Minggu, 02 Maret 2014

DIALOG KEBANGSAAN

Dr. Nusa Putra, S.Fil., M.Pd.

(Catatan kecil untuk dialog di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Selasa 4 Maret 2014)

Negara Bangsa Indonesia sejak dulu sampai kini terus dilanda sejumlah masalah. Dengan cara pandang positif, semua masalah itu bisa dipersepsi sebagai tanda bahwa negara bangsa ini berada dalam dinamika untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitasnya secara terus menerus.

Masalah yang dihadapi pastilah sangat kompleks. Ini terkait dengan fakta bahwa kita bangsa yang besar, paling tidak dari segi luas wilayah dan jumlah penduduk. Bisa juga ditambahkan dengan jumlah hutang dan tingkat korupsi.

Kompleksitas masalah dalam sebuah negara bangsa yang besar sebenarnya merupakan keniscayaan yang tak terelakkan, dan tidak perlu juga dilihat melulu secara negatif bahwa keberadaan masalah itu menunjukkan bahwa bangsa ini tidak memiliki prestasi dan pencapaian. Sejak kemerdekaan sampai kini, negara bangsa ini memang menjadi semakin eksis dan diperhitungkan justru karena kemampuannya melampaui semua masalah yang menimpa dan menghadangnya.

Pengalaman panjang menghadapi dan melampaui berbagai masalah kompleks dan besar, yang terkadang mengancam keberadaan dan kebertahanan NKRI, mestinya membuat kita semua arif, hati-hati, dan mampu mencari solusi terbaik tanpa menimbulkan masalah baru. Tidak menorehkan luka baru di atas luka lama ( diambil dari lagu E.G. Ade).

Dalam tahun-tahun yang agak panjang, kita merasa radikalisme yang memuncak pada terorisme sungguh bagai kerikil di sudut mata. Sangat mengganggu karena menimbulkan korban jiwa, berpotensi merobek rasa kebersamaan sebagai bangsa dan memberi kesan sangat kuat negara ini sangat rawan, seperti negara di bawah bayang-bayang teror. Bayangkan, polisi bisa di bunuh bahkan di tengah keramaian kota.

Bentuk radikalisme lain yang tak kalah mengganggu adalah mudahnya konflik muncul yang menyebabkan penghancuran pemukiman, perusakan rumah ibadah, dan pembunuhan manusia dengan cara yang sungguh mengerikan dan menjijikkan. Keseluruhannya dipertontonkan secara terbuka di layar kaca, yang memberi kesan kuat bahwa kita seakan telah bermetamorfosa dari bangsa yang ramah dan santun menjadi bangsa yang amok dan aditif kekerasan.

Sungguh nurani kita tak menerima semua ini dibiarkan meraja dan menjadi semacam ritual yang selalu muncul secara berkala. Betapa sedih hati saat melihat saudara-saudara kita harus merayakan kesucian Natal di bawah tekanan ancaman teror. Tragis kan, ada Brimob berseragam lengkap dengan senjata laras panjang di bawah cemara Natal. Dalam suasana begini apa kita masih bisa bilang, damai di hati, damai di bumi?

Radikalisme dan terorisme bukan jamur baru di bumi subur Indonesia. Dia sudah menyebar sejak zaman penjajahan, baik melaui ideologi kiri, tengah maupun kanan. Sejarah panjang bangsa ini membuktikan jamur yang satu ini memang sangat mengotori bumi kita, bahkan bisa membusukkan bagian tertentu dari taman keindonesiaan yang indah ini, karena ia merupakan jamur beracun yang kadang bisa sangat cepat menyebar.

Merupakan keniscayaan bagi kita untuk membasmi jamur sampai ke akar-akarnya. Karena jamur hanya berhenti berkembang bila diberantas sampai ke akar-akarnya. Tetapi membersihkan jamur dan akarnya kan tidak perlu sampai merusak tempatnya tumbuh. Jamur hilang, tetapi tempatnya tumbuh tidak ikut hancur. Pastilah ini tidak mudah. Karena itulah kita berdialog sekarang ini.

Jamur tidak dapat tumbuh di sembarang tempat. Tempat yang bersih, terawat dan cukup sinar matahari tak bakal ditumbuhi jamur. Jamur suka tempat yang lembab, kumuh, dan gelap, tempat yang jarang disambangi orang.

Maknanya, radikalisme terkait dengan kemiskinan, kesenjangan, ketidakadilan, kegagalan penegakan hukum, kebodohan, dan tentu saja pertarungan ideologi dan hegemoni di tingkat global. Jangan pernah melihat radikalisme seperti pulau tersendiri di tengah samodra.  Maknanya radikalisme memiliki kaitan yang berjalinberkelindan dengan beragam persoalan kebangsaan lainnya. Konsekuensinya, solusinya juga mesti dalam kaitan-kaitan itu.

Mari berkaca sebentar menjelang kemerdekaan dan saat-saat ktitis pada kala Bapak-bapak Bangsa Indonesia hendak merumuskan Dasar Negara kita. Ada ketegangan disebabkan adanya pemikiran 'radikal' hendak menjuruskan negara bangsa ini ke arah ideologi tertentu yang mengabaikan fakta bahwa kita adalah negara bangsa yang bhinneka atau beragam. Ada seri dialog panjang di antara para tokoh, tentu ada ketegangan, bahkan saling bantah. Namun, akhirnya mereka sepakat menetapkan Pancasila seperti yang sekarang kita kenal.

Dalam kaitan ini, saya setuju dengan penyair besar kita W.S. Rendra yang menegaskan bahwa Pancasila adalah karya besar bangsa Indonesia melampaui Borobudur. Sebab Pancasila menjadi dasar bagi bangunan besar bernama Indomesia, dan Borobudur hanyalah sebuah noktah kecil dalam bangunan Indonesia.

Menjadikan dialog panjang yang dilakukan pada saat menjelang kemerdekaan dan penyusunan dasar-dasar negara sebagai alternatif  model untuk mengatasi persoalan jamur radikalisme, tampaknya sangat masuk akal. Sebuah seri dialog untuk bersama-sama mencaritemukan solusi, sekaligus menjadikan seri dialog untuk membangun pemahaman empatis tentang hidup bersama secara damai dalam taman indah keindonesiaan.

Dialog mempersyaratkan semua peserta dialog dihormati karena memiliki kedudukan yang setara. Tak ada pihak yang dianggap lebih rendah atau tinggi. Dialog juga harus melibatkan semua unsur kebangsaan yang memiliki potensi dapat dicemari jamur radikalisme dan unsur yang berpoteni untuk mencegahnya. Tidak boleh ada stigma atau pemberian cap pada orang atau kelompok tertentu, meskipun dalam paradigma keamanan mereka sudah diidentifikasi sebagai orang atau kelompok yang memiliki kecenderungan atau perilaku radikal.

Topik yang didialogkan adalah persoalan-persoalan aktual kebangsaan yang memang memiliki potensi untuk menggali sikap dan anutan ideologis para peserta seperti:
- Kepemimpinan Indonesia Masa Depan
- Pemilu yang Damai dan Berkualitas
- Sistem Keamanan yang Mengejawantahkan Dasar Negara Pancasila
- Membangun Keindonesian yang Bhinneka Tunggal Ika dalam Era Global
- Sumbangan Agama bagi Pembangunan dan Kemajuan Indonesia
- Hidup Bersama dalam Toleransi dan Damai
- Menjadi Negara Kuat Berdaulat dalam Era Global.
- Pendidikan Multikultural bagi Kesejahteraan Indonesia.

Tentu masih sangat banyak topik yang dapat dirumuskan bersama-sama di antara para peserta dialog untuk membangun saling pengertian. Banyaknya topik yang disusun membuka peluang bagi dialog yang bersifat serial dan berjangka panjang. Topik-topik ini adalah media bagi menanamkan pemahaman tentang hidup bersama dalam semangat keindonesiaan. Dalam seri dialog itu harus ada tokoh yang empatis dan terbuka yang mampu menanamkan sejumlah pemahaman dan nilai yang dapat mengikis secara perlahan dan pasti akar dari jamur radikalisme. Mengapa dialog berseri dengan topik tertentu?

