Kebaikan adalah baik. Keburukan adalah buruk. Kebenaran adalah benar. Kesalahan adalah salah. Kejahatan adalah jahat. Terasa berlebihan atau lebay ya? Menjelaskan sesuatu yang sudah sangat jelas. Mungkin bagi banyak kita, semuanya sudah jelas, bahkan pasti, bahwa kebenaran adalah benar. Sebaiknya kita hati-hati. Sebab dalam hidup, tahu dan faham saja tidaklah cukup.
Lutfi Hasan Ishaq mantan presiden PKS pastilah tahu perbedaan benar dan salah, baik dan buruk. Malah mungkin dia ahlinya jika dilihat dari latar belakang pendidikannya yang berbasis agama sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Pastilah dia diakui memiliki reputasi yang baik sehingga dipilih menjadi presiden PKS yang selalu mengesankan diri sebagai partai agamis dan bersih. Tetapi faktanya dia jadi terpidana kasus korupsi. Artinya mantan presiden PKS itu dalam pengadilan tindak pidana korupsi terbukti dengan meyakinkan adalah koruptor. Ya dia penjahat, itu putusan pengadilan.
Wajarlah bila koruptor, keluarga, dan pendukungnya terus menerus membela diri dan mencari berbagai dalih untuk membuktikan sebaliknya. Misalnya mengatakan ini semua konspirasi, atau tegas menyatakan pengadilan dunia itu tidak adil. Tetapi, di dalam persidangan banyak fakta kejahatan tak dapat dibantahnya.
Peristiwa ini menegaskan, meski kita faham bahwa kebenaran adalah benar dan kesalahan adalah salah, namun dalam kehidupan nyata perbedaan itu tidaklah sesederhana yang kita fahami dan bayangkan. Kebaikan dan keburukan, kesalahan dan kebenaran campur baur, berjalin berkelindan, dipersatukan oleh berbagai kepentingan liar manusia.
Mari kita telisik lebih cermat kasus yang menjerat Akil, Atut, dan Anas. Akil itu kan ahli hukum yang sangat berpengalaman. Pendidikannya tinggi dan maksimal. Selama menjadi kader Golkar, di DPR dia membidangi komisi hukum. Pasti dia hafal, faham, dan memahami secara mendalam serta komprehensif konstruksi kebenaran dan kesalahan, kebaikan dan keburukan atau kejahatan secara filosofis dan yuridis. Bahkan seluruh konsekuensi terjauh dari kebaikan dan kejahatan.
Tetapi faktanya sekarang dia sedang diadili untuk mempertanggungjawabkan sejumlah kejahatan yang diduga dilakukannya. Setiap kali diwawancara, dia selalu berusaha menggeser masalah. Tak ada ungkapan yang menunjukkan rasa bersalah. Anas lebih parah, selalu melempar berbagai tuduhan dan ancaman yang sampai sekarang lebih terasa sebagai omong kosong. Dia mengesankan kasusnya bukan masalah hukum tetapi masalah politik. Dia menuduh semuanya dipolitisir, padahal dia dan para pendukungnya yang sangat mempolitisir kasus korupsi yang menjeratnya. Inilah realitas orang yang oleh KPK diduga sebagai penjahat.
Coba kita bayangkan sejenak, apa yang ada dalam benak Akil, Atut, dan Anas saat dulu mereka melakukan berbagai kejahatan yang sekarang dituduhkan KPK pada mereka. Apakah mereka melakukan itu dengan hati yang berdebar dan cemas, karena tahu ada potensi kesalahan dan kejahatan di situ? Atau malah merasa apa yang mereka lakukan merupakan sesuatu yang seharusnya karena kedudukan dan kekuasaannya?
Karena berada dalam kekuasaan, dan merasa memiliki kekuasaan, maka mereka merasa apa yang dilakukan adalah sekadar konsekuensi tak terelakkan dari kekuasaan itu? Bila kita lihat dari cara bicara dan isi pernyataan Akil dan Anas memang mereka merasa apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang memang seharusnya dilakukan terkait dengan kuasa yang dimiliki. Bukankah sampai sekarang mereka masih saja secara terus menerus menggeser masalah pokok kejahatan yang mereka lakukan? Bandingkan dengan pernyataan Rudi Rubiandini yang terasa ada kejujuran dan sekaligus menunjukkan posisi terjepit sebagai pejabat. Realitas ini sesungguhnya bisa mencerminkan tingkat kejahatan masing-masing para terduga kasus korupsi itu.
Mestinya berbagai gelar yang disandang menunjukkan kualitas penyandangnya, terutama secara moral. Namun, dalam kenyatan hidup tidak selalu begitu. Inilah realitas manusia.
Sejumlah filsuf percaya bahwa dengan suara hati dan refleksi mendalam manusia bisa menemurumuskan kebenaran dan kebaikan. Itulah sebabnya ada filsuf yang bilang bahwa kitab suci hanya diperuntukkan bagi orang awam. Dalam khazanah Islam, Al Ghazali adalah ulama-filsuf yang paling keras menolak pendapat itu.
Sementara itu dalam khasanah Barat ada sejumlah filsuf yang meyakini bahwa orang awam berdasarkan pengalaman hidup dan refleksi yang sederhana bisa juga merumuskan pegangan hidup yang berakar pada kebaikan temuan mereka sendiri.
Menariknya adalah, meskipun manusia bisa mencaritemukan kebenaran, namun Tuhan tetap memberikan petunjuk berupa wahyu sebagai tuntunan hidup bagi manusia. Dalam wahyu Tuhan selain dirumuskan apa itu kebenaran dan kebaikan, juga ditegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki sejumlah kekurangan atau kelemahan yang melekat dalam dirinya. Beberapa di antaranya adalah manusia suka berkeluh kesah, tidak bersyukur, ingkar pada nikmat yang didapatnya, selalu tergelincir dari jalan kebenaran.
Sebenarnya inilah yang menjadi akar kerentanan manusia. Manusia adalah makhluk yang rapuh, gampang terombang-ambing, dan sering kali lupa atau pura-pura lupa pada nilai-nilai yang justru diyakininya, nilai-nilai yang membimbing dirinya. Ada sejumlah faktor penyebab kerapuhan ini.
Tidak sedikit manusia yang terpaksa melawan suara hatinya dan berbuat jahat, melawan kebaikan karena dijerat kemiskinan. Kebanyakan mereka menjadi penjahat kelas teri. Sejumlah manusia yang justru sangat memahami kebaikan dan kebenaran, tetapi dengan sengaja melanggarnya karena merasa punya kuasa dan meyakini bahwa kekuasaan adalah alat yang paling tepat untuk mewujudkan segala kerakusan dam ambisi. Inilah yang menyebabkan banyak manusia tergelincir terjerembat, hancur berantakan karena melawan kebaikan yang justru sangat difahaminya.
Jadi dalam soal kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kesalahan, kita tidak bisa berharap, mereka yang memahaminya pasti akan mematuhinya. Kebenaran dan kebaikan hanya mudah diucapkan pada tataran konseptual, namun menjadi problematis saat harus dijadikan nilai yang diejawantahkan dalam hidup keseharian.
Mungkin inilah sedikit penjelasan yang dapat digunakan untuk menerangkan mengapa justru yang tersangkut kasus korupsi berskala besar adalah orang-orang terpelajar, dengan kedudukan terhormat di negara tercinta ini, yang tingkat korupsinya telah sangat akut.
Seringkali orang-orang yang relatif cerdas bahkan sangat cerdas memiliki kemampuan untuk melakukan pengorganisasian kekuatan yang dikemas dengan kebaikan dan mengusung kepentingan orang banyak, namun sebenarnya penjahat yang sangat rakus. Mereka menjadikan kebenaran dan kebaikan sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan busuk yang berorientasi pada keuntungan pribadi dan kelompok. Seringkali justru saat berada di puncak kekuasaan baru ketahuan belangnya. Mereka seringkali dibutakan mata hatinya. Tidak menyadari bahwa kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan tak pernah dapat disembunyikan, direkayasa dalam jangka panjang. Bila saatnya tiba, kebaikan akan menjelma kebaikan, dan kejahatan akan muncul sebagai kejahatan. Apa yang kini diungkap KPK terkait dengan Akil, Atut, Anas, dan Wawan adalah bukti tak terbantahkan bahwa kebenaran akan terungkap pada waktunya, sebagai mana kejahatan akan terbongkar pada saatnya.
Secara pribadi saya berkeyakinan apa yang kini terpapar di hadapan kita adalah pola tetap yang akan berlaku kapan, dimana pun dan pada siapa pun. Karena itu sebaiknya meyadari bahwa
MANUSIA ADALAH MAKHLUK RENTAN YANG TAK BISA SELAMANYA MEMANIPULASI KEBAIKAN, DAN MENYEMBUNYIKAN KEBURUKAN, SEMUA AKAN TERUNGKAP PADA WAKTUNYA.
P.IPS B 2013
BalasHapus4915133439
dalam tulisan ini, sangat jelas dapat di simpulkan bahwa penelitian merupakan salah satu bagian dari dalam kehidupan manusia, penelitian bisa berasal dari mana saja. perpaduan antara penelitian dan kebijaksanaan sungguh fantastis.
1. apakah penelitian itu penting dalam hidup kita?
2. mungkinkah sebuah penelitian itu bisa meneliti semua aspek dalam kehidupan kita?
3. apa saja kelemahan dan kelebihan adanya penelitian dan kebijaksanaan?
Kebaikan adalah adalah baik. Dan keburuka adalah buruk. Bahkan di AlQuran telah diterangkan secara gamblang bahwa antara kebaikan dab keburukan itu jelas-jelas berbeda. Namun realita yg terjadi pada saat ini adalah kebaikan dijadikan sebagai tameng untuk menutupi kebaikan. Dimana kebaikan seolah hanya berpihak kepada mereka yg memiliki jabatan tinggi, dan bergelimang harta. Hati nurani tidak akan bisa dipungkiri ketika para koruptor melakukan kejahatan pasti sesungguhnya hati kecil mereka itu menolak. Namun sering kali mereka mengabaikannya sehingga hati kecil merekapun lama kelamaan mati dab berbuat kejahatan menjadi hal yg wajar bagi mereka
BalasHapus