Selasa, 22 April 2014

DI KAKI GUNUNG BROMO



Alam penuh pesona dan bersahabat. Kemana pun mata memandang kehijauan yang indah. Udara sejuk meski matahari benderang. Terasa sangat segar. Inilah kaki Gunung Bromo. Pukul 14.12 kami tiba di balai desa Wonokerto dengan lima mobil ELF.

Dari kejauhan tampak sejumlah petani masih bekerja. Kelihatannya ada yang memanen kol dan daun bawang. Beberapa tampak membersihkan daun-daun tua. Luar biasa, mereka menanami tanah dengan kemiringan 50-60 derajat di ketinggian. Terlihat sangat indah karena kol dan daun bawang tersusun sangat rapih. Dari kejauhan tanah-tanah miring yang ditanami itu terlihat seperti dinding yang diukir dengan beragam hiasaan.

Tak ada tanah yang dibiarkan kosong. Halaman rumah pun dipenuhi tanaman daun bawang yang sekarang ini waktunya di panen. Bersebelahan dengan daun bawang berjejer rapih pohon kol yang berbuah kecil. Paduan yang indah. Daun bawang yang berdiri lurun dalam tumpukan yang teratur. Sementara daun kol berlapis-lapis seperti bunga mawar dalam ukuran besar.

Alam adalah saudara tua yang harus dipelihara agar dapat memberikan manfaat yang besar bagi kemanusiaan. Alam diciptakan untuk manusia, untuk tempatnya hidup, bagi penopang hidupnya. Alam adalah anugerah yang relatif tak terbatas bagi kesejahteraan manusia. Bila manusia menjaga dan memeliharanya. Alam akan membalas budi baik manusia itu dengan memberinya sumber-sumber kehidupan. Inilah bentuk relasi harmonis manusia dan alam.

Untuk menjaga agar alam tak terganggu namun tetap menghasilkan, para petani menggunakan pupuk kandang. Mereka sama sekali tak tertarik pada pupuk kimia yang diyakini akan memberi kerusakan pada tanah dalam jangka panjang.

Namun, seringkali ada saja manusia yang terdorong mendapat lebih. Di beberapa tempat yang cukup curam sejumlah pohon besar yang bisa mengikat tanah ditebang agar bisa menanam kol atau daun bawang lebih banyak. Akibatnya di beberapa tempat sering terjadi longsor bila hujan lebat. Daerah yang terkena longsor semakin banyak.

Memang jika dibandingkan Dataran Tinggi Dieng, daerah Bromo jauh lebih baik. Di Dieng para petani kentang telah meracuni tanah dengan pupuk kimia. Ekologi Dieng sudah sangat berubah. Sewaktu melakukan penelitian dengan mahasiswa aku sampai meminta mahasiswa membuat kelompok khusus yang meneliti sungai dan tempat sampah. Luar biasa, air sungai sudah sangat kuat aroma kimianya, banyak binatang kecil yang hidup di sungai telah tidak ada. Di tempat sampah ditemukan puluhan bekas bungkus atau kemasan beragam bahan kimia dengan fungsi yang berbeda-beda. Dieng bukan saja serinh mengalami longsor, juga banyak persoalan lain.

Inilah dilemma kehidupan kita masa kini. Terlalu banyak tuntutan yang harus dipenuhi yang mendorong orang berbuat lebih dan mulai mengeksploitasi dan menyiksa alam. Penduduk semakin banyak, kebutuhan akan bahan pangan meningkat. Sebagai akibatnya produksi pertanian harus ditingkatkan. Tak terelakkan produk kimia untuk mempercepat tumbuh untuk pengusir hama, dan peningkatan produksi harus digunakan. Kita tahu dalam jangka panjang penggunaan kimia, apalagi yang berlebihan akan sangat merusak tanah, dam alam secara keseluruhan.

Kita tidak pernah tahu, akan seperti apa Bromo pada mas depan. Makin banyak tanah yang dirambah untuk pertanian, semakin luas area tanah miring yang digunakan untuk menanam kol dan daun bawang. Tanaman yang memang menguntungkan secara ekonomis tetapi tidak punya kemampuan untuk mengikat tanah. Tentulah ini akan membawa bahaya pada jangka panjang.

Agaknya dilemma yang dihadapi masyarakat Bromo terjadi pada banyak tempat di dunia. Manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit menghadapi perkembangan penduduk yang sangat cepat dan akibanya pada tuntutan peningkatan produksi pangan.

Apa yang kini dihadapi para petani di Bromo dan banyak tempat di dunia memang tidak dapat lagi dihadapi secara parsial. Persoalan pada ranah pertanian merupakan masalah di hilir, bukan di hulu. Oleh sebab itu ada keharusan untuk mendekati masalah ini secara holistik integratif. Penyelesaian masalah yang dimulai pada kemauan dan kemampuan mengendalikan pertumbuhan penduduk secara sungguh-sungguh dan konsisten. Karena pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali merupakan akar utama permasalahan yang berdampak pada pengrusajan dan kerusakan alam.

Rasanya kita bisa secara hati-hati dan kritis belajar pada cara-cara orde baru menangani masalah ini pertumbuhan penduduk. Tentu dengan terlebih dahulu melakukan kajian mendalam agar anomalinya tidak terjadi. Dulu program KB berhasi mengendalikan pertumbuhan penduduk. Program KB juga dikaitkan dengan program pemberdayaan masyarakat. Akhir-akhir ini tampaknya pemerintah mulai lagi menggalakn program KB. Semoga upaya ini berlanjut dengan baik dan pertumbuhan penduduk bisa kembali terkendali. Apapun argumentasi yang dikedepankan, kita tidak bisa membantah

PERTAMBAHAN PENDUDUK YANG TAK TERKENDALI MERUPAKAN ANCAMAN SERIUS PADA KELESTARIAN ALAM.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd