Hidup memang penuh ironi. Dengan sejumlah relawan saya mencoba mendirikan semacam taman belajar di lokalisasi kelas bawah illegal yang dikenal dengan nama Bongkaran. Setelah berkiprah enam bulan, kami berhasil mengumpulkan puluhan anak usia sekolah yang sama sekali tidak sekolah. Keseluruhan anak ini, ibunya adalah para WTS yang beroperasi di lokalisasi ini.
Kami berprinsip, bila ibunya tak dapat lagi dididik dan diarahkan pada kehidupan yang lebih baik, mudah-mudahan anaknya dapat ditolong. Target kami adalah bagaimana caranya agar anak-anak ini tidak tumbuh kembang di lokalisasi ini.
Tumbuh kembang di lokasi yang secara fisik dan sosial sangat buruk pastilah tidak baik bagi anak-anak ini. Lokalisasi ini merupakan pemukiman yang sangat kumuh dan padat. Para WTS yang beroperasi di sini melakukan praktik siang malam atau tidak dibatasi waktu. Anak-anak itu sudah sangat terbiasa melihat ibunya 'ngamar' dengan macam-macam lelaki setiap hari.
Bukanlah hal mudah untuk masuk dan diterima dalam komunitas seperti ini. Sebab di lokasi seperti ini, penguasanya adalah para preman yang sangat tidak suka bila ada yang bermaksud mengarahkan penghuni lokasi ini ke arah yang baik, karena bisa mengganggu bisnis mereka.
Karena itu dibutuhkan waktu yang agak lama untuk meyakinkan semua fihak agar maksud baik ini dapat terlaksana. Akhirnya kami dapat melaksanakan upaya pemberdayaan bagi anak-anak mereka. Para orang tua meminta anak-anak itu diajari mengaji dan shalat. Rupanya para ibu itu tidak mau anak-anaknya menjadi seperti dirinya. Inilah nurani murni seorang ibu, meski hidupnya berlumur kesalahan dan dosa.
Kami menyelenggarakan pendidikan setelah selesai sholat ashar sampai sholat maghrib. Pada mulanya dua kali seminggu. Namun para ibu meminta lebih sering. Akhirnya menjadi empat kali seminggu. Beberapa ibu juga minta diajari ngaji dan sholat. Katanya persiapan untuk bertaubat.
Para ibu itu sangat marah bila anak-anaknya malas mengikuti proses pendidikan yang kami selenggarakan. Bila anaknya perempuan, inilah ucapan ibunya untuk anak yang malas. " Kamu mau jadi lonte kayak ibu? Kamu kira enak jadi lonte? Ayo belajar sono!"
Naluri asli keibuan yang inginkan anaknya jadi orang baik. Sikap para ibu ini sungguh sangat membantu proses pendidikan yang kami selenggarakan. Makin hari, anak-anak yang belajar bertambah terus. Kami juga menambah menu pembelajaran dengan memperkenalkan calistung yaitu membaca, menulis, berhitung. Juga mulai mengajarkan berbagai keterampilan.
Pada waktu Ramadhan, anak-anak itu di bawa tarawih keliling masjid seperti Masjid Istiqlal, dan berbagai masjid besar di Jakarta. Bagusnya, ada beberapa ibu yang ikutan. Kegiatan ini dilakukan untuk berbagai tujuan, selain beribadah tentu untuk memberi kesempatan mereka jalan-jalan atau berwisata. Anak-anak itu, bahkan ibunya memang tidak pernah jalan-jalan jauh dari pemukiman kumuh itu. Tentulah kami berikan pada mereka perlengkapan ibadah termasuk pakaian lengkap dengan mukena bagi anak perempuan, dan pakaian lengkap sampai kopiah bagi anak lelaki.
Kebersamaan dan kegembiraan telah meningkatkan kepercayaan mereka pada kami. Para ibu itu mulai berfikir lebih serius tentang masa depan anak-anaknya. Kami mulai merayu mereka agar mengijinkan anaknya dibawa ke kampung dan dipelihara oleh anggota keluarga yang lain atau masuk pesantren. Intinya tidak lagi mukim dilokalisasi ini. Sejumlah ibu mulai setuju.
Kami mulai melakukan kontak ke kampung halaman mereka dan ke beberapa pesantren untuk mewujudkan rencana ini. Pada mulanya para preman tidak setuju. Mereka khawatir, ibu anak-anak itu juga akan meninggalkan lokalisasi ini. Namun, beberapa ibu ngotot menginginkan anaknya dibawa keluar dari sini. Kami berunding dengan para preman dan membuat sejumlah perjanjian agar rencana ini tetap dapat dilaksanakan tanpa merugikan mereka.
Akhirnya satu persatu anak dapat dipindahkan seperti rencana semula. Kebanyakan memilih dipulangkan ke kampung dan dipelihara oleh neneknya dan anggota keluarga yang lain. Beberapa ke pesantren di daerah Bogor. Kami tetap selenggarakan pendidikan untuk anak yang lebih kecil.
Ada yang sangat menarik dari anak-anak itu. Anak-anak yang bersadudara kandung tidak ada satu pun yang mirip. Kakaknya hitam dengan rambut keriting, sedangkan adiknya putih dengan mata agak sipit. Ada yang kulitnya sama putih atau sama coklat, tetapi wajah dan rambutnya sama sekali berbeda, yang satu lurus yang lainnya keriting. Benar-benar Indonesia Raya. Pada mulanya kami juga mengalami kesulitan melakukan identifikasi. Malah seringkali yang mirip bukan yang bersaudara kandung. Jadi, kami benar-benar menyaksikan ada anak mirip anak tetangga, bukan mirip saudara kandungnya.
Juga sangat menarik bila melihat mereka sedang bermain-main. Mereka menirukan bagaimana melakukan pembicaraan sebagaimana ibunya bertransaksi dengan tamu. Mereka juga tidak punya rasa sungkan untuk meminta uang pada tamu ibunya. Beberapa anak sangat kenal dengan tamu atau langganan ibunya.
Jika para ibu ditanya, siapa ayah anak-anaknya, jawabannya adalah "Saya ndak tahu siapa bapaknya." Wajar bila mereka menjawab seperti itu. Sebab setiap hari mereka berhubungan dengan lelaki yang berbeda-beda.
KEMISKINAN MEMANG BISA MENDORONG MANUSIA BERBUAT YANG TAK TERDUGA.
Nama : Nur Cholis A.S
BalasHapusP.IPS B 2013
NIM : 4915137156
Kemiskinan memang seringkali mendorong manusia melakukan hal yang tak terduga,bahkan hal-hal yang dianggap aneh sekalipun.Para wanita WTS tersebut ternyata tetaplah seorang ibu yang memiliki kasih terhadap anaknya dan sangat menyayangi mereka,walaupun ia sendiri tidak tahu siapa ayah dari anak yang telah ia lahirkan,mereka tetap memberi kesempatan bagi anaknya untuk tetap hidup dan memberi penghidupan baginya,sungguh mulianya seorang ibu terlepas dari pekerjaan yang mereka jalani.Jika dilihat selama ini,keadaanlah yang memaksa seseorang untuk melakukan hal yang dianggap tidak baik oleh masyarakat umumnya,itulah yang terlihat jika menggunakan mata telanjang.Kita seringkali tidak mengerti apa sebenarnya yang mereka alami,apa yang dibutuhkan,ada masalah apa,dan hal-hal lainnya yang masih tersembunyi didalam hati.Dari tulisan ini kita dapat belajar tentang apa yang selalu ada disekitar kita,ibu,kemiskinan,hingga anak dari seorang ibu.Kasih ibu sangat dalam terhadap anaknya,tidak ada orang tua yang mengharapkan anaknya menjadi buruk,sekalipun orangtuanya melakukan hal-hal yang buruk untuk menghidupi anaknya.Anak yang berada dalam lingkungan yang kurang baik layak untuk diselamatkan demi masa depan mereka yang lebih baik.Menyadarkan mereka tentang hal-hal yang salah dan mulai mengajarkan mereka tentang hal yang berguna bagi mereka seperti menulis,membaca,menghitung,bersosialisasi dengan baik,dan agama sebagai pegangan hidupnya.Disinilah sebenarnya peranan orang-orang yang perduli dibutuhkan selain pihak pemerintah,mereka adalah salah satu solusi yang dapat membantu mereka untuk keluar dari ha-hal yang selama ini salah.Dengan membimbing anak-anak tersebut,diharapkan dapat membantu mengurangi kejadian yang telah dialami oleh orangtua mereka,dengan pengarahan yang baik anak-anak tersebut dapat menjadi penyelamat bagi orang yang lain,bahkan dapat menjadi penyelamat bagi orangtua mereka terutama ibu,baik didunia maupun diakhirat.
Nama: Mamay Gumelar
BalasHapusNIM: 4915 12 2541
P.IPS A' 2012
Materialisme kehidupan duniawi, layaknya harta-benda, kedudukan (jabatan), memang akan selalu memperdaya naluri setiap individu untuk meraihnya dengan berbagai cara. Meskipun sekalipun mengetahui bahwa yang dilakukannya adalah tidak baik secara spiritual, namun mereka tetap melakukannya demi kebutuhan pokok hidupnya serta keluarganya.
Dalam wacana diatas menjelaskan suatu bentuk pemberdayaan pada anak usia sekolah di lingkungan area lokalisasi yang bernama Bongkaran. Dimana yang kita ketahui bahwa orang tua dari anak usia sekolah tersebut merupakan para WTS.
Berikut Saya nyatakan beberapa pertanyaan mengenai wacana di atas, yakni:
1. Apa yang melatarbelakangi para Relawan untuk melakukan pemberdayaan pendidikan terhadap anak usia sekolah di lingkungan Lokalisasi?
2. Bagaimana proses pendekatan sosial berupa negosiasi yang dilakukan para relawan terhadap para preman wilayah lokalisasi tersebut, sehingga memperoleh izin untuk melakukan/membuat taman belajar bagi anak-anak para WTS?
3. Apakah kegiatan pendidikan melalui taman belajar ini akan mampu mempengaruhi terhadap suatu perilaku sosial yang baik pada setiap anak kelak ketika sudah tumbuh dewasa?
Terima kasih.
Firman Surahman
BalasHapusP.IPS B 2013
Assalamualaikum Wr. Wb
Dalam tulisan yang “Saya Ndak Tahu Siapa Bapaknya”. Penelitian yang bapak lakukan adalah penelitian tindakan. Saya cukup kagum dengan upaya bapak beserta rekan-rekan untuk melakukan perubahan arah, perbaikan generasi dan pemberdayaan anak-anak yang tinggal didaerah lokalisasi tersebut. Kita memang harus menyadari menggosok baju yang rusak sudah sangat sulit daripada menggosok baju yang masih bagus. Bisa diartikan mencoba merapihkan kehidupan orang tuanya yang sudah sejak lama rusak memang sulit maka dari itu hebatnya bapak adalah mencoba mengubah dan merapihkan bibit unggul yang harus diselamatkan. Kajian ini harus ditela’ah jauh lebih dalam. Naluri seorang ibu yang sudah dipaparkan langsung dalam tulisan ini harus dicerna lebih jauh. Bayangkan seorang perempuan bisa dibilang sudah sangat kotor namun masih memiliki naluri keibuan yang luar biasa. Tapi lihat realita anak gadis yang hamil diluar nikah, mereka tidak hidup didunia hina seperti itu tapi kenapa mereka tidak memiliki naluri keibuan seperti apa yang dimiliki para WTS ? Anak gadis yang hamil diluar nikah dengan mudah membuang, membunuh, bahkan menggugurkan kandungannya. Apa karena kata malu mereka tega seperti itu ? Namun mereka tidak malu berbuat hal yang sama kotornya dengan WTS. Lalu bagaimana filsafat memandang fenomena ini ? Bagaimana kajian yang lebih terperinci untuk menetapkan mental siapa yang salah dalam hal ini ? Hebatnya seorang WTS itu mereka menginginkan anaknya tidak terjerembab dalam kehidupan mereka yang kotor itu. Tapi banyak ibu yang buta karena harta. Mereka bukan WTS bahkan banyak dari keluarga besa yang baik dan ternama. Namun kebanyakan anak gadis mereka diputus sekolahkan untuk dinikahkan dengan pengusaha yang jauh lebih kaya. Bagaimana filsafat memandang perbedaan mental dan naluri yang terkaji dalam masalah ini ? Apakah mental buruk selamanya dari tempat yang buruk pula ? Atau cara didik yang salah dalam silsilah keluarganya ? Jangan pernah jadikan kemiskinan alasan untuk melakukan segala daya dan upaya yang kita kemudian menempuh jalan yang buruk.
Dinny Mayangsari
BalasHapus415137150
P.IPS B 2013
Begitu mirisnya kehidupan orang-orang dilokasi tersebut. Padahal mereka berhak mendapatkan kehidupan layak dari segi ekonomi maupun pendidikan. Begitu kotornya pekerjaan mereka. Bahkan sampai melupakan hak anak untuk mengenyam bangku pendidikan. Tidakkah mereka berfikir untuk beralih mencari pekerjaan lain? Tidakkah mereka berfikir bahwa pekerjaan mereka itu adalah pekerjaan yang kotor? Tidakah mereka takut akan dosa yang mereka tanggung nantinya? Karena sesungguhnya apapun yang kita kerjakan di dunia akan di mintai pertanggungjawaban di akhirat nantinya. Jika mereka berasalah karena tuntutan ekonomi sebenarnya itu bukanlah alasan untuk mereka mencari uang dengan cara bekerja seperti ini. mereka masih. Mereka masih bisa menjadi PRT (Pembantu Rumah Tangga) di rumah-rumah, atau pekerjaan-pekerjaan lainnya. Terbesit saya berfikir, mereka hanya ingin mendapatkan uang yang banyak dengan cara yang instan. Mungkin mereka berfikir, toh pekerjaan seperti ini mudah, hanya dengan melayani para lelaki hidung belang semalam, mereka bisa langsung menghasilkan uang yang banyak tanpa susah payah. Mirisnya kehidupan mereka.
Pertanyaan :
1. Dengan ruang lingkup kehidupan yang seperti itu, adakah gangguan mental yang dialami oleh salah satu anak tersebut? maksud saya gangguan mental disini adalah perilaku si anak yang membuat dirinya menjadi takut akan kehidupan sekitar yang membuatnya mengurung diri? Jika ada, bagaimanakah tindakan bapak?
2. Tidakkah ada ketakutan para WTS tersebut akan penyakit kelamin yang akan dideritanya? Bagaimana cara yang tepat untuk melakukan penyuluhan kepada WTS tentang efek dari pekerjaan mereka tersebut?
3. Dalam kasus ini, saya melihat bahwa latar belakangnya para WTS tersebut adalah karena dorongan ekonomi yang kurang mencukupi. lalu, adakah tindakan nyata dari para pemerintah mengenai hal ini? seperti menangkap para WTS tersebut tidak untuk dimasukan penjara, melainkan memberikan bimbangan khusus, arahan yang lurus agar mereka menyadari perbuatan mereka?
dari bacaan diatas dapat kita lihat betapa mirisnya kehidupan masyarakat indonesia yang di hantui kemiskinan, mereka tidak bisa berbuat apa-apa untuk merubah kehidupan mereka yang ada dilubang kemiskinan. dengan menjadi seorang pelacur mungkin menjadi sebuah pilihan meskipun hati nurani mereka menolak tapi apalah daya keadaan yang memaksa mereka untuk melakukannya. kemiskinan yang begitu mengerikan dan tidak tersedianya lapangan pekerjaan di tambah pendidikan mereka yang rendah menjadi alasan utama bagi para perempuan yang berprofesi sebagai pelacur. melahirkan anak-anak yang tidak tahu asal-usul nya sangat rentan dikalangan itu, lingkungan yang tidak seharusnya ada pada usia mereka yang dibilang masih sangat dini. tapi menjadi tontonan yang seperti makanan sehari-hari bagi anak mereka, namun apalah daya para ibu-ibu itu untuk meningkatkan derajat dan taraf hidup anak mereka. inilah cerminan bangsa indonesia yang terpuruk dalam kemiskinan.
BalasHapusdalam permasalahan itu siapakah yang seharusnya disalahkan? apakah pemerintah yang tidak menyediakan lapangan pekerjaan sedangkan para aparatnya begitu sejahtera atau para ibu-ibu yang tidak berpikir akan kehidupan anaknya? dan apakah benar hati seorang ibu yang pelacur tidak ingin melihat anaknya menjadi seperti dirinya?
semua itu seolah menjadi teka-teki jikalau pemerintah yang bersalah maka untuk apa dia menjadi menjadi seorang pemimpin jika tidak bisa mensejahterakan rakyatnya dan apabila seorang ibu tidak ingin anaknya megikuti jejaknya megapa dia tidak meninggalkan kehidupan kelam itu dan menjadi panutan untuk anaknya?
INDAH WARDATUSSA'IDAH
BalasHapus4915122547
P.IPS REG 2012
sungguh ironis memang ditengah gelimangnya harta negara kita ditengah tengah derasnya arus globalisasi dan korupsi masih ada saja orang orang yang mau bekerja dengan melakukan hal yang tidak semestinya dan dilakukan selama bertahun tahun . dan lagi lagi anak anak menjadi korban dari kesalahan orang tuanya . sungguh sangat disayangkan seharusnya anak anak yang tumbuh berkembang dapat menjadi anak anak yang soleh dan solehah berbakti cerdas dan berakhlak mulia , namun apa daya himpitan ekonomi yang membuat mereka rela melakukan seperti itu . tapi sungguh luar biasa ditengah tengah arus prostitusi ternyata masih ada bebrapa sebagian ibu ibu yang peduli akan tumbuh kembang nakanya namun apa daya preman dan himpitan ekonomi yang membuat sang ibu harus tetap melanjutkan pekerjaan hina seperti itu . Tuhan memang adil disaat manusia masih luput akan dosa ia tetap membuat hati nurani seorang IBU untuk terus tetap bersih demi sang anak . banyak sekali kejadian seperti ini di mana mana namun tidak adanya ketegasan dari pemerintah untuk menanggulangi agar tidak terjadi hal seperti ini . semua ada ditangan manusia itu sendiri . semua hal pasti ada resiko dan akibat yang ditanggung namun bagaimana menjadi seorang manusia yang mau menjadi lebih baik lagi dan berubah dari sebelumnya mungkin itu jauh lebih mulia .
1. Apakah tidak pernah terbesit rasa penyesalan dalam hati sang ibu melihat anaknya yang tumbuh menjadi seseorang yang salah dalam didikan dan asuhan ?
2. Mengapa kejadian ini terus terjadi dan semakin parah melanda negeri kita tercinta ?
3. Mengapa wanita dan anak anak selalu menjadi korban dari itu semua ?
Putri Inayah (4915120345) P.IPS A 2012
BalasHapusBacaan diatas menurut saya sangat ringan namun memiliki nilai moral yang mendalam. Sekalipun seorang ibu berprofesi sebagai wts, ia tak ingin anaknya terjun ke lubang dosa yang sama. Naluri keibuannya hadir saat ia mencitacitakan anaknya menjadi manusia yang lebih baik dan taat pada agama. Mungkin cerita seperti diatas dekat dengan lingkungan kita biasa bersosialisasi, tetapi kurangnya kepekaan kita sebagai sesama makhluk yang memiliki kondisi "lebih beruntung" menjadikan mereka nyaman atas profesi yang sebenernya mereka sadari bahwa profesi tersebut bertentangan dengan norma yang ada dan keberlangsungan masa depan anak-anak mereka.
Pertanyaan yang ingin saya ajukan :
1. Darimanakah asal dana yang digunakan untuk memberi bingkasan anak-anak dan biaya operasional proses pembelajaran ?
2. Apakah anak-anak tersebut ada yang memiliki cita-cita yang tinggi, seperti menjadi dokter/guru ?
3. Apakah anak-anak tersebut membutuhkan sosok seorang ayah ?
Mungkin tidak selamanya pepatah yang berbunyi "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" ini benar. Begitu juga untuk mendeskripsikan arti tulisan tersebut. Anak" tersebut hanyalah korban, korban tindakan yang sangat tidak bijak yang diambil oleh orang tuanya khususnya sang ibu.
BalasHapusYang ingin saya tanyakan ialah :
1. Apakah setelah anak" tersebut pindah dari tempat lokalisasi ada jaminan atau controling supaya tidak kembali lagi ke tmpat yg serupa?
2. Bagaimanakah tentang sosok ibu yang ada di pikiran mereka ?
3. Bagaimana sebab awal terjadinya bongkaran itu bisa menjadi tempat lokalisasi ?
Icksan pratama (4915127050)
P.ips b 2012
Anggi Septiani (4915120346) P.IPS A 2012
BalasHapusSetelah membaca artikel bapak saya dapat menarik kesimpulan bahwa naluri seorang ibu memang tidak bisa dibohongi. Sehina, sekotor apapun si ibu dia tidak akan pernah sampai hati menginginkan anak nya seperti dia dan jatuh di lubang yang sama. Naluri kedua orang tua juga yang pasti menaruh harapan pada setiap anak nya untuk menjadi insan yang lebih baik dibanding kedua orang tua nya. Orang tua tidak akan mengharapkan apa-apa ketika anak itu kelak lebih berhasil dari ibu nya, hanyalah yang terpenting anak nya bisa bahagia dan hidup layak sebagai mana mestinya.
Ibu rela menjual badan kepada pria yang hanya mencari kepuasan semata dan menjadi sosok ayah sekaligus demi sesuap nasi hari itu dan kalo masih untung ada sisa uang, bisa digunakan untuk membeli keperluan lain. Miris memang, namun itulah hidup. Banyak orang yang mendapatkan kesuksesan dan kebahagian dengan mudah, ada juga yang untuk membeli nasi untuk makan malam saja tidak mampu...
Dari artikel bapak diatas juga saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan:
1. tentu bapak dan rekan tim bapak telah mampu membuat anak-anak itu nyaman dan bisa bercerita banyak pada bapak. Apa sebenarnya pendapat mereka tentang pekerjaan yang dijalani ibunya?
2. Apa mereka sebenarnya merasa malu dengan pekerjaan ibu atau malah sebaliknya? Apa mereka sebenarnya walaupun masih kecil telah berkeinginan untuk meneruskan jejak ibu nya?
3. Selama ini mereka tidak mempunyai dan mengetahui sosok ayah mereka, apa ada orang yang menurut mereka bisa menjadi figur pengganti ayah di lingkungan sekitar lokalisasi tersebut?
Diandra Sukma Z. (4915122534)
BalasHapusPIPS A 2012
Assalamu'alaikum wr.wb
Setelah membaca tulisan di atas saya dapat menyimpulkan bahwa bu-ibu yang bekerja sebagai WTS di tempat lokalisasi kelas bawah illegal tersebut juga masih memiliki hati nurani dan memiliki niat baik untuk masa depan anak-anak mereka. Memang mungkin sebelumnya tidak diduga bahwa para ibu tersebut memiliki pemikiran dan keinginan yang baik tersebut. Hal itu disebabkan karena mungkin mereka bekerja sebagai WTS adalah karena faktor desakan ekonomi dan mereka tidak memiliki pekerjaan lain yang lebih baik. Oleh karena itu, mereka tidak menginginkan anak-anak mereka (anak perempuan) untuk menjadi seperti mereka saat dewasa nanti.
Dalam hal ini, kemiskinan berarti tidak membuat pemikiran para ibu ini pendek, yang tidak memikirkan masa depan baik bagi anak-anaknya, melainkan sebaliknya yaitu menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang pandai, baik, dan memiliki masa depan yang cemerlang. Andai saja, semua orangtua yang hidup dalam kemiskinan memiliki pola pikir yang bagus seperti ibu-ibu yang bekerja sebagai WTS ini, maka kita tidak akan melihat betapa banyaknya anak-anak kecil yang meminta-minta uang di jalan raya atau di tempat-tempat makan.
Berikut ini adalah pertanyaan yang saya ajukan terkait dengan tulisan di atas:
1) Untuk meyakinkan para preman di tempat lokalisasi yang illegal tersebut bahwa kegiatan belajar anak-anak di taman belajar pastilah tidak mudah, maka bagaimana strategi-strategi yang dilakukan untuk dapat meyakinkan mereka?
2) Apakah dapat memungkinkan jika pola pikir para orangtua yang berada dalam garis kemiskinan mampu menyamai pola pikir para ibu yang bekerja sebagai WTS ini untuk masa depan anak-anaknya?
3) Apakah dapat dipastikan bahwa anak-anak yang sudah dipindahkan ke kampung halaman atau ke pesantren kelak tidak akan meniru atau menjadi pekerja seperti ibu mereka?
Terimakasih,
Wassalamu'alaikum.wr.wb.
Windi Fauziah
BalasHapus4915122521
P.IPS A 2012
Kemiskinan di beberapa daerah di jakarta menjadi sebuah ironi di kala kota ini sedang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Baik itu dalam bidang pembangunan maupun dalam bidang pendidikan. Dan semua orang dengan usahanya sendiri membuat agar hidup mereka dapat terpenuhi. Termasuk dengan para ibu yang berada di lokalisasi bongkarang tersebut. Mereka rela menjadi WTS demi terpenuhinya kebutuhan hidup mereka dan anak-anak mereka. Namun ada hal yang menarik disini, para ibu itu ternyata memiliki hati dan tujuan yang mulia, mereka tidak ingin kelak anak-anak mereka menjadi seperti mereka. Karena itu mereka sangat mendukung dengan adanya kedatangan relawan yang membantu dan perduli terhadap nasib anak-anak mereka. Karena itu kita yang dilahirkan dan diberikan kehidupan yang lebih beruntung harusnya lebih mensyukuri nikmat Tuhan. Seorang ibu tetaplah menjadi seorang ibu yang menyayangi kita, mengasihi kita dan ingin kita menjadi lebih baik dari dirinya sekalipun ibu tersebut menjadi WTS dan selalu di rendahkan orang lain.
dari tulisan di atas pertanyaan yang saya ajukan yakni :
1. Bagaimana sikap dan mental yang terbentuk dari anak-anak yang tinggal disana yang notabene nya mereka selalu melihat ibunya dekat dengan para lelaki?
2. Apakah tindakan yang sudah dilakukan para relawan mampu menanamkan dan membuat anak-anak yang berada di sana kelak tidak akan menjadi seperti ibu nya?
3. Apakah anak-anak tersebut sesekali menanyakan sang ayah? Lalu bagaimana jawaban sang ibu?
Dian kartika h.
BalasHapus4915122537
Pips reg 2012
Dalam artikel berjudul "Saya ndak tahu siapa bapaknya" terdapat peran orang tua yaitu ibu dalam agen sosialisasi. Ibu yang telah terjerumus ke dalam hal yang bersifat negatif tidak menginginkan hal itu terjadi pula terhadap anak-anaknya. Peneliti melakukan bentuk kegiatan penelitian kualitatif dengan observasi partisipatoris. Dalam pokok bahasan sosiologi hal ini dapat disebut pula sebagai tindakan sosial seperti yang dikemukakan oleh Max Weber, bahwa peneliti dalam melakukan penafsiran bermakna untuk memahami makna subjektif tindakan sosial harus dapat ikut menghayati pengalamannya dan melihat apa yang terjadi dalam kegiatan penelitian tersebut. Meskipun dibentuk dalam lingkungan yang tidak memungkinkan anaknya mendapatkan pendidikan layak seperti anak lain pada umumnya, tetapi para ibu memiliki keyakinan bahwa anaknya dapat belajar dan dapat berbuat lebih baik daripada ibunya hal ini kemudian menstimulus anak untuk dapat belajar lebih baik melalui kegiatan pengajian dan mengikuti kegiatan belajar yang diselenggarakan oleh peneliti.
Saya merumuskan beberapa rumusan masalah diantaranya adalah :
1. Dapatkah penelitian kualitatif terkait artikel diatas dilakukan melalui dua teknik atau lebih dalam penelitian ?
2. Seperti apakah keterkaitan antara stratifikasi sosial dengan gender pada kasus artikel diatas ditinjau melalui penelitian kualitatif ?
3. Dapatkah penelitian tersebut dibuat dalam bentuk 2 metode yaitu penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif ?
4. Adakah keterkaitan antara perbedaan kelas sosial dalam ilmu sosial dengan perbedaan perilaku orang yang berada di dalam lingkungan tersebut ?
5. Adakah keterkaitan antara status dalam masyarakat dengan pola sosialisasi primer seorang ibu kepada anaknya seperti yang dijelaskan dalam artikel tersebut ?
saya Nurkhasanah
BalasHapusPendidikan IPS A 2012
4915122553
Dalam tulisan “Saya yang suruh” yang ditulis oleh pak nusa, yang mendeskripsikan tentang kehidupan masyarakat kelas bawah yang tentunya berekonomi rendah, begitu juga dengan tingkat pendidikannya. Kehidupan masyarakat yang berekonomi rendah, oleh karena itu anak-anaklah yang menjadi korban yang mengerikan. Mereka yang seharusnya menjadi anak-anak yang masih senang bermain-main, yang masih senang mengenyam pendidikan yang layak, tetapi kenyataan yang terjadi yang dijelaskan oleh pak nusa, anak-anak dalam tulisan tersebut malah menjadi anak-anak yang dikorbankan orang tuanya untuk dipekerjakan di “tempat sampah”, yang tidak seharusnya mereka ditempat seperti itu. Dan yang lebih disayangkan lagi, orang tuanya malah dengan bangga apabila anaknya bekerja di tempat tersebut dan pulang mendapatkan uang. Orang tuanya tidak sadar akibat yang akan didapatkan oleh anaknya karena sering melihat orang dewasa melakukan hubungan.
Anak-anak merupakan generasi penerus bangsa, yang seharusnya dididik dan diarahkan dengan baik dengan ilmu bermanfaat serta nilai-nilai spiritual, tetapi dalam kehidupan anak yang dilahirkan di daerah dekat rel kereta, dengan lingkungan yang penuh dengan masalah penyimpangan sosial. Anak-anak tersebut tentu saja menjadi anak yang terbentuk sesuai dengan lingkungan tempat mereka melakukan interaksi.
Melihat kasus tersebut, kita sebagai kaum intelektual memang seharusnya peduli dengan masalah seperti itu, selayaknya kita pula mencarikan solusi yang terbaik untuk menyadarkan orang tua dari anak-anak tersebut bahwa ketika orang tua menyuruh anaknya untuk pergi “bekerja di tempat sampah” tersebut merupakan hal yang salah. Lalu selanjutnya kita juga harus melakukan pendekatan dengan anak-anak tersebut sebagai upaya untuk mengarahkan mereka untuk ke arah yang lebih baik.
Berikut adalah pertanyaan yang saya ajukan terkait dengan tulisan diatas :
1. Bagaimana awalnya anak-anak tersebut bisa dengan mudahnya diikhlaskan oleh orang tuanya untuk bekerja di tempat seperti itu ?
2. Bagaimana peran pemerintah melihat setiap fenomena sosial yang banyak muncul di daerah pinggiran rel kereta api ?
3. Adakah solusi yang diberikan pemerintah tentang kasus seperti ini yang bisa merugikan negeri kita sendiri karena generasi penerusnya hidup dan berkembang dalam kondisi lingkungan yang tidak selayaknya ?
Sekian, Terimakasih
ZULIA TRISNA SARI
BalasHapus4915122539
P.IPS Reg 2012
Kemiskinan memang terkadang membuat manusia mencari jalan pintas supaya bisa melangsungkan hidupnya. Seperti halnya para WTS Bongkaran ini. Dari tulisan yang saya baca, terlihat jelas bagaimana kerasnya kehidupan yang membuat seorang wanita rela melakukan pekerjaan seperti itu demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan anaknya. Yang membuat saya salut kepada para WTS tersebut, mereka mau membesarkan anak-anaknya walaupun tidak tahu siapa ayahya karena, mereka berhubungan tidak hanya pada satu lelaki. Selain itu para WTS juga tidak ingin kelak anaknya menjadi seperti dirinya. Maka,mereka membolehkan dan memberi dorongan kepada anaknya untuk ikut pendidikan yang diberikan oleh relawan, supaya anak mereka memiliki kehidupan yang lebih baik dari ibunya. Disini dapat dilihat nurani murni seorang ibu, meski hidupnya berlumur dosa. Saya salut dengan kerja keras tim relawan dalam menyelenggarakan pendidikan untuk menolong anak-anak para WTS tersebut. Di zaman seperti ini sangat sedikit orang yang memiliki rasa peduli terhadap sesama. Kebanyakan mereka yang tahu tempat-tempat lokalisasi lebih memilih menutup mata, asalkan dirinya tidak terjerumus seperti para WTS tersebut itu sudah lebih dari cukup. Padahal kenyataannya para WTS memiliki berbagai masalah yang memerlukan bantuan dari kita. Untungnya masih ada relawan yang peduli terhadap kelanjutan hidup anak-anak para WTS, supaya memiliki kehidupan yang lebih baik dari orang tuanya.
Pertanyaan :
1. Bagaimana cara relawan supaya dapat diterima dan masuk ke dalam komunitas tersebut ?
2. Adakah peran keluarga terhadap para WTS untuk menolongnya supaya bisa meninggalkan pekerjaan haram tersebut?
3. Apakan anak-anak para wts tersebut memiliki surat-surat lahir? Bila iya bagaimana mereka bisa menuliskan nama ayahnya di akta kelahiran, sedangkan mereka sendiri tidak tahu yang mana ayahnya?
Nama : Cendy Juliana Dewi
BalasHapusNIM : 4915122528
P.IPS REG 2012
Assalamualaikum . wr.wb
Setelah membaca tulisan bapak diatas, memang di era modern seperti sekarang sudah banyak orang yang tidak bisa berpikir jernih. Hal ini terbukti dengan banyakkannya wanita-wanita yang rela menjajahkan tubuhnya untuk bisa menopang kebutuhan hidup sehari-hari. Terlihat sangat ekstrem sekali memang tapi di era yang semakin maju dengan biaya hidup yang makin meningkat hal tersebut sudah sangat menjamur dimana-mana. Oleh karena itu mudah bagi para pria hidung belang untuk menemukan tempat-tempat lokalisasi, ditempat tersebut banyak wanita yang menjajahkan tubuhnya untuk sesuap nasi demi keluarganya , namun yang menjadi masalah adalah anak-anak mereka pun tahu apa yang ibunya kerjakan. Mereka bahkan tak segan untuk meminta uang kepada para hidung belang tersebut dan terkadang anak-anak itu menirukan gaya ibunya dalam bertransaksi. Pemandangan yang sangat miris bukan. Anak-anak yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban disini. bagaimana nasib anak-anak tersebut kedepannya kalo terus hidup dilingkungan seperti itu , jika dibiarkan bisa saja kedepannya anak-anak tersebut yang melanjutkan perkerjaan ibunya karena kehidupan anak-anak itu hanya berputar-putar dilingkungan lokalisasi tersebut. Untuk itu saya sangat setuju dengan ide bapak memindahkan anak-anak itu keluar daerah lokalisasi tujuannya tak lain agar mereka bisa mengenal dunia luar mengenal hal-hal baru yang lebih positif bagi masa depan mereka. Dengan mereka belajar hal-hal baru diluar lingkungannya secara tidak langsung hal itu akan membuka pikiran anak-anak dan membuat mereka lebih semangat dalam belajar agar kedepannya mereka bisa mendapat pekerjaan yang layak dan membantu orang tuannya keluar dari lingkaran kemiskinan menuju kehidupan yang lebih baik.
Dari tulisan bapak, ada beberapa pertanyaan yang akan saya ajukkan diantaranya:
1. Dalam kasus yang bapak angkat diatas , mengenai lembaga pendidikan yang terselenggara di tempat lokalisasi tersebut . Seberapa Pentingkah pengaruhnya untuk perkembangan psikis anak – anak yang bermukim di daerah Lokalisasi itu ?
2. Anak-anak pasti memiliki memori yang kuat dan cepat mengingat suatu hal yang ia lihat , lalu bagaimana peran pendidikan dalam menangani dan mengarahkan anak-anak yang telah lama tinggal di tempat lokalisasi agar tidak berpikir dan berprilaku negative ?
3. Seperti yang bapak katakana “kemiskinan memang bisa mendorong manusia berbuat yang tidak terduga” dalam kasus diatas kemiskinan yang telah di alami oleh banyak masyarakat telah menjadi faktor pendorong untuk berbuat hal negative demi memenuhi kebutuhan hidup dan tak jarang perbuatan negative itu berimbas pada keluarga , anak – anak dan masyarakat lainnya , pertanyaan saya siapakah yang harus bertanggung jawab terhadap hal-hal tersebut ?
terima kasih .
RIZHA OCTAVIANI
BalasHapus4915127070
P.IPS B 2012
Tulisan dari penelitian pak nusa sangat menyentuh hati membacanya, seorang ibu yang menjadi wts demi mencukupi kehidupan pribadi dan anaknya. di sisi lain ibu itu memiliki nurani murni dan niat baik untuk anak-anaknya. walaupun ibunya seoran wts tetapi ia tak ingin anaknya juga menjadi wts nantinya. Para ibu yang menginginkan kebaikan untuk anaknya seperti menyuruhnya belajar ngaji, dan belajar membaca, menulis, berhitung. untungnya para ibu menyadari bahwa meskipun pekerjaan nya itu dosa, tetapi mereka tidak mau nantinya anak-anaknya seperti ibunya. Mereka berharap anak-anaknya memiliki pendidikan serta berakhlak baik. yang lebih ironinya lagi para ibu wts yang memiliki banyak anak yang berbeda-beda fisik dan tidak mengetahui siapa bapaknya karena selalu ganti pasangan setiap malam pekerjaanya.
Pertanyaan:
1. Adakah kesulitan dalam penelitian kualitatif tulisan "Saya ndak tahu siapa bapaknya"?
2. Apa dampak yang terjadi jika anak dari para ibu wts tetap tinggal di lokasi itu?
3. Bagaimana peran pemerintah mengatasi banyaknya pekerja wts tersebut?
NATALIA
BalasHapus4915122536
PENDIDIKAN IPS A 2012
Hidup ini memang sebuah pilihan, kita mau hidup baik atau jahat. Kasus seperti diatas itulah yang perlu dibenahi, agar negara kita tidak terlalu jauh bersaing dengan negara lain yang begitu tentram dan sejahtra. Memang tidak ada yang tahu secara keseluruhan seluk beluk suatu negara. Tapi, setidaknya kita sebagai manusia yang mengerti fenomena sosial harus meluruskan hal yang demikian. Bukalah lapangan kerja yang luas, jangan hanya jumlah penduduk saja yang banyak. Supaya apa? Supaya tidak ada pekerja-pekerja dan anak-anak yang begitu.
Pertanyaan yang saya ajukan, antara lain :
1. Mengapa tempat-tempat demikian, masih diizinkan berdiri?
2. Tindakan apa yang sudah dilakukan pemerintah?
3. Bagaimana perkembangan anak tersebut bila demikian terus terjadi?
Terima Kasih
Nama : Nia Fitriani
BalasHapusNIM : 4915122522
Pendidikan IPS A 2012
Kebutuhan ekonomi yang sangat banyak membuat seseorang bahkan seorang ibu rela melakukan suatu pekerjaan yang dianggap tidak pantas. mereka mencari uang dengan cara yang mudah dan tidak banyak menghabiskan waktu. dan mereka tidak peduli dengan keadaan sekitar mereka. para wanita yang bekerja sebagai psk memiliki anak. dan anak-anak mereka tumbuh didalam lingkungan yang tidak baik untuk perkembangan sianak.
pertanyaan :
1. Apakah ada faktor lain, selalin kebutuhan ekonomi yang membuat para wanita atau ibu itu melakukan pekerjaan sebagai psk?
2. Mengapa para ibu itu tidak mencoba keluar dari pekerjaan sebagai psk?
3. Bagaimana sikap anak-anak yang melihat pekerjaan orang tuanya?
4. Apakah anak-anak dilingkungan para pekerja psk itu memiliki cita-cita untuk meneruskan pekerjaan ibunya?
5. Bagaimana perkembangan psikologi anak-anak tersebut?
Erindya Rahmah Fauzia
BalasHapusPIPS A '12
Pertanyaan mengenai artikel di atas adalah:
1. Apakah dengan adanya bantuan dari relawan, anak-anak tersebut tidak akan mengikuti jejak ibu mereka suatu hari nanti?
2. Seberapa besarkah hasil dari kinerja yang diberikan relawan dalam membantu anak-anak tersebut?
3. Bagaimanakah proses yang dilakukan untuk meyakinkan para ibu dalam membuat anak-anaknya mengenyam pendidikan dan mengenal agama?
Nama : Nururrizqi Yasyaaillah
BalasHapusNim : 4915120344
Jurusan : P.IPS Reguler 2012
Sungguh hidup itu adalah perjuangan, walaupun seorang ibu bekerja sebagai WTS tetapi masih memiliki hati nurani dan menginginkan anaknya untuk menjadi anak yang mau belajar dan menjadi anak yang soleh dan solehah yang memiliki cita-cita yang baik dimasa depan, tidak seperti ibunya. Tulisan bapak ini sangat menyentuh hati dan merasa terketuk hati saya, bahwa kita sebagai manusia haruslah bersyukur terhadap apa yang kita miliki dan harus memiliki kepekaan sosial terhadap keadaan disekeliling kita.
Pertanyaan :
1. Apakah yang menjadi latar belakang seorang ibu bekerja sebagai WTS ?
2. Mengapa profesi sebagai WTS ini tidak bisa dialihkan menjadi profesi yang lebih baik? Misalnya dengan berwirausaha/berdagang di tempat tinggal mereka?
3. Apakah pengaruh profesi ibu sebagai WTS ini akan berdampak buruk terhadap sikap dan moral anak-anak mereka?
4. Bagaimana pendekatan yang dilakukan peneliti dalam melakukan sosialisasi terhadap anak-anak di permukiman lokalisasi tersebut?
Nisrina Haniah
BalasHapusPend IPS NR 2012
4915127060
Saya terharu sekali membaca tulisan bapak diatas, bagaimana bisa seorang anak dilahirkan tanpa tahu siapa dan seperti apa ayahnya. Terkadang dengan status social ekonomi mendorong seseorang untuk mencari nafkah dengan hal-hal negative walaupun dengan tujuan yang mulia. Namun, apakah seorang anak harus menjadi korban dalam hal tersebut dengan melihat, memperhatikan bahkan meniru perilaku ibunya sehari-hari?
Saya juga sependapat dengan kalimat “bila ibunya tak dapat lagi dididik dan diarahkan pada kehidupan yang lebih baik, mudah-mudahan anaknya dapat ditolong”. Karena menurut saya dengan menyelamatkan anak dari para lonte tersebut akan memungkinkan terjadinya perubahan yang lebih baik pada status social mereka terutama masa depan anak.
Rumusan masalah yang saya ajukan adalah:
1. Apakah dengan mendidik anak para lonte dapat merubah mind set anak tersebut agar tidak menjadi lonte seperti ibunya? Sedangkan sejak kecil ia sudah dijejali dengan tindakan atau tingkah laku ibunya?
2. Bagaimana hasilnya jika anak-anak yang sudah dididik atau bahkan dipindahkan ke pesantren dan rumah nenek? Apakah masih memiliki pola pikir yang sama seperti dahulu atau mengalami perubahan dalam diri anak tersebut?
3. Apakah dengan membawa anak-anak beserta ibunya mengunjungi berbagai tempat diluar pemukiman akan memberikan dampak secara tidak langsung?
Leni nurul hikmah (4915127053) pendidikan IPS B 2012
BalasHapusKehidupan yang banyak orang tau dan mengenalnya,namun pura2 menutup mata dan telinga, inilah kehidupan keras yang harus dihadapi para wts,bukan karena mereka menginginkan ini semua terjadi,namun hidup adalah pilihan,ketika keburukan harus menjadi pilihan terberat,dan itu yang saya dapat setelah membaca artikel yang dinbuat oleh bapak Nusa putra,sebuah bacaan yang mudah di pahami dan dimengerti semua kalangan,namun kisahnya sangat miris bahkan menakutkan untuk di bayangkan. Namun ada satu yang membuat hati saya merasa terharu ketika harapan seorang ibu.harapan yang ikhlas dan suci agar anak2 yang entah siapa ayahnya untuk hidup lebih baik dari ibunya sendiri,inilah ketulisan cinta kasih seorang ibu, yang pasti dimiliki semua ibu.
Tiga hal yang ingin saya ajukan adalah.
1. Bagaimana awalmula para relawan mendirikan taman belajar di area lokalisasi?
2. Bagaimana sikap para ibu,preman,dan para anak dengan datangnya para relawan?
3. Apakah ada kesulitan yang sangat mengancam ketika para anak harus di bawa ke kampung atau di masukan dalam ponpes?
kebinasaan bangsa, bangsa yang megah nan agung dengan sejuta pesona alam dan khas budaya namun memiliki sejuta masalah sosial dalam kehidupan masyarakatnya, masalah sosial yang terjadi salah satunya adalah ketika ekonomi kembali dipertanyakan permasalahannya di negara ini, manusia seakan tak lagi memiliki harga sebagai makhluk ciptaan Tuhan, perdagangan manusia secara bebas seakan menjadi makanan siap saji yang setiap kali dapat ditemui, begitu pula dengan tulisan tersebut yang memaparkan, bagaimana praktek prostitusi menyelimuti kehidupan manusia dengan menyandarkan pada status dan peran dalam masyarakat. seorang ibu yang rela mencari nafkah dengan menjualkan diri namun masih memiliki dan bertanggung jawab pada peran yang dimiliki ketika sang ibu memiliki seorang anak, dan berharap anak tersebut tidak mendapatkan takdir sepertinya, tidak seburuk apa yang dilakukannya dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan sebagai landasan kehidupannya. dibalik keprofesian ibu yang negatif enurut pandangan banyak orang tentang tulisan tersebut, terdapat hati mulia nan agung dari sosok keibuan yang diceritakan bagaimana sang ibu berusaha menjadikan anaknya lebih baik daripadanya, memiliki kehidupan yang lebib herguna darinya.
BalasHapusPermasalahan :
1. bagaimana pola pengajaran dan pendidikan orang tua terkhusus ibu terhadap anaknya ?
2. bagaimana tindak lanjut dari program taman belajar bagi kehidupan anak masa yang akan datang ?
3. bagaimana peran orang tua dalam menjadikan anak sebagai sosok terbaik dari orang tua sebagai pengasuhnya ?
Fani Nurdianti / 4915122538
BalasHapusPIPS 2012 A
Kemiskinan memang membuat manusia menjadi tidak berdaya. Tidak berdaya untuk menghindari hal-hal seperti yang dipaparkan dalam tulisan diatas. Ketidakberdayaan inilah yang kemudian secara ‘sengaja’ dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang juga ingin meraup keuntungan dari mereka. Ketidakberdayaan yang membuat mereka melakukan hal-hal yang tidak terduga. Melakukan segalanya demi menyambung kehidupan. Mereka seolah sudah tidak mementingkan bagaimana dirinya. Yang terpenting bagi mereka adalah sesuap nasi bagi kelangsungan hidup mereka.
Materi membuat mereka lupa sejenak akan hal-hal kemanusiaan yang hilang dari diri mereka. Namun jika dilihat lebih dekat,merekalah kaum-kaum yang tertindas karena kejamnya kehidupan. Bayangkan naluri seorang ibu yang masih peduli akan kehidupan dan masa depan anaknya walaupun mereka berbalur dosa. Mereka tetap tidak ingin anak mereka tumbuh seperti mereka. Sungguh ironis.
Berikut beberapa pertanyaaan yang saya ajukan
1. Sangat sulit membangun kepercayaan terutama dalam lingkungan lokalisasi ini, pada ibu-ibu WTS dan tentunya para preman yang biasanya menguasai daerah dan bisnis esek2 ini. Bagaimana pendekatan yang bapak lakukan demi terlaksananya dan kelancaran kegiatan taman belajar bagi anak-anak di lingkungan tersebut?
2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk meyakinkan mereka dan mendapatkan izin dari para preman untuk membuat taman belajar bagi anak-anak di lingkungan tersebut?
3. Apakah kegiatan ini dapat meminimalisir bahkan merubah perilaku anak-anak di lingkungan lokalisasi yang sudah terbiasa dengan segala aktivitas yang ada di lingkungan tersebut?
4. Adakah peran pemerintah dalam mengatasi berbagai fenomena masyarakat seperti yang dipaparkan dalam tulisan diatas?
Dalam tulisan “saya ndak tau siapa bapaknya” lagi-lagi kemiskinan menjadi payung segala permasalahan terjadi. Karena latar belakang ekonomi yang membuat para ibu disini melakukan pekerjaan yang tidak hallal ini. Dan lagi-lagi anak-anak yang menjadi korban permasalahan ini. Secara tidak langsung anak ikut terkontaminasi akan kotornya kehidupan dilingkungan ini, jika hal ini di biarkan, maka akan ada regenerasi untuk melanjutkan pekerjaan ini, bagaimana tidak, anak-anak sudah terbiasa dengan hal ini, dan menurut mereka ini merupakan hal yang tidak asing lagi bagi mereka. Kalimat “saya ndak tau siapa bapaknya” yang keluar dari mulut seorang ibu, itu suatu yang tidak heran lagi bagi masyarakat disini, sebab banyak sekali laki-laki hidung belang yang telah menaruh saham pada ibu anak-anak ini. Kemudian penulis disini berusaha masuk dalam lingkungan ini, bertujuan untuk memutus lingkar kemiskinan dan masalah ini.
BalasHapusAda beberpa pertanyaan yang mengganjal di benak saya setelah membaca tulisan ini.
1. Bagaimana seorang penulis sekaligus peneliti disini, dapat diterima dalam lingkungan yang ditelitinya.?
2. Mengapa seorang ibu yang melakukan pekerjaan prostitusi ini, sadar bahwa pekerjaan ini tidak baik, apa hanya karena faktor kemiskinan yang membuat semua ini terjadi.?
3. teknik pengumpulan data dan pengujian keabsahan data seperti apa yang dilakukan seorang peneliti untuk kasus ini.?
Shafira Muthia
BalasHapus4915122525
P.IPS A 2012
Kemiskinan merupakan momok yang menakutkan didalam kehidupan. Kemiskinan membuat seseorang selalu berperang melawan nuraninya dan tak jarang menenggelamkan keimanannya. Bahkan kemiskinan berdampak pada kerusakan moral dan juga dapat menjatuhkan manusia dalam kehinaan. Seperti yang ada dalam artikel “Saya Ndak Tahu siapa Bapaknya” menceritakan seorang ibu yang berprofesi sebagai WTS karena tuntutan ekonomi tetapi tetap menginginkan anak-anaknya menjadi lebih baik darinya. Meskipun perbuatan dan pekerjaan ibu-ibu WTS tersebut tergolong hina tetapi mereka memiliki sedikit cahaya terang yaitu naluri keibuannya. Kerena sejatinya tak ada seorang ibu yang menginginkan anaknya jatuh dilubang yang sama.
Berdasarkan wacana diatas saya mengajukan beberapa rumusan masalah, yakni:
1. Bagaimanakah relawan meyakinkan ibu-ibu WTS tersebut untuk memindahkan anak-anaknya ke kampung halaman atau ke pesantren?
2. Apakah ada perbedaan mengenai pola perilaku anak-anak di tempat lokalisasi bongkaran sebelum dan sesudah adanya kegiatan pendidikan didaerah tersebut?
3. Apakah kegiatan pendidikan ini efektif dalam mengubah pola perilaku dan kepribadian anak-anak ditempat lokalisasi bongkaran?
NAMA : Ulfa Suciyanti
BalasHapusNIM : 4915127079
Jurusan Pendidikan IPS 2012
Lagi lagi kemiskinan mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan menyimpang seperti kegiatan pelacuran ini. Namun saya sangat salut kepada bapak nusa dan kawan kawan yang masih peduli dan mempunyai hati nurani untuk menolong anak anak yang hidup ditempat pelacuran. Hal ini tentu dapat menolong masadepan anak anak tersebut yang nantinya akan menjadi penerus bangsa indonesia. Adapun beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan mengenai penelitian diatas adalah :
1. Apasaja dampak yang dirasakan oleh anak anak yang hidup ditempat lokalisasi seperti itu ?
2. bagaimana cara bapak nusa meyakinkan para orang tua agar anak-anaknya diperbolehkan untuk bersekolah di tempat yang bapak buat ?
3. bagaimana perkembangan anak-anak tersebut setelah bapak bina dan bapak bimbing disekolah yang bapak buat?
4. mengapa para wanita penghibur tersebut tidak bertaubat saja dan kembali kejalan yang benar padahal ia sudah mengetahui akibat yang diterima jika menjadi seorang wanita penghibur?
Sekian terimakasih, wassalamualaikum wrwb
Nama : Aminah Pertiwi
BalasHapusNIM : 4915127038
Pendidikan IPS 2012 Non Reguler
Menurut saya tulisan Bapak diatas yang berasal dari kasus nyata yang terjadi di negeri ini sangatlah menarik dan mengagumkan. Karena, ternyata masih ada orang-orang yang peduli terhadap nasib para anak-anak dari WTS yang ada di lokalisasi. Yang mengorbakan waktu, tenaga dan bahkan biayanya untuk berusaha memindahkan para anak-anak dari WTS itu untuk tidak tinggal di tempat itu lagi. Dan yang menarik, ternyata para ibu mereka pun setuju dengan rencana pemindahan anak-anak tersebut dan mendapatkan pendidikan yang layak. Ini menarik karena,sebagian dari kita mungkin banyak yang berfikir, para WTS tersebut akan mengajak anaknya seperti mereka. Tetapi ternyata para WTS itu pun masih memiliki naluri asli keibuan yang menginginkan anaknya jadi orang baik.
Dari tulisan diatas, ada beberapa pertanyaan, yaitu :
1.Adakah peran pemerintah yang juga berusaha untuk memindahkan, anak-anak para WTS dari lokasi tersebut?
2. Apa hambatan terbesar yang dialami peneliti, selama proses pemindahan anak-anak para WTS ke tempat yang lebih baik?
3. Bagaimana perasaan anak-anak para WTS yang sudah dipindahkan dari tempat lokalisasi tersebut? Karena mereka berarti tidak dapat bertemu dengan ibunya setiap hari lagi.
Nama : Dimas Bagus Wicaksono
BalasHapusNo : 4915122524
Kelas : PIPS 2012 A
BIARLAH BUAH YANG JATUH BERSYUKUR KEPADA ANGIN YANG MENIUPNYA UNTUK MENJADIKANNYA BIBIT TUMBUHAN BARU.
Saya ndak tahu siapa bapaknya, sama saya juga ndak tahu, lalu siapa bapaknya? Tanyalah pada pedangdut yang bergoyang. Kemiskinan dan prostitusi bagai krupuk dan sambal, kurang nendang rasanya bila salah satu absen. Kemiskinan jika ditinjau dari cerita diatas, bukan menjadi satu-satunya akar dari prostitusi itu sendiri, begitu pula dengan prostitusi.
Bukanlah menjadi alasan jika kemiskinan memberikan kita ijin untuk melakukan praktik prostitusi. Anak-anak, menjadi korban, haruskah mereka menjadi korbam? Dalam hal ini prostitusi. Berbicara tentang hal ini, jika dikaitkan dengan cerita diatas, maka diperlukannya perhatian khusus terhadap dampak prostitusi terutama dampaknya terhadap anak-anak. Jangan sampai tujuan dari salah satu pelaku prostitusi untuk membahagiakan anak-anaknya, justru menjadi boomerang bagi mereka sendiri dengan turut terjerumusnya anak-anak mereka kedalam lingkaran setan prostitusi.
Cukuplah sudah semua dicukukpan, semua yang menjadi kesalahan semoga saja terampuni oleh Yang Maha Kuasa. Biarlah daun yang jatuh tak menyalahkan angin yang meniupnya. Cinta sejati seorang ibu yang menyayangi anak-anaknya dan mencoba untuk menyelamatkan anak-anaknya dari jurang kehancuran prostitusi merupakan bukti bahwa kehidupan ini bukan hanya tentang uang yang berujung kegelapan.
1. APA YANG MENDASARI PARA PELAKU PROSTITUSI UNTUK MENYELAMATKAN ANAK-ANAKNYA DARI LINGKARAN SETAN PROSTITUSI?
2. SIAPAKAH YANG HARUS BERTANGGUNG JAWAB DENGAN ADANYA HAL INI?
3. BAGAIMANA PERAN PEMERINTAH DALAM MENANGGULANGI HAL INI?
Nama: Sarah Hanifah
BalasHapusNIM: 4915127072 PIPS B 2012
setelah membaca tulisan saya ndak tahu siapa bapaknya ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan:
1. apakah penyimpangan sosial seperti ini sudah biasa dilakukan di berbagai kalangan?
2. mengapa tidak ada penanganan hukum soal kasus kasus penyimpangan seksual di negeri kita sendiri?
3. bagaimana cara memberi pengertian yang baik bagi masyarakat yang sering melakukan penyimpangan seksual bahwasanya apa yang mereka lakukan (seks) itu mengakibatkan penyakit yang mengerikan?
4. apa yang harus kami lakukan sebagai generasi penerus bangsa untuk mencegah penyimpangan seksual terus berkembang di negara ini?
Nama : Luthfia Nurrahmawati
BalasHapusNIM : 4915127055/P.IPS REG B 2012
ini merupakan bentuk kemiskinan yang ada di Indonesia, sungguh ironis rasanya ketika membaca hal ini, dan ternyata benar-benar terjadi di negeri tercinta ini. Mereka rela menjajakan dirinya demi melangsungkan kehidupannya, walaupun di dalam lubuk hatinya tidak ada keinginan untuk menjadi seorang pelacur. Mereka para ibu melakukan hubungan seks dengan banyak laki-laki setiap harinya, dan setiap hubungannya itu menghasilkan anak-anak yang entahlah berasal dari sperma laki-laki yang mana. Mereka memiliki lebih dari 1 anak, yang memiliki ciri-ciri fisik yang berbeda. Mereka para ibu, ternyata sama seperti ibu-ibu pada umumnya, memiliki hati nurani untuk anak-anaknya, sekalipun mereka adalah seorang pelacur. Mereka tidak ingin anak-anaknya menjadi pelacur seperti dirinya, karena mereka tau pelacur adalah hina, tetapi apa boleh buat kemiskinan lah yang membawanya pada hal tersebut. Mereka para ibu sangat peduli akan pendidikan anak-anaknya,ketika ada anak mereka yang tidak mau mengikuti proses belajar, seketika itu mereka memarahinya. mereka tidak ingin anak-anaknya terlarut pada kondisi yang salah untuk proses berkembangnya, oleh karena itu selain disuruh untuk belajar, para ibu juga membolehkannya para rewalan untuk membawa anak-anaknya untuk tinggal di pesantren maupun kampung halaman. kesimpulan yang didapat ialah serusak apapun seorang ibu, ia tidak ingin anaknya mengikuti jejak mereka, mereka ingin anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik, yang bisa diterima di masyarakat, tidak hidup dengan kehinaan. Itulah wujud seorang ibu.
Rumusan masalah :
1. Apa yang melatarbelakangi masalah semacam ini terus terjadi di Indonesia ? apakah hanya faktor kemiskinan yang melatarbelakanginya ?
2. Apa yang melatarbelakangi para relawan mau membantu anak-anak untuk keluar dari lingkungan yang tidak baik untuk tumbuh kembangnya ?
3. Bagaimana kah proses para relawan hingga akhirnya mampu diterima dan berbaur dengan lingkungan yang semacam itu ?
Nama: Mamay Gumelar
BalasHapusNIM: 4915 12 2541
P.IPS A' 2012
Lagi-lagi 'Kemiskinan' yang kerap kali merupakan akar dari seluruh fenomena sosial yang tampak nyata dan terselubung di kehidupan masyarakat kita. Betapa memilukannya ketika anak-anak dibawah umur yang seharusnya memperoleh perlindungan serta jaminan pendidikan dari negara, akan tetapi malah memperoleh kehidupan serta pergaulan yang tidak sepantasnya bagi mereka. Apa boleh buat? Memang begitu adanya fenomena sosial tersebut. Begitu pula dengan 'Kemiskinan' yang akan selalu menjadi permasalah besar bagi sebuah negara berkembang seperti negara kita.
Berikut ini Saya ajukan pertanyaan terkait tentang wacana di atas, yaitu:
1. Bagaimana proses pengamatan awal yang dilakukan oleh peneliti terkait fenomena sosial masyarakat tersebut?
2. Bagaimana peneliti menempatkan diri ketika berada dalam wilayah penelitian yang demikian?
3. Bagaimana wujud tanggung jawab pemerintah setempat terhadap upaya untuk melindungi anak-anak pemukiman kumuh tersebut?
Terima kasih.
Nama : Asriani Faraditha Ritonga
BalasHapusNIM : 4915122542
Kelas : Pd. IPS A 2012
anak harus memiliki masa depan yang lebih baik daripada orangtuanya. pandangan seperti ini sepertinya dimliki oleh sebagian besar ibu di tempat lokalisasi tersebut. mereka telah paham betul bagaimana cara kerja dunia mereka. akibatnya mereka tentu tak ingin anak-anaknya menjadi PSK juga seperti mereka yang bahkan sama sekali tidak tahu siapa-siapa saja bapak dari anak-anak mereka.
pertanyaan untuk tulisan diatas :
1. bagaimana cara si peneliti meyakinkan para ibu di tempat lokalisasi tersebut untuk mndukung program si peneliti dalam membantu mencerdaskan anak-anak mereka baik moral maupun pengetahuan?
2. bagaimana upaya peneliti dalam bernegosiasi dengan para preman dalam mewujudkan programnya?
3. wujud nyata berupa hasil belajar seperti apakah yang telah dilakukan oleh anak-anak tersebut?
Agung. Nugroho
BalasHapus4915120349
Tulisan pak nusa yang berjudul saya ndak tahu siapa bapaknya membahas mengenai peran orang tua di kawasan lokalisasi. Tulisan ini dibuat pada saat pak nusa bersama relawan ingin mendirikan taman belajar di kawasan lokalisasi kelas bawah illegal yang dikenal dengan nama Bongkaran. Dalam hal ini pak nusa menemukan sisi keibuan pada seorang WTS sisi tersebut tergambar pada saat seorang WTS yang sekaligus menjadi ibu bagi menjalankan perananya yakni dengan mendukung setiap kegiatan yang diselenggarakan pak nusa bersama relawan lainya ketika hendak memberikan pendidikan pada anak-anak dikawasan tersebut. hal ini tentu sangat menarik karena setiap orang beranggapan bahwa seorang WTS tentunya tidak akan memiliki sisi keibuan kepada anak-anaknya karena mempunyai anak bukan merupakan sesuatu hal yang diinginkanya mengingat profesinya sebagi WTS.
Pertanyaan
1. bagaimana respon anak para WTS tersebut pada saat diberikan pemahaman oleh ibunya bahwa pendidikan itu penting?
2. bagaimanakah cara menumbuhkan motivasi dan minat anak di kawasan tersebut untuk belajar?
3. bagaimana sisi keibuan pada para wts tersebut itu terbentuk? Faktor apakah yang melatarbelaknginya?
Nama: Gayus Hebron
BalasHapusNIM : 4915127048
P. IPS B 2012
Pertanyaan yang saya ajukan berdasarkan wacana diatas:
1. Mengapa para relawan mau melakukan pemberdayaan spiritual dan pendidikan terhadap anak usia sekolah di lingkungan lokalisasi tersebut?
2. Apa saja kendala yang dihadapi para relawan?
3. Bagaimana tindakan para relawan menghadapi kendala tersebut?
Terima Kasih
Nama: Tri Satria
BalasHapusNIM: 4915122548
P.IPS A' 2012
Lagi-lagi 'Kemiskinan' yang kerap kali merupakan akar dari seluruh fenomena sosial yang tampak nyata dan terselubung di kehidupan masyarakat kita. Betapa memilukannya ketika anak-anak dibawah umur yang seharusnya memperoleh perlindungan serta jaminan pendidikan dari negara, akan tetapi malah memperoleh kehidupan serta pergaulan yang tidak sepantasnya bagi mereka. Apa boleh buat? Memang begitu adanya fenomena sosial tersebut. Begitu pula dengan 'Kemiskinan' yang akan selalu menjadi permasalah besar bagi sebuah negara berkembang seperti negara kita.
Berikut ini Saya ajukan pertanyaan terkait tentang wacana di atas, yaitu:
1. Bagaimana proses pengamatan awal yang dilakukan oleh peneliti terkait fenomena sosial masyarakat tersebut?
2. Bagaimana peneliti menempatkan diri ketika berada dalam wilayah penelitian yang demikian?
3. Bagaimana wujud tanggung jawab pemerintah setempat terhadap upaya untuk melindungi anak-anak pemukiman kumuh tersebut?
Terima kasih.