Partai-partai
Islam(?) sedang sibuk mewacanakan poros (t)engah jilid dua. Dulu dalam sistem
parlementer mereka berhasil menyalib partai pemenang pemilu dan mendudukkan Gus
Dur jadi Presiden Indonesia. Kita semua tahu, dalam perjalanan yang sangat
singkat, poros (t)engah jadi terengah-engah, dan mereka sendiri yang akhirnya
melengserkan Gus Dur.
Pada waktu itu,
mereka tidak mampu melakukan konsolidasi jangka panjang dan hanya untuk
sementara waktu memenangkan kursi kepresidenan tanpa agenda yang jelas, yang
dapat mengikat mereka untuk mencapai tujuan-tujuan jangka panjang. Akibatnya
koalisi poros (t)engah sungguh hanya bertahan seumur jagung.
Kini ada wacana
untuk mencoba membuat poros (t)engah jilid dua. Jika melihat perbedaan sistem
politik dan perolehan partai-partai Islam(?) yang cuma 30%, rasanya mereka
sedang mimpi buruk di siang bolong.
Memang pernah
terjadi, SBY jadi presiden yang dipilih rakyat saat partainya cuma dapat tujuh
persen lebih. Tetapi saat itu SBY adalah bintang cerlang dalam langit politik
kita. Pertanyaannya sekarang adalah siapa tokoh yang akan diajukan poros
(t)engah jilid dua?
Sekarang saja telah
terlihat, PPP poros Surya Darma Ali sudah kepincut merapat ke Prabowo,
akibatnya PPP terpecah belah. Kini PPP jadi Partai Pecah (karena) Prabowo. PKB
sudah menyatakan akan bergabung dengan partai nasionalis. Yang tersisa adalah
PKS dan PAN.
PKS memang paling
bersemangat mengusahakan pembentukan poros (t)engah ini. Sebab rasanya
partai-partai lain belum lupa dengan kelakuan mereka dalam koalisi SBY jilid
dua. Karena itu, mungkin partai poros atas masih sangat berhati-hati dengan
mereka.
Dari Berbagai
manuver yang kini berkembang, tampaknya poros (t)engah jilid dua hanya
akan menjadi wacana. Bila poros (t)engah
terbentuk, siapa yang mau diusung? Sejauh ini belum ada tokoh dari kalangan
mereka yang laku dijual pada rakyat.
Ujung-ujungnya
partai-partai Islam(?) itu akan mengambil jalan sendiri-sendiri. Rasanya tidak
terpikir bagi mereka untuk membentuk poros (t)engah yang tidak menjadi bagian
dari kekuasaan dan memilih menjadi penyeimbang di DPR untuk menilai dan
mengawasi pemerintahan yang dikelola oleh partai nasionalis. Sebab
masing-masing mereka sibuk berusaha agar menjadi bagian dari kekuasaan. Mereka
sudah menikmati madu kekuasaan dan enggan untuk melepasnya.
Coba saja mereka
memiliki keberanian menjadi partai oposisi, bisa jadi pada pemilu berikutnya
suara mereka akan melejit naik. Jika suara tidak melejit naik, mereka bisa
berfungsi untuk menjaga dan mengawasi pemerintah dengan ketat, sehingga bisa
diharapkan pemerintah akan bekerja lebih baik. Sebagai akibatnya, seluruh
rakyat Indonesia akan diuntungkan.
Rasanya mereka
tidak punya nyali untuk lakukan itu. Sebab mereka sudah terperangkap dalam
paradigma kuasa, bukan paradigma bangsa. Nalar paradigma kuasa adalah lakukan
apapun untuk bisa mendapat bagian dari kekuasaan meskipun harus menggunakan
banyak topeng seperti yang kemarin dipraktikkan PKS dan Golkar. Pastilah gaya
berpolitik seperti itu bisa dikategorikan politik minus etika. Tetapi tampaknya
mereka tak peduli. Sebab mereka mau mendapatkan semuanya sekaligus yaitu madu
kekuasaan dan simpati rakyat. Dikira rakyat bodoh. Rakyat juga bisa menilai,
betapa plintat-plintut mereka. Atas dasar perilaku mereka dalam koalisi SBY
jilid dua, percayalah siapa pun yang berkoalisi dengan PKS dan Golkar dalam
pemilihan presiden, Insya Allah akan kalah.
Bila menggunakan
paradigma bangsa, menjadi tidak penting mereka ada di dalam kekuasaan atau
tidak. Yang penting adalah bagaimana memastikan bahwa kepentingan dan aspirasi
rakyat diperjuangkan dengan konsisten. Bila tidak berada di dalam kekuasaan
mereka bisa bersikap tegas jika pemerintah mengambil kebijakan yang merugikan
rakyat. Namun, bila mereka menjadi bagian dari kekuasaan partilah sulit untuk
bersikap tegas.
Namun bisa
ditebak, mereka akan terus berusaha agar ikut serta dalam mencari dan menjadi
bagian dari kekuasaan. Bila nanti ternyata gagal, barulah jadi oposan. Sebab
tak ada pilihan lain. Inilah perilaku partai yang lebih mengedepankan paradigma
kuasa. Apapun dilakukan agar menjadi bagian dari kekuasaan.
Apa yang bisa kita
harapkan dari partai seperti ini? Mengatasnamakan rakyat, berjanji
memperjuangkan aspirasi rakyat, namun tujuan utamanya adalah kekuasaan. Padahal
untuk memperjuangkan aspirasi rakyat kan tidak harus berada dalam kekuasaan.
Mereka tahu bahwa jika tidak menjadi bagian dari kekuasaan, tak akan pernah
bisa nikmati rezeki dari kekuasaan. Jadi, umat atau rakyat hanya dijadikan
komoditi untuk mencapai tujuan jangka pendek mereka yaitu menjadi bagian dari kekuasaan. Bila
beginilah perilaku partai-partai politik Islam(?), maka kita bisa memprediksi,
perolehan suara mereka dari pemilu ke pemilu tak akan pernah beranjak jauh,
sebab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd