(Doa dan kenangan bagi Guru multikulturalismeku)
Tinggi tegap,
sisiran rambut rapih, pakaian sangat rapih dengan asesori bendera merah putih
di dada kiri. Bila memakai kopiah ada hiasan burung garuda di bagian kiri depan
kopiahnya. Ia guru yang sangat santun dan menyenangkan. Ia guru paling senior
di SMP Hang Kesturi Medan. Kami semua memanggilnya Kak Tio karena ia pembina di
pramuka.
Perguruan Hang
Kesturi menyelenggarakan pendidikan dari TK sampai SMA. Mulanya perguruan ini
khusus untuk warga Tionghoa. Kemudian menjadi sekolah pembauran. Emakku
memasukkan aku ke situ karena sekolah ini terkenal sangat berdisiplin dan
perpustakaannya bagus. Aku suka membaca, perpustakaan bagus tentulah sangat
mendukung kesukaanku. Teman-teman SD ku yang sekolah di SMP Negeri menyebut
sekolahku penjara. Sebab ada pintu gerbang besar terbuat dari besi. Lima menit
sebelum jam pelajaran dimulai, pintu gerbang itu ditutup. Kemudian tinggallah
pintu kecil dan lubang kecil di pintu kecil untuk berkomunikasi antara penjaga
di dalam dan orang di luar. Memang mirip penjara. Pintu gerbang besar baru
dibuka kembali jika jam pelajaran usai. Kami tidak boleh tinggalkan sekolah,
kecuali ada izin tertulis.
Di perguruan ini
orang Indonesia atau pribumi adalah minoritas. Pribumi yang muslim adalah
minoritasnya minoritas. Sungguh menjadi siswa di sini memberi aku pengalaman
dan penghayatan apa maknanya keindonesiaan, menjadi orang Indonesia secara
nyata, bukan konseptual. Sebab di Medan orang Tionghoa minoritas dan banyak di
antara mereka menarik jarak sangat jauh dari orang pribumi. Di sekolah ini dan
sekolah lain yang sejenis, justru orang pribumi yang jadi minoritas. Tentulah
ini pengalaman yang berharga dan sangat menarik.
Ada sejumlah murid dan beberapa guru yang secara halus atau kasar
menunjukkan sikap mentang-mentang karena merasa kelompok mayoritas. Ada guru
muda mengajar matematika dan bahasa Inggris yang sangat menunjukkan sikap
diskriminatifnya. Oleh karena itu guru agama Islam mengajarkan pada kami ilmu
bela diri untuk menjaga diri. Memang pernah terjadi benturan, teman sekelasku
sampai masuk rumah sakit karena dikeroyok teman-teman yang Tionghoa. Emakku
memerintahkanku untuk mencari biang keladi pengeroyokan, dan aku ganti
menghajar dia sampai masuk rumah sakit juga. Sudah pasti kejadian ini menimbulkan
masalah yang melibatkan para orang tua. Karena sikap tegas emakku, akhirnya
temanku yang masuk rumah sakit dibebaskan dari hukuman, dan aku hanya mendapat
surat teguran. Mestinya aku dikeluarkan dari sekolah. Agaknya emakku sudah
memperhitungkan semua ini.
Peristiwa itu
membuat aku menjadi semacam pemimpin informal bagi siswa pribumi. Aku mulai
diperhitungkan, karena yang kuhajar jago karate. Peristiwa itu membuat
orang-orang jadi tahu aku bisa silat. Padahal selama ini aku dikenal jago silat
lidah.
Dalam situasi
seperti inilah Kak Tio terasa sangat berbeda. Ia yang merancang agar dalam
pembagian tempat duduk, orang pribumi dan Tionghoa duduk sebangku. Waktu aku
baru masuk tidak seperti itu. Dalam upacara bendera, petugasnya juga harus
terdiri dari orang pribumi dan Tionghoa. Begitu pun dalam tim basket, meski orang
pribumi yang bisa bermain basket sedikit dan kalah jago dibanding yang
Tionghoa.
Di kantin sekolah,
Kak Tio suka duduk bersama siswa pribumi dan berbagi makanan. Dia yang menggagas
dan mengusahakan ada mushola dan perayaan hari besar Islam di sekolah. Ia
menegur siswa Tionghoa yang tidak menggunakan bahasa Indonesia. Dalam
acara-acara hiburan di sekolah ia suka menyanyikan lagu Bengawan Solo. Ia hafal
banyak lagu daerah.
Pada jam istirahat
dia suka ngobrol dengan para siswa di kantin atau di lapangan yang terletak di
tengah sekolah. Saat masuk dan pulang sekolah ia berdiri di pintu, menyalami
para murid dan menyebut nama para murid. Pastilah kami senang karena disebut namanya
oleh guru yang sangat senior dan sangat baik.
Hubunganku dengan
Kak Tio sangat baik karena aku aktif di kepramukaan. Ia kreatif menciptakan
permainan dan kompetisi yang menyatukan siswa pribumi dan Tionghoa. Dia buat lomba
lari sambil menggendong. Dia contohkan dengan menggendong aku dibagian belakang
tubuhnya dan berlari. Siswa pribumi dan Tionghoa bergantian menggendong dan
berlari. Asyik bener, karena kami jatuh dan terguling bersama. Ia juga membuat
lomba karung yang berisi dua orang, pribumi dan Tionghoa, lagi-lagi kami jatuh,
berpelukan dan terguling bersama. Sungguh semua permainan yang dibuat Kak Tio
membuat kami jadi sangat kompak.
Jika ada acara berkemah
dia mengatur agar pada setiap tenda diisi oleh siswa pribumi dan Tionghoa. Bagi
kami Kak Tio sungguh teladan hidup tentang hidup damai dalam keberagaman. Dia
menciptakan yel-yel Aku Indonesia, Aku Cinta Indonesia, Kita Indonesia. Tak
heran bila nama Kak Tio sohor di kalangan orang tua murid pribumi dan Tionghoa.
Ada peristiwa yang
sungguh sangat mengesankan. Waktu itu kami berkemah di Brastagi. Kemah
didirikan di lapangan terbuka. Suatu malam hujan sangat deras dan angin
kencang. Tenda-tenda pada berantakan, kami terpaksa dievakuasi dari tenda.
Ternyata tempat yang bisa menampung kami yang berjumlah banyak dan yang paling
dekat dengan tempat berkemah adalah gereja.
Semua siswa
peribumi yang muslim menunjukkan keengganan. Aku bersikap biasa saja. Aku
pernah masuk gereja saat SD menyaksikan tetanggaku yang menikah di gereja.
Emakku juga tak pernah melarang aku masuk gereja. Emakku bilang rumah ibadah
adalah tempat Tuhan dipuji. Mengapa pula tidak boleh masuk ke rumah ibadah
agama lain? Kecuali jika niatnya mau mencuri.
Rupanya beberapa
siswa beragama Budha juga keberatan. Kak Tio mengajak aku bicara. Aku sarankan
yang tidak mau masuk gereja jangan dipaksa. Mungkin ada tempat di sekitar
gereja untuk mereka.
Kak Tio kemudian
berbicara di depan para siswa. Ia berbicara dengan sangat hati-hati.
Ia menjelaskan
bahwa jika kita bertahan di tenda akan sangat berbahaya. Sebab kilat dan petir
kerap muncul dan angin sangat kencang. Bisa saja pohon tumbang. Ia sudah
membagi dengan cermat siapa yang akan berada di dalam gereja dan dibagian
belakang dekat pintu masuk, dan siapa yang berada di rumah kecil yang berada
tepat di samping gereja. Ia menjamin rumah itu bisa digunakan untuk shalat.
Bagusnya suasana jadi tenang karena sebelum berbicara ia mengajak kita semua
berdoa dengan keyakinan masing-masing. Pada akhir pembicaraan ia umumkan bahwa
aku yang akan jadi pimpinan bagi yang bermalam di dalam gereja. Sejumlah teman
yang muslim terlihat kaget.
Kemudian
kesempatanku berbicara. Aku hanya menambahkan, karena kita bermalam di rumah
ibadah untuk malam ini saja, mohon menjaga ketertiban. Malam itu, aku dan teman-teman
dan sejumlah guru berada di dalam gereja. Sementara Kak Tio menemani
teman-teman yang bermalam di rumah di samping gereja. Malam itu kami terhindar
dari buruknya cuaca. Kak Tio telah tunjukkan bagaimana seharusnya kita saling
bantu dan hidup damai dalam kebergaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd