Kamis, 27 Maret 2014

TENTANG GURUKU


(Doa dan penghormatan bagi guruku Pak Oesman Nasoetion)



Ia sungguh guru sejati sebagaimana yang difahami dan dihayati oleh emakku. Ia datang berjalan kaki ke sekolah yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya. Ia adalah orang yang pertama sekali datang ke sekolah. Biasanya tepat saat penjaga sekolah baru mulai menyapu halaman sekolah. Ia menyapa penjaga sekolah, terkadang berbincang sebentar dan membuka pintu kantor kepala sekolah. Ia guru dan sekaligus kepala sekolah.

Namanya berkibar, terutama di kalangan ibu-ibu yang menjadikan sekolah dasar yang dipimpinnya menjadi sekolah favorit. Ia sungguh sangat beda dengan guru dan kepala sekolah mana pun. Ia secara teratur menyambangi rumah para murid dan berbincang dengan para orang tua. Ia tidak pernah mau menerima pemberian apapun, meskipun sekadar buah tangan.

Hidupnya memang terbilang sederhana. Rumahnya merupakan rumah kayu yang sederhana. Oleh karena memiliki banyak anak, istrinya jualan sarapan pagi di depan rumah. Semua anaknya bersekolah dengan baik. Salah seorang sekelas denganku. Bila ia tidak disiplin, guruku tetap menghukumnya seperti yang lain. Tak ada keistimewaan meski ia anak kepala sekolah. Karena temanku itu dididik dengan benar, ia juga tidak mentang-mentang. Ia bersikap seperti kita semua. Kala ada seleksi untuk mewakili sekolah, ia harus ikut seleksi seperti yang lain, dan sering tidak lolos.

Bila sedang berurusan agak jauh dari rumah, ia menggunakan sepeda ontel yang usianya juga tua seperti guruku itu. Karena badannya tergolong kecil dan sepeda ontel itu tinggi, jadi terlihat lucu. Kemana pun ia menggunakan sepeda ontel itu. Sepeda yang selalu bersih berkilat karena dipelihara dengan sangat baik. Bila naik sepeda ontel itu ia jadi mirip seperti Oemar Bakri yang dinyanyikan Iwan Fals.

Saat menyambangi rumah murid, kepala sekolah dan guruku ini berbincang dengan orang tua tentang berbagai sisi baik siswa. Dengan hati-hati ia juga membincangkan sejumlah perilaku yang bisa diperbaiki bersama antara sekolah dan keluarga siswa. Jadi, tidak ada siswa yang was-was bila ia berkunjung ke rumah siswa. Ia tidak hanya menyambangi rumah siswa yang bermasalah.

Aku masih ingat seorang teman sekelasku yang ayahnya meninggal. Kepala sekolahku ini terus berusaha agar temanku tetap bersekolah. Ia tidak bisa menahan kala keluarga itu memutuskan untuk pindah ke kota lain. Ia sangat peduli pada kami semua, para muridnya.

Ia lembut. Jika berbicara logatnya benar-benar sangat Melayu. Ia juga suka melucu, semakin lucu karena gigi depannya ompong semua. Meski lembut, ia bisa sangat tegas. Di kelasku ada anak pejabat di lingkungan dinas pendidikan. Anaknya rada nakal dan suka mengganggu para siswi. Ia dipanggil oleh kepala sekolahku. Ia diajak bicara baik-baik. Tetapi tampaknya ia tidak peduli, karena ia tahu kepala sekolahi masih terhitung bawahan bapaknya. Saat temanku ini mulai keterlaluan, kepala sekolah tidak datangi rumahnya, namun memanggil bapaknya untuk datang ke sekolah. Ia mengajak bapak temanku ini untuk bersama-sama memperbaiki perilaku temanku itu. Ia juga memberi tengat waktu. Bila tidak bisa berubah ia akan keluarkan temanku dari sekolah. Taktinya jitu, temanku itu jadi baik beneran.

Kami sangat patuh dan menyayanginya. Yang kami semua suka adalah saat hendak ujian. Dia suka buat acara rujakan. Murah dan meriah benar. Masing-masing kami membawa buah. Kepala sekolah yang membuat bumbu rujaknya. Benar-benar enak, dan membuat kami semua gembira menghadapi ujian.

Aku dan teman-teman sepakat untuk mengerjakan PR sepulang sekolah gantian dari rumah ke rumah. Rumahku menjadi tempat favorit karena emakku selalu menyediakan makanan. Rumah kepala sekolah juga sama, karena anaknya sekelas denganku. Ibunya juga jago masak seperti emakku. Setiap kali pulang dari belajar bersama di rumah kepala sekolah, istrinya selalu menitipkan makanan untuk emakku, begitu juga bila anaknya belajar di rumahku. Istri kepala sekolah akrab dengan ibu-ibu para murid.

Aku semakin menghormati guru dan kepala sekolahku karena satu kejadian besar yang melibatkan aku. Aku masih kelas empat dan masuk siang. Siang itu sangat panas. Kami belajar dengan tenang. Aku duduk sebangku dengan Dp. Dia dikenal sebagai anak paling baik dan sopan di kelas. Ia anak lelaki yang lembut. Kami sampai bilang, semut pun takkan mati bila tak sengaja diinjaknya. Ia sering berbagi kue yang dibawa dari rumah. Benar-benar ia anak baik.

Tepat di belakanngya duduk si Iw. Anak paling iseng di kelas. Ia agak nakal. Kami menyebutnya bajak laut karena ayahnya pelaut yang jarang di rumah. Ada saja keisengannnya mengganggu teman-teman. Ia tak berani denganku karena aku jago berkelahi. Dia makin takut padaku karena ia tahu aku sudah setahun belajar silat. Jadi dia tidak berani menggangguku.

Karena Dp baik dan lembut, Iw sering mengganggunya. Dp didudukkan denganku maksudnya supaya tidak diganggu teman-teman yang iseng. Tak ada teman di kelas yang berani denganku. Aku bahkan berani melawan kakak kelasku yang suka mengganggu anak wanita di kelasku.

Guru kelasku menunjukku menjadi penangung jawab kebersihan kelas dan yang mengatur piket di kelas. Jadi, hubunganku dengan guru kelas sangat baik. Sewaktu Dp dipasangkan denganku guruku meminta aku untuk membantunya. Karena itu saat Iw mulai mengganggu Dp aku tegur dia. Dia diam dan tak berani mengganggu lagi.

Aku diperintahkan mengerjakan soal ke papan tulis. Saat aku sedang mengerjakan soal, tiba-tiba Dp berteriak kencang. Guru kelasku menuju ke bangku. Aku tahu pasti Iw mengganngunya. Aku juga bergegas ke arah Dp. Aku tak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba Dp berteriak lebih keras. Rupanya guru kelasku menarik rambut di bagian jambangnya sampai sejumlah rambut copot dan mengeluarkan sedikit darah. Kami semua kaget. Anak-anak perempuan yang duduk di sekitar Dp mulai menangis. Guru kelasku makin marah dan mulai memaki dan menampar Dp. Aku tidak terima dan berteriak meminta guru kelasku jangan lagi memukul Dp. Ia tambah marah, ia mencubit tangan Dp sampai ada bekas merah, dan berbalik ke arahku. Aku mundur, tetapi aku sudah sangat marah karena aku lihat Dp nangis.

Aku mundur sampai berada tepat di depan papan tulis. Guru kami itu rupanya mau mengambil penggaris panjang, ia memanggil Dp dan Iw ke depan. Saat ia mau mengayunkan penggaris itu ke arah Dp aku menangkapnya dengan cepat. Ia mencoba menarik, aku mundur mempertahankan, aku menabrak papn tulis dan papan tulis jatuh. Anak wanita berteriak. Kelas jadi kacau. Pintu dipaksa dibuka dari luar karena dikunci. Beberapa guru masuk. Para guru berjalan ke arahku, papan tulis diangkat dan aku ditarik agar bisa berdiri. Suasana kelas betul-betul kacau. Banyak murid dari kelas lain berdiri di pintu. Aku kemudian setengah berlari keluar kelas. Aku berlari menuju ke rumah yang tak berapa jauh dari sekolah. Sejumlah teman mengikuti dari belakang sampai ke rumah. Sampai di rumah aku nangis. Aku benar-benar marah dan kesal. Emakku bertanya aku tak bisa menjawab. Tak berapa lama teman-temanku sampai di rumahku. Mereka juga menangis. Sambil terisak mereka yang jelaskan apa yang terjadi. Emakku jadi ikutan marah saat diceritakan apa yang dilakukan guru terhadap Dp. Emakku mau ke sekolah, teman-temanku jadi makin menangis. Melihat mereka menangis, emakku menenangkan mereka. Tak berapa lama teman-teman yang datang ke rumahku bertambah. Mereka cerita bu guru yang marah sudah dibawa pulang, Dp juga diantar guru pulang. Akhirnya teman-teman meninggalkan rumahku.

Setelah maghrib, ayah Dp datang ke rumahku. Rupanya jambang dan tangan Dp terluka. Ia mengajak emakku ke rumah kepala sekolah. Baru saja mau berangkat, kepala sekolah mengucapkan salam. Ia datang bersama istrinya. Rupanya tadi siang sampai sore dia ada urusan ke kecamatan.

Kepala sekolah memanggilku. Ia rangkul aku dan mengusap kepalaku. Tak ada sepatah kata pun dari mulutnya. Emakku meminta aku masuk ke kamar. Mereka berbicara berempat. Aku dengar ia meminta maaf dan mohon kesabaran karena ia akan selesaikan semuanya malam ini. Tadinya ia mau ke rumah Dp setelah dari rumahku, karena rumah Dp memang agak jauh dari sekolah. Tapi karena ayah Dp ada di rumahku, pembicaraan dilakukan di rumahku. Aku tak mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan. Pembicaraan agak lama. Saat mereka hendak pulang, aku dipanggil. Kepala sekolah kemudian memintaku istirahat saja dulu di rumah. Menjelang tidur emakku tidak banyak bicara dan memintaku tidur.

Besok pagi teman-temanku datang ke rumah. Mereka berbicara reaksi orang tua mereka atas kejadian ini. Mereka jadi pada gak berani datang ke sekolah hari ini. Aku juga kehilangan selera untuk sekolah. Emakku bilang gak perlu datang ke sekolah hari ini. Rupanya emakku sudah menyampaikan kepada beberapa orang tua murid yang dekat dengan rumahku boleh libur hari ini. Agak siang, ramai-ramai kami ke rumah Dp. Kami minta ia ceritakan apa yang terjadi, sampai bu guru jadi sangat marah. Dia bilang guru bertanya ada apa. Dp jelaskan kepada kami bahwa Iw mengambil bukunya. Saat mau merebut bukunya, Iw melemparkan buku itu kemukanya. Ia menjerit karena kesal dan sakit. Sewaktu bu guru datang, ia tak menjawab pertanyaan bu guru. Rupanya diamnya itu yang memicu marahnya bu guru. Kami memeriksa tangan kanan Dp yang terluka, juga daerah di sekirar jambangnya.

Di rumah, aku bilang sama emakku, aku gak mau sekolah di sekolahku yang sekarang. Emakku menasihatiku agar bersabar. Tiga hari aku gak mau masuk sekolah. Tiap hari teman-teman datang ke rumahku dan bilang bu guru juga gak pernah datang ke sekolah. Sementara kepala sekolah yang ngajar. Saat aku tidak masuk, setiap hari istri kepala sekolah datang ke rumahku membawakan makanan, dan memintaku untuk tetap sekolah. Aku tetap gak mau. Dp juga gak mau sekolah. Istri kepala sekolah juga ke rumah Dp.

Pada hari ketiga aku tidak masuk, kepala sekolah datang ke rumahku saat jam pelajaran. Aku sedang main layangan. Ia samperin aku yang sedang asyik. Aku jadi gak enak hati. Dia memberi tahu cara mengatasi layanganku yang mulai menjujut mengarah ke bawah karena angin kencang. Kemudian dia minta benangnya dan memainkan layanganku. Layangan itu mulai berada pada posisi yang aman. Ia kembalikan benang layangan padaku dan meminta aku untuk melaga layangan ku dengan layangan terdekat. Dia memberikan arahan apa yang harus kulakukan. Aku ikuti arahannya, dan benar, aku menang. Dia bertepuk tangan. Dia kemudian meminta aku kembali ke sekolah, dia bilang guruku sudah dipindahkan ke sekolah lain. Sekarang dia yang mengajar di kelasku. Setelah itu ia tinggalkan aku, tak lupa membelai kepalaku. Ia minta aku tetap bermain layangan. Ia ke rumahku berpamitan pada emakku.

Sepulang sekolah teman-teman datang ke rumahku. Mereka diberi tahu besok Dp dan aku kembali ke sekolah. Rupanya kepala sekolah yang umumkan.

Besok pagi aku ke rumah Dp, ia membenarkan mau sekolah hari ini. Kepala sekolah, istrinya, dan anaknya yang sekelas dengan kami rupanya juga sudah datang ke rumahnya kemarin pagi. Jadi sebelum ketemu aku siang kemarin kepala sekolah sudah ke rumah Dp.

Siang itu aku dan Dp kembali ke sekolah, teman-teman sangat senang. Sampai kenaikan kelas, kepala sekolah mengajar di kelas kami. Iw duduk tepat di depan bangku kepala sekolah. Orang tuannya sudah datang ke rumah Dp untuk meminta maaf. Juga rupanya sudah datang ketemu emakku untuk meminta maaf. Semuanya kepala sekolah yang mengatur.

GURU SEJATI MELAKUKAN APAPUN YANG TERBAIK BAGI PARA MURIDNYA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd