(Doa dan penghormatan bagi guruku Pak Oesman Nasoetion)
Ia sungguh guru
sejati sebagaimana yang difahami dan dihayati oleh emakku. Ia datang berjalan
kaki ke sekolah yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya. Ia adalah orang
yang pertama sekali datang ke sekolah. Biasanya tepat saat penjaga sekolah baru
mulai menyapu halaman sekolah. Ia menyapa penjaga sekolah, terkadang berbincang
sebentar dan membuka pintu kantor kepala sekolah. Ia guru dan sekaligus kepala
sekolah.
Namanya berkibar, terutama
di kalangan ibu-ibu yang menjadikan sekolah dasar yang dipimpinnya menjadi
sekolah favorit. Ia sungguh sangat beda dengan guru dan kepala sekolah mana
pun. Ia secara teratur menyambangi rumah para murid dan berbincang dengan para
orang tua. Ia tidak pernah mau menerima pemberian apapun, meskipun sekadar buah
tangan.
Hidupnya memang
terbilang sederhana. Rumahnya merupakan rumah kayu yang sederhana. Oleh karena
memiliki banyak anak, istrinya jualan sarapan pagi di depan rumah. Semua
anaknya bersekolah dengan baik. Salah seorang sekelas denganku. Bila ia tidak
disiplin, guruku tetap menghukumnya seperti yang lain. Tak ada keistimewaan
meski ia anak kepala sekolah. Karena temanku itu dididik dengan benar, ia juga
tidak mentang-mentang. Ia bersikap seperti kita semua. Kala ada seleksi untuk
mewakili sekolah, ia harus ikut seleksi seperti yang lain, dan sering tidak
lolos.
Bila sedang
berurusan agak jauh dari rumah, ia menggunakan sepeda ontel yang usianya juga
tua seperti guruku itu. Karena badannya tergolong kecil dan sepeda ontel itu
tinggi, jadi terlihat lucu. Kemana pun ia menggunakan sepeda ontel itu. Sepeda
yang selalu bersih berkilat karena dipelihara dengan sangat baik. Bila naik
sepeda ontel itu ia jadi mirip seperti Oemar Bakri yang dinyanyikan Iwan Fals.
Saat menyambangi
rumah murid, kepala sekolah dan guruku ini berbincang dengan orang tua tentang
berbagai sisi baik siswa. Dengan hati-hati ia juga membincangkan sejumlah
perilaku yang bisa diperbaiki bersama antara sekolah dan keluarga siswa. Jadi,
tidak ada siswa yang was-was bila ia berkunjung ke rumah siswa. Ia tidak hanya
menyambangi rumah siswa yang bermasalah.
Aku masih ingat
seorang teman sekelasku yang ayahnya meninggal. Kepala sekolahku ini terus
berusaha agar temanku tetap bersekolah. Ia tidak bisa menahan kala keluarga itu
memutuskan untuk pindah ke kota lain. Ia sangat peduli pada kami semua, para
muridnya.
Ia lembut. Jika
berbicara logatnya benar-benar sangat Melayu. Ia juga suka melucu, semakin lucu
karena gigi depannya ompong semua. Meski lembut, ia bisa sangat tegas. Di
kelasku ada anak pejabat di lingkungan dinas pendidikan. Anaknya rada nakal dan
suka mengganggu para siswi. Ia dipanggil oleh kepala sekolahku. Ia diajak
bicara baik-baik. Tetapi tampaknya ia tidak peduli, karena ia tahu kepala
sekolahi masih terhitung bawahan bapaknya. Saat temanku ini mulai keterlaluan, kepala
sekolah tidak datangi rumahnya, namun memanggil bapaknya untuk datang ke
sekolah. Ia mengajak bapak temanku ini untuk bersama-sama memperbaiki perilaku temanku
itu. Ia juga memberi tengat waktu. Bila tidak bisa berubah ia akan keluarkan
temanku dari sekolah. Taktinya jitu, temanku itu jadi baik beneran.
Kami sangat patuh
dan menyayanginya. Yang kami semua suka adalah saat hendak ujian. Dia suka buat
acara rujakan. Murah dan meriah benar. Masing-masing kami membawa buah. Kepala
sekolah yang membuat bumbu rujaknya. Benar-benar enak, dan membuat kami semua
gembira menghadapi ujian.
Aku dan
teman-teman sepakat untuk mengerjakan PR sepulang sekolah gantian dari rumah ke
rumah. Rumahku menjadi tempat favorit karena emakku selalu menyediakan makanan.
Rumah kepala sekolah juga sama, karena anaknya sekelas denganku. Ibunya juga
jago masak seperti emakku. Setiap kali pulang dari belajar bersama di rumah
kepala sekolah, istrinya selalu menitipkan makanan untuk emakku, begitu juga
bila anaknya belajar di rumahku. Istri kepala sekolah akrab dengan ibu-ibu para
murid.
Aku semakin
menghormati guru dan kepala sekolahku karena satu kejadian besar yang
melibatkan aku. Aku masih kelas empat dan masuk siang. Siang itu sangat panas.
Kami belajar dengan tenang. Aku duduk sebangku dengan Dp. Dia dikenal sebagai
anak paling baik dan sopan di kelas. Ia anak lelaki yang lembut. Kami sampai
bilang, semut pun takkan mati bila tak sengaja diinjaknya. Ia sering berbagi
kue yang dibawa dari rumah. Benar-benar ia anak baik.
Tepat di
belakanngya duduk si Iw. Anak paling iseng di kelas. Ia agak nakal. Kami
menyebutnya bajak laut karena ayahnya pelaut yang jarang di rumah. Ada saja
keisengannnya mengganggu teman-teman. Ia tak berani denganku karena aku jago
berkelahi. Dia makin takut padaku karena ia tahu aku sudah setahun belajar
silat. Jadi dia tidak berani menggangguku.
Karena Dp baik dan
lembut, Iw sering mengganggunya. Dp didudukkan denganku maksudnya supaya tidak
diganggu teman-teman yang iseng. Tak ada teman di kelas yang berani denganku.
Aku bahkan berani melawan kakak kelasku yang suka mengganggu anak wanita di
kelasku.
Guru kelasku
menunjukku menjadi penangung jawab kebersihan kelas dan yang mengatur piket di
kelas. Jadi, hubunganku dengan guru kelas sangat baik. Sewaktu Dp dipasangkan
denganku guruku meminta aku untuk membantunya. Karena itu saat Iw mulai
mengganggu Dp aku tegur dia. Dia diam dan tak berani mengganggu lagi.
Aku diperintahkan
mengerjakan soal ke papan tulis. Saat aku sedang mengerjakan soal, tiba-tiba Dp
berteriak kencang. Guru kelasku menuju ke bangku. Aku tahu pasti Iw
mengganngunya. Aku juga bergegas ke arah Dp. Aku tak tahu apa yang terjadi,
tiba-tiba Dp berteriak lebih keras. Rupanya guru kelasku menarik rambut di
bagian jambangnya sampai sejumlah rambut copot dan mengeluarkan sedikit darah.
Kami semua kaget. Anak-anak perempuan yang duduk di sekitar Dp mulai menangis.
Guru kelasku makin marah dan mulai memaki dan menampar Dp. Aku tidak terima dan
berteriak meminta guru kelasku jangan lagi memukul Dp. Ia tambah marah, ia
mencubit tangan Dp sampai ada bekas merah, dan berbalik ke arahku. Aku mundur,
tetapi aku sudah sangat marah karena aku lihat Dp nangis.
Aku mundur sampai
berada tepat di depan papan tulis. Guru kami itu rupanya mau mengambil
penggaris panjang, ia memanggil Dp dan Iw ke depan. Saat ia mau mengayunkan
penggaris itu ke arah Dp aku menangkapnya dengan cepat. Ia mencoba menarik, aku
mundur mempertahankan, aku menabrak papn tulis dan papan tulis jatuh. Anak
wanita berteriak. Kelas jadi kacau. Pintu dipaksa dibuka dari luar karena
dikunci. Beberapa guru masuk. Para guru berjalan ke arahku, papan tulis
diangkat dan aku ditarik agar bisa berdiri. Suasana kelas betul-betul kacau.
Banyak murid dari kelas lain berdiri di pintu. Aku kemudian setengah berlari
keluar kelas. Aku berlari menuju ke rumah yang tak berapa jauh dari sekolah. Sejumlah
teman mengikuti dari belakang sampai ke rumah. Sampai di rumah aku nangis. Aku benar-benar
marah dan kesal. Emakku bertanya aku tak bisa menjawab. Tak berapa lama
teman-temanku sampai di rumahku. Mereka juga menangis. Sambil terisak mereka
yang jelaskan apa yang terjadi. Emakku jadi ikutan marah saat diceritakan apa
yang dilakukan guru terhadap Dp. Emakku mau ke sekolah, teman-temanku jadi
makin menangis. Melihat mereka menangis, emakku menenangkan mereka. Tak berapa
lama teman-teman yang datang ke rumahku bertambah. Mereka cerita bu guru yang marah
sudah dibawa pulang, Dp juga diantar guru pulang. Akhirnya teman-teman
meninggalkan rumahku.
Setelah maghrib,
ayah Dp datang ke rumahku. Rupanya jambang dan tangan Dp terluka. Ia mengajak
emakku ke rumah kepala sekolah. Baru saja mau berangkat, kepala sekolah mengucapkan
salam. Ia datang bersama istrinya. Rupanya tadi siang sampai sore dia ada urusan
ke kecamatan.
Kepala sekolah
memanggilku. Ia rangkul aku dan mengusap kepalaku. Tak ada sepatah kata pun
dari mulutnya. Emakku meminta aku masuk ke kamar. Mereka berbicara berempat.
Aku dengar ia meminta maaf dan mohon kesabaran karena ia akan selesaikan
semuanya malam ini. Tadinya ia mau ke rumah Dp setelah dari rumahku, karena
rumah Dp memang agak jauh dari sekolah. Tapi karena ayah Dp ada di rumahku,
pembicaraan dilakukan di rumahku. Aku tak mendengar dengan jelas apa yang
dibicarakan. Pembicaraan agak lama. Saat mereka hendak pulang, aku dipanggil.
Kepala sekolah kemudian memintaku istirahat saja dulu di rumah. Menjelang tidur
emakku tidak banyak bicara dan memintaku tidur.
Besok pagi
teman-temanku datang ke rumah. Mereka berbicara reaksi orang tua mereka atas
kejadian ini. Mereka jadi pada gak berani datang ke sekolah hari ini. Aku juga
kehilangan selera untuk sekolah. Emakku bilang gak perlu datang ke sekolah hari
ini. Rupanya emakku sudah menyampaikan kepada beberapa orang tua murid yang
dekat dengan rumahku boleh libur hari ini. Agak siang, ramai-ramai kami ke
rumah Dp. Kami minta ia ceritakan apa yang terjadi, sampai bu guru jadi sangat
marah. Dia bilang guru bertanya ada apa. Dp jelaskan kepada kami bahwa Iw
mengambil bukunya. Saat mau merebut bukunya, Iw melemparkan buku itu kemukanya.
Ia menjerit karena kesal dan sakit. Sewaktu bu guru datang, ia tak menjawab
pertanyaan bu guru. Rupanya diamnya itu yang memicu marahnya bu guru. Kami
memeriksa tangan kanan Dp yang terluka, juga daerah di sekirar jambangnya.
Di rumah, aku
bilang sama emakku, aku gak mau sekolah di sekolahku yang sekarang. Emakku menasihatiku
agar bersabar. Tiga hari aku gak mau masuk sekolah. Tiap hari teman-teman
datang ke rumahku dan bilang bu guru juga gak pernah datang ke sekolah.
Sementara kepala sekolah yang ngajar. Saat aku tidak masuk, setiap hari istri
kepala sekolah datang ke rumahku membawakan makanan, dan memintaku untuk tetap
sekolah. Aku tetap gak mau. Dp juga gak mau sekolah. Istri kepala sekolah juga
ke rumah Dp.
Pada hari ketiga
aku tidak masuk, kepala sekolah datang ke rumahku saat jam pelajaran. Aku
sedang main layangan. Ia samperin aku yang sedang asyik. Aku jadi gak enak
hati. Dia memberi tahu cara mengatasi layanganku yang mulai menjujut mengarah
ke bawah karena angin kencang. Kemudian dia minta benangnya dan memainkan
layanganku. Layangan itu mulai berada pada posisi yang aman. Ia kembalikan
benang layangan padaku dan meminta aku untuk melaga layangan ku dengan layangan
terdekat. Dia memberikan arahan apa yang harus kulakukan. Aku ikuti arahannya,
dan benar, aku menang. Dia bertepuk tangan. Dia kemudian meminta aku kembali ke
sekolah, dia bilang guruku sudah dipindahkan ke sekolah lain. Sekarang dia yang
mengajar di kelasku. Setelah itu ia tinggalkan aku, tak lupa membelai kepalaku.
Ia minta aku tetap bermain layangan. Ia ke rumahku berpamitan pada emakku.
Sepulang sekolah
teman-teman datang ke rumahku. Mereka diberi tahu besok Dp dan aku kembali ke
sekolah. Rupanya kepala sekolah yang umumkan.
Besok pagi aku ke
rumah Dp, ia membenarkan mau sekolah hari ini. Kepala sekolah, istrinya, dan
anaknya yang sekelas dengan kami rupanya juga sudah datang ke rumahnya kemarin
pagi. Jadi sebelum ketemu aku siang kemarin kepala sekolah sudah ke rumah Dp.
Siang itu aku dan
Dp kembali ke sekolah, teman-teman sangat senang. Sampai kenaikan kelas, kepala
sekolah mengajar di kelas kami. Iw duduk tepat di depan bangku kepala sekolah.
Orang tuannya sudah datang ke rumah Dp untuk meminta maaf. Juga rupanya sudah
datang ketemu emakku untuk meminta maaf. Semuanya kepala sekolah yang mengatur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd