Sabtu, 08 Maret 2014

JANGAN DIKIRA MUDAH UNTUK MASUK PENJARA

Tidak semua orang punya nyali untuk masuk penjara, apalagi sebagai tersangka, terdakwa, dan terpidana. Selain keberanian, butuh jalan panjang, mungkin sangat panjang untuk bisa masuk penjara. Karena itu, tidak semua orang mau melakoninya. Hanya mereka yang rakus, ambisius, dan tak tahu malu yang mampu melakukannya.

Mari kita cermati perjalanan panjang sejumlah orang sebelum akhirnya masuk penjara, dan jadi pusat pemberitaan. Siapa di antara kita yang tak kenal Atut, Anas, Andi Mallarangeng, Lutfi Hasan Ishaq, dan Akil Muchtar? Mereka ini adalah selebriti kelas atas, pusat pemberitaan yang mampu menyedot perhatian publik, karena dugaan telah melakukan kejahatan, dan ada yang telah terbukti melakukan kejahatan.

Tidak pernah mudah jadi gubernur, apalagi gubernur wanita pertama di Insonesia. Tetapi Atut bisa mendapatkannya, bahkan ia memperolehnya dua kali. Pastilah butuh tidak hanya kecerdasan di atas rata-rata, juga kerja keras, disiplin, daya tahan jangka panjang, kemampuan membangun jejaring pendukung yang luas, kompetensi komunikasi yang canggih, dan uang yang tidak sedikit. Atut berhasil tunjukkan, dia punya semuanya dan dia berhasil menggunakannya. Atut bukan saja berhasil menjadikan dirinya penguasa Banten, sekaligus menjadikan keluarga besarnya penguasa tak tertandingi di provinsi yang tergolong masih muda itu.

Anas juga sama. Apa dikira mudah menjadi ketuan umum Partai Demokrat yang sedang berkuasa? Apalagi Anas kan tergolong anak bawang dalam kancah partai politik. Anas bisa dapatkan posisi puncak itu karena Anas bukan sembarang orang atau orang sembarangan. Anas itu manusia terpilih. Dia pernah jadi ketua umum HMI. Rasanya banyak di antara kita yang tahu betapa sulitnya jadi pimpinan organisasi mahasiswa yang sangat berpengaruh itu. Untuk bisa menjadi ketua umum HMI, kader tidak cukup hanya memiliki dukungan dari 'akar rumput' HMI, juga harus punya cantolan dengan alumni HMI yang ada dalam lingkar kuasa. Siapa pun mahfum bahwa tidak sedikit mantan pejabat tinggi dan sejumlah pejabat yang kini masih nangkring di pemerintahan yang merupakan alumni HMI bisa ikut menentukan siapa yang akan jadi ketua umumnya. Itu artinya saat Anas sampai bisa menjadi ketua umum HMI, dia memang kader jempolan. Sebab bisa dapatkan dukungan dari dua kekuatan itu, yaitu kekuatan internal dan eksternal. Anas pastilah punya kemampuan komunikasi politik yang mumpuni.
Kehebatannya semakin tampak saat dia memenangkan kursi ketua umum Partai Demokrat. Kita semua tahu siapa aja yang ada dalam partai yang lagi berkuasa itu. Orang-orang berkaliber yang sedang pada posisi sangat berkuasa. Anas bisa kalahkan mereka. Katanya, bahkan SBY terheran-heran Anas bisa jadi katua umum.

Kehebatan setara bahkan mungkin lebih harus dimiliki Andi Malarangeng, Lutfi Hasan Ishaq, dan Akil untuk sampai di posisi puncak. Mereka ini adalah orang-orang terbaik, teruji, dan terpilih. Lihat tingkat pendidikan mereka yang menjulang, serta prestasi di atas rata-rata yang telah dicapai yang akhirnya membuat mereka sampai di puncak karir. Karir yang bergengsi, berpengaruh, dan membuat mereka semakin terkenal.

Artinya, jalan panjang berliku, naik turun, bahkan jalan penuh kerikil dan onak duri harus mereka lewati untuk mencapai kedudukan-kedudukan  puncak masing-masing. Setelah dipuncak itulah akhirnya mereka masuk penjara. Kita tidak tahu, apakah mereka akan masuk penjara bila tidak pada posisi itu. Faktanya, mereka masuk penjara saat di posisi puncak itu. Dengan cara ironis kita bisa bilang, betapa sulitnya jalan untuk sampai ke puncak dan mencapai penjara.

Berdasarkan berbagai temuan KPK yang kita ketahui melalui media massa, terpapar jelas bahwa masuk dan keberadaan mereka di penjara memang berkaitan langsung dengan posisi yang didapatkan dengan susah payah itu. Satu hal yang tak terbantahkan adalah mereka masuk penjara terkait langsung dengan kuasa dan kekuasaan.

Mengapa kuasa begitu kuat pesonanya sampai mampu menggelincirkan banyak orang, bahkan yang dikenal sangat baik, tawadhu, konsisten, dan sangat bermoral sebelum menjadi sandera kuasa?

Dalam kerangka formal dikenal istilah power syndrom dan postpower syndrom. Keduanya merupakan penyakit parah. Memang orang lebih akrab dengan istilah postpower syndrom, terkait dengan banyaknya orang yang tadinya berkuasa mendadak sakit fisik dan atau psikis saat tak lagi berkuasa. Kayaknya mereka tidak siap hidup sebagai orang biasa yang tak lagi punya kuasa, wewenang, dan otoritas.

Power syndrom dalam kalangan awam dikenal dengan istilah  mabuk kuasa. Siapa pun yang sedang mabuk kuasa biasanya berani melakukan apa saja untuk dapatkan, pertahankan, dan manfaatkan kuasa dan kekuasaan. Mereka yang mabuk kuasa saat mau dapatkan kuasa seringkali menghalalkan segala cara. Mereka sering kehilangan akal sehat san suara hati. Mereka sungguh bisa menjadi irrasional, mati rasa, dan putus urat malunya. Mereka menjelma menjadi Dasamuka. Penjahat yang bisa terus merubah wajahnya, bertukar topeng dan penampilan untuk membenarkan semua perkataan dan tindakannya yang seringkali bertentangan dengan saat sebelum mabuk kuasa.

Tidak usah kaget bila tiba-tiba Anda merasa seperti tidak lagi mengenali mereka. Sebab kerap mereka betul-betul berubah 180 derajat, bagai bumi dan langit. Mereka pun sering tak lagi mengenali diri sendiri karena dengan kecepatan tinggi kerap berganti topeng atau wajah atau kepribadian. Mereka bahkan harus mengenakan topeng atau wajah lain kala mau berbicara dengan diri sendiri. Mereka sudah tak tertarik berbincang tentang kebenaran, sebab sudah habis waktu, perhatian, dan energi untuk mencari pembenaran. Oleh karena itu gejala paling tampak dari mereka yang mabuk kuasa adalah keterpecahan kepribadian. Apa yang pada umumnya Anda katakan saat bertemu teman yang sedang mabuk kuasa? Biasanya Anda bilang, meski dalam hati, orang ini koq beda bangets ya, udah berubah, gak kayak dulu. Acap kali Anda tiba-tiba merasa geram, bahkan jijik pada mereka.

Bila sudah berkuasa, mereka yang mabuk kuasa biasanya betul-betul mati rasa. Hati nuraninya bagai dibungkus plastik. Tak dapat lagi menyerap semua yang baik dan berguna, kecuali yang menguntungkan diri sendiri dan gerombolannya. Bila ada orang atau kelompok orang yang mencoba mengingatkan, bahkan dengan cara yang paling sopan, etis, dan nalar, bahwa mereka telah berbuat sesuatu yang tidak pantas, atau tidak pada tempatnya, mereka yang mabuk kuasa minimal memusuhi orang itu. Meskipun di depan publik untuk menjaga citra bahwa dia penguasa yang baik, mereka berpura-pura seakan-akan tidak ada masalah dan menghormati para pengeritiknya itu. Pada tingkat yang lebih tinggi, mereka yang mabuk kuasa akan memfitnah, menyingkirkan, malah bila perlu menghabisi otang-orang yang baik dan tulus tersebut.

Sikap seperti inilah yang menjadi daya pendorong mengapa para penguasa zhalim seperti Firaun dan Hitler yang mabuk kuasa tega, senang, hobi dan memiliki kebiasaan menghancurkan orang yang berseberangan dengannya. Mereka bahkan tidak lagi malu-malu melakukan kejahatan kepada siapa pun yang mengingatkan berbagai kekeliruan dan kesalahannya.  Jika menggunakan bahasa kitab suci disebutkan, Tuhan membuat semua kejahatan yang  mereka lakukan  sebagai perbuatan yang baik dalam pandangan mereka sendiri. Inilah saat Tuhan telah membutakan mata fisik dan mata hati mereka yang mabuk kuasa. Pada saat inilah biasanya mereka yang mabuk kuasa sedang membangun kuburan bagi dirinya sendiri, yang akan membuatnya tenggelam dalam kehinaan seperti yang dialami Firauan dan Hitler, serta semua pengussa zhalim dalam sepanjang sejarah panjang manusia, dulu dan kini.

Oleh sebab itu tak usah kaget pada temuan KPK terkait dengan Atut, Anas, Andi Malarangeng, Lutfi Hasan Ishaq, dan Akil Muchtar. Bisa jadi, temuan KPK barulah temuan awal. Semua fakta ini meyakinkan kita,

KUASA SUNGGUH BISA MENYERET DAN MENEGGELAMKAN SIAPA SAJA DALAM KEHINAAN DAN PENJARA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd