubungan keluarga dengan para kuli angkut.
Jika letih, anak-anak itu tidur di mana saja. Di truk kosong, di kios tak terpakai, di gerobak yang biasa dipakai untuk mengangkat sayur dan buah, dan di mana saja mereka merasa ngantuk. Bukan hanya anak-
anak itu yang berperilaku seperti itu, para kuli dan kernet truk pun melakukan hal yang sama.
Bila pagi tiba, anak-anak itu kadang masih tertidur di mana saja. Beberapa anak sudah bangun dan melanjutkan pekerjaan. Apa yang dikerjakan sangat tergantung pada apa yang ditemukan pagi itu. Bila malamnya banyak bawang masuk pasar induk, maka anak-anak itu beserta kakak dan ibunya memilah dan memilih bawang agar bisa dipisahkan berdasarkan ukuran dan kualitasnya. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang didapat dari pemilik bawang. Bila tak ada bawang bisa jadi memilih buah. Jika tak ada pekerjaan spesifik seperti itu, maka anak-anak itu berada di tempat sampah untuk mencari buah dan sayur yang masih bisa diolah untuk dijual kepada pedagang kecil yang akan membawa buah dan sayur ke berbagai pasar kecil.
Pekerjaan mengutip buah dan sayur di tempat sampah merupakan pekerjaan rutin anak-anak itu di bawah kendali para ibu masing-masing. Anak-anak itu sudah sangat terampil memilah dan memilih buah dan sayur yang nasih layak jual. Mereka sudah sangat terbiasa dengan bau busuk di tempat sampah itu. Apalagi jika musim hujan.
Anak-anak itu memang bekerja sangat keras, hampir sepanjang dua puluh empat jam. Namun, mereka bukanlah anak lemah yang suka mengeluh dan menyerah. Meski kerja sangat keras, di tempat yang sangat tidak menyenangkan, anak-anak itu selalu ceria, gembira, dan menunjukkan semangat hidup yang luar biasa.
Mereka tetaplah anak-anak yang selalu asyik bermain. Di tengah sampah yang bertumpuk dan bau, mereka asyik main bekel, main boneka yang dibuat dari buah dan sayur, main masak-masakan dengan buah dan sayur beneran, dan main petak umpet. Mereka bernyanyi bersama, bergembira di tengah kekumuhan dan kesibukan luar biasa orang-orang yang berlalu lalang di sebuah pasar induk.
Anak-anak itu sangat terlatih berlarian di antara tanah becek penuh sampah buah dan sayur yang berserakan. Tak terelakkan kadang mereka jatuh terguling-guling. Tak ada suara tangis, yang muncul adalah caci maki dan gelak tawa.
Di tengah kegembiraan anak-anak itu jangan dikira tak ada masalah. Anak-anak itu ternyata sering mendapat perlakuan kekerasan. Kekerasan dari orang tua mereka sendiri, para kernet truk dan penjaga keamanan pasar. Pastilah yang paling sering mendapat kekerasan adalah anak-anak wanita. Mereka sering mengalami pelecehan seksual, makian dan kekerasan fisik dari kernet truk dan penjaga keamanan.
Para orang tua biasanya melakukan kekerasan bila anak-anak itu tidak bekerja dengan baik dan tidak memberi penghasilan yang memadai. Anak-anak itu biasanya mengalami kekerasan dari anak yang lebih besar saat berebutan buah dan sayur. Sementara keamanan pasar selalu mengejar, memukul, dan melempar anak-anak itu dengan benda keras atau buah yang masih utuh bila mendekati kios dan diduga akan mencuri sayur dan buah yang masih baik.
Anak-anak itu menghadapi semua kekerasan itu dengan tetap gembira. Mereka masih anak-anak, jadi dunia mereka adalah dunia anak yang penuh keceriaan. Meski demikian, mereka adalah bagian dari anak-anak bangsa yang mesti mendapat perhatian dan perlindungan dari masyarakat dan Pemerintah. Keceriaan mereka janganlah dijadikan alasan untuk tidak memperhatikan mereka.
ANAK-ANAK TETAPLAH HARUS MENDAPAT PERHATIAN DAN PERLINDUNGAN DARI MASYARAKAT DAN PEMERINTAH AGAR MENJADI ANAK YANG CERIA, TUMBUH KEMBANG DENGAN BAIK DAN MEMILIKI HARI DEPAN YANG CERLANG.
Nama: Fani Novi Alvianta
BalasHapusNIM : 4915133411
P.IPS Reg B 2013
Saya sangat setuju dengan tulisan bapak ini. Karena faktanya memang banyak anak-anak yang bekerja dibawah umur dengan alasan untuk membantu orang tua mereka mendapatkan uang. Namun hasil yang mereka dapatkan kadang tidak dihargai oleh orang tua mereka. Para orang tua malah bertindak kekerasan karena hasil yang didapatkan hanya sedikit. Seharusnya dunia anak-anak hanyalah bermain. Namun zaman sekarang di kota-kota besar seperti Jakarta, anak-anak justru mengais sampah, meminta-minta, mengamen hanya untuk mendapatkan uang. Seharusnya Pemerintah lebih tegas dalam menjalankan undang-undang tentang perlindungan anak. Seharusnya para orang tua yang memperkerjakan mereka diberikan sanksi yang tegas. Karena anak seharusnya di didik untuk menjaadi manusia yang berhasil dan berguna untuk semua orang.
1. apakah kekerasan pada anak dan memperkerjakan anak itu akan terus berlangsung padahal pemerintah telah memiliki undang-undang terhadap perlindungan anak?
2. apakah pemerintah dan masyarakat telah melakukan tindak nyata untuk membantu mengurangi tindakan orang tua yang mempekerjakan anak dibawah umur?
3. apakah tindakan orang tua mempekerjakan anak ini hanya terjadi di kota besar? Lalu apakah alasan orang tua mempekerjakan anak mereka itu dapat dibenarkan?
Irma Lutfiana (4915131378)
BalasHapusP.IPS A 2013
Sudah merupakan naluri anak-anak ketika mereka selalu ceria. Namun alangkah memprihatinkan ketika mereka masih bisa tertawa ceria di tengah penderitaannya mendapatkan perlakuan kasar. Seperti halnya kasus yang ada di pasar induk ini, mereka rela mengejar truk yang mengangkut cabe, mereka tak pernah jera dengan semua resiko yang menimpanya. Mulai dari terjatuh dan terpeleset ketika mengejar truk, mengalami retak kaki dan tangannya adapula yang cedera kepalanya karena tertimpa pintu belakang truk yang terbuat dari besi serta mendapat perlakuan kasar dari keamanan pasar. Mereka melakukan semua itu atas kendali para ibunya. Dengan terpaksa mereka melakukan pekerjaan itu untuk mendapatkan uang, mirisnya ketika mereka pulang ke rumah tak memberikan hasil yang memadai mereka akan mendapat perlakuan kasar dari ibunya. Tak seharusnya para orang tua khususnya para ibu melakukan hal tersebut pada anaknya. Anak-anak memang tak bisa melawan ketika mendapat perlakuan kasar, baik dari ibunya sendiri maupun dari kernet truk dan penjaga keamanan. Meskipun begitu mereka tak pernah mengeluh. Yang ada mereka bekerja dengan gembira, ceria, dan menunjukkan semangat hidup yang luar biasa. Seharusnya peran orang tua sangat diperlukan dalam hal ini, orang tua seharusnya memberikan kasih sayang dan perhatian terhadap mereka dan memberikan apa yang sudah seharusnya anak-anak dapatkan. Bukan untuk mempekerjakan apalagi melakukan kekerasan pada mereka. Meskipun anak-anak itu senang ketika harus bekerja di pasar induk tetapi tidak wajar jika harus menanggung beban hidup keluarga. Selain peran orang tua, peran pemerintah dan masyarakat pun diperlukan untuk melindungi dan memerhatikan anak-anak tersebut, bukan untuk mendapat pelecehan seksual, makian, apalagi kekerasan. Semua itu tidak terlepas karena anak-anak masih memiliki hari depan yang cerah dan anak-anak adalah harapan bangsa dan calon penerus bangsa.
1. Mengapa seorang ibu kejam melakukan hal itu pada anaknya? Kenapa justru mereka lebih mengutamakan materi daripada anaknya sendiri?
2. Mengapa penjaga keamanan di pasar induk tidak bekerja sesuai dengan tugasnya?
3. Bagaimana peran pemerintah untuk menanggulangi masalah tersebut?
4. Metode penelitian apa yang dipilih pada kasus di pasar induk tersebut?
5. Mengapa orang-orang selalu mengaitkan kemiskinan dengan uang?
NAMA : AGINDA NABILA PUTRI YUDIA
BalasHapusNO REG : 4915131408
P.IPS A 2013
Seharusnya anak-anak seperti itu tidak pantas di pasar Induk, karena sebenernya tempat mereka itu di sekolah. Bukannya di sebuah pasar yang mengharuskan mereka bekerja. Ini sama saja menghilangkan hak asasi mereka sebagai seorang pelajar, dan seharusnya sebagai orang tua melarang anaknya untuk bekerja. Ini juga dapat menimbulkan dampak bagi pisikis seorang anak, karena mereka mendapatkan pelecehan seksual, kekerasa fisik, dan makian. Yang seharusnya tidak pantas mereka dapatkan waktu umur belia. Pemerintah seharusnya juga turun tangan terhadap masalah seperti ini, bukannya malah diam saja. Karena anak-anak seperti ini bisa dikembangkan dengan baik.
Pertanyaan
1. Bagaimana bisa orang tua tidak melarang anaknya untuk bekerja di pasar?
2. Apa yang menyebabakan anak-anak tersebut lebih memilih bekerja?
3. Mengapa petugas kemanan tidak melarang anak-anak untuk bekerja di pasar?
Agustuna R
BalasHapusP.IPS.B 2013
Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Tidak seharusnya anak-anak melakukan pekerjaan orang dewasa seperti bekerja. Keadaan ekonomi memaksa mereka untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Hal itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis anak tersebut. Dalam melakukan pekerjaan memang anak-anak tersebut terlihat ceria dan sering bercanda dengan teman. Tetapi bukan berarti hidup mereka baik-baik saja. Anak masih sangat membutuhkan kasih sayang lebih dari orang tua dan keluarga. Apa lagi jika mereka mengalimi kekerasan dari orang tua. Kekerasaan yang dialami oleh anak membawa dampak buruk. Pada saat dewasa anak akan melakukan hal yang sama kepada anaknya nanti dan juga dapat membuat anak menjadi sosok yang kasar.
1. Apa jika anak mengalami kekerasan akan teringat sampai tua?
2. Mengapa anak-anak itu bisa terlihat ceria ketika keadaan tidak berpihak kepada mereka?
3. Bagaimana cara untuk menyembuhkan anak yang mengalami trauma kekerasan?
NAMA : NUR ANISA ATMAJA (P.IPS.A 2013)
BalasHapusNIM : 4915131383
Menurut saya, anak-anak itu adalah ibarat kertas putih yang masih bersih belum terlalu banyak noda ataupun coretannya. Oleh karena itu anak-anak adalah modal awal untuk pembentukan masa depan apakah dimasa yang akan datang nanti akan menjadi lebih baik ataupun buruk. Dalam kasusus ini anak-anak tidak semestinya dieksploitasi ataupun dibiarkan begitu saja dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari. pekerjaan memunguti sayuran atau buah yang jatuh dari truk yang terjadi di pasar induk untuk kemudian mereka jual kembali bukanlah alasan yang tepat bagi seorang anak untuk meringankan beban perekonomian keluarganya. karena jelas, di tulisan ini disebutkan bahwa tidak jarang terjadi resiko fatal pada saat mereka hendak memunguti sayuran dari truk yang berebutan meskipun truk tersebut belum berhenti. Meskipun anak-anak itu terlihat ceria dari luar, namun belum tentu mereka merasa nyaman dalam hatinya. mereka hanya berpikir bahwa mereka harus mencari uang untuk menyambung hidup bersama keluarganya. Seharusnya orang tua juga peduli terhadap perasaan anaknya, mereka berhak bahagia, brhak menggenggam cita-cita masa depan tanpa harus bekerja penuh resiko seperti itu. banyak hal yang dapat mereka lakukan tanpa harus menerima banyak resiko kecelakaan, kekerasaan, dan pelecehan seksual. Misalnya saja mereka bisa bersekolah sambil jualan makanan di sekolahnya, mereka juga bisa membantu bekerja ditoko dekat rumah mereka. intinya adalah, mereka boleh saja membantu orangtua tetepi dengan syarat tidak mengkesampingkan pendidikan mereka, dan tidak bekerja dengan banyak resiko negatif.
Pertanyaannya adalah:
1. Mengapa para orangtua anak-anak itu membiarkan anak-anaknya memunguti sayuran dari truk, padahal hal itu memiliki banyak resiko negatif?
2. Apa yang seharusnya diupayakan oleh pemerintah dan orangtua terhadap anak-anak tersebut agar tetap menjadi anak-anak yang cemerlang dan ceria tanpa harus melakukan pekerjaan memunguti sayur di pasar induk?
3. Apakah anak-anak itu benar-benar ceria pada saat melakukan pekerjaan memunguti sayuran, karena kitapun tidak tahu isi hati mereka yang sebenarnya?
Suci Ramadhaniyati (4915133404)
BalasHapusP.IPS B 2013
Pada hakikatnya anak-anak memang selalu ceria. Mereka terus bermain meskipun sedang dirundungi banyak masalah. Mereka tidak terlalu memikirkan dan memedulikan bagaimana kehidupan yang mereka jalani sekarang. Yang terpenting bagi mereka adalah tertawa bersama. Sangat ironis sekali, ketika seharusnya mereka mendapatkan hak atas kehidupan dan pendidikan yang layak tetapi mereka justru mengais-ngais cabe demi memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Ini membuktikan bahwa kinerja pemerintah untuk menyamaratakan hak anak tersebut belum sepenuhnya tercapai. Pemerintah kurang peka terhadap kondisi anak-anak. Seharusnya pemerintah dan lembaga perlindungan anak lebih peka dan memberikan fasilitas-fasilitas yang memadai untuk anak dalam tahap pengembangan potensi yang dimilikinya. Jika anak mendapatkan perhatian yang sama dari pemerintah, maka tidak aka nada lagi anak yang mengais-ngais cabe yang berjatuhan di jalan, tidak ada lagi anak yang mengamen di jalan dan tidak ada lagi anak-anak yang merasakan kepedihan karena ANAK BERHAK MENDAPATKAN APA YANG SEHARUSNYA MEREKA DAPATKAN. ANAK BUKAN UNTUK DIEKPLOITASI, MELAIN POTENSI-POTENSI YANG DIMILIKINYA LEBIH DIKEMBANGKAN.
1. Bagaimana peran pemerintah untuk mengatasi problematika anak?
2. Apakah ada batasan dan ruang bagi anak sehingga pemerintah belum dapat menyamaratakan hak anak di seluruh Indonesia?
3. Apakah anak-anak berhak untuk protes karena mereka tidak mendapatkan hak yang sama?
Nama : Angga Nugraha
BalasHapusNIM : 4915133421
P.IPS REG B 2013
Dari tulisan bapak diatas, dapat disimpulkan bahwa kesenjangan ekonomi di Indonesia sangatlah jelas. Realitas yang terjadi dilapangan begitu adannya, anak-anak berkeliaran bekerja keras, yang seharusnya mendapat pendidikan di usianya. Jika kita lihat penjabat negara kita yang berada di Senayan, yang menggunakan mobil pemerintah yang mewah, fasilitas yang didapat, sangatlah ironis. Jika pemerintah lebih peduli kepada anak-anak bangsa ini, tidak akan ada anak-anak yang dijalanan yang mencari uang receh demi alasan keluarga. Tiada lagi anak yang besar dengan kekerasan. Pemerintah disini seharusnya terjun ke lapangan melihat situasi yang ada dalam kasus ini, memberi penyuluhan dan bantuan pendidikan kepada anak-anak ini. Jangan hanya diberi uang atau materi saja. Anak-anak ini adalah wajah masa depan bangsa Indonesia kelak kedepannya
1. Upaya apakah yang harus dilakukan pemerintah terhadap anak jalanan?
2. Adakah sanksi yang tegas dari pemerintah yang mempekerjakan anak dibawah umur ?
3. tindakan nyata apakah pemerintah dalam mengurangi kesenjangan ekonomi di negeri ini