Ini kisah nyata. Kehidupan masa kecil Hitler. Diteliti dan ditulis oleh penulis terkenal Erich Fromm dalam buku Akar Kekerasan. Hitler dibesarkan oleh seorang ayah yang penuh ambisi, tempramental, tegas, keras, dirasuki dendam dan penuh disiplin. Ia ingin Hitler menjadi anak yang berhasil dalam hidupnya, karena itu ia mendidik Hitler kecil dengan disiplin yang keras, ketegasan yang mengarah pada kekerasan, dan kasih sayang yang ditunjukkan dengan perhatian yang berlebihan sampai si anak merasa tak punya pilihan pribadi, bahkan selalu bingung pada diri sendiri.
Tak perlu penjelasan tentang masa depan Hitler. Ia berhasil menjadi pemimpin. Diktator paling kejam di zaman moderen. Ia merasa manusia paling hebat, tiada tara. Ia pengejawantahan megalomania tak terdandingi, sampai hari ini.
Tokoh berikut ini tidak seterkenal Hitler karena ia berasal dari masa lalu. Namanya Vlad Tepez atau Vlad Drakula. Ia pengeran yang berkuasa sejak 1448 dan sangat gigih melawan Kesultanan Utsmaniyah atau Ottoman. Ia sangat kejam, sering menyiksa orang dengan senjata seperti garpu sampai orang tersebut mati tercabik-cabik. Ia melakukan penyiksaan itu dengan tangannya sendiri.
Ia dibesarkan oleh banyak ibu karena ia memiliki sejumlah ibu tiri. Ia dibesarkan dengan kekerasan fisik yang luar biasa. Ia sangat dendam pada ayah dan saudara tirinya. Ayahnya menyerahkannya pada Kesultanan Utsmaniyah sebagai bagian dari kekalahan perang.
Seorang wanita bernama Jane Toppan, berhasil menjadi suster. Hobinya memperkosa pasien yang sedang sakit parah dan membunuhnya dengan sadis. Dia mengaku telah membunuh 31 orang dengan sadis. Ia dibesarkan dengan kekerasan, terutama oleh ayahnya yang punya hobi mabok berat.
Rosemary West adalah pembunuh berantai yang sangat sadis. Saat dalam kandungan, ibunya depresi berkepanjangan, ia lahir prematur dan pernah mengalami kekerasan seksual okeh ayahnya sendiri.
Daftar ini bisa diperpanjang dalam bentuk buku berjilid-jilid. Di Amerika Serikat ada penelitian yang secara sengaja difokuskan pada penjahat yang tergolong sadis dan mendapat hukuman berat. Semua mereka pernah mengalami kekerasan pada masa kecil yang dilakukan oleh orang tuanya. Pada umumnya ayahnya adalah pemabok berat.
Para ahli yang berkutat di bidang neorusains dan kaitannya dengan tumbuh kembang anak, sebutlah beberapa di antaranya seperti Ferrari & Vuletic, Chen Li, Lehrer, Lisa Guernsey, Jan Faull, Caroline Leaf, Kathy Hirsh-Pasek, Roberta Michnick Golinkoff, dan Diana Eyer membuat catatan penting berdasarkan hasil penelitian. Sejumlah catatan tersebuat adalah: tumbuh kembang otak anak yang sangat memengaruhi perilakunya ditentukan oleh pengalaman-pengalaman spesifik dalam lingkungan yang spesifik. Bagi anak yang sedang tumbuh kembang, pengalaman spesifik dan lingkungan spesifik diperoleh dalam keluarga dengan para orang tuanya. Bisa dibayangkan bila orang tua di rumah membiasakan kekerasan terhadap anak.
Kekerasan yang dialami oleh anak-anak, khususnya kekerasan seksual memberi semacam borok menganga dalam otaknya yang sangat memengaruhi tumbuh kembang dan perilakunya hingga dewasa. Bahkan kekerasan melalaui media seperti televisi dan games juga memengaruhi anak secara negatif.
Kurangnya kasih sayang, bahkan kurangnya sentuhan fisik sangat buruk dampaknya bagi tumbuh kembang anak. Cara yang paling ampuh untuk mengobati akibat buruk kekerasan pada anak adalah memberinya kehangatan kasih sayang dalam jangka panjang.
Akibat kekerasan pada masa kanak-kanak, bisa diobati melalui perhatian, kasih sayang, dan pengasuhan yang melibatkan emosi positif lainnya. Namun, membutuhkan waktu yang panjang, sangat sulit, dan lebih sering gagal.
Penghayatan agama yang benar sejak kecil. Terutama iman yang diujudkan melalui peduli dan berbagi bila dapat dirasakan anak sejak kecil, akan sangat membantunya untuk membangun kesadaran empatis dan juga obat mujarab bagi banyak persoalan kejiwaan anak. Tidak termasuk di sini penghayatan agama yang kaku, tertutup, dan merasa hanya diri sendiri yang benar.
Intinya, anak-anak harus tumbuh dalam kehangatan cinta dan manisnya kasih sayang, yang dirasakannya setiap hari dalam kebersamaan bersama keluarga dan manusia dewasa lainnya. Hanya dengan cara itu anak dapat tumbuh menjadi manusia dewasa yang empatis dan bermakna bagi sesama.
UJUDKAN CINTA SETIAP HARI, AGAR ANAK MENGHAYATI DAN TUMBUH BERSAMANYA.
Eka Ma'rifah
BalasHapusP.IPS A 2013
Anak adalah cerminan dari orang tuanya. Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. pepatah ini sepertinya sangat berlaku di dunia. Seorang anak akan tumbuh sesuai dengan apa yang ia dapatkan dan ia pelajari dari lingkungan dimana ia tumbuh terutama lingkungan primernya yaitu lingkungan keluarga. Anak yang lahir dan dibesarkan oleh lingkungan yang baik, penuh kasih sayang, akan tumbuh menjadi anak yang baik pula serta mempunyai rasa empati terhadap lingkungan di sekitarnya. Begitu pula anak yang lahir dan dibesarkan oleh lingkungan yang buruk, mengajarkan kekerasan, dendam, serta sifat-sifat buruk manusia lainnya, anak akan tumbuh menjadi sosok yang keras pula.
1. Mengapa manusia tidak dapat menetang ajaran-ajaran negatif yang ia dapatkan dari lingkungan dimana ia tumbuh? padahal manusia dewasa pada dasarnya telah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang benar?
2. Adakah seorang anak yang mempunyai sikap mentimpang dari lingkungan yang membesarkannya?
3. Apakah ada faktor internal yang (gen) yang menurunkan sifat dari orang tua ke anaknya? ataukah sifat seorang anak hanya dipengaruhi oleh lingkungan eksternalnya saja?