Sebentuk doa bagi JDP
Ia dosen favorit bagi semua generasi yang pernah diajarnya. Ia sungguh dosen yang membanggakan. Setiap kali mahasiswa ke toko buku utama dan terbesar, bukunya berjejer dipajang. Ia memang penulis yang hebat. Bukunya digunakan pada banyak kampus, karena bahasanya mudah dikunyah otak, renyah, dengan penjelasan padat, dan contoh yang konkrit.
Ia seorang komunikator ulung. Kuliah dengannya, tak pernah terasa waktu mengalir. Kuliah tiba-tiba berakhir, padahal rasanya baru saja dimulai. Ia sungguh sangat cerdas karena jagoan membuat semua yang susah menjadi mudah. Ia pandai membuat contoh-contoh yang lucu, tetapi sangat nyambung dengan materi yang sedang dibahas. Ia tidak pernah larut dalam keasyikan kelucuan dan melupakan topik utama kuliah.
Ia sangat disiplin. Tak pernah datang terlambat. Hebatnya ia rasanya tak pernah sakit, sehingga kuliah selalu penuh mengikuti aturan yang berlaku. Semua tugas mahasiswa diperiksa dan segera dipulangkan. Dibahas dengan cermat. Begitupun hasil ujian. Ia jadi rebutan mahasiswa yang mau nulis skripsi. Berapa banyak pun mahasiswa yang dibimbing, semua ia periksa dengan teliti. Ia sungguh penuh perhatian dan sangat peduli.
Ia ganteng. Tampilannya keren. Pakaiannya sangat terpilih dan rapih, dan pasti wangi. Bahkan sepatunya selalu mengkilat bercahaya. Sama sekali bukan hal yang aneh bila ia menjadi dosen yang sangat berbeda, istimewa dan pujaan banyak mahasiswi. Itulah sebabnya pada mata kuliah tertentu, mahasiswa sampai membeludak dan bersedia kuliah di luar ruangan duduk di depan pintu.
Meskipun memiliki banyak kelebihan, ia tetaplah seorang manusia seperti kita semua. Anak cucu Adam yang melekat dalam dirinya kelemahan yang bisa mendorongnya jatuh dalam kesalahan. Ia kurang sabar menghadapi mahasiswi dan mahasiswa yang kurang dan tidak berdisiplin. Tiba-tiba lidahnya menjadi laser yang dapat menghancurkan apa saja menghadapi mereka. Karena itu beberapa mahasiswa menyebutnya dosen killer. Banyak mahasiswa tidak lulus dan terpental keluar oleh ketegasan sikapnya. Pada sesama dosen yang kurang disiplin, yang mengajar seenaknya, dia melakukan serangan gencar tak kenal ampun. Dia bahkan berani menunjuk hidung dengan cara yang sama sekali mengejutkan. Prinsipnya, berani karena benar.
Sebagai akibatnya, sejumlah dosen dan mahasiswa pernah melakukan perlawanan dengan cara membongkar beberapa boroknya. Hebatnya, para dosen dan mahasiswa itu malah yang jadi korban. Karena pendukungnya, terutama mahasiswa yang menjadikannya idola membelanya dengan semangat maju tak gentar. Ia bertahan, semakin berkibar dan semakin populer.
Saya mengidolaknnya. Saya dekat dengannya. Ia sering mengajak saya ikut penelitian. Kami berdua pernah meneliti dan menulis berdua, saya yang jadi ketua dan ia anggotanya. Sungguh ini sangat langka. Ia pula yang meyakinkan saya agar mau menjadi dosen. Saat ditawari menjadi dosen oleh ketua jurusan, saya tidak tertarik. Sebab waktu itu saya sedang mengembangkan usaha yang sedang melaju cepat. Dosen idola ini berbicara dari hati ke hati dengan saya. Akhirnya saya mau. Kemudian dialah yang menjadi pembimbing saya sebagai dosen junior. Kami mengajar bareng. Ia duduk mendengarkan saya mengajar. Setelah itu, di ruang kerjanya, ia memberi masukan perbaikan. Saya beruntung, karena hanya dia sendiri yang lakukan ini. Dosen senior lain sungguh senior dalam arti seneng isengin orang. Menugaskan dosen junior mengajar, sementara dia ngompreng, mencarai penghasilan tambahan di luar. Dosen idola ini tidak pernah lakukan itu.
Saat dia makin galak dan mulai menyerang keyakinan agama orang lain di kelas secara terbuka, mahasiswa mulai tidak menyukai dia. Entah karena alasan apa, dia secara sangat sarkas menyerang keyakinan dan ritual agama lain. Keresahan mulai menyala. Bisa membakar apa saja. Kita tahu persoalan sara bukan bara api, tetapi bom waktu yang bisa meledak kapan saja dan meledakkan apa saja.
Saya berbicara dengannya dari hati ke hati. Membangun kesadaran empatis untuk hidup damai dalam perbedaan. Lumayan hasilnya, dia mulai reda. Mahasiswa yang ingin membakar mobil barunya juga bisa dikendalikan.
Tak tahu, apa yang ada dalam benaknya. Hanya sekitar dua bulan ia mampu menahan diri. Ia mulai menyerang lagi. Kali ini dengan cara yang lebih sarkas dan vulgar. Ia kini malah menantang secara terbuka. Kini mahasiswa dan dosen mulai bereaksi keras. Saya kembali berbicara padanya. Di luar dugaan, kali ini ia sungguh menantang. Saya terheran-heran, karena ia selama ini selalu tunjukkan penghargaan pada perbedaan. Ia sungguh jadi api yang mau membakar apa saja, laser yang ditembakkan ke mana saja.
Mahasiswa makin marah. Kelompok mahasiswa radikal memanfaatkan situasi ini, melakukan provokasi. Ada potensi benturan antaragama, karena himpunan mahasiswa yang seagama dengannya juga ikutan, nimbrung memanaskan keadaan.
Saya mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalah ini secara formal. Meski tegang, panas dan bisa meledak, akhirnya didapat solusi. Dia dimakzulkan. Tragis memang, dosen idola terlempar dan terjerembab. Dia pindah ke perguruan tinggi yang sesuai dengan agamanya.
Lama tak ketemu, suatu pagi ia datangi saya yang sedang mengajar. Kami berbincang, ia meminta masukan terkait dengan buku-buku Filsafat Islam. Kini ia mengajar filsafat. Saya berjanji akan memberikannya sejumlah buku Filasafat Islam yang terbaik menurut saya.
Kala mengantarkan buku-buku Filasafat Islam, dia bertanya pada saya terjemah atau tafsir Al Quran mana yang mudah difahami. Saya sungguh kaget. Saya tatap matanya agak lama. Saya benar-benar tak percaya. Saya mengenal dia sangat lama, karena itu saya tidak mau menelisik mengapa ia mencari tafsir Al Quran. Ia sangat tidak suka orang menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi, apalagi mencampuri urusan pribadinya.
Segera saya carikan dan hantarkan sejumlah tafsir Al Quran padanya. Ia sangat berterima kasih. Setelah peristiwa itu kami lebih sering bertemu, berdiskusi, berbincang tentang topik yang pelik yaitu metafisika dan teologi. Saya merasakan dengan sangat mendalam, dosen idola saya ini sedang dalam proses pencarian. Mungkin dia sedang berdiri di persimpangan jalan iman.
Dalam suatu pertemuan, dia dengan tenang bilang, Tuhan memberi saya cahaya terang. Kini saya seorang muslim. Saya sungguh sangat keget. Saya tak dapat menahan air mata dan memeluknya. Ia juga menangis. Lama kami berpelukan.
Ia bercerita, setelah perseteruan penuh api yang sangat mengerikan itu, ia sangat terganggu. Gangguan itu sampai merusak kesehatannya. Ia mulai secara hati-hati belajar. Ia membaca banyak buku, tetapi yang lebih banyak dibacanya adalah hatinya sendiri dan perjalanan hidupnya. Ia merasa sangat bersyukur karena Tuhan memberinya cahaya terang. Ia mulai merasa damai saat membaca beberapa ayat di dalam Al Quran. Ia kemudian memutuskan untuk menjadi seorang Islam, agama yang dulu dihujatnya.
Dosen idolaku ini, kini sering berdiskusi denganku. Kami lebih banyak mengenang berbagai kejadian pada masa lalu. Ia nampak lebih tenang, sabar dan hati-hati sekarang. Suatu kali ia bilang, saya sangat bahagia sekarang.
Saat saya mengajar, seorang teman mengabarkan dosen idola banyak mahasiswa itu berpulang. Saya sungguh terkejut dan sangat bersedih. Baru beberapa hari lalu kami bertemu. Saya tak pernah mengira itu pertemuan terakhir dengannya. Kisah hidup dosen idola itu menegaskan,
HIDUP MANUSIA MEMANG TAK PERNAH BISA DIDUGA, APALAGI DIPASTIKAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd