Sejatinya berbuat baik itu gampang. Senyumlah pada setiap orang, kenal atau tidak, tidaklah penting. Meski sederhana dan sangat mudah, memberi senyum merupakan perbuatan baik. Apalagi memberi makan orang miskin. Mengangkat duri dari jalanan, juga perbuatan baik. Apalagi bila mengangkat anak yatim jadi anak asuh, sungguh perbuatan baik yang mengesankan.
Perbuatan baik itu ragam macamnya relatif tidak terbatas. Dari yang tidak pakai modal, sampai yang bermodal besar, ada. Bisa dilakukan sendiri, berdua, atau beramai-ramai. Dapat dilaksanakan secara tertutup, sembunyi-sembunyi, bahkan terbuka. Boleh berbuat baik pada kucing, apalagi pada sesama manusia. Terbuka kesempatan dilakukan pada masa anak, remaja, dewasa, juga tua dan sepuh.
Tetapi kadang kala berbuat baik menjadi sesuatu yang langka, dan terasa sangat susah. Meskipun berbuat baik itu dianjurkan agama, agama apapun. Acap kali kita lupa berbuat baik adalah ladang amal yang tak akan kering bahkan dalam kemarau panjang kebencian dan iri.
Berbuat baik juga terbukti dapat memberikan rasa bahagia yang luar biasa, sebab berbuat baik menunjukkan bahwa kita peduli, tidak asyik dengan diri sendiri, dan tidak terperangkap dalam penjara ego. Oleh karena itu semua orang secara hakiki sebenarnya ingin berbuat baik, meski terkadang tidak mudah mewujudkannya.
Sejumlah orang berhasil berbuat baik meski dengan susah payah. Mereka mengumpulkan uang dari sejumlah teman. Uang dikumpulkan lalu dibelikan makanan mateng, makanan mentah yang bisa diolah, berbagai keperluan terutama untuk bayi, anak-anak, kaum perempuan, dan orang tua. Untuk melakukan perbuatan baik ini, mereka rela mengorbankan waktu, tenaga, dan dana. Bahkan untuk sementara waktu kurang memperhatikan anak-anak sendiri. Berbuat baik memang selalu membutuhkan pengorbanan.
Saatnya tiba, mereka mengantarkan semua bantuan itu ke tenda pengungsian korban banjir. Betapa kecewanya. Para korban banjir itu tampak tidak begitu tertarik dengan batuan tersebut. Bahkan ada beberapa pengungsi mengambil nasi bungkus yang lauknya di atas rata-rata, membawanya agak jauh, membukanya, kemudian membuangnya ke air yang masih menggenang. Padahal itu nasi bungkus yang masih baru, sama sekali baru dimasak. Para relawan yang memberi bantuan itu sengaja memasakkan nasi itu dengan susah payah agar memudahkan para pengungsi. Beberapa relawan tampak emosi juga. Adapun bantuan lain, sebagian diambil, sebagian ditinggalkan begitu saja.
Rupanya para korban banjir ini memilih-milih bantuan. Sebab pemberitaan televisi tentang derita mereka telah mengalirkan bantuan yang luar biasa banyaknya. Itu yang menyebabkan mereka kelihatan jadi belagu bertingkah. Berbuat baik ternyata bisa berujung kekecewaan mendalam juga.
Bersama denga para relawan, saya hadir di Aceh, khusunya Meulaboh dalam waktu yang agak panjang. Di sekitar Gunung Merapi Jogja, di Garut-Tasik, di Sampit, Ambon, Poso, dan Madura. Semuanya dalam rangka melakukan kerja sosial terkait bencana dan konflik. Sungguh ujian dalam berbuat baik ternyata tidak sederhana. Seringkali kebaikan kita ditanggapi dengan cara-cara yang menyayat hati. Bukan saja kelihatan kurang berterima kasih atau kurang bersyukur atas berbagai bantuan yang diberikan. Acapkali segala bantuan itu sama sekali tidak dihargai, bahkan dicela. Ada saja kekurangannya dalam pandangan sebagian mereka.
Benar-benar mereka tak peduli betapa besar pengorbanan yang kita berikan untuk melakukan perbautan baik ini. Keadaan ini yang terkadang membuat sebagian orang menjadi enggan berbuat baik pada orang lain. Dan memilih untuk berbuat baik hanya pada diri sendiri.
Kami para relawan mencoba memahami, bisa jadi sikap negatif ini sebagai akibat dari tekanan dan penderitaan yang terlalu. Ketika harapan sudah pupus, saat orang-orang yang dicintai hilang tak tentu rimbanya, dan harta yang dimiliki ludes tak berbekas.
Mungkin rasa kecewa yang mendalam itu telah membuat mereka tak lagi bisa mengontrol diri, dan tak mampu lagi untuk peduli. Dalam kekecewaan yang dalam, fikiran dan rasa sering kali mati suri. Meski terbuka adanya alasan lain yang menyebabkan situasi ini. Ya, berbuat baik ternyata bisa menjelmakan kepiluan. Inilah ujian bagi perbuatan baik. Ini semacam batu uji apakah kita yang telah berbuat baik sungguh ikhlas dan sabar.
Rasanya, tidak sedikit di antara kita pernah mengalami. Perbuatan baik pada sanak saudara, tetangga, teman-teman, dan orang yang membutuhkan pertolongan direspon dengan cara yang tak semestinya. Benar-benar seperti menghidangkan kopi luwak dibalas racun serangga.
Mungkin juga, banyak di antara kita yang kebaikannya disalahpahami, disalahgunakan, atau bahkan digunakan untuk menghancurkan atau memfitnah si pelaku kebaikan. Inilah realita dunia manusia. Karena itu dalam masyarakat kita sampai muncul ungkapan, kacang lupa pada kulitnya, musuh dalam selimut, dan air susu dibalas air tuba.
Karena itu berbuat baiklah dengan niat untuk mendapatkan perkenan Tuhan. Bukan karena yang lain. Bila kita berbuat baik pada siapa pun, ini bukan urusan kita dengan orang itu, tetapi urusan kita dengan Tuhan. Niat seperti ini semoga bisa membebaskan kita dari kejengkelan dan kemarahan saat perbuatan baik kita tak disikapi dengan baik.
Apapun keadaanya, tetaplah berbuat baik. Jangan pernah kapok berbuat baik. Meski seringkali bisa sangat mengecewakan hati. Sebab berbuat baik tetaplah merupakan kebaikan. Tak peduli bagaimana sikap orang yang dituju oleh kebaikan itu.
Boleh saja kapok berbuat baik pada si Unyui misalnya, karena perbuatan baik kita disalahgunakan. Tetapi jangan pernah kapok berbuat baik pada sesama. Ada orang selain si Unyui yang pantas mendapat kebaikan kita.
SUNGGUH BERBUAT BAIK DAPAT MENSUCIKAN HATI DAN HIDUP KITA.
memang tidak selamanya niatan dan perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan, banyak orang yang kadang kala sering menyalahartikan perbuatan baik kita. tapi saya percaya dan bapak pun pasti mengenal pepatah ini bahwa siapa yang menuai kebaikan maka ia akan mendapatkan kebaikannya begitu pula sebaiknya. tidak perlu takut berbuat baik, toh pada akhirnya orang akan mengetahui dengan sendirinya kejadian yang sebenarnya. meski setiap perbuatan baik itu penuh dengan rintangan dan tantangan :)
BalasHapus