Jumat, 21 Maret 2014

KEBERAGAMAN DALAM KEHANGATAN

(Catatan tentang pertemuan di Indonesian Conference on Religion and Peace)

Keberagaman itu indah. Lihatlah taman yang beraneka warna, pasti lebih indah dibanding taman yang hanya memiliki warna tunggal, kuning atau biru saja. Tetapi faktanya memang ada orang atau sejumlah orang yang merasa pusing dan sangat terganggu, justru jika berada di taman indah penuh warna. Mereka lebih memilih memotong habis semua bunga aneka warna, bila perlu dengan membakar sampai tuntas. Di atas tanah terbakar itu, mereka bersemangat menanam bunga, cukup satu warna saja.

Itulah sekedar lukisan keindonesiaan masa kini. Semakin banyak orang dan kelompok orang yang merasa merekalah yang paling benar. Di luar mereka hanya kekosongan. Kekosongan bagi mereka halal untuk diperlakukan dengan cara apapun. Jadi tidak usah heran bila mereka ini tidak pernah merasa takut dan bersalah untuk memaki, menyumpahserapahi, membakar, bahkan menghabisi siapa saja.

Mereka memberangus apa dan siapa pun atas nama Tuhan. Seakan Tuhan itu adalah Super Hitler yang memang suka dengan pemberangusan dan pembunuhan massal. Mereka fikir Tuhan itu Firaun yang gemar menghancurkan apa saja. Mereka merasa sebagai satpam Tuhan di bumi dan bisa menentukan tempat manusia di akhirat. Sehingga punya kuasa memberi kategori pada siapa pun di luar mereka.

Sungguh, kemunculan orang dan kelompok orang ini telah mengancam keragaman Keindonesiaan. Karena sikap intoleransi yang mereka tunjukkan dengan cara merusak rumah ibadah, menyerang bahkan membunuh kelompok yang berbeda dengan mereka, telah meluluhlantakkan konstruksi bhinneka tunggal ika yang menjadi fondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tampaknya tak ada keinginan mereka untuk membincangkan perbedaan itu secara santun, argumentatif, dan dialogis. Mereka terus saja memaksakan kehendak dan menyerang kelompok lain. Sama sekali tak menghiraukan bahwa realitas sosial Indonesia sejatinya adalah keberagaman.

Bersebalikan dengan itu, sore ini berkumpul sejumlah anak bangsa dari beragam latar belakang iman, suku, dan profesi untuk berbincang. Perbincangan hangat, cergas, sangat mendalam, dan dialogis. Keseluruhan yang hadir adalah anak bangsa yang sangat prihatin pada realitas tak terbantahkan bahwa keberagaman keindonesian sedang berada dalam ancaman serius. Dalam perbincangan  terungkap bahwa dalam zaman reformasi ini kekerasan berlatarbelakang perbedaan meningkat tajam. Perseteruan atas nama agama juga meningkat. Tersembul kesan bahwa orde baru lebih mampu menjaga keberagaman keindonesiaan. Mungkinkah ada yang salah dalam praktik demokrasi kita?

Perbincangan ini mau menemurumuskan cara terbaik untuk membangun kesadaran dan penghayatan bahwa menghargai perbedaan itu mutlak adanya. Hidup damai dalam keberagaman adalah syarat mutlak bagi keberadaan dan kebertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Perbincangan hangat dan konstruktif ini berkutat dengan sejumlah pertanyaan, apa yang dapat dilakukan untuk membangun kesadaran bahwa Indonesia itu sejatinya adalah keberagaman? Bagaimana sikap terbaik menghadapi kecenderungan makin menguatnya sikap dan kelompok radikal yang selalu berkehendak untuk menghancurkan keberagaman keindonesiaan? Siapa dan kelompok mana yang akan menjadi prioritas untuk terlebih dahulu diajak berdialog dan mengikuti program pemahaman dan penghayatan hidup damai dalam keberagaman? Metode dan strategi apa yang terbaik untuk dilaksanakan? Siapa saja yang sebaiknya terlibat dalam program ini?
Substansi materi apa saja yang sebaiknya disampaikan? Dan sejumlah pertanyaan lain.

Perbincangan yang terjadi ini adalah sebuah contoh hidup damai dalam keberagaman. Ada banyak perspektif yang tidak selalu bersesuaian. Ini wajar, karena semua yang berbincang berasal dari latar belakang yang berbeda. Namun, semuanya dibincangkan dalam komunikasi empatis untuk mencari pemahaman bersama. Pijar-pijar pemikiran yang memancar bagai kembang api, sangat bercahaya dan saling melengkapi untuk membentuk konstruksi yang indah, bahwa keberagaman keindonesian adalah keniscayaan yang harus diusahakan terujud dalam hidup keseharian. Tidak cukup menjadi dokumen yang rinci, lengkap, dan mendalam, tetapi hanya jadi
pajangan di perpustakaan, dan referensi pidato para pejabat.

Semua peserta perbincangan menyatakan komitmennya untuk menindaklanjuti pembicaraan menjadi tindakan nyata, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Lebih dari semua rumusan formal itu, perbincangan ini telah berhasil membangun saling pemahaman empatis, terjalinnya silaturahmi antaragama dan iman yang berujung oada komitmen untuk mengupayakan karya terbaik bagi keberagaman keindonesian. Semua ini sangat penting karena

KEBERADAAN DAN KEBERTAHANAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA SANGAT DITENTUKAN OLEH KEMAMPUAN UNTUK HIDUP DAMAI DAN BERMAKNA DALAM KEBERAGAMAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd