Ini sejenis
penyakit. Bila hujan, monyet di hutan berkumpul berteduh di kerindangan pohon.
Pastilah semua terkena hujan, karena daun pohon yang dijadikan tempat berteduh
bisa ditembus air hujan. Seringkali ada monyet yang sakit sebagai akibatnya.
Sesekali malah ada yang tersamber petir.
Selagi berkumpul
itu, para monyet sekaligus rapat. Mereka mendiskusikan betapa tidak enak hidup
seperti ini. Tiap kali hujan, apalagi hujan deras, mereka menderita kedinginan.
Mereka kemudian bersepakat untuk membangun tempat berteduh pemanen berupa
kandang besar yang bisa digunakan saat hujan dan malam hari. Pastilah sangat
menyenangkan, punya tempat kumpul-kumpul, bisa ngobrol-ngobrol dan arisan
buah-buahan.
Namun, bila hujan
berhenti dan matahari muncul, para monyet langsung bubaran. Masing-masing pergi
mengurus kepentingan sendiri. Mereka sama sekali lupa pada hasil rapat yang telah
menjadi kesepakatan dan keputusan bersama. Saat hujan datang lagi, mereka
kembali berkumpul. Rapat lagi dan membuat keputusan yang sama, kala matahari
terbit, masing-masing sibuk dengan urusan sendiri-sendiri, keputusan tetaplah
menjadi keputusan, tak pernah ada eksekusi. Inilah model rapat monyet.
Tetapi apa di
kalangan manusia tidak ada yang seperti itu? Kita ini bangsa yang jago dan
doyan rapat. Karena itu rapat banyak
sekali jenisnya yaitu rapat kerja, rapat koordinasi, rapat rutin, rapat
pimpinan, rapat pleno, rapat teknis, rapat harian, rapat mingguan, rapat
bulanan, rapat tahunan, rapat terbatas, dan beragam rapat lainnya. Banyaknya
rapat sampai kita bertanya, kerjanya kapan? Kerja untuk melaksanakan hasil
rapat tersebut? Sering kali ada yang menjawab, kerja kita ya rapat.
Saking banyaknya
rapat, tidak sedikit pejabat kerjaannya hanya pindah dari satu rapat ke rapat
lainnya. Dari Senin sampai Jumat ya rapat saja. Tentu saja hasil-hasil rapat
itu bertumpuk-tumpuk berupa beragam dokumen dari notulen dan berbagai surat
keputusan, petunjuk pelasanaan, petunjuk teknis, SOP, rencana tindakan,
memorandum, rekomendasi, sampai berbagai pedoman.
Setelah itu apa?
Ya rapat lagi untuk merumuskan tindak lanjut, menjabarkan hasil-hasil rapat
agar lebih terurai dan rinci, sehingga bisa dilaksanakan. Apakah setelah itu
dilakukan pelaksaannya? Belum tentu. Kadang masih harus rapat lagi untuk
membuat proposal yang lebih konkrit. Untuk itu masih dibutuhkan serangkaian
rapat lagi. Karena itu tak mengherankan sebagian dana kementerian di republik
ini habis untuk rapat dan biaya perjalanan dinas menghadiri rapat.
Ini baru
menyangkut pelaksanaan teknis rapatnya. Belum lagi bagaimana rapat itu
berlangsung. Ada yang jagoan bicara, tetapi tak bisa kerja. Terdapat pula yang
pintar berargumentasi, namun tak bisa merumuskan solusi. Beberapa memiliki hobi
membicarakan tetek bengek yang sama sekali remeh temeh dan suka ngotot pula.
Ada yang asyik dengan persepktif sendiri, seakan yang lain cuma pendengar. Ada
juga yang suka memaksakan kehendak. Jangan heran ada yang sangat cerdas
mengolah kata-kata yang kedengaran santun, menunjukkan perhatian pada kepentingan
publik, suka mengatasnamakan umat, orang banyak, tujuan-tujuan mulia, padahal
semuanya cuma cara untuk sembunyikan kepentingan pribadi.
Acap kali, banyak
orang seperti tak peduli, berlomba menunjukkan kehebatan, pengaruh, kuasa dan
maunya hanya didengarkan di dalam rapat. Seenaknya memotong pembicaraan orang,
padahal orang lain belum selesai bicara. Gayanya mirip paranormal yang sudah
mengetahui maksud orang lain, sementara orang lain belum sempat secara lengkap
mengemukakan pendapatnya.
Akibatnya dihabiskan
waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk membahas sesuatu yang sebenarnya
bisa diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. Inilah konsekuensi yang tak
terelakkan dari kebiasaan sejumlah orang yang menjadikan rapat sebagai panggung
untuk tunjukkan kehebatan, kelebihan, kekuasaan, dan pengaruh.
Akibatnya apa yang
substansial dan penting justru tidak diabahas secara mendalam dan hati-hati.
Malah cengceremen yang tidak penting dan tidak strategis yang mendapat waktu paling
banyak untuk diperdebatkan dengan gaya debat kusir. Biasanya ini terjadi karena
semua peserta rapat tidak saling menghargai dan tidak dapat menahan diri untuk
mau mendengarkan, maunya hanya bicara dan bicara, meskipun tipenya gelas kosong
nyaring dentingnya.
Apa boleh buat, inilah
tradisi bangsa ini. Sangat doyan rapat, suka omong, namun menjadi gagap dan
terbata-bata bila harus bekerja, mewujudkan apa yang jadi keputusan dan
kesepakan rapat. Hasil rapat seringkali hanya kumpulan notulis yang semakin
lama semakin tinggi tumpukannya. Malah seringkali apa yang pernah dibahas
sampai tegang urat leher, diperdebatkan lagi pada rapat berikutnya. Apa yang
sudah disepakai dan diputuskan dimentahkan lagi di luar rapat. Sama sekali tak
ada konsistensi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd