Kamis, 27 Maret 2014

KAK TIO


(Doa dan kenangan bagi Guru multikulturalismeku)



Tinggi tegap, sisiran rambut rapih, pakaian sangat rapih dengan asesori bendera merah putih di dada kiri. Bila memakai kopiah ada hiasan burung garuda di bagian kiri depan kopiahnya. Ia guru yang sangat santun dan menyenangkan. Ia guru paling senior di SMP Hang Kesturi Medan. Kami semua memanggilnya Kak Tio karena ia pembina di pramuka.

Perguruan Hang Kesturi menyelenggarakan pendidikan dari TK sampai SMA. Mulanya perguruan ini khusus untuk warga Tionghoa. Kemudian menjadi sekolah pembauran. Emakku memasukkan aku ke situ karena sekolah ini terkenal sangat berdisiplin dan perpustakaannya bagus. Aku suka membaca, perpustakaan bagus tentulah sangat mendukung kesukaanku. Teman-teman SD ku yang sekolah di SMP Negeri menyebut sekolahku penjara. Sebab ada pintu gerbang besar terbuat dari besi. Lima menit sebelum jam pelajaran dimulai, pintu gerbang itu ditutup. Kemudian tinggallah pintu kecil dan lubang kecil di pintu kecil untuk berkomunikasi antara penjaga di dalam dan orang di luar. Memang mirip penjara. Pintu gerbang besar baru dibuka kembali jika jam pelajaran usai. Kami tidak boleh tinggalkan sekolah, kecuali ada izin tertulis.

Di perguruan ini orang Indonesia atau pribumi adalah minoritas. Pribumi yang muslim adalah minoritasnya minoritas. Sungguh menjadi siswa di sini memberi aku pengalaman dan penghayatan apa maknanya keindonesiaan, menjadi orang Indonesia secara nyata, bukan konseptual. Sebab di Medan orang Tionghoa minoritas dan banyak di antara mereka menarik jarak sangat jauh dari orang pribumi. Di sekolah ini dan sekolah lain yang sejenis, justru orang pribumi yang jadi minoritas. Tentulah ini pengalaman yang berharga dan sangat menarik.

 Ada sejumlah murid dan  beberapa guru yang secara halus atau kasar menunjukkan sikap mentang-mentang karena merasa kelompok mayoritas. Ada guru muda mengajar matematika dan bahasa Inggris yang sangat menunjukkan sikap diskriminatifnya. Oleh karena itu guru agama Islam mengajarkan pada kami ilmu bela diri untuk menjaga diri. Memang pernah terjadi benturan, teman sekelasku sampai masuk rumah sakit karena dikeroyok teman-teman yang Tionghoa. Emakku memerintahkanku untuk mencari biang keladi pengeroyokan, dan aku ganti menghajar dia sampai masuk rumah sakit juga. Sudah pasti kejadian ini menimbulkan masalah yang melibatkan para orang tua. Karena sikap tegas emakku, akhirnya temanku yang masuk rumah sakit dibebaskan dari hukuman, dan aku hanya mendapat surat teguran. Mestinya aku dikeluarkan dari sekolah. Agaknya emakku sudah memperhitungkan semua ini.

Peristiwa itu membuat aku menjadi semacam pemimpin informal bagi siswa pribumi. Aku mulai diperhitungkan, karena yang kuhajar jago karate. Peristiwa itu membuat orang-orang jadi tahu aku bisa silat. Padahal selama ini aku dikenal jago silat lidah.

Dalam situasi seperti inilah Kak Tio terasa sangat berbeda. Ia yang merancang agar dalam pembagian tempat duduk, orang pribumi dan Tionghoa duduk sebangku. Waktu aku baru masuk tidak seperti itu. Dalam upacara bendera, petugasnya juga harus terdiri dari orang pribumi dan Tionghoa. Begitu pun dalam tim basket, meski orang pribumi yang bisa bermain basket sedikit dan kalah jago dibanding yang Tionghoa.

Di kantin sekolah, Kak Tio suka duduk bersama siswa pribumi dan berbagi makanan. Dia yang menggagas dan mengusahakan ada mushola dan perayaan hari besar Islam di sekolah. Ia menegur siswa Tionghoa yang tidak menggunakan bahasa Indonesia. Dalam acara-acara hiburan di sekolah ia suka menyanyikan lagu Bengawan Solo. Ia hafal banyak lagu daerah.

Pada jam istirahat dia suka ngobrol dengan para siswa di kantin atau di lapangan yang terletak di tengah sekolah. Saat masuk dan pulang sekolah ia berdiri di pintu, menyalami para murid dan menyebut nama para murid. Pastilah kami senang karena disebut namanya oleh guru yang sangat senior dan sangat baik.

Hubunganku dengan Kak Tio sangat baik karena aku aktif di kepramukaan. Ia kreatif menciptakan permainan dan kompetisi yang menyatukan siswa pribumi dan Tionghoa. Dia buat lomba lari sambil menggendong. Dia contohkan dengan menggendong aku dibagian belakang tubuhnya dan berlari. Siswa pribumi dan Tionghoa bergantian menggendong dan berlari. Asyik bener, karena kami jatuh dan terguling bersama. Ia juga membuat lomba karung yang berisi dua orang, pribumi dan Tionghoa, lagi-lagi kami jatuh, berpelukan dan terguling bersama. Sungguh semua permainan yang dibuat Kak Tio membuat kami jadi sangat kompak.

Jika ada acara berkemah dia mengatur agar pada setiap tenda diisi oleh siswa pribumi dan Tionghoa. Bagi kami Kak Tio sungguh teladan hidup tentang hidup damai dalam keberagaman. Dia menciptakan yel-yel Aku Indonesia, Aku Cinta Indonesia, Kita Indonesia. Tak heran bila nama Kak Tio sohor di kalangan orang tua murid pribumi dan Tionghoa.

Ada peristiwa yang sungguh sangat mengesankan. Waktu itu kami berkemah di Brastagi. Kemah didirikan di lapangan terbuka. Suatu malam hujan sangat deras dan angin kencang. Tenda-tenda pada berantakan, kami terpaksa dievakuasi dari tenda. Ternyata tempat yang bisa menampung kami yang berjumlah banyak dan yang paling dekat dengan tempat berkemah adalah gereja.

Semua siswa peribumi yang muslim menunjukkan keengganan. Aku bersikap biasa saja. Aku pernah masuk gereja saat SD menyaksikan tetanggaku yang menikah di gereja. Emakku juga tak pernah melarang aku masuk gereja. Emakku bilang rumah ibadah adalah tempat Tuhan dipuji. Mengapa pula tidak boleh masuk ke rumah ibadah agama lain? Kecuali jika niatnya mau mencuri.

Rupanya beberapa siswa beragama Budha juga keberatan. Kak Tio mengajak aku bicara. Aku sarankan yang tidak mau masuk gereja jangan dipaksa. Mungkin ada tempat di sekitar gereja untuk mereka.
Kak Tio kemudian berbicara di depan para siswa. Ia berbicara dengan sangat hati-hati.

Ia menjelaskan bahwa jika kita bertahan di tenda akan sangat berbahaya. Sebab kilat dan petir kerap muncul dan angin sangat kencang. Bisa saja pohon tumbang. Ia sudah membagi dengan cermat siapa yang akan berada di dalam gereja dan dibagian belakang dekat pintu masuk, dan siapa yang berada di rumah kecil yang berada tepat di samping gereja. Ia menjamin rumah itu bisa digunakan untuk shalat. Bagusnya suasana jadi tenang karena sebelum berbicara ia mengajak kita semua berdoa dengan keyakinan masing-masing. Pada akhir pembicaraan ia umumkan bahwa aku yang akan jadi pimpinan bagi yang bermalam di dalam gereja. Sejumlah teman yang muslim terlihat kaget.

Kemudian kesempatanku berbicara. Aku hanya menambahkan, karena kita bermalam di rumah ibadah untuk malam ini saja, mohon menjaga ketertiban. Malam itu, aku dan teman-teman dan sejumlah guru berada di dalam gereja. Sementara Kak Tio menemani teman-teman yang bermalam di rumah di samping gereja. Malam itu kami terhindar dari buruknya cuaca. Kak Tio telah tunjukkan bagaimana seharusnya kita saling bantu dan hidup damai dalam kebergaman.

GURU SEJATI MAMPU MEMBANGUN KOMUNIKASI EMPATIS DAN PEDULI PADA SEMUA MURIDNYA. IA ADALAH TELADAN HIDUP BAGI KEBAIKAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd