Sabtu, 15 Maret 2014

RASA NALAR

Otak dan pemikiran memang sangat kompleks dan penuh misteri. Michio Kaku, dalam The Future of The Mind: The Scientific Quest To Understand, Enhance, And Empower The Mind (2014), menjelaskan ada dua misteri besar di dunia ini yaitu pemikiran dan alam semesta. Keduanya masih mengadung sejumlah teka-teki meski telah banyak temuan yang didapat melalui berbagai penelitian.

Banyak gagasan dan informasi sangat menarik dari buku yang baru terbit ini. Salah satunya adalah tentang tingkat-tingkat kesadaran manusia.

Sebenarnya pembahasan tentang topik ini tidaklah baru. Kita bisa mendapatkannya dalam pemikiran Plotinus (204-70 SM) filsuf yang membangun neoplatonisme. Sebuah sintesis agung antara ajaran Plato, Aristoteles, dan sejumlah mistik timur yang terutama berkembang di Persia dan India.

Plotinus yakin asal segala sesuatu adalah Yang Esa. Untuk menjelaskan bagaimana Yang Esa memunculkan keberagaman ia memperkenalkan istilah emanasi yaitu prinsip mengalir. Untuk menjelaskan emanasi dari Yang Esa ke keberagaman ia menciptakan istilah tahapan ujud dari yang tertinggi sampai ke yang paling rendah yaitu materi. Urutannya adalah sebagai berikut: Yang Esa (to hen), Akal (Nous), Jiwa (Psykhe), dan Materi (hyle).

Pada waktu membahas Akal, Plotinus menjelaskan tingkatan-tingkatan akal. Para filsuf Islam terus mengembangkan pemikiran Plotinus ini dan  mengawinkannya dengan ajaran Islam. Berkembanglah pembahasan tentang tingkat-tingkat kesadaran. Ujungnya adalah kesadaran tertinggi saat manusia bersatu dengan Tuhan, dikenal dengan istilah hulul, wahdah Al wujud, dan iitihad. Tokoh mistikus atau sufi Islam yang sangat terkenal dalam konteks ini adalah al hallaj. Di Jawa dikenal istilah manunggaling kawula gusti, dengan tokoh utama Syech Siti Jenar.

Namun ada perbedaan sangat mendasar antara Kaku dengan Plotinus serta filsuf dan mistikus Islam. Kaku mendasarkan pembahasannya pada penelitian mendalam yang sangat empiris pada sistem otak manusia dengan pendekatan ilmu penegetahuan moderen, sedangkan Plotinus dan pengikutnya mendasarkannya pada pemikiran filosofis yang mendalam dan spekulatif.

Kaku menjelaskan, tingkat kesadaran itu ditentukan oleh bagian mana saja dalam sistem otak manusia yang terlibat untuk memunculkan kesadaran dimaksud. Yang sangat menarik adalah pada tingkat kesadaran yang tinggi yaitu tingkat dua dan tiga, amygdala sebagai bagian emosi dari otak memegang peranan sangat penting bersama otak rasional manusia.

Aku sangat tertarik pada topik ini karena memiliki sejumlah pengalaman yang sangat berbeda dalam 'dua dunia'. Selama bertahun-tahun, sejak 80an sampai sekarang aku menjadi relawan bagi kaum marjinal yang terdiri dari anak jalanan, kaum miskin perkotaan yang mukin di daerah kumuh, para preman, dan pelacur kelas bawah. Interaksiku sangat intens dengan pelacur kelas bawah pinggiran saat bersama sejumlah relawan menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak mereka.
Bersamaan dengan itu sebagai staf pengajar di perguruan tinggi dan pernah bekerja di Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT), serta berbagai pekerjaan lain di Kemdikbud, aku bergaul dengan manusia Indonesia yang tergolong sangat terpelajar dengan gelar Doktor, Profesor Doktor, dan serenceng gelar mentereng yang lebih panjang dari namanya. Pergaulan itu tentu tidak sebulan dua bulan, pada umumnya tahunan.

Dua dunia ini sampai kini masih kugeluti dengan intesitas yang hampir sama. Sungguh aku seringkali kaget sampai schock, dengan beragam pengalaman antara dua dunia yang bedanya seperti bumi dan langit tertinggi itu. Aku semakin faham pada buku yang sudah sangat lama kubaca yaitu Dr. Chivago karya Boris Pasternak. Aku pernah masih ingat dialog tokoh utamanya yang menyatakan bahwa kedewasaan itu adalah pilihan sadar, ketuaan tidak selalu berarti kedewasaan, ramput putih itu tidak identik dengan kematangan.

Di jalanan, di daerah kumuh, di kolong-kolong jembatan, di gubuk reot pelacur jalanan, dalam diri anak-anak jalanan yang gak makan sekolah, seringkali aku temukan penghayatan mendalam tentang empati, pengejawantahan komitmen, kesetiakawanan, kepedulian empatis, rasa malu yang halus, tahu diri yang santun, dan yang mencengangkan satunya kata dan perbuatan. Ada kejujuran yang sungguh tanpa pamrih dan basa-basi. Ada keikhlasan yang tak pernah dikatakan, tetapi dipraktikkan dalam kenyataan hidup.

Mungkin, semua nilai-nilai baik ini mekar, tumbuh kembang, dan bersemi karena realitas hidup yang sungguh getir, penderitaan yang mencincangperih hati, dan kerastajamnya realitas sosial yang mesti dihadapi. Sungguh penderitaan bagi mereka seperti api yang mampu membersihkan emas dari semua kotoran. Mereka didewasakan oleh hidup yang penuh kenyerianngilu, dimatangkan oleh penghinaan yang terlalu. Penderitaan memang bisa menjadi pelatuk bagi manusia untuk mencapai transendensi, melampaui keterbatasan kemanusiaanya. Budha telah buktikan itu, dan Yesus telah tunjukkan apa arti penderitaan sebagai jalan penebusan bagi penyelamatan.

Sebaliknya nyeri hati sering menjelma memperhatikan tingkah polah sebagain orang-orang terpelajar, bahkan yang bergelar profesor atau guru besar. Seringkali muncul tanya, yang besar apanya? Ada di antara mereka yang seperti putus urat malunya dengan cara mempersoalkan recehan dalam rapat yang sebenarnya sangat penting membicarakan nasib orang banyak. Ada pula yang tanpa rasa malu membawa honor penuh padahal kerja tak sampai separuh waktu. Dan itu dilakukan berulang-ulang tanpa sedikitpun rasa bersalah. Tidak sedikit yang menggunakan kecanggihan untaian kata untuk membungkus kepentingan  busuk yang berorientasi pribadi. Bahkan tidak sedikit yang sama sekali tak pandai menenggang rasa, orang lain dianggap robot tak punya hati. Ada beberapa yang membangun solidaritas antara sesama dan tidak pernah mempertimbangkan kerja keras, komitmen, dan kedisiplinan orang yang dianggap bukan sesama.

Yang bikin miris, bahkan perasaan jijik adalah, mereka berusia lanjut, punya banyak pengalaman, selalu mengesankan diri sebagai orang yang benar dan peduli melalui kata-kata terukur dengan gramatikal tersusun rapih, tetapi perilakunya seringkali jauh di bawah pelacur jalanan yang menjual diri karena dipaksa oleh kemiskinan. Sungguh aku sama sekali tidak faham, berada pada tingkat mana kesadaran mereka jika menggunakan penjelasan Kaku. Rasanya, kesadaran anak-anak jalanan dan pelacur jalanan dalam menjalin hubungan antar manusia, membangun hubungan yang empatis sangat jauh melampaui mereka. Aku jadi ingat emakku yang bilang, seringkali orang yang sepuh sudah majal hati dan fikirannya karena telah buta mata hatinya, dilamuri kepentingan diri dan keinginan kuat untuk tunjukkan bahwa dia masih kuat dan kuasa, padahal sudah bau tanah, dan sejengkal lagi tersungkur di liang kubur.

JANGAN PERNAH PERCAYA KEDEWASAAN MANUSIA HANYA DITENTUKAN OLEH USIA DAN PENDIDIKANNYA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd