Kamis, 13 Maret 2014

SORE PANCORAN GLODOK

Ini kawasan Pecinan. Dari dulu terkenal sebagai tempat penjualan obat-obat Cina baik yang tradisional maupun moderen. Sejumlah sinshe buka praktik di sini. Semua toko merupakan bangunan lama yang terkesan kumuh. Kekumuhan itu semakin terlihat karena pedagang kaki lima menyesaki semua teras dan emperan toko. Suasananya mirip Malioboro. Di depan setiap toko ada pedagang kaki lima.

Pemilik toko adalah keturunan Cina sedangkan pedagang kaki lima hampir semuanya pribumi. Selama puluhan tahun beginilah keadaannya. Tak pernah ada sedikitpun keributan di antara mereka. Damai dan sama-sama cari rezeki.

Bila sore keadaan bertambah ramai. Semakin banyak mobil parkir di badan jalan yang sempit. Sementara di beberapa bagian badan jalan muncul pedagang sayur yang khusus berjualan pada sore hari. Saat pagi, para tukang sayur berjualan di gang senggol yang sungguh-sungguh membuat kita pasti bersenggolan karena sempit dan sangat ramai.

Sepanjang trotoar berjejer pedagang makanan. Sangat beragam, sate padang, nasi ulam, soto tangkar, sop kambing, soto betawi, mie ayam, gorengan, bakpau, es kacang hijau, liang teh, nasi goreng, sate kambing, baso, rujak juhie, kerupuk kulit babi, cakwe, martabak telor dan martabak manis, pecel lele, empek-empek, dan bubur kacang hijau.

Para pedagang makanan itu adalah pribumi, kecuali penjual kerupuk kulit babi. Sementara mayoritas pembeli adalah keturunan Cina. Para penjual makanan itu menyediakan tempat duduk atau meja seadanya, kebanyakan malah hanya menyediakan kursi plastik tanpa meja.

Sore pemandangan jadi asyik. Tauke atau bos-bos yang seluruhnya keturunan Cina dan para encim yang berdandan rapih dengan pakaian mahal berkelas, duduk makan di pinggiran jalan dalam suasana jalanan di tengah keramaian orang lalu lalang. Ini pemandangan sehari-hari. Tak ada yang istimewa dan aneh. Sungguh biasa aja.

Muncul sejumlah anak muda campuran keturunan Cina dan pribumi membawa gendang besar dan para pemain barongsai. Mereka tampil berkeliling dan menyebarkan angpau atau amplop kosong. Sementara temannya sibuk beratraksi, sebagian lagi mengumpulkan angpau-angpau yang telah disebarkan.

Menjelang maghrib orang bertambah ramai, banyak yang makan sambil berdiri karena tak kebagian tempat duduk. Sementara pedagang kaki lima yang berjualan baju, peralatan rumah tangga, kaca mata, binatang peliharaan seperti kura-kura dan kelinci mulai tutup. Mereka jualan sejak jam sembilan pagi.

Suasana makin meriah bila ada turis manca negara, baik Asia maupun Eropa ikutan makan di pinggiran jalan. Lebih asyik lagi bila menjelang hari raya Imlek, karena para pedagang menjual beragam asesori imlek. Yang menarik adalah, meski tempat ini sangat padat, seringkali orang berjalan kaki mengalami kemacetan, tak bisa bergerak karena kepadatan orang lalu lalang, tetapi tak pernah ada orang kecopetan.

Di sini orang berinteraksi dan bertransaksi secara wajar, penuh keramahan dan tak pernah ada ketegangan. Semua lancar-lancar dan senang-senang aja. Semua orang saling bantu. Suasananya layaknya semua pasar di bagian manapun di Indonesia.

Sungguh ini sepenggal keindonesiaan yang sangat menarik dan mempesona. Saling pengertian dan toleransi antara keturunan Cina dan pribumi berjalan secara sangat baik, wajar, natural, dan lancar-lancar aja. Inilah sepotong bukti bahwa pada tingkat masyarakat tidak ada masalah untuk hidup berdampingan secara damai meski perbedaan sangat mencolok.

Kala Jakarta dibakar amarah luar biasa menjelang kejatuhan orde baru, banyak tempat ludes sengaja dibakar. Hampir semua yang dibakar adalah rumah, gedung dan beragam fasilitas yang dikaitkan dengan keturunan Cina. Pancoran Glodok sama sekali tak terjamah kemarahan yang membakar itu. Mengapa bisa?

Inilah penuturan seorang pedagang kaki lima penjual kaca mata yang sudah berjualan di situ lebih dari tiga puluh tahun. Lelaki gemuk asal Batak ini bertutur.

Semua kami yang berjualan di sini bersepakat menjaga tempat ini. Kami tutup jalan dari depan dan belakang. Semua jalan masuk kami jaga. Bukan hanya kami para pedagang. Kami juga kerahkan sanak sodara. Kami tidak pernah pulang menjaga tempat ini. Para tauke pemilik toko dan hotel yang menyediakan makanan dan semua keperluan lain.

Kami jaga tempat ini supaya tidak diganggu karena tempat ini periuk nasi kami puluhan tahun. Pemilik toko itu sudah kami anggap sodara. Kami tidak mau dan tak akan biarkan mereka diganggu.  Bukan mereka yang minta kami jaga tempat ini. Mereka kan punya duit untuk bayar keamanan atau preman untuk jaga tempat ini. Tapi kami yang memang mau jaga tempat ini. Kita kan sudah hidup bersama dan saling bantu puluhan tahun. Sekarang saatnya kita harus tunjukkan bahwa kita besodara.

Lama juga kami jaga di sini. Semua toko benar-benar tutup. Kami juga gak jualan. Kita saling bantulah. Tempat ini benar-benar aman waktu itu.

Apa yang terjadi di Pancoran Glodok adalah fakta tak terbantahkan, bahwa sebenarnya kebanyakan masyarakat kita mau dan mampu hidup berdampingan dengan damai dan saling bantu meski mereka memiliki sejumlah perbedaan yang sangat mencolok.

Konflik akan muncul, bila ada 'tokoh' masyarakat yang terganggu kepentingannya dan memanfaatkan perbedaan sebagai pemacu dan pemicu konflik. Paling tidak itulah kesimpulan yang didapat para mahasiswa yang kuberi tugas untuk melakukan penelitian kecil-kecilan di semua lokasi konflik se Jabodetabek dalam mata kuliah Manajemen Konflik.

TAMPAKNYA MASYARAKAT KITA LEBIH BIJAK MENYIKAPI PERBEDAAN DIBANDING SEJUMLAH 'TOKOH MASYARAKAT'.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd