Alam penuh pesona
dan bersahabat. Kemana pun mata memandang kehijauan yang indah. Udara sejuk
meski matahari benderang. Terasa sangat segar. Inilah kaki Gunung Bromo. Pukul
14.12 kami tiba di balai desa Wonokerto dengan lima mobil ELF.
Dari kejauhan
tampak sejumlah petani masih bekerja. Kelihatannya ada yang memanen kol dan
daun bawang. Beberapa tampak membersihkan daun-daun tua. Luar biasa, mereka
menanami tanah dengan kemiringan 50-60 derajat di ketinggian. Terlihat sangat
indah karena kol dan daun bawang tersusun sangat rapih. Dari kejauhan
tanah-tanah miring yang ditanami itu terlihat seperti dinding yang diukir
dengan beragam hiasaan.
Tak ada tanah yang
dibiarkan kosong. Halaman rumah pun dipenuhi tanaman daun bawang yang sekarang
ini waktunya di panen. Bersebelahan dengan daun bawang berjejer rapih pohon kol
yang berbuah kecil. Paduan yang indah. Daun bawang yang berdiri lurun dalam
tumpukan yang teratur. Sementara daun kol berlapis-lapis seperti bunga mawar
dalam ukuran besar.
Alam adalah
saudara tua yang harus dipelihara agar dapat memberikan manfaat yang besar bagi
kemanusiaan. Alam diciptakan untuk manusia, untuk tempatnya hidup, bagi
penopang hidupnya. Alam adalah anugerah yang relatif tak terbatas bagi kesejahteraan
manusia. Bila manusia menjaga dan memeliharanya. Alam akan membalas budi baik
manusia itu dengan memberinya sumber-sumber kehidupan. Inilah bentuk relasi
harmonis manusia dan alam.
Untuk menjaga agar
alam tak terganggu namun tetap menghasilkan, para petani menggunakan pupuk
kandang. Mereka sama sekali tak tertarik pada pupuk kimia yang diyakini akan
memberi kerusakan pada tanah dalam jangka panjang.
Namun, seringkali
ada saja manusia yang terdorong mendapat lebih. Di beberapa tempat yang cukup
curam sejumlah pohon besar yang bisa mengikat tanah ditebang agar bisa menanam
kol atau daun bawang lebih banyak. Akibatnya di beberapa tempat sering terjadi
longsor bila hujan lebat. Daerah yang terkena longsor semakin banyak.
Memang jika
dibandingkan Dataran Tinggi Dieng, daerah Bromo jauh lebih baik. Di Dieng para
petani kentang telah meracuni tanah dengan pupuk kimia. Ekologi Dieng sudah
sangat berubah. Sewaktu melakukan penelitian dengan mahasiswa aku sampai
meminta mahasiswa membuat kelompok khusus yang meneliti sungai dan tempat
sampah. Luar biasa, air sungai sudah sangat kuat aroma kimianya, banyak
binatang kecil yang hidup di sungai telah tidak ada. Di tempat sampah ditemukan
puluhan bekas bungkus atau kemasan beragam bahan kimia dengan fungsi yang
berbeda-beda. Dieng bukan saja serinh mengalami longsor, juga banyak persoalan
lain.
Inilah dilemma
kehidupan kita masa kini. Terlalu banyak tuntutan yang harus dipenuhi yang
mendorong orang berbuat lebih dan mulai mengeksploitasi dan menyiksa alam.
Penduduk semakin banyak, kebutuhan akan bahan pangan meningkat. Sebagai
akibatnya produksi pertanian harus ditingkatkan. Tak terelakkan produk kimia
untuk mempercepat tumbuh untuk pengusir hama, dan peningkatan produksi harus
digunakan. Kita tahu dalam jangka panjang penggunaan kimia, apalagi yang
berlebihan akan sangat merusak tanah, dam alam secara keseluruhan.
Kita tidak pernah
tahu, akan seperti apa Bromo pada mas depan. Makin banyak tanah yang dirambah
untuk pertanian, semakin luas area tanah miring yang digunakan untuk menanam
kol dan daun bawang. Tanaman yang memang menguntungkan secara ekonomis tetapi
tidak punya kemampuan untuk mengikat tanah. Tentulah ini akan membawa bahaya
pada jangka panjang.
Agaknya dilemma
yang dihadapi masyarakat Bromo terjadi pada banyak tempat di dunia. Manusia
dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit menghadapi perkembangan penduduk yang
sangat cepat dan akibanya pada tuntutan peningkatan produksi pangan.
Apa yang kini
dihadapi para petani di Bromo dan banyak tempat di dunia memang tidak dapat lagi
dihadapi secara parsial. Persoalan pada ranah pertanian merupakan masalah di
hilir, bukan di hulu. Oleh sebab itu ada keharusan untuk mendekati masalah ini
secara holistik integratif. Penyelesaian masalah yang dimulai pada kemauan dan
kemampuan mengendalikan pertumbuhan penduduk secara sungguh-sungguh dan
konsisten. Karena pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali merupakan akar
utama permasalahan yang berdampak pada pengrusajan dan kerusakan alam.
Rasanya kita bisa
secara hati-hati dan kritis belajar pada cara-cara orde baru menangani masalah
ini pertumbuhan penduduk. Tentu dengan terlebih dahulu melakukan kajian
mendalam agar anomalinya tidak terjadi. Dulu program KB berhasi mengendalikan
pertumbuhan penduduk. Program KB juga dikaitkan dengan program pemberdayaan
masyarakat. Akhir-akhir ini tampaknya pemerintah mulai lagi menggalakn program
KB. Semoga upaya ini berlanjut dengan baik dan pertumbuhan penduduk bisa
kembali terkendali. Apapun argumentasi yang dikedepankan, kita tidak bisa
membantah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd