Kamis, 24 April 2014

RAPAT MONYET



Ini sejenis penyakit. Bila hujan, monyet di hutan berkumpul berteduh di kerindangan pohon. Pastilah semua terkena hujan, karena daun pohon yang dijadikan tempat berteduh bisa ditembus air hujan. Seringkali ada monyet yang sakit sebagai akibatnya. Sesekali malah ada yang tersamber petir.

Selagi berkumpul itu, para monyet sekaligus rapat. Mereka mendiskusikan betapa tidak enak hidup seperti ini. Tiap kali hujan, apalagi hujan deras, mereka menderita kedinginan. Mereka kemudian bersepakat untuk membangun tempat berteduh pemanen berupa kandang besar yang bisa digunakan saat hujan dan malam hari. Pastilah sangat menyenangkan, punya tempat kumpul-kumpul, bisa ngobrol-ngobrol dan arisan buah-buahan.

Namun, bila hujan berhenti dan matahari muncul, para monyet langsung bubaran. Masing-masing pergi mengurus kepentingan sendiri. Mereka sama sekali lupa pada hasil rapat yang telah menjadi kesepakatan dan keputusan bersama. Saat hujan datang lagi, mereka kembali berkumpul. Rapat lagi dan membuat keputusan yang sama, kala matahari terbit, masing-masing sibuk dengan urusan sendiri-sendiri, keputusan tetaplah menjadi keputusan, tak pernah ada eksekusi. Inilah model rapat monyet. 

Tetapi apa di kalangan manusia tidak ada yang seperti itu? Kita ini bangsa yang jago dan doyan rapat. Karena itu rapat  banyak sekali jenisnya yaitu rapat kerja, rapat koordinasi, rapat rutin, rapat pimpinan, rapat pleno, rapat teknis, rapat harian, rapat mingguan, rapat bulanan, rapat tahunan, rapat terbatas, dan beragam rapat lainnya. Banyaknya rapat sampai kita bertanya, kerjanya kapan? Kerja untuk melaksanakan hasil rapat tersebut? Sering kali ada yang menjawab, kerja kita ya rapat.

Saking banyaknya rapat, tidak sedikit pejabat kerjaannya hanya pindah dari satu rapat ke rapat lainnya. Dari Senin sampai Jumat ya rapat saja. Tentu saja hasil-hasil rapat itu bertumpuk-tumpuk berupa beragam dokumen dari notulen dan berbagai surat keputusan, petunjuk pelasanaan, petunjuk teknis, SOP, rencana tindakan, memorandum, rekomendasi, sampai berbagai pedoman.

Setelah itu apa? Ya rapat lagi untuk merumuskan tindak lanjut, menjabarkan hasil-hasil rapat agar lebih terurai dan rinci, sehingga bisa dilaksanakan. Apakah setelah itu dilakukan pelaksaannya? Belum tentu. Kadang masih harus rapat lagi untuk membuat proposal yang lebih konkrit. Untuk itu masih dibutuhkan serangkaian rapat lagi. Karena itu tak mengherankan sebagian dana kementerian di republik ini habis untuk rapat dan biaya perjalanan dinas menghadiri rapat.

Ini baru menyangkut pelaksanaan teknis rapatnya. Belum lagi bagaimana rapat itu berlangsung. Ada yang jagoan bicara, tetapi tak bisa kerja. Terdapat pula yang pintar berargumentasi, namun tak bisa merumuskan solusi. Beberapa memiliki hobi membicarakan tetek bengek yang sama sekali remeh temeh dan suka ngotot pula. Ada yang asyik dengan persepktif sendiri, seakan yang lain cuma pendengar. Ada juga yang suka memaksakan kehendak. Jangan heran ada yang sangat cerdas mengolah kata-kata yang kedengaran santun, menunjukkan perhatian pada kepentingan publik, suka mengatasnamakan umat, orang banyak, tujuan-tujuan mulia, padahal semuanya cuma cara untuk sembunyikan kepentingan pribadi.

Acap kali, banyak orang seperti tak peduli, berlomba menunjukkan kehebatan, pengaruh, kuasa dan maunya hanya didengarkan di dalam rapat. Seenaknya memotong pembicaraan orang, padahal orang lain belum selesai bicara. Gayanya mirip paranormal yang sudah mengetahui maksud orang lain, sementara orang lain belum sempat secara lengkap mengemukakan pendapatnya.

Akibatnya dihabiskan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk membahas sesuatu yang sebenarnya bisa diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. Inilah konsekuensi yang tak terelakkan dari kebiasaan sejumlah orang yang menjadikan rapat sebagai panggung untuk tunjukkan kehebatan, kelebihan, kekuasaan, dan pengaruh.

Akibatnya apa yang substansial dan penting justru tidak diabahas secara mendalam dan hati-hati. Malah cengceremen yang tidak penting dan tidak strategis yang mendapat waktu paling banyak untuk diperdebatkan dengan gaya debat kusir. Biasanya ini terjadi karena semua peserta rapat tidak saling menghargai dan tidak dapat menahan diri untuk mau mendengarkan, maunya hanya bicara dan bicara, meskipun tipenya gelas kosong nyaring dentingnya.

Apa boleh buat, inilah tradisi bangsa ini. Sangat doyan rapat, suka omong, namun menjadi gagap dan terbata-bata bila harus bekerja, mewujudkan apa yang jadi keputusan dan kesepakan rapat. Hasil rapat seringkali hanya kumpulan notulis yang semakin lama semakin tinggi tumpukannya. Malah seringkali apa yang pernah dibahas sampai tegang urat leher, diperdebatkan lagi pada rapat berikutnya. Apa yang sudah disepakai dan diputuskan dimentahkan lagi di luar rapat. Sama sekali tak ada konsistensi.

RAPAT, BILA TERLALU BANYAK DAN TERLALU SERING MIRIP MAKANAN KEBANYAKAN GARAM, TAK ENAK DAN TAK BERGUNA, MALAH BERBAHAYA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

setiap komentar yang masuk akan terkirim secara langsung ke alamat email pribadi Bapak DR. Nusa Putra, S.Fil, M.Pd