Beberapa alasan dapat dikedepankan sebagai dasar dari model ini. Alasan tersebut adalah:

1. Bila orang atau kelompok orang telah meyakini serangkaian doktrin atau ideologi, apalagi yang radikal, dan memiliki keterlibatan emosional, maka paling tidak ada dua cara untuk mencerahkannya ditinjau dari sudut pendidikan berbasis otak yaitu 'laundry fikiran' dan dialog berkelanjutan melalui komunikasi empatis.

2. Dialog berkelanjutan melalui komunikasi empatis mengharuskan mereka berada cukup lama dengan orang yang selama ini dianggap bukan bagian dari kekitaan. Suasana ini 'memaksa' mereka untuk mendengarkan pandangan lain, dan secara perlahan mulai membuat perbandingan dengan keyakinannya sendiri.

3. Model dialog ini memberi kesempatan pada mereka untuk mengedepankan perspektif dan keyakinannya. Ini adalah kesempatan untuk melakukan analisis kritis bagi semua fihak untuk saling mengasah dan mencari titik temu. Strategi ini bila dipandu oleh orang yang tepat, yaitu tokoh yang empatis dan terbuka bisa sangat efektif untuk 'melucuti ego' orang yang memiliki pandangan berbeda dan selama ini merasa menjadi 'yang lain'.

4. Melibatkan mereka pada seri dialog tentang persolan bersama yaitu persoalan bangsa, secara perlahan bisa menumbuhkan rasa kebersamaan, rasa bahwa kita berada pada perahu yang sama. Tentu ini akan sangat bermakna, karena selama ini mereka menghayati bahwa kita berada pada laut yang sama, tetapi berada pada perahu yang berbeda. Jadi, mereka tak merasa rugi dan bersalah jika perahu kita bocor, asal perahu mereka tetap aman. Kita mendorong adanya perasaan kita berada dalam perahu yang sama.

5. Telah terjadi pembalikan paradigma dalam memahami manusia yang bisa dimanfaatkan secara bermakna dalam model ini. Selama berabad-abad diyakini bahwa manusia adalah makhluk rasional yang memiliki emosi. Konsekuensinya, semua persoalan melulu didekati secara rasional-kognitif-intelektual, yang biasanya objektif-analitis-netral. Emosi sepenuhnya dipersepsi secara negatif. Ternyata keyakinan itu tidak benar setelah para ahli neurosains mampu melakukan penelitian otak sejak bayi dalam pertumbuhan di rahim ibu. Ternyata, manusia adalah makhluk emosional yang memiliki rasio. Fakta inilah yang memicu dan memacu lahirnya kecerdasan emosional. Ternyata kelekatan pemikiran tertentu dalam otak lebih ditentukan oleh keterlibatan emosi daripada penjelasan rasional. Karena itu jangan heran, seorang dokter yang sangat faham bahwa rokok itu merusak kesehatan, tetap menjadi perokok berat. Pemahaman rasionalnya dikalahkan oleh kecenderungan emosi yang sudah membajak otaknya. Dengan pendekatan baru ini, kita bisa membangun kebersamaan emosional melalui dialog yang bersifat informal, santai, bisa jadi di taman daripada di ruangan formal, sambil menyantap karedok dan ngopi-ngopi. Kita bangun suasana persaudaraan yang menunjukkan meski ada banyak perbedaan di antara kita, kita adalah saudara sebangsa.

6. Dengan model ini diharapkan kita bisa mengasah apa yang oleh para ahli disebut sebagai kecerdasan identitas yaitu kemampuan untuk merumuskan atau menghayati tujuan mulia yang secara konsisten akan diusahakan pencapaiannya. Para peserta dialog akan bersama-sama merumuskan  tujuan hidup bersama dalam bingkai keindonesiaan,  dan membangun komitmen untuk mencapainya bersama-sama.

Tentulah ini hanya sebuah tawaran kecil yang semoga berguna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd