Ombak bergumul
berkejaran di pantai Parangtritis. Suara derunya memenuhi udara cerah siang
ini. Ratusan orang, kebanyakan anak-anak, bermain gembira menikmati ombak.
Terdengar suara tawa ketika ombak pecah di tubuh mereka. Ada yang sengaja berlari
dikejar ombak, ada pula yang berlari kencang melawan ombak. Kegembiraan pantai
yang menyenangkan. Inilah pesona pantai Parangtritis.
Namun, dari tahun
ke tahun pesona itu selalu meminta korban. Ada saja yang mati tenggelam. Dalam
pemberitaan, mereka yang mati tenggelam di pantai ini jarang disebut sebagai
korban. Sebutan yang biasa digunakan adalah tumbal.
Ini ada kaitannya
dengan keyakinan sebagian orang bahwa Parangtiritis adalah bagian dari laut
Selatan Jawa, tempat bermukimnya Ratu Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan.
Mereka yang percaya pada adanya Nyi Roro Kidul berkeyakinan bahwa yang mati
tenggelam itu adalah tumbal bagi sang penguasa Laut Selatan itu. Pastilah tak
bisa dibuktikan bahwa sang Nyi Roro yang menyebabkan. Karena Nyi Roro Kidul itu
hanyalah lagenda.
Lebih masuk akal
alasan kematian itu adalah kondisi pantai dan ombak. Banyak palung di pantai
Parangtritis. Keberadaan palung yang tidak diketahui oleh pengunjung, ditambah
lagi ombak yang tinggi sangat potensial mencelakakan orang yang mandi di pantai
itu.
Sedangkan orang
yang percaya pada keberadaan Nyi Roro Kidul yakin mereka yang mati itu
merupakan tumbal untuk dijadikan pasukan sang Nyi. Diyakini mereka yang jadi
tumbal adalah yang berbaju hijau, warna kesukaan sang Nyi.
Mengapa ada orang
yang percaya dan mengapa lagenda itu ada? Bagi masyarakat tradisional di
seluruh dunia, lagenda, mitos dan sejenisnya berfungsi untuk menjelaskan segala
sesuatu. Menjelaskan mengapa terjadi gempa, dari mana asal api, bagaimana
gunung atau danau terbentuk, bagaimana penyakit pertama kali menyebar, dan
banyak penjelasan lain. Sudah pasti penjelasan tentang sesuatu seperti gempa,
lagendanya berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya.
Hampir semua
lagenda itu dikaitkan dengan kekuatan ghaib seperti dewa. Itulah sebabnya
lagenda dan mitos lebih bersifat mitis daripada logis. Sebagai akibatnya tak
pernah ada bukti empiris dari lagenda dan mitos. Yang ada adalah pengkaitan
suatu kejadian dengan keyakinan akan sebuah lagenda. Semuanya hanya berpijak
pada keyakinan.
Lagenda Nyi Roro
Kidul sebenarnya memiliki fungsi lebih dari sekadar menjelaskan. Lagenda itu
juga memiliki fungsi sebagai cara untuk mendukung dan sebagai legitimasi bagi
keberadaan kerajaan dan raja-raja Mataram. Lagenda itu boleh jadi bisa
dikaitkan dengan Panembahan Senopati
yang menjadi raja dan menguasai banyak daerah berkat bantuan Nyi Roro Kidul.
Bagi masyarakat
tardisional, legitimasi yang bersifat spiritual atau terkait dengan keghaiban untuk
menipang keberadaan raja dan kerajaan itu dibutuhkan dan penting. Ini ada
kaitannya dengan upaya membuat rakyat patuh dan tidak berani melawan, apalagi
memberontak terhadap raja. Itulah sebabnya Raja Yogya dan Raja Solo sampai kini
masih melaksanakan berbagai upacara yang dipersembahkan bagi sang Nyi.
Sebagai legitimasi
bagi keberadaan raja dan Kerajaan Mataram, lagenda Nyi tidak berdiri sendiri.
Tetapi dikaitkan dengan berbagai legenda Gunung Merapi. Bagi mereka yang
percaya bahkan bisa menunjukkan kaitan ketiganya dalam suatu konstruksi
georafis antara Gunung Merapi, Laut Selatan, dan Istana Kesultanan Jogja, serta
letak Tugu Jogja. Tentu saja semuanya ini merupakan keyakinan yang
pembuktiannya bersifat spekulatif dan cenderung dicari-cari.
Bagi filsuf
Perancis Comte, mitos dan lagenda tak lebih dari produk pemikiran masyarakat
tradisional yang memang belum dewasa cara berfikirnya. Bahkan masih
kanak-kanak. Karena pada waktu itu memang baru sebatas itulah kemampuan manusia
berfikir. Segala sesuatu dikaitkan dengan yang ghaib tanpa bukti.
Hakikinya manusia
memang terkait erat dengan keghaiban. Persoalannya adalah keghaiban seperti apa
yang mesti diyakini, dan keghaiban mana yang seharusnya tidak usah diyakini. Di
sinilah fungsinya kekritisan kita.
Dalam kasus
terkait ada dan banyaknya korban di pantai Parangtritis, lebih baik mencari
solusi dengan cara meningkatkan fasilitas, pengawasan, menambah personil dan
keterampilan penjaga pantai untuk mencegah jatuhnya korban daripada meributkan
Nyi Roro Kidul sebagai penyebab. Bila ada papan pengumuman di tempat adanya
palung dan pembatasan, bila perlu membuat pagar, di mana pengunjung boleh
berenang, dan dimana tidak boleh akan lebih menjamin keselamatan pengunjung
yang berenang. Begitu pun dengan Merapi. Lebih baik menggunakan pendekatan keilmuan
untuk memantau dan mengelolanya. Meski ilmu pun memiliki kelemahan, tetapi
lebih terukur dan bersifat empiris. Di manapun di dunia ini, gunung api itu
akan erupsi bila tiba waktunya. Tak penting apakah ada kekuatan ghaib atau
tidak sebagaimana diyakini segelintir orang terkait Gunung Merapi. Erupsi itu
sepenuhnya proses alam sebagai cara untuk menjaga dan mempertahankan
keseimbangan alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd