(Catatan kecil untuk FGD pada ICRP, 20.03.2014)
Saatnya untuk menilik dengan jujur dan cermat, apakah yang diajarkan oleh orang tua, para guru, para agamawan di rumah, di sekolah-sekolah, di tempat ibadah kepada anak-anak kita. Bagaimanakah sikap yang berkembang dan dikembangkan dalam masyarakat terkait dengan fakta bahwa kita adalah masyarakat majemuk? Ini bukan soal apakah kita berkehendak dan memiliki kemampuan membangun sebuah sistem kemasyarakatan yang moderen. Ini sepenuhnya soal kejujuran dan komitmen untuk hidup damai dalam bingkai keindonesiaan.
Enam belas tahun yang lalu, saat Yayasan Nanda Dian Nusantara (YNDN), tempat saya menjadi relawan, hendak menyelenggarakan pesantren Ramadhan khusus untuk anak jalanan inilah keadaannya. Kondisi yang sungguh sangat tidak menyenangkan.
Pada saat akan memulai pelaksanaan, YNDN mendatangi sejumlah masjid besar di Jakarta. YNDN berharap dapat menyelenggarakannya di halaman atau di bawah masjid yang terdiri dari banyak lantai. Masjid dipilih karena sejumlah alasan. Anak-anak ini hidup di jalanan, pasar tradisional, dan daerah kumuh. Bisa masuk masjid yang besar merupakan kemewahan bagi mereka. Mereka pada umumnya tidak berani masuk masjid karena tampilan mereka seringkali jadi hambatan. Beberapa anak pernah memiliki pengalaman diusir oleh pengurus masjid. Anak jalanan dan anak marjinal lain telah diberi stigma atau cap negatif sehingga bila ingin beribadah ke masjid dikira mau mencuri sandal.
Masjid adalah tempat ibadah yang khusus, jadi bila kegiatan ini dilaksanakan di masjid atau lingkungan masjid diharapkan dapat menambah suasana dan dorongan untuk beribadah. Ini sebuah strategi mendorong anak marginal dekat dan akrab dengan masjid. Namun, sungguh di luar dugaan. Tak satu pun masjid yang didatangi bersedia diajak bekerja sama. Yang menyakitkan adalah alasan mereka tidak mau bekerja sama. Mereka takut kehadiran anak-anak itu di sekitar masjid akan membuat kerusakan, akan ada kehilangan, dan mengganggu kekhusu'an beribadah bagi jamaah lain. Pada umumnya mereka melihat anak merjinal ini layaknya gerombolan penjahat, makhluk yang datang dari perkampungan iblis. Karena itu anak-anak marjinal itu dilihat dengan cara penuh curiga dan menjijikkan.
Padahal, anak-anak marjinal itu adalah para fakir yang harus mendapat perhatian dan kasih sayang. Bukankah Rasullullah sendiri yang mengatakan kefakiran mendekatkan orang pada kekafiran. Sebenarnya, kita bertanggungjawab pada kehidupan mereka, berusaha agar mereka tidak tersungkur dalam jurang kemaksiatan dan kekafiran. Atas dasar tujuan itulah Pesantren Ramadhan Anak Jalanan ini diselenggarakan. Namun, saudara-saudara seiman yang menjadi 'penguasa' masjid justru menolak mereka, dengan ungkapan yang menyayat hati. Semoga Allah mengampuni mereka.
Akhirnya pesantren Ramadhan Anak Jalanan tersebut selama dua belas tahun diselenggarakan berpindah-pindah tempat. Gayanya seperti orang sedang camping. Pastilah penyelenggaraannya lebih seru daripada khusuk. Apalagi bila musim hujan. Tiga tahun terakhir ini, akhirnya ada masjid yang bersedia bekerjasama, mengizinkan kami membangun tenda di palataran masjid dan memanfaatkan masjid untuk beribadah, bila hujan para peserta diizinkan tidur di bagian bawah masjid. Masjid itu adalah At Tien di TMII. Masjid yang dibangun oleh keluarga Pak Harto.
Setelah melewati waktu yang panjang, apakah keadaan menjadi lebih baik? Lagi-lagi ini pengalaman pribadi. Sejumlah teman bertanya pada saya, koq bisa kamu mengajar di pascasarjana sebuah perguruan tinggi Islam yang di dalamnya ada tokoh Islam keras, yang suka menunjuk dan menuding-nuding? Apa alumnus STF Drijarkara kayak kamu bisa diterima dengan baik di situ?
Teman saya itu bertanya begitu karena dia tahu betul, bagaimana dulu tiba-tiba saya dimusuhi oleh sejumlah teman hanya karena saya kuliah di STF Drijarkara. Bertahun-tahun saya menyandang tuduhan sebagai agen kristenisasi. Itu pula sebabnya saat membaca tulisan saya yang ditulis tahun ini, berjudul Lelaki Gila, Alkitab dan Lady Gaga, salah satu teman yang dulu mengecam saya waktu masuk STF Drijarkara, bilang: kamu belum tobat-tobat juga ya.
Saya sadar, tentulah pengalaman pribadi tidak dapat digunakan sebagai pijakan untuk mengambil kesimpulan tentang keadaan sebuah masyarakat. Tetapi saya punya banyak pengalaman bersama teman-teman relawan di wilayah bencana yang mungkin bisa dipertimbangkan sebagai bahan untuk mengembangkan model pendidikan toleransi.
Kami para relawan YNDN bertugas di banyak wilayah bencana yaitu Tsunami Aceh, gempa Sumatera Barat, gempa Jogja, gempa Garut, erupsi Merapi, banjir bandang Situ Gintung, dan banjir Jabodetabek. Apa yang bikin kami miris, prihatin, dan kadang jadi marah.
Dalam suasana duka, chaos, penderitaan mengoyak moyak banyak orang, luka menganga di mana-mana, rasa takut, cemas, khawatir menyelimuti, saat ketidakpastian mencengkram para korban, ketika kita mesti peduli dan berbagi, masih banyak orang yang bertanya, agamanya apa?
Kami juga berada di daerah konflik Ambon, Poso, Sampit dan Madura untuk melakukan konseling trauma pasca kerusuhan. Kami dapat merasakan secara langsung betapa kejam provokasi yang mengatasnamakan agama dan kesukuan. Dan betapa sulit saat hendak membantu masih saja ada yang mempersoalkan, agama kalian apa?
Selama bertahun-tahun saya diundang ke sekolah berbasis agama yang suka menggunakan istilah terpadu. Ini sekolah moderen yang biasanya diisi oleh anak-anak dari keluarga mampu dan terpelajar. Saya diundang untuk berceramah tentang Pembelajaran Berbasis Otak, Sumbangan Neurosains dalam Pembelajaran, Peningkatakan Kualitas dan Kompetensi Guru. Saya sudah diundang ratusan sekolah di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.
Ada yang bikin gerah bila fihak sekolah memberi kata sambutan. Selalu saja dalam pidato sambutan itu terasa sangat kental semangat kekitaan yang eksklusif. Selalu disebutkan adanya yang lain sebagai ancaman. Konsekuensinya kita harus mengembangkan sikap tertentu menghadapi yang lain tersebut. Jadi, saya mesti gunakan waktu untuk jelaskan materi saya sembari bersihkan pemikiran tentang kekitaan yang eksklusif itu. Sungguh semangat keindonesiaan kurang ditonjolkan.
Secara pribadi saya melihat ada bahaya dalam cara berfikir yang dikembangkan. Sebab ini lembaga pendidikan yang menumbuhkembangkan anak-anak kita. Keprihatinan saya bertambah saat hari libur nasional yang berkaitan dengan agama lain, sekolah-sekolah ini sengaja tidak libur. Libur jika hari libur nasional adalah hari agama sendiri.
Atas dasar berbagai pengalaman itu saya berkeyakinan bahwa toleransi hanya bisa ditumbuhkembangkan bila rasa dan sikap curiga, serta saling curiga dibuang dulu ke septic tank di belakang rumah. Dibuang seperti buang hajat pada pagi hari, sesegera mungkin dengan ikhlas dan tak pernah ditoleh lagi. Jika sikap ini masih ada tidak akan pernah ada toleransi, yang ada cuma telor asin, yang bisa bikin darah tinggi.
Jangan pernah memberi cap, stigma, dan ungkapan negatif pada siapa dan kelompok apapun, terutama pada yang lain. Jika ini dilakukan kita akan terperangkap dalam saling tuduh tak berujung. Dalam kaitan ini sebaiknya kita mengembangkan sikap fenomenologis dalam upaya memahami yang lain. Secara sederhana sikap fenomenologis dilakukan dengan cara:
Pertama, apapun yang dikatakan orang tentang yang lain, baik atau buruk, buang saja.
Kedua, apapun yang kita fikirkan tentang yang lain, baik atau buruk, buang juga.
Ketiga, berinteraksilah secara empatis dan intensif dengan yang lain, sampai kita temukan sendiri apa dan siapa yang lain itu.
Sikap fenomenologis hanya berfungsi bila kita mampu membangun komunikasi empatis. Yang memungkinkan kita bahkan menyimak apa yang tak dikatakan.
Sikap fenomenologis mempersyaratkan agar kita pertama-tama memiliki kemauan, kemampuan dan kejujuran untuk menilai dan menempatkan diri sendiri secara jernih dan objektif. Sadar akan diri dan keberadaan diri yang kemudian mengarah pada fakta yang tak terbantahkan bahwa keberadaan diri selalu bermakna ada bersama yang lain. Tentu saja ini tidak mudah dan tidak pernah mudah. Sama sekali gak gampang menakar diri sendiri. Bukankah Budha pernah bertanya, apakah kita bisa melihat mata sendiri?
Meski tidak mudah, kita harus lakukan. Karena kesadaran akan diri sendiri, mampu menerima kelebihan dan kekurangan diri secara jujur merupakan modal dasar untuk mengarahkan kesadaran ke realitas di luar diri.
Sikap fenomenologis mengisyaratkan agar memiliki sikap kritis konstruktif terhadap realitas yang melingkupi kita. Ini bermakna ada kemauan dan kemampuan untuk memilah, memilih, dan mengolah berbagai problem, penilaian, peristiwa yang terpapar dengan sikap kritis namun tak kehilangan kendali diri untuk tetap positif. Mencaritemukan mana yang hakiki dan mana yang asesori.
Sikap fenomenologis juga mengharuskan kita untuk memiliki daya tahan jangka panjang untuk melakukan dialog, dan pengamatan dalam berbagai suasana dan kondisi untuk mendapatkan pemahaman mendalam, rinci, dan akurat. Artinya jangan pernah membuat simpulan dari segala sesuatu yang bersifat umum dan permukaan.
Daya tahan jangka panjang ini sangat penting karena kita berada dalam masyarakat majemuk yang sudah dicemari banyak virus yang terbukti daya hancurnya luar biasa. Pada kondisi inilah dibutuhkan apa yang biasa disebut kesabaran revolusioner yang dulu pernah dipraktikkan Mao dan Lenin dalam masa perjuangan mereka. Suatu kesabaran menghadapi berbagai rintangan dan tantangan yang sangat luar biasa, tanpa kehilangan kendali diri.
Dengan semua sikap itu kita membangun komunikasi empatis untuk menumbuhkan saling pengertian dalam bingkai indahnya perbedaan. Perbedaan adalah kodrat dan taqdir yang harus diterima dengan ikhlas. Di dunia ini tak ada anak kembar yang sama persis, bahkan anak kembar siam. Paling tidak perbedaan terjadi saat dilahirkan, karena tidak mungkin keluar bareng-bareng. Dalam kerangka fikir seperti ini menjadi sama sekali tidak relevan untuk meributkan perbedaan, apalagi sampai saling bunuh karena alasan perbedaan.
Konsekuensinya strategi yang disarankan adalah membangun seri dialog yang bersifat informal daripada penyuluhan yang formal. Dalam seri dialog itu dibincangkan berbagai topik yang tentunya terkait dengan agama dan iman.
Topik-topik pembicaraan adalah media untuk membangun saling pemahaman sekaligus melucuti atau mempreteli ego dan kekitaan yang tertutup. Oleh karena itu topik-topik tersebut harus dikaitkan dengan problem-problem kehidupan berbangsa yang nyata. Bila yang dibahas adalah prinsip-prinsip dasar iman, fokusnya bukanlah membandingkan pandangan teologis masing-masing agama, karena membandingkan agama sama seperti membandingkan motor bebek dengan vespa, tetapi bagaimana mengejawantahkan prinsip dasar keimanan untuk memecahkan problem-problem nyata tersebut.
Dengan cara ini semua fihak bekerja keras untuk menunjukkan bahwa iman hakikinya adalah keyakinan yang hidup dan berfungsi untuk mencari solusi bagi berbagai problem nyata dalam kehidupan berbangsa dalam bingkai keindonesiaan.
Strategi seperti ini memberikan kesempatan pada semua partisipan untuk mengemukakan perspektifnya secara terbuka untuk diuji efektivitasnya bagi pemecahan masalah.
Pastilah tiap orang yang memeluk suatu agama harus meyakini bahwa agama yang diyakininya benar. Tetapi kan tidak usah pula merendahkan dan menyerang keyakinan orang lain.
Strategi seri dialog yang dibangun melalui komunikasi empatis memungkinkan orang yang berbeda iman berbicara secara konstruktif dan berusaha sekuat tenanga untuk menunjukbuktikan bahwa keyakinan yang dianutnya bisa memberi kontribusi nyata bagi pemecahan masalah-masalah bersama. Bukankah iman harus diujudnyatakan untuk membuat hidup lebih baik dan bermakna? Iman kan bukan untuk diperdebatkan.
Topik-topik tersebut memang dirancang dan berfokus pada upaya mengimplementasikan iman sebagai kekuatan pendorong untuk membangun masyarakat yang berkualitas dan bermartabat dalam semangat hidup damai berbingkai keindonesiaan. Strategi seperti ini memungkinkan para partisipan untuk membangun semangat saling percaya, dan secara perlahan memberangus salin curiga. Sebab akan terbangun kesadaran bahwa apapun iman dan agama masing-masing, ternyata kita menghadapi masalah bersama sebagai warga sebangsa.
Oleh karena toleransi adalah sikap yang tidak bisa ditumbuhkan secara instan, perlu membentuk berbagai kelompok kecil di banyak tempat untuk membangun komunitas yang memiliki program kerja berjangka panjang untuk membangun seri dialog dan berbagai karya nyata dalam bentuk tindakan sosial bersama untuk sebuah tujuan yang dirumuskan bersama.
Strategi ini perlu dilakukan karena toleransi hanya bisa dibangun oleh para partisipan yang memang mau membuka diri dan bersedia bekerja bersama-sama. Toleransi tidak akan pernah bisa dibangun lewat upacara yang dihadiri pejabat dan tokoh-tokoh agama yang saling berpidato dan diakhiri makan siang, dan tukaran kartu nama.
Strategi seri dialog yang diperkaya dengan tindakan sosial bersama membuka kesempatan bagi para partisipan untuk bukan saja saling bertatap muka juga bergandengan hati. Kebersamaan dalam jangka yang panjang dan melakukan tindakan bersama bagi kemanusiaan sungguh akan membangkitkan empati bahwa kita memang punya ikatan emosional.
Kehendak untuk membangun kebersamaan dan menumbuhkan semangat toleransi merupakan wilayah kecerdasan sosial. Suasana yang lebih mengedepankan emosi positif jauh lebih berdaya guna daripada dialog kering yang melulu bersifat rasional untuk mengasahtajamkan kecerdasan sosial itu.
Mengaitkan iman debgan realitas sosial merupakan strategi paling baik untuk menumbuhkembangkan toleransi, karena pada hakikatnya toleransi adalah pengejawantahan iman dalam konteks sosial yang nyata. Dalam kaitan ini merupakan keharusan untuk memilih metode pembelajaran yang memberi kesempatan bagi partisipan untuk mengalami hidup dalam keberbedaan yang direkateratkan oleh toleransi. Mengalami bertoleransi menjadi lebih penting daripada berbicara tentang toleransi.
Metode pembelarajaran yang memberi kesempatan mengalami berisi praktik-praktik nyata bagimana hidup damai dalam perbedaan, bagaimana secara bersama memahami apa maknanya kebersamaan dalam ikatan emosi positif.
Praktik-praktik yang melibatkan emosi positif ini akan memberikan pengaruh jangka panjang karena mampu membangkitkan ikatan emosional, ketika setiap orang merasakan bahwa orang lain adalah bagian dari keluarga besar kebangsaan. Kita sungguh akan sama-sama berusaha MENJADI INDONESIA melalui pengalaman kebersamaan.
Toleransi dan iman yang dijalin melalui pengalaman bersama untuk membincangkan bagaimana mewujudkan iman untuk mengatasi berbagai persoalan kebangsaan dan aksi-aksi sosial yang nyata sungguh akan menumbuhkembangkan toleransi yang melekat sebagai sebuah penghayatan yang penuh makna. Dan ini sungguh mewujudnyatakan keyakinan bahwa
TOLERANSI ADALAH UPAYA MEWUJUDNYATAKAN IMAN PADA TUHAN KE DALAM UPAYA MEMBANGUN MASYARAKAT YANG BERMATABAT DALAM KEBERBEDAAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd