Selasa, 22 April 2014

PARANGTRITIS



Ombak bergumul berkejaran di pantai Parangtritis. Suara derunya memenuhi udara cerah siang ini. Ratusan orang, kebanyakan anak-anak, bermain gembira menikmati ombak. Terdengar suara tawa ketika ombak pecah di tubuh mereka. Ada yang sengaja berlari dikejar ombak, ada pula yang berlari kencang melawan ombak. Kegembiraan pantai yang menyenangkan. Inilah pesona pantai Parangtritis.

Namun, dari tahun ke tahun pesona itu selalu meminta korban. Ada saja yang mati tenggelam. Dalam pemberitaan, mereka yang mati tenggelam di pantai ini jarang disebut sebagai korban. Sebutan yang biasa digunakan adalah tumbal.

Ini ada kaitannya dengan keyakinan sebagian orang bahwa Parangtiritis adalah bagian dari laut Selatan Jawa, tempat bermukimnya Ratu Nyi Roro Kidul, penguasa Laut Selatan. Mereka yang percaya pada adanya Nyi Roro Kidul berkeyakinan bahwa yang mati tenggelam itu adalah tumbal bagi sang penguasa Laut Selatan itu. Pastilah tak bisa dibuktikan bahwa sang Nyi Roro yang menyebabkan. Karena Nyi Roro Kidul itu hanyalah lagenda.

Lebih masuk akal alasan kematian itu adalah kondisi pantai dan ombak. Banyak palung di pantai Parangtritis. Keberadaan palung yang tidak diketahui oleh pengunjung, ditambah lagi ombak yang tinggi sangat potensial mencelakakan orang yang mandi di pantai itu.

Sedangkan orang yang percaya pada keberadaan Nyi Roro Kidul yakin mereka yang mati itu merupakan tumbal untuk dijadikan pasukan sang Nyi. Diyakini mereka yang jadi tumbal adalah yang berbaju hijau, warna kesukaan sang Nyi.

Mengapa ada orang yang percaya dan mengapa lagenda itu ada? Bagi masyarakat tradisional di seluruh dunia, lagenda, mitos dan sejenisnya berfungsi untuk menjelaskan segala sesuatu. Menjelaskan mengapa terjadi gempa, dari mana asal api, bagaimana gunung atau danau terbentuk, bagaimana penyakit pertama kali menyebar, dan banyak penjelasan lain. Sudah pasti penjelasan tentang sesuatu seperti gempa, lagendanya berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya.

Hampir semua lagenda itu dikaitkan dengan kekuatan ghaib seperti dewa. Itulah sebabnya lagenda dan mitos lebih bersifat mitis daripada logis. Sebagai akibatnya tak pernah ada bukti empiris dari lagenda dan mitos. Yang ada adalah pengkaitan suatu kejadian dengan keyakinan akan sebuah lagenda. Semuanya hanya berpijak pada keyakinan.

Lagenda Nyi Roro Kidul sebenarnya memiliki fungsi lebih dari sekadar menjelaskan. Lagenda itu juga memiliki fungsi sebagai cara untuk mendukung dan sebagai legitimasi bagi keberadaan kerajaan dan raja-raja Mataram. Lagenda itu boleh jadi bisa dikaitkan  dengan Panembahan Senopati yang menjadi raja dan menguasai banyak daerah berkat bantuan Nyi Roro Kidul.

Bagi masyarakat tardisional, legitimasi yang bersifat spiritual atau terkait dengan keghaiban untuk menipang keberadaan raja dan kerajaan itu dibutuhkan dan penting. Ini ada kaitannya dengan upaya membuat rakyat patuh dan tidak berani melawan, apalagi memberontak terhadap raja. Itulah sebabnya Raja Yogya dan Raja Solo sampai kini masih melaksanakan berbagai upacara yang dipersembahkan bagi sang Nyi.

Sebagai legitimasi bagi keberadaan raja dan Kerajaan Mataram, lagenda Nyi tidak berdiri sendiri. Tetapi dikaitkan dengan berbagai legenda Gunung Merapi. Bagi mereka yang percaya bahkan bisa menunjukkan kaitan ketiganya dalam suatu konstruksi georafis antara Gunung Merapi, Laut Selatan, dan Istana Kesultanan Jogja, serta letak Tugu Jogja. Tentu saja semuanya ini merupakan keyakinan yang pembuktiannya bersifat spekulatif dan cenderung dicari-cari.

Bagi filsuf Perancis Comte, mitos dan lagenda tak lebih dari produk pemikiran masyarakat tradisional yang memang belum dewasa cara berfikirnya. Bahkan masih kanak-kanak. Karena pada waktu itu memang baru sebatas itulah kemampuan manusia berfikir. Segala sesuatu dikaitkan dengan yang ghaib tanpa bukti.

Hakikinya manusia memang terkait erat dengan keghaiban. Persoalannya adalah keghaiban seperti apa yang mesti diyakini, dan keghaiban mana yang seharusnya tidak usah diyakini. Di sinilah fungsinya kekritisan kita.

Dalam kasus terkait ada dan banyaknya korban di pantai Parangtritis, lebih baik mencari solusi dengan cara meningkatkan fasilitas, pengawasan, menambah personil dan keterampilan penjaga pantai untuk mencegah jatuhnya korban daripada meributkan Nyi Roro Kidul sebagai penyebab. Bila ada papan pengumuman di tempat adanya palung dan pembatasan, bila perlu membuat pagar, di mana pengunjung boleh berenang, dan dimana tidak boleh akan lebih menjamin keselamatan pengunjung yang berenang. Begitu pun dengan Merapi. Lebih baik menggunakan pendekatan keilmuan untuk memantau dan mengelolanya. Meski ilmu pun memiliki kelemahan, tetapi lebih terukur dan bersifat empiris. Di manapun di dunia ini, gunung api itu akan erupsi bila tiba waktunya. Tak penting apakah ada kekuatan ghaib atau tidak sebagaimana diyakini segelintir orang terkait Gunung Merapi. Erupsi itu sepenuhnya proses alam sebagai cara untuk menjaga dan mempertahankan keseimbangan alam.

MESKI MEMILIKI KELEMAHAN, ILMU LEBIH BERGUNA DARIPADA MITOS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